Kamis, 01 Mei 2025

Menulis yang penting, atau yang penting menulis.


Menulis merupakan bentuk aktifitas yang sangat keren dalam melangsungkan hidup di dunia yang sangat luas dan penuh dengan dinamika yang seksi. Menulis bisa iakukan oleh siapa saja, tapi untuk bertahan laa dan terus meingkatkan keindahan narasi dan keunikannya tentu hanya mereka yang terus tekun menulis dan membaca banyak buku. Menulis dan membaca buku memiliki hubungan yang erat dalam menumbuhkan nilai ruh tulisan yang tertata rapi, harmonis dan asyik untuk dibaca. Siapa yang banyak membaca, tentu akan lebih mudah dalam menulis dengan skop apapun itu.

Dalam Islam, perintah pertama adalah membaca, hal ini selain untuk menambah wawasan, juga untuk mempertajam kemampuan dalam menulis. Untuk mempertajam dan mendalam kjian yang ditulis, tentu harus memiliki banyak buku da artikel yang sudah dibacanya. 

Seiring dengan terus berkembangnya dunia pendidikan, menulis merupakan hal mutlak yang harus dimiliki kemampuannya. Dalam studi sarjana, menulis menjadi keahlian tersendiri untuk kemudian bisa dinyatakan lulus, tulisannya diberi nama skripsi dalam bentuk hasil penelitian yang kemudian disimpelkn lagi dalam bentuk artikel atau jurnal baik terakreditasi sinta, skopus maupun belum terakreditasi.

Dengan banyaknya media untuk menulis, harusnya masing-masing mahasiswa juga diwajibkan oleh perguruan tinggi atau mewajbkan pada dirinya sendiri untuk mempunyai blogger atau website yang menjadi wadah tulisan atau karya tulisnya sendiri sehingga bisa diakses dan dbaca oleh banyak orang di belahan dunia.

Ada banyak tips dan cara untuk menulis yang baik, tapi yang paling baik dan utama adalah memulai untuk menulis dan terus tekun menulis dan membaca sehingga pada akhirnya ketajaman dan keindahan menarasikan tulisan akan dimiliki. 

Dalam Surah Al-Alaq ayat 1-5, Lima ayat ini menekankan betapa pentingnya membaca dan menulis sebagai media atau kunci untuk memperoleh ilmu pengetahuan, sebagai sarana komunikasi dan penyebaran ilmu yang dimilikinya.

Berdasarkan perintah yang kerkandung dalam surah Al-Alaq secara eksplisit sangat jelas bahwa untuk memperoleh ilmu pengetahuan, sebagai sarana komunikasi dan penyebaran ilmu maka harus tekun membaca dan menulis. Tiada car yang paling rekomendasi selain dua hal tersebut.

Di era yang kian menurun minat membca dan keinginan membeli buku, mari bersama-sama menulis secara masif, jangan takut salah, takut tulisannya tidak menarik, tidak banyak yang membaca dan seterusnya. Yang terpenting adalah memulai dan terus tekun menulis, tidak perlu berhalaman banyak dan harus sebaik mungkin. Karena untuk mencapai keahlian tentu dimulai dari usaha dan kedisiplinan dalam menulis untuk mencapai keahlian tersebut



Media menulis penulis adalah santrimenulis.com 

Nama penulisnya Muhammad Zaironi


Label: , , , ,

Senin, 12 Desember 2022

Model Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Karakter Siswa

 

PENDAHULUAN 

Implementasi pembelajaran di Indonesia masih jauh dari perubahan yang signifikan, sehingga pendidikan di Indonesia menjadi stagnan dan statis, hal ini berdampak cukup berat untuk melaju pada posisi sepuluh besar dari negara-negara terbaik dalam sistem pendidikannya. Pendidikan di Indonesia masih saja berada pada posisi rendah di urutan bawah. Negara Indonesia sendiri mendapatkan peringkat 54 pada tahun 2021, yang berarti negara kita telah naik satu peringkat sebelumnya yaitu peringkat 55 pada tahun 2020. Hal ini menjadi PR besar untuk pengella pendidikan di Indonesia. Pengelolaan pendidikan harus benar-benar diperhatikan sehingga hasil dan kualitasnya bisa sesuai dengan napa yang diharahpkan. Hal ini bisa dirubah melalui elastisitas pengembangan sumber belajar dan media pembejaran berbasis karakter siswa.

Faktanya, ikhtiar pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran merupakan sebuah keniscayaan selama ini. Keniscayaan pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran ini didasarkan setidaknya pada dua realitas yang berlawanan. Pada satu satu sisi sumber belajar memiliki sifat yang statis dan kerapkali mendapati pengulangan materi dari satu jenjang ke jenjang berikutnya, namun demikian di sisi lain pelaku pendidikan dituntut untuk memiliki peran yang dinamis dan berkelanjutan. 

Sifat statis sendiri berasal dari komponen sumber belajar berupa benda yang meliputi; buku, manusia, media massa, dan media pendidikan. Sedangkan pada sisi peran, sumber belajar dituntut agar berperan sebagai sumber dari berbagai informasi dan pengetahuan yang diperlukan dalam mengembangkan kompetensi yang diinginkan pada mata pelajaran atau bidang studi, hal ini juga berlaku untuk media pembelajaran. Dengan kondisi tersebut maka sumber belajar dan media pembelajaran sangat penting untuk dikembangkan. Maka, berdasarkan deskripsi yang penulis paparkan di atas, maka penulis tertarik untuk membahas tema ini dengan sub bab sebagai berikut: Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Karakteristik Peserta Didik.


PEMBAHASAN

Urgensi Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran

Melihat perkembangan hasil belajar dan kualitas pendidikan di Indonesia yang masih jauh dari kata terbaik, maka praktisi pendidikan dan pengelola harus lebih ekstra dalam mencar terobosan dan berbagai pengembangan strategi untuk merubah kondisi pendidikan yang berada pada posisi stagnan dan sulitnya melaju pada posisi sepuluh besar pendidikan terbaik di dunia. Maka, di antara cara yang cukup mudah dan dapat diukur keberhasilannya ialah dengan merubah pola mengajar yang terkesan statis dengan melakukan pengembangan sumber dan media pembelajaran berbasiskan karakteristik siswa.

Diantara strategi pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran yang cukup prospektif adalah dengan berbasiskan karakter peserta didik. Hal ini dikarenakan keberadaan sumber belajar dan media pembelajaran selalu terdapat keterkaitan, bahkan tidak bisa dipisahkan dengan kondisi karakter peserta didik di kelas. Sehingga pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran yang baik harus terintegrasi dengan realitas peserta didik di kelas. Mengingat masing-masing karakteristik siswa berbeda-beda, dengan demikia menjadi maklum tatkala banyak sekolahan yang memberlakukan sistem seleksi kemampuan siswa dan kemudian diklasifikasikan menurut kemampuan, kecerdasan dan prilakunya. Maka, pengembangan berbasis karakter peserta didik menjadi salah satu alternatif pengembangan yang terintegrasi dan memungkinkan tercapainya tujuan pendidikan.

Pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran berbasis karakter peserta didik memungkinkan tercapainya proses pembelajaran yang optimal dan terukur. Pasalnya kualitas pembelajaran terkait erat dengan kualitas sumber belajarnya, dan materi akan tersampaikan dengan baik ketika di bingkai melalui media yang menyesuaikan dengan karakteristik siswanya. Di mana proses pembelajaran yang baik akan membutuhkan pengembangan sumber belajar yang baik. Dengan kata lain sebuah proses pembelajaran tanpa pengembangan sumber belajar yang tepat maka tidak mungkin terlaksana dengan optimal. Dengan demikian pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran berbasis karakteristik peserta didik memungkinkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil yang signifikan.

Prinsip umum dalam pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran berbasis karakter peserta didik ialah berpacu dan memperhatikan nilai efektifitas dan efesiensi. Prinsip efektifitas mengarah pada upaya pengembangan yang dapat menghasilkan penghematan waktu, sedangkan efesiensi mengarah pada kemudahan teknis yang praktis dan elastis. Maka, dengan kata lain prinsip pengembangan ini ialah mengarah kepada terciptanya sumber belajar dan media pembelajaran yang dapat mempermudah dan mempercepat proses pembelajaran dengan hasil yang terukur.


Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Karakter Peserta Didik

Memperhatikan definisi sumber belajar yang meliputi segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang. Maka, dengan demikian segala sesuatu baik yang disengaja dirancang ataupun yang telah tersedia yang dapat dimanfaatkan baik secara sendiri maupun bersama-sama untuk membuat atau membantu peserta didik belajar disebut sumber belajar. 

Sumber Belajar Berbasis Karakter Siswa

Proses komunikasi dalam praktik pendidikan tidaklah jauh berbeda dengan proses pembelajaran kecuali pada aspek konteks berlangsungnya komunikasi Proses Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM). Dari berbagai sumber belajar yang ada, diantaranya ialah manusia, bahan, lingkungan, alat dan peralatan dan aktivitas. 


Lima komponen di atas harus saling berkolaboratif dan berpacu dalam satu strategi untuk melakukan pengembangan. yang tidak kalah pentingnya ialah ada pada manusia itu sendiri, yakni guru dan murid. Guru harus lebih memahami psikologi murid, lingkungan, dan karakteristik kelas yang akan diberikan tranfer knowled. Tentu didukung dengan ketersediannya sarana yang memadai. Guru harus lebih inovatif dalam mengelola kegiatan belajar mengajar, punya teknik dan sumber belajar yang dikombinasikan untuk mempermudah murid dalam menerima ilmu yang disampaikan.

Jika ditinjau secara historis, penggunaan sumber belajar dalam dunia pendidikan sudah dikenal sejak lama. Bila menoleh sejarah pendidikan di kalangan umat Islam, maka pada zaman pertengahan Islam fasilitas sumber belajar sudah dikenal meskipun sangat amat sederhana akan tetapi sudah dilengkapi dengan adanya ruangan yang memadai untuk tempat belajar, juga ada rumah-rumah pengajar.
Pada abad ini, trend penggunaan sumber belajar tidak lagi hanya digunakan apa adanya, melainkan dikembangkan terlebih dahulu da dibingkai dengan sebaik mungkin dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Diantara cara yang bisa dilakukan dalam pengembangan sumber belajar ialah dengan merencanakan langkah-langkah secara sistematis. Langkah-langkah sistemstis dalam pengembangan sumber belajar tersebut diantaranya adalah:
1. Menganalisis Kebutuhan dan Karakteristik Belajar Siswa
Sebuah perencanaan sumber belajar didasarkan salah satu indikatornya di dalamnya terdapat kesenjangan. Kesenjangan adalah ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya atau apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi. Dalam pembelajaran yang dimaksud dengan kebutuhan adalah adanya kesenjangan antara kemampuan, keterampilan dan sikap siswa yang diinginkan dengan kemampuan, keterampilan dan sikap siswa yang mereka miliki sekarang.

2. Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata pelajaran, dan guru itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan siswa dapat ditetapkan apa yang hendak dicapai, dikembangkan dan diapresiasi. 

Berdasarkan mata ajaran yang ada dalam petunjuk kurikulum dapat ditentukan hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Suatu tujuan pembelajaran seyogianya memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Menyediakan situasi atau kondisi untuk belajar. 
b. Mendefenisikan tingkah laku siswa dalam bentuk dapat diukur dan dapat diamati.
c. Menyatakan tingkat minimal perilaku yang dikehendaki.

