Jumat, 18 Oktober 2024

ISU-ISU DAN PROMBLEMATIKA KONTEMPORER DALAM PENDIDIKAN ISLAM

 

Isu-isu pendidikan Islam Kontemporer


ISU-ISU DAN PROMBLEMATIKA KONTEMPORER DALAM PENDIDIKAN ISLAM

 A.    Pendahuluan

Lembaga pendidikan Islam (LPI) akhir-akhir ini sudah banyak yang mulai menggalakkan diri untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan tehnologi yang kian deras arusnya. Perkembangan zaman dan tehnologi semakin menjangkau segala aspek sehingga jika abay sejenak saja dapat mempengaruhi eksistensi dan keikutsertaan dalam membentuk siswa yang berdaya saing di tingkat global.

Pendidikan islam saat ini sedang menjadi permata yang banyak dicari oleh ibu bapak dari anak-anak yang kian hari makin jauh dari ilmu agama, perilaku makin ugal-ugalan dan ucap semakin tidak berkesesuaian.

Pendidikan Islam sudah seharusnya terus berbenah dan mengambil andil untuk turut serta mencetak pesera didik yang berdaya saing, berakhlakul karimah dan kompeten dalam bidang yang diambilnya. Terdapat beberapa isu atau tatangan bagi Lembaga Pendidikan Islam agar tetap bisa terus eksis dengan mengimbangi perkembagan zaman dan memberijan jawaban atas tantangan tersebut dengan mengantarkan putra putri terbaiknya menjadi pemimpin di berbagai lembaga pendidikan dan tempat pengabdian lainnya,

B.     Pembahasan

P            Pendidikan Islam akhir-akhir ini mulai dilirik oleh banyak masyarakat yang mana diantara sebabnya adalah kekuatannya dalam tetap eksis ditegah tantangan globalisasi dan perkembangan zaman yang sangat ugal-ugalan, banyak lembaga pendidikan umum yang abai dengan penyediakan layanan ilmu agama dalam kegiatannya sehingga para ibu bapak walimurid kawatir dengan putra putrinya akan pengetahuan ilmu agama yang tidak begitu dalam. Contoh kecil banyak siswa yang tidak tau Najis dan macamnya, tidak tau cara mensucikannya, tidak bisa membaca al-Quran dengan baik dan lancer dan seterusnya. Hal ini menjadi nilai plus untuk lembaga pendidikan Islam. Namun demikian lembaga pendidikan Islam tetap harus terus berbenah untuk menghilangkan isu-isu yang erat dengannya. Berikut beberapa isu lembaga pendidikan

1.              Kualitas tenaga pendidik (SDM guru), isu yang pertama ini menjadi problem yang harus diselesaikan dengan cara terus meningkatkan kualitas SDM untuk menghasilkan SDM yang berkualitas. Hendaknya SDM di lingkungan Lembaga Pendidikan Islam meningkatkan kualitasnya dengan melanjutkan studi dari strata 1 hingga strata 3 atau doctoral untuk memperdalam pengetahuannya pada bidang yang dikehendaki. Dengan demikian akan memberikan dampak yang baik pada peserta didik untuk kemudian menjadi lulusan dengan SDM yang berkualitas dan berdaya saing

2.                  Kurikulum yang tidak transformation. Baiknya kurikulum terus berbenah dan menyesuaikan dengan kehendak zaman yang terus berkembang dengan berbagai kecanggihannya. Banyak Lembaga Pendidikan Islam yang tetap kaku dengan ke konservatif-annya sehingga cenderung abai dengan kebutuhan peserta didiknya untuk memberikan pelayanan Pendidikan yang setara dengan di luar lembaga tersebut. Pun juga banyak lembaga Pendidikan Islam yang mana visi, misi dan tujuannya saja tetap dengan narasi itu-itu saja sejak wal didirikan, tidak ada perubahan dan perbaikan visi yang menunjukkan adanya ketercapaian dari visi itu sendiri. Baiknya visi, misi dan tujuannya terdapat perubahan yang ditargetkan dengan pencapaiannya sebagaimana yang tercatat dalam renstra lembaga. Renstra setiap lembaga tentu berbeda, sehingga visi, misi dan tujuannya juga berbeda dan tahapan apa yang akan di capai setiap rencana stratejiknya juga berbeda.

3.      Metode pembelajaran yang cenderung kaku dan tidak inovatif, hal ini perlu digalakkan lagi untuk memberikan suasana dan pengalaman belajar yang berbeda dan menyenangkan untuk peserta didik. Inovasi dalam mengajar menjadi aspek penting untuk diperhatikan agar SDM atau tenaga pendidik dapat memberikan atau transfer ilmu dengan mudah difahami, diterima dan tidak membosankan. Terdapat banyak metode pembelajaran yang bisa didalami ole setiap guru yang tentunya menyesuaikan dengan tema dan materi yang akan disampaikan kepada siswa.

4.              Fasilitas atau sarana prasarana yang kurang dan belum memadai. Sarana prasarana menjadi hal penting yang dapat menunjang mudah tidaknya pembelajaran dilaksanakan, suasana kelas yang baik dan fasilitas lainnya yang lengkap. Sarana prasarana atau sarpras bahkan menjadi satu aspek penilaian dalam beberapa standar dalam program akreditasi lembaga oleh pemerintah, sehingga sudah seharusnya lembaga Pendidikan Islam selain berbenah dalam meningkatkan SDM juga meningkatkan kelengkapan fasilitas atau sarpras lembaga sehingga baik guru maupun murid dapat mudah melaksanakan pembelajaran setiap hari

5.              Lemahnya visi misi lembaga, sebagaimana yang disampaikan di atas, hendaknya setiap lembaga punya standar visi misi yang berkesesuaian dengan kehendak perkembangan zaman yang kemudian diturunkan pada kurikulum sehingga dapat menghasilkan lulusan yang berdaya saing kuat, unggul dan menjadikan sekolah dilirik oleh banyak masyarakat sehingga berdampak baik bagi lembaga. Setiap lembaga pendidikan yang banyak diminati oleh masyarakat tidak lepas dari sekolah yang punya visi misi yang berkesesuaian dengan zaman, visi misi yang kuat dan khas dengan lembaganya dan tidak meniru lembaga lain yang mana secara filosofi dan historis serta semangatnya juga berbeda.

