Kamis, 09 Februari 2023

Faham yang salah, salah yang kaprah

Faham salah


Akhi-akhir ini banyak orang yang salah kaprah dan salah faham dalam memahami makna hidup dan pedoman hidup, sesuka mereka dan semau mereka ayat dan hadits ditafsiri. Sehingga semboyan mereka tetap tidak ubahnya, ini bid'ah, mari kembali ke jalan Allah, mari hijrah, jihad di jalan Allah, dan yang begitu itu sesat dan kafir. serasa tidak ada lagi kata dan bahasa lainnya yang lebih higinis

Diantara penyebab menjamurnya faham takfiri pada pribadi seseorang dikarenakan mereka menutup pintu-pintu rahmat dan taufik pada sisi yang selain dia fahami. Apa yang mereka ketahui maka itulah kebenaran tunggal baginya. Sehingga dengan sebab itu mereka mudah menyalahkan dan kalaupun berdiskusi dengan yang lawan pemahaman pasti mereka bersikap ad-hominem ataupun dengan bahasa “pokok e dan semacamnya”.

Panggung-panggung dakwah banyak dikuasai orang-orang yang sepemahaman dengan mereka, kursi-kursi mauidzhoh hasanah banyak diduduki oleh kelompok mereka. Brand mereka adalah Kembali ke jalan Allah, mari hijrah ke jalan yang luruh, bahasa-bahasa yang dipasarkan adalah bahasa yang menyentuh perasaan kaum pemuda, entah tentang cinta, kehidupan keluarga, dan semacamnya. Sehingga bagi yang galau bahasa mereka akan mudah diterima dan kemudian hari apapun yang disampaikan oleh ustadz itu akan tetap diterimanya mentah-mentah sekalipun itu mungkin salah.

Jihad, hijrah, kembali ke jalan Allah, mari kembali kepada al-qur’an dan sunnah dan seterusnya. Bagi mereka yang pandai tentau akan bertanya “sejak kapan saya lari dari Allah, sejak kapan saya meninggalkan al-Qur’an dan sunnah. Apakah kemudian hijrah hanya dimaknai dengan orang yang awalnya penuh maksiat, buka aurat ketika seketika taubat dan menutup sendi-sendi terhormat itu dimaknai dengan hijrah, apakah itu yang disebut dengan hijrah?

Lantas apakah dengan bunuh diri dengan dalih jihad kemudian dijamin masuk surga? apakah sikap yang demikian dibenarkan dalam islam? apakah yang dimaksud dengan jihad itu membunuh sesama islam? memerangi sesama keyakinan? mengolok-ngolok orang yang syahadatnya sama? kiblatnya sama? sholat duhurnya sama dan seterusnya? apakah itu yang disebut dengan jihad? oh, tentu tidak, terlalu hina makna jihad jika ditafsiri sedemikian rupa.

Kesalahan memaknai jihad, hijrah, kembali ke jalan Allah tidak lain diantaranya karena mereka terlalu tekstualis memahami ayat al-Qur’an dan hadits Nabi.

Perlu diketahui bahwa memperdebatkan suatu hukum yang sudah ijma' itu menyalahi aturan, tapi mencerca orang yang beda pandangan terkait hukum yang masih ikhtilaf itu bodoh yang tidak ketulungan. Kendatipun demikian sebisa mungkin mengetahui celah-celah perbedaan agar tidak mudah menyalahkan. Imam Al-Ghazali dawuh bahwa setiap ayat Al-Qur'an punya empat lapis makna: literal, esensial, had dan mathla'. Hati-hati, banyak yang bunuh diri berdalih jihad karena salah memahami ayat Al-Qur'an secara tekstual, lebih-lebih hanya modal terjemahan. Jangan-jangan mereka juga tidak tau apa itu mad thobii dan mas ashli.

Namun demikian kita tetap apresiasi pada mereka yang bertaubat dan menutup rapat-rapat sendi-sendi aurat, menjaga pergaulan dan tetap sopan dalam kata, bahasa, dan sikap.


Label: , , ,

Rabu, 21 Desember 2022

Titik-titik cahaya

 

Bunga


Secercah cahaya terjawabkan, tanya demi tanya yang tersusun rapi dan bertumpuk akhirnya menemui muara jawaban yang ditunggu. Secercah cahaya itu memberikan penerangan atas kegelapan selama satu bulan ini, mendung yang tak kunjung usai, hujan yang tak kunjung reda dan panas yang menghasilkan bayang-bayang. Butuh kesabaran untuk menemukan hasil dan jawabannya.

Tepat pekan ketika di bulan desember, akhirnya secercah cahaya bulan itu mengulurkan titik-titik cahayanya. Betapa bahagianya ranting daun itu mendapatkan cahaya tersebut, berhari-hari ia menunggunya melambai dengan penuh lesu, mendayu-dayu dengan gaya sederhananya melambai. apalah aku kata dauh, aku hanyalah selembar daun yang hina, diterpa anginpun mungkin sudah terbang dan dibuat bola tentang oleh ganasnya angin. aku memang hina, serba sederhana, kurang menarik, fisik serba pas pasan, apalah intimewanya daku ini.

tatkala daun itu mendapatlan titik-titik terang, ia sampaikan segenap apa yang mengganjal dalam hatinya, banyak hal yang membuatnya tersesak, sering kali nafasnya tersendat. Daun dengan santunnya berkata:

Aku tumpahkan semua keluh kesahku yang kutahan satu bulan ini, aku tidak pernah benar-benar bisa marah padamu atas apa yang telah kamu perbuat. Anehnya, ulu hati terus terenyuh tatkala membaca sikapmu dan narasi pesan yang kau kirimkan. kamu tidak pernah muncul selama ini, tapi aku juga yang harus tersiksa.

Daun berjanji,

Bagaimanapun kamu, aku tetap menatapmu. Kapanpun kamu, aku tetap menunggumu. Dimanapun kamu aku tetap akan mencarimu. Dan kapanpun itu, tetap aku tunggu. Sekalipun kamu tidak menatapku, tetap aku tatap dirimu. Sebagaimana aku menatap jemariku tatkala menengadah menghaturkan harap-demi harap dan pintaku pada sang maha kuasa, setiap waktu.

Aku bukan tipikal orang yang mudah menyerah, aku hanya butuh waktu menenangkan hati yang rapuh, mendinginkan kepala yang kian tumpang tindih dengan pertanyaan-pertnyaan tentangmu. Selama ini.

Kamu harus tau bahwa Ingatanku selalu basah dari namamu, hatiku selalu menarik erat cintamu. Aku cukup berdosa atas jeda-jeda temu, aku pantas dihukum seumur hidup olehmu, hidup bahagia bersamamu.

Aku sangat percaya bahwa ada cinta yang tumbuh tanpa alasan. Tapi aku juga sangat tidak percaya dengan tidak bisa mencintai tanpa alasan. Ibarat jagung tidak akan tumbuh tanpa ditanam, artinya tatkala jangung bertemu tanah, disitulah keduanya saling memupuk, saling mendukung, saling mengerti dan saling mengisi.

Sudahlah, kita hanya butuh berdiam untuk tidak saling sapa dahulu, menata jeda-jeda sapa dan menyusun jeda-jeda temu. Mungkin memang aku yang salah, kurng bisa mengerti tentang wanita, khususnya tentangmu. Mungkin memang aku yang salah, yang biasa saja tanpa bisa romantic seperti keinginanmu. Mungkin memang aku yang salah, serba biasa saja tidak seperti yang diharapkanmu. Tapi, andai kita hanya mau mencintai orang yang sesuai dengan keinginan kita, maka tentu mustahil kita akan menemukan orang yang benar-benar sesuai, se-spesifik, dan sebenar-benarnya seperti yang kamu harapkan. Karena di dunia ini yang ada hanyalah dicocokkan, saling dikenalkan, saling mengisi, saling mengerti, saling mengalah, dan saling mengistimewakan. yang tidak kalah penting adalah saling sabar, saling mensyukur dan terus bersyukur untuk bisa terus mencintai dan terus berusaha lebih mencintai.

Terimakasih Desember, tiga pekanmu membuatku rapuh tak berdaya atas cinta dan rinduku.

Tak apa aku hina dengan rasa ini, akan aku rawat dan aku istimewakan rasa ini kemudian hari, entah esok, lusa dan kapanpun itu. kita hanya butuh kesabaran untuk bertemu dengan waktu yang kita tunggu. Jangan terus lupakan doa-doa setelah shalat, sebagaimana tidak pernah lupanya kamu pada diayang selalu diingat.

Ini bukan tentang daun, mbuh tentang opo. 

 

Label: , , ,

Selasa, 20 September 2022

Tiga Amalan Rebo Wekasan

 


AMALAN REBO WEKASAN

Bulan Shoffar adalah bulan yang mulia, bulan yang sama dengan bulan-bulan yang lainnya. Bukan bulan bala’ ataupun bulan yang penuh dengan musibah dan bencana. 

Namun demikian menurut sebagian ulama ahli ma'rifat dari golongan ahli mukasyafah dalam kitab “ Kanzun Najah Wassurur ”, karya Syaikh Abdul Hamid Al Qudsy, menerangkan bahwa: Setiap tahun Allah Swt menurunkan bala’ ke dunia sebanyak 320.000 macam bala’ (berupa fitnah, musibah dan bencana), dalam satu tahun. Tepatnya bala’ itu turun pada malam Rabu terakhir di bulan Shoffar atau yang terkenal dengan sebutan “ Malam Rebo Wekasan ”, dalam satu tahun ke depan.

Terdapat tiga amalan pada Rabu Terakhir di Bulan Shoffar ini (Rebo Wekasan) sebagaimana keterangan ini: 

1. , Pertama ialah melaksanakan Sholat Sunnah Hajat, harapannya adalah untuk menolak 320.000 macam musibah dan bencana (Sholat Sunnah Hajjat Lidaf’il Bala’).  Sholat sunnah ini dilaksanakan sejumlah empat roka’at, dengan dua kali salam, berikut niatnya: 

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ لِدَفْعِ الْبَلَاءِ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

Kemudian setelah membaca Al-Fatihah, lalu membaca Surat Al-Kautsar sebanyak 17x, Surat Al-Ikhlash 5x, Surat Al-Falaq 1x dan Surat An-Naas 1x. 

