Senin, 28 Februari 2022

Februari dengan semua kenangannya Maret dengan segala harapannya

maret 2022

Februari, februari 2022 telah berlalu meninggalkan segenap kenangan. Kenangan yang banyak macamnya, ada kalanya berupa penyesalan dan bahkan juga menyisakan harapan atau juga kebahagiaan. Febuari merupakan bulan kedua dalam setahun dalam kalender Gregorius. 

Bulan Februari adalah bulan yang sangat unik setiap tahun. Hal ini karena Februari memiliki jumlah hari yang lebih pendek yaitu 28 hari dibanding bulan lainnya. Februari yang mengambil dari bahasa Latin, Februus, dewa penyucian. Bulan ini merupakan bulan istimewa sebab panjangnya bisa 28 atau 29 hari. Contoh misal pada tahun 2020, bulan Februari pernah bertambah satu hari menjadi 29 hari. Tapi pada tahun ini februari kembali menjadi 28 hari.

Terlepas dari hal di atas, yang jelas bagi penulis februari pada tahun 2022 ini memikili kesan tersendiri. Bagaimana penulis bisa mengawali perkuliahan S3 pada bulan ini, bertemu dengan sanak saudara tahun ini juga pada bulan februari. Februari tahun 2022 ini menjadi sejarah bagu bagi penulis, bulan yang menorehkan banyak cerita yang mendampingi sepanjang 28 hari, baik siang dan malam dengan segenap panas dan dinginnya. Dengan seperangkat mendung dan cerahnya, bahkan dengan sayup-sayup dan lambaian angin yang sopan dan gertakannya.

Bagi penulis Februari 2022 adalah februari yang menyampaikan banyak pelajaran, mempertemukan penulis dengan orang-orang hebat, dan yang lebih menakjubkan ialah sampai februari 2022 penulsi masih bertahan dlam lingkungan pesantren tercinta. Pesantren yang mentransfer banyak illmu, mengajarkan tingkah laku,, etika dan semua perangkatnya. Pesantren dengan sifat dan sikap kesederhanaanya.

Pada awal februari 2022, penulis diberikan nikmat agung dengan diberikannya kesempatan untuk melanutkan perkuliahan ke jenjang doktoral, minggu kedua dipertemukan dengan kawan baru yang hebat dan dengan segudang ilmu yang dimilikinya. di minggu kedua juga dipertemukan dengan guru-guru yang luar biasa, mereka telah mencapai kedudukan tertinggi dalam dunia akademis, yakni dengan melekatnya gelar Profesor sebagai anugerah bagi setiap orang yang sudah banyak mengabdikan dirinya bagi pendidikan dll. 

Akhirnya, tibalah bulan ketiga pada tahun ini, yakni bulan maret. Pada bulan ini semoga kita semua diberikan kesehatan dhohir batih, sehat jasmani dan rohani serta diberikan kelancaran rejeki. 

Nikmat sehat adalah nikmat yang sangat mahal, tidak ada satupun manusia yang ingin dirinya ada dalam perangkap rasa sakit baik jasmani maupun rohani. Kelancaran rejeki bagian dari yang menjadi harapan bagia setiap manusia hidup di dunia ini. Bagaimana tidak sedangkan hampir segala hal ada kaitannya dengan uang, dalam hal ini ada kaitannya juga dengan sehatnya jasmani dan rohani. Karena itu tetap harus mencari rejeki namun juga harus menjaga kesehatan.

Kemudian diantara harapan dibulan maret adalah semoga kita semua diberikan umur yang barikan dan bermanfaat dalam kehidupan yang senantiasa taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Segala urusan kita dilancarkan dan diberikan hasil yang baik, kerja keras harus namun kita jangan sampai lupa bahwa segala hal ada dalam kuasa dan kehendak-Nya. karena itu jangan pernah lalai dalam menjalankan keewajiban kita sebagai orang Islam dan juga teruslah berdoa dan berdoa sebagai bentu penghambaan dan penyampaian harapan dan permintaan kita kepada Allah yang maha megabulkan hajat kita, maha tau kebutuhan kita dan maha tau apa yang terbaik untuk kita semua.

Marilah kita isi bulan maret ini dengan kebaikan-kebaikan dan meningkatkan ibadah kita.

Label: , , ,

Seperangkat cinta

CINTA

Cinta, berbicara perihal cinta adalah materi yang tiada batas, luas cakupannya dan panjang pembahasannya. Rasanya tanpa rasa cinta kehidupan kurang nikmat dengan segala aspek dan efeknya, karena kita tahu ruang lingkup cinta itu sangat luas. cinta pada sesama, pada pasangan, pada barang dan yang harus tetap ada dan hidup rasa cinta itu ialah cinta kepa Allah yang Nabiyullah Muhammad. 

Pertama adalah cinta kepada Allah SWT, ialah rasa yang harus terus dipuuk dan dirawat. rasa yang harus terus digenggam sampai kelak menghadapnya. diantara cara kita membuktikan bahwa kita cinta kepada Allah adalah dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban bagi setiap umat muslim, baik itu laki-laki ataupun perempuan. Dengan melaksanakan sholat kita sudah membuktikan cinta kita kepadanya, ditambah dengan puasa dan zakat maka cinta itu semakin subur. Kemudian melaksanakan haji maka mulai sempurnalah rasa cinta itu pada Allah, karena rukun islam merupakan satu paket yang harus dilaksanakan bagi setiap muslim. Dan puncak kesempurnaannya adalah ketika kita benar-benar taat pada perintah dan laarangan yang ada, terlebih ditambah dengan amalan-amalan sunnah lainnya.

Kedua ialah cinta kepada Rasulullah Muhammad SAW. Cinta kepada beliau ialah cinta yang satu paket dengan mencintai Allah, dengan mencintai Rasulullah maka kita juga akan dicintai oleh Allah pula. Sebagaimana yang telah Allah jelaskan dalam al-Qur'an bahwa jika kalian cinta kepada Allah, maka ikutilah rasulullah Muhammad niscaya Allah akan cinta pada kalian. Dengan demikian maka jalan dan tangga satu-satunya untuk dicintai Allah ialah dengan mencintai Rasulullah Muhammad. Berikut firman Allah dalam al-Qur'an:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya "Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang".


Bagaimana caranya mencintai Allah melalui Nabi Muhammad, yakni dengan mengikuti ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Mengikuti ajaran yang ada dalam al-Qur'an, hadits atau sunnah dan juga mengikuti ijmak ulamak atau ijtihad ulamak. Pertama ialah kita mengikuti ajaran yang disampaikan Allah melalui Rasulullah Muhammad melalui al-Qur'an, Alqur'an ialah pedoman pertama bagi umat islam. 

Dalam Al-Qur'an dijelaskan berbagai hukum figh, tauhid, tasawwuh dan lainnya. sehingga dengan mengamalkan isi al-Qur'an yang sudah di matangkan oleh ulamak maka bagian dari mencintai Allah dan rasulnya. Kedua melalui sunnah atau hadits, tidak semua hukum yang ada dalam al-Qur'an itu disampaikan secara jelas, tapi al-Qur'an dan sunnah atau hadits merupakan dua hal yang saling melengkapi. Mencintai Rasulullah dengan cara mengikuti sunnahnya, bagaimana cara nabi makan, munum, wudluk, berjalan, bersosial, memperbanyak membaca sholawat dan seterusnya. Dengan demikian kita sudah membuktikan cinta kita dalam bentuk prilaku bukan sekedar kata-kata saja.

Ketiga cinta kepada kedua orang tua: diantara mencintai Allah dan Rasulnya ialah dengan melalui taat kepada kedua orang tua, kita tahu bahwa dalam hadits disebutkan diantara penyebab Allah murka dan ridho ialah memalui sebab orang tua murka dan ridho. Jika orang tua murka maka llah juga murka dan orang bagian dari ridho dan murkanya Allah ialah sebagai berikut:

رضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ, وَسخطُ اللَّهِ فِي سخطِ الْوَالِدَيْنِ

Dalam kata cinta harus ada ikhlas keridhoan, mustahil bisa dikatakan cinta jika tidak ada ikhlas dan ridho dalam dirinya. Karena ketika orang sudah mebgatakan cinta dan siap ada dalam dunia cinta, aka dia juga harus siap dengan segala konsekuensinya. Dengan mencintai berarti sudah siap menjadi budak. 

Kita sebagai anak harus selalu hormat dan taat pada perinta orang tua selagi tidak menyalahi aturan pokok dalam Islam, membahagian kedua orang tua bagian dari jalan mendapatkan ridhonya, dengan orang tua ridho maka Allah juga ridho dan berarti Allah juga cinta pada kita. Anak yang baik dan sholih atau sholihah ialah yang tidak durhaka kepada orang dua, durhaka bisa melalui banyak hal, setidaknya jangan pernah membantah apalagi membentak kedua orang tua. Hal ini sebagaimana yang telah disampaikan dalam al-Qur'an, yakni sebagai berikut:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (٢٣)

Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. al-Israa’: 23)

Dalam Hadits yang lain disebabkan bahwa doa kedua orang tua itu mustajab, sehingga sebagi anak sering-seringlah minta didoakan meskipun orang tua sudah pasti selalu mendoakan putra-putranya:

" ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ، لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ "

Artinya: "Ada tiga doa yang mustajab, tidak ada keraguan akan hal itu; doa orang yang terdzalimi, doa musafir, dan doa orang tua untuk (kebaikan) anaknya,

Maka sebagai seorang anak, menjadi keberuntungan tersendiri ketia kita selalu berada dalam doa-doa orang tua,karena itu bersyukurlah bagi yang kedua orang tuanya masih hidup.

Kemudian yang keempat ialah cinta pada sesama: yakni dengan menjaga kerukunan dan perdamaian bersama, saling menolong, saling mejaga dan saling menasehati. saling mencintai sesama agama, sesama satu bangsa dan sesama umat manusia, dalam hal ini ada kotak-kotaknya tersendiri. Umat muslim sudah seharusnya tau dan mempraktekkan cinta pada kehidupan bermasyarakat, dalam masyarakat tentu akan berinteraksi dengan orang banyak sehingga harus saling menjaga kerukunan dan perdamaian serta keharmonisan dalam kehidupan sosial.

Dalam Aswaja annahdliyah hal ini disebut dengan trilogi ukhuwah: ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah/ukhuwah insaniyah. 

Ukhuwah islamiyah adalah hubungan antara sesama manusia yang berkaitan dengan keagamaan Islam. Ukhuwah islamiyah ini ialah persaudaraan sesama muslim, yang mana tumbuh dan berkembangnya karenasma dalam hal akidah, baik ditingkat lokal, regional, nasional dan juga internasional. Hubungan Ukhuwah islamiyah meliputisemua aspek kehidupan beragama dalam islam, yakni ibadah, munakahat, muamalah, mu‘asyarah, dan juga interaksi keseharian atau sosial yang akan membentuk dan menumbuhkan tali persaudaraan baik.

Adapun ukhuwah wathaniyah adalah cara hubungan antar sesama manusia yang berkaitan dengan ikatan kebangsaan atau kenegaraan. Ukhuwah wathaniyah atau hubungan ini melingkupi aspek yang bsifatnya muamalat, yakni kemasyarakatan dan kebangsaan serta kenegaraan.

Ukhuwah basyariyah merupakan hubungan antara manusia yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat atas dasar rasa kemanusiaan yangada keterkaitannya dengan kesamaan dalam hal martabat kemanusiaan untuk kehidupan yang sejahtera, adil dan damai, tentram dan harmonis.


Kelima adalah cinta pada lawan jenis: yakni pada pasangan halal: Diantara poin penting yang harus ada dalam membina hubungan rumah tangga ialah dengan cinta. Cinta mempunyai kekuatan tersendiri dan beras perannya dalam tumbuh kembangnya bagunan rumah tangga, cinta yang memegang peran awet tidaknya, harmonis atau tidak suatu hubungan dalam berkeluarga sehingga diantara keduanya harus saling mencintai. Dalam membina keluarga keduanya harus saling percaya, saling mendukung, saling ikhlas, ridho, dan punya visi misi yang dibangun bersama untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah serta mubarokah. kehidupan keluarga yang penuh dengan nilai-nilai kehidupan surga. 