6.              Rendahnya daya saing lulusan. Diantara penyebab lembaga pendidikan Islam tidak maju dan tidak menjadi pilihan utama masyarakat banyak adalah rendahnya daya saing lulusan, terdapat banyak penyebabnya, diantaranya disebabkan oleh visi misi yang tidak berkesesuaian dengan zaman dan tidak berkemajuan spiritnya, fasilitas yang kurang memadai, cara mengajar yang masih konservativ dan tidak inovatif, SDM yang kurang mumpuni serta kurang berkualitas, kurangnya daya control dari pimpinan dan masih banyak lagi. Beberapa hal di atas dapat menghambat kemajuan sebuah lembaga jika tidak segera di Atasi dan berbenah. Padahal setiap lulusan berhak meraih cita-citanya yang terkait dan terikat erat dengan latar belakang pendidikannya. Sudah seharunya lembaga pendidikan Islam menjadi pilihan utama masyarakat dalam menitipkan putra putrinya karena adanya value dan bukti bahwa lulusannya berkualitas dan berdaya saing tinggi.

7.              Tidak adanya rencara stratejik (renstra), hal ini menjadi pengmabta kemajuan lembaga pendidikan Islam, sehingga semua kegiatannya tidak ada target pencapaian dan berjalan begitu saja. Harusnya setiap lembaga pendidikan Islam mempunyai renstra untuk kemudian disampaikan kepada semua pimpinan dan SDM yang ada agar bersama-sama semangat untuk mencapai setiap target dari rencana yang disusun. Dengan demikian lembaga akan mendapati perubahan dan perkembangan yang baik. Renstra biasanya ada yang tahunan, lima tahunan dan bahkan bisa sepuluh hingga 30 tahun, mau dibawa kemana sebuah lembaga di situlah diuraikan dalam sebuah renstra

 

C.     Kesimpulan

        Sebuah lembaga pendidikan agar tetap bisa eksis ditengah gempuran berbagai tantangan dan permintaan masyarakat adalah dengan melakukan kesesuaian diri lembaga dengan perkembangan zaman, meningkatkan SDM, layanan sarana prasarana, pembelajaran yang inovatif, kurikulum yang transformatif, visi misi yang kuat dan punya rencana stratejik (renstra) untuk memastikan arah tujuan dan pencapaian yang akan dilakukan.

 


Label: , , , , ,

Senin, 12 Desember 2022

Model Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Karakter Siswa

 

PENDAHULUAN 

Implementasi pembelajaran di Indonesia masih jauh dari perubahan yang signifikan, sehingga pendidikan di Indonesia menjadi stagnan dan statis, hal ini berdampak cukup berat untuk melaju pada posisi sepuluh besar dari negara-negara terbaik dalam sistem pendidikannya. Pendidikan di Indonesia masih saja berada pada posisi rendah di urutan bawah. Negara Indonesia sendiri mendapatkan peringkat 54 pada tahun 2021, yang berarti negara kita telah naik satu peringkat sebelumnya yaitu peringkat 55 pada tahun 2020. Hal ini menjadi PR besar untuk pengella pendidikan di Indonesia. Pengelolaan pendidikan harus benar-benar diperhatikan sehingga hasil dan kualitasnya bisa sesuai dengan napa yang diharahpkan. Hal ini bisa dirubah melalui elastisitas pengembangan sumber belajar dan media pembejaran berbasis karakter siswa.

Faktanya, ikhtiar pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran merupakan sebuah keniscayaan selama ini. Keniscayaan pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran ini didasarkan setidaknya pada dua realitas yang berlawanan. Pada satu satu sisi sumber belajar memiliki sifat yang statis dan kerapkali mendapati pengulangan materi dari satu jenjang ke jenjang berikutnya, namun demikian di sisi lain pelaku pendidikan dituntut untuk memiliki peran yang dinamis dan berkelanjutan. 

Sifat statis sendiri berasal dari komponen sumber belajar berupa benda yang meliputi; buku, manusia, media massa, dan media pendidikan. Sedangkan pada sisi peran, sumber belajar dituntut agar berperan sebagai sumber dari berbagai informasi dan pengetahuan yang diperlukan dalam mengembangkan kompetensi yang diinginkan pada mata pelajaran atau bidang studi, hal ini juga berlaku untuk media pembelajaran. Dengan kondisi tersebut maka sumber belajar dan media pembelajaran sangat penting untuk dikembangkan. Maka, berdasarkan deskripsi yang penulis paparkan di atas, maka penulis tertarik untuk membahas tema ini dengan sub bab sebagai berikut: Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Karakteristik Peserta Didik.


PEMBAHASAN

Urgensi Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran

Melihat perkembangan hasil belajar dan kualitas pendidikan di Indonesia yang masih jauh dari kata terbaik, maka praktisi pendidikan dan pengelola harus lebih ekstra dalam mencar terobosan dan berbagai pengembangan strategi untuk merubah kondisi pendidikan yang berada pada posisi stagnan dan sulitnya melaju pada posisi sepuluh besar pendidikan terbaik di dunia. Maka, di antara cara yang cukup mudah dan dapat diukur keberhasilannya ialah dengan merubah pola mengajar yang terkesan statis dengan melakukan pengembangan sumber dan media pembelajaran berbasiskan karakteristik siswa.

Diantara strategi pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran yang cukup prospektif adalah dengan berbasiskan karakter peserta didik. Hal ini dikarenakan keberadaan sumber belajar dan media pembelajaran selalu terdapat keterkaitan, bahkan tidak bisa dipisahkan dengan kondisi karakter peserta didik di kelas. Sehingga pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran yang baik harus terintegrasi dengan realitas peserta didik di kelas. Mengingat masing-masing karakteristik siswa berbeda-beda, dengan demikia menjadi maklum tatkala banyak sekolahan yang memberlakukan sistem seleksi kemampuan siswa dan kemudian diklasifikasikan menurut kemampuan, kecerdasan dan prilakunya. Maka, pengembangan berbasis karakter peserta didik menjadi salah satu alternatif pengembangan yang terintegrasi dan memungkinkan tercapainya tujuan pendidikan.

Pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran berbasis karakter peserta didik memungkinkan tercapainya proses pembelajaran yang optimal dan terukur. Pasalnya kualitas pembelajaran terkait erat dengan kualitas sumber belajarnya, dan materi akan tersampaikan dengan baik ketika di bingkai melalui media yang menyesuaikan dengan karakteristik siswanya. Di mana proses pembelajaran yang baik akan membutuhkan pengembangan sumber belajar yang baik. Dengan kata lain sebuah proses pembelajaran tanpa pengembangan sumber belajar yang tepat maka tidak mungkin terlaksana dengan optimal. Dengan demikian pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran berbasis karakteristik peserta didik memungkinkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil yang signifikan.

