Kamis, 26 Januari 2023

Merefleksi diri untuk selalu introspeksi diri

 


Pendidikan sangatlah penting untuk eksistensi manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk komunikasi dengan Tuhannya ataupun dengan sesame manusia. Diatara fungsi belajar dan pengetahuan tidak lain adalah untuk memperhalus prilaku, memperindah sikap dan mempertajam rasa kepekaan terhadap kehidupan, baik dengan manusia atau lingkungan lainnya.

Bagaimanapun derajat manusia di dunia, pengetahuan mengajarkan untuk tetap rendah hati, andab asor, tidak mengangkat kepala dan dadanya ataupun dengan nada-nada yang mengindikasikan sikap sombong. Pendidikan, pengetahuan dan sejenisnya mengecam keras sikap-sikap yang demikian, apalagi sampai merendahkan dan tidak menghargai dan menghormati orang lain. Karena sejatinya manusia yang disebut dengan makhluk sosial tidaklah bisa hidup dengan baik, harmonis dan tentram tanpa keterlibadan dan saling tolong menolong dengan manusia lainnya. Disinilah diantara maksud ayat “dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan” ataupun ayat surat Al Hujurat ayat 13 berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Orang yang terlahir biasa saja akan berkata demikian "Menjadi pribadi yang dilahirkan dipelosok desa yang jauh dari perkotaan, lebih-lebih lingkungan tempat lahirnya adalah di lereng pegunungan membuat pribadi manusia lebih sadar diri, tidak mudah tersinggung dan pekerja keras untuk mengubah kondisi ekonominya yang pas-pasan. Hal yang demikian ini membuat sadar diri bahwa aku hanyalah pemuda yang lahir di desa, fisik dan rupa biasa saja, harta juga tidak punya dan bukan orang yang berpunya, ilmu dan pengetahuan juga tidak seberapa, dengan ini mungkin memang pantas jika selalu dipandang sebelah mata, menjadi maklum jika tidak dihargai dan dihormati, lebih-lebih sulit diterima oleh orang yang secara ekonomi dst lebih dari diri ini."

Dalam pribahasa disebutkan demikian "Aku memang tidak minta dihormati dan dihargai, tapi aku tau cara menghormati dan menghargai orang lain. Sebagai orang yang biasa saja dalam aspek apapun tentu aku lebih sadar diri dan berfikir 100x untuk melangkah pada tahap apa yang lebih di atas aku. Namun demikian aku bukanlah pengecut yang mudah tumbang dan putus asa, karena aku punya komitmen dan prinsip yang tidak mudah dilantakkan oleh orang lain."

Menjadi orang penyabar memanglah sangat amat indah untuk menikmati setiap tahapan dan langkah dalam hidup, hidup lebih tentram dan tenang tatkala selalu sabar dan mengutamakan prasangka baik terkait apapun yang terjadi dalam lintas kehidupan ini. Tapi, akankah sabar yang terus dipupuk dan dipertahanan itu akan terus bertahan dan semakin membaik kualitas sabarnya, atau justru ada celah-celah yang membuat sabar itu lantak dan menghardik apa yang sedang disabari.? Sabar itu selalu dibutuhkan tapi tegas dengan santun tetap harus ditampakkan. Disinilah celah yang membedakan antara sabar dan tidak sabar, sabar tidak selalu tentang diam, menerima apapun yang terjadi tanpa usaha lebih baik dan evaluasi diri. karena sabar adalah terus memperbaiki dan berbenah diri, evalusi diri untuk meningkatkan kualitas diri dihadapan Allah melalui iman, islam dan ihsah serta amal yang tidak cacat dengan dosa.

Terkait dengan ikatan interaksi dengan sesama manusia terbagi menjadi dua hal, pertama dengan tetangga, kedua dengan keluarga.

Menjaga keharmonisan dengan tetangga tidaklah rumit dan sulit jika kita mengetahui betul kultur dan sikap manusia di tempat itu pada umumnya dan kita tau cara bersikap dengan adaptasi dan mengelastisitas diri dengan lingkungannya. Namun tidak dengan kehidupan dalam keluarga, kalaupun komunitasnya lebih sedikit jumlah individunya, namun disitulah permasalahan lebih mudah merongrong keharmonisan di dalamnya. Komunikasi, sikap pemaaf, menghargai perbedaan, mengalah dan saling berusaha menjaga ikatan sakralnya merupakan hal yang harus selalu dirawat dan dipertahankan.

Komunikasi menjadi penentu hidup tidaknya suatu hubungan, karena dengan komunikasi kualitas hubungan lebih tampak subur dan berbunga-bunga, tentu harus diimbangi dengan sikap komitmen yang tinggi, pemaaf, saling menghargai dan menyayangi dst.

Orang yang sudah terbiasa hidup dalam kondisi biasa saja, lebih mudah beradaptasi dengan orang yang lebih tinggi derajat ekonominya. Artinya dia lebih mudah tau cara bersikap dan menghormati orang lain dengan kebiasaan yang ditanamkan oleh orang tuanya sejak di desa. Melihat kehidupan di desa lebih inten dengan tetangga dalam bercakap-cakap dan interaksi lainnya yang di situ terdapat penanaman adab yang tinggi kepada anaknya. Bagaimana cara bersikap kepada yang lebih tua, cara bertetangga yang baik dan seterusnya.

Aku pernah mendengar bahwa yang biasa tidak menghormati orang lain kelak akan tidak dihormati pula orang orang lain. Begitu juga dengan sikap negatif lainnya yang seharusnya tidak dilakukan. Menyakiti manusia baik secara fisik ataupun peraaan merupakan perbuatan dzolim yang harus dimintai maaf atas sikapnya. Kita tau bahwa kesalahan kepada sesama manusia lebih berat hisabnya dari pada kesalahan dengan Allah yang mana Allah maha pengampun.

Marilah kita terus berbenah diri, tidak mengharap dihormati oleh banyak orang tapi kita harus tau cara mebghormati dan menghargai orang lain sekalipu kita tidak dihormati balik.

Marilah kita menjadi penyabar tapi tidak diam ditempat melainka terus berupaya melakukan perbaikan dan evaluasi diri untuk lebih baik lagi dalam hal apapun, entah ibadah ataupun nilai ekonomi, sikap, akhlak dan lainnya.

Marilah kita perupaya tidak bersikap yang bisa menyakiti orang lain, karena dengan kita menyakiti orang lain nilai kualitas kita sebenarnya telah turun dan akan terus terdegradasi.

Cintailah orang yang mencintai kita, cintailah orang yang kita pilih, cintailah kedua orang tua kita, guru kita. Balaslah cinta itu dengan cinta juga. Mari kita terus tingkatkan taat kita kepada Allah dan hindari sikap-sikap yang mengindikasikan pada sikap durhka kepada orang tua, lebih lebih kita yang sudah belajar tentang apa itu baktikepada orang tua yang telah merawat kita sejak kecil hingga besar demikian.

Menerima apa yang menurut kita bukan pilihan dan kemauan kita belum tentu akan memberatkan kita dan mensulitkan kita untuk bahagia sesuai persepsi dan takaran kita. Bisa jadi itulah jalan bahagia yang sesunbgguhnya untuk kehidupan selanjutnya dan berikutnya. Karena yang tidak kita sukai belum tentu tidak baik, bisa jadi itulah yang terbaik bagi kita.

Ikhlas dan ridho atas apa yang terjadi adalah sikap yang baik. Marilah kita terseyum tanpa dimintai senyum dan berpura-pura tersenyum. Sikap hipokrit tidaklah baik untuk kehidupan.