Seringkali orang mengatakan cinta itu begini dan begitu, itu perspektif yang sifatnya masih hidden dan implisit sedangkan aksi dari rasa yang dia rasakan itu bersifat core, atau eksplisit. Rasa yang lebih memungkinkan kebenarannya adalah ketika sudah berupa tindakan, bukan sekedar rasa yang terpendam dan ditimbun atau sekedar kata-kata belaka dan itu tidak baik, setidaknya harus diungkapkan dan dibuktikan dalam bentuk aksi, apapun hasilnya. Pilihannya hanya dua, siap dengan jawaban yang tidak diinginkan dan berbahagia dengan respon lawannya yang sesuai harapan.

Maka dapat dikatakan bahwa cinta yang nyata ialah ketika sudah berupa aksi dari orang itu sendiri, yakni pembuktian dalam bentuk tingkah laku. Karena cinta itu sendiri sifatnya abstrak, hidden dan implisit, sehingga sulit dijangkau oleh akal dan mata penglihatan. 

Setiap orang punya perspektif sendiri terkait cinta, mereka juga punya definisi tersendiri dan bahkan aksi yang ditampakkan juga punya caranya sendiri. Sehingga definisi cinta tidak hanya satu, tergantung sudut pandang manusia yang merasakan dan melaksanakan atau hadir dalam lautan cinta itu sendiri. Maka, jangan pernah nodai bahasa cinta, kata-kata cinta dan kata cinta itu sendiri dengan prilaku dan upacan kita yang kurang baik dan kurang mencerminkan keindahan cinta itu sendiri.


Label: , , , ,

Minggu, 27 Februari 2022

EPISTEMOLOGI PEMIKIRAN ISLAM ABID AL-JABIRI - Makalah dan Jurnal

Pemikiran Islam Abid Aljabiri

A. EPISTEMOLOGI PENDAHULUAN

Permasalahan pada peradaban Islam arab selama ini dianggap seperti permasalahan antara model paradikma barat dan paradikma kunol yang otentik dan mencakup semua aspek hidup. Banyak tokoh atau pemikir muslim yang menyuarakan seperti apa seharusnya kebangkitan Islam itu dimulai, mencari penyebab kemunduran Islam dan bagaimana seharusnya memulai pembaharuan dan kemajuan. 

Umat Muslim sejauh ini jika dilihat dalam menghadapi tantangan modernitas maka lebih cenderung pada jalan bersembunyi di balik justifikasi teks. Yang demikian ini membuat umat muslim cenderung pada tekstual dalam menjawab permasalahan zaman. 

Muhammed al-Jabiri merupakan filsuf muslim yang hadir dari maroko. al-Jabiri bagian dari pemikir terkemuka dalam pemikirannya tentang relevansi tradisi pada zaman yang maju atau modernis. Diantara pemikiran al-Jabiri ialah tentang modern itu sendiri, aljabiri begitu semangat dalam membangun epistem baru yang relevan dengan perkembangan zaman. Ia begitu tidak puas pada pembaharuan yang sudah ada, menurut al-Jabiri mereka begitu berlebihan  menyanjung pencapaian kejayaan islam dahulu sehingga lebih cenderung mengabaikan keadaan masyarakat pada zaman yang sudah modernis.

Menurut Muhammed Abid alJabiri tradisi bukan produk yang satu kali jadi, tradisi merupakan permasalahan sejarah yang berkembang di antara manusia, saling mengisi satu dengan lainnya, dan saling mengkritisi serta bahkan bisa saling menjatuhkan. Karena tradisi ialah sesuatu yang datang dan menyertai kehidupan kita, ia merupakan perkara yang hadir dari masa lalu kemudian menjadi hal yang diingat lalu melahirkan cara berfikir pada memori yang ada. Sehingga hal itu jadi pembentuk daya ingat yang kolektif dan bisa membatasi munculnya sikap ilmiah dan rasional terkait tradisi sendiri, pun juga memberi pandangan yang rasional padanya.

Abid al-Jabiri menguasai teori yang dibawa oleh Karl Marx. Akan tetapi dengan majunya pemikiran al jabiri dan juga setelah baca buku karyanya Yves Lacostee yang bersikap membandingkan terhadap pemikiran Ibn Khaldun dengan Karl Marx, al-Jabiri mulai ragu pada keefektifitasan pendekatan Marxian pada kontek sejaran pemikiran Islam.


B. BIOGRAFI MUHAMMAD ‘ABED AL-JABIRI

Al-Jabiri merupakan seorang yang memposisikan dirinya sebagai pemikir asal Maroko, ia pemikir islam dari sekian pemikir muslim modern yang punya kepedualian pada permasalahan tradisi dan modernism. Dia dikenal karena proyek dalam bentuk kritik nalar Arab dalam membangun kiritik pada pemikiran Arab-Islam. proyek utamanya ialah membangun ulang semangat kritiss dan rasiional dengan membukakan tentang lemahnya nalar kuno ketika menghadapi sekian modernism dan juga kegagalan-kegagalan cara berfikir modernis, yang khususnya pada bidang agama yang di akhirakhir ini malah menunjukkan keterpurukan atau mkemerosotan  dunia Islam secara keseluruhan.

Aljabiri lahir tepat 27 Desember 1935 di Maroko. Ia besar dan tumbuh dengan keluarga yang mendukung parti istiqlal, yakni partai yang berjuang untuk kemerdekaan Maroko yang diabawah koloni prancil dan juga spanyoll. Setelah maroko merdeka maka negara maroko mengenal dua bahasa resmi yaitu arab dan juga Perancis.

Gelar doctor ia dapat diuniversitas Muhammad V Rabat maroko di tahun 1970, dengan disertaisi yang bahas pemikiran Ibnu khaldun yaitu Fanatisme dan Negara: Elemen Teoritik Khaldunian dalam Sejarah Islam. Al-Jabiri banyak menyelesaikan pendidikannya dari0tingkat dasar sampai perguruan tinggi di tanah kelahirannya. 

Tugas atau proyek pembaharuan mendorong abid untuk terus menganalisa gambaran sosial politik dan terbentuknya nalar Arab Islam yang ada,al-jabiri sekaligus menganalisisa dengan dalam terkait mekanisme struktur cara kerja nalar Arab yang sering terjadi saling benturan dalam memperebutkan0hegemoni di tengah budaya Arab Islam.

Kritik nalar arab yang dilakukan aljabiri sebagai upaya untuk menghasilkan prodak teori yang dibentuk oleh kebudayaan yang menggambarkan keadaan realita dan ambisi pada masa depan. Sikap perhatiannya yang fokus pada cara berfikir atau pemikiran sebagai sebuah perangkat berfikir bukan hanya sebatas sebagai produk. Maka dengan demikian0wilayah dalam kritik yang dikembangkan sayapnya merupakan wilayah epistemologi.

Abid aljabiri mengawali kritiknya dengan menaruh nalar arab terlebih dahulu pada posisi yang sama dengan nalar yunani dan juga eropa. Ketiga nalar itupun memunyai kesamaan karakter, ketiga nalarnya dibangun dengan pemikiran atau teori yang bersifat rasional dan memberjelas pada hubungan antara tuhan, manusia dan alam semesta. Perbedaan ketiganya berada pada pemahaman tentang keberadaan tuhan itu sendiri.

Adapun konsep tuhan didalam nalar pemikiran yunani pada akal baru muncul setekah adanya alam. Sedangkan di pemikiran barat tidak ditemui onsep tentang tuhan. Akal secara universal yang di persepsi sebagai tuhan dalam nalar yunani justru dalam nalar barat diposisikan dengan hokum mutelak bagi akal manusia. 

Di dalam nalar pemikiran arab disebutkan bahwa alam memainkan peran sebagai petunjuk untuk manusia dalam menyingkap tuhan dan menjelaskan terkait hakikatnya sendiri. Akalbdiharapkan agar bisa merenungkan alam untuk bisa sampai pada penciptanya atau wushul kepada sang pencipta dan mengetahui betapa agungnya dan kuasanya tuhan. 

Terkait pengetahuan, pengetahuan itu sendiri sangat terikat dengan pengalaman pada akal yang ditangkap oleh panca indera dari sekian fakta atau realita yang telah terjadi. Sedangkan nalar arab tidak menampakkan epistemology yang berurutan. Epistemology naar arab berlombat-lompat dan sangat gampang pindah dari satu episteme kepada episteme yang lainnya.

Maka dengan demikian aljabiri mengusulkan pencatatan ulang pada sejaran pembangunan nalar arab. sejauh ini sejarah yang ada ditulis dan diajarkan di ekolah hanya sebatas sejara yang bersifat opini. Catatan sejarah sendiri yang sudah ada membiarkan keadaan ini dengan tumpang tindih karena itulah dibutuhkan penyusunan ulang sejarah keilmuan arab yang berorientasi pada nalar keilmuan.

Aljabiri menguslkan hal itu dengan tujuan agar titik tolak sejarahnya dalah era kodifikasi, yaitu dengan meletakkan era kodifikasi sebagai titik tolak sejarah. Aljabiri lalu membagi sejarah nalar arab menjadi tiga masa, yakni masa sebelum, selama dan setelah kodifikasi.

Semua yang diketahui pada era kofidifikasi dibentuk pada era kodifikasi an juga segala hal yang setelah era kodifikasi tida bisa difahami dnegan mengaitkan pada era odifikasi. Adapun benang merah yang merangkai sebagai gambaran dari ketiga nalar ara tersebut dan membentang sampai bentuk realitas keadaan yang umum dalam kebudayaan islam arab.

Dengan cara menelusuri pada apa yang disebut dengan benang merah inilah aljabiri kemudia menemukan yang disebut dengan bayani, irfani dan burhani. Ketiga pengetahuan ini memang terlihat tumpang-tindih, namun dengan kita uraikan latar belakang epistemologinya maka tiga system pengetahuan ini bisa dilacak dengan epistemologinya dalam kebudayaan arab pada masa yang begitu jauh sebelum era kodifikasi sendiri. Masa itu ialah era kodifikasi kuno. Kebudayaan arab kuno itulah yang kemudian menjadi pondasi dasar dalam mengembangkan keilmuan pada masa kodifikasi.


C. TRILOGI NALAR ALJABIRI 

Definisi epistimologi menurut AlJabiri sendiri ialah sejumlah konsep dan prinsip dasar beserta aktivitas dalam upaya untuk mendapatkan pengetahuan di suatu era historis tertentu, yakni struktur bawah sadarnya. Abid al-jabiri berusaha untuk mengenalkan pemikirannya sebagai system atau lebih tepatnya sebagai epistemelogi yang berada pada nalar bayani, rfani dan burhani.

Pengetahuan pada ranah pemikiran islam saat dihadapkan dengan tradisi maka tidak akan diperoleh tanpa menggunakan paradigm yang utuh yang sifatnya objektif, kritis dan rasional. Maka dibutuhkan merode yang dapat digunakan untuk batu loncatan sebagai sarana berfikir yang kritis dan objektif. Metode structural menganggap hal itu sesuai berdasarkan sifatnya yang terikat dengan suatu system beserta pemisahannya dengan objek pembaca maupun konteksnya sendiri. Lalu agar dapat menghasilkan instrument yang baik dan sempurna dengan tujuan bisa menyesuaikan antara tradisi dan masa sekarang maka metode yang sifatnya rasional diadopsi dan dikombinasikan dengan tujuan dapat menghasilkan cara berfikir yang utuh0dan saling melengkapi.