Prinsip umum dalam pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran berbasis karakter peserta didik ialah berpacu dan memperhatikan nilai efektifitas dan efesiensi. Prinsip efektifitas mengarah pada upaya pengembangan yang dapat menghasilkan penghematan waktu, sedangkan efesiensi mengarah pada kemudahan teknis yang praktis dan elastis. Maka, dengan kata lain prinsip pengembangan ini ialah mengarah kepada terciptanya sumber belajar dan media pembelajaran yang dapat mempermudah dan mempercepat proses pembelajaran dengan hasil yang terukur.


Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Karakter Peserta Didik

Memperhatikan definisi sumber belajar yang meliputi segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang. Maka, dengan demikian segala sesuatu baik yang disengaja dirancang ataupun yang telah tersedia yang dapat dimanfaatkan baik secara sendiri maupun bersama-sama untuk membuat atau membantu peserta didik belajar disebut sumber belajar. 

Sumber Belajar Berbasis Karakter Siswa

Proses komunikasi dalam praktik pendidikan tidaklah jauh berbeda dengan proses pembelajaran kecuali pada aspek konteks berlangsungnya komunikasi Proses Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM). Dari berbagai sumber belajar yang ada, diantaranya ialah manusia, bahan, lingkungan, alat dan peralatan dan aktivitas. 


Lima komponen di atas harus saling berkolaboratif dan berpacu dalam satu strategi untuk melakukan pengembangan. yang tidak kalah pentingnya ialah ada pada manusia itu sendiri, yakni guru dan murid. Guru harus lebih memahami psikologi murid, lingkungan, dan karakteristik kelas yang akan diberikan tranfer knowled. Tentu didukung dengan ketersediannya sarana yang memadai. Guru harus lebih inovatif dalam mengelola kegiatan belajar mengajar, punya teknik dan sumber belajar yang dikombinasikan untuk mempermudah murid dalam menerima ilmu yang disampaikan.

Jika ditinjau secara historis, penggunaan sumber belajar dalam dunia pendidikan sudah dikenal sejak lama. Bila menoleh sejarah pendidikan di kalangan umat Islam, maka pada zaman pertengahan Islam fasilitas sumber belajar sudah dikenal meskipun sangat amat sederhana akan tetapi sudah dilengkapi dengan adanya ruangan yang memadai untuk tempat belajar, juga ada rumah-rumah pengajar.
Pada abad ini, trend penggunaan sumber belajar tidak lagi hanya digunakan apa adanya, melainkan dikembangkan terlebih dahulu da dibingkai dengan sebaik mungkin dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Diantara cara yang bisa dilakukan dalam pengembangan sumber belajar ialah dengan merencanakan langkah-langkah secara sistematis. Langkah-langkah sistemstis dalam pengembangan sumber belajar tersebut diantaranya adalah:
1. Menganalisis Kebutuhan dan Karakteristik Belajar Siswa
Sebuah perencanaan sumber belajar didasarkan salah satu indikatornya di dalamnya terdapat kesenjangan. Kesenjangan adalah ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya atau apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi. Dalam pembelajaran yang dimaksud dengan kebutuhan adalah adanya kesenjangan antara kemampuan, keterampilan dan sikap siswa yang diinginkan dengan kemampuan, keterampilan dan sikap siswa yang mereka miliki sekarang.

2. Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata pelajaran, dan guru itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan siswa dapat ditetapkan apa yang hendak dicapai, dikembangkan dan diapresiasi. 

Berdasarkan mata ajaran yang ada dalam petunjuk kurikulum dapat ditentukan hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Suatu tujuan pembelajaran seyogianya memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Menyediakan situasi atau kondisi untuk belajar. 
b. Mendefenisikan tingkah laku siswa dalam bentuk dapat diukur dan dapat diamati.
c. Menyatakan tingkat minimal perilaku yang dikehendaki.

3. Pengembangan Materi Pembelajaran
Sebelum memasuki kelas, kita harus meracang tentang apa yang mesti disampaikan kepada siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, dan pengalaman belajar siswa nantinya mengandung muatan pelajaran, muatan pelajaran mencakup kebutuhan siswa itu sendiri. Muatan pelajaran adalah materi yang disusun oleh guru atau tenaga pengajar, yang diambil dari sumber utama dan sumber penunjang.
Materi disusun berdasarkan tujuan, kompetensi dan indikator belajar yang telah dikembangkan sebelumnya. Kesesuaian materi yang dikemas dengan tujuan, kompetensi dan indikator merupakan jaminan bagi tercapainya hasil belajar yang diharapkan, demikian juga sebaliknya, bila materi disusun tidak merujuk ketujuan, kompetensi dan indikator, maka akan menjauh kan dari capaian hasil belajar yang optimal.

4. Mengembangkan Alat Ukur Keberhasilan
Alat pengukur keberhasilan siswa perlu didirancang sebelum naskah program sumber belajar ditulis atau sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan. Alat ini dapat berupa tes, penugasan atau daftar cek perilaku. Alat pengukur keberhasilan harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan pokok-pokok materi pelajaran yang akan disajikan kepada siswa. Alat pengukur keberhasilan harus bisa digunakan secara tepat saat dibutuhkan dalam pembelajaran, dengan alat pengukur keberhasilan ini bisa dilihat keberhasilan siswa belajar dengan menggunakan sumber belajar yang ada.

5. Pemilihan Jenis Sumber Belajar
Sumber belajar dalam proses pembelajaran mempunyai arti yang cukup penting karena ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan sumber belajar sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan sumber belajar. Sumber belajar dapat mewakili apa yang kurang mampu diucapkan oleh guru dengan kata-kata atau kalimat tertentu, dan dengan demikian anak didik lebih mudah mencerna bahan yang dipelajarinya.

Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Karakter Peserta Didik

Pengembangan media pembelajaran menjadi penting berbasis karakter peserta didik menjadi sangat penting, hal ini berdasarkan kondisi dan karakteristik siswa yang hendak diberikan pengetahuan melalui kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru harus pandai-pandai dan mengetahui psikologi kondisi kelas dan siswanya, sehingga guru bisa memilih media yang elastis dengan kondisi yang ada.
Sebelum memilih media pembelajaran yang akan digunakan, ada beberapa criteria yang harus diperhatikan oleh guru. Sehingga pemilihan media pembelajaran tersebut adalah yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran dan siswa memperoleh hasil belajar yang baik.