3. Pengembangan Materi Pembelajaran
Sebelum memasuki kelas, kita harus meracang tentang apa yang mesti disampaikan kepada siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, dan pengalaman belajar siswa nantinya mengandung muatan pelajaran, muatan pelajaran mencakup kebutuhan siswa itu sendiri. Muatan pelajaran adalah materi yang disusun oleh guru atau tenaga pengajar, yang diambil dari sumber utama dan sumber penunjang.
Materi disusun berdasarkan tujuan, kompetensi dan indikator belajar yang telah dikembangkan sebelumnya. Kesesuaian materi yang dikemas dengan tujuan, kompetensi dan indikator merupakan jaminan bagi tercapainya hasil belajar yang diharapkan, demikian juga sebaliknya, bila materi disusun tidak merujuk ketujuan, kompetensi dan indikator, maka akan menjauh kan dari capaian hasil belajar yang optimal.

4. Mengembangkan Alat Ukur Keberhasilan
Alat pengukur keberhasilan siswa perlu didirancang sebelum naskah program sumber belajar ditulis atau sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan. Alat ini dapat berupa tes, penugasan atau daftar cek perilaku. Alat pengukur keberhasilan harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan pokok-pokok materi pelajaran yang akan disajikan kepada siswa. Alat pengukur keberhasilan harus bisa digunakan secara tepat saat dibutuhkan dalam pembelajaran, dengan alat pengukur keberhasilan ini bisa dilihat keberhasilan siswa belajar dengan menggunakan sumber belajar yang ada.

5. Pemilihan Jenis Sumber Belajar
Sumber belajar dalam proses pembelajaran mempunyai arti yang cukup penting karena ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan sumber belajar sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan sumber belajar. Sumber belajar dapat mewakili apa yang kurang mampu diucapkan oleh guru dengan kata-kata atau kalimat tertentu, dan dengan demikian anak didik lebih mudah mencerna bahan yang dipelajarinya.

Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Karakter Peserta Didik

Pengembangan media pembelajaran menjadi penting berbasis karakter peserta didik menjadi sangat penting, hal ini berdasarkan kondisi dan karakteristik siswa yang hendak diberikan pengetahuan melalui kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru harus pandai-pandai dan mengetahui psikologi kondisi kelas dan siswanya, sehingga guru bisa memilih media yang elastis dengan kondisi yang ada.
Sebelum memilih media pembelajaran yang akan digunakan, ada beberapa criteria yang harus diperhatikan oleh guru. Sehingga pemilihan media pembelajaran tersebut adalah yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran dan siswa memperoleh hasil belajar yang baik.

Dalam memilih media pembelajaran ada beberapa kriteria yang digunakan yaitu: 
1. Ketepatannya dengan tujuan pengajaran: Media pengajaran yang dipilih atas dasar tujuan tujuan instruksional yang telah di tetapkan. 
2. Dukungan terhadap isi bahan pelajaran: Bahan pelajaran yang sifatnya fakta, peinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa. 
3. Kemudahan memperoleh media: Media yang digunakan mudah diperoleh, mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. 
4. Ketrampilan guru dalam menggunakannya: Diharapkan guru dapat berinteraksi dengan siswa pada waktu menggunakan media tersebut. 
5. Tersedia waktu untuk menggunakannya: Media bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung. 
6. Sesuai dengan taraf berpikir siswa, sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh siswa.

Ilustrasi Implementasi Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Berbasis Karakter Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Fiqh Bab Shalat Kelas VII Tsanawiyah
1. Pada tahap awal, guru membuka pembelajaran dengan salam. Kemudian ketua kelas diminta memimpin doa jika pelajaran yang dilaksanakan merupakan jam pelajaran pertama
2. Guru memimpin pembacaan fatihah yang dihaturkan kepada Rasulullah dan guru-guru beserta pejuang pendidikan untuk mengharap keberkahan dan manfaat dari ilmu yang akan dipelajarinya
3. Guru meminta siswa membuka sumber belajar yang tersedia, seperti buku, LKS, dll.
4. Guru menentukan metode pembelajaran yang inovatif dan elastis dengan materi yang akan disampaikan.
5. Penyajian materi dikolabotari dengan metode yang elastis dan dengan materi dan kondisi psikologi siswa. Materi disajikan dengan mudah dan menarik dan ditampilkan melalui media yang adaptif.
6. Metode yang variatif dalam mengajar akan menghndari spekulasi pada guru bahwa guru ini mengajar dengan cara yang stagnan, statis dan begitu-begitu saja sehingga membuat murid bosan.
7. Guru memilih media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa. Dalam hal ini media yang sangat mendukung untuk menampilkan materi bab shalat ialah proyektor dan juga youtube dengan catatan contoh yang ditampilkan dalam youtube tersebut sesuai dengan kaidah yang ada dalam sajian di kitab-kitab.
8. Guru menyajikan materi pelajaran sesuai dengan apa yang sudah dipaparkan dalam format rencana pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan ini disusun dengan menyesuaikan karakteristik siswa di kelas, mengingat masing-masing kelas mempunyai perbedaan karakter.
9. Guru membuka lebar pintu untuk bertanya bagi siswa, dalam hal ini metode demontrasi merupakan metode yang sesuai dan memberikan siswa untuk aktif. 
10. Selain materi disampaikan dengan sajian yang menarik melalui Media Proyektor, Guru harus memberikan contoh yang ditampilkan dalam bentuk gambar yang kemudian dicontohkan oleh gurunya dan murid diminta mengikutinya.
11. Dalam menyampaikan materi shalat, tidaklah bisa disampaikan dengan baik dan dengan hasil yang maksimal tanpa adanya contoh dan praktek yang baik.
12. Menampilkan contoh yang disambil dari youtube merupakan cara yang baik, sehingga menanamkan persepsi bahwa materi yang ditampilkan melalui proyektor terlihat berkelanjutan dengan dikembangkannya melalui contoh yang tersedia pada youtube.
Berikut Skema Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Karakter Siswa.



KESIMPULAN
Strategi pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran dengan berbasiskan karakter peserta didik cukup prospektif. Hal ini dikarenakan keberadaan sumber belajar dan media pembelajaran selalu terdapat keterkaitan, bahkan tidak bisa dipisahkan dengan kondisi karakter peserta didik di kelas. Sehingga pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran yang baik harus terintegrasi dengan realitas peserta didik di kelas.
Pengembangan media pembelajaran menjadi penting, hal ini berdasarkan kondisi dan karakteristik siswa yang hendak diberikan pengetahuan lelalui kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru harus pandai-pandai dan mengetahui psikologi kondisi kelas dan siswanya, sehingga guru bisa memilih media yang elastis dengan kondisi yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
Aswan Zain dan Bahri Syaiful Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: RinekaCipta, 1997)
Arief. S. Sadiman, Media Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005)
Hadari Nawawi, Pendidikan dalam Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993)
https://www.liputan6.com/global/read/5051493/daftar-negara-dengan-pendidikan-terbaik-tahun-2022-ini-posisi-indonesia#:~:text=Negara%20Indonesia%20sendiri%20mendapatkan%20peringkat,peringkat%2055%20pada%20tahun%202020.
M. Syahran Jailani, Abdul Hamid. Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Karakter Peserta Didik (Ikhtiar optimalisasi Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Nadwa, Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 10, Nomor 2, Oktober 2016
Mukhtar dan Iskandar, Desain Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (Sebuah Orientasi Baru),(Jakarta: Gaung PersadaPress, 2010) 
Muhammad Attiyah Al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Terj. Bustami A. Gani dan Djohar Bahry, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974)
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2011)
Teni Nurrita. Pengembangan Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Misykat, Volume 03, Nomor 01, Juni 2018


Label: , , , , ,

Minggu, 26 Juni 2022

MODERNISASI PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN DI INDONESIA



A. Modernisasi Pendidikan Pondok Pesantren

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan islam tradisional yang lahir dan bertumbuh kembang seiring dengan datangnya Islam ke tanah Jawa. Maka, dengan demikian pondok pesantren menjadi lembaga pendidikan yang tertua di masyarakat Indonesia.

Pendidikan pondok pesantren sudah berkembang jauh sejak dahulu sebelum kemerdekaan, kurang lebih sekitar tahun 1700 an, dahulu pesantren di kenal sebagai lembaga pendidikan yang hanya mengajarkan keilmuan seputar agama saja, seperti seputar Ilmu stilistika yang mencakup balaghoh, bayan dll, juga menyampakan keilmuan terkait nahwu, shorrof hingga keilmuan fiqh, tasawuf, tafsir, hadits dll. Dengan demikian menjadi maklum ketika dari pesantren lahir banyak ulamak, pendak i, ustadz dan seterusnya. Mereka dibekali banyak keilmuan ketika masih di dalam pesantren, dididik sedemikian rupa sehingga mereka selalu siap untuk enyampaikan apa yang sudah didapatkan dalam pesantren.

Orang yang menuntut ilmu dalam pesantren dikenal dengan sebuta santri, santri yang tidak pernah ada ceritanya takut untuk bekerja setelak menyatri, santri yang selalu yakin akan masa depannya meskipun berhenti mondok langsung berkeluarga, santri yang selalu menyapaikan dan menebar kebaikan di manapun tempat berjuang setelah di pesantren, santri yang selalu ta’dzim dan hormat kepada guru ngaji, kiyai dan orang tuanya, santri yang mendahulukan akhlak dari pada akal dan pengetahuannya.

Pondok Pesantren menjadi tempat terfavorit untuk orang tua menitipkan putra putrinya dalam rangka belajar pendidikan agama islam, pesantren sejak dulu dikenal dengan lembaga pendidikan yang cukup padat kegiatannya, mulai dari subuh hingga mau tidur malam dengan sekian banyak kegiatan.

Pondok pesantren tumbuh dan berkembang dan terus berkembang seiring dengan adanya banyak harapan dari masyarakat terkait pendidikan yang dibutuhkan untuk kehidupan beragama, pendidikan pondok pesantren berembang dengan dasar motivasi agama itu sendiri, sehingga di antara tujuan pendidikan pesantren ialah untuk syiar agama, yakni menyampaikan ajara agama islam dengan melakukan pembinaan pada pengetahuan, kecakapan dan sikap ataua akhlak secara luas. Sehingga pendidikan pondok pesantren bertujuan untuk mencetak santrinya menjadi manusia yang mempunyai kepribadian khusus, keilmuan khas dan kemampuan atau skill dalam berbagai hal, kususnya ahli dalam bidang keilmuan agama.

Sehubungan semakin bervariasinya problematika yang ada dengan diiringi berkembangan zaman yang semakin meningkat dan tuntutan zaman yang terus mendesak, sehingga pendidikan dalam pesatren tidak dapat terus menerus bertahan dengan ciri khasnya sejak dahulu, yakni pendidikan dalam pesantren yang tidak mengajarkan keilmuan yang ada dalam pendidkan formal. Tuntutan masyarakat yang semakin mendesak, membuat pendidika dalam pesantren sedikit mengalami transformasi atau perubahan untuk mengimbangi perkembangan zaman, modernisasi terus diupayakan guna menyiapkan santri yang unggul dan tidak tertinggal dengan pendidikan luar. Dengan demikian santri juga bisa berdaya saing dengan siswa pada umumnya, justru santri memiliki nilai plus dalam keilmuan agama.