Wacana pembacaan pada tradisi dalam pemikiran arab islam itu ada tiga pembacaan yang berbeda-beda. Ketiga pembacaan itu ialah syarat untuk bisa membuka konteks dan maknanya. Adapun yang pertama ialah pembacaan yang fundamentalis. Konsep ini melihat sejarah sebagai suasana yang dikembangkan pada masa sekarang. Fundamentalisme memposisikan spiritual sebagai penggerak sejarah dan fakto yang lain diposisikan yang tergantung pada spiritual. Pembacaan yang kedua ialah pembacaan yang liberal, yakni pembacaan ang lebih ke gaya pembacaan gaya eropa yang menjadi titip tumpu, konsepnya tradisi yang menjadikan anggapan masarakat arab yang liberal tentang tradisi islam arab berasal dari barat. Adapun pembacaan yang ketiga ialah marxisme, yakni rencana untuk melakukan pemulihan pada tradisi agar dapat menjadikan revolusi dan menjadikan pijakan yang kyuat untuk tradisi. Tapi pembacaan ini tidak menggunakan metode dialek untuk metode yang akan dipakai, melainkan sebatas metode yang sudah digunakan.

Abid memperoleh tiga pembacaan itu saling memiliki kelemahan yang mudah disalahkan. Hal itu dikarenakan adanya kelemahan yang melingkupidalam metode dan visinya. Menurut aljabiri metode yang dipakai itu kurang objektiv dan visi yang digunakan punya kekurangan dalam segi historis. Terkhusus pada pembacaan maxisme yang hanya bisa membuktikan kehebatan metode itu sendiri, ini merupakan alasan mengapa mpembacaan hapir tidak seproduktif sama sekali menurut pemikiran aljabiri.

Semua pemikiran arab modern ditandai dengan adanya kekurangan sikap objektivitas serta perspektif dari segi historis. Dengan demikian menjadikan pemikiran arab sendiri tidak bisa menawarkan apapun dari tradisi kecuali hanya pembacaan yang sifatnya fundamentalis dalam menyikapi masa dahulu dengan sesuatu yang bersifat transenden dan sakral, dengan terus berusaha mencarikan solusi di dalam persoalan tradisi yang ada dan persoalan kekinian yakni persoalan yang ada pada masa kini dan juga masa depan. Perihal yang seperti ini juga berlaku dalam pemikiran madzhab dan juga merujuk pada pandangan yang menghubungkan dengan masa lalu ataupun model yang berdasar pada masa lalu. Maka dengan demikian abid menawarkan sebuah analisa yang begitu cermat dan bersifat kritis yang begitu dalam sebelum abid mengusulkan pembaharuan dan modernisasi nalar arap sendiri.

Dalam proses upaya memberi sebuah argument beserta mengungkapkan kritik nalar arab, aljabiri memakai tipologi tradisi bayani, irtfani dan burhani. Abid menyerukan agar membangun epistemology nalar arab dengan tiga metodologi pemikiran di atas.


Epistem Bayani

Epistem bayani merupakan model atau metodologi dalam berfikir yang berdasar pada teks, teks suci yang memiliki kekuasaan penuh untuk memberikan arah beserta kebenaran. Sedangkan rasio hanyalah sebatas berfungsi sebagai pembuka jalan atau pengawal bagi teramankannya kekuasaan ataupun otoritas dari teks tersebut.

Dalam jurnal alhikmah, yakni jurnal theosofi dan peradaban islam dijelaskan bahwa secara bahasa bayani berarti penjelasan. Berdasarkan beberapa makna aljabiri mengartikan bayani sebagai alfashl dan juga infishal yang dalam keterkaitannya dengan metodologi adan adduhur wal idhar berkaitan dengan visi daripada metode bayani sendiri.

Cara fikir bayani lebih mendahulukan analogi atau dikenal dengan qiyas meyerupaan dari pada logika ataupun mantiq yang melalui silogisme dan premis logika. Dalam tradisi bayani sendidi spistemologi tekstual pembahasan lebih dutamakan dari pada epistemology kontekstual analisa maupun spiritual genosis batiniyah. Kemudian disamping itu nalar epistemology bayani selalu bersikap curiga pada akal karena menganggap hal itu akan menjauhi kebenaran tekstual.

Sikap kecurigaan tersebut sampai pada titik kesimpulan bahwa wilayah kerja akal itu perlu untuk dibatasi sedemikian rupa dan peranna dialihkan menjadi pengatus dan pengekang hawa nafsu. Bukan untuk mencari sebab dan musabbab melalui analisa keilmuan yang akurat.

Dunia ialah wilayah yang berpisah atau entitas konkrit yang terbang bebas, dunia taka da kaitannya dengan apapun antara mereka kecuali dengan melalui kehendak tuhan semesta alam. Mudahnya jika si A terkait dengan B maka hubungannya itu menjadi tidak ilmiah, akan tetapi karena tuhan memang menghendakinya demikian. Teori yang atomisme berarti juga menyangkal terhadap hokum kausalitas atau sebab musabbab, yakni sebagai akibat dari penerimaan terhada prinsip serba bolehnya. Hal ini karena segala sesuatu berasal dari tuhan dank arena kehendak tuhan serta tidak ada satupun yang bisa membatasi kekuasaannya yang bisa membatasi. Maka secara logika saja kemungkinan untuk mengakui bahwa tuhan bisa saja mengumpulkan antara dua hal yang kontradiktif, seperti mempertemukan antara kertas dengan api tanpa melalui proses pembaaran kepada kertas terlebih dahulu.

Karena itu dalam peradaban islam diskusi seputar kajian bayani dikelompokkan menjadi dua kelompok, kelompok pertama terkait dengan aturan dalam menafsirkan wacana, sedangkan kelompok kedua terkait dengan syarat memproduksi wacana, tradisi untuk menafsirkan wacana tersebut sudah muncuk sejak zaman Nabi. Yakni ketika para sahabat hendak meminta penjelasan terkait makna lafadz yang terdapat dalam alquran, atau setidaknya sejak zaman khulafaurrasyidin yang mana banyak umat muslim yang bertanya kepada para sahabat tentang penjelasan makna ayat yang ada dalam alquran yang tidak difahami oleh salah satu orang.


Epistem Irfani

Irfani ialah lanjutan dari bapa bayani, hanya saja kedua pengetahuan tersebut berbeda satu sama lain. Bayani bendasari pengetahuan berpijak pada teks, dan irfani mendasari pengetahuannya pada kasy yakni tersingkapnya rahasia-rahasia tentang tuhan.. karena itu kemudian irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa terhadap teks, tetapi dari nurani hati yang bersih dan suci. Sehingga tuhan menyingkap sebuahpengetahuan.

Irfani bekerja dengan proses pemahaman yang berangkat dari makna tejs menuju lafadz teks. Permasalahannya adalah bagaimana cara mengungkapkan makna atau dimensi batin yang diperoleh dari prose kasf itu sendiri. Aljabiri mengungkapkan bahwa makna tersebut bisa diungkap dengan menggunakan cara yang disebut dengan qiyas irfani. Yakni analogi makna batin yang diungkapkan dalam kasf pada makna dzahir yang terdapat dalam teks.

Dari kalangan mereka, yakni irfanidalam dunia islam menjadikan istilah dzahir dan bathin sebagai sebuah konsep yang menjadi landasan cara berfikir dalam memandang dunia dan mempelakukan segala sesuatu. System berfikir yang mereka gunakan ialah berangkat dari yang bathin menuju yang dhahir. Dari makna menuju lafzd. Bathin bagi mereka merupakan sumber pengetahuan dikarenakan bathin merupakan hakikat sedangkan dzahir teks adalah penyinar saja.


Epistem Burhani

Burhani merupakan model metodologi dalam berfikir yang tidak berdasar atas teks ataupun pengalaman, tapi atas dasar keruntutan cara berfikir. Pada tahap tertentu keberadaan teks yang suci dan pengalaman spiritual bahkan hanya sebatas bisa diterima jika hal itu sesuai dengan aturan yang logis atau masuk akal.

Epistemologi burhani adalah episteme yang bersumber dari  realitas atau al-waqiiyah baik realitas alam dan social ataupun realitas humanitas mdan juga realitas agama. Ilmu yang muncul dari tradisi burhani disebut dengan al-ilm al huṣuli, yaitu ilmu yang dikonsep dan disusun serta disistematisasi melalui premis logika.

Adapun pondasi epistemology burhani itu dibangun oleh ilmuwan yakni alkindi. Menurutnya ada dua macam pengetahuan, yang pertama ialah pengetahuan para rosul yang didapatkan melalui ilham dan juga risalah kenabian. Yang kedua pengetahuan manuasia umum yang diperoleh dari usaha penalaran dan inderawinya. Menurut alkindi alam bersifat baru. Allah menciptakan alam dari ketiadaan dan tanpa elantara. Menurutnya akal dan indera dapat digunakan untuk mengonstruksi pengetahuan tentang alam.

Pandangan alkindi inilah yang kemudian0dikembangkan oleh alfarobi. Akal manusia sangat cukup mempunyai kekuatan dengan mengandalkan pribadinya sendiri. Akal tidak membutuhkan sumber yang dijadikan tempat kembali bagi perkara dan kondisi yang baru melalui analogi, dan juga tidak butuh pada ilham ataupun guru yang kemudian mentransfer pengetahuan. Di dalam  akal sudah terdapat asumsi dasar yang menjadi landasan bagi ilmu yang menjadikannya titik awal dan titik tolak dalam proses argumentasi dengan menyusun konsep qiyas burhani. Prinsip umum yang mengarahkan proses burhani adalah prinsip kausalitas atau sebab akibat.


KESIMPULAN

Mehammed aljabiri ialah filsuf yang juga sekaligus pemikir arab yang hidup dalam masa ranionalisme dan demokratis tidak lagi dihargai. Bahkan aljabiri sendiri dilecehkan oleh bangsa arab sendiri kala itu.

Aljabiri dalam mengkaji ataupun mengkritisi sebuah tradisi menggunakan pendekatan historis, objektif dan juga kontinuitas. Historis dan0objektivitas sama sama dalam arti pemisalahanantara si pebaca dan bjek bacaannya. Sedangkan kontinuitas menghubungkan sang pembaca dengan objek bacaannya yang kemudian kebenaran pengetahuan bisa divalidasi melalui episteme nalar bayani, irfani dan burhani.

Pemikiran abid aljabiri ini telah0memberikan banyak warna tersendiri dalam pembaharuan pemikiran islam. Kritik yang ditawarkan aljabiri membukan jalan yang lebar pada dunia islam terkait bangunan nalar-nalar epistemic yang selama hidup ditengah peradaban islam. Menurut aljabiri kesadaran itu palsu sebab secara teoritis menolak barat dengan semua modernitasnya. Tapi disisi yang lain dalam realitanya tida bisa melepaskan diri dari peradaban arab yang sudah berkembang dan mempengaruhinya.

Aljabiri menggemukakan bahwa sikap umat islam saat ini pada tradisinya sendiri harus memulai dari tradisi demonstrative yang bersifat harus rasional seperti halnya yang telah dikembangkan oleh tokoh pemikir islam yang ada di wilayah barat seperti ibnu hazm dan juga ibnu rusy dan ibnu kahldun. Model epistemology yang dikembangkan oleh mereka ialah rasional dan empiris, sebab sifatnya ilmiah. Model episteme inilah yang kemudian memiliki daya lawan dalam menghadapu tantangan internal dan eksternal.