Label: , , , ,

Rabu, 21 September 2022

Cinta Itu Anugerah

Tunangan


Senin, 19 September 2022 usai melaksanakan sholat magrib, aku hanya duduk santai di depan laptop. Enggan membuka catatan tugas juga malas mengerjakannnya. Sekilas memua buku catatan mata kuliah selama perkuliahan dua pekan, membaca dan mengingat penjelasan dosen-dosen pengampu. Mereka semuanya sangat luas pengetahuannya dan telaten dalam menjelaskan materi. Menurut Prof Sutiah belajar itu memang harus lelah, Prof Djakfar dawuh tatkala kita niat untuk kuliah maka dihari kuliah yang telah ditentukan jadwalnya jangan menyediakan diri untuk melakukan aktifitas lainnya selain fokus kuliah. Menurut Prof Sani menjadi Profesor itu sangat mudah asalkan kita kompeten dan benar-benar istiqomah dalam belajar. Kendatipun demikian Prof Mujab dawuh bahwa untuk dapat banyak mengungkapkan luasnya pengetahuan tentu kita harus banyak terjun pada lautan pengetahuan itu dengan banyak membaca.

Dawuh para dosen yang mayoritas sudah menjadi guru besar atau profesor menjadi penyemangat bagi mahasiswa yang sedang menempuh perkuliahan, terlebih dosen yang sudah menjadi profesor dan senior. Mereka banyak menghabiskan waktunya untuk mengajar, membaca dan menulis. Tanpa terasa adzan Isyakpun berkumandang, laptop aku matikan dan kembali menaruh buku catatan ke tempatnya semula.

Seusai melaksanaan sholat isyak, aku kembali ke kantor untuk menelfon bapak dan emak (panggilan akrabku pada ibu), sudah dua minggu aku tidak mendengar suaranya, suara mereka menjadi penyemangat bagiku yang lebih mudah malas dan enggan mengerjakan tugas. Seperti biasa bapak yang ada di madura menyapa terlebih dahulu, membangun suasana indah dan penuh tawa, terlebih ketika bapak dan emak menanyakan tunanganku. Cong, gimana kabar tunanganmu, kamu gak whatsApp dia? gak nelfon dia? terus gimana kuliah kalian berdua, katany kuliahnya sama-sama hari kamis di kampus yang sama? Memangnya gak ketemu sama sekali ya? kalau bisa sambungin ke tunangannya cong, emak kangen. pinta emakku.

Mendengar banyak pertanyaan itu membuatku bingung yang mau menjawab, selain memang aku dan dia jarang whatsApp an juga tidak pernah telfonan. kita whatsApp an hanya antara asar dan setelah isyak, itupun kadang bisa dua hari sekali whatsApp annya. Apalagi menelfon, selama tunangan saja kita hanya dua kali telfon, pertama ketika dia di malang, mungkin karena dia lagi kangen ke aku ya, hehe. dia alasannya minta diceritain kisah-kisah nabi gitu, wkwkwk. Tentunya akupun keberatan jika menuliskan sejarah nabi, kemudian dia memilih dengan menelfon, ya meskipun sebentar rasanya cukup menyenangkan. Dalam percakapan itu seperti orang mau interview gitu, semangat tapi takut dan bingung mau ngomong apa. Namanya saja pertama telfonan sama tunangan yang dilatar belakangi tidak kenal lebih jauh, lebih tepatnya hanya tau sekilas, bertamu dan khitbah lalu lamaran. 

Selama proses sebelum lamaran aku memang tidak pernah mendengar suaranya kecuali ketika dia membukakan pintu rumahnya dan mempersilahkan aku, gur abdurrahman dan gus ulul untuk masuk ke ruang tamunya. waktu itu aku sedang dibawa kerumah dia oleh dua kiyai tersebut untuk diperkenalkan ke kedua orang tuanya. kurang-lebih waktu 1,5 jam aku hanya diam saja. tidak lebih dari empat kali bersuara, itupun karena ditanya oleh abahnya dia. hehehe

Sebelum aku menyambungkan VC aku, bapak dan emak. Terlebih dahulu aku menanyakan ke dia melalui pesan whatsApp apakah dibolehkan untuk menyambungkan tenfon ini, dia bertanya apakah video call mas? aku jawab iya, kebetulan aku bapak dan emak video call. Dia meminta waktu satu menit buat pasang kerudung. Tidak butuh waktu lama kemudian aku sambungkan ke nomor dia, dan ternyata dia bareng dengan ibunya. Suasana cakap-cakapan bukannya tambah kaku tapi tambah rame dan penuh canda tawa antara kedua orang tuaku dan ibunya. Apalagi ketika melihat ekspresi emakku yang malu, wkwkwk. Maklum, emak memang gitu orangnya. Padahal yang minta disambungin ke tunanganku ya emak sendiri, entah kenapa ketika sudah ditelfon malah malu yang mau bicara, kataku, ini calon menantunya loh mak. hehehe.

Kali ini aku lebih memilih diam, memperhatikan mereka berbincang-bingcang, sesekali tertawa dan senyum-senyum bersama. Melihat mereka tersenyum dan tertawa rasanya bahagia banget. Apalagi senyumnya dia, huh. khas banget, renyah kayak krupuk wkwkwk. iya, dalam perbincangan itu aku emang lebih banyak diam, yang banyak berbicara justru bapakku dan ibu mertua, saling tanya-tanya, sesekali bapak meledekin emak yang hanya diam dan malu. Tidak lupa ibunya dia mempersilahkan bapak dan emak untuk mampir kerumahnya ketika mengirim atau menjenguk adekku hilmi di pondok. Karena memang rumahnya dia dan tempat aku dan adekku nyantri sangat dekat dan dakalau dari rumah kebetlan satu arah.

Setelah perbincangan kurang lebih berjalan 20 menitan, kemudian abahnya dia tiba dari undangan, dan abahnya dialah yang kemudian berbincang-bincang dengan kami. seperti biasa perbincangan kedua orang tua selalu serius dan penuh jaga sikap. Meskipun tetap saja ada tawa yang pecah ditengah-tengah perbincangan. Aku yang ditanya sedang di mana, tentu bingung cara jawabnya, grogi gitu, ya namanya yang nanya calon mertua, hihihi. Kacong zaironi posisi sedang di mana, di pondoknnya apa di madura juga? Aku menjawab, bedeh e pondok ba (ada di pondok ba) ba di sini panggilan lain dari aba. Jadi ingat waktu mau pulang ketika lamaran, beliau berpesan, yang semangat belajarnya ya nak, hati-hati di jalan kalau berpseda motoran, apalagi kuliahnya kamu ke malang. Beliau berpesan sambil merangkulku, udah kayak ke anaknya sendiri gitu. hehehe.

Aku sebenarnya masih bingung banget, kadang bertanya-tanya. Orang sekelas beliau itu kira-kira indikator pertama dan kedua yang diutamakan dalam mencarikan pasangan buat anaknya satu-satunya itu apa ? karena aku sendiri sadar gitu, bahwa aku ini biasa saja, tidak pintar, akhlakku juga biasa banget, bahkan masih sering kurangajar, sebagai santri aku juga tidak pandai membaca dan memahami kitab, ngaji qur'anku juga biasa saja tidak seperti imam sudais dan muzammil. wajahku juga gini adanya hehe. Intinya aku jauh sekali dari kata istimewa dan menantu idaman. sangat amat jauh sekali. Apapun yang menjadi penilaian beliau kepadaku, yang jelas sebagai orang muslm kita harus terus belajar dan berbenah diri. cerdas dalm berfikir dan cerdas dalam berinteraksi sosial.

Setelah perbincangan lama antara bapakku dan beliau, akhirnya beliau menyampaikan bahwa insyaAllah bulan maulid ini mau bertamu ke rumah bersama umi. Aku yang kurang mengerti maksudnya, tentu ada hal yang mau dibahas bersama secara kekeluargaan. Bisa jadi membahas hari H aqdun nikah aku dan dia. wkwkwk. Setelah beliau menyampaikan keinginannya untuk bertamu itu, kemudian abah memberikan HP nya ke putrinya. 