Dengan terus berkembangnya keadaan dan meningkatnya kemajuan teknologi, modernisasi keadaan terus meningkat. Lambat laun banyak pesantren yang melakukan modernisasi dengan melakukan memasukkan pendidikan formal di dalamnya, baik itu pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK, MA. Semuanya diadopsi untuk memberikan keilmuan lebih pada santrinya dan juga menjawab harapan masyarakat yang menginginkan putra putrinya untuk nyantri namun di sisi lain juga mendapatkan pendidikan formal, sehingga dengan demikian mereka juga bisa berdaya saing dalam skala global di lintas dunia.

Pendidikan pesantren terus mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat luas, pertumbuhan pesatrenpun juga semakin meningkat dan berlomba-lomba dalam mencetak generasi yang unggul dan berkualitas, hal ini terbukti dengan banyaknya lulusan pesantren yang menduduki kursi-kursi penting di pemerintahan. Baik dari menjadikepala desa, camat, bupati, wali kota, gubernur, anggota DPR hingga menjadi presiden dan wakil presiden. Santri yang dahulunya dikenal dengan kolot dan sering kali dipandang sebelah mata dikarenakan tidak mempunyaiijazah akhirnya terjawabkan, meskipun ijazah tida menentukan kualitas keilmuan seseorang, namun dengan mempunyai ijazah kemudian keilmuan yang sudah berkualitas sdari sananya menjadi lebih dan keilmuannya diakui oleh masyarakat luas.

Banyak santri yang keilmuannya sangat-sangat berkualitas dan baik, namuan dikarenakan tidak mempunyai ijazah yang di akui oleh negara mereka sering dinomor duakan, begitulah fakta yang ada. Dengan adanya pendidikan formal pendidikan santri menjadi semakin mantap dan menjadi jurus jitu untuk santri dalam keikutsertaannya untuk andil dalam perubahan, perkembangan dan kemajuan Indonesia.

B. Desain Sistem Pendidikan dalam Pesantren

Dengan terus perkembangan pendidikan pesantren, ada pula pesantren yang tetap mempertahankan kesalafannya tanpa memasukkan pendidikan formal di dalamnya, ada pula yang mengkombinasikan dengan sistem salaf dan modern, ada pula yang langsung mengatas namakan dirinya sebagai lembaga pendidikan pondok pesatren modern dan seterusnya. Yang jelas dibalik perbedaan tersebut ada banyak kemaslahatan dan mempunyai vsi isi yang berbeda namun tetap denfan tujuan yang sam, yakni menyiarkan agama islam, menyampaikan keilmuan kepada masyarakat luas dan membentuk santri yang berilmu, beriman, berakhlak dan unggul. Tentunya menjadi umat kebanggaan Nabi Muhammad.

Jika kita melihat fakta yang ada, sebagaimana yang penulis sampakan di atas bahwa pendidkan pesantren sejak dahulu sudah menyumbangkan banyak hal untuk Indonesia raya. Dahulu, bisa kita lacak bagamana satri dan kiyai ikut andil dan berada di garda terdepan untuk ikut serta memperjuangkan kemerdekaan, pendidikan pesantren banyak mencerdaskan masyarakat, pendidikan pesantren banyak mencetak santri yang mampu memimpin baik itu dari tingkat desa hingga memimpin negara yang besar, yakni Indonesia raya.

Dengan demikian, maka pendidikan pesantren tidak diragukan lagi keilmuan yang disampaikan kepada santri dalam sehari-hari. Dalam pesatren sudah dipraktekkan pedidikan full day, bahkan sampai malam hari. Sehingga dalam pesantren dikatakan apapun yang didengar, dilihat dan dirasakan merupakan pendidikan untuk santri. Bagaimana satri dididik untuk mandiri dalam hal apapun, dilatih untuk tidak cengeng dan siap dengan kondisi apapun. Dari sinilah kemudian lahir anak bangsa yang tangguh, berakhlak, beriman, dan berpegang teguh pada ajara islam.

 

Modernisasi pendidikan pondok pesantren adalah jawaban dari pondok pesantren terhadap perubahan zaman, perkembangan yang terus menerus meningkat, dan kebutuhan atau harapan dari masyarakat. Maka dalam hal ini pendidikan pondok pesantren telah ikut andil dalam hal melakukan perubahan besar dalam lingkup keilmuan untuk menjamin keberlangsungan dan ketahanan pendidikan yang diselenggarakannya. Meski pondok pesantren melalukan modernisasi pendidikan namun tetap mempertahankan tradisi pesantren itu sendiri dengan tetap mengajarkan kitab-kitab salaf dan keilmuan lainnya. Modernisasi yang dilakukan dalam pesantren mencakup perubahan dalam lingkup aspek-aspek kurikulum (materi pembelajaran), metode, dan sistem evaluasi dengan menghadirkannnya pendidikan formal di dalamnya.

Pesantren menjadi lembaga pendidikan yang secara istiqamah menjaga nilai-nilai dan ajaran Islam, pondok pesantren tetap mempertahankan sistem pendidikan tradisionalnnya yang menekankan pada penguasaan kitab-kitab klasik, namun pada sisi lain tetap melakukan inovasi pendidikan yang dilaksanakan sehingga pesantren tetap dapat eksis di zaman yang terus berlangsung dan komplek  perubahan dan tuntutan zamannya. 





Label: , , , ,

Minggu, 27 Februari 2022

EPISTEMOLOGI PEMIKIRAN ISLAM ABID AL-JABIRI - Makalah dan Jurnal

Pemikiran Islam Abid Aljabiri

A. EPISTEMOLOGI PENDAHULUAN

Permasalahan pada peradaban Islam arab selama ini dianggap seperti permasalahan antara model paradikma barat dan paradikma kunol yang otentik dan mencakup semua aspek hidup. Banyak tokoh atau pemikir muslim yang menyuarakan seperti apa seharusnya kebangkitan Islam itu dimulai, mencari penyebab kemunduran Islam dan bagaimana seharusnya memulai pembaharuan dan kemajuan. 

Umat Muslim sejauh ini jika dilihat dalam menghadapi tantangan modernitas maka lebih cenderung pada jalan bersembunyi di balik justifikasi teks. Yang demikian ini membuat umat muslim cenderung pada tekstual dalam menjawab permasalahan zaman. 

Muhammed al-Jabiri merupakan filsuf muslim yang hadir dari maroko. al-Jabiri bagian dari pemikir terkemuka dalam pemikirannya tentang relevansi tradisi pada zaman yang maju atau modernis. Diantara pemikiran al-Jabiri ialah tentang modern itu sendiri, aljabiri begitu semangat dalam membangun epistem baru yang relevan dengan perkembangan zaman. Ia begitu tidak puas pada pembaharuan yang sudah ada, menurut al-Jabiri mereka begitu berlebihan  menyanjung pencapaian kejayaan islam dahulu sehingga lebih cenderung mengabaikan keadaan masyarakat pada zaman yang sudah modernis.

Menurut Muhammed Abid alJabiri tradisi bukan produk yang satu kali jadi, tradisi merupakan permasalahan sejarah yang berkembang di antara manusia, saling mengisi satu dengan lainnya, dan saling mengkritisi serta bahkan bisa saling menjatuhkan. Karena tradisi ialah sesuatu yang datang dan menyertai kehidupan kita, ia merupakan perkara yang hadir dari masa lalu kemudian menjadi hal yang diingat lalu melahirkan cara berfikir pada memori yang ada. Sehingga hal itu jadi pembentuk daya ingat yang kolektif dan bisa membatasi munculnya sikap ilmiah dan rasional terkait tradisi sendiri, pun juga memberi pandangan yang rasional padanya.

Abid al-Jabiri menguasai teori yang dibawa oleh Karl Marx. Akan tetapi dengan majunya pemikiran al jabiri dan juga setelah baca buku karyanya Yves Lacostee yang bersikap membandingkan terhadap pemikiran Ibn Khaldun dengan Karl Marx, al-Jabiri mulai ragu pada keefektifitasan pendekatan Marxian pada kontek sejaran pemikiran Islam.


B. BIOGRAFI MUHAMMAD ‘ABED AL-JABIRI

Al-Jabiri merupakan seorang yang memposisikan dirinya sebagai pemikir asal Maroko, ia pemikir islam dari sekian pemikir muslim modern yang punya kepedualian pada permasalahan tradisi dan modernism. Dia dikenal karena proyek dalam bentuk kritik nalar Arab dalam membangun kiritik pada pemikiran Arab-Islam. proyek utamanya ialah membangun ulang semangat kritiss dan rasiional dengan membukakan tentang lemahnya nalar kuno ketika menghadapi sekian modernism dan juga kegagalan-kegagalan cara berfikir modernis, yang khususnya pada bidang agama yang di akhirakhir ini malah menunjukkan keterpurukan atau mkemerosotan  dunia Islam secara keseluruhan.

Aljabiri lahir tepat 27 Desember 1935 di Maroko. Ia besar dan tumbuh dengan keluarga yang mendukung parti istiqlal, yakni partai yang berjuang untuk kemerdekaan Maroko yang diabawah koloni prancil dan juga spanyoll. Setelah maroko merdeka maka negara maroko mengenal dua bahasa resmi yaitu arab dan juga Perancis.

Gelar doctor ia dapat diuniversitas Muhammad V Rabat maroko di tahun 1970, dengan disertaisi yang bahas pemikiran Ibnu khaldun yaitu Fanatisme dan Negara: Elemen Teoritik Khaldunian dalam Sejarah Islam. Al-Jabiri banyak menyelesaikan pendidikannya dari0tingkat dasar sampai perguruan tinggi di tanah kelahirannya. 

Tugas atau proyek pembaharuan mendorong abid untuk terus menganalisa gambaran sosial politik dan terbentuknya nalar Arab Islam yang ada,al-jabiri sekaligus menganalisisa dengan dalam terkait mekanisme struktur cara kerja nalar Arab yang sering terjadi saling benturan dalam memperebutkan0hegemoni di tengah budaya Arab Islam.

Kritik nalar arab yang dilakukan aljabiri sebagai upaya untuk menghasilkan prodak teori yang dibentuk oleh kebudayaan yang menggambarkan keadaan realita dan ambisi pada masa depan. Sikap perhatiannya yang fokus pada cara berfikir atau pemikiran sebagai sebuah perangkat berfikir bukan hanya sebatas sebagai produk. Maka dengan demikian0wilayah dalam kritik yang dikembangkan sayapnya merupakan wilayah epistemologi.

Abid aljabiri mengawali kritiknya dengan menaruh nalar arab terlebih dahulu pada posisi yang sama dengan nalar yunani dan juga eropa. Ketiga nalar itupun memunyai kesamaan karakter, ketiga nalarnya dibangun dengan pemikiran atau teori yang bersifat rasional dan memberjelas pada hubungan antara tuhan, manusia dan alam semesta. Perbedaan ketiganya berada pada pemahaman tentang keberadaan tuhan itu sendiri.

Adapun konsep tuhan didalam nalar pemikiran yunani pada akal baru muncul setekah adanya alam. Sedangkan di pemikiran barat tidak ditemui onsep tentang tuhan. Akal secara universal yang di persepsi sebagai tuhan dalam nalar yunani justru dalam nalar barat diposisikan dengan hokum mutelak bagi akal manusia. 