DAFTAR PUSTAKA

Nurfitriyani Hayati, Epistemologi Pemikiran Islam Abed Al-Jabiri dan Implikasinya Bagi Pemikiran Keislaman,Journal Of Islamic & Studies, Vol. 3 No. 1  Januari-Juni 2017 

Ahmad Baso, Muhammad Abid Al-Jabiri,  Post-tradisionalisme Islam, penj. (Yogyakarta: LkiS, 2000)

Achmad Bahrur Rozi, Menimbang Gagasan Epistemologi Islam Al-Jabiri Sebagai Solusi Kebangkitan Islam Modern, Empirisme, Vol. 27 No. 2 Juli 2018 | 73-86

Muhammad  Abed  al-Jabiri,  Kritik  Pemikiran Islam; Wacana Baru Filsafat Islam, penj. Burhan (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002)

M. Aunul Abied Shah (et. al), Islam Garda Depan: Mosaik Pemikiran Islam Timur Tengah (Bandung: Penerbit Mizan, 2001),

M. Faisol, Struktur Nalar Arab-Islam Menurut Muhammad Abid al-Jabiri, Jurnal Tsaqafah, Vol. 6, No. 2, Oktober 2010

Mahir Badul Qadir Muhamad, Falsafah al-Ulum, Ru’yah Arabiyah: al-Madkhal al Nazhari (Aleksandria: Dar al-Ma’rifah al-Jami’iyah, 1999)

Bagus Mustakim, Pemikiran Islam Muhammad Abed Al-Jabiri: Latar Belakang, Konsep Epistemologi, Urgensitas Dan Relevansinya Bagi Pembaruan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, Journal Of Research And Thought Of Islamic Education Vol. 2, No. 2, 2019

Arini Izzati Khairina, “Kritik Epistemologi Nalar Arab Muhammad Abed Al-Jabiri”, El-Wasathiya: Jurnal Studi Agama, Vol. 4, No. 1, 2016, h. 105-116.

Nurliana Damanik, jurnal al-hikmah (jurnal theosofi dan peradaban islam), Vol. 1 No. 2 Juni-November 2019 e-ISSN : 2655-8785

M. Amin Abdullah, “at-Ta’wil al-‘Ilmi: Ke Arah Perubahan Paradigma Penafsiran Kitab Suci,” dalam Jurnal al_Jami’ah, Journal of Islamic Studies, Vol. 39, No. 02 (2001)

A. Khudori Sholeh (ed.), “Model Epistemologi Islam Al-Jabiri dalam Pemikiran Islam Kontemporer (Yogyakarta: Jendela, 2003)

Al-Jabiri, Bunyat al-Aql

Mohammad Abed Al-Jabiri, Formasi Nalar Arab; Kritik Tradisi Menuju Pembebasan dan Pluralisme Wacana Intereligius, 













Label: , , , , , , , ,

Sejarah Peradaban Islam Pada Kejayaan Islam Masa Harun Al-Rasyid - Makalah

SPI

 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah, umat Islam telah membuat jalan baru bagi kehidupan akal dan perkembangan ilmu pengetahuanHal ini merupakan hasil logis dari zamannya sendiri setelah mengalami perubahan sejarah perkembangan pemikiran dari berbagai bangsa,terutama Persia, melalui jalan yang sama dengan evolusi kemajuan yang bertingkat-tingkat, namun merupakan mata rantai yang tersambung.

Kecintaan para khalifah, kepada ilmu pengetahuan sangat mendukung perkembang ilmu pengetahuan pada masa itu. Bahkan rakyatnya pun sangat berminat dan memiliki peranan penting. Hal ini menunjukkan bahwai Dinasti Abbasiyah sangat menekankan pembinaan pada peradaban dan kebudayaan Islam. Popularitas Daulah Abbasiyah, mencapai puncaknya pada zaman khalifah Harun ar-Rasyid dan putranya Al-Ma’mun. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Namun puncak kegemilang pemerintahan Abbasiyah atau boleh dikatakan zaman paling gemilang dalam sejarah Islam adalah pada kekhalifahan Harun ar-Rasyid. Pemerintahan ketika itu menikmati segala bentuk kebesaran kekuasaan dan keagungan ilmu pengetahuan. 

Ia amat disegani dan dihormati oleh negara-negara lain. Di dalam negeri kedudukan Harun ar-Rasyid lebih hebat daripada peristiwa-peristiwa dan kekacauan yang timbul di beberapa tempat. Harun ar-Rasyid, dikenal di seluruh jagad sebagai penguasa terbesar  di dunia. Pada masanyalah terdapat pemerintahan muslim yang paling cemerlang di Asia. 

Kisah Seribu Satu Malam telah menunjukkan  kekaguman kepada khalifah yang sering turun ke jalan-jalan di Baghdad untuk memperbaiki ketidakadilan dan membantu kaum tertindas. Ia taat menjalankan ajaran agama, tidak menyentuh minuman keras, saleh dan dermawan, namun ia gemar sekali hidup dalam penuh kemegahan sebagai lambang keagungannya. Agaknya karena fenomena inilah sehingga Abu Yusuf berkata bahwa pada diri Harun ar-Rasyid sebagai seorang khalifah, telah terkumpul padanya berbagai sikap dan watak yang saling berbeda, dalam waktu yang bersamaan, ia seorang tentara yang memiliki watak keras, seorang raja yang hidup bermewah- mewah, dan seorang yang berpegang teguh kepada agama dan takut kepada Allah. 

Keperibadian Harun ar-Rasyid telah menyebabkan munculnya dongeng-dongeng rakyat dan menyebarkan pengaruh besar karena wataknya yang luhur terhadap masyarakat.


B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana biografi Harun ar-Rasyid?

2. Bagaimana peranan Harun al-Rasyid dalam kekhalifahan Abbasiyah?

3. Bagaimana kemajuan yang dicapai pada masa Harun al-Rasyid?


C. Tujuan Pembahasan

1. Untuk mengetahui biografi singkat Harun al-Rasyid 

2. Untuk mengetahui peranan Harun al-Rasyid dalam kekhalifahan Abbasiyah

3. Untuk mengetahui kemajuan yang dicapai pada masa Harun al-Rasyid


BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi Singkat Harun ar-Rasyid

Harun ar-Rasyid, dilahirkan pada bulan Pebruari tahun 763 M di Rayy. Ayahnya bernama Al-Mahdi bin Abu Ja’far al-Mansyur, khalifah ketiga dari dari Bani Abbasiyah. Ibunya bernama Khaizuran, seorang wanita sahaya dari Yaman yang dimerdekakan oleh  Al1Mahdi. 

Harun ar-Rasyid memperoleh pendidikan di istana, baik pendidikan agama maupun ilmu pemerintahan. Ia dididik oleh keluarga Barmaki, Yahya bin Khalid salah seorang anggota keluarga Barmak yang berperan dalam pemerintahan Bani Abbas, sehingga ia menjadi terpelajar, cerdas, pasih berbicara dan berkepribadian yang kuat. 

Karena kecerdasannya, walaupun usianya masih muda, ia sudah terlibat dalam urusan pemerintahan ayahnya. Ia pun mendapatkan pendidikan ketentaraan. Pada masa pemerintahan ayahnya, Harun ar-Rasyid dipercayakan dua kali memimpin ekspedisi militer untuk menyerang Bizantium (779-780) dan (781-782) sampai ke pantai Bosporus. Ia didampingi oleh para pejabat tinggi dan jenderal veteran. 

Sebelum menjadi khalifah, ia pernah memegang jabatan gubernur selama dua kali, di as-Saifah pada tahun 163 H \779 M dan di Magribi pada tahun 780 M. Setelah sempat dua kali menjadi gubernur, pada tahun 166 H/782 M Khalifah Al-Mahdi mengukuhkannya menjadi putra Mahkota untuk menjadi khalifah sesudah saudaranya, Al-Hadi, dan setelah pengukuhannya empat tahun kemudian yakni tepatnya pada tanggal 14 September 786 M Harun ar-Rasyid memproklamirkan diri menjadi khalifah, untuk menggantikan saudaranya yang telah wafat.

Setelah menduduki tahta kekhalifahan, ia pun mengangkat Yahya bin Khalid sebagai wazir (perdana menteri) untuk menjalankan roda pemerintahan dengan kekuasaan tidak terbatas. Ia berkata kepada Yahya: “Sesungguhnya Aku serahkan kepadamu urusan rakyat, tetapkanlah segala sesuatu menurut pendapatmu, pecat orang yang patut dipecat, pekerjakanlah orang yang pantas menurut kamu dan jalankan segala urusan menurut pendapatmu”.

Sang khalifah tidak secara niscaya diharapkan mengambil peran pribadi dalam pemerintahan, namun pada masalah-masalah yang menjadi keprihatinannya secara pribadi atau menjadi kepentingan khusus seperti derma, maka ia cenderung campur tangan (Hodgson, 2002: 77).

Masa pemerintahan Bani Abbasiyah, khalifah sangat diharapkan melaksanakan dua kewajiban serimonial yang cukup berat ia harus memimpin ibadah salat Jumat di ibukota, paling tidak pada peristiwa- peristiwa khusus. Dalam hubungan ini, sang khalifah menunjukkan diri sebagai pewaris Muhammad

Namun pada diri khalifah Harun ar-Rasyid dan sebagian besar yang mengikutinya, lebih suka menyerukan kepemimpinan aktual pada seorang wakil, sedang mereka sendiri hanya membentuk ma’mun, meskipun ditempatkan dengan aman disuatu tempat yang secara khusus dirancang dalam mesjid yang disebut maqshurah. Khalifah Harun menunjukkan contoh kepemimpinan yang tidak otoriter atau memonopoli segala urusan.

Pribadi dan akhlak Harun, suka bercengkrama, alim dan sangat dimuliakan, beliau berselang seling menunaikan haji dan turun ke medan perang dari tahun berganti tahun. Beliau bersembahyang seratus rakaat setiap hari dan pergi menunaikan haji dengan berjalan kaki. 

Ia tidak menyia-nyiakan kebaikan orang kepadanya dan tidak pernah menangguh-nangguhkan untuk membalasnya. Beliau menyukai syair dan para penyairnya serta gemar tokoh-tokoh sastra dan fikih, malah beliau sangat menghormati dan merendahkan diri kepada alim ulama. Namun semikian, ia pun sangat mencintai isterinya sehingga kalau ada yang berbuat salah pada isteri dan pembantu-pembantunya maka orang tersebut akan mendapat hukuman. Sebagai contoh, seorang hakim yang bernama Hafs bin Ghiyats telah dipecat dari jabatannya karena menjatuhkan suatu keputusan kepada salah seorang pembantunya Zubaidah.

Di antara sifat-sifat khalifah Harun ar-Rasyid yang amat menonjol ialah beliau kadang-kadang diumpamakan sebagai angin ribut yang kencang dan kadang pula sebagai angin yang bertiup sepoi- sepoi basah, beliau lebih mengutamakan akal daripada emosi, kalau marah beliau begitu garang dan menggeletar seluruh tubuh dan kalau memberi nasihat beliau menangis terseduh-seduh. 


B. Peranan Harun Al-Rasyid Dalam Kekhalifahan Abbasiyah

1. Peranan Harun Al-Rasyid Sebagai Pemimpin Agama Dan Kepala Pemerintahan

Menurut ajaran Nabi Muhammad SAW agama dan negara merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan satu sama lain. Hal ini dikarenakan agama merupakan pengontrol serta pengatur batasan-batasan aturan yang dilakukan dalam pemerintahan. (Werf, 1953: 144). Sistem dan bentuk pemerintahan dinasti Abbasiyah pada hakikatnya tidak jauh berbeda dari dinasti Umayyah. Sistem dan bentuk pemerintahan monarki yang di pelopori oleh Muawiyaah bin Abi Sufyan diteruskan oleh Dinasti Abbasiyah dan memakai gelar khalifah, namun gelar khalifah pada zaman Dinasti Abbasiyah derajatnya lebih tinggi dari gelar khalifah di zaman Dinasti Umayyah. 

Struktur organisasi Dinasti Abbasiyah terdiri dari al khilafat, al-wizarat (kementrian), al-kitabat dan al-hijabat. Lembaga al-khilafat dijabat oleh seorang khalifah sebagai mana telah disebutkan diatas jabatan khalifah berjalan secara turun temurun dilingkungan Dinasti Abbasiyah Lembaga al-wizarat (kementrian) dipimpin oleh seorang wazir seperti halnya menteri pada zaman sekarang. Lembaga dan jabatan ini baru dalam sejarah pemerintahan Islam yang diciptakan oleh Khalifah Abu Ja’far al-Mansur. Lembaga al-kitabat terdiri dari beberapa katib (sekertaris). Lembaga al-hijabat dipimpin oleh al hajib, tugas al-hajib ialah mengawal serta mengatur siapa saja yang ingin bertemu dengan khalifah. Pada zaman Khalifah Abbasiyah birokrasi diperketat hanya rakyat dan pejabat yang mempunyai urusan penting yang boleh bertemu langsung dengan khalifah.