Dalam memilih media pembelajaran ada beberapa kriteria yang digunakan yaitu: 
1. Ketepatannya dengan tujuan pengajaran: Media pengajaran yang dipilih atas dasar tujuan tujuan instruksional yang telah di tetapkan. 
2. Dukungan terhadap isi bahan pelajaran: Bahan pelajaran yang sifatnya fakta, peinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa. 
3. Kemudahan memperoleh media: Media yang digunakan mudah diperoleh, mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. 
4. Ketrampilan guru dalam menggunakannya: Diharapkan guru dapat berinteraksi dengan siswa pada waktu menggunakan media tersebut. 
5. Tersedia waktu untuk menggunakannya: Media bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung. 
6. Sesuai dengan taraf berpikir siswa, sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh siswa.

Ilustrasi Implementasi Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Berbasis Karakter Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Fiqh Bab Shalat Kelas VII Tsanawiyah
1. Pada tahap awal, guru membuka pembelajaran dengan salam. Kemudian ketua kelas diminta memimpin doa jika pelajaran yang dilaksanakan merupakan jam pelajaran pertama
2. Guru memimpin pembacaan fatihah yang dihaturkan kepada Rasulullah dan guru-guru beserta pejuang pendidikan untuk mengharap keberkahan dan manfaat dari ilmu yang akan dipelajarinya
3. Guru meminta siswa membuka sumber belajar yang tersedia, seperti buku, LKS, dll.
4. Guru menentukan metode pembelajaran yang inovatif dan elastis dengan materi yang akan disampaikan.
5. Penyajian materi dikolabotari dengan metode yang elastis dan dengan materi dan kondisi psikologi siswa. Materi disajikan dengan mudah dan menarik dan ditampilkan melalui media yang adaptif.
6. Metode yang variatif dalam mengajar akan menghndari spekulasi pada guru bahwa guru ini mengajar dengan cara yang stagnan, statis dan begitu-begitu saja sehingga membuat murid bosan.
7. Guru memilih media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa. Dalam hal ini media yang sangat mendukung untuk menampilkan materi bab shalat ialah proyektor dan juga youtube dengan catatan contoh yang ditampilkan dalam youtube tersebut sesuai dengan kaidah yang ada dalam sajian di kitab-kitab.
8. Guru menyajikan materi pelajaran sesuai dengan apa yang sudah dipaparkan dalam format rencana pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan ini disusun dengan menyesuaikan karakteristik siswa di kelas, mengingat masing-masing kelas mempunyai perbedaan karakter.
9. Guru membuka lebar pintu untuk bertanya bagi siswa, dalam hal ini metode demontrasi merupakan metode yang sesuai dan memberikan siswa untuk aktif. 
10. Selain materi disampaikan dengan sajian yang menarik melalui Media Proyektor, Guru harus memberikan contoh yang ditampilkan dalam bentuk gambar yang kemudian dicontohkan oleh gurunya dan murid diminta mengikutinya.
11. Dalam menyampaikan materi shalat, tidaklah bisa disampaikan dengan baik dan dengan hasil yang maksimal tanpa adanya contoh dan praktek yang baik.
12. Menampilkan contoh yang disambil dari youtube merupakan cara yang baik, sehingga menanamkan persepsi bahwa materi yang ditampilkan melalui proyektor terlihat berkelanjutan dengan dikembangkannya melalui contoh yang tersedia pada youtube.
Berikut Skema Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Karakter Siswa.



KESIMPULAN
Strategi pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran dengan berbasiskan karakter peserta didik cukup prospektif. Hal ini dikarenakan keberadaan sumber belajar dan media pembelajaran selalu terdapat keterkaitan, bahkan tidak bisa dipisahkan dengan kondisi karakter peserta didik di kelas. Sehingga pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran yang baik harus terintegrasi dengan realitas peserta didik di kelas.
Pengembangan media pembelajaran menjadi penting, hal ini berdasarkan kondisi dan karakteristik siswa yang hendak diberikan pengetahuan lelalui kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru harus pandai-pandai dan mengetahui psikologi kondisi kelas dan siswanya, sehingga guru bisa memilih media yang elastis dengan kondisi yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
Aswan Zain dan Bahri Syaiful Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: RinekaCipta, 1997)
Arief. S. Sadiman, Media Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005)
Hadari Nawawi, Pendidikan dalam Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993)
https://www.liputan6.com/global/read/5051493/daftar-negara-dengan-pendidikan-terbaik-tahun-2022-ini-posisi-indonesia#:~:text=Negara%20Indonesia%20sendiri%20mendapatkan%20peringkat,peringkat%2055%20pada%20tahun%202020.
M. Syahran Jailani, Abdul Hamid. Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Karakter Peserta Didik (Ikhtiar optimalisasi Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Nadwa, Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 10, Nomor 2, Oktober 2016
Mukhtar dan Iskandar, Desain Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (Sebuah Orientasi Baru),(Jakarta: Gaung PersadaPress, 2010) 
Muhammad Attiyah Al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Terj. Bustami A. Gani dan Djohar Bahry, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974)
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2011)
Teni Nurrita. Pengembangan Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Misykat, Volume 03, Nomor 01, Juni 2018


Label: , , , , ,

Minggu, 27 Februari 2022

EPISTEMOLOGI PEMIKIRAN ISLAM ABID AL-JABIRI - Makalah dan Jurnal

Pemikiran Islam Abid Aljabiri

A. EPISTEMOLOGI PENDAHULUAN

Permasalahan pada peradaban Islam arab selama ini dianggap seperti permasalahan antara model paradikma barat dan paradikma kunol yang otentik dan mencakup semua aspek hidup. Banyak tokoh atau pemikir muslim yang menyuarakan seperti apa seharusnya kebangkitan Islam itu dimulai, mencari penyebab kemunduran Islam dan bagaimana seharusnya memulai pembaharuan dan kemajuan. 

Umat Muslim sejauh ini jika dilihat dalam menghadapi tantangan modernitas maka lebih cenderung pada jalan bersembunyi di balik justifikasi teks. Yang demikian ini membuat umat muslim cenderung pada tekstual dalam menjawab permasalahan zaman. 

Muhammed al-Jabiri merupakan filsuf muslim yang hadir dari maroko. al-Jabiri bagian dari pemikir terkemuka dalam pemikirannya tentang relevansi tradisi pada zaman yang maju atau modernis. Diantara pemikiran al-Jabiri ialah tentang modern itu sendiri, aljabiri begitu semangat dalam membangun epistem baru yang relevan dengan perkembangan zaman. Ia begitu tidak puas pada pembaharuan yang sudah ada, menurut al-Jabiri mereka begitu berlebihan  menyanjung pencapaian kejayaan islam dahulu sehingga lebih cenderung mengabaikan keadaan masyarakat pada zaman yang sudah modernis.