Perbincangan kali ini antara aku, emak, bapak dan tunanganku. Aku tetap seperti sebelumnya, hanya banyak dia dan mengamati senyumnya tunanganku saja. lebih-lebih melihat orang tuaku yang bercanda dengan calon menantunya. wkwkw. Huh, bahagia banget melihat orang tua akrab sama calon menantunya dan, kayak ke anaknya sendiri gitu. Alhamdulillahnya lagi tunanganku juga gitu, bisa akrab sama bapak emakku. 

Alhamdulillah, malam itu bisa berbincang-bincang bersama dengan kedua keluarga, keluargaku (bapak dan emak) dan keluarganya ade, tunanganku (Abah dan umi). saling bersapa akrab, tertawa lepas dan senyum-senyum tanda suasananya asyik dan menyenangkan. Sebelum perbincangan diakhiri, tunanganku terlebih dahulu pamit undur diri, tidak lupa salamnya ditutup dengan senyum khasnya, renyah. sampai jumpa di kampus ya, mugi-mugi ketemu lagi. wkwkwk

Sampai jumpa ditulisan berikutnya, maaf tulisannya agak berantakan. Karena tiba-tiba dosen datang. hehehe


Label: , , ,

Minggu, 11 September 2022

Pentingnya Pendidikan




Manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan belum tau banyak hal soal kehidupan di dunia setelahnya. Bahkan dirinyapun belum tau hendak menjalani kehidupannya bagaimana dan akan bersama siapa dia hidup seterusnya. Seiring dengan tumbuh besarnya, sedikit demi sedikit pengetahuan mulai dia serap, entah mulai diajari untuk mengetahui nama bapaknya, nama ibunya, kakek, nenek dan nama-nama sesuatu yang setiap hari ia lihat. Dari sinilah kemudian menjadi salah-satu dalih bahwa pendidikan itu sangatlah penting. Bahkan disebutkan bahwa kewajiban menuntut ilmu itu sejak dalam buaian sampai ke liang lahat. Artinya, menuntut ilmu kewajibannya sepanjang hayat.
Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan. Artinya porsi keharusan untuk belajar dan porsi untuk sama-sama sukses dalam pendidikan itu sama baik laki-laki maupun perepuan. Laki-laki berhak belajar setinggi mungkin dan sampai jenjang pendidikan tertinggi, begitu jujga dengan perempuan. Bahkan akhir-akhir ini banyak dosen, profesor atau guru besar yang diraih oleh perempuan. Tidak sedikit juga mereka menduduki posisi strategis dalam keorganisasian.
Terlepas dari ilmu apa saja yang wajib dipelajari terlebih dahulu, yang jelas belajar ,enjadi keharusan bagi seluruh umat untuk membangun kehidupan yang baik dan cerdas. Hidup tanpa adanya pengetahuan merupakan kepahitan yang tiada akhirnya. terlebih dengan diddesaknya oleh perkembangan zaman yang terus berlangsung. Bahkan tidak jarang dan menjadi maklum ketika kurikulum pendidikan seringkali dievaluasi dan kemudian dilakukan sedikit perombakan menuju lebih baik untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Dikatakan bahwa diantara cara untuk mencerdaskan anak bangsa ialah dengan mendukung penuh kaum wanita untuk belajar dengan setinggi mungkin, sebaik mungkin dan dengan dukungan penuh dari keluarga dan kawan serta gurunya. Kenapa harus memberikan dukungan penuh dan wanita harus belajar dengan baik dan setinggi mungkin atau sampai ke jenjang pentitikan tertinggi? Di antara alasannya adalah dikarenakan kaum wanita akan menjadi ibu, dan ibu menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dengan inilah kemudian jika keilmuan ibu tersebut berkualitas, baik ilmu agama ataupun umumnya. Maka tentu pendidikan anaknya sejak kecil akan terjaga dan terarah. Seorang ibu menjadi orang yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan anak-anaknya. Karena itulah kemudian memberikan efek besar terhadap kehidupan anaknya selanjutnya. 
Terlepas dari alasan di atas, yang jelas belajar bagi umat manusia merupakan suatu kewajiban. Tentunya kewajiban ini tidak lain untuk kemaslahatan bersama dalam hidupnya. 

Label: , , ,

Sabtu, 20 Agustus 2022

Kesadaran

Sadar diri


Banyak manusia yang lupa pada eksistensi dirinya, dirinya itu siapa dan untuk apa, lantas harus bagaimana dan di mana. Manusia memang begitu, butuh waktu dan suasana untuk sadar, butuh nasehat untuk mengembalikan hati dan fikiran pada kondisi normal. Manusia memang begitu, selalu mudah lupa pada masa-masa sulit dan menyakitkan. Mudah acuh dan abai pada norma-norma etika terhadap Tuhan dan sesama. Manusia suka lupa pada siapa dia harus meminta dan bagaimana caranya berdoa, lebih suka menerima sampai lupa bagaimana agar dia juga bisa memberi tanpa dipinta. 

Manusia memang suka aneh, lebih banyak berbicara, bertanya, menjelaskan panjang lebar tanpa ditanya. Manusia memang suka acuh, malas belajar, bekerja, dan mengharap lebih pada sesama. Ini tidak baik dan tidak sehat. Seharusnya kamu itu sadar, muhasabah diri, malu dan maju untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Tidak banyak bertanya dan basa basi, tidak banyak meminta dan menerangkan banyak hal, menunggu ditanya baru berucap. Tidak banyak tingkah dan liar dalam bersikap.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Tidak banyak berbicara, mengirimkan banyak pesan dengan rentetan kata-kata yang tak berharga sama sekali, siang dan malam. Justru yang demikian menunjukkan betapa tidak berkualitasnya caramu dalam bersikap.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Lebih banyak belajar, membaca dan menulis, mempersiapkan diri dengan maksimal agar nanti tidak banyak hal yang dapat membuatmu malu di tengah-tengah masyarakat yang agamis dan idealis, cerdas, cermat dan kritis. Mereka lebih banyak pengalaman yang bisa saja melahirkan teori-teori hidup yang berharga dari pada dirimu yang masih saja terbang dengan sekian teori yang satup belum kamu buktikan dalam kehidupanmu.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Tetap menjadi orang yang asing dan tidak berusaha dekat dan akrab, kamu masih sekedar melihat dari kejauhan, belum melangkah lebih dekat kemudian dipersilahkan menetap, bersama selamanya tanpa ada kata pisah. 

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Sadar diri dengan hamparan ketidak tahuan alias bodoh, perbanyaklah muhasabah dan berdzikir agar dirimu semakin sadar pada tujuan hidup yang sebenarnya itu apa dan hatimu lebih mudah menerima nasehat dari banyak lisan dan keadaan, baik kondisi yang terkesan baik atau sebaliknya. Karena itu, tetaplah mensyukuri apapun itu keadaannya dan terus berbenah diri bagaimanapun kondisinya.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Lebih giat lagi bekerjanya, belajarnya, dan menabung untuk masa berikutnya, karena hidup tidak selalu tentang diberi dan meminta. Tapi berusaha mendapatkan sendiri, kemudian memberi tanpa mereka minta. Kepada siapapun itu tanpa membeda, memberi dan berbaik pekerti.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Banyak-banyak bersyukur dan lebih bersyukur lagi karena telah diberikan kesempatan belajar dengan baik, dikelilingi oleh orang-orang baik dan dikehendaki satu langkah maju untuk hidup dengan orang yang sangat baik. Baik agamanya, baik akhlaknya, baik nasabnya, banyak ilmunya dan cantik rupanya. 