Hal ini dilakukan pada tiap roka'at. Artinya tiap rokaat musholli (orang yang sholat) membaca semua surat tersebut.

Setelah selesai sholat empat rokaat dengan dua kali salam, kemudian dilanjutkan membaca Do’a berikut ini : 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اللّٰهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنَا مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللّٰهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ اِكْفِنَا شَرَّ هٰذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيْ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ هٰذَا الزَّمَانِ وَأَهْلِهِ، وَنَعُوْذُ بِجَلَالِكَ وَجَلَالِ وَجْهِكَ وَكَمَالِ جَلَالِ قُدْسِكَ أَنْ تُجِيْرَنَا وَوَالِدِيْنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَهْلَنَا وَأَحْبَابَنَا، وَمَا تُحِيْطُهُ شَفَقَةُ قُلُوْبِنَا مِنْ شَرِّ هٰذِهِ السَّنَةِ، وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ فِيْهَا، وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ شَهْرِ صَفَرَ يَا كَرِيْمَ النَّظَرِ، وَاخْتِمْ لَنَا فِيْ هٰذَا الشَّهْرِ وَالدَّهْرِ بِالسَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ وَالسَّعَادَةِ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَأَوْلَادِنَا وَأَهْلِنَا وَمَا تُحِيْطُهُ شَفَقَةُ قُلُوْبِنَا وَجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ، النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ، اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هٰذَا الشَّهْرِ، وَمِنْ كُلِّ شِدَّةٍ وَبَلَاءٍ وَبَلِيَّةٍ قَدَّرْتَهَا فِيْهِ يَا دَهْرُ، يَا مَالِكَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، يَا عَالِمًا بِمَا كَانَ وَمَا يَكُوْنُ، وَمَنْ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ، يَا أَزَلِيُّ يَا أَبَدِيُّ، يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيْدُ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا ذَا الْعَرْشِ الْمَجِيْدِ، أَنْتَ تَفْعَلُ مَا تُرِيْدُ، اللهم احْرُسْ بِعَيْنِكَ أَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَدِيْنَنَا وَدُنْيَانَا الَّتِيْ ابْتَلَيْتَنَا بِصُحْبَتِهَا بِحُرْمَةِ الْأَبْرَارِ وَالْأَخْيَارِ، بِرَحْمَتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ، يَا كَرِيْمُ يَا سَتَّارُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى، وَبِكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ، وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَحْفَظَنَا وَأَنْ تُعَافِيَنَا مِنْ بَلَائِكَ، يَا دَافِعَ الْبَلَايَا، يَا مُفَرِّجَ الْهَمِّ وَيَا كَاشِفَ الْغَمِّ، اِكْشِفْ عَنَّا مَا كُتِبَ عَلَيْنَا فِيْ هٰذِهِ السَّنَةِ مِنْ هَمٍّ أَوْ غَمٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا.


2. Amala yang kedua adalah membaca Surat Yasin sebanyak 3x, setiap sampai pada ayat “Salamun Qoulan Min Robbil Rohim ”, maka ayat tersebut dibaca sebanyak 313 x, lalu dilanjutkan ayat setelahnya sampai selesai. setelah itu dilanjutkan membaca Do'a berikut:

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَاْلآفَاتِ وَتَقْضِـيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَـى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِيْ الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اللهم اصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الْأَرْضِ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

3. Meminum Air Salamun

Adapun Air Salamun disini adalah air yang dimasuki ayat salamah untuk diminum dengan harapan agar terhindar dari bala’ yang akan turun dalam masa setahun, harapan di sini tetap ditujukan kepada Allah. Ayat-ayat tersebut ditiupkan ke air dalam gelas / botol dan diminum dengan niat TABARRUK (mengharapkan keberkahan) dan hati tetap meminta kepada Allah Swt.

Disebutkan dalam kitab Nihayatuz Zain karya Syaikh Nawawi Al Jawi Al Bantani, pada catatan kaki bab Qunut Nazilah hal 67.  yang kitab ini merupakan syarah atau penjelasan dari kitab matan Fiqih Qurrotul ‘Ain cetakan Alawiyah Semarang, bahwa barang siapa yang menulis ayat salamah tujuh yaitu tujuh ayat Al Qur’an yang diawali dengan lafadz Salaamun :

سَلاَمٌ قَوْلاً مِنْ رَبٍّ رَحِيْمٍ، سَلاَمٌ عَلَى نُوْحٍ فِي الْعَالَمِيْنَ، سَلاَمٌ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، سَلاَمٌ عَلَى مُوْسَى وَهَارُوْنَ، سَلاَمٌ عَلَى إِلْيَاسِيْنَ، سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خَالِدِيْنَ، سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Kemudian tulisan tersebut dilebur atau bisa direndam dengan air, maka barang siapa yang meminum air tersebut Allah Swt akan selamatkan dari bala’ yang akan diturunkan.

Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah dan selalu diselamatkan dari segala mara bahaya, bala', fitnah dan segala keburukan oleh Allah SWT. Aamiin...


Label: , , , , ,

Sabtu, 20 Agustus 2022

Pendosa

 


Di dunia ini, tidak satupun yang menginginkan hidupnya celaka, kesulitan dan jauh dari Tuhannya. Karena itulah kemudian banyak pendosa mulai yang dari dosanya kecil hingga pendosa yang kelas kakap yang bertaubat dan menjadi orang yang sangat dekat dengan Tuhannya, ia menyesali betul dosa-dosa yang telah diperbuat dan sekian lama ia lupa pada Tuhan yang selama ini telah memberinya nikmat sehat dan rezeki yang banyak. Ya Allah, jadikanlah aku seperti mereka yang gemar bertaubat, bertasbih, bertahmid, istigfar, bersholawat dan giat belajar serta bekerja untuk mendapatkan ridhoMU.

Ya Allah, aku tau betapa tidak terhingganya pemberianMu berupa nikmat hidup yang sehat ini, betapa banyak rezeki yang telah engkau beri, sedangkan dosa-dosaku kian bertambah tiada henti, kata-kataku jauh dari kalimat-kalimat indah yang tersusun rapi dalam mushaf utsmani, lidahku kering dari untaian tasbih, tahmid, dan tahlil, lisanku kurang akrab dengan istihfar dan sholawat yang sangat agung manfaat dan pahalanya.

Ya Allah, aku sadar bahwa engkau tau persis pada tiap detik dari semua langkah-langkahku, baik langkah kaki ataupun langkah fikiran dan hati. Engkau tidak pernah abai pada hambaMu yang satu ini, betapa banyaknya dosa yang aku perbuat, namun engkau tetap memberiku nikmat untuk melihat, dan berucap. betapa banyak salah yang aku lakukan, tapi engkau tetap memberiku nikmat mendengar dan melangkah. 

Ya Allah, aku mohon jangan engkau tunjukkan aibku kepada makhluk yang lainnya, jangan engkau tunjukkan keburukan-keburukanku itu pada mereka. Aku sangat ingin sama dengan kekasih-kekasihMu yang sangat engkau cintai dan engkau ridhoi. Karena itulah, berilah aku kesadaran penuh, berilah aku kekuatan yang berkelanjutan untuk tetap istiqomah dalam ketaatan, agar aku senantiasa bisa bersamaMu dalam setiap waktu, entah dengan membaca kalam muliaMu, bersholawat kepada kekasihMu, bekerja untuk mencari ridhoMu, belajar untuk mengharap kasih sayang dan ridhoMu, mengajar untuk menyalurkan sedebu ilmu yang engkau beri kepadamu untuk aku sampaikan kepada makhluk yang lainnya.

Ya Allah, aku ini pendosa, banyak salah dan kurang taat. Karena itulah, dekatkan aku dengan orang-orang baik dalam agamanya, dengan orang-orang yang selalu taat padamu dalam keadaan apapun mereka, selalu bertasbih setiap saatnya, senantiasa bertahmid dalam keadaan apapun mereka, selalu bersyukur dan bertaubat dalam hari-hari mereka.

Ya Allah, aku ini hamba yang tidak tau malu, tidak tau malu pada sesama, terlebih padaMu yang selalu memberi tanpa diminta. tidak tau malu dengan kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, kedua orang tuaku, guru-guruku, dan seluruh umat muslim yang mengimanimu. Ya Allah, kelak, satukan aku dengan kekasihMu di surgaMu, berilah aku kesempatan untuk dapat bertemu dengan kekasihMu yang mulia, Nabi Muhammad SAW yang mulia dan menjadi tauladan bagi seluruh umat. pertemukan denganya aku entah dalam keadaan sadar ataupun tidur. Sekiranya engkau sudi dan rido, maka satukanlah aku, kedua orang tuaku, keluargaku dan guru-guruku dengan Nabi Muhammad di surgaMu.  

Ya Allah, berilah kedua orang tuaku kesehatan jasmani dan rohani, jauhkanlah mereka berdua dari bahaya dan rasa sakit, sehatkanlah mereka berdua, dan berilah keistiqomahan pada mereka berdua untuk selalu taat padaMu, beribadah kepadaMu sehingga engkau ridho pada kedua orang tuaku yang kemudian kelak engkau masukkan bapak ibuku kedalam surgaMu.

Ya Allah, terimalah taubatku dan kabulkanlah doa-doaku. Aamiin...

Label: , , , , ,

Tiga Kewajiban Orang Tua Kepada Anaknya

keluarga sakinah


Dalam Islam, terdapat tiga kewajiban bagi orang tua terhadap anak. Tiga kewajiban orang tua untuk anaknya tersebut ialah, pertama, memberikan nama yang baik dan bagus, kedua, memberikan pendidikan yang baik, dan ketiga ialah menikahkannya.

1. Pertama, kewajiban orang tua kepada anaknya ialah memberikan nama anaknya dengan nama sebaik mungkin. Nama menjadi panggilan untuk anak tersebut sehingga jia nama anaknya kurang baik maka akan berdampak kepada orang tuanya juga, karena tidak sedikit orang tuanya kemudian dipanggil dengan nama anak pertamanya dan nama untuk anaknya tidak harus berbahasa arab. 