Di dalam nalar pemikiran arab disebutkan bahwa alam memainkan peran sebagai petunjuk untuk manusia dalam menyingkap tuhan dan menjelaskan terkait hakikatnya sendiri. Akalbdiharapkan agar bisa merenungkan alam untuk bisa sampai pada penciptanya atau wushul kepada sang pencipta dan mengetahui betapa agungnya dan kuasanya tuhan. 

Terkait pengetahuan, pengetahuan itu sendiri sangat terikat dengan pengalaman pada akal yang ditangkap oleh panca indera dari sekian fakta atau realita yang telah terjadi. Sedangkan nalar arab tidak menampakkan epistemology yang berurutan. Epistemology naar arab berlombat-lompat dan sangat gampang pindah dari satu episteme kepada episteme yang lainnya.

Maka dengan demikian aljabiri mengusulkan pencatatan ulang pada sejaran pembangunan nalar arab. sejauh ini sejarah yang ada ditulis dan diajarkan di ekolah hanya sebatas sejara yang bersifat opini. Catatan sejarah sendiri yang sudah ada membiarkan keadaan ini dengan tumpang tindih karena itulah dibutuhkan penyusunan ulang sejarah keilmuan arab yang berorientasi pada nalar keilmuan.

Aljabiri menguslkan hal itu dengan tujuan agar titik tolak sejarahnya dalah era kodifikasi, yaitu dengan meletakkan era kodifikasi sebagai titik tolak sejarah. Aljabiri lalu membagi sejarah nalar arab menjadi tiga masa, yakni masa sebelum, selama dan setelah kodifikasi.

Semua yang diketahui pada era kofidifikasi dibentuk pada era kodifikasi an juga segala hal yang setelah era kodifikasi tida bisa difahami dnegan mengaitkan pada era odifikasi. Adapun benang merah yang merangkai sebagai gambaran dari ketiga nalar ara tersebut dan membentang sampai bentuk realitas keadaan yang umum dalam kebudayaan islam arab.

Dengan cara menelusuri pada apa yang disebut dengan benang merah inilah aljabiri kemudia menemukan yang disebut dengan bayani, irfani dan burhani. Ketiga pengetahuan ini memang terlihat tumpang-tindih, namun dengan kita uraikan latar belakang epistemologinya maka tiga system pengetahuan ini bisa dilacak dengan epistemologinya dalam kebudayaan arab pada masa yang begitu jauh sebelum era kodifikasi sendiri. Masa itu ialah era kodifikasi kuno. Kebudayaan arab kuno itulah yang kemudian menjadi pondasi dasar dalam mengembangkan keilmuan pada masa kodifikasi.


C. TRILOGI NALAR ALJABIRI 

Definisi epistimologi menurut AlJabiri sendiri ialah sejumlah konsep dan prinsip dasar beserta aktivitas dalam upaya untuk mendapatkan pengetahuan di suatu era historis tertentu, yakni struktur bawah sadarnya. Abid al-jabiri berusaha untuk mengenalkan pemikirannya sebagai system atau lebih tepatnya sebagai epistemelogi yang berada pada nalar bayani, rfani dan burhani.

Pengetahuan pada ranah pemikiran islam saat dihadapkan dengan tradisi maka tidak akan diperoleh tanpa menggunakan paradigm yang utuh yang sifatnya objektif, kritis dan rasional. Maka dibutuhkan merode yang dapat digunakan untuk batu loncatan sebagai sarana berfikir yang kritis dan objektif. Metode structural menganggap hal itu sesuai berdasarkan sifatnya yang terikat dengan suatu system beserta pemisahannya dengan objek pembaca maupun konteksnya sendiri. Lalu agar dapat menghasilkan instrument yang baik dan sempurna dengan tujuan bisa menyesuaikan antara tradisi dan masa sekarang maka metode yang sifatnya rasional diadopsi dan dikombinasikan dengan tujuan dapat menghasilkan cara berfikir yang utuh0dan saling melengkapi.

Wacana pembacaan pada tradisi dalam pemikiran arab islam itu ada tiga pembacaan yang berbeda-beda. Ketiga pembacaan itu ialah syarat untuk bisa membuka konteks dan maknanya. Adapun yang pertama ialah pembacaan yang fundamentalis. Konsep ini melihat sejarah sebagai suasana yang dikembangkan pada masa sekarang. Fundamentalisme memposisikan spiritual sebagai penggerak sejarah dan fakto yang lain diposisikan yang tergantung pada spiritual. Pembacaan yang kedua ialah pembacaan yang liberal, yakni pembacaan ang lebih ke gaya pembacaan gaya eropa yang menjadi titip tumpu, konsepnya tradisi yang menjadikan anggapan masarakat arab yang liberal tentang tradisi islam arab berasal dari barat. Adapun pembacaan yang ketiga ialah marxisme, yakni rencana untuk melakukan pemulihan pada tradisi agar dapat menjadikan revolusi dan menjadikan pijakan yang kyuat untuk tradisi. Tapi pembacaan ini tidak menggunakan metode dialek untuk metode yang akan dipakai, melainkan sebatas metode yang sudah digunakan.

Abid memperoleh tiga pembacaan itu saling memiliki kelemahan yang mudah disalahkan. Hal itu dikarenakan adanya kelemahan yang melingkupidalam metode dan visinya. Menurut aljabiri metode yang dipakai itu kurang objektiv dan visi yang digunakan punya kekurangan dalam segi historis. Terkhusus pada pembacaan maxisme yang hanya bisa membuktikan kehebatan metode itu sendiri, ini merupakan alasan mengapa mpembacaan hapir tidak seproduktif sama sekali menurut pemikiran aljabiri.

Semua pemikiran arab modern ditandai dengan adanya kekurangan sikap objektivitas serta perspektif dari segi historis. Dengan demikian menjadikan pemikiran arab sendiri tidak bisa menawarkan apapun dari tradisi kecuali hanya pembacaan yang sifatnya fundamentalis dalam menyikapi masa dahulu dengan sesuatu yang bersifat transenden dan sakral, dengan terus berusaha mencarikan solusi di dalam persoalan tradisi yang ada dan persoalan kekinian yakni persoalan yang ada pada masa kini dan juga masa depan. Perihal yang seperti ini juga berlaku dalam pemikiran madzhab dan juga merujuk pada pandangan yang menghubungkan dengan masa lalu ataupun model yang berdasar pada masa lalu. Maka dengan demikian abid menawarkan sebuah analisa yang begitu cermat dan bersifat kritis yang begitu dalam sebelum abid mengusulkan pembaharuan dan modernisasi nalar arap sendiri.

Dalam proses upaya memberi sebuah argument beserta mengungkapkan kritik nalar arab, aljabiri memakai tipologi tradisi bayani, irtfani dan burhani. Abid menyerukan agar membangun epistemology nalar arab dengan tiga metodologi pemikiran di atas.


Epistem Bayani

Epistem bayani merupakan model atau metodologi dalam berfikir yang berdasar pada teks, teks suci yang memiliki kekuasaan penuh untuk memberikan arah beserta kebenaran. Sedangkan rasio hanyalah sebatas berfungsi sebagai pembuka jalan atau pengawal bagi teramankannya kekuasaan ataupun otoritas dari teks tersebut.

Dalam jurnal alhikmah, yakni jurnal theosofi dan peradaban islam dijelaskan bahwa secara bahasa bayani berarti penjelasan. Berdasarkan beberapa makna aljabiri mengartikan bayani sebagai alfashl dan juga infishal yang dalam keterkaitannya dengan metodologi adan adduhur wal idhar berkaitan dengan visi daripada metode bayani sendiri.

Cara fikir bayani lebih mendahulukan analogi atau dikenal dengan qiyas meyerupaan dari pada logika ataupun mantiq yang melalui silogisme dan premis logika. Dalam tradisi bayani sendidi spistemologi tekstual pembahasan lebih dutamakan dari pada epistemology kontekstual analisa maupun spiritual genosis batiniyah. Kemudian disamping itu nalar epistemology bayani selalu bersikap curiga pada akal karena menganggap hal itu akan menjauhi kebenaran tekstual.

Sikap kecurigaan tersebut sampai pada titik kesimpulan bahwa wilayah kerja akal itu perlu untuk dibatasi sedemikian rupa dan peranna dialihkan menjadi pengatus dan pengekang hawa nafsu. Bukan untuk mencari sebab dan musabbab melalui analisa keilmuan yang akurat.

Dunia ialah wilayah yang berpisah atau entitas konkrit yang terbang bebas, dunia taka da kaitannya dengan apapun antara mereka kecuali dengan melalui kehendak tuhan semesta alam. Mudahnya jika si A terkait dengan B maka hubungannya itu menjadi tidak ilmiah, akan tetapi karena tuhan memang menghendakinya demikian. Teori yang atomisme berarti juga menyangkal terhadap hokum kausalitas atau sebab musabbab, yakni sebagai akibat dari penerimaan terhada prinsip serba bolehnya. Hal ini karena segala sesuatu berasal dari tuhan dank arena kehendak tuhan serta tidak ada satupun yang bisa membatasi kekuasaannya yang bisa membatasi. Maka secara logika saja kemungkinan untuk mengakui bahwa tuhan bisa saja mengumpulkan antara dua hal yang kontradiktif, seperti mempertemukan antara kertas dengan api tanpa melalui proses pembaaran kepada kertas terlebih dahulu.

Karena itu dalam peradaban islam diskusi seputar kajian bayani dikelompokkan menjadi dua kelompok, kelompok pertama terkait dengan aturan dalam menafsirkan wacana, sedangkan kelompok kedua terkait dengan syarat memproduksi wacana, tradisi untuk menafsirkan wacana tersebut sudah muncuk sejak zaman Nabi. Yakni ketika para sahabat hendak meminta penjelasan terkait makna lafadz yang terdapat dalam alquran, atau setidaknya sejak zaman khulafaurrasyidin yang mana banyak umat muslim yang bertanya kepada para sahabat tentang penjelasan makna ayat yang ada dalam alquran yang tidak difahami oleh salah satu orang.


Epistem Irfani

Irfani ialah lanjutan dari bapa bayani, hanya saja kedua pengetahuan tersebut berbeda satu sama lain. Bayani bendasari pengetahuan berpijak pada teks, dan irfani mendasari pengetahuannya pada kasy yakni tersingkapnya rahasia-rahasia tentang tuhan.. karena itu kemudian irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa terhadap teks, tetapi dari nurani hati yang bersih dan suci. Sehingga tuhan menyingkap sebuahpengetahuan.

Irfani bekerja dengan proses pemahaman yang berangkat dari makna tejs menuju lafadz teks. Permasalahannya adalah bagaimana cara mengungkapkan makna atau dimensi batin yang diperoleh dari prose kasf itu sendiri. Aljabiri mengungkapkan bahwa makna tersebut bisa diungkap dengan menggunakan cara yang disebut dengan qiyas irfani. Yakni analogi makna batin yang diungkapkan dalam kasf pada makna dzahir yang terdapat dalam teks.

Dari kalangan mereka, yakni irfanidalam dunia islam menjadikan istilah dzahir dan bathin sebagai sebuah konsep yang menjadi landasan cara berfikir dalam memandang dunia dan mempelakukan segala sesuatu. System berfikir yang mereka gunakan ialah berangkat dari yang bathin menuju yang dhahir. Dari makna menuju lafzd. Bathin bagi mereka merupakan sumber pengetahuan dikarenakan bathin merupakan hakikat sedangkan dzahir teks adalah penyinar saja.