Menurut Muhammed Abid alJabiri tradisi bukan produk yang satu kali jadi, tradisi merupakan permasalahan sejarah yang berkembang di antara manusia, saling mengisi satu dengan lainnya, dan saling mengkritisi serta bahkan bisa saling menjatuhkan. Karena tradisi ialah sesuatu yang datang dan menyertai kehidupan kita, ia merupakan perkara yang hadir dari masa lalu kemudian menjadi hal yang diingat lalu melahirkan cara berfikir pada memori yang ada. Sehingga hal itu jadi pembentuk daya ingat yang kolektif dan bisa membatasi munculnya sikap ilmiah dan rasional terkait tradisi sendiri, pun juga memberi pandangan yang rasional padanya.

Abid al-Jabiri menguasai teori yang dibawa oleh Karl Marx. Akan tetapi dengan majunya pemikiran al jabiri dan juga setelah baca buku karyanya Yves Lacostee yang bersikap membandingkan terhadap pemikiran Ibn Khaldun dengan Karl Marx, al-Jabiri mulai ragu pada keefektifitasan pendekatan Marxian pada kontek sejaran pemikiran Islam.


B. BIOGRAFI MUHAMMAD ‘ABED AL-JABIRI

Al-Jabiri merupakan seorang yang memposisikan dirinya sebagai pemikir asal Maroko, ia pemikir islam dari sekian pemikir muslim modern yang punya kepedualian pada permasalahan tradisi dan modernism. Dia dikenal karena proyek dalam bentuk kritik nalar Arab dalam membangun kiritik pada pemikiran Arab-Islam. proyek utamanya ialah membangun ulang semangat kritiss dan rasiional dengan membukakan tentang lemahnya nalar kuno ketika menghadapi sekian modernism dan juga kegagalan-kegagalan cara berfikir modernis, yang khususnya pada bidang agama yang di akhirakhir ini malah menunjukkan keterpurukan atau mkemerosotan  dunia Islam secara keseluruhan.

Aljabiri lahir tepat 27 Desember 1935 di Maroko. Ia besar dan tumbuh dengan keluarga yang mendukung parti istiqlal, yakni partai yang berjuang untuk kemerdekaan Maroko yang diabawah koloni prancil dan juga spanyoll. Setelah maroko merdeka maka negara maroko mengenal dua bahasa resmi yaitu arab dan juga Perancis.

Gelar doctor ia dapat diuniversitas Muhammad V Rabat maroko di tahun 1970, dengan disertaisi yang bahas pemikiran Ibnu khaldun yaitu Fanatisme dan Negara: Elemen Teoritik Khaldunian dalam Sejarah Islam. Al-Jabiri banyak menyelesaikan pendidikannya dari0tingkat dasar sampai perguruan tinggi di tanah kelahirannya. 

Tugas atau proyek pembaharuan mendorong abid untuk terus menganalisa gambaran sosial politik dan terbentuknya nalar Arab Islam yang ada,al-jabiri sekaligus menganalisisa dengan dalam terkait mekanisme struktur cara kerja nalar Arab yang sering terjadi saling benturan dalam memperebutkan0hegemoni di tengah budaya Arab Islam.

Kritik nalar arab yang dilakukan aljabiri sebagai upaya untuk menghasilkan prodak teori yang dibentuk oleh kebudayaan yang menggambarkan keadaan realita dan ambisi pada masa depan. Sikap perhatiannya yang fokus pada cara berfikir atau pemikiran sebagai sebuah perangkat berfikir bukan hanya sebatas sebagai produk. Maka dengan demikian0wilayah dalam kritik yang dikembangkan sayapnya merupakan wilayah epistemologi.

Abid aljabiri mengawali kritiknya dengan menaruh nalar arab terlebih dahulu pada posisi yang sama dengan nalar yunani dan juga eropa. Ketiga nalar itupun memunyai kesamaan karakter, ketiga nalarnya dibangun dengan pemikiran atau teori yang bersifat rasional dan memberjelas pada hubungan antara tuhan, manusia dan alam semesta. Perbedaan ketiganya berada pada pemahaman tentang keberadaan tuhan itu sendiri.

Adapun konsep tuhan didalam nalar pemikiran yunani pada akal baru muncul setekah adanya alam. Sedangkan di pemikiran barat tidak ditemui onsep tentang tuhan. Akal secara universal yang di persepsi sebagai tuhan dalam nalar yunani justru dalam nalar barat diposisikan dengan hokum mutelak bagi akal manusia. 

Di dalam nalar pemikiran arab disebutkan bahwa alam memainkan peran sebagai petunjuk untuk manusia dalam menyingkap tuhan dan menjelaskan terkait hakikatnya sendiri. Akalbdiharapkan agar bisa merenungkan alam untuk bisa sampai pada penciptanya atau wushul kepada sang pencipta dan mengetahui betapa agungnya dan kuasanya tuhan. 

Terkait pengetahuan, pengetahuan itu sendiri sangat terikat dengan pengalaman pada akal yang ditangkap oleh panca indera dari sekian fakta atau realita yang telah terjadi. Sedangkan nalar arab tidak menampakkan epistemology yang berurutan. Epistemology naar arab berlombat-lompat dan sangat gampang pindah dari satu episteme kepada episteme yang lainnya.

Maka dengan demikian aljabiri mengusulkan pencatatan ulang pada sejaran pembangunan nalar arab. sejauh ini sejarah yang ada ditulis dan diajarkan di ekolah hanya sebatas sejara yang bersifat opini. Catatan sejarah sendiri yang sudah ada membiarkan keadaan ini dengan tumpang tindih karena itulah dibutuhkan penyusunan ulang sejarah keilmuan arab yang berorientasi pada nalar keilmuan.

Aljabiri menguslkan hal itu dengan tujuan agar titik tolak sejarahnya dalah era kodifikasi, yaitu dengan meletakkan era kodifikasi sebagai titik tolak sejarah. Aljabiri lalu membagi sejarah nalar arab menjadi tiga masa, yakni masa sebelum, selama dan setelah kodifikasi.

Semua yang diketahui pada era kofidifikasi dibentuk pada era kodifikasi an juga segala hal yang setelah era kodifikasi tida bisa difahami dnegan mengaitkan pada era odifikasi. Adapun benang merah yang merangkai sebagai gambaran dari ketiga nalar ara tersebut dan membentang sampai bentuk realitas keadaan yang umum dalam kebudayaan islam arab.