Dalam mengembangkan dinasti Abbasiyah khalifah Harun al-Rasyid memiliki peranan yang sangat penting. Dimana pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid penuh dengan kemewahan, dan keindahan serta dikenal sebagai zaman kegemilangan. Kemurahan hati khalifah Harun al Rasyid menarik berbagai orang untuk datang ke Ibukota seperti ahli pengetahuan, pujangga, ahli seni musik dan lain-lain. Barang siapa yang pandai menarik hati khalifah Harun al-Rasyid akan menjadi pegawai istana. 

Khalifah Harun al-Rasyid merupakan seorang khalifah yang halus budinya lagi peramah. Ada dua sifat yang dimiliki oleh khalifah Harun al-Rasyid, dimana kedua sifat ini sangat selalu menarik minat rakyatnya yaitu sebagai seorang khalifah yang pemberani dan pemurah. Khalifah Harun al-Rasyid memiliki pembendaharaan yang melipah seperti mata uang emas, perak, berlian dan permata. Selain itu, beribu-ribu ekor binatang peliharaan diberikan kepada rakyat serta hamba sahaya. Amat murah hati khalifah Harun al-Rasyid dan permaisurinya Zubaidha yang menganugerahkan uang kepada pemerintah dikota-kota suci yang berada ditanah Arab, sering kali khalifah Harun al-Rasyid turut serta bersembahyang bersama rakyatnya. 

Delapan sampai sembilan kali khalifah Harun al-Rasyid menunaikan ibadah haji, bila berhalangan khalifah menyuruh alim-ulama untuk menggantikannya pergi berhaji ke Makkah. Ururan agama pun telah menjadi kokoh, hal ini terbukti dengan orang-orang zindik yang telah tiada sehingga tidak bisa bergerak dan muncul kembali. Agama memiliki peranan yang sangat penting serta memiliki pengaruh besar dalam masyarakat. Penghinaan terhadap orang-orang yang beragama pun semakin berkurang tidak seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Untuk mensejahterahkan rakyatnya khalifah Harun al-Rasyid rela melakukan apapun, salah satu contoh keadaan aman yang diberikan khalifah Harun al-Rasyid untuk rakyatnya sehingga membuat pedagang, saudagar, kaum terpelajar dan jamaah dapat melakukan perjalanan di seluruh wilayah kekuasaannya. Selain itu dalam hal peningkatan kesejahteraan rakyat dan Negara Harun al Rasyid juga memajukan ekonomi, perdagangan dan pertanian dengan sisitem irigasi. Kemajuan sektor-sektor ini menjadikan Baghdad ibu kota pemerintahan Bani Abbas sebagai pusat perdagangan terbesar dan teramai di dunia. Pada saat itu banyak terjadi pertukaran barang serta valuta dari berbagai penjuru. Dengan demikian, Negara banyak memperoleh pendapatan dari kegiatan perdagangan tersebut lewat sektor pajak sehingga Negara mampu membiayai pembangunan sektor-sektor lain. 

Harun al-Rasyid juga membangun sarana dan prasarana di kota Baghdad seperti masjid, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, toko obat, jembatan dan lain sebagainya. Tidak lupa pula Harun al-Rasyid juga membiayai pengembangan ilmu pengetahuan dibidang penerjemahan dan penelitian. Sebagai imbalannya negara mampu memberikan gaji yang tinggi kepada para ulama dan ilmuan. Di samping pembangunan untuk masyarakat juga didirikan beberapa istana yang mencerminkan kemewahan pada saat itu salah satunya adalah istana al Khuldi.


2. Peranan Harun al-Rasyid Dalam Mengembangkan Ilmu Pengetahuan

Pada masa Kekhalifah Abbasiyah umat Islam mengalami suatu masa yang sangat gemilau yaitu perubahan baru tentang ilmu pengetahuan dan akal. Hal ini merupakan hasil logis dari zaman Khalifah Abbasiyah setelah mengalami perubahan sejarah tentang perkembangan pemikiran dari berbagai bangsa terutama bangsa Persia. Kecintaan para khalifah kepada ilmu pengetahuan sangat mendukung bahkan rakyat pun sangat berminat dan memiliki peranan penting. Hal ini menunjukkan bahwa Dinasti Abbasiyah sangat menekankan pembinaan pada peradaban dan kebudayaan Islam.

Pada masa kejayaan Islam banyak khalifah mencintai dan mendukung penuh aktivitas ilmu pengetahuan yang paling menonjol dan besar melalui penerjemahan. Para khalifah menerjemahkan dari buku-buku bahasa asing seperti bahasa Sansekerta dan Yunani ke dalam bahasa Arab. Jasa-jasa ilmuwan muslim dalam ilmu pengetahuan dan ilmu-ilmu lain tidak ternilai. Pada awalnya, para ulama memelihara dan mentransfer ilmu yang didapat melalui hafalan atau lembaran-lembaran yang tidak teratur. 

Kemudian barulah pada abad ke-7 para ulama menulis hadis, fikih, tafsir, dan banyak buku dari berbagai bahasa meliputi segala bidang ilmu yang telah berhasil diterjemahkan kedalam bahasa Arab dan menjadi buku buku yang disusun secara sistematis. Kegiatan ini berjalan melalui tiga periode. Pertama, pencatatan pemikiran, hadis dan hal-hal lain pada kertas kemudian dirangkap. Kedua, pembukuan pemikiran-pemikiran atau hadis-hadis nabi dalam satu buku, misalnya menghimpun hukum hukum fikih dalam buku tertentu dan sejarah dalam buku tertentu pula. Ketiga, penyusunan dan pengaturan kembali buku yang telah ada ke dalam pasal-pasal dan bab-bab tertentu, semua hal ini berlangsung pada masa kekhalifahan Abbasiyah. 

Kestabilan politik, sosial dan budaya serta kemampuan ekonomi pada masa kekhalifah Harun al Rasyid tampaknya benar-benar membuat kondisi yang kondusif bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini juga di imbangi dengan lahirnya tokoh-tokoh brilian di berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti Jabir ibn Hayyan dengan karyanya yang berjudul The Father of Arabic Alchemy, Ali al-Tabari, al-Razi, Ali ibn al-Abbas, al-Majusi, dan ibn Sina. Pakar-pakar ilmuan di bidang kedokteran seperti al-Rusyd, al-Kindi, al-Farabi, ibn Tufail. Sedangkan para filsuf maupun tokoh-tokoh dalam bidang hukum (fikih) seperti Imam Abu Hanifah (700 – 765), Imam Maliki (713 – 795), Imam Syafi’i (765 – 870), dan Imam Ahmad ibn Hanbal (780 – 855). 

Harun al-Rasyid mencapai puncak kemasyuran karena perhatian yang tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam dengan taraf yang belum pernah dicapai sebelumnya oleh pemimpin pemimpin yang lain. Harun al-Rasyid mendirikan beberapa lembaga pendidikan seperti Bait al-Hikmah (lembaga penerjemah), Majelis al-Muzakarah ialah lembaga yang mengkaji tentang masalah-masalah keagamaan. Majelis ini sering dilakukan di rumah-rumah, masjid-masjid, istana khalifah, dan rumah sakit. 

Lembaga pendidikan di rumah itu telah ada lebih dahulu, bedanya pada masa Harun al-Rasyid banyak menunjuk rumah rumah dan masjid sebagai tempat belajar. Berikut ini merupakan lembaga pendidikan yang berkembang pada masa dinasti Abbasiyah yaitu pada masa Harun al-Rasyid di antaranya: kuttab, pendidikan rendah di istana, toko toko buku, majelis, rumah sakit, perpustakaan masjid dan rumah-rumah para ulama.


C. Kemajuan Yang Dicapai Pada Masa Harun Al-Rasyid

1. Mengembangkan Lembaga Pendidikan

Pendidikan dewasa tidak hanya dikembangkan dengan cara-cara yang sistematis atau di lembaga-lembaga formal, tetapi juga dilakukan di masjid-masjid yang terdapat di semua kota Muslim. Setiap masjid, selain sebagai pusat aktivitas keagamaan, juga berfungsi sebagai pusat-pusat pendidikan penting. Ketika seorang tamu megunjungi sebuah kota, ia bisa langsung mendatangi masjid jami dengan keyakinan ia bisa mengikuti perkuliahan tentang hadis.

Fenomena semacam itulah yang dicatat oleh Al-Maqdisi ketika ia mengunjungi kota Susa. Ahli geografi yang senang mengembara ini (hidup pada abad kesepuluh) menemukan berbagai halaqah atau lingkaran-lingkaran pendidikan di Palestina, Suriah, Mesir, dan Faris. Ia juga menemukan sekelompok pelajar yang berkumpul  mengitari  seorang  guru  (faqih),  juga  lingkaran  para  pembaca  Al-Qur‟an dan karya sastra di masjid-masjid. Imam Asy-Syafi‟i sendiri memiliki halaqah semacam itu di Masjid „Amr di kota Fushtat. Ia mengajarkan berbagai materi setiap pagi hingga wafatnya pada tahun 820 M. Ibnu Hawqal menyebutkan adanya lingkaran belajar serupa di kota Sijistan. Materi yang disampaikan tidak hanya materi keagamaan, tetapi juga linguistik dan puisi. Setiap Muslim memiliki kebebasan untuk memilih materi kesukaannya yang disampaikan di masjid-masjid, yang bertahan hingga abad kesebelas dalam bentuk sekolah-sekolah Islam.

Beberapa lembaga pendidikan yang berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah di masa Harun Ar-Rasyid

a. Kuttab atau Maktab

Kuttab atau maktab, berasal dari kata dasar kataba yang berarti menulis atau tempat menulis. Jadi kuttab adalah tempat belajar menulis. Namun akhirnya memiliki pengertian sebagai lembaga pendidikan dasar. Kuttab merupakan lembaga pendidikan Islam yang terlama. Di awal perkembangan Islam, kuttab tersebut dilaksanakan di rumah-rumah gutu yang bersangkutan dan materi yang diajarkan adalah semata-mata menulis dan membaca syair-syair terkenal. Kemudian di akhir abad 1 H, mulai muncul jenis kuttab yang di samping memberikan pendidikan menulis dan membaca, juga mengajarkan membaca   Al-Qur‟an   dan   pokok   ajaran   agama.   

Pada   mulanya   kuttab merupakan pemindahan dari pengajaran Al-Qur‟an yang berlangsung di masjid yang sifatnya umum (berlaku untuk anak-anak dan dewasa). Namun karena anak-anak pada umumnya sulit untuk menjaga kebersihan masjid, maka disediakanlah tempat khusus di samping masjid untuk mereka belajar Al-Qur‟an  dan  pokok-pokok  agama.  Selanjutnya  berkembanglah  tempat- tempat khusus (baik yang dihubungkan dengan masjid maupun terpisah) untuk pengajaran anak-anak dan berkembanglah kuttab-kuttab yang bukan hanya mengajarkan Al-Qur‟an, tetapi juga pengetahuan dasar lainnya. Dengan demikian kuttab berkembang menjadi lembaga pendidikan dasar yang bersifat formal.

b. Pendidikan Rendah di Istana

Timbulnya pendidikan rendah di istana untuk anak-anak para pejabat didasarkan bahwa pendidikan itu harus bersifat menyiapkan anak didik agar mampu melaksanakan tugas-tugasnya kelak setelah dewasa. Untuk itu, khalifah dan keluarganya serta pembesar istana lainnya berusaha mempersiapkan anak-anaknya agar sejak kecil sudah diperkenalkan dengan lingkungan dan tugas-tugasnya yang akan diembannya nanti. Oleh karena itu, mereka memanggil guru-guru khusus untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak.