Epistem Burhani

Burhani merupakan model metodologi dalam berfikir yang tidak berdasar atas teks ataupun pengalaman, tapi atas dasar keruntutan cara berfikir. Pada tahap tertentu keberadaan teks yang suci dan pengalaman spiritual bahkan hanya sebatas bisa diterima jika hal itu sesuai dengan aturan yang logis atau masuk akal.

Epistemologi burhani adalah episteme yang bersumber dari  realitas atau al-waqiiyah baik realitas alam dan social ataupun realitas humanitas mdan juga realitas agama. Ilmu yang muncul dari tradisi burhani disebut dengan al-ilm al huṣuli, yaitu ilmu yang dikonsep dan disusun serta disistematisasi melalui premis logika.

Adapun pondasi epistemology burhani itu dibangun oleh ilmuwan yakni alkindi. Menurutnya ada dua macam pengetahuan, yang pertama ialah pengetahuan para rosul yang didapatkan melalui ilham dan juga risalah kenabian. Yang kedua pengetahuan manuasia umum yang diperoleh dari usaha penalaran dan inderawinya. Menurut alkindi alam bersifat baru. Allah menciptakan alam dari ketiadaan dan tanpa elantara. Menurutnya akal dan indera dapat digunakan untuk mengonstruksi pengetahuan tentang alam.

Pandangan alkindi inilah yang kemudian0dikembangkan oleh alfarobi. Akal manusia sangat cukup mempunyai kekuatan dengan mengandalkan pribadinya sendiri. Akal tidak membutuhkan sumber yang dijadikan tempat kembali bagi perkara dan kondisi yang baru melalui analogi, dan juga tidak butuh pada ilham ataupun guru yang kemudian mentransfer pengetahuan. Di dalam  akal sudah terdapat asumsi dasar yang menjadi landasan bagi ilmu yang menjadikannya titik awal dan titik tolak dalam proses argumentasi dengan menyusun konsep qiyas burhani. Prinsip umum yang mengarahkan proses burhani adalah prinsip kausalitas atau sebab akibat.


KESIMPULAN

Mehammed aljabiri ialah filsuf yang juga sekaligus pemikir arab yang hidup dalam masa ranionalisme dan demokratis tidak lagi dihargai. Bahkan aljabiri sendiri dilecehkan oleh bangsa arab sendiri kala itu.

Aljabiri dalam mengkaji ataupun mengkritisi sebuah tradisi menggunakan pendekatan historis, objektif dan juga kontinuitas. Historis dan0objektivitas sama sama dalam arti pemisalahanantara si pebaca dan bjek bacaannya. Sedangkan kontinuitas menghubungkan sang pembaca dengan objek bacaannya yang kemudian kebenaran pengetahuan bisa divalidasi melalui episteme nalar bayani, irfani dan burhani.

Pemikiran abid aljabiri ini telah0memberikan banyak warna tersendiri dalam pembaharuan pemikiran islam. Kritik yang ditawarkan aljabiri membukan jalan yang lebar pada dunia islam terkait bangunan nalar-nalar epistemic yang selama hidup ditengah peradaban islam. Menurut aljabiri kesadaran itu palsu sebab secara teoritis menolak barat dengan semua modernitasnya. Tapi disisi yang lain dalam realitanya tida bisa melepaskan diri dari peradaban arab yang sudah berkembang dan mempengaruhinya.

Aljabiri menggemukakan bahwa sikap umat islam saat ini pada tradisinya sendiri harus memulai dari tradisi demonstrative yang bersifat harus rasional seperti halnya yang telah dikembangkan oleh tokoh pemikir islam yang ada di wilayah barat seperti ibnu hazm dan juga ibnu rusy dan ibnu kahldun. Model epistemology yang dikembangkan oleh mereka ialah rasional dan empiris, sebab sifatnya ilmiah. Model episteme inilah yang kemudian memiliki daya lawan dalam menghadapu tantangan internal dan eksternal.


DAFTAR PUSTAKA

Nurfitriyani Hayati, Epistemologi Pemikiran Islam Abed Al-Jabiri dan Implikasinya Bagi Pemikiran Keislaman,Journal Of Islamic & Studies, Vol. 3 No. 1  Januari-Juni 2017 

Ahmad Baso, Muhammad Abid Al-Jabiri,  Post-tradisionalisme Islam, penj. (Yogyakarta: LkiS, 2000)

Achmad Bahrur Rozi, Menimbang Gagasan Epistemologi Islam Al-Jabiri Sebagai Solusi Kebangkitan Islam Modern, Empirisme, Vol. 27 No. 2 Juli 2018 | 73-86

Muhammad  Abed  al-Jabiri,  Kritik  Pemikiran Islam; Wacana Baru Filsafat Islam, penj. Burhan (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002)

M. Aunul Abied Shah (et. al), Islam Garda Depan: Mosaik Pemikiran Islam Timur Tengah (Bandung: Penerbit Mizan, 2001),

M. Faisol, Struktur Nalar Arab-Islam Menurut Muhammad Abid al-Jabiri, Jurnal Tsaqafah, Vol. 6, No. 2, Oktober 2010

Mahir Badul Qadir Muhamad, Falsafah al-Ulum, Ru’yah Arabiyah: al-Madkhal al Nazhari (Aleksandria: Dar al-Ma’rifah al-Jami’iyah, 1999)

Bagus Mustakim, Pemikiran Islam Muhammad Abed Al-Jabiri: Latar Belakang, Konsep Epistemologi, Urgensitas Dan Relevansinya Bagi Pembaruan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, Journal Of Research And Thought Of Islamic Education Vol. 2, No. 2, 2019

Arini Izzati Khairina, “Kritik Epistemologi Nalar Arab Muhammad Abed Al-Jabiri”, El-Wasathiya: Jurnal Studi Agama, Vol. 4, No. 1, 2016, h. 105-116.

Nurliana Damanik, jurnal al-hikmah (jurnal theosofi dan peradaban islam), Vol. 1 No. 2 Juni-November 2019 e-ISSN : 2655-8785

M. Amin Abdullah, “at-Ta’wil al-‘Ilmi: Ke Arah Perubahan Paradigma Penafsiran Kitab Suci,” dalam Jurnal al_Jami’ah, Journal of Islamic Studies, Vol. 39, No. 02 (2001)

A. Khudori Sholeh (ed.), “Model Epistemologi Islam Al-Jabiri dalam Pemikiran Islam Kontemporer (Yogyakarta: Jendela, 2003)

Al-Jabiri, Bunyat al-Aql

Mohammad Abed Al-Jabiri, Formasi Nalar Arab; Kritik Tradisi Menuju Pembebasan dan Pluralisme Wacana Intereligius, 













Label: , , , , , , , ,

Sejarah Peradaban Islam Pada Kejayaan Islam Masa Harun Al-Rasyid - Makalah

SPI

 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah, umat Islam telah membuat jalan baru bagi kehidupan akal dan perkembangan ilmu pengetahuanHal ini merupakan hasil logis dari zamannya sendiri setelah mengalami perubahan sejarah perkembangan pemikiran dari berbagai bangsa,terutama Persia, melalui jalan yang sama dengan evolusi kemajuan yang bertingkat-tingkat, namun merupakan mata rantai yang tersambung.

Kecintaan para khalifah, kepada ilmu pengetahuan sangat mendukung perkembang ilmu pengetahuan pada masa itu. Bahkan rakyatnya pun sangat berminat dan memiliki peranan penting. Hal ini menunjukkan bahwai Dinasti Abbasiyah sangat menekankan pembinaan pada peradaban dan kebudayaan Islam. Popularitas Daulah Abbasiyah, mencapai puncaknya pada zaman khalifah Harun ar-Rasyid dan putranya Al-Ma’mun. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Namun puncak kegemilang pemerintahan Abbasiyah atau boleh dikatakan zaman paling gemilang dalam sejarah Islam adalah pada kekhalifahan Harun ar-Rasyid. Pemerintahan ketika itu menikmati segala bentuk kebesaran kekuasaan dan keagungan ilmu pengetahuan. 

Ia amat disegani dan dihormati oleh negara-negara lain. Di dalam negeri kedudukan Harun ar-Rasyid lebih hebat daripada peristiwa-peristiwa dan kekacauan yang timbul di beberapa tempat. Harun ar-Rasyid, dikenal di seluruh jagad sebagai penguasa terbesar  di dunia. Pada masanyalah terdapat pemerintahan muslim yang paling cemerlang di Asia. 

Kisah Seribu Satu Malam telah menunjukkan  kekaguman kepada khalifah yang sering turun ke jalan-jalan di Baghdad untuk memperbaiki ketidakadilan dan membantu kaum tertindas. Ia taat menjalankan ajaran agama, tidak menyentuh minuman keras, saleh dan dermawan, namun ia gemar sekali hidup dalam penuh kemegahan sebagai lambang keagungannya. Agaknya karena fenomena inilah sehingga Abu Yusuf berkata bahwa pada diri Harun ar-Rasyid sebagai seorang khalifah, telah terkumpul padanya berbagai sikap dan watak yang saling berbeda, dalam waktu yang bersamaan, ia seorang tentara yang memiliki watak keras, seorang raja yang hidup bermewah- mewah, dan seorang yang berpegang teguh kepada agama dan takut kepada Allah. 

Keperibadian Harun ar-Rasyid telah menyebabkan munculnya dongeng-dongeng rakyat dan menyebarkan pengaruh besar karena wataknya yang luhur terhadap masyarakat.


B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana biografi Harun ar-Rasyid?

2. Bagaimana peranan Harun al-Rasyid dalam kekhalifahan Abbasiyah?

3. Bagaimana kemajuan yang dicapai pada masa Harun al-Rasyid?


C. Tujuan Pembahasan

1. Untuk mengetahui biografi singkat Harun al-Rasyid 

2. Untuk mengetahui peranan Harun al-Rasyid dalam kekhalifahan Abbasiyah

3. Untuk mengetahui kemajuan yang dicapai pada masa Harun al-Rasyid


BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi Singkat Harun ar-Rasyid

Harun ar-Rasyid, dilahirkan pada bulan Pebruari tahun 763 M di Rayy. Ayahnya bernama Al-Mahdi bin Abu Ja’far al-Mansyur, khalifah ketiga dari dari Bani Abbasiyah. Ibunya bernama Khaizuran, seorang wanita sahaya dari Yaman yang dimerdekakan oleh  Al1Mahdi. 

Harun ar-Rasyid memperoleh pendidikan di istana, baik pendidikan agama maupun ilmu pemerintahan. Ia dididik oleh keluarga Barmaki, Yahya bin Khalid salah seorang anggota keluarga Barmak yang berperan dalam pemerintahan Bani Abbas, sehingga ia menjadi terpelajar, cerdas, pasih berbicara dan berkepribadian yang kuat. 

Karena kecerdasannya, walaupun usianya masih muda, ia sudah terlibat dalam urusan pemerintahan ayahnya. Ia pun mendapatkan pendidikan ketentaraan. Pada masa pemerintahan ayahnya, Harun ar-Rasyid dipercayakan dua kali memimpin ekspedisi militer untuk menyerang Bizantium (779-780) dan (781-782) sampai ke pantai Bosporus. Ia didampingi oleh para pejabat tinggi dan jenderal veteran. 