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Jaga jarak, jaga sikap, jaga ucap, dan jaga pesan WhatsApp hingga nanti tibalah waktunya bai'at. Setelah itu, kamu berhak berbicara lebih dari yang semula hanya sepatah kata, berhak mengangkat kepala dan memandangnya dari yang semula hanya berani menunduk dan diam tanpa kata.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Sadar diri dan banyak bersyukur. Ingat, kamu dulu pernah berada di posisi paling dwon dan sangat menyakitkan. Malas makan, malas belajar, dan malas dengan segala apapun yang sebelumnya mengasikkan.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Perbanyaklah bersyukur, perbanyaklah bertaubat dan perbanyaklah berbuat baik. Ingat, umur tidak ada yang tau kapan masa aktifnya berakhir. Karena itu, gunakanlah waktumu dengan semaksimal mungkin, seakan-akan esok kamu telah tiada dari muka bumi ini. Masih banyak tempat yang harus kamu singgahi, baik buruknya nanti dimulai dan ditentukan dari kehidupanmu yang sekarang ini.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Jangan meminta dan mengharap kepada selain Allah, jangan meminta lebih dari apa yang mereka bisa beri. Tetaplah meminta dan mengharuskan banyak harap kepada Allah yang maha kaya, maka memberi, dan maha tau apa yang kita butuhkan. Tetaplah berdoa, bertaubat, beribadah dan belajar. 

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Kamu harus sadar bahwa dirimu tak lebih dari seorang pendosa, pemalas dan tak banyak bertaubat atas sekian banyak dosa-dosa yang telah kau lakukan, dimana-mana, entah berupa kata, ucap dan sikap.

Ya Allah, beri aku kemudahan untuk terus mensyukuri nikmatmu, menyadari sekian banyak kesalahanku, selalu bertaubat atas dosa-dosaku, senantiasa semangat bekerja dan semangat belajar. jauhkan aku dari sifat dan sikap meminta, banyak bertaya hal yang tidak penting, mengunjing, menggosip, menyakiti orang lain dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Ya Allah berilah aku kekuatan untuk selalu taat padamu, melaksanakan kewajiban-kewajibanku sebagai orang muslim dan menjauhi semua larangan yang ada. Ya Allah, jadikan aku orang yang dapat memberikan banyak manfaat untuk sesama, entah melalui pengetahuan yang telah engkau beri, ataupun melalui harta yang telah dan akan engkau beri setelah ini. Berilah aku umur yang seperti itu, umur yang barokah dan bermanfaat.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. 


Sabtu, 20 Agustus 2022.

Muhammad Zaironi

Label: , , , , , ,

Kamis, 18 Agustus 2022

Menjaga Harga Diri (Dignity atau self respect)



Harga diri (Dignity atau self respect) itu melekat sepenuhnya pada setiap manusia seumur hidupnya. Mungkin saja kekuasaan atau kesenjangan ekonomi dapat mendegradasi dignity seseorang, tapi sebenarnya sedikitpun self respect itu tidak akan bisa hilang dari pribadinya. Karena ia melekat sepenuhnya hingga penghujung nafas setiap manusia.

Di dalam Islam, terdapat tiga kata yang secara makna saling melengkapi dalam mewujudkan kemuliaan, kehormatan dan menjaga diri. Hal ini disebut dengan izzah (kemuliaan diri), muru’ah (menjaga kehormatan diri), dan iffah (menahan diri). 

Tiga kata di atas saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Kata Izzah juga bermakna kehormatan, keagungan, dan kekuatan. Izzah harus dimiliki dan harus ada dalam hati setiap manusia, Izzah bisa didapatkan dengan cara mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan muru’ah memiliki makna menjaga tingkah laku hingga tetap berada pada keadaan yang paling utama. Menurut Syekh Imam Mawardi dalam Adab ad-dunya waddin, muru’ah memiliki pengertian sebagai berikut:

المروءَة مراعاة الأحوال إلى أن تكون على أفضلها، حتَّى لا يظهر منها قبيحٌ عن قصد، ولا يتوجَّه إليها ذمٌّ باستحقاق  

Artinya, “Muru’ah adalah menjaga tingkah laku hingga tetap berada pada keadaan yang paling utama, supaya tidak melahirkan keburukan secara sengaja dan tidak berhak mendapat cacian.

Jadi, Muru'ah itu tatkala manusia menjaga sikap dan tingkah lakunya agar senantiasa berada dalam keadaan yang baik dan tidak melanggar aturan-aturan dalam islam. Sehingga dengan perbuatan di atas orang itu bisa menjga diri dari perbuatan yang kapan saja bisa membuahkan keburukan.

Sedangkan menurut Mausu’ah Fiqh al-Qulub, muru’ah adalah: “Mengerjakan segenap akhlak baik dan menjauhi segenap akhlak buruk; menerapkan semua hal yang akan menghiasi dan memperindah kepribadian, serta meninggalkan semua yang akan mengotori dan menodainya.”

Adapun makna 'iffah ialah sebuah kemampuan atau sikap manusia dalam menjaga dan menahan diri dari hawa nafsu. Menurut Ibnu Maskawaih dalam kitabnya Tahdzibul Akhlak, 'Iffah adalah suatu kemampuan yang dimiliki manusia untuk menahan diri dari dorongan hawa nafsunya. 'Iffah merupakan sebuah keutamaan yang dimiliki manusia ketika dirinya mampu mengendalikan syahwat dengan akal sehatnya. Dari sifat 'iffah inilah kemudian lahir akhlak yang mulia seperti sabar, qana'ah, jujur, adil, santun, dermawan, dan perilaku terpuji yang lain. 

Sifat 'iffah inilah yang kemudian membuat manusia menjadi mulia (izzah). Sifat Iffah seperti batas pembeda antara prilaku manusia dengan hewan, bagaimana tidak, andaikata manusia sudah tidak lagi memiliki sifat 'iffah, maka dia tidak ada bedanya dengan sifat-sifat hewan. Karena itulah, tatkala seseorang mampu memfungsikan sifat 'iffah-nya, dalam kehidupannya, maka berarti akal sehatnya masih bekerja dengan baik. 

Dengan tiga sifat di atas manusia bisa menjalani kehidupannya dengan penuh arti. Tidak asal bersikap, bertindak dan berbicara ataupun berkomentar. Dengan sifat di atas pula manusia akan bisa menjaga eksistensi sebagai manusia yang sebenarnya melalui ke iffahannya, yakni menjaga dirinya dari dorongan hawa nafsunya. Dan dengan sifat Izzahnya manusia akan terhormat.

Dengan demikian, maka orang yang memiliki harga diri adalah orang yang mampu menampilkan kemuliaan dirinya, yakni 'izzah, menjaga kehormatannya, yakni disebut dengan muru’ah, dan menahan diri dari dorongan hawa nafsu yang disebut dengan 'iffah. Iffah juga bermakna menahan diri dari setiap perbuatan maksiat dan segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT.

Dalam prakteknya, atau pengamalan 'iffah, maka 'iffah terbagi menjadi dua, yakni menjaga dan menahan diri dari syahwat syahwat perut, dan menahan diri dari syahwat kemaluan. Yang dimaksud dengan menahan diri dari syahwat perut ialah menahan diri agar tidak meminta-meminta kepada selain Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah QS Al-Baqarah: 273 berikut:

لِلۡفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحۡصِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ ضَرۡبٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِيمَٰهُمۡ لَا يَسۡ‍َٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ 

Artinya, “(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui" (QS Al-Baqarah: 273)

Sedangkan dalil yang menerangkan tentang menjaga diri dari syahwat kemaluan di antaranya ialah firman Allah pada surah an-Nur: 33 berikut:

وَلۡيَسۡتَعۡفِفِ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغۡنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ  

Artinya, “Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya” (QS an-Nur: 33). 