Di istana orang tua muridlah (para pembesar istana) yang membuat rencana pelajaran sesuai dengan tujuan yang dikehendaki oleh orang tua dan sejalan dengan tujuan serta tanggung jawab yang akan dihadapi sang anak kelak. Guru pendidikan anak di istana disebut mu‟addib. Kata mu‟addib berasal dari kata adab, yang berarti berbudi pekerti. Fungsi mu‟addib adalah mendidikkan budi pekerti dan mewariskan kecerdasan dan pengetahuan-pengetahuan orang-orang terdahulu kepada anak-anak pejabat.

c. Toko-toko Buku

Selama masa kejayaan Dinasti Abbasiyah, toko-toko buku berkembang pesat seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Uniknya, toko- toko ini tidak saja menjadi pusat pengumpulan dan penyebaran (penjualan) buku-buku, tetapi juga menjadi pusat studi dengan lingkaran-lingkaran studi berkembang di dalamnya. Pemilik toko buku biasanya berfungsi sebagai tuan rumah dan kadang-kadang berfungsi sebagai pemimpin lingkaran-lingkaran studi tersebut. Ini semua menunjukkan bahwa betap antusias umat Islam masa itu dalam menuntut ilmu.


d. Majelis Atau Salon Kesusastraan

Majelis atau salin kesusasteraan adalah suatu majelis khusus yang diadakan oleh khalifah untuk membahas berbagai macam ilmu pengetahuan. Pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid, majelis sastra ini mengalami kemajuan yang luar biasa, karena khalifah sendiri adalah ahli ilmu pengetahuan yang cerdas, sehingga khalifah aktif di dalamnya. Pada masa beliau, sering diadakan perlombaan antara ahli-ahli syair, diskusi antara fukaha dan juga sayembara antara ahli kesenian dan pujangga.

e. Rumah Sakit

Pada masa Abbasiyah, rumah sakit bukan hanya berfungsi sebagai tempat merawat dan mengobati orang sakit, tetapi juga berfungsi sebagai tempat untuk mendidik tenaga-tenaga yang berhubungan dengan keperawatan dan pengobatan. Rumah sakit juga merupakan tempat praktikum dari sekolah kedokteran yang didirikan di luar rumah sakit. Dengan demikian, rumah sakit dalam dunia Islam juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan. Ini pula tampaknya yang diterapkan oleh dunia pendidikan modern. Dalam sejarah Islam, Bimaristan adalah rumah sakit Islam pertama yang dibangun oleh Ar- Rasyid pada awal abad kesembilan, mengikuti model Persia.

f. Perpustakaan

Bait Al-Hikmah di Baghdad yang didirikan oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid, adalah merupakan salah satu contoh dari perpustakaan Islam yang lengkap, yang berisi ilmu-ilmu agama Islam dan bahasa Arab, bermacam-macam ilmu pengetahuan yang telah berkembang pada masa itu, dan berbagai buku-buku terjemahan dari bahasa Yunani, Persia, India, Qibty, dan Aramy. Perpustakaan-perpustakaan dalam dunia Islam pada masa jayanya telah menjadi aspek budaya yang penting, sekaligus sebagai tempat belajar dan sumber pengembangan ilmu pengetahuan.

g. Masjid

Pada masa Dinasti Abbasiyah dan masa perkembangan kebudayaan Islam, masjid-masjid yang didirikan oleh para penguasa pada umumnya dilengkapi dengan berbagai sarana dan fasilitas pendidikan. Seperti tempat untuk pendidikan anak-anak, pengajaran orang dewasa (halaqah), juga ruang perpustakaan dengan buku-buku yang lengkap.

Masjid dapat dikatakan sebagai lembaga pendidikan Islam yang khas dan pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, penyelenggaraan pendidikan di masjid sangat didukung oleh pemerintah, seperti Harun Ar-Rasyid dan dilanjutkan oleh khalifah sesudahnya. Di mana saja Islam tersebar pada abad pertama dengan perkembangannya yang luar biasa. Tradisi masjid sebagai pusat peribadatan juga menyertainya. Dengan demikian, wajar apabila Khalifah Abbasiyah sedikit demi sedikit melihat pentingnya masjid bukan hanya sebagai tempat peribadatan, melainkan juga sabagai pusat pengajaran bagi kaum muda.

h. Rumah-rumah Para Ulama

Pada zaman kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam, banyak rumah para ulama yang dijadikan tempat belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan. Di antara rumah para ulama yang dijadikan tempat belajar adalah rumah Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ali ibn Muhammad al- Fasihi, dan lain-lain.

i. Madrasah

Madrasah sangat diperlukan keberadaannya sebagai tempat untuk menerima ilmu pengetahuan agama secara teratur dan sistematis. Sebab didirikannya madrasah adalah karena masjid-masjid telah dipenuhi dengan pengajian- pengajian dari para guru yang semakin banyak, sehingga mengganggu kenyamanan orang salat. Di samping itu juga karena pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan setalah semakin berkembangnya kegiatan penerjemahan buku-buku berbahasa asing ke dalam bahasa Arab.


2. Kebijakan Khalifah Harun Ar-Rasyid

Segala prestasi yang berhasil diukir Khalifah Harun Ar-Rasyid di atas tidak terlepas dari kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh beliau sebagai pemimpin tertinggi. Berikut adalah beberapa kebijakan yang dibuat oleh Khalifah Ar-Rasyid.

a. Bidang Kesehatan

1) Mendirikan rumah sakit.

2) Mendirikan lembaga pendidikan kedokteran dan farmasi.


b. Bidang Sosial

1) Membangun pemandian umum.


c. Bidang Militer

1) Menerapkan ilmu pengetahuan ke dalam kemiliteran.

2) Membekali pasukan pemanah dengan pelontar nafa, pakaian anti api, dan pelontar bahan yang mudah terbakar untuk dilontarkan ke arah pasukan musuh.

3) Melibatkan arsitek yang bertugas membangun mesin pengepung seperti katapul, pelontar, dan pendobrak dalam pasukan.

4) Mengiringi pasukan dengan rumah sakit dan ambulans berbentuk gerobak yang ditarik oleh unta.


d. Bidang Pendidikan

1) Memuliakan guru dan ulama.

2) Mendirikan perpustakaan-perpustakaan.

3) Menerjemahkan buku-buku pengetahuan ke dalam bahasa Arab.

4) Memberikan penghargaan kepada siswa berprestasi.

5) Menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan.

6) Melibatkan peran orangtua dalam pendidikan.

7) Kurikulum berpusat pada Qur‟an

8) Mengutamakan ta‟dib dalam pendidikan


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Harun ar-Rasyid, dilahirkan pada bulan Pebruari tahun 763 M di Rayy. Ayahnya bernama Al-Mahdi bin Abu Ja’far al-Mansyur, khalifah ketiga dari dari Bani Abbasiyah. Ibunya bernama Khaizuran, seorang wanita sahaya dari Yaman yang dimerdekakan oleh  Al-Mahdi. Harun ar-Rasyid memperoleh pendidikan di istana, baik pendidikan agama maupun ilmu pemerintahan. Ia dididik oleh keluarga Barmaki, Yahya bin Khalid salah seorang anggota keluarga Barmak yang berperan dalam pemerintahan Bani Abbas, sehingga ia menjadi terpelajar, cerdas, pasih berbicara dan berkepribadian yang kuat. 

Karena kecerdasannya, walaupun usianya masih muda, ia sudah terlibat dalam urusan pemerintahan ayahnya. Ia pun mendapatkan pendidikan ketentaraan. Pada masa pemerintahan ayahnya, Harun ar-Rasyid dipercayakan dua kali memimpin ekspedisi militer untuk menyerang Bizantium (779-780) dan (781-782) sampai ke pantai Bosporus. Ia didampingi oleh para pejabat tinggi dan jenderal veteran. Pribadi dan akhlak Harun, suka bercengkrama, alim dan sangat dimuliakan, beliau berselang seling menunaikan haji dan turun ke medan perang dari tahun berganti tahun. Beliau bersembahyang seratus rakaat setiap hari dan pergi menunaikan haji dengan berjalan kaki.

Struktur organisasi Dinasti Abbasiyah terdiri dari al khilafat, al-wizarat (kementrian), al-kitabat dan al-hijabat. Lembaga al-khilafat dijabat oleh seorang khalifah sebagai mana telah disebutkan diatas jabatan khalifah berjalan secara turun temurun dilingkungan Dinasti Abbasiyah Lembaga al-wizarat (kementrian) dipimpin oleh seorang wazir seperti halnya menteri pada zaman sekarang. Lembaga dan jabatan ini baru dalam sejarah pemerintahan Islam yang diciptakan oleh Khalifah Abu Ja’far al-Mansur. Lembaga al-kitabat terdiri dari beberapa katib (sekertaris). Lembaga al-hijabat dipimpin oleh al hajib, tugas al-hajib ialah mengawal serta mengatur siapa saja yang ingin bertemu dengan khalifah. Pada zaman Khalifah Abbasiyah birokrasi diperketat hanya rakyat dan pejabat yang mempunyai urusan penting yang boleh bertemu langsung dengan khalifah.

Dalam mengembangkan dinasti Abbasiyah khalifah Harun al-Rasyid memiliki peranan yang sangat penting. Dimana pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid penuh dengan kemewahan, dan keindahan serta dikenal sebagai zaman kegemilangan. Kemurahan hati khalifah Harun al Rasyid menarik berbagai orang untuk datang ke Ibukota seperti ahli pengetahuan, pujangga, ahli seni musik dan lain-lain. Barang siapa yang pandai menarik hati khalifah Harun al-Rasyid akan menjadi pegawai istana. 

Khalifah Harun al-Rasyid merupakan seorang khalifah yang halus budinya lagi peramah. Ada dua sifat yang dimiliki oleh khalifah Harun al-Rasyid, dimana kedua sifat ini sangat selalu menarik minat rakyatnya yaitu sebagai seorang khalifah yang pemberani dan pemurah. Khalifah Harun al-Rasyid memiliki pembendaharaan yang melipah seperti mata uang emas, perak, berlian dan permata. Selain itu, beribu-ribu ekor binatang peliharaan diberikan kepada rakyat serta hamba sahaya. Amat murah hati khalifah Harun al-Rasyid dan permaisurinya Zubaidha yang menganugerahkan uang kepada pemerintah dikota-kota suci yang berada ditanah Arab, sering kali khalifah Harun al-Rasyid turut serta bersembahyang bersama rakyatnya.

Pada masa Kekhalifah Abbasiyah umat Islam mengalami suatu masa yang sangat gemilau yaitu perubahan baru tentang ilmu pengetahuan dan akal. Hal ini merupakan hasil logis dari zaman Khalifah Abbasiyah setelah mengalami perubahan sejarah tentang perkembangan pemikiran dari berbagai bangsa terutama bangsa Persia. Kecintaan para khalifah kepada ilmu pengetahuan sangat mendukung bahkan rakyat pun sangat berminat dan memiliki peranan penting. Hal ini menunjukkan bahwa Dinasti Abbasiyah sangat menekankan pembinaan pada peradaban dan kebudayaan Islam

Ada dua hal yang sangat berpengaruh dalam masa kepemimpinan khalifah Harun al-Rasyid, yakni dengan mengembangkan lembaga-lembaga pendidikan dan membuat kebijakan-kebijakan yang mendukung pertumbuhan dan kejayaan pada kepemimpinannya.



DAFTAR PUSTAKA

Yatim, Badri. 1994. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 

Syalabi, Ahmad. 1993. Sejarah dan Kebudayaan 3. Cet. III. Jakarta: Pustaka Al-Husna. 

Ahmad, Jamil. 1996. Seratus Muslim Terkemuka. Cet. VI. Jakarta: Pustaka Firdaus. 

Al-Maududi, Abu A’la. 1996. Khilafah dan Kerajaan. Cet. VI. Bandung: Mizan. 

Tim Ensiklopedi. 1998. Ensiklopedi Islam. Cet. III. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Houve.  Ahmad, Jamil. 1996. Seratus Muslim Terkemuka. Cet. VI. Jakarta: Pustaka Firdaus. 