Sebelum menjadi khalifah, ia pernah memegang jabatan gubernur selama dua kali, di as-Saifah pada tahun 163 H \779 M dan di Magribi pada tahun 780 M. Setelah sempat dua kali menjadi gubernur, pada tahun 166 H/782 M Khalifah Al-Mahdi mengukuhkannya menjadi putra Mahkota untuk menjadi khalifah sesudah saudaranya, Al-Hadi, dan setelah pengukuhannya empat tahun kemudian yakni tepatnya pada tanggal 14 September 786 M Harun ar-Rasyid memproklamirkan diri menjadi khalifah, untuk menggantikan saudaranya yang telah wafat.

Setelah menduduki tahta kekhalifahan, ia pun mengangkat Yahya bin Khalid sebagai wazir (perdana menteri) untuk menjalankan roda pemerintahan dengan kekuasaan tidak terbatas. Ia berkata kepada Yahya: “Sesungguhnya Aku serahkan kepadamu urusan rakyat, tetapkanlah segala sesuatu menurut pendapatmu, pecat orang yang patut dipecat, pekerjakanlah orang yang pantas menurut kamu dan jalankan segala urusan menurut pendapatmu”.

Sang khalifah tidak secara niscaya diharapkan mengambil peran pribadi dalam pemerintahan, namun pada masalah-masalah yang menjadi keprihatinannya secara pribadi atau menjadi kepentingan khusus seperti derma, maka ia cenderung campur tangan (Hodgson, 2002: 77).

Masa pemerintahan Bani Abbasiyah, khalifah sangat diharapkan melaksanakan dua kewajiban serimonial yang cukup berat ia harus memimpin ibadah salat Jumat di ibukota, paling tidak pada peristiwa- peristiwa khusus. Dalam hubungan ini, sang khalifah menunjukkan diri sebagai pewaris Muhammad

Namun pada diri khalifah Harun ar-Rasyid dan sebagian besar yang mengikutinya, lebih suka menyerukan kepemimpinan aktual pada seorang wakil, sedang mereka sendiri hanya membentuk ma’mun, meskipun ditempatkan dengan aman disuatu tempat yang secara khusus dirancang dalam mesjid yang disebut maqshurah. Khalifah Harun menunjukkan contoh kepemimpinan yang tidak otoriter atau memonopoli segala urusan.

Pribadi dan akhlak Harun, suka bercengkrama, alim dan sangat dimuliakan, beliau berselang seling menunaikan haji dan turun ke medan perang dari tahun berganti tahun. Beliau bersembahyang seratus rakaat setiap hari dan pergi menunaikan haji dengan berjalan kaki. 

Ia tidak menyia-nyiakan kebaikan orang kepadanya dan tidak pernah menangguh-nangguhkan untuk membalasnya. Beliau menyukai syair dan para penyairnya serta gemar tokoh-tokoh sastra dan fikih, malah beliau sangat menghormati dan merendahkan diri kepada alim ulama. Namun semikian, ia pun sangat mencintai isterinya sehingga kalau ada yang berbuat salah pada isteri dan pembantu-pembantunya maka orang tersebut akan mendapat hukuman. Sebagai contoh, seorang hakim yang bernama Hafs bin Ghiyats telah dipecat dari jabatannya karena menjatuhkan suatu keputusan kepada salah seorang pembantunya Zubaidah.

Di antara sifat-sifat khalifah Harun ar-Rasyid yang amat menonjol ialah beliau kadang-kadang diumpamakan sebagai angin ribut yang kencang dan kadang pula sebagai angin yang bertiup sepoi- sepoi basah, beliau lebih mengutamakan akal daripada emosi, kalau marah beliau begitu garang dan menggeletar seluruh tubuh dan kalau memberi nasihat beliau menangis terseduh-seduh. 


B. Peranan Harun Al-Rasyid Dalam Kekhalifahan Abbasiyah

1. Peranan Harun Al-Rasyid Sebagai Pemimpin Agama Dan Kepala Pemerintahan

Menurut ajaran Nabi Muhammad SAW agama dan negara merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan satu sama lain. Hal ini dikarenakan agama merupakan pengontrol serta pengatur batasan-batasan aturan yang dilakukan dalam pemerintahan. (Werf, 1953: 144). Sistem dan bentuk pemerintahan dinasti Abbasiyah pada hakikatnya tidak jauh berbeda dari dinasti Umayyah. Sistem dan bentuk pemerintahan monarki yang di pelopori oleh Muawiyaah bin Abi Sufyan diteruskan oleh Dinasti Abbasiyah dan memakai gelar khalifah, namun gelar khalifah pada zaman Dinasti Abbasiyah derajatnya lebih tinggi dari gelar khalifah di zaman Dinasti Umayyah. 

Struktur organisasi Dinasti Abbasiyah terdiri dari al khilafat, al-wizarat (kementrian), al-kitabat dan al-hijabat. Lembaga al-khilafat dijabat oleh seorang khalifah sebagai mana telah disebutkan diatas jabatan khalifah berjalan secara turun temurun dilingkungan Dinasti Abbasiyah Lembaga al-wizarat (kementrian) dipimpin oleh seorang wazir seperti halnya menteri pada zaman sekarang. Lembaga dan jabatan ini baru dalam sejarah pemerintahan Islam yang diciptakan oleh Khalifah Abu Ja’far al-Mansur. Lembaga al-kitabat terdiri dari beberapa katib (sekertaris). Lembaga al-hijabat dipimpin oleh al hajib, tugas al-hajib ialah mengawal serta mengatur siapa saja yang ingin bertemu dengan khalifah. Pada zaman Khalifah Abbasiyah birokrasi diperketat hanya rakyat dan pejabat yang mempunyai urusan penting yang boleh bertemu langsung dengan khalifah.

Dalam mengembangkan dinasti Abbasiyah khalifah Harun al-Rasyid memiliki peranan yang sangat penting. Dimana pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid penuh dengan kemewahan, dan keindahan serta dikenal sebagai zaman kegemilangan. Kemurahan hati khalifah Harun al Rasyid menarik berbagai orang untuk datang ke Ibukota seperti ahli pengetahuan, pujangga, ahli seni musik dan lain-lain. Barang siapa yang pandai menarik hati khalifah Harun al-Rasyid akan menjadi pegawai istana. 

Khalifah Harun al-Rasyid merupakan seorang khalifah yang halus budinya lagi peramah. Ada dua sifat yang dimiliki oleh khalifah Harun al-Rasyid, dimana kedua sifat ini sangat selalu menarik minat rakyatnya yaitu sebagai seorang khalifah yang pemberani dan pemurah. Khalifah Harun al-Rasyid memiliki pembendaharaan yang melipah seperti mata uang emas, perak, berlian dan permata. Selain itu, beribu-ribu ekor binatang peliharaan diberikan kepada rakyat serta hamba sahaya. Amat murah hati khalifah Harun al-Rasyid dan permaisurinya Zubaidha yang menganugerahkan uang kepada pemerintah dikota-kota suci yang berada ditanah Arab, sering kali khalifah Harun al-Rasyid turut serta bersembahyang bersama rakyatnya. 

Delapan sampai sembilan kali khalifah Harun al-Rasyid menunaikan ibadah haji, bila berhalangan khalifah menyuruh alim-ulama untuk menggantikannya pergi berhaji ke Makkah. Ururan agama pun telah menjadi kokoh, hal ini terbukti dengan orang-orang zindik yang telah tiada sehingga tidak bisa bergerak dan muncul kembali. Agama memiliki peranan yang sangat penting serta memiliki pengaruh besar dalam masyarakat. Penghinaan terhadap orang-orang yang beragama pun semakin berkurang tidak seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Untuk mensejahterahkan rakyatnya khalifah Harun al-Rasyid rela melakukan apapun, salah satu contoh keadaan aman yang diberikan khalifah Harun al-Rasyid untuk rakyatnya sehingga membuat pedagang, saudagar, kaum terpelajar dan jamaah dapat melakukan perjalanan di seluruh wilayah kekuasaannya. Selain itu dalam hal peningkatan kesejahteraan rakyat dan Negara Harun al Rasyid juga memajukan ekonomi, perdagangan dan pertanian dengan sisitem irigasi. Kemajuan sektor-sektor ini menjadikan Baghdad ibu kota pemerintahan Bani Abbas sebagai pusat perdagangan terbesar dan teramai di dunia. Pada saat itu banyak terjadi pertukaran barang serta valuta dari berbagai penjuru. Dengan demikian, Negara banyak memperoleh pendapatan dari kegiatan perdagangan tersebut lewat sektor pajak sehingga Negara mampu membiayai pembangunan sektor-sektor lain. 

Harun al-Rasyid juga membangun sarana dan prasarana di kota Baghdad seperti masjid, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, toko obat, jembatan dan lain sebagainya. Tidak lupa pula Harun al-Rasyid juga membiayai pengembangan ilmu pengetahuan dibidang penerjemahan dan penelitian. Sebagai imbalannya negara mampu memberikan gaji yang tinggi kepada para ulama dan ilmuan. Di samping pembangunan untuk masyarakat juga didirikan beberapa istana yang mencerminkan kemewahan pada saat itu salah satunya adalah istana al Khuldi.


2. Peranan Harun al-Rasyid Dalam Mengembangkan Ilmu Pengetahuan

Pada masa Kekhalifah Abbasiyah umat Islam mengalami suatu masa yang sangat gemilau yaitu perubahan baru tentang ilmu pengetahuan dan akal. Hal ini merupakan hasil logis dari zaman Khalifah Abbasiyah setelah mengalami perubahan sejarah tentang perkembangan pemikiran dari berbagai bangsa terutama bangsa Persia. Kecintaan para khalifah kepada ilmu pengetahuan sangat mendukung bahkan rakyat pun sangat berminat dan memiliki peranan penting. Hal ini menunjukkan bahwa Dinasti Abbasiyah sangat menekankan pembinaan pada peradaban dan kebudayaan Islam.

Pada masa kejayaan Islam banyak khalifah mencintai dan mendukung penuh aktivitas ilmu pengetahuan yang paling menonjol dan besar melalui penerjemahan. Para khalifah menerjemahkan dari buku-buku bahasa asing seperti bahasa Sansekerta dan Yunani ke dalam bahasa Arab. Jasa-jasa ilmuwan muslim dalam ilmu pengetahuan dan ilmu-ilmu lain tidak ternilai. Pada awalnya, para ulama memelihara dan mentransfer ilmu yang didapat melalui hafalan atau lembaran-lembaran yang tidak teratur. 

Kemudian barulah pada abad ke-7 para ulama menulis hadis, fikih, tafsir, dan banyak buku dari berbagai bahasa meliputi segala bidang ilmu yang telah berhasil diterjemahkan kedalam bahasa Arab dan menjadi buku buku yang disusun secara sistematis. Kegiatan ini berjalan melalui tiga periode. Pertama, pencatatan pemikiran, hadis dan hal-hal lain pada kertas kemudian dirangkap. Kedua, pembukuan pemikiran-pemikiran atau hadis-hadis nabi dalam satu buku, misalnya menghimpun hukum hukum fikih dalam buku tertentu dan sejarah dalam buku tertentu pula. Ketiga, penyusunan dan pengaturan kembali buku yang telah ada ke dalam pasal-pasal dan bab-bab tertentu, semua hal ini berlangsung pada masa kekhalifahan Abbasiyah. 