Pemberian nama kepada anak bukan sekedar untuk nama saja, namun sebisa mungki memperhatikan maknanya dan juga diniatkan untuk tabarrukan kepada arti dari nama tersebut. Seperti contoh nama anak dengan nama Zakiya Fikrotus Su'ada, maka dengan nama itupula diharapkan anak tersebut bisa merepresentasikan dari makna namanya sendiri. yakni, orang yang suci fikirannya dan bahagia. Jadi, hendaknya orang tua jangan asal memberikan nama kepada anaknya tanpa memperhatikan makna dan kebaikan seterusnya untuk anak tersebut. Karena dengan nama itulah anak itu akan dipanggil dan dinisbatkan kepada keluarganya.

Anjuran kepada orang tua agar memberikan nama yang baik tersebut bisa di cek di kitab Al-Adzkarun Nawawi hadits riwayat Abi Darda’. Bunyi haditsnya ialah sebagai berikut:

عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال : قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : " إنكم تدعون يوم القيامة بأسمائكم وأسماء آبائكم فأحسنوا أسماءكم ".

Artinya, “Dari Abu Darda Ra berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh kalian semua akan dipanggil pada hari Kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian. Maka dari itu, perbaguslah nama-nama kalian,’ (Lihat Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkarun Nawawi". Beirut: Dar Kutub: 2004, halaman 411).

Di antara maksud dan tujuan kenapa orang tua dianjurkan agar memberikan nama yang baik kepada anaknya, ialah karena ada beberpa nama yang makruh jika dibuat nama, dan nama ini tidak disukai oleh Nabi Muhammad SAW. Seperti contoh nama Untung (Rabaḥ), Sukses (Najah), menang (Aflaḥ), Kaya (Yasar), dan raja diraja (Malikul Amlak). 

Berikut hadits yang menerangkan hal di atas:

عن سمرة بن جندب رضي الله عنه قال : قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : " لا تسمين غلامك يسارا ، ولا رباحا ، ولا نجاحا ، ولا أفلح 

Artinya, “Dari Samurah bin Jundab RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Jangan kalian memberi nama anak kalian dengan nama Yasar, Rabah, Najah, dan Aflah,’” (Lihat Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkarun Nawawi, Beirut, Dar Kutub: 2004, halaman 412). 

Namun demikian, bukan berarti nama-nama tersebut tidak boleh digunakan. hanya saja nama di atas tidak dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk digunakan sebagai nama dan jika digunakan juga tidak berdosa. Karena itulah, orang tua memberikan nama anaknya dengan bahasa apa saja diperbolehkan dengan ketentuan nama yang digunakan bermakna baik dan diusahakan tidak dengan nama-nama yang ada pada hadits di atas. 

Dalam keterangan yang lain Nabi Muhammad SAW justru menganjurkan agar orang tua dalam memberikan nama kepada anaknya ialah menggunakan nama yang disukai oleh Allah SWT, yaitu seperti nama Abdullah, Abdurrahman, nama-nama para nabi. Keterangan ini terdapat dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud dari sahabat Abu Wahb Al-Jusyami sebagai berikut:

 عن أبي وهب الجشمي الصحابي رضي الله عنه قال : قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : " تسموا بأسماء الأنبياء ، وأحب الأسماء إلى الله تعالى : عبد الله وعبد الرحمن ، وأصدقها : حارث وهمام ، وأقبحها : حرب ومرة 

Artinya, “Dari Abi Wahb Al-Jusyami RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Berilah nama (kepada anak-anakmu) dengan nama-nama para nabi, dan nama-nama yang paling disukai oleh Allah SWT adalah Abdullah dan Abdurrahman. Sedangkan yang pertengahannya adalah Haris dan Hammam. Adapun nama yang paling jelek adalah Harb dan Murrah,” (Lihat Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz IV, halaman 474). 

Kemudian, dalam tradisi yang berlaku di khalayak masyarakat, ketika terdapat bayi yang baru lahir maka biasanya bayi tersebut akan diberi nama pada hari ke tujuh ada juga pada hari ke empat puluh dari kelahirannya, hal semacam ini biasa disebut dengan istilah tradisi molang are. 

Pada hari ke empat puluh dari kelahiran bayi tersebut biasanya sekaligus dengan dilakukan penyembelihan dua ekor kambing bagi anak laki-laki dan satu kambing bagi anak perempuan. Acara yang sudah mendarah daging di masyarakat ini biasanya tidak hanya diisi dengan makan-makan saja, namun diisi dengan pembacaan khatmil qur’an, kadang hanya baca Yasin saja dan biasanya akan ditutup dengan pembacaan shalawatan bersama, seperti maulid diba'. 

Berikut haditsyang menerangkan tentang perintah untuk memberikan nama kepada anaknya yang baru lahir

أن النبي صل الله عليه و سلم أمر بتسمية المولود يوم سابعه، و وضع الاذى عنه، و العقّ. 

Artinya: "Bahwa sesungguhnya Nabi memerintahkan untuk memberikan nama pada hari ketujuh, menghilangkan kesengsaraan dari padanya dan aqiqah". (Muhyiddin Dhib, Lawami’ al-Anwar; Syarh Kitab al-Adzkar, Bairut, Dar Ibn Kathir, 2014, juz 2, halaman: 143)

Namun demikian, hadits di atas tidak memutlakkan harus memberi nama anak pada hari ke tujuh pada hari kelahiran. Sehingga andai saja ada orang tua yang memberikan nama pada hari pertama kelahiran, maka tidak apa-apa

2. Kedua, memberikan pendidikan yang baik. Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang baik, hal ini untuk kebaikan masa depannya, kebaikan dalam melaksanakan eksistensi sebagai umat beragama Islam dan sebagai makhluk sosial yang membutuhkan banyak ilmu untuk menjalani kehidupannya dengan baik.

Dalam Islam setiap manusia muslim laki-laki dan perempuan diwajibkan untuk belajar, bahkan sejk dari buaian hingga ke liang lahat. Hal ini mempertegas betapa pentingnya sebuah pengetahuan dan pendidikan. Dengan pendidikan yang baik tentu akan membuat hidup manusia itu berjalan dengan baik, mengerti cara bersosial dengan baik, dan mengerti cara melaksanakan kewajiban sebagai orang islam dengan benar. 

Nabi Muhammad SAW bersabda sebagai berikut:

اطلبوا العلم ولو بالصين

Artinya, “Tuntutlah ilmu, walau ke negeri Cina” (Diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman, No. 1612)

Dalam keterangan yang lain disebutkan sebagai berikut:

اطلب العلم من  المهد إلى اللحد

Artinya : “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat” 

Ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, dalam syair disebutkan sebagai berikut:

  وفضل وعنوان لكلّ المحامد v تعلّم فانّ العلم زين لأهله

من العلم واسبح في بحور الفواءد v وكن مستفيدان كل يوم زيادة

Artinya, “Belajarlah, karena ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, dan keutamaan baginya serta tanda setiap hal yang terpuji. Jadilah kamu orang yang mencari faedah, setiap harinya bertambah ilmu dan berenang di atas lautan faedah.”

Dari keterangan di atas dapat difahami bahwa betapa pentingnya ilmu atau pengetahuan untuk keberlangsungan menjalani hidup di muka bumi, selain banyak yang harus diketahui oleh setiap muslim yang berhubungan dengan kewajibannya sebagai orang Islam, juga pengetahuan dibutuhkan untuk dapat melangsungkan eksistensi hidupnya dengan baik dan mengantarkannya kepada kebahagiaan. 

Imam syafii berkata bahwa orang yang tidak betah dengan pahitnya menuntut ilmu, maka dia akan menanggung pahitnya kebodohannya kelak.

Tatkala orang tua memberikan pendidikan yang baik, maka orang tua tersebut akan mendapatkan aliran pahala. Sebagaimana keterangan hadits dibawah ini:

 عن جابر بن سمرة رضي الله عنه قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم  لأنْ يُؤَدِّبَ الرجلُ وَلَدَه خيرٌ من أن يتصدق بصاع أخرجه الترمذي

Artinya, “Dari sahabat Jabir bin Samurah ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Pengajaran seseorang pada anaknya lebih baik dari (ibadah/pahala) sedekah satu sha,” (HR At-Tirmidzi).

Pendidikan yang diajarkan sejak kecil hendaknya pada hal-hal yang berkaitan dengan akhlak atau adab, sebagaimana sabda Nabi Muhammad berikut:

عن أَيُّوبَ بْنِ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا خَيْرًا لَهُ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ   

Artinya, “Dari Ayyub bin Musa, dari bapaknya, dari kakeknya, Rasulullah saw bersabda, ‘Tiada pemberian orang tua terhadap anaknya yang lebih baik dari adab yang baik," (HR At-Tirmidzi). 

Dalam riwayat lain Rasulullah juga menyampaikan agar para orang tua menanamkan etika dan norma-norma moral kepada anak-anaknya. Sebagaimana penjelasan hadits di bawah ini:

 عن ابن عباس عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أَكْرِمُوْا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوْا آدَابَهُمْ رواه ابن ماجه 

Artinya, “Dari sahabat Abdullah bin Abbas ra, dari Rasulullah saw bersabda, ‘Muliakanlah anak-anakmu, perbaikilah adab mereka," (HR Ibnu Majah)

Madrasah pertama bagi anak-anak adalah keluarga, khususnya ibu yang mengandungnya. Sehingga dengan demikian hendaknya ibu mempunyai pengetahuan yang cukup untuk diajarkan kepada anaknya sejak dini. Seperti ilmu tentang cara makan yang benar, cara membaca yang baik, cara berbicara yang santun dan seterusnya. Lebih-lebih jia orang tua mencontohkannya terlebih dahulu sehingga anak bisa mencontoh secara langsung perbuatan yang baik itu bagaimana. Sebagaimana yang ada dalam pepatah berikut:

 لِسَانُ الْحَالِ أَفْصَحُ مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ 

Artinya: “Contoh perbuatan lebih efektif (lebih berpengaruh) daripada perkataan”

Mengajarkan suatu hal memang akan lebih mudah difahami dan dicontoh langsung tatkala anak itu diberikan contoh oleh orang tuanya, sehingga anak bisa denga mudah mengerti apa maksud dari apa yang di ajarkan oleh orang tua. Terlebih orang tua mendidik anaknya dengan menggunakan metode pembiasaan. 