Hendaklah kita menjadi manusia yang hanya memusatkan permintaan kita kepada Allah melalu doa dan membuktikan keseriusan kita dalam mintanya dengan bekerja keras dan sekuat tenaga, sabar dalam menjalani kehidupan tamun tetap berusaha untuk bangkit dan menjadi lebih baik lagi baik dalahm hal ibadah kita ataupun baik dalam ekonimi. Sehingga keduanya ketka berjalan seiringan, maka hidup kita akan menjadi lebih baik lagi dalam menjalaninya sehari-hari. Rasulullah bersabda sebagai berikut:

مَا يَكُوْنُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ لاَ أَدَّخِرُهُ عَنْكُمْ، وَإِنَّهُ مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبّرِهُ اللهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ 

Artinya, “Kebaikan (harta) yang ada padaku tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta, Allah akan memelihara dan menjaganya. Siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta, Allah akan menjadikannya sabar. Siapa yang merasa cukup dengan Allah dari meminta kepada selain-Nya, Allah akan memberikan kecukupan kepadanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. al-Bukhari). 

Sifat Iffah sendiri menjadi sifat yang sangat potensial pada diri setiap manusia, karena itulah menusia harus mendapatkan pendidikan yang baik sehingga ia dapat membentengi dirinya dari perbuatan yang tidak baik dan terus bisa menjaga eksistensinya sebagai manusia dengan menjaga kemuliaan dan berbuat mulia. 'Iffah tidak bisa diraih hanya dengan mempelajari teori. 

Sifat 'Iffah bisa dimiliki oleh setia manusia dengan syarat orang tersebut mau dan berusaha untuk terus melatih diri dan juga melalui pendidikan jiwa, yakni dengan memperbanyak mengerjakan amalan yang baik.

Sifat Iffah adalah bagian dari tingkat tertinggi dari akhlak manusia, dan juga menjadi perantara manusia tersebut dicintai oleh Allah SWT. Kenapa sdemikian?, dikarenakan denga sifat Iffah inilah kemudian melahirkan banyak sifat mulia dan terpuji sebagaimaa yang disampaikan di atas. Sehingga jika sifat 'iffah dari manusia sudah hilang, maka akan memberikan banyak pengaruh yang negatif dalam dirinya. Diantara dampat terburuknya ialah dapat membawanya pada perbuatan maksiat yang kemudian ia tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan salah, baik dan buruk, dan mana yang halal dan haram dikarenakan akal sehatnya sudah tertutup oleh syahwat semata.

Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah untuk memiliki sifat 'iffah terdapat dalam kitab al-adzkar an-Nawawi, berikut bunyi doanya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ اْلهُدَى وَالتُّقَى وَاْلعَفَافَ وَاْلغِنَى 

Artinya, "Ya Allah aku mohon kepadamu petunjuk, takwa, iffah (pengendalian diri), dan kecukupan" (HR Muslim).

Dalam kitab al-adzkar an-Nawawi tersebut dijelaskan bahwa doa di atas hendaknya dibaca pada pagi hari. Di antara tujuannya ialah agar sejak pagi kita sudah bisa terjaga dari perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan kita kepada perbuatan maksiat yang menghasilkan dosa.

Sudah menjadi maklum dan masyhur bahwa semua manusia akan berusaha untuk mempertahankan harga dirinya, setiap manusa akan merasa menjadi wajib baginya untuk terus menjaga dan mempertahankan harga diri dengan harapan esistensi dalam hidupnya bisa berjalan dengan baik tanpa adanya tekanan dan kecanggungan dalam hidup bersosial. 

Di antara upaya untuk menjaga harga dirinya biasanya banyak orang bersikap dengan berupaya sekuat tenaga dan bekerja sekeras mungkin untuk mendapatkan banyak harta, dan mendapatkan pangkat jabatan. Semua ini dimaksudkan untuk menjaga harga dirinya dari kemiskinan dan meminta-minta. Hal ini menjadi baik tatkala niatnya semata-mata tetal Lillahi Ta’ala, karena memang dikehidupan sekarang yang serba instan, serba ber-uang, dan maka di atara cara untuk menghindarkan diri dari meminta-minta ialah dengan bekerja dengan semangat, dan mencari uang sebanyak mungkin. Allah SWT juga memerintahkan hambanya selain berdoa juga agar bekerja dengan baik, Allah tidak menyukai sikap hambanya yang pemalas dan putus asa.

Seperti yang kita tau seringkali kesenjangan sosial atau ekonomi menjadi pemicu manusia merasa rendah harga dirinya bagi yang miskin ekonomi dan mudah merendahkan karena merasa banyak harta. Hal yang demikian tidak dibenarkan dalam Islam, karena selain hidup ini memang tentag penghambaan kepada Allah dengan sepenuhnya dan setulusnya. Juga harta hanyalah sebatas harta jika tidak digunakan dengan baik dan dibuat untuk membantu sesame yang kemudian berbuah kebaikan bagi dirinya sendiri. 

Harta tetap harus dicari, bahkan islam tida pernah melarang hambanya untuk kaya raya, hal itu juga untuk menghindarkan dirinya dari meminta-minta dan agar hidupnya lebih khusuk dalam beribadah kepad Allah SWT. Bahkan kaum shufipun banyak yang kaya raya, karena yang dimaksud dengan shufi bukanlah orang yang tidak mau dengan harta sama sekali. Tetap mencari tapi merasa tidak memiliki tatkala sudah dimiliki sehingga adanya dunia tidak membuatnya menjauh dari Allah, dan tidak mengurangi ibadahnya. Justru sebaliknya.

Maka, dengan bermodalkan kekayaan harta yang dimilikinya, seseorang akan merasa bahwa harga dirinya semakin baik dan terjaga dari hinaan dengan dalih ekonomi dan terjaga martabatnya sehingga dirinya bisa dengan mudah bergaul dengan banyak manusia. Dalam hal ini hendaknya tetap harus diiringi dengan sikap tidak sombong dan tetap sadar bahwa harta yang dimilikinya semata-mata hanyalah titipan dari Allah SWT yang kapan saja bisa Allah ambil Kembali. Dengan demikian setiap nikmat sudah seharusnya selalu disyukuri, syukur dalam bentuk ucap dan perbuatan denga memperbanyak berbuat baik melalui harta yang dimilikinya, yakni dengan banyak membantu orang lain. 

Dalam Islam juga disampaikan agar umat manusia hendaknya menjaga harga diri dan rasa malu. Islam mempunyai lima perkara yang harus tetap dipertahankan oleh setiap manusia atau pemeluknya, yaitu: agama, jiwa, harta, keturunan, dan akal, Lima hal ini disebut dengan Maqhoshid Asy-Syari’ah yang harus selalu dijaga.

Islam sebagaimana yang disampaikan di atas, bahwa islam mengajarkan kepada umatnya agar di dalam menjalani kehidupannya hendaknya berlomba-lomba untuk mendapatkan derajat atau martabat yang tinggi, khususnya di hadapan Allah. Banyak konsep tentang derajat yang tinggi dalam Islam, misalnya dengan konsep menjadi orang yang beriman, menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah (muttaqien), dan menjadi orang yang sabar serta dan menjadi orang yang berilmu. Jika diperhatikan lebih mendalam lagi, kunci utamanya ialah dengan berilmu sebaik dan setinggi mungkin sehingga bisa menjalani kehidupannnya dengan baik sesuai dengan ketentuan dan asas-asal dalam kehidupan. Baik kehidupan dalam konteks hablun minAllah ataupun hablum minannas. 