Kestabilan politik, sosial dan budaya serta kemampuan ekonomi pada masa kekhalifah Harun al Rasyid tampaknya benar-benar membuat kondisi yang kondusif bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini juga di imbangi dengan lahirnya tokoh-tokoh brilian di berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti Jabir ibn Hayyan dengan karyanya yang berjudul The Father of Arabic Alchemy, Ali al-Tabari, al-Razi, Ali ibn al-Abbas, al-Majusi, dan ibn Sina. Pakar-pakar ilmuan di bidang kedokteran seperti al-Rusyd, al-Kindi, al-Farabi, ibn Tufail. Sedangkan para filsuf maupun tokoh-tokoh dalam bidang hukum (fikih) seperti Imam Abu Hanifah (700 – 765), Imam Maliki (713 – 795), Imam Syafi’i (765 – 870), dan Imam Ahmad ibn Hanbal (780 – 855). 

Harun al-Rasyid mencapai puncak kemasyuran karena perhatian yang tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam dengan taraf yang belum pernah dicapai sebelumnya oleh pemimpin pemimpin yang lain. Harun al-Rasyid mendirikan beberapa lembaga pendidikan seperti Bait al-Hikmah (lembaga penerjemah), Majelis al-Muzakarah ialah lembaga yang mengkaji tentang masalah-masalah keagamaan. Majelis ini sering dilakukan di rumah-rumah, masjid-masjid, istana khalifah, dan rumah sakit. 

Lembaga pendidikan di rumah itu telah ada lebih dahulu, bedanya pada masa Harun al-Rasyid banyak menunjuk rumah rumah dan masjid sebagai tempat belajar. Berikut ini merupakan lembaga pendidikan yang berkembang pada masa dinasti Abbasiyah yaitu pada masa Harun al-Rasyid di antaranya: kuttab, pendidikan rendah di istana, toko toko buku, majelis, rumah sakit, perpustakaan masjid dan rumah-rumah para ulama.


C. Kemajuan Yang Dicapai Pada Masa Harun Al-Rasyid

1. Mengembangkan Lembaga Pendidikan

Pendidikan dewasa tidak hanya dikembangkan dengan cara-cara yang sistematis atau di lembaga-lembaga formal, tetapi juga dilakukan di masjid-masjid yang terdapat di semua kota Muslim. Setiap masjid, selain sebagai pusat aktivitas keagamaan, juga berfungsi sebagai pusat-pusat pendidikan penting. Ketika seorang tamu megunjungi sebuah kota, ia bisa langsung mendatangi masjid jami dengan keyakinan ia bisa mengikuti perkuliahan tentang hadis.

Fenomena semacam itulah yang dicatat oleh Al-Maqdisi ketika ia mengunjungi kota Susa. Ahli geografi yang senang mengembara ini (hidup pada abad kesepuluh) menemukan berbagai halaqah atau lingkaran-lingkaran pendidikan di Palestina, Suriah, Mesir, dan Faris. Ia juga menemukan sekelompok pelajar yang berkumpul  mengitari  seorang  guru  (faqih),  juga  lingkaran  para  pembaca  Al-Qur‟an dan karya sastra di masjid-masjid. Imam Asy-Syafi‟i sendiri memiliki halaqah semacam itu di Masjid „Amr di kota Fushtat. Ia mengajarkan berbagai materi setiap pagi hingga wafatnya pada tahun 820 M. Ibnu Hawqal menyebutkan adanya lingkaran belajar serupa di kota Sijistan. Materi yang disampaikan tidak hanya materi keagamaan, tetapi juga linguistik dan puisi. Setiap Muslim memiliki kebebasan untuk memilih materi kesukaannya yang disampaikan di masjid-masjid, yang bertahan hingga abad kesebelas dalam bentuk sekolah-sekolah Islam.

Beberapa lembaga pendidikan yang berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah di masa Harun Ar-Rasyid

a. Kuttab atau Maktab

Kuttab atau maktab, berasal dari kata dasar kataba yang berarti menulis atau tempat menulis. Jadi kuttab adalah tempat belajar menulis. Namun akhirnya memiliki pengertian sebagai lembaga pendidikan dasar. Kuttab merupakan lembaga pendidikan Islam yang terlama. Di awal perkembangan Islam, kuttab tersebut dilaksanakan di rumah-rumah gutu yang bersangkutan dan materi yang diajarkan adalah semata-mata menulis dan membaca syair-syair terkenal. Kemudian di akhir abad 1 H, mulai muncul jenis kuttab yang di samping memberikan pendidikan menulis dan membaca, juga mengajarkan membaca   Al-Qur‟an   dan   pokok   ajaran   agama.   

Pada   mulanya   kuttab merupakan pemindahan dari pengajaran Al-Qur‟an yang berlangsung di masjid yang sifatnya umum (berlaku untuk anak-anak dan dewasa). Namun karena anak-anak pada umumnya sulit untuk menjaga kebersihan masjid, maka disediakanlah tempat khusus di samping masjid untuk mereka belajar Al-Qur‟an  dan  pokok-pokok  agama.  Selanjutnya  berkembanglah  tempat- tempat khusus (baik yang dihubungkan dengan masjid maupun terpisah) untuk pengajaran anak-anak dan berkembanglah kuttab-kuttab yang bukan hanya mengajarkan Al-Qur‟an, tetapi juga pengetahuan dasar lainnya. Dengan demikian kuttab berkembang menjadi lembaga pendidikan dasar yang bersifat formal.

b. Pendidikan Rendah di Istana

Timbulnya pendidikan rendah di istana untuk anak-anak para pejabat didasarkan bahwa pendidikan itu harus bersifat menyiapkan anak didik agar mampu melaksanakan tugas-tugasnya kelak setelah dewasa. Untuk itu, khalifah dan keluarganya serta pembesar istana lainnya berusaha mempersiapkan anak-anaknya agar sejak kecil sudah diperkenalkan dengan lingkungan dan tugas-tugasnya yang akan diembannya nanti. Oleh karena itu, mereka memanggil guru-guru khusus untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak.

Di istana orang tua muridlah (para pembesar istana) yang membuat rencana pelajaran sesuai dengan tujuan yang dikehendaki oleh orang tua dan sejalan dengan tujuan serta tanggung jawab yang akan dihadapi sang anak kelak. Guru pendidikan anak di istana disebut mu‟addib. Kata mu‟addib berasal dari kata adab, yang berarti berbudi pekerti. Fungsi mu‟addib adalah mendidikkan budi pekerti dan mewariskan kecerdasan dan pengetahuan-pengetahuan orang-orang terdahulu kepada anak-anak pejabat.

c. Toko-toko Buku

Selama masa kejayaan Dinasti Abbasiyah, toko-toko buku berkembang pesat seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Uniknya, toko- toko ini tidak saja menjadi pusat pengumpulan dan penyebaran (penjualan) buku-buku, tetapi juga menjadi pusat studi dengan lingkaran-lingkaran studi berkembang di dalamnya. Pemilik toko buku biasanya berfungsi sebagai tuan rumah dan kadang-kadang berfungsi sebagai pemimpin lingkaran-lingkaran studi tersebut. Ini semua menunjukkan bahwa betap antusias umat Islam masa itu dalam menuntut ilmu.


d. Majelis Atau Salon Kesusastraan

Majelis atau salin kesusasteraan adalah suatu majelis khusus yang diadakan oleh khalifah untuk membahas berbagai macam ilmu pengetahuan. Pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid, majelis sastra ini mengalami kemajuan yang luar biasa, karena khalifah sendiri adalah ahli ilmu pengetahuan yang cerdas, sehingga khalifah aktif di dalamnya. Pada masa beliau, sering diadakan perlombaan antara ahli-ahli syair, diskusi antara fukaha dan juga sayembara antara ahli kesenian dan pujangga.

e. Rumah Sakit

Pada masa Abbasiyah, rumah sakit bukan hanya berfungsi sebagai tempat merawat dan mengobati orang sakit, tetapi juga berfungsi sebagai tempat untuk mendidik tenaga-tenaga yang berhubungan dengan keperawatan dan pengobatan. Rumah sakit juga merupakan tempat praktikum dari sekolah kedokteran yang didirikan di luar rumah sakit. Dengan demikian, rumah sakit dalam dunia Islam juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan. Ini pula tampaknya yang diterapkan oleh dunia pendidikan modern. Dalam sejarah Islam, Bimaristan adalah rumah sakit Islam pertama yang dibangun oleh Ar- Rasyid pada awal abad kesembilan, mengikuti model Persia.

f. Perpustakaan

Bait Al-Hikmah di Baghdad yang didirikan oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid, adalah merupakan salah satu contoh dari perpustakaan Islam yang lengkap, yang berisi ilmu-ilmu agama Islam dan bahasa Arab, bermacam-macam ilmu pengetahuan yang telah berkembang pada masa itu, dan berbagai buku-buku terjemahan dari bahasa Yunani, Persia, India, Qibty, dan Aramy. Perpustakaan-perpustakaan dalam dunia Islam pada masa jayanya telah menjadi aspek budaya yang penting, sekaligus sebagai tempat belajar dan sumber pengembangan ilmu pengetahuan.

g. Masjid

Pada masa Dinasti Abbasiyah dan masa perkembangan kebudayaan Islam, masjid-masjid yang didirikan oleh para penguasa pada umumnya dilengkapi dengan berbagai sarana dan fasilitas pendidikan. Seperti tempat untuk pendidikan anak-anak, pengajaran orang dewasa (halaqah), juga ruang perpustakaan dengan buku-buku yang lengkap.

Masjid dapat dikatakan sebagai lembaga pendidikan Islam yang khas dan pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, penyelenggaraan pendidikan di masjid sangat didukung oleh pemerintah, seperti Harun Ar-Rasyid dan dilanjutkan oleh khalifah sesudahnya. Di mana saja Islam tersebar pada abad pertama dengan perkembangannya yang luar biasa. Tradisi masjid sebagai pusat peribadatan juga menyertainya. Dengan demikian, wajar apabila Khalifah Abbasiyah sedikit demi sedikit melihat pentingnya masjid bukan hanya sebagai tempat peribadatan, melainkan juga sabagai pusat pengajaran bagi kaum muda.

h. Rumah-rumah Para Ulama

Pada zaman kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam, banyak rumah para ulama yang dijadikan tempat belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan. Di antara rumah para ulama yang dijadikan tempat belajar adalah rumah Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ali ibn Muhammad al- Fasihi, dan lain-lain.

i. Madrasah

Madrasah sangat diperlukan keberadaannya sebagai tempat untuk menerima ilmu pengetahuan agama secara teratur dan sistematis. Sebab didirikannya madrasah adalah karena masjid-masjid telah dipenuhi dengan pengajian- pengajian dari para guru yang semakin banyak, sehingga mengganggu kenyamanan orang salat. Di samping itu juga karena pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan setalah semakin berkembangnya kegiatan penerjemahan buku-buku berbahasa asing ke dalam bahasa Arab.


2. Kebijakan Khalifah Harun Ar-Rasyid

Segala prestasi yang berhasil diukir Khalifah Harun Ar-Rasyid di atas tidak terlepas dari kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh beliau sebagai pemimpin tertinggi. Berikut adalah beberapa kebijakan yang dibuat oleh Khalifah Ar-Rasyid.

a. Bidang Kesehatan

1) Mendirikan rumah sakit.

2) Mendirikan lembaga pendidikan kedokteran dan farmasi.


b. Bidang Sosial

1) Membangun pemandian umum.


c. Bidang Militer

1) Menerapkan ilmu pengetahuan ke dalam kemiliteran.