Kenapa demikian? karena lebih tepatnya, untuk anak-anak hanya butuh pada pembiasaan saja, misalnya jika anak tersebut sejak kecil biasa dibawa kemusholla atau biasa diajak sholat ketika waktunya sholat. Maka kemudian hari pasti anak itu tanpa diminta sudah sadar dengan sendirinya bahwa pada waktu yang sama ia harus mengerjakan sholat, begitu juga dengan hallainnya. karena anak kecil hanya butuh contoh bukan materi yang banyak.

Di antara pendidikan yang pertama harus diberikan ialah pendidikan yang berhubungan dengan kewajibannya sebagai umat Islam, yakni pendidikan tentang bersuci, sholat, zakat, puasa dan haji. Pendidikan tentag tauhid dan akhlak. Setelah itu kemudian baru pendidikan yang lainnya

Dalam hal ini sudah dijelaskan dalam surat Luqman ayat 17 berikut:

 يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ 

Artinya, "Wahai anakku, dirikanlah shalat dan ajaklah manusia berbuat baik dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara penting".

Kemudian dalam hadits juga disampaikan sebagai berikut:

 عن عمرو بن شعيب، عن أبيه، عن جده -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: مُرُوا أولادَكم بالصلاةِ وهم أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، واضْرِبُوهُمْ عليها، وهم أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في المَضَاجِعِ

 Artinya, "Dari Amr Bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: Rasulullah bersabda: “Perintahkan anak-anakmu melaksanakan sholat saat mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka sebab meninggalkan sholat saat mereka berusia 10 tahun dan pisahkan tempat tidur mereka". (H.R Abu Daud)

3. Ketiga, Hal anak pada orang tua yang ketiga ialah dinikahkan. Orang tua punya tanggung jawab untuk menikahkan anaknya tatkala anak tersebut sudah siap, siap secara materi, siap secara pengetahuan dan mental. Karena memang pernikahan bukanlah suatu hal yang biasa saja. Pernikahan ialah suatu perjanjian sakral, perjanjian yang disaksikan banyak malaikan dan manusia. Sehinga tatkala sudah melangsungkan akad nikah jauh-jauhkan fikiran tentang keinginan talak dan semacamnya. 

Dalam Al-Qur'an disebutkan sebagai berikut

وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

Artinya, "Dan mereka (istri-istrimu) telah megambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu." (QS. An-Nisa’: 20-21)

Pernikahan menjadi sarana untuk menjadikan setengah ibadahnya sempurna, dalam sebagian pendapat disampaikan bahwa dengan menikah setegah dari imannya telah sempurna. Yang jelas, sebagai orang tua yang baik, setelah memberikan nama yang baik untuk anaknya, kemudian memberikan pendidikan sebaik mungkin, dan yang terakhir punya tanggung jawab untuk menikahkan anaknya. 

 

REFERENSI/RUJUKAN

Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkarun Nawawi". Beirut: Dar Kutub: 2004, halaman 411 dan 412

Muhyiddin Dhib, Lawami’ al-Anwar; Syarh Kitab al-Adzkar, Bairut, Dar Ibn Kathir, 2014, juz 2, halaman: 143

Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun, juz IV, halaman 474


 

Label: , , , , ,

Kamis, 18 Agustus 2022

Menjaga Harga Diri (Dignity atau self respect)



Harga diri (Dignity atau self respect) itu melekat sepenuhnya pada setiap manusia seumur hidupnya. Mungkin saja kekuasaan atau kesenjangan ekonomi dapat mendegradasi dignity seseorang, tapi sebenarnya sedikitpun self respect itu tidak akan bisa hilang dari pribadinya. Karena ia melekat sepenuhnya hingga penghujung nafas setiap manusia.

Di dalam Islam, terdapat tiga kata yang secara makna saling melengkapi dalam mewujudkan kemuliaan, kehormatan dan menjaga diri. Hal ini disebut dengan izzah (kemuliaan diri), muru’ah (menjaga kehormatan diri), dan iffah (menahan diri). 

Tiga kata di atas saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Kata Izzah juga bermakna kehormatan, keagungan, dan kekuatan. Izzah harus dimiliki dan harus ada dalam hati setiap manusia, Izzah bisa didapatkan dengan cara mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan muru’ah memiliki makna menjaga tingkah laku hingga tetap berada pada keadaan yang paling utama. Menurut Syekh Imam Mawardi dalam Adab ad-dunya waddin, muru’ah memiliki pengertian sebagai berikut:

المروءَة مراعاة الأحوال إلى أن تكون على أفضلها، حتَّى لا يظهر منها قبيحٌ عن قصد، ولا يتوجَّه إليها ذمٌّ باستحقاق  

Artinya, “Muru’ah adalah menjaga tingkah laku hingga tetap berada pada keadaan yang paling utama, supaya tidak melahirkan keburukan secara sengaja dan tidak berhak mendapat cacian.

Jadi, Muru'ah itu tatkala manusia menjaga sikap dan tingkah lakunya agar senantiasa berada dalam keadaan yang baik dan tidak melanggar aturan-aturan dalam islam. Sehingga dengan perbuatan di atas orang itu bisa menjga diri dari perbuatan yang kapan saja bisa membuahkan keburukan.

Sedangkan menurut Mausu’ah Fiqh al-Qulub, muru’ah adalah: “Mengerjakan segenap akhlak baik dan menjauhi segenap akhlak buruk; menerapkan semua hal yang akan menghiasi dan memperindah kepribadian, serta meninggalkan semua yang akan mengotori dan menodainya.”

Adapun makna 'iffah ialah sebuah kemampuan atau sikap manusia dalam menjaga dan menahan diri dari hawa nafsu. Menurut Ibnu Maskawaih dalam kitabnya Tahdzibul Akhlak, 'Iffah adalah suatu kemampuan yang dimiliki manusia untuk menahan diri dari dorongan hawa nafsunya. 'Iffah merupakan sebuah keutamaan yang dimiliki manusia ketika dirinya mampu mengendalikan syahwat dengan akal sehatnya. Dari sifat 'iffah inilah kemudian lahir akhlak yang mulia seperti sabar, qana'ah, jujur, adil, santun, dermawan, dan perilaku terpuji yang lain. 

Sifat 'iffah inilah yang kemudian membuat manusia menjadi mulia (izzah). Sifat Iffah seperti batas pembeda antara prilaku manusia dengan hewan, bagaimana tidak, andaikata manusia sudah tidak lagi memiliki sifat 'iffah, maka dia tidak ada bedanya dengan sifat-sifat hewan. Karena itulah, tatkala seseorang mampu memfungsikan sifat 'iffah-nya, dalam kehidupannya, maka berarti akal sehatnya masih bekerja dengan baik. 

Dengan tiga sifat di atas manusia bisa menjalani kehidupannya dengan penuh arti. Tidak asal bersikap, bertindak dan berbicara ataupun berkomentar. Dengan sifat di atas pula manusia akan bisa menjaga eksistensi sebagai manusia yang sebenarnya melalui ke iffahannya, yakni menjaga dirinya dari dorongan hawa nafsunya. Dan dengan sifat Izzahnya manusia akan terhormat.

Dengan demikian, maka orang yang memiliki harga diri adalah orang yang mampu menampilkan kemuliaan dirinya, yakni 'izzah, menjaga kehormatannya, yakni disebut dengan muru’ah, dan menahan diri dari dorongan hawa nafsu yang disebut dengan 'iffah. Iffah juga bermakna menahan diri dari setiap perbuatan maksiat dan segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT.

Dalam prakteknya, atau pengamalan 'iffah, maka 'iffah terbagi menjadi dua, yakni menjaga dan menahan diri dari syahwat syahwat perut, dan menahan diri dari syahwat kemaluan. Yang dimaksud dengan menahan diri dari syahwat perut ialah menahan diri agar tidak meminta-meminta kepada selain Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah QS Al-Baqarah: 273 berikut:

لِلۡفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحۡصِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ ضَرۡبٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِيمَٰهُمۡ لَا يَسۡ‍َٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ 

Artinya, “(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui" (QS Al-Baqarah: 273)

Sedangkan dalil yang menerangkan tentang menjaga diri dari syahwat kemaluan di antaranya ialah firman Allah pada surah an-Nur: 33 berikut:

وَلۡيَسۡتَعۡفِفِ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغۡنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ  

Artinya, “Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya” (QS an-Nur: 33). 

Hendaklah kita menjadi manusia yang hanya memusatkan permintaan kita kepada Allah melalu doa dan membuktikan keseriusan kita dalam mintanya dengan bekerja keras dan sekuat tenaga, sabar dalam menjalani kehidupan tamun tetap berusaha untuk bangkit dan menjadi lebih baik lagi baik dalahm hal ibadah kita ataupun baik dalam ekonimi. Sehingga keduanya ketka berjalan seiringan, maka hidup kita akan menjadi lebih baik lagi dalam menjalaninya sehari-hari. Rasulullah bersabda sebagai berikut:

مَا يَكُوْنُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ لاَ أَدَّخِرُهُ عَنْكُمْ، وَإِنَّهُ مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبّرِهُ اللهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ 

Artinya, “Kebaikan (harta) yang ada padaku tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta, Allah akan memelihara dan menjaganya. Siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta, Allah akan menjadikannya sabar. Siapa yang merasa cukup dengan Allah dari meminta kepada selain-Nya, Allah akan memberikan kecukupan kepadanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. al-Bukhari). 

Sifat Iffah sendiri menjadi sifat yang sangat potensial pada diri setiap manusia, karena itulah menusia harus mendapatkan pendidikan yang baik sehingga ia dapat membentengi dirinya dari perbuatan yang tidak baik dan terus bisa menjaga eksistensinya sebagai manusia dengan menjaga kemuliaan dan berbuat mulia. 'Iffah tidak bisa diraih hanya dengan mempelajari teori. 

Sifat 'Iffah bisa dimiliki oleh setia manusia dengan syarat orang tersebut mau dan berusaha untuk terus melatih diri dan juga melalui pendidikan jiwa, yakni dengan memperbanyak mengerjakan amalan yang baik.