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam A-Qur,an Surat Al Mujadalah ayat 11 berikut:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya, "Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadalah: 11)

Jagalah harga diri kita dengan tetap mempertahanan keimanan kita dan menjaga perbuatan kita dari hal-hal yang berakibat pada perbuatan buruk dan maksiat, baik maksiat kepada sesame manusia ataupun kepada Allah dengan meninggalkan kewajiban dan melanggar larangannya. Jadilah manusia yang dapat mempertahankan lima perkara di atas, yakni agama, jiwa, harta, keturunan, dan akal. Tetaplah menjaga eksistensi hidup kita dengan terus menjalankan kehidupan dengan memperhatikan tiga sifat ataupun sikap di atas, yakni izzah (kemuliaan diri), muru’ah (menjaga kehormatan diri), dan iffah (menahan diri).



REFERENSI/RUJUKAN

https://islam.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-pentingnya-menjaga-harga-diri-7mqZ1

Label: , , , , , , , ,

Minggu, 27 Februari 2022

Tiga hal yang harus dimiliki santri atau penuntut ilmu

Santri

Pada pembahasan sebelumnya penulis uraikan tiga sifat mulia yang harus dimiliki oleh guru, sehingga kenikmatan murid akan sempurna jika guru memiliki tiga sufat tersebut, tiga sifat tersebut ialah guru hatus memiliki sifat sabar, sifat tawadhu' dan Akhlaq yang terpuji. 

Pada kesempatan kali ini penulis akan uraikan tiga hal yang harus dimiliki setiap murid, santri atau pelajar, atau julukan lainnya bagi penuntut ilmu. tiga hal tersebut ialah Akal, Adab atau akhlak,  dan Pemahaman yang bagus.  Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Alghozali dalam kitab Ihya' Ulumiddin. yakni sebagai berikut:

وإذا جمع المتعلم ثلاثا، تمت النعمة بها على المعلم : العقل والأدب وحسن الفهم

Artinya "Dan apabila terkumpul pada diri seorang pelajar tiga hal, maka menjadi sempurna kenikmatan yang dirasakan oleh seorang guru, yakni akal, adab, dan pemahaman yang bagus."

1. Akal 

Setiap [pelajar hendaknya memiliki akal yang sehat, yakni yang bisa membedakan antara yang baik untuk diamalkan dan yang buruk untuk ditinggalkannya, dan juga bisa membedakan antara urusan duniawi yang tidak berharga dengan urusan akhirat yang sifatnya selamanya. Dengan akal yang sehat pelajar bisa menyerap ilmu dengan baik dan lancar. terlebih jika dia bagian dari orang-orang yang cerdas, orang yang cerdas dalam memahami ilmu punya kecepatan yang berbeda daripada yang biasa-biasa saja. bahkan cerdas menjadi  bagian dari enam syarat bagi pelajar, sebagaimana makolahnya sayyidina Ali bin Abi Thalib. 

Adapun kecerdasan sendiri bisa digolongkan menjadi dua bagian: 

Pertama Kecerdasan yang diberi oleh Allah SWT dengan berupa kemudahan dalam memahami pelajaran dan sangat mudah dalam menghafal apa yang diberikan oleh guru atau orang lain, dan dia juga mempunyai hafalan yang kuat, 

Kedua Kecerdasan yang dia dapat dengan usaha yang keras, yakni dengan rajin belajar dan giat menghafal serta tekun dalam disiplin ilmu.


2. Adab atau akhlak 

Adab atau akhlak disini ialah budi pekerti serta penghormatan seorang murid kepada gurunya, baik secara dhohir maupun bathin. Diantara akhlak seorang murid atau santri selain bersikap baik dengan bentuk penghormatan kepada gurunya seperti melaksanakan apa yang diperintahkan oleh gurunya dst, ialah menjaga prasangka buruk pada gurunya, atau menjaga gertakan atau bisikan hatinya pada gurunya. Hal ini untuk menjaga kemantaban hatinya pada sang guru. Dalam melaksanakan atau mentaati segala hal yang diminta dan  diperihtah oleh guru di sini selagi tidak menyalahi aturan dalam prinsip agama Islam. Jika misal guru memerintahkan untuk tidak solat atau mungkin mencuri, makal dalam hal ini murid atau santri harus menolaknya dengan tegas namun tetap dengan cara yang baik dan santun.

Adab atau akhlak adalah perilaku yang ideal yang hendaknya diaplikasikan setiap orang Islam, terlebih bagi kaum santri. Baik itu ketika berinteraksi dengan Allah (Taat pada perintah dan larangannya, seperti sholat lima waktu, puasa, zakat , haji daj juga meninggalkan segala bentu pekerjaan yang dilarang dst) dan juga bersosialisasi dengan sesama manusia. Adapun akhlak terbagi menjadi tiga, yaitu akhlak syariah, universal, dan akhlak lokal sebagaimana yang sudah disampaikan pada pembahasan tiga sifat mulia yang harus dimiliki guru.


3. Pemahaman yang bagus 

Pemahaman yang bagus memang harus dimiliki oleh setiap pelajar, meskipun tingkat pemahaman masing-masing orang jelas berbeda-beda setidaknya sedikit banyak pelajar bisa memahami apa yang sudah disampaikan oleh gurunya. Dengan mempunyai pemahaman yang bagus, maka pelajar akan lebih mudah dalam menerima ilmu, mudah dalam menyerap dan mengembangkan ilmu. dalam hal ini tentu tidak mudah dan intsan, diantara caranya yakni dengan cara bersemangat belajar, menghafal, dan mengajarkan ilmunya pada orang lain sebagai bentu menyebarkan ilmu Allah dan juga mengingat kembali ilmu yang didapatkan.

Label: , , , , , , , , , ,

Bersikap seperti ahli hadits dalam menerima berita

Menyikapi berita bohong

Setiap murid atau santri (Pelajar), sudah seharusnya mempunyai sifat dan sikap yang baik dalam bersosial sehari-hari. Pelajar yang baik ialah mereka yang mampu menjaga prilaku dan perkataannya serta hatinya dari perkara-perkara yang tidak baik, seperti halnya memukul, menendang, mencuri, melanggar perintah agama atau bahkan suka menyebarkan berita-berita palsu dan juga suka merasani atau menggosipi orang lain. Hal yang demikian ini sungguh amat tercela. 

Dengan perkembangan zaman yang begitu pesat, teknologi serba ada untuk kehidupan manusia, rasanya apapun bisa dilakukan dengan kecanggihan teknologi tersebut. Akhir-akhir ini sedang semaraknya dan gencar-gencarnya orang-orang yang berlomba-lomba membuat berita bohong dan juga ada yang dengan senang hati mengkonsumsinya bahkan disebar luaskan tanpa mencaari tahu terlebih dahulu kevalidtan dan kebenaran suatu berita yang diterimanya serta disebar luaskan olehnya. Terlebih apapun yang berbau agama, ataupun politik maka keduanya akan sangat mudah menjadi topik utama di sosial media, sehingga siapapun bisa membacanya dan dengan kemudahan untuk percaya tanpa mencoba mencari kebenaran suatu berita tersebut oang-orang langsung menyebar luakan tanpa berfikir dua kali. 

Anehnya, tidak sedikit yang menjadi korban orang-orang yang tertipu dengan suatu berita dan juga menjadi pengonsumi berita bohong ialah kaum santri, bahkan mereka juga yang ikut andil menyebar luaskan berita tersebut. Mereka menjadi lebih mudah percaya pada berita yang menurut mereka berita tersebut harus disebarkan agar teman-temannya juga menyetahui. Seharusnya sebagai kaum yang berilmu dan mengetahui dosa bagi orang yang membuat suatu kabar bohong atau menyebarkan kabar atau berita bohong, seharusnya lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi bacaan, berita dan semacamnya, termasuk juga harus lebih berhati-hati dalam menyebarluaskan berita tersebut.