G.S. Hodgson, Marshall. 2002. The Venture of Islam, Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia Masa Klasik, Peradaban Khalifah Agung. Cet. II. Jakarta: Paramadina. 

Al-Maududi, Abu A’la. 1996. Khilafah dan Kerajaan. Cet. VI. Bandung: Mizan. 

Werf, J. Van Der. 1953. Sejarah Umum. Djakarta: Noordhoff-Kolff N.V. 

Ismiyati Et Al., Peranan Harun Al-Rasyid Dalam Kekhalifahan Abbasiyah Tahun 786 – 809. Artikel Ilmiah Mahasiswa, 2015, I (1): 1-12

Suwito. 2005. Sejarah Sosial Pendidikan Islam. Jakarta: Prenada Media. 

Philip K. Hitti, History of the Arabs, terjemahan R. Cecep Lukman Yasin, Dedi Slamet Riyadi, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2014)

Muhammad Abul Qasim bin Hawqal (lahir di Nisibis, Upper, Mesopotamia, menjelajah sekitar tahun 943-969) adalah seorang penulis sejarah dan ahli geografi Muslim abad kesepuluh. Karyanya yang paling terkenal adalah Surah Al-Ard (The Face of the Earth) yang ditulis pada 977

Zuhairini et. al., Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011)

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016)


Label: , , , , , ,

Tiga hal yang harus dimiliki santri atau penuntut ilmu

Santri

Pada pembahasan sebelumnya penulis uraikan tiga sifat mulia yang harus dimiliki oleh guru, sehingga kenikmatan murid akan sempurna jika guru memiliki tiga sufat tersebut, tiga sifat tersebut ialah guru hatus memiliki sifat sabar, sifat tawadhu' dan Akhlaq yang terpuji. 

Pada kesempatan kali ini penulis akan uraikan tiga hal yang harus dimiliki setiap murid, santri atau pelajar, atau julukan lainnya bagi penuntut ilmu. tiga hal tersebut ialah Akal, Adab atau akhlak,  dan Pemahaman yang bagus.  Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Alghozali dalam kitab Ihya' Ulumiddin. yakni sebagai berikut:

وإذا جمع المتعلم ثلاثا، تمت النعمة بها على المعلم : العقل والأدب وحسن الفهم

Artinya "Dan apabila terkumpul pada diri seorang pelajar tiga hal, maka menjadi sempurna kenikmatan yang dirasakan oleh seorang guru, yakni akal, adab, dan pemahaman yang bagus."

1. Akal 

Setiap [pelajar hendaknya memiliki akal yang sehat, yakni yang bisa membedakan antara yang baik untuk diamalkan dan yang buruk untuk ditinggalkannya, dan juga bisa membedakan antara urusan duniawi yang tidak berharga dengan urusan akhirat yang sifatnya selamanya. Dengan akal yang sehat pelajar bisa menyerap ilmu dengan baik dan lancar. terlebih jika dia bagian dari orang-orang yang cerdas, orang yang cerdas dalam memahami ilmu punya kecepatan yang berbeda daripada yang biasa-biasa saja. bahkan cerdas menjadi  bagian dari enam syarat bagi pelajar, sebagaimana makolahnya sayyidina Ali bin Abi Thalib. 

Adapun kecerdasan sendiri bisa digolongkan menjadi dua bagian: 

Pertama Kecerdasan yang diberi oleh Allah SWT dengan berupa kemudahan dalam memahami pelajaran dan sangat mudah dalam menghafal apa yang diberikan oleh guru atau orang lain, dan dia juga mempunyai hafalan yang kuat, 

Kedua Kecerdasan yang dia dapat dengan usaha yang keras, yakni dengan rajin belajar dan giat menghafal serta tekun dalam disiplin ilmu.


2. Adab atau akhlak 

Adab atau akhlak disini ialah budi pekerti serta penghormatan seorang murid kepada gurunya, baik secara dhohir maupun bathin. Diantara akhlak seorang murid atau santri selain bersikap baik dengan bentuk penghormatan kepada gurunya seperti melaksanakan apa yang diperintahkan oleh gurunya dst, ialah menjaga prasangka buruk pada gurunya, atau menjaga gertakan atau bisikan hatinya pada gurunya. Hal ini untuk menjaga kemantaban hatinya pada sang guru. Dalam melaksanakan atau mentaati segala hal yang diminta dan  diperihtah oleh guru di sini selagi tidak menyalahi aturan dalam prinsip agama Islam. Jika misal guru memerintahkan untuk tidak solat atau mungkin mencuri, makal dalam hal ini murid atau santri harus menolaknya dengan tegas namun tetap dengan cara yang baik dan santun.

Adab atau akhlak adalah perilaku yang ideal yang hendaknya diaplikasikan setiap orang Islam, terlebih bagi kaum santri. Baik itu ketika berinteraksi dengan Allah (Taat pada perintah dan larangannya, seperti sholat lima waktu, puasa, zakat , haji daj juga meninggalkan segala bentu pekerjaan yang dilarang dst) dan juga bersosialisasi dengan sesama manusia. Adapun akhlak terbagi menjadi tiga, yaitu akhlak syariah, universal, dan akhlak lokal sebagaimana yang sudah disampaikan pada pembahasan tiga sifat mulia yang harus dimiliki guru.


3. Pemahaman yang bagus 

Pemahaman yang bagus memang harus dimiliki oleh setiap pelajar, meskipun tingkat pemahaman masing-masing orang jelas berbeda-beda setidaknya sedikit banyak pelajar bisa memahami apa yang sudah disampaikan oleh gurunya. Dengan mempunyai pemahaman yang bagus, maka pelajar akan lebih mudah dalam menerima ilmu, mudah dalam menyerap dan mengembangkan ilmu. dalam hal ini tentu tidak mudah dan intsan, diantara caranya yakni dengan cara bersemangat belajar, menghafal, dan mengajarkan ilmunya pada orang lain sebagai bentu menyebarkan ilmu Allah dan juga mengingat kembali ilmu yang didapatkan.

Label: , , , , , , , , , ,

Bersikap seperti ahli hadits dalam menerima berita

Menyikapi berita bohong

Setiap murid atau santri (Pelajar), sudah seharusnya mempunyai sifat dan sikap yang baik dalam bersosial sehari-hari. Pelajar yang baik ialah mereka yang mampu menjaga prilaku dan perkataannya serta hatinya dari perkara-perkara yang tidak baik, seperti halnya memukul, menendang, mencuri, melanggar perintah agama atau bahkan suka menyebarkan berita-berita palsu dan juga suka merasani atau menggosipi orang lain. Hal yang demikian ini sungguh amat tercela. 

Dengan perkembangan zaman yang begitu pesat, teknologi serba ada untuk kehidupan manusia, rasanya apapun bisa dilakukan dengan kecanggihan teknologi tersebut. Akhir-akhir ini sedang semaraknya dan gencar-gencarnya orang-orang yang berlomba-lomba membuat berita bohong dan juga ada yang dengan senang hati mengkonsumsinya bahkan disebar luaskan tanpa mencaari tahu terlebih dahulu kevalidtan dan kebenaran suatu berita yang diterimanya serta disebar luaskan olehnya. Terlebih apapun yang berbau agama, ataupun politik maka keduanya akan sangat mudah menjadi topik utama di sosial media, sehingga siapapun bisa membacanya dan dengan kemudahan untuk percaya tanpa mencoba mencari kebenaran suatu berita tersebut oang-orang langsung menyebar luakan tanpa berfikir dua kali. 

Anehnya, tidak sedikit yang menjadi korban orang-orang yang tertipu dengan suatu berita dan juga menjadi pengonsumi berita bohong ialah kaum santri, bahkan mereka juga yang ikut andil menyebar luaskan berita tersebut. Mereka menjadi lebih mudah percaya pada berita yang menurut mereka berita tersebut harus disebarkan agar teman-temannya juga menyetahui. Seharusnya sebagai kaum yang berilmu dan mengetahui dosa bagi orang yang membuat suatu kabar bohong atau menyebarkan kabar atau berita bohong, seharusnya lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi bacaan, berita dan semacamnya, termasuk juga harus lebih berhati-hati dalam menyebarluaskan berita tersebut.

Seorang pelajar, khususnya santri seharusnya dalam mensikapi suatu berita mencontoh bagaimana ulamak ahli hadits. Ulamak ahli hadits tidak mudah menerima dan percaya pada orang yang menyampaikan suatu hadits yang sampai padanya sehingga terbukti kebenarannya, mereka sangat hati-hati dalam menerima hadits, bahkan jika orang yang menyampaikan hadits itu pernah berbohong satu kali saja maka berita yang dibawanya termasuk hadits yang disampaikannya oleh ahli hadits kurang dipercaya dan itu menjadi kelemahan bagi hadits. karena sifat dan sikap orang yang membaca berita atau hadits, maka berpengaruh pada kualitas dan kebanaran beritanya tersebut.

Santri seharusnya juga bersikap demikian, bersikap layaknya cara ahli hadits dalam menerima hadits dari seseorang. Tidak akan percaya pada berita apapun dan ulamak siapapun yang menyampaikannya sampai terbukti kebenarannya. Dengan demikian santri sudah ikut andil dalam menepis berita bohong dan juga ikut andil dalam mengurangi skala besar tersebarnya berita bohong tersebut.

Hal-hal yang seperti ini menjadi harus lebih dihindari dan berhati-hati bagi santri dalam menerima suatu berita untuk dibacanya, apalagi sampai disebar luaskan. 

Berita bohong atau hoax biasanya dibuat dan disebar luaskan oleh akun atau situs-situs yang kurang kredibel dan tidak bertanggung jawab, dengan demikian diantara cara selain cara di atas untuk menghindari berita bohong atau hoax, maka bisa dengan cara berikut:

Pertama: Pembaca harus mencermati alamat situsnya terlebih dahulu, jika yang menyebarkan tersebut adalah situs-situs yang tidak bertanggung jawab dan validitas serta kredibilitasannya kurang, maka lebih baik hindari dan menghapus berita yang sampai pada dirinya baik di Wa, facebook, instagram dan media sosial lainnya. 

Kedua: Pembaca lebih-berhati-hati dengan bacaan yang sifatnya memprovokasi atau menyudutkan suatu kelompok, ormas atau menjelekkan individu orang lain. Media sosial menjadi senjata tajam dan cepat untuk menyebarakan berita bohong bagi orang lain, mengingat betapa banyaknya orang yang mudah menshare sebelum mensaring berita terlebih dahulu, seakan menjadi menyesal jika tidak ikut membagikan. padahal dengan ikut membagikan berita bohong itu dia sendiri juga termasuk orang yang menyebarkan berita bohong tanpa dia sadari, dan menyebarkan berita bohong itu doa besar.

Ketiga: Periksa fatka, yakni dengan memeriksa fakta yang aktual terkait suatu berita yang dibacanya. maka pembaca harus memperhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti Polri atau KPK? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat.

Keempat: Pembaca harus melihat siapa orang yang menyampaikan beritanya, karena kualitas berita yang dibawanya akan mempengaruhi pada kualitas berita yang dibawa itu sendiri. Baik dari segi kebenarannya serta yang lainnya.

Berita bohong atau hoax sangat berpotensi memecah belah antar saudara, kelompok atau ormas dan bahkan bisa mengakibatkan pertumbahan darah. Dengan demikian marilah kita bersama-sama menjauhkan diri dari golongan yang suka membuat dan menyebarkan berita bohong atau hoax, sehingga dengan kita tidak ikut andil dalam dua kegiatan tersebut (membuat dan menyebarkan berita bohong), maka sejatinya kita sudah ikut menghentikan menyebarnya berita bohong itu. Minimal mengurangi menyebarnya berita bohong itu pada orang-orang yang kita kenal. Sehingga kehidupan lebih damai dan tentram.