Sifat Iffah adalah bagian dari tingkat tertinggi dari akhlak manusia, dan juga menjadi perantara manusia tersebut dicintai oleh Allah SWT. Kenapa sdemikian?, dikarenakan denga sifat Iffah inilah kemudian melahirkan banyak sifat mulia dan terpuji sebagaimaa yang disampaikan di atas. Sehingga jika sifat 'iffah dari manusia sudah hilang, maka akan memberikan banyak pengaruh yang negatif dalam dirinya. Diantara dampat terburuknya ialah dapat membawanya pada perbuatan maksiat yang kemudian ia tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan salah, baik dan buruk, dan mana yang halal dan haram dikarenakan akal sehatnya sudah tertutup oleh syahwat semata.

Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah untuk memiliki sifat 'iffah terdapat dalam kitab al-adzkar an-Nawawi, berikut bunyi doanya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ اْلهُدَى وَالتُّقَى وَاْلعَفَافَ وَاْلغِنَى 

Artinya, "Ya Allah aku mohon kepadamu petunjuk, takwa, iffah (pengendalian diri), dan kecukupan" (HR Muslim).

Dalam kitab al-adzkar an-Nawawi tersebut dijelaskan bahwa doa di atas hendaknya dibaca pada pagi hari. Di antara tujuannya ialah agar sejak pagi kita sudah bisa terjaga dari perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan kita kepada perbuatan maksiat yang menghasilkan dosa.

Sudah menjadi maklum dan masyhur bahwa semua manusia akan berusaha untuk mempertahankan harga dirinya, setiap manusa akan merasa menjadi wajib baginya untuk terus menjaga dan mempertahankan harga diri dengan harapan esistensi dalam hidupnya bisa berjalan dengan baik tanpa adanya tekanan dan kecanggungan dalam hidup bersosial. 

Di antara upaya untuk menjaga harga dirinya biasanya banyak orang bersikap dengan berupaya sekuat tenaga dan bekerja sekeras mungkin untuk mendapatkan banyak harta, dan mendapatkan pangkat jabatan. Semua ini dimaksudkan untuk menjaga harga dirinya dari kemiskinan dan meminta-minta. Hal ini menjadi baik tatkala niatnya semata-mata tetal Lillahi Ta’ala, karena memang dikehidupan sekarang yang serba instan, serba ber-uang, dan maka di atara cara untuk menghindarkan diri dari meminta-minta ialah dengan bekerja dengan semangat, dan mencari uang sebanyak mungkin. Allah SWT juga memerintahkan hambanya selain berdoa juga agar bekerja dengan baik, Allah tidak menyukai sikap hambanya yang pemalas dan putus asa.

Seperti yang kita tau seringkali kesenjangan sosial atau ekonomi menjadi pemicu manusia merasa rendah harga dirinya bagi yang miskin ekonomi dan mudah merendahkan karena merasa banyak harta. Hal yang demikian tidak dibenarkan dalam Islam, karena selain hidup ini memang tentag penghambaan kepada Allah dengan sepenuhnya dan setulusnya. Juga harta hanyalah sebatas harta jika tidak digunakan dengan baik dan dibuat untuk membantu sesame yang kemudian berbuah kebaikan bagi dirinya sendiri. 

Harta tetap harus dicari, bahkan islam tida pernah melarang hambanya untuk kaya raya, hal itu juga untuk menghindarkan dirinya dari meminta-minta dan agar hidupnya lebih khusuk dalam beribadah kepad Allah SWT. Bahkan kaum shufipun banyak yang kaya raya, karena yang dimaksud dengan shufi bukanlah orang yang tidak mau dengan harta sama sekali. Tetap mencari tapi merasa tidak memiliki tatkala sudah dimiliki sehingga adanya dunia tidak membuatnya menjauh dari Allah, dan tidak mengurangi ibadahnya. Justru sebaliknya.

Maka, dengan bermodalkan kekayaan harta yang dimilikinya, seseorang akan merasa bahwa harga dirinya semakin baik dan terjaga dari hinaan dengan dalih ekonomi dan terjaga martabatnya sehingga dirinya bisa dengan mudah bergaul dengan banyak manusia. Dalam hal ini hendaknya tetap harus diiringi dengan sikap tidak sombong dan tetap sadar bahwa harta yang dimilikinya semata-mata hanyalah titipan dari Allah SWT yang kapan saja bisa Allah ambil Kembali. Dengan demikian setiap nikmat sudah seharusnya selalu disyukuri, syukur dalam bentuk ucap dan perbuatan denga memperbanyak berbuat baik melalui harta yang dimilikinya, yakni dengan banyak membantu orang lain. 

Dalam Islam juga disampaikan agar umat manusia hendaknya menjaga harga diri dan rasa malu. Islam mempunyai lima perkara yang harus tetap dipertahankan oleh setiap manusia atau pemeluknya, yaitu: agama, jiwa, harta, keturunan, dan akal, Lima hal ini disebut dengan Maqhoshid Asy-Syari’ah yang harus selalu dijaga.

Islam sebagaimana yang disampaikan di atas, bahwa islam mengajarkan kepada umatnya agar di dalam menjalani kehidupannya hendaknya berlomba-lomba untuk mendapatkan derajat atau martabat yang tinggi, khususnya di hadapan Allah. Banyak konsep tentang derajat yang tinggi dalam Islam, misalnya dengan konsep menjadi orang yang beriman, menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah (muttaqien), dan menjadi orang yang sabar serta dan menjadi orang yang berilmu. Jika diperhatikan lebih mendalam lagi, kunci utamanya ialah dengan berilmu sebaik dan setinggi mungkin sehingga bisa menjalani kehidupannnya dengan baik sesuai dengan ketentuan dan asas-asal dalam kehidupan. Baik kehidupan dalam konteks hablun minAllah ataupun hablum minannas. 

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam A-Qur,an Surat Al Mujadalah ayat 11 berikut:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya, "Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadalah: 11)

Jagalah harga diri kita dengan tetap mempertahanan keimanan kita dan menjaga perbuatan kita dari hal-hal yang berakibat pada perbuatan buruk dan maksiat, baik maksiat kepada sesame manusia ataupun kepada Allah dengan meninggalkan kewajiban dan melanggar larangannya. Jadilah manusia yang dapat mempertahankan lima perkara di atas, yakni agama, jiwa, harta, keturunan, dan akal. Tetaplah menjaga eksistensi hidup kita dengan terus menjalankan kehidupan dengan memperhatikan tiga sifat ataupun sikap di atas, yakni izzah (kemuliaan diri), muru’ah (menjaga kehormatan diri), dan iffah (menahan diri).



REFERENSI/RUJUKAN

https://islam.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-pentingnya-menjaga-harga-diri-7mqZ1

Label: , , , , , , , ,

Keutamaan Hari Jum'at dan Amalannya

amalan hari jumat


A. Amalan yang Dianjurkan Rasulullah

1. Membaca Surah Al-Kahfi

Dalam masalah ini, Imam Syafii memberikan penjelasan terkait dianjurkannya untuk memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pendapat ini berdasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW. Begitu juga sangat dianjurkan untuk membaca surat Al-Kahfi pada Kamis malam atau malam Jumat dan juga siang harinya.
Pendapat Imam Syafii tersebut terdapat dalam kitabnya, yakni kitab , Al-Umm, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1393 H, juz, 1, h. 207. 

      (قَالَ الشَّافِعِيُّ) أَخْبَرَنَا إبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنُ مَعْمَرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ( قال الشَّافِعِيُّ ) وَبَلَغَنَا أَنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ وُقِيَ فِتْنَةَ الدَّجَّالِ. ( قال الشَّافِعِيُّ ) وَأُحِبُّ كَثْرَةَ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي كُلِّ حَالٍ وَأَنَا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَتِهَا أَشَدُّ اسْتِحْبَابًا وَأُحِبُّ قِرَاءَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَهَا لِمَا جَاءَ فِيهَا 

Artinya: "Imam Syafi’i berkata, telah mengkhabarkan kepadaku Ibrahim bin Muhammad, ia berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abdurrahman bin Ma’mar bahwa Nabi saw bersabda, “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat”. Beliau juga berkata, dan telah sampai kepadaku riwayat yang mengatakan bahwa barang siapa yang membaca surat al-Kahf maka ia dilindungi dari fitnahnya Dajjal. Selanjutnya beliau mengatakan, bahwa saya menyukai banyak-banyak membaca shalawat kepada Nabi saw dalam setiap keadaan, sedang pada hari Jumat saya lebih menyukainya (dengan memperbanyak lagi membaca shalawat), begitu juga saya suka membaca surat al-Kahf pada malam Jumat dan siangnya karena adanya riwayat dalam hal ini” (Muhammad Idris asy-Syafi’i, al-Umm, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1393 H, juz, 1, halaman 207).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka hukum membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat itu memang benar sunah. Karena, didukung pula dengan riwayat yang mengatakan bahwa barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi, maka akan dilindungi dari fitnah Dajjal. 
Terlepas dari hukum membaca surah al-kahfi di atas, membaca al-Qur'an sudah jelas mebuahkan pahala. Membaca satu hurufnya diganjar atau diberi pahala 10. Sebagai orang muslim sudah sepatutnya tidak mempertanyakan lagi, apa dalilnya, siapa yang berpendapat dan seterusnya. 

Kemudian keterangan lain yang menjelaskan terkait dengan keutamaan malam jum'at dengan membaca surah al-kahfi adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُذْرِيّ قَالَ مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ 

Artinya "Diriwayatkan dari Abi Said Al-Khudri, ia berkata, Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka Allah SWT akan menyinarinya dengan cahaya antara dia dan rumah yang penuh dengan keindahan". (Sunan Ad-Darimi, 3273)

Berikut hadits yang menjelaskan tentang keutamaan membaca Al-Qur’an yang cukup familiar, yakni hadits riwayat Abdullah Ibnu Mas‘ud yang menyatakan, bahwa setiap huruf yang dibaca akan diberi balasan satu kebaikan. Setiap kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh, sebagaimana berikut ini.

   عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ 
Artinya: "Kata ‘Abdullah ibn Mas‘ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf,” (HR. At-Tirmidzi).

Hari Jumat merupakan hari yang sangat luar biasa keistimewahannya, karena terdapat banyak peristiwa yang penting terjadi pada hari Jumat. Seperti contoh diciptakannya Nabi Adam AS. dan peristiwa dimasukkan dan dikeluarkannya dari surga juga terjadi pada hari Jumat. 