Seorang pelajar, khususnya santri seharusnya dalam mensikapi suatu berita mencontoh bagaimana ulamak ahli hadits. Ulamak ahli hadits tidak mudah menerima dan percaya pada orang yang menyampaikan suatu hadits yang sampai padanya sehingga terbukti kebenarannya, mereka sangat hati-hati dalam menerima hadits, bahkan jika orang yang menyampaikan hadits itu pernah berbohong satu kali saja maka berita yang dibawanya termasuk hadits yang disampaikannya oleh ahli hadits kurang dipercaya dan itu menjadi kelemahan bagi hadits. karena sifat dan sikap orang yang membaca berita atau hadits, maka berpengaruh pada kualitas dan kebanaran beritanya tersebut.

Santri seharusnya juga bersikap demikian, bersikap layaknya cara ahli hadits dalam menerima hadits dari seseorang. Tidak akan percaya pada berita apapun dan ulamak siapapun yang menyampaikannya sampai terbukti kebenarannya. Dengan demikian santri sudah ikut andil dalam menepis berita bohong dan juga ikut andil dalam mengurangi skala besar tersebarnya berita bohong tersebut.

Hal-hal yang seperti ini menjadi harus lebih dihindari dan berhati-hati bagi santri dalam menerima suatu berita untuk dibacanya, apalagi sampai disebar luaskan. 

Berita bohong atau hoax biasanya dibuat dan disebar luaskan oleh akun atau situs-situs yang kurang kredibel dan tidak bertanggung jawab, dengan demikian diantara cara selain cara di atas untuk menghindari berita bohong atau hoax, maka bisa dengan cara berikut:

Pertama: Pembaca harus mencermati alamat situsnya terlebih dahulu, jika yang menyebarkan tersebut adalah situs-situs yang tidak bertanggung jawab dan validitas serta kredibilitasannya kurang, maka lebih baik hindari dan menghapus berita yang sampai pada dirinya baik di Wa, facebook, instagram dan media sosial lainnya. 

Kedua: Pembaca lebih-berhati-hati dengan bacaan yang sifatnya memprovokasi atau menyudutkan suatu kelompok, ormas atau menjelekkan individu orang lain. Media sosial menjadi senjata tajam dan cepat untuk menyebarakan berita bohong bagi orang lain, mengingat betapa banyaknya orang yang mudah menshare sebelum mensaring berita terlebih dahulu, seakan menjadi menyesal jika tidak ikut membagikan. padahal dengan ikut membagikan berita bohong itu dia sendiri juga termasuk orang yang menyebarkan berita bohong tanpa dia sadari, dan menyebarkan berita bohong itu doa besar.

Ketiga: Periksa fatka, yakni dengan memeriksa fakta yang aktual terkait suatu berita yang dibacanya. maka pembaca harus memperhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti Polri atau KPK? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat.

Keempat: Pembaca harus melihat siapa orang yang menyampaikan beritanya, karena kualitas berita yang dibawanya akan mempengaruhi pada kualitas berita yang dibawa itu sendiri. Baik dari segi kebenarannya serta yang lainnya.

Berita bohong atau hoax sangat berpotensi memecah belah antar saudara, kelompok atau ormas dan bahkan bisa mengakibatkan pertumbahan darah. Dengan demikian marilah kita bersama-sama menjauhkan diri dari golongan yang suka membuat dan menyebarkan berita bohong atau hoax, sehingga dengan kita tidak ikut andil dalam dua kegiatan tersebut (membuat dan menyebarkan berita bohong), maka sejatinya kita sudah ikut menghentikan menyebarnya berita bohong itu. Minimal mengurangi menyebarnya berita bohong itu pada orang-orang yang kita kenal. Sehingga kehidupan lebih damai dan tentram.


Label: , , , , , ,

Jumat, 25 Februari 2022

Tiga Sifat Mulia Yang Harus Dimiliki Guru


Guru sebagai pendidik harus memiliki sifat-sifat terpuji agar muridnya juga dapat mengambil pelajaran darinya dengan baik. Di lain sisi dikarenakan guru itu disebutkan ditiru dan digugu sehingga apapun yang nampak dalam sifat dan perilaku guru sangat memungkinkan akan murid ikuti sebagai contoh. dengan demikian guru harus mempunyai sifat terpuji dan berprilaku yang baik.

وقيل: إذا جمع المعلم ثلاثا، تمت النعمة بها على المتعلم : الصبر والتواضع وحسن الخلق

Dikatakan apabila terkumpul pada diri seorang guru tiga sifat mulia, maka menjadi sempurna kenikmatan yang dirasakan oleh seorang murid:

1. Sifat sabar

Dalam mendidik dan menyikapi kekurangan dari murid, demi keberhasilan mereka di masa depan. Maka seyogyanya seorang guru mempunyai sifat sabar, bersikap sabar dlam mendidikan dan menghadapi bermacam-macam tingkah muridnya yang memang berlatar bekalang yang berbeda. itulah tantanga bagi seorang guru. sabar bukan berarti tidak tegas. Bersikap sabar memang tidak mudah, butuh latihan setiap hari. Sabar bukan berarti ada batasnya, menurut penulis sabar tiada batas. Sabar dalam menghadapi dang lingkup apa saja, tingga bagaimana cara kita mengelola cara versabar sendiri.

2. Sifat tawadhu' 

Sifat tawadhu' adalah sikap rendah hati dan tidak menganggap segala kelebihan pada dirinya sebagai hasil usaha pribadi namun murni karunia dari Allah SWT untuk disebarkan manfaatnya kepada yang membutuhkan. Dengan bersikap tawadhu' maka akan membuat pribadinya lebih dihormati oleh orang lain, dan Allah juga menyukai orang-orang yang tawadhu'. Karena dengan sifat ini juga akan memberikan tameng untuk menjauhkan diri dari sifat sombong, kita tahu sifat sombong adalah bagian dari sifat manusia yang Allah tidak sukai. Bahkan dalam kitab hikam dijelaskan sebagai berikut:

مَنْ أثْبَتَ لِنَفْسِهِ تَواضُعاً فَهُوَ المُتَكَبِّرُ حَقّاً. إذْ لَيْسَ التَّواضُعُ إلّا عَنْ رِفْعَهٍ. فَمَتى أثْبَتَّ لِنَفِسَكَ تَواضُعاً فَأنْتَ المُتَكَبِّرُ حَقّاً

Artinya: Barang siapa yang merasa dirinya tawadhu’ (randah hati), berarti dia termasuk prang yang sombong (takabur). Sebab, menganggap diri sebagai orang yang tawadhu’ tidak akan muncul kecuali dari sikap tinggi hati (tinggi hati). Maka, saat engkau menyandangkan keagungan itu pada dirimu, berarti engkau benar-benar orang yang sombong. 

Kemudian dalam kitab hikam juga disinggung sebagai berikut:

لَيْسَ المُتَواضِعُ الَّذي إذا تَواضَعَ رَأى أنَّهُ فَوْقَ ما صَنَعَ. وَلكِنَّ المُتَواضِعَ الَّذي إذا تَواضَعَ رَأى أنَّهُ دُونَ ما صَنَعَ

Orang yang tawadhu’ (Mutawadhi’) itu bukanlah seseorang yang tawadhu’ dan merasa dirinya lebih dari apa yang dia perbuat. Akan tetapi, orang tawadhu’ itu ialah orang yang meski dia tawadhu’ tapi merasa dirinya kurang dengan apa yang telah ia perbuatnya.

Jadi orang yang tawadhu' ciri-cirinya cukup mudah. Selain dia memang dikenal dengan sifat kerendahan hatinya. dia sendiri tidak juga dengan pujian yang akan membuatnya merasa lebih. diapun juga merasa bahwa yanh orang lain puji-pujikan padanya atas sifat, sikap dan prilakunya tersebut justru membuatnya merasa lebih rendah dari apa yang mereka sanjungkan. Maka Guru harus memiliki sifat tawadhu' tersebut.