Dengan cara menelusuri pada apa yang disebut dengan benang merah inilah aljabiri kemudia menemukan yang disebut dengan bayani, irfani dan burhani. Ketiga pengetahuan ini memang terlihat tumpang-tindih, namun dengan kita uraikan latar belakang epistemologinya maka tiga system pengetahuan ini bisa dilacak dengan epistemologinya dalam kebudayaan arab pada masa yang begitu jauh sebelum era kodifikasi sendiri. Masa itu ialah era kodifikasi kuno. Kebudayaan arab kuno itulah yang kemudian menjadi pondasi dasar dalam mengembangkan keilmuan pada masa kodifikasi.


C. TRILOGI NALAR ALJABIRI 

Definisi epistimologi menurut AlJabiri sendiri ialah sejumlah konsep dan prinsip dasar beserta aktivitas dalam upaya untuk mendapatkan pengetahuan di suatu era historis tertentu, yakni struktur bawah sadarnya. Abid al-jabiri berusaha untuk mengenalkan pemikirannya sebagai system atau lebih tepatnya sebagai epistemelogi yang berada pada nalar bayani, rfani dan burhani.

Pengetahuan pada ranah pemikiran islam saat dihadapkan dengan tradisi maka tidak akan diperoleh tanpa menggunakan paradigm yang utuh yang sifatnya objektif, kritis dan rasional. Maka dibutuhkan merode yang dapat digunakan untuk batu loncatan sebagai sarana berfikir yang kritis dan objektif. Metode structural menganggap hal itu sesuai berdasarkan sifatnya yang terikat dengan suatu system beserta pemisahannya dengan objek pembaca maupun konteksnya sendiri. Lalu agar dapat menghasilkan instrument yang baik dan sempurna dengan tujuan bisa menyesuaikan antara tradisi dan masa sekarang maka metode yang sifatnya rasional diadopsi dan dikombinasikan dengan tujuan dapat menghasilkan cara berfikir yang utuh0dan saling melengkapi.

Wacana pembacaan pada tradisi dalam pemikiran arab islam itu ada tiga pembacaan yang berbeda-beda. Ketiga pembacaan itu ialah syarat untuk bisa membuka konteks dan maknanya. Adapun yang pertama ialah pembacaan yang fundamentalis. Konsep ini melihat sejarah sebagai suasana yang dikembangkan pada masa sekarang. Fundamentalisme memposisikan spiritual sebagai penggerak sejarah dan fakto yang lain diposisikan yang tergantung pada spiritual. Pembacaan yang kedua ialah pembacaan yang liberal, yakni pembacaan ang lebih ke gaya pembacaan gaya eropa yang menjadi titip tumpu, konsepnya tradisi yang menjadikan anggapan masarakat arab yang liberal tentang tradisi islam arab berasal dari barat. Adapun pembacaan yang ketiga ialah marxisme, yakni rencana untuk melakukan pemulihan pada tradisi agar dapat menjadikan revolusi dan menjadikan pijakan yang kyuat untuk tradisi. Tapi pembacaan ini tidak menggunakan metode dialek untuk metode yang akan dipakai, melainkan sebatas metode yang sudah digunakan.

Abid memperoleh tiga pembacaan itu saling memiliki kelemahan yang mudah disalahkan. Hal itu dikarenakan adanya kelemahan yang melingkupidalam metode dan visinya. Menurut aljabiri metode yang dipakai itu kurang objektiv dan visi yang digunakan punya kekurangan dalam segi historis. Terkhusus pada pembacaan maxisme yang hanya bisa membuktikan kehebatan metode itu sendiri, ini merupakan alasan mengapa mpembacaan hapir tidak seproduktif sama sekali menurut pemikiran aljabiri.

Semua pemikiran arab modern ditandai dengan adanya kekurangan sikap objektivitas serta perspektif dari segi historis. Dengan demikian menjadikan pemikiran arab sendiri tidak bisa menawarkan apapun dari tradisi kecuali hanya pembacaan yang sifatnya fundamentalis dalam menyikapi masa dahulu dengan sesuatu yang bersifat transenden dan sakral, dengan terus berusaha mencarikan solusi di dalam persoalan tradisi yang ada dan persoalan kekinian yakni persoalan yang ada pada masa kini dan juga masa depan. Perihal yang seperti ini juga berlaku dalam pemikiran madzhab dan juga merujuk pada pandangan yang menghubungkan dengan masa lalu ataupun model yang berdasar pada masa lalu. Maka dengan demikian abid menawarkan sebuah analisa yang begitu cermat dan bersifat kritis yang begitu dalam sebelum abid mengusulkan pembaharuan dan modernisasi nalar arap sendiri.

Dalam proses upaya memberi sebuah argument beserta mengungkapkan kritik nalar arab, aljabiri memakai tipologi tradisi bayani, irtfani dan burhani. Abid menyerukan agar membangun epistemology nalar arab dengan tiga metodologi pemikiran di atas.


Epistem Bayani

Epistem bayani merupakan model atau metodologi dalam berfikir yang berdasar pada teks, teks suci yang memiliki kekuasaan penuh untuk memberikan arah beserta kebenaran. Sedangkan rasio hanyalah sebatas berfungsi sebagai pembuka jalan atau pengawal bagi teramankannya kekuasaan ataupun otoritas dari teks tersebut.

Dalam jurnal alhikmah, yakni jurnal theosofi dan peradaban islam dijelaskan bahwa secara bahasa bayani berarti penjelasan. Berdasarkan beberapa makna aljabiri mengartikan bayani sebagai alfashl dan juga infishal yang dalam keterkaitannya dengan metodologi adan adduhur wal idhar berkaitan dengan visi daripada metode bayani sendiri.

Cara fikir bayani lebih mendahulukan analogi atau dikenal dengan qiyas meyerupaan dari pada logika ataupun mantiq yang melalui silogisme dan premis logika. Dalam tradisi bayani sendidi spistemologi tekstual pembahasan lebih dutamakan dari pada epistemology kontekstual analisa maupun spiritual genosis batiniyah. Kemudian disamping itu nalar epistemology bayani selalu bersikap curiga pada akal karena menganggap hal itu akan menjauhi kebenaran tekstual.

Sikap kecurigaan tersebut sampai pada titik kesimpulan bahwa wilayah kerja akal itu perlu untuk dibatasi sedemikian rupa dan peranna dialihkan menjadi pengatus dan pengekang hawa nafsu. Bukan untuk mencari sebab dan musabbab melalui analisa keilmuan yang akurat.