Sebagaimana keterangan hadits di bawah ini yang menjelaskan bahwa Sesungguhnya hari yang paling mulia bagi kalian adalah hari Jum’at. Pada hari itu Nabi Adam AS diciptakan, di hari itu ditiupkan ruh, dan pada hari itu dilaksanakan siksaan. Berikut bunyi haditsnya:

عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ النَّفْخَةُ، وَفِيْهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثَرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ، فّإنَّ صّلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ، قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟- أي بَلِيْتَ- قَالَ: إنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ حَرَّمَ عَلَى الْأرْضِ أنْ تَأكُلَ أجْسَادِ الْأنْبِيَاءِ—سنن ابن ماجه 

Artinya, "Diriwayatkan dari Aws bin Aws, Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya hari yang paling mulia bagi kalian adalah hari Jum’at. Pada hari itu Nabi Adam AS diciptakan, di hari itu ditiupkan ruh, dan pada hari itu dilaksanakan siksaan. Karena itu maka perbanyaklah membaca shalawat kepadaku. Sebab shalawat yang kamu baca pada hari itu akan didatangkan kepadaku. Lalu sahal seorang sahabat bertanya: Wahai Rasulullah bagaimana mungkin shalawat yang kami baca itu bisa dihadapkan kepadamu, padahal engkau telah hancur dimakan bumi? Rasulullah SAW menjawab: Sesungguhnya Allah ’Azza wa Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi-Nya". (HR Ibnu Majah, 1075)

Di atara peristiwa penting yang terjadi pada hari jumat ialah diriwayatkan bahwa kelak hari kiamat jatuh pada hari Jumat, hal ini sebagaimana riwayat yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim.

Sebagaimana riwayat yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim.

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ 
Artinya: "Sebaik-baiknya hari di mana sang surya menyinarinya adalah hari Jumat. Pada hari Jumat Nabi Adam  as dimasukkan ke dalam surga, dan dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak terjadi kecuali pada hari Jumat" (HR Muslim).  

2. Membaca Surah Yasin

Di antara sekian banyak kebiasaan yang sering dilakukan oleh masyarakat saat mengisi kegiatan keagamaan di malam Jumat adalah dengan membaca surat Yasin, bahkan sore harinya tida sedikit yang berdatangan ke kuburan untuk ziyaroh kemudian membaca yasin. Surat yasin juga dibaca dibanyak majelis. Ada yang menjadikannya sebagai rangkaian bacaan tahlil, ada juga yang biasa kita kenal dengan sebutan jamaah Yasinan, atau sebatas kegiatan masyarakat yang dikhususkan di malam jum'at dengan membaca surat yasin.
Berikut di antara dalil yang menjelaskan keutamaan membaca surah yasin di malam jumat yang disebutkan secara tegas dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud sebagai berikut: 

   من قرأ سورة يس والصافات ليلة الجمعة أعطاه الله سؤله   

Artinya: "Barang siapa membaca surat Yasin dan Al-Shaffat di malam Jumat, Allah mengabulkan permintaannya". (HR Abu Daud dari al-Habr)  

3. Membaca Sholawat

Terkait dengan keutamaan memperbanyak membaca sholawat di malam jumat ataupun hari jumat, maka sudang dijelaskan secara gamblang di banyak kitab oleh ulamak. Diantaranya sebagaimana penjelasan yang ada dalam kitab Nawadirul Hikayah karya Syaikh Syihabuddin bin Salamah al-Qulyuby, berikut bunyi haditsnya: 

 روي عن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله غليه وسلم: "من صلى عليّ في يوم الجمغة مائة مرة قضى الله له مائة حاجة, سبعين من حوائج الأخرة وثلاثين من حوائج الدنيا. ويوكل الله بصلاته على ملكا حتى يدخلها على قبري كما تدخل على أحدكم الهداية. ويخبرني بإسمه فأثبته عندي في صحيفة بيضاء وأكفئه بها يوم القيامة

Artinya: "Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu 'Anhu berkata: Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasalam bersabda: Barang siapa bershalawat kepadaku di hari Jumat 100 kali, maka Allah akan mengabulkan baginya 100 hajat (kebutuhan), yang 70 dari kebutuhan akhirat dan 30 dari kebutuhan-kebutuhan duniawi. Dan Allah membebankan shalawat tersebut kepada malaikat hingga menghaturkannya ke kuburanku, layaknya (cahaya) hidayah yang masuk kepada kamu sekalian. Dan malaikat memberi tahu akan namanya, kemudian aku menetapkannya di sampingku di dalam lembaran yang putih bersih, dan dengan shalawatnya, aku mencukupinya (memberi syafaat) kelak di hari kiamat". 

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa hendaknya manusia memperbanyak membaca sholawat. hadits tersebut diriwayatkan dari Aus bin Aus, Rasulullah SAW bersabda: 

ان من افضل ايامكم يوم الجمعة فيه خلق ادم و فيه قبض وفيه النفخة وفيه الصعقة فاكثروا من الصلاة علي فيه فان صلاتكم معروضة علي

 Artinya, "Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah Hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptaan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk.  Oleh karena itu perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat, karena shalawat kalian akan dipersembahkan kepadaku".

Dalam hadits lain, yakni hadits riwayat Abi Umamah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut:

 اكثروا من االصلاة علي فى كل يوم جمعة فمن كان اكثرهم علي صلاة كان اقربهم منزلة

Artinya, "Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku setiap hari Jumat. Barang siapa yang paling banyak membaca shalawat atasku, maka dia paling dekat kepadaku kedudukannya." 

Begitu juga dengan hadits yang bersumber dari riwayat sahabat Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut:

 من صلى علي في يوم الجمعة الف مرة لم يمت حتى يرى مقعده فى الجنة 

Artinya, "Barang siapa membaca shalawat atasku pada hari Jumat seribu kali, maka ia tidak mati kecuali akan diperlihatkan kedudukannya di surga." 

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa betapa agung dan dahsyatnya keutamaan membaca sholawat, khususnya pada malam jumat sangat di anjurkan untuk memperbanyak sholawat. Terlebih dalam banyak riwayat disebutkan bahwa dengan membaca satu sholawat maka akan diberikan 10 kali lipat pahala. Hal ini sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim berikut:

  مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Artinya, “Siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali,” (HR Muslim). 

Sebagamana penjelasan dari banyak hadits di atas bahwa shalawat nabi memiliki banyak keutamaan bagi yang umat mengamalkannya atau membacanya, lebih-lebih degan jumlah yang banyak. Selain soal pahala bagi yang membacanya, amal dari membaca shalawat kepada Rosulullah juga dapat menghapuskan dosa dan mengangkat derajat orang yang membacanya, keterangan ini sebagaimana yang ada dalam keterangan hadits riwayat An-Nasa’i berikut: 

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ 

Artinya, "Siapa saja yang membaca shalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosanya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan," (HR An Nasa’i)


B. Dalil Keutamaan Hari Jum'at

Hari Jumat merupakan hari yang agung, mulia dan disebut dengan sayyidul ayyam. Allah SWT memuliakan umat Nabi Muhammad SAW dengan hari Jumat, kemuliaan ini tidak diberikan kepada umat nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW diutus. Pada malam jum'at umat Nabi Muhammad dianjuran untuk meningkatkan amal ibadah dan memperbanyaknya, seperti yang sudah masyhur di antaranya ialah memperbanyak membaca shalawat kepada Rasulullah SAW, memperbanyak sedekah, membaca yasin, dan lai-lain.

Terkait dengan keutamaan dan kemuliaan hari jumat, maka terdapat beberapa dalil yang menunjukkan terhadap keutamaan hari Jumat. Antara lain ialah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Syafi’i dan al-Imam Ahmad yang meriwayatkan dari Sa’ad bin ‘Ubadah, berikut bunyi haditsnya:

 سَيِّدُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَهُوَ أَعْظَمُ مِنْ يَوْمِ النَّحَرِ وَيَوْمُ الْفِطْرِ وَفِيْهِ خَمْسُ خِصَالٍ فِيْهِ خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَفِيْهِ أُهْبِطَ مِنَ الْجَنَّةِ إِلَى الْأَرْضِ وَفِيْهِ تُوُفِّيَ وَفِيْهِ سَاعَةٌ لَا يَسْأَلُ الْعَبْدُ فِيْهَا اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ إِثْمًا أَوْ قَطِيْعَةَ رَحِمٍ وَفِيْهِ تَقُوْمُ السَّاعَةُ وَمَا مِنْ مَلَكٍ مُقّرَّبٍ وَلَا سَمَاءٍ وَلَا أَرْضٍ وَلَا رِيْحٍ وَلَا جَبَلٍ وَلَا حَجَرٍ إِلَّا وَهُوَ مُشْفِقٌ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ

Artinya: "Rajanya hari di sisi Allah adalah hari Jumat. Ia lebih agung daripada hari raya kurban dan hari raya fitri. Di dalam Jumat terdapat lima keutamaan. Pada hari Jumat Allah menciptakan Nabi Adam dan mengeluarkannya dari surga ke bumi. Pada hari Jumat pula Nabi Adam wafat. Di dalam hari Jumat terdapat waktu yang tiada seorang hamba meminta sesuatu di dalamnya kecuali Allah mengabulkan permintaannya, selama tidak meminta dosa atau memutus tali silaturahim. Hari kiamat juga terjadi di hari Jumat. Tiada malaikat yang didekatkan di sisi Allah, langit, bumi, angin, gunung dan batu kecuali ia khawatir terjadinya kiamat saat hari Jumat".

Dalam hadits lain disebutkan, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi dari Abdillah bin ‘Amr bin al-‘Ash berikut: 

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ 

Artinya, “Tiada seorang Muslim yang mati di hari atau malam Jumat, kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur”.

Hadits di atas menurut ulamak mencapai tingkatan hadits hasan, hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Ihsan bin Dakhlan dalam kitab Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal. 286 cetakan Pondok Pesantrena Jampes Kediri, dengan mengutip keterangan dari Imam al-‘Azizi bahwa hadits tersebut mencapai tingkatan derajat hadits Hasan.