Label: , , , , , ,

Sabtu, 26 Februari 2022

PAI PSIKOLOGI DAN TASAWUF

Label:

Makalah Islam dan Politik

Label: , , ,

Makalah Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran

Label:

Makalah Filsafat Ilmu Pendidikan Islam

Label:

Jumat, 25 Februari 2022

Tiga Sifat Mulia Yang Harus Dimiliki Guru


Guru sebagai pendidik harus memiliki sifat-sifat terpuji agar muridnya juga dapat mengambil pelajaran darinya dengan baik. Di lain sisi dikarenakan guru itu disebutkan ditiru dan digugu sehingga apapun yang nampak dalam sifat dan perilaku guru sangat memungkinkan akan murid ikuti sebagai contoh. dengan demikian guru harus mempunyai sifat terpuji dan berprilaku yang baik.

وقيل: إذا جمع المعلم ثلاثا، تمت النعمة بها على المتعلم : الصبر والتواضع وحسن الخلق

Dikatakan apabila terkumpul pada diri seorang guru tiga sifat mulia, maka menjadi sempurna kenikmatan yang dirasakan oleh seorang murid:

1. Sifat sabar

Dalam mendidik dan menyikapi kekurangan dari murid, demi keberhasilan mereka di masa depan. Maka seyogyanya seorang guru mempunyai sifat sabar, bersikap sabar dlam mendidikan dan menghadapi bermacam-macam tingkah muridnya yang memang berlatar bekalang yang berbeda. itulah tantanga bagi seorang guru. sabar bukan berarti tidak tegas. Bersikap sabar memang tidak mudah, butuh latihan setiap hari. Sabar bukan berarti ada batasnya, menurut penulis sabar tiada batas. Sabar dalam menghadapi dang lingkup apa saja, tingga bagaimana cara kita mengelola cara versabar sendiri.

2. Sifat tawadhu' 

Sifat tawadhu' adalah sikap rendah hati dan tidak menganggap segala kelebihan pada dirinya sebagai hasil usaha pribadi namun murni karunia dari Allah SWT untuk disebarkan manfaatnya kepada yang membutuhkan. Dengan bersikap tawadhu' maka akan membuat pribadinya lebih dihormati oleh orang lain, dan Allah juga menyukai orang-orang yang tawadhu'. Karena dengan sifat ini juga akan memberikan tameng untuk menjauhkan diri dari sifat sombong, kita tahu sifat sombong adalah bagian dari sifat manusia yang Allah tidak sukai. Bahkan dalam kitab hikam dijelaskan sebagai berikut:

مَنْ أثْبَتَ لِنَفْسِهِ تَواضُعاً فَهُوَ المُتَكَبِّرُ حَقّاً. إذْ لَيْسَ التَّواضُعُ إلّا عَنْ رِفْعَهٍ. فَمَتى أثْبَتَّ لِنَفِسَكَ تَواضُعاً فَأنْتَ المُتَكَبِّرُ حَقّاً

Artinya: Barang siapa yang merasa dirinya tawadhu’ (randah hati), berarti dia termasuk prang yang sombong (takabur). Sebab, menganggap diri sebagai orang yang tawadhu’ tidak akan muncul kecuali dari sikap tinggi hati (tinggi hati). Maka, saat engkau menyandangkan keagungan itu pada dirimu, berarti engkau benar-benar orang yang sombong. 

Kemudian dalam kitab hikam juga disinggung sebagai berikut:

لَيْسَ المُتَواضِعُ الَّذي إذا تَواضَعَ رَأى أنَّهُ فَوْقَ ما صَنَعَ. وَلكِنَّ المُتَواضِعَ الَّذي إذا تَواضَعَ رَأى أنَّهُ دُونَ ما صَنَعَ

Orang yang tawadhu’ (Mutawadhi’) itu bukanlah seseorang yang tawadhu’ dan merasa dirinya lebih dari apa yang dia perbuat. Akan tetapi, orang tawadhu’ itu ialah orang yang meski dia tawadhu’ tapi merasa dirinya kurang dengan apa yang telah ia perbuatnya.

Jadi orang yang tawadhu' ciri-cirinya cukup mudah. Selain dia memang dikenal dengan sifat kerendahan hatinya. dia sendiri tidak juga dengan pujian yang akan membuatnya merasa lebih. diapun juga merasa bahwa yanh orang lain puji-pujikan padanya atas sifat, sikap dan prilakunya tersebut justru membuatnya merasa lebih rendah dari apa yang mereka sanjungkan. Maka Guru harus memiliki sifat tawadhu' tersebut.

التَّواضُعُ الحَقيقيُّ هُوَ ما كانَ ناشِئاً عَنْ شُهودِ عَظَمَتِهِ وَتَجَلّي صِفَتِهِ

Jadi sikap tawadhu’ (Rendah hati) yang sejati itu timbul dari menyadari akan keagungan Allah dan sifat-sifat-Nya yang begitu nyata, bukan justru sebaliknya. 

لا يُخْرِجُكَ عَنِ الوَصْفِ إلا شُهودُ الوَصْفِ
Tidak ada yang bisa melepaskanmu dari sifat burukmu, kecuali jika kamu menyadari terhadap sifat agung yang ada di sisi Allah.

Memang manusia itu tidak bisa terlepas dari sifat-sifat buruk, karena memang sifat-sifat itu sudah manusiawi. Godaan syaithan tetap akan selalu menghampiri setiap manusia, hal ini sebagaimana keterangan berikut:

جَعلَهُ لَكَ عَدّواً لِيَحُوشَكَ بِهِ إلَيْهِ، وَحَرَّكَ عَلَيْكَ النَّفْسَ لِيَدومَ إقْبالُكَ عَلَيْهِ

Allah sengaja menjadikan syaitan sebagai musuhmu, karena Allah ingin menuntunmu menuju kepada-Nya. Dan Allah menggerakkan hawa nafsumu, agar engkau senantiasa menghadap-Nya

Jadi sekalipun mungkin kita telah dianggap tawadhu' oleh orang di sekeliling kita, maka sebisa mungkin kita harus merasa lebih hina dari anggapan tersebut. Karena dengan kita juga mengakui hal tersebut, maka hal itu juga yang akan mencelakai kita sehingga membuat kita terjerumus pada sifat sombong juga.

3. Akhlak yang terpuji

Sebagai orang Islam, apalagi menjadi guru, sudah seharusnya menjaga sifat, sikap dan etika. Kagala hal yang timbul dari guru akan menjadi contoh dan konsumsi murid serta masyarakat luas. Akhlak terpuji bisa dicontohkan dengan bersikap baik kepada orang-orang yang mencintainya ataupun  kepada orang yang membencinya sekalipun, sebagai bentuk teladan sikap bagi anak didiknya untuk dapat diikuti. Jika kita lebih mendalami lagi, maka akhlak terbagi menjadi tiga bagian, yaitu akhlak syariah, universal dan etika lokal. 

Pertama, akhak syariah:  adalah bagaimana cara kita bersikap dan taat pada perintah dan larangan Allah. Dalam ranah taat menjalani kewajiban setidaknya menjalankan kewajiban sehari-hari dalam bentuk penghambaan, yaitu dengan sholat tepat waktu, puasa, zakat dan jika mampu berpuasa. Belajar tentang ilmu yang berhubungan dengan kewajiban kita sebagai orang muslim sehari-hari. Tentang wudhu', sholat, puasa, zakat dan ibadah lainnya serta ilmu yang lain pula. Karena memang manusia diwajibkan untuk belajar baik itu laki-laki ataupun perempuan, semuanya mendapatkan porsi yang sama.

Jadi Akhlak syariah itu mudahnya adalah dengan beprilaku yang harus sesuai dengan syariah Islam. Sebagai murid harus memiliki komitmen untuk selalu taat menjalankan perintah agama yang wajib dan menjauhi segala bentuk larangan yang haram. Setiadaknya seorang murid harus menjalankan secara ketat rukun Islam yang 5 (lima) yaitu syahadat, shalat 5 waktu setiap hari, puasa Ramadan sebulan penuh setiap tahun, membayar zakat mal dan fitrah, ibadah haji sekali seumur hidup apabila mampu.


Baca Juga : Bersosial dengan cinta


Kedua, akhlak universal: adalah sikap kita ditengah-tengah masyarakat luas, bergaul dengan orang banyak. Sehingga kalaupun kita santri tidak selalunya berpakaian dengan memakai sarung, baju koko dan berkopyah. Kita harus bisa menyesuaikan diri ditempat kita berada dengan melihat bagaimana nilai-nilai yang di situ dianggap baik. jika dengan berkopyah dan bersarung selalu kemudian dianggap kurang baik, sekalipun kita santri tetap harus menyesuaikan diri dengan hal itu asalkan tetap tidak membuka aurat dan ketentuan lainnya dalam Islam.

Akhlak universal atau bisa disebut dengan nilai-nilai kebaikan universal adalah perilaku atau sikap dan nilai-nilai kehidupan yang baik atau buruknya diakui oleh seluruh umat manusia tanpa melihat latar belakang agama, budaya, suku, atau bangsa.

Akhlak universal etika adalah akhlak Islam yang dalam Al-Quran disebutkan dan menjadi perilaku Rasulullah SWA. Akan tetapi sebagian dari nilai atau akhlak universal ini secara syariah mempunyai hukum yang berbeda-beda. Adakalanya menjadi wajib, sunnah, atau bahkan menjadi haram dan makruh saja. dengan demikian tidak semua etika dan nilai universal menjadi komitmen bersama seluruh umat Islam.

Dengan perbedaan hukum di atas, berikut beberapa etika atau akhlak universal yang baik: Jujur, pekerja keras, dermawan, sederhana, suka menolong, disiplin, toleran dan juga peduli sesama. 

Ketiga, akhlak lokal: adalah sikap kita dilingkungan kita sendiri. Bagaimana cara kita menjaga dan menghormati tradisi yang ada, budaya lokal yang sudah tumbuh dan juga diakui. Karena memang tradisi dan budaya lokal diakui, dibiarkan tumbuh, dan dihormati oleh umat Islam selagi hal itu tidak bertentangan dengan prinsip pokok dalam syariah Islam. Jika bertentangan tapi tradisi itu cukup kuat mengakar dalam masyarakat, maka akan diusahakan untuk dimodifikasi sehingga lebih menjadi islami seperti yang dilakukan oleh Wali Songo terhdapat tradisi tahlil, wayang dan lainnya.

Bagian dari cara menghormati kearifan lokal ialah dengan menghormati perbedaan cara berpakaian yang harus ditoleransi selagi tidak bertentangan dengan syariah. Sebagai umal Islam yang baik seharusnya memang tidak terlalu mudah mengkritik terhadap perbedaan yang masih ada pada koridor dan jalan yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bagaimana mungkin mudah mengkritik dan menyalahkan, sedangkan dalam Islam sendiri ada banyak perbedaan, dan perbedaan itu menjadi rahmat bukan justru menjadikan pertengkaran dan saling menyalahkan sehingga menjadikan Islam agama yang garang. dan sikap yang demikian justru akan sulit membuat orang non muslim simpatik pada agama kita, yakni Islam. Dengan inilah kita diharuskan bersikap baik dan menghormati perbedaan.

Umat Islam sudah seharusnya bersikap tawassut, adil, tawazun, dan tasamuh. bersikap moderat, dan mudah memaafkan. Sebagai mahkluk sosial harus bisa menjaga kerukunan, ketenangan, ketentraman dan bersama serta saling menolong. sehingga Islam akan lebih dikelan sebagai agama yang membawa kedamaian, tenang, tentram dan menghormati sesama. Kita boleh saja berbeda pendapat dan pendapatan. Tapi kita tidak boleh bertengkar dan menyebabkan pertengkaran.

Referensi:

Kitab Ihya' Ulumiddin, Karya Imam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali. Jilid I. Cetakan Al-Maktabah At-Taufiqiyah, Halaman 120. 

Kitab Al-Hikam, Karya Ibn Atha'illah al-Sakandari, Hikmah ke 237-249

-------------------------------------------

By. Muhammad Zaironi. Santri Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang

Label: , , ,