Dunia ialah wilayah yang berpisah atau entitas konkrit yang terbang bebas, dunia taka da kaitannya dengan apapun antara mereka kecuali dengan melalui kehendak tuhan semesta alam. Mudahnya jika si A terkait dengan B maka hubungannya itu menjadi tidak ilmiah, akan tetapi karena tuhan memang menghendakinya demikian. Teori yang atomisme berarti juga menyangkal terhadap hokum kausalitas atau sebab musabbab, yakni sebagai akibat dari penerimaan terhada prinsip serba bolehnya. Hal ini karena segala sesuatu berasal dari tuhan dank arena kehendak tuhan serta tidak ada satupun yang bisa membatasi kekuasaannya yang bisa membatasi. Maka secara logika saja kemungkinan untuk mengakui bahwa tuhan bisa saja mengumpulkan antara dua hal yang kontradiktif, seperti mempertemukan antara kertas dengan api tanpa melalui proses pembaaran kepada kertas terlebih dahulu.

Karena itu dalam peradaban islam diskusi seputar kajian bayani dikelompokkan menjadi dua kelompok, kelompok pertama terkait dengan aturan dalam menafsirkan wacana, sedangkan kelompok kedua terkait dengan syarat memproduksi wacana, tradisi untuk menafsirkan wacana tersebut sudah muncuk sejak zaman Nabi. Yakni ketika para sahabat hendak meminta penjelasan terkait makna lafadz yang terdapat dalam alquran, atau setidaknya sejak zaman khulafaurrasyidin yang mana banyak umat muslim yang bertanya kepada para sahabat tentang penjelasan makna ayat yang ada dalam alquran yang tidak difahami oleh salah satu orang.


Epistem Irfani

Irfani ialah lanjutan dari bapa bayani, hanya saja kedua pengetahuan tersebut berbeda satu sama lain. Bayani bendasari pengetahuan berpijak pada teks, dan irfani mendasari pengetahuannya pada kasy yakni tersingkapnya rahasia-rahasia tentang tuhan.. karena itu kemudian irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa terhadap teks, tetapi dari nurani hati yang bersih dan suci. Sehingga tuhan menyingkap sebuahpengetahuan.

Irfani bekerja dengan proses pemahaman yang berangkat dari makna tejs menuju lafadz teks. Permasalahannya adalah bagaimana cara mengungkapkan makna atau dimensi batin yang diperoleh dari prose kasf itu sendiri. Aljabiri mengungkapkan bahwa makna tersebut bisa diungkap dengan menggunakan cara yang disebut dengan qiyas irfani. Yakni analogi makna batin yang diungkapkan dalam kasf pada makna dzahir yang terdapat dalam teks.

Dari kalangan mereka, yakni irfanidalam dunia islam menjadikan istilah dzahir dan bathin sebagai sebuah konsep yang menjadi landasan cara berfikir dalam memandang dunia dan mempelakukan segala sesuatu. System berfikir yang mereka gunakan ialah berangkat dari yang bathin menuju yang dhahir. Dari makna menuju lafzd. Bathin bagi mereka merupakan sumber pengetahuan dikarenakan bathin merupakan hakikat sedangkan dzahir teks adalah penyinar saja.


Epistem Burhani

Burhani merupakan model metodologi dalam berfikir yang tidak berdasar atas teks ataupun pengalaman, tapi atas dasar keruntutan cara berfikir. Pada tahap tertentu keberadaan teks yang suci dan pengalaman spiritual bahkan hanya sebatas bisa diterima jika hal itu sesuai dengan aturan yang logis atau masuk akal.

Epistemologi burhani adalah episteme yang bersumber dari  realitas atau al-waqiiyah baik realitas alam dan social ataupun realitas humanitas mdan juga realitas agama. Ilmu yang muncul dari tradisi burhani disebut dengan al-ilm al huṣuli, yaitu ilmu yang dikonsep dan disusun serta disistematisasi melalui premis logika.

Adapun pondasi epistemology burhani itu dibangun oleh ilmuwan yakni alkindi. Menurutnya ada dua macam pengetahuan, yang pertama ialah pengetahuan para rosul yang didapatkan melalui ilham dan juga risalah kenabian. Yang kedua pengetahuan manuasia umum yang diperoleh dari usaha penalaran dan inderawinya. Menurut alkindi alam bersifat baru. Allah menciptakan alam dari ketiadaan dan tanpa elantara. Menurutnya akal dan indera dapat digunakan untuk mengonstruksi pengetahuan tentang alam.

Pandangan alkindi inilah yang kemudian0dikembangkan oleh alfarobi. Akal manusia sangat cukup mempunyai kekuatan dengan mengandalkan pribadinya sendiri. Akal tidak membutuhkan sumber yang dijadikan tempat kembali bagi perkara dan kondisi yang baru melalui analogi, dan juga tidak butuh pada ilham ataupun guru yang kemudian mentransfer pengetahuan. Di dalam  akal sudah terdapat asumsi dasar yang menjadi landasan bagi ilmu yang menjadikannya titik awal dan titik tolak dalam proses argumentasi dengan menyusun konsep qiyas burhani. Prinsip umum yang mengarahkan proses burhani adalah prinsip kausalitas atau sebab akibat.


KESIMPULAN

Mehammed aljabiri ialah filsuf yang juga sekaligus pemikir arab yang hidup dalam masa ranionalisme dan demokratis tidak lagi dihargai. Bahkan aljabiri sendiri dilecehkan oleh bangsa arab sendiri kala itu.

Aljabiri dalam mengkaji ataupun mengkritisi sebuah tradisi menggunakan pendekatan historis, objektif dan juga kontinuitas. Historis dan0objektivitas sama sama dalam arti pemisalahanantara si pebaca dan bjek bacaannya. Sedangkan kontinuitas menghubungkan sang pembaca dengan objek bacaannya yang kemudian kebenaran pengetahuan bisa divalidasi melalui episteme nalar bayani, irfani dan burhani.

Pemikiran abid aljabiri ini telah0memberikan banyak warna tersendiri dalam pembaharuan pemikiran islam. Kritik yang ditawarkan aljabiri membukan jalan yang lebar pada dunia islam terkait bangunan nalar-nalar epistemic yang selama hidup ditengah peradaban islam. Menurut aljabiri kesadaran itu palsu sebab secara teoritis menolak barat dengan semua modernitasnya. Tapi disisi yang lain dalam realitanya tida bisa melepaskan diri dari peradaban arab yang sudah berkembang dan mempengaruhinya.

Aljabiri menggemukakan bahwa sikap umat islam saat ini pada tradisinya sendiri harus memulai dari tradisi demonstrative yang bersifat harus rasional seperti halnya yang telah dikembangkan oleh tokoh pemikir islam yang ada di wilayah barat seperti ibnu hazm dan juga ibnu rusy dan ibnu kahldun. Model epistemology yang dikembangkan oleh mereka ialah rasional dan empiris, sebab sifatnya ilmiah. Model episteme inilah yang kemudian memiliki daya lawan dalam menghadapu tantangan internal dan eksternal.