Di antara keutamaan hari jum;at yang lain ialah dengan melaksanakan shalat Jumat, maka orang yang tidak mempu di ibaratkan dengan naik haji pada hari jumat tersebut, artinya hari jum'at merupakan hajinya orang-orang yang tidak mampu. Hal ini sebagaimana Sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam al-Qadla’i dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

 اَلْجُمُعَةُ حَجُّ الْفُقَرَاءِ
 
Artinya, “Jumat merupakan hajinya orang-orang fakir”.
 
Kemudian, terkait dengan hadits tersebut, Syekh Ihsan bin Dakhlan menjelaskan sebagai berikut:

 يَعْنِيْ ذَهَابُ الْعَاجِزِيْنَ عَنِ الْحَجِّ اِلَى الْجُمُعَةِ هُوَ لَهُمْ كَالْحَجِّ فِيْ حُصُوْلِ الثَّوَابِ وَاِنْ تَفَاوَتَ وَفِيْهِ الْحَثُّ عَلَى فِعْلِهَا وَالتَّرْغِيْبُ فِيْهِ
Artinya, “Maksudnya ialah, berangkatnya orang-orang yang tidak mampu berhaji menuju shalat Jumat, seperti berangkat menuju tempat haji dalam hal mendapatkan pahala, meskipun berbeda tingkat pahalanya. Dalam hadits ini memberi dorongan untuk melakukan Jumat”. (Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal.282, cetakan Ponpes Jampes Kediri,). 

Hal serupa terkait keutamaan di hari jumat disampaikan dalam hadits lain, hadts ini menjelaskan tentang rangkaian ibadah di hari jumat yang membuahkan pahala. Berikut bunyi haditsnya: 

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا 
Artinya, “Barang siapa membasuh pakaian dan kepalanya, mandi, bergegas Jumatan, menemui awal khutbah, berjalan dan tidak menaiki kendaraan, dekat dengan Imam, mendengarkan khutbah dan tidak bermain-main, maka setiap langkahnya mendapat pahala berpuasa dan shalat selama satu tahun". (HR. Al-Tirmidzi dan al-Hakim). 

Menurut Imam al-Tirmidzi hadits di atas statusnya mencapai derajat hadits Hasan, sedangkan menurut al-Hakim hadits tersebut mencapai derajat hadits Shahih. 

Keterangan lain disampaikan dalam Hadits shohih muslim atau Imam Muslim adapun haditsnya sebagai berikut: 

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ 

Artinya, “Barang siapa berwudlu kemudian memperbaiki wudlunya, lantas berangkat Jumat, dekat dengan Imam dan mendengarkan khutbahnya, maka dosanya di antara hari tersebut dan Jumat berikutnya ditambah tiga hari diampuni”. (HR. Muslim).



REFERENSI/RUJUKAN

Muhammad Idris asy-Syafi’i, al-Umm, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1393 H, juz, 1, halaman 207

Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal.282, cetakan Ponpes Jampes Kediri,

Syekh Ihsan bin Dakhlan dalam kitab Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal. 286 cetakan Pondok Pesantrena Jampes Kediri

Kitab Nawadirul Hikayah karya Syaikh Syihabuddin bin Salamah al-Qulyuby

HR. Al-Tirmidzi dan al-Hakim

HR. Muslim dan HR An Nasa’i

https://lampung.nu.or.id/syiar/dalil-keutamaan-membaca-surat-al-kahfi-di-malam-jumat-ZN3ru

https://jatim.nu.or.id/keislaman/malam-jumat-disunahkan-membaca-surat-al-kahfi-ini-dalilnya-I2OUH

https://islam.nu.or.id/jumat/dalil-keutamaan-hari-jumat-XB4Tt

https://islam.nu.or.id/jumat/nilai-lebih-baca-sholawat-pada-hari-jumat-GVoMT

https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/perhatikan-10-keutamaan-membaca-shalawat-nabi-4ZyBE

Label: , , , , , , ,

Selasa, 09 Agustus 2022

HARAPAN DAN KEKHAWATIRAN


Setiap Manusia, sudah semestinya mempunyai banyak harapan dalam hidupnya, baik itu untuk kehidupan di dunia ataupun di akhirat. Harapan menjadi motivasi besar bagi manusia untuk terus eksis dalam hidup dan produktif dalam bertindak. Harapan menjadi penyemangat bagi setiap langkah manusia untuk membuat perubahan yang lebih baik.

Harapan sendiri dalam bahasa arab disebut dengan Ar-Rojak (الرجاء), Harapan dapat memberikan magnet semangat yang luar biasa. Dalam harapan sudah pasti terdapat rencana untuk menggapai apa yang diharapkan. Sebagaimana dalam Ilmu manajemen, tahap pertama sudah tentu perencanaan, kedua ialah pelaksanaan, dan ketiga evaluasi. 

Maksud dari perencanaan di sini ialah untuk mematangkan perencanaannya agar apa yang diharapkan bisa dengan mudah diraih dan diwujudkan. Sehingga setiap langkahnya sudah diperhitungkan kemungkinan besar tercapai dan apa saja kendala dan rintangannya.

Kedua, ialah pelaksanaa. Pelaksanaan di sini ialah mengoptimalkan usaha dengan baik dan bijaksana dalam proses mewujudkan harapan tersebut. dilaksanakan dengan baik dan memperhatikan etika, kendala dan rintangannya. 

Evaluasi ialah bertujuan untuk mengkondisikan pelaksanaan, mempermudah pelaksanaan, dan mencari solusi terkait adanya kendala dan rintangan yang ada dalam tahap pelaksanaan untuk mewujudkan harapan tersebut.

Ada sedikit keterangan yang sangat luar biasa, keterangan ini bisa menjadi penyemangat, motivasi dan dasar untuk orang yang mudah putus asa dan kawatir akan hal-hal yang belum dihadapi. Keterangan tersebut ialah sebagai berikut:

الرجاء أوسع من الخوف

Artinya "Harapan itu lebih luas dari pada ketakutan/kekawatiran"

Dapat kita fahami bahwa pada dasarnya harapan itu lebih luas dari pada sekian banyak adanya kekawatiran dan ketakutan bagi manusia. Selagi mau eksis, berusaha, dan berdoa. Harapan-harapannya bisa dengan mudah diwujudkan. Tentu sebagai umat muslim yang baik dibalik azam untuk mewujudkan harapan tersebut, orang itu juga harus bertawakkal untuk menghindari kekecewaan yang didapati diluar harapan. Dengan tawakkal manusia bisa sadar bahwa sebagaimanapun orang itu berusaha, Allah tetap sang Maha segalanya, Allahlah yang menghendaki dan kuasa untuk mewujudkan atau tidak, atau mewujudkan saat itu atau diwaktu berikutnya. karena Allah lebih tau kondisi hambanya, dan kapan terbaik harapan itu diwujudkan untuk hambanya.

Kita sebagai manusia hanya dituntut untuk berusaha dengan optimal, berdoa dengan khusuk dan penuh penghambaan dengan istikomah. Selebihnya Allah yang mengatur segalanya. Karena itulah jangan pernah berhenti berusaha dan berdoa. Ibarat manusia yang menaiki sepeda pancal, semakin digayuh semakin dekat dengan tujuan meskipun lelah dan mungkin juga penat dan tidak mudah jalan yang dilaluinya. Betapa banyak orang yang sukses mewujudkan harapannya setelah sekian kali gagal, namun hebatnya mereka ialah tetap bangkit dan terus berbenah untuk menggapai harapannya.

Dalam Al-Qur'an juga disinggung bahwa Allah tidak suka terhadap orang yang putus asa atau mudah putus asa. Jika kita kembali ke masa waktu kecil, kita bisa mengingatnya bahwa berapa puluh dan ratusan kali kita terjatuh untuk belajar berdiri yang kemudian berjalan dan lari. berapa kali menangis dan badannya lecet. Namun pada akhirnya semuanya bisa berjalan dan terus bangkit.

Menurut Gus Rifqil Muslim, beliau dawuh sebagai berikut "doakanlah apa yang kamu kerjakan dan kerjakan apa yang kamu doakan". Artinya jangan hanya bekerja dan bekerja saja, tapi libatkan Allah dalam setiap langkah pekerjaan tersebut dengan berdoa dan meminta agar dipermudah, diberi kekuatan dan diwujudkan apa yang menjadi harapan dan cita-cita serta tujuan dari pekerjaan tersebut. Sebaliknya jangan hanya berdoa saja, sebagai manusia yang hidup tetap harus berusaha, bekerja dan bergerak untuk mewujudkan harapan-harapan ataupun cita-cita besar dalam hidup. Karena Allah memerintahkan kita untuk bekerja dan berusaha atau berkasab. Sebagaimana firman Allah di bawah ini:

  يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ، فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ 

Artinya,  “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah, ayat 9-10)

Diantara isi kandungan ayat di atas ialah kita diharuskan untuk berkasab, bekerja dan berusaha untuk mencari karunia dan riski. 

Jangan pernah putus harapan, jangan pernah ragu, jangan pernah menyerah dan jangan pernah mencerca Tuhan hanya kondisi kita tidak sesuai harapan kita, hanya karena harapan kita tidak terwujud dan segera terwujud. Ingat, Allah lebih tau isi hati kita, kondisi kita, yang terbaik bagi kita. Bisa jadi tidak dikabulkannya saat ini karena kondisimu belum siap menerima wujudnya harapan itu. Yakinlah, bahwa keindahan itu pasti ada dan pasti tiba. bersabarlah dan tetaplah dalam proses dan usaha yang optimal dan berdoa tanpa mencerca Tuhan yang maha kuasa dan maha segala-galanya. Tentunya maha mengabulkan doa-doa kita.

Label: , , , , ,

SHALAT YANG IDEAL BAGI IMAM


Sholat merupakan rukun islam yang ke dua dalam Islam, setiap orang islam laki-laki dan perempuan diwajiban untuk sholat lima waktu dalam sehari semalam. Dalam hadits disebutkan bahwa sholat merupakan tiang agama, dan barang siapa meninggalkannya sungguh ia telah merusak agamanya. Sebagaimana bunyi hadits di bawah ini
الصلاة عماد الدين فمن اقامها فقد اقام الدين ومن هدمها فقد هدم الدين 
Artinya: "Sholat itu adalah tiang agama (Islam), maka barangsiapa mendirikan sholat, sungguh ia telah menegakkan agama (Islam) dan barang siapa merobohkannya, sungguh ia telah merobohkan agama (Islam)" (HR al-Baihaqi). 