التَّواضُعُ الحَقيقيُّ هُوَ ما كانَ ناشِئاً عَنْ شُهودِ عَظَمَتِهِ وَتَجَلّي صِفَتِهِ

Jadi sikap tawadhu’ (Rendah hati) yang sejati itu timbul dari menyadari akan keagungan Allah dan sifat-sifat-Nya yang begitu nyata, bukan justru sebaliknya. 

لا يُخْرِجُكَ عَنِ الوَصْفِ إلا شُهودُ الوَصْفِ
Tidak ada yang bisa melepaskanmu dari sifat burukmu, kecuali jika kamu menyadari terhadap sifat agung yang ada di sisi Allah.

Memang manusia itu tidak bisa terlepas dari sifat-sifat buruk, karena memang sifat-sifat itu sudah manusiawi. Godaan syaithan tetap akan selalu menghampiri setiap manusia, hal ini sebagaimana keterangan berikut:

جَعلَهُ لَكَ عَدّواً لِيَحُوشَكَ بِهِ إلَيْهِ، وَحَرَّكَ عَلَيْكَ النَّفْسَ لِيَدومَ إقْبالُكَ عَلَيْهِ

Allah sengaja menjadikan syaitan sebagai musuhmu, karena Allah ingin menuntunmu menuju kepada-Nya. Dan Allah menggerakkan hawa nafsumu, agar engkau senantiasa menghadap-Nya

Jadi sekalipun mungkin kita telah dianggap tawadhu' oleh orang di sekeliling kita, maka sebisa mungkin kita harus merasa lebih hina dari anggapan tersebut. Karena dengan kita juga mengakui hal tersebut, maka hal itu juga yang akan mencelakai kita sehingga membuat kita terjerumus pada sifat sombong juga.

3. Akhlak yang terpuji

Sebagai orang Islam, apalagi menjadi guru, sudah seharusnya menjaga sifat, sikap dan etika. Kagala hal yang timbul dari guru akan menjadi contoh dan konsumsi murid serta masyarakat luas. Akhlak terpuji bisa dicontohkan dengan bersikap baik kepada orang-orang yang mencintainya ataupun  kepada orang yang membencinya sekalipun, sebagai bentuk teladan sikap bagi anak didiknya untuk dapat diikuti. Jika kita lebih mendalami lagi, maka akhlak terbagi menjadi tiga bagian, yaitu akhlak syariah, universal dan etika lokal. 

Pertama, akhak syariah:  adalah bagaimana cara kita bersikap dan taat pada perintah dan larangan Allah. Dalam ranah taat menjalani kewajiban setidaknya menjalankan kewajiban sehari-hari dalam bentuk penghambaan, yaitu dengan sholat tepat waktu, puasa, zakat dan jika mampu berpuasa. Belajar tentang ilmu yang berhubungan dengan kewajiban kita sebagai orang muslim sehari-hari. Tentang wudhu', sholat, puasa, zakat dan ibadah lainnya serta ilmu yang lain pula. Karena memang manusia diwajibkan untuk belajar baik itu laki-laki ataupun perempuan, semuanya mendapatkan porsi yang sama.

Jadi Akhlak syariah itu mudahnya adalah dengan beprilaku yang harus sesuai dengan syariah Islam. Sebagai murid harus memiliki komitmen untuk selalu taat menjalankan perintah agama yang wajib dan menjauhi segala bentuk larangan yang haram. Setiadaknya seorang murid harus menjalankan secara ketat rukun Islam yang 5 (lima) yaitu syahadat, shalat 5 waktu setiap hari, puasa Ramadan sebulan penuh setiap tahun, membayar zakat mal dan fitrah, ibadah haji sekali seumur hidup apabila mampu.


Baca Juga : Bersosial dengan cinta


Kedua, akhlak universal: adalah sikap kita ditengah-tengah masyarakat luas, bergaul dengan orang banyak. Sehingga kalaupun kita santri tidak selalunya berpakaian dengan memakai sarung, baju koko dan berkopyah. Kita harus bisa menyesuaikan diri ditempat kita berada dengan melihat bagaimana nilai-nilai yang di situ dianggap baik. jika dengan berkopyah dan bersarung selalu kemudian dianggap kurang baik, sekalipun kita santri tetap harus menyesuaikan diri dengan hal itu asalkan tetap tidak membuka aurat dan ketentuan lainnya dalam Islam.

Akhlak universal atau bisa disebut dengan nilai-nilai kebaikan universal adalah perilaku atau sikap dan nilai-nilai kehidupan yang baik atau buruknya diakui oleh seluruh umat manusia tanpa melihat latar belakang agama, budaya, suku, atau bangsa.

Akhlak universal etika adalah akhlak Islam yang dalam Al-Quran disebutkan dan menjadi perilaku Rasulullah SWA. Akan tetapi sebagian dari nilai atau akhlak universal ini secara syariah mempunyai hukum yang berbeda-beda. Adakalanya menjadi wajib, sunnah, atau bahkan menjadi haram dan makruh saja. dengan demikian tidak semua etika dan nilai universal menjadi komitmen bersama seluruh umat Islam.

Dengan perbedaan hukum di atas, berikut beberapa etika atau akhlak universal yang baik: Jujur, pekerja keras, dermawan, sederhana, suka menolong, disiplin, toleran dan juga peduli sesama. 

Ketiga, akhlak lokal: adalah sikap kita dilingkungan kita sendiri. Bagaimana cara kita menjaga dan menghormati tradisi yang ada, budaya lokal yang sudah tumbuh dan juga diakui. Karena memang tradisi dan budaya lokal diakui, dibiarkan tumbuh, dan dihormati oleh umat Islam selagi hal itu tidak bertentangan dengan prinsip pokok dalam syariah Islam. Jika bertentangan tapi tradisi itu cukup kuat mengakar dalam masyarakat, maka akan diusahakan untuk dimodifikasi sehingga lebih menjadi islami seperti yang dilakukan oleh Wali Songo terhdapat tradisi tahlil, wayang dan lainnya.

Bagian dari cara menghormati kearifan lokal ialah dengan menghormati perbedaan cara berpakaian yang harus ditoleransi selagi tidak bertentangan dengan syariah. Sebagai umal Islam yang baik seharusnya memang tidak terlalu mudah mengkritik terhadap perbedaan yang masih ada pada koridor dan jalan yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bagaimana mungkin mudah mengkritik dan menyalahkan, sedangkan dalam Islam sendiri ada banyak perbedaan, dan perbedaan itu menjadi rahmat bukan justru menjadikan pertengkaran dan saling menyalahkan sehingga menjadikan Islam agama yang garang. dan sikap yang demikian justru akan sulit membuat orang non muslim simpatik pada agama kita, yakni Islam. Dengan inilah kita diharuskan bersikap baik dan menghormati perbedaan.

Umat Islam sudah seharusnya bersikap tawassut, adil, tawazun, dan tasamuh. bersikap moderat, dan mudah memaafkan. Sebagai mahkluk sosial harus bisa menjaga kerukunan, ketenangan, ketentraman dan bersama serta saling menolong. sehingga Islam akan lebih dikelan sebagai agama yang membawa kedamaian, tenang, tentram dan menghormati sesama. Kita boleh saja berbeda pendapat dan pendapatan. Tapi kita tidak boleh bertengkar dan menyebabkan pertengkaran.

Referensi:

Kitab Ihya' Ulumiddin, Karya Imam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali. Jilid I. Cetakan Al-Maktabah At-Taufiqiyah, Halaman 120. 

Kitab Al-Hikam, Karya Ibn Atha'illah al-Sakandari, Hikmah ke 237-249

-------------------------------------------

By. Muhammad Zaironi. Santri Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang

Label: , , ,