DAFTAR PUSTAKA

Nurfitriyani Hayati, Epistemologi Pemikiran Islam Abed Al-Jabiri dan Implikasinya Bagi Pemikiran Keislaman,Journal Of Islamic & Studies, Vol. 3 No. 1  Januari-Juni 2017 

Ahmad Baso, Muhammad Abid Al-Jabiri,  Post-tradisionalisme Islam, penj. (Yogyakarta: LkiS, 2000)

Achmad Bahrur Rozi, Menimbang Gagasan Epistemologi Islam Al-Jabiri Sebagai Solusi Kebangkitan Islam Modern, Empirisme, Vol. 27 No. 2 Juli 2018 | 73-86

Muhammad  Abed  al-Jabiri,  Kritik  Pemikiran Islam; Wacana Baru Filsafat Islam, penj. Burhan (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002)

M. Aunul Abied Shah (et. al), Islam Garda Depan: Mosaik Pemikiran Islam Timur Tengah (Bandung: Penerbit Mizan, 2001),

M. Faisol, Struktur Nalar Arab-Islam Menurut Muhammad Abid al-Jabiri, Jurnal Tsaqafah, Vol. 6, No. 2, Oktober 2010

Mahir Badul Qadir Muhamad, Falsafah al-Ulum, Ru’yah Arabiyah: al-Madkhal al Nazhari (Aleksandria: Dar al-Ma’rifah al-Jami’iyah, 1999)

Bagus Mustakim, Pemikiran Islam Muhammad Abed Al-Jabiri: Latar Belakang, Konsep Epistemologi, Urgensitas Dan Relevansinya Bagi Pembaruan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, Journal Of Research And Thought Of Islamic Education Vol. 2, No. 2, 2019

Arini Izzati Khairina, “Kritik Epistemologi Nalar Arab Muhammad Abed Al-Jabiri”, El-Wasathiya: Jurnal Studi Agama, Vol. 4, No. 1, 2016, h. 105-116.

Nurliana Damanik, jurnal al-hikmah (jurnal theosofi dan peradaban islam), Vol. 1 No. 2 Juni-November 2019 e-ISSN : 2655-8785

M. Amin Abdullah, “at-Ta’wil al-‘Ilmi: Ke Arah Perubahan Paradigma Penafsiran Kitab Suci,” dalam Jurnal al_Jami’ah, Journal of Islamic Studies, Vol. 39, No. 02 (2001)

A. Khudori Sholeh (ed.), “Model Epistemologi Islam Al-Jabiri dalam Pemikiran Islam Kontemporer (Yogyakarta: Jendela, 2003)

Al-Jabiri, Bunyat al-Aql

Mohammad Abed Al-Jabiri, Formasi Nalar Arab; Kritik Tradisi Menuju Pembebasan dan Pluralisme Wacana Intereligius, 













Label: , , , , , , , ,

Selasa, 22 Februari 2022

Dikotomi Ilmu

Dikotomi Ilmu
Menurut Sayyed Hossein Nasr dalam konsep tauhid, ilmu bersifat menyeluruh. Tidak ada pembagian ilmu menjadi ilmu agama dan ilmu umum (dikotomi ilmu). Karena kedua keilmuan itu sama-sama ikut dalam berkontribusi memperkuat iman manusia. Ilmu agama memperkuat keimanan melalui wahyu, sementara ilmu umum melalui kajian ilmu humanitas dan alam secara sistematik dan seksama. 

Fethullah Gulen juga tidak sepakat dengan adanya dikotomi ilmu, sehingga dia berpendapat bahwa filsafat pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang holistik dan tidak terpisah antara ilmu agama dan ilmu umum yang bertujuan untuk memperkaya pemikiran spiritual dan kritis baik bagi laki-laki dan perempuan. Kenapa demikian?, Karena ketika ilmu diberikan sekat atau dipisah menjadi dua kelompok, yakni antara ilmu agama dan ilmu umum, menurut Gulen justru merupakan suatu pandangan yang tidak menyeluruh atas ilmu Allah. Karena pada dasarnya seluruh ilmu yang ada itu satu kesatuan dan dari satu sumber, yakni dari Allah. Gulen sadar akan pentingnya menguasai ilmu pada bidang sains. 

Menurut gulen tidak ada pemisah antara kebenaran spiritual dan sains, karena itu menurutnya tidak ada ketidakcocokan antara prinsip-prinsip Islam dan metodologi saintifik. Sehingga dalam filsafat ilmu ada beberapa filsuf yang berusaha memadukan dan memerangi nalar pikir yang mengelompokkan ilmu dalam dua bagian (agama dan umum). Mereka berupaya merawatnya dengan cara mengislamisasi ilmu, bukan berarti ilmu dibedakan dalam kategori Islam dan non Islam, hanya saja agar ada pengikat dari keduanya atau proses menuju bentuk asal, sehingga ilmu umum adalah bagian dari ilmu agama itu sendiri, karena memang ilmu itu bersumber dari satu sumber, hal ini sebagaimana pandangan Seyyed Hossein Nasr dalam konsep tauhid di atas.

Islamisasi ilmu pengetahuan ini diterangkan secara jelas oleh al-Attas, yaitu suatu pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis dan animistis, atau proses pembebasan manusia dari kultur nasional yang bertentangan dengan Islam, Islamisasi adalah suatu proses menuju pada bentuk asal. Secara umum, Islamisasi ilmu pengetahuan sendiri dimaksudkan untuk memberikan respon yang positif pada realitas ilmu pengetahuan modern yang bersifat sekuler dalam model pengetahuan baru yang utuh dan bersifat integral tanpa adanya pemisahan.

Menurut Ismail Raji Al-Faruqi dengan adanya dikotomi ilmu justru membuat umat Islam seakan berada di persimpangan jalan. Membuat sulit untuk menentukan pilihan arah yang tepat. Sehingga membuat umat Islam terkesan mengambil sikap mendua, antara tradisi keislaman dan nilai-nilai peradaban Barat. Pandangan dualisme yang seperti ini justru menjadi penyebab dari kemunduran yang dialami umat Islam.


By: Muhammad Zaironi, Santri Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang.

FB: Muhammad Zaironi. https://www.facebook.com/profile.php?id=100008292301957

Fanspage FB: Muhammad Zaironi

IG: Muhammad Zaironi. www.instagram.com/muhammadzaironi

Blogger: santrimenulis.com

Label: , , ,