Sholat menjadi sedemikian penting dalam menegakkan agama dan juga bagi muslim itu sendiri, sehingga menjadi maklum ketika sebagian orang mengatakan jika ingin melihat baik tidaknya orang tersebut maka lihatlah dari cara dia melaksanakan kewajiban sehari-hari sebagai orang islam, yakni dari cara sholatnya. Lantas bagaimana jika orang tersebut tidak sholat, bisa saja dia orangnya baik hanya saja dalam menunaikan kewajiban sebagai orang islam dia lalai. Dalam Islam kita hanya diminta untuk menyampaikan dan menasehati atau mendakwahkan islam dengan cara yang baik dan luhur kepada muslim lainnya.

Sholat selain menjadi tiang agama sebagaimana penjelasan hadits di atas, sholat juga menjadi amal perbuatan manusia yang kelak aan dihisab pertama kali di akhirat. sebagaimana keterangan dalam hadits di bawah ini

عن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :  إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ : انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

Artinya, "Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Amalan hamba yang pertama kali dihisab kelak di hari kiamat adalah sholat, jika sholatnya itu bagus, maka dia beruntung dan berhasil, namun jika cacat dia akan menyesal dan merugi. Apabila sholat wajibnya tidak sempurna, Allah SWT berkata, ”Lihatlah apakah hamba-Ku punya amalan sunnah sehingga bisa menutupi amalan wajibnya, dengan demikian tertutup segala amalnya.” 

Menjadi penting bagi setiap umat islam untuk benar-benaar mempelajari ilmu yang berhubungan dengan kawajiban sehari-hari. Bahan Ulamak mewajibkan ilmu yang pertama harus dipelajari adalah ilmu yang berkaitan dengan kewajibannya dalam sehari-hari sebagai umat islam, yani ilmu seputar wudhu, sholat, zakat, haji, dan seputar thoharoh atau bersuci dan mensucikan.
 
Dalam islam ada ilmu yang hukum mempelajarinya fardhu kifayah dan ada yang fardhu ain, sedangkan ilmu yang hukum mempelajarinya adalah fardlu ‘ain maka ilmu ini harus dipelajari dan dipahami oleh setiap individu umat Islam. Tak ada celah bagi seorang Islam untuk tidak mempelajari ilmu pada kategori ini. 

Menurut Syekh Zainudin Al-Malibari dalam kitab Mandhumatu Hidayatil Adzkiya’ ila Thariqil Auliya’, dalam kitab ini diberi penjelasan oleh Sayid Bakri Al-Makki dalam kitab Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Awliya’, bahwa aterdapat 3 ilmu yang wajib dipelajari bagi setiap orang Islam dengan kategori wajib fardlu ‘ain. Ketiga ilmu itu adalah ilmu yang menjadikan ibadahnya menjadi sah, ilmu yang mengesahkan aqidahnya, dan ilmu yang menjadikan hatinya bersih. Al-Malibari menuturkan:

وتعلمن علما يصحح طاعــة وعقيدة ومزكي القلب اصقلا هذا الثلاثة فرض عين فاعرفن واعمل بها تحصل نجاة واعتلا 

Artinya "Pelajarilah ilmu yang mengesahkan ketaatan mengesahkan aqidah serta mensucikan hati Ketiganya ini fardlu ain hukumnya, ketahuilah amalkanlah, maka terwujud keselamatan dan kehormatan"

Sholat selain hukumnya wajib bagi setiap muslim yang baligh dan berakal. Dalam sholat juga ada tatacara yang menjadikan sholatya bagus dan khusuk, terlebih bagi Imam yang mengimami sholat. Imam sholat harus mengetahui betul siapa makmumnya dan bagaimana cara menjadi Imam yang baik.
Dalam sholat terdapat syarat wajib sholat, syarat sah sholat, rukun sholat, sunnah dalam sholat da batal-batalnya sholat. Setipa muslim yang mukallaf harus mengetahui betul perkara di atas, sehingga sholatnya menhadi sah dan sempurna.

Ketika Imam mengimami sholat, hendaknya memperhatikan bacaan-bacaan dalam sholat dan tumakninahnya, sehingga makmum bisa dengan baik pula dalam mengikuti sholatnya Imam. Dalam kitab Ibanah Al-Ahkam syarah kitab bulugul marom karya Syaikh Alawi Abbas Al-Maliki. Dalam kitab tersebut pada hadits ke 228 dijelaskan sebagai berikut:

عن أبي قتادةَ رضي الله عنه قال : كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلم ، يصلِّي بنا ، فيقرأ في الظهرِ والعصرِ في الركعتينِ الأوليَينِ ، بفاتحةِ الكتابِ وسورتَين ، ويُسمعُنا الآيةَ أحيانًا ، وكان يطوِّلُ في الركعةَ الأولَى، ويقرأ في الأخريين بفاتعة الكتاب 

Artinya: "Dari sahabat Qotadah Rodiyallahu 'anhu, beliau berkata bahwa nabi pernah sholat bersama kami, kemudian Nabi membaca fatihah dan dua surat pada sholat duhur dan asar di dua rokaat pertama, dan terkadang memperdengarkan bacaan ayatnya kepada kami di sebagian waktu saat sholat berjamah duhur dan asar dengan bacaan jahr. Pada rokaat pertama Nabi membaca surat yang lebih panjang dari pada rokaat kedua dengan tujuan agar makmumnya bisa mendapati beliau pada rokaat pertama, dan pada dua rokaat kedua Nabi membaca surah fatihah". (Mutafaq Alaih)

Dari keteragan hadits di atas dapat kita fahami bahwa nabi Muhammad SAW ketika mengimami sholat, beliau tidak serta merta dan sesuka hatinya dalam memimpin sholat, beliau memperhatikan betul kondisi makmumnya. Seperti contoh pada rokaat pertama Nabi membaca dua surat yang lebih panjang dari rokaat kedua dengan tujuan makmum baik yang sudah hadir sejak Nabi memulai sholat ataupun yang telah tidak mendapatik takbirnya Nabi juga bisa mengikuti berjamah bersama-sama tanpa menjadi makmum masbuk. Ini menjadi penting untuk diperhatikan oleh Imam. 

Adapun makna atau penjelasan secara umum dari hadits di atas ialah bahwa Nabi memanjangkan bacaannya pada dua rokaat pertama, maksud dari lebih memanjangkan bacaan surat pada rokaat pertama tersebut dengan tujuan agar makmum bisa mendapati rokaat pertama Nabi dikarenakan semangat pada rokaat pertama lebih banyak dan begitu juga dengan khusuk dan khudur. Nabi meringankan bacaan pada dua rokaat terakhir dengan tujuan ditakutkan adanya kebosanan bagi makmumnya.
Adapun isi kandungan hukum fiqih dari hadits di atas ialah sebagai berikut:
1. Diwajibkannya membaca surah alfatihah dalam sholat, yang kemudian menjadi rukun solat
2. Disunnahkan membaca surat selain fatihah setelah membaca fatihah pada dua rokaat pertama
3. Disunnahkan memanjangkan (membaca surat yang panjang) pada rokaat pertama dari pada rokaat kedua
4. Disyariatkannya membaca alfathah pada dua rokaat terakhir 
5. Diperbolehkan membaca dengan suara jahr (keras) pada sebagian ayat di solat yang seharusnya dibaca denga sirriyyah (pelan) seperti sholat duhur dan asar.

Dari paparan penjelasan di atas maka, 
1. Hendaknya Imam ketika mengimami sholat setelah takbirotul ihrom imam membaca doa iftitah, kemudian membaca surah alfatihah dengan baik dan juga membaca surat al-Qur'an yang panjang dengan tujuan agar makmum bisa mendapati rokaat pertama imam dan membangun suasana hati agar bisa khusuk dan khudur. Meskipun dalam kitab fathul muin disebutkan bahwa membaca surat yang pendek juga baik. Namun demikian sebagai Imam tetap harus memperhatikan kondisi makmumnya.

2. Ketika rukuk, hendaknya Imam benar-benar membaca bacan tasbih, yakni Subhana Robbiyal Adzimi Wabihamdihi dengan 3x bacaan yang baik dan juga memperatikan tumakninahnya, baik tumakninahnya Imam sendiri ataupun makmumnya, agar makmum yang hanya mendapati rukuknya imam juga bisa mengikuti rokaat pertamanya imam sehingga makmum tersebut tidak menjadi makmum masbuk.

3. Hendaknya Imam memperhatikan tumakninah pada setiap gerakan dalam sholat agar selain membangun sholat yang khusuk, memperhatikan kondisi makmum yang mungkin saja ada yang sudah tua renta dan sebagainya, juga untuk menjaga keabsahan sholat. Karena dalam sholat tmakninah menjadi rukun sholat

4. Ketika tahiyat akhir, hendaknya Imam tidak terlalu cepat membaca bacaan tahiyatnya, dengan tujuan ketika Imam salam, makmum juga bisa mengikuti salmny imam, yakni bukan Imam sudah salah tapi makmum baru baca sholawat yang berart imamnya dalam membaca tahiyat terlalu cepat

5. Ketika membaca tahiyat akhir, hendaknya imam juga menambah bacaan doa-doa sebagaimana yang dianjurkan dalam kitab al a-dzkar an-Nawawi.  Selain membaca doa itu baik, juga untuk memperhatikan makmum masbuk yang hanya mendapati tahiyatnya Imam saja.

6. Sholat yang baik adalah sholat yang dilakukan pada waktunya, memenuhi rukun dan sunnah-sunnahnya, bagus bacaannya, dan bijak dalam menjadi Imam sholat berjamaah

7. Memperhatikan bacaan, tumakninah dan seterunya termasuk rukun dan sunnah-sunnahnya sholat tidakhanya bagi Imam, Namun bagi setiap muslim ketika sholat, baik sendiri ataupun berjamaah


REFERENSI:
Syekh Zainudin Al-Malibari dalam kitab Mandhumatu Hidayatil Adzkiya’ ila Thariqil Auliya’,
Kitab Ibanatul Ahkam syarat kitab bulughul marom, Karya Syaikh Alawi Abbas Al-Maliki

Label: , , , , , ,