2) Membekali pasukan pemanah dengan pelontar nafa, pakaian anti api, dan pelontar bahan yang mudah terbakar untuk dilontarkan ke arah pasukan musuh.

3) Melibatkan arsitek yang bertugas membangun mesin pengepung seperti katapul, pelontar, dan pendobrak dalam pasukan.

4) Mengiringi pasukan dengan rumah sakit dan ambulans berbentuk gerobak yang ditarik oleh unta.


d. Bidang Pendidikan

1) Memuliakan guru dan ulama.

2) Mendirikan perpustakaan-perpustakaan.

3) Menerjemahkan buku-buku pengetahuan ke dalam bahasa Arab.

4) Memberikan penghargaan kepada siswa berprestasi.

5) Menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan.

6) Melibatkan peran orangtua dalam pendidikan.

7) Kurikulum berpusat pada Qur‟an

8) Mengutamakan ta‟dib dalam pendidikan


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Harun ar-Rasyid, dilahirkan pada bulan Pebruari tahun 763 M di Rayy. Ayahnya bernama Al-Mahdi bin Abu Ja’far al-Mansyur, khalifah ketiga dari dari Bani Abbasiyah. Ibunya bernama Khaizuran, seorang wanita sahaya dari Yaman yang dimerdekakan oleh  Al-Mahdi. Harun ar-Rasyid memperoleh pendidikan di istana, baik pendidikan agama maupun ilmu pemerintahan. Ia dididik oleh keluarga Barmaki, Yahya bin Khalid salah seorang anggota keluarga Barmak yang berperan dalam pemerintahan Bani Abbas, sehingga ia menjadi terpelajar, cerdas, pasih berbicara dan berkepribadian yang kuat. 

Karena kecerdasannya, walaupun usianya masih muda, ia sudah terlibat dalam urusan pemerintahan ayahnya. Ia pun mendapatkan pendidikan ketentaraan. Pada masa pemerintahan ayahnya, Harun ar-Rasyid dipercayakan dua kali memimpin ekspedisi militer untuk menyerang Bizantium (779-780) dan (781-782) sampai ke pantai Bosporus. Ia didampingi oleh para pejabat tinggi dan jenderal veteran. Pribadi dan akhlak Harun, suka bercengkrama, alim dan sangat dimuliakan, beliau berselang seling menunaikan haji dan turun ke medan perang dari tahun berganti tahun. Beliau bersembahyang seratus rakaat setiap hari dan pergi menunaikan haji dengan berjalan kaki.

Struktur organisasi Dinasti Abbasiyah terdiri dari al khilafat, al-wizarat (kementrian), al-kitabat dan al-hijabat. Lembaga al-khilafat dijabat oleh seorang khalifah sebagai mana telah disebutkan diatas jabatan khalifah berjalan secara turun temurun dilingkungan Dinasti Abbasiyah Lembaga al-wizarat (kementrian) dipimpin oleh seorang wazir seperti halnya menteri pada zaman sekarang. Lembaga dan jabatan ini baru dalam sejarah pemerintahan Islam yang diciptakan oleh Khalifah Abu Ja’far al-Mansur. Lembaga al-kitabat terdiri dari beberapa katib (sekertaris). Lembaga al-hijabat dipimpin oleh al hajib, tugas al-hajib ialah mengawal serta mengatur siapa saja yang ingin bertemu dengan khalifah. Pada zaman Khalifah Abbasiyah birokrasi diperketat hanya rakyat dan pejabat yang mempunyai urusan penting yang boleh bertemu langsung dengan khalifah.

Dalam mengembangkan dinasti Abbasiyah khalifah Harun al-Rasyid memiliki peranan yang sangat penting. Dimana pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid penuh dengan kemewahan, dan keindahan serta dikenal sebagai zaman kegemilangan. Kemurahan hati khalifah Harun al Rasyid menarik berbagai orang untuk datang ke Ibukota seperti ahli pengetahuan, pujangga, ahli seni musik dan lain-lain. Barang siapa yang pandai menarik hati khalifah Harun al-Rasyid akan menjadi pegawai istana. 

Khalifah Harun al-Rasyid merupakan seorang khalifah yang halus budinya lagi peramah. Ada dua sifat yang dimiliki oleh khalifah Harun al-Rasyid, dimana kedua sifat ini sangat selalu menarik minat rakyatnya yaitu sebagai seorang khalifah yang pemberani dan pemurah. Khalifah Harun al-Rasyid memiliki pembendaharaan yang melipah seperti mata uang emas, perak, berlian dan permata. Selain itu, beribu-ribu ekor binatang peliharaan diberikan kepada rakyat serta hamba sahaya. Amat murah hati khalifah Harun al-Rasyid dan permaisurinya Zubaidha yang menganugerahkan uang kepada pemerintah dikota-kota suci yang berada ditanah Arab, sering kali khalifah Harun al-Rasyid turut serta bersembahyang bersama rakyatnya.

Pada masa Kekhalifah Abbasiyah umat Islam mengalami suatu masa yang sangat gemilau yaitu perubahan baru tentang ilmu pengetahuan dan akal. Hal ini merupakan hasil logis dari zaman Khalifah Abbasiyah setelah mengalami perubahan sejarah tentang perkembangan pemikiran dari berbagai bangsa terutama bangsa Persia. Kecintaan para khalifah kepada ilmu pengetahuan sangat mendukung bahkan rakyat pun sangat berminat dan memiliki peranan penting. Hal ini menunjukkan bahwa Dinasti Abbasiyah sangat menekankan pembinaan pada peradaban dan kebudayaan Islam

Ada dua hal yang sangat berpengaruh dalam masa kepemimpinan khalifah Harun al-Rasyid, yakni dengan mengembangkan lembaga-lembaga pendidikan dan membuat kebijakan-kebijakan yang mendukung pertumbuhan dan kejayaan pada kepemimpinannya.



DAFTAR PUSTAKA

Yatim, Badri. 1994. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 

Syalabi, Ahmad. 1993. Sejarah dan Kebudayaan 3. Cet. III. Jakarta: Pustaka Al-Husna. 

Ahmad, Jamil. 1996. Seratus Muslim Terkemuka. Cet. VI. Jakarta: Pustaka Firdaus. 

Al-Maududi, Abu A’la. 1996. Khilafah dan Kerajaan. Cet. VI. Bandung: Mizan. 

Tim Ensiklopedi. 1998. Ensiklopedi Islam. Cet. III. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Houve.  Ahmad, Jamil. 1996. Seratus Muslim Terkemuka. Cet. VI. Jakarta: Pustaka Firdaus. 

G.S. Hodgson, Marshall. 2002. The Venture of Islam, Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia Masa Klasik, Peradaban Khalifah Agung. Cet. II. Jakarta: Paramadina. 

Al-Maududi, Abu A’la. 1996. Khilafah dan Kerajaan. Cet. VI. Bandung: Mizan. 

Werf, J. Van Der. 1953. Sejarah Umum. Djakarta: Noordhoff-Kolff N.V. 

Ismiyati Et Al., Peranan Harun Al-Rasyid Dalam Kekhalifahan Abbasiyah Tahun 786 – 809. Artikel Ilmiah Mahasiswa, 2015, I (1): 1-12

Suwito. 2005. Sejarah Sosial Pendidikan Islam. Jakarta: Prenada Media. 

Philip K. Hitti, History of the Arabs, terjemahan R. Cecep Lukman Yasin, Dedi Slamet Riyadi, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2014)

Muhammad Abul Qasim bin Hawqal (lahir di Nisibis, Upper, Mesopotamia, menjelajah sekitar tahun 943-969) adalah seorang penulis sejarah dan ahli geografi Muslim abad kesepuluh. Karyanya yang paling terkenal adalah Surah Al-Ard (The Face of the Earth) yang ditulis pada 977

Zuhairini et. al., Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011)

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016)


Label: , , , , , ,

Selasa, 22 Februari 2022

Dikotomi Ilmu

Dikotomi Ilmu
Menurut Sayyed Hossein Nasr dalam konsep tauhid, ilmu bersifat menyeluruh. Tidak ada pembagian ilmu menjadi ilmu agama dan ilmu umum (dikotomi ilmu). Karena kedua keilmuan itu sama-sama ikut dalam berkontribusi memperkuat iman manusia. Ilmu agama memperkuat keimanan melalui wahyu, sementara ilmu umum melalui kajian ilmu humanitas dan alam secara sistematik dan seksama. 

Fethullah Gulen juga tidak sepakat dengan adanya dikotomi ilmu, sehingga dia berpendapat bahwa filsafat pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang holistik dan tidak terpisah antara ilmu agama dan ilmu umum yang bertujuan untuk memperkaya pemikiran spiritual dan kritis baik bagi laki-laki dan perempuan. Kenapa demikian?, Karena ketika ilmu diberikan sekat atau dipisah menjadi dua kelompok, yakni antara ilmu agama dan ilmu umum, menurut Gulen justru merupakan suatu pandangan yang tidak menyeluruh atas ilmu Allah. Karena pada dasarnya seluruh ilmu yang ada itu satu kesatuan dan dari satu sumber, yakni dari Allah. Gulen sadar akan pentingnya menguasai ilmu pada bidang sains. 

Menurut gulen tidak ada pemisah antara kebenaran spiritual dan sains, karena itu menurutnya tidak ada ketidakcocokan antara prinsip-prinsip Islam dan metodologi saintifik. Sehingga dalam filsafat ilmu ada beberapa filsuf yang berusaha memadukan dan memerangi nalar pikir yang mengelompokkan ilmu dalam dua bagian (agama dan umum). Mereka berupaya merawatnya dengan cara mengislamisasi ilmu, bukan berarti ilmu dibedakan dalam kategori Islam dan non Islam, hanya saja agar ada pengikat dari keduanya atau proses menuju bentuk asal, sehingga ilmu umum adalah bagian dari ilmu agama itu sendiri, karena memang ilmu itu bersumber dari satu sumber, hal ini sebagaimana pandangan Seyyed Hossein Nasr dalam konsep tauhid di atas.

Islamisasi ilmu pengetahuan ini diterangkan secara jelas oleh al-Attas, yaitu suatu pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis dan animistis, atau proses pembebasan manusia dari kultur nasional yang bertentangan dengan Islam, Islamisasi adalah suatu proses menuju pada bentuk asal. Secara umum, Islamisasi ilmu pengetahuan sendiri dimaksudkan untuk memberikan respon yang positif pada realitas ilmu pengetahuan modern yang bersifat sekuler dalam model pengetahuan baru yang utuh dan bersifat integral tanpa adanya pemisahan.

Menurut Ismail Raji Al-Faruqi dengan adanya dikotomi ilmu justru membuat umat Islam seakan berada di persimpangan jalan. Membuat sulit untuk menentukan pilihan arah yang tepat. Sehingga membuat umat Islam terkesan mengambil sikap mendua, antara tradisi keislaman dan nilai-nilai peradaban Barat. Pandangan dualisme yang seperti ini justru menjadi penyebab dari kemunduran yang dialami umat Islam.


By: Muhammad Zaironi, Santri Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang.

FB: Muhammad Zaironi. https://www.facebook.com/profile.php?id=100008292301957

Fanspage FB: Muhammad Zaironi

IG: Muhammad Zaironi. www.instagram.com/muhammadzaironi

Blogger: santrimenulis.com

Label: , , ,