Kamis, 01 Mei 2025

Menulis yang penting, atau yang penting menulis.


Menulis merupakan bentuk aktifitas yang sangat keren dalam melangsungkan hidup di dunia yang sangat luas dan penuh dengan dinamika yang seksi. Menulis bisa iakukan oleh siapa saja, tapi untuk bertahan laa dan terus meingkatkan keindahan narasi dan keunikannya tentu hanya mereka yang terus tekun menulis dan membaca banyak buku. Menulis dan membaca buku memiliki hubungan yang erat dalam menumbuhkan nilai ruh tulisan yang tertata rapi, harmonis dan asyik untuk dibaca. Siapa yang banyak membaca, tentu akan lebih mudah dalam menulis dengan skop apapun itu.

Dalam Islam, perintah pertama adalah membaca, hal ini selain untuk menambah wawasan, juga untuk mempertajam kemampuan dalam menulis. Untuk mempertajam dan mendalam kjian yang ditulis, tentu harus memiliki banyak buku da artikel yang sudah dibacanya. 

Seiring dengan terus berkembangnya dunia pendidikan, menulis merupakan hal mutlak yang harus dimiliki kemampuannya. Dalam studi sarjana, menulis menjadi keahlian tersendiri untuk kemudian bisa dinyatakan lulus, tulisannya diberi nama skripsi dalam bentuk hasil penelitian yang kemudian disimpelkn lagi dalam bentuk artikel atau jurnal baik terakreditasi sinta, skopus maupun belum terakreditasi.

Dengan banyaknya media untuk menulis, harusnya masing-masing mahasiswa juga diwajibkan oleh perguruan tinggi atau mewajbkan pada dirinya sendiri untuk mempunyai blogger atau website yang menjadi wadah tulisan atau karya tulisnya sendiri sehingga bisa diakses dan dbaca oleh banyak orang di belahan dunia.

Ada banyak tips dan cara untuk menulis yang baik, tapi yang paling baik dan utama adalah memulai untuk menulis dan terus tekun menulis dan membaca sehingga pada akhirnya ketajaman dan keindahan menarasikan tulisan akan dimiliki. 

Dalam Surah Al-Alaq ayat 1-5, Lima ayat ini menekankan betapa pentingnya membaca dan menulis sebagai media atau kunci untuk memperoleh ilmu pengetahuan, sebagai sarana komunikasi dan penyebaran ilmu yang dimilikinya.

Berdasarkan perintah yang kerkandung dalam surah Al-Alaq secara eksplisit sangat jelas bahwa untuk memperoleh ilmu pengetahuan, sebagai sarana komunikasi dan penyebaran ilmu maka harus tekun membaca dan menulis. Tiada car yang paling rekomendasi selain dua hal tersebut.

Di era yang kian menurun minat membca dan keinginan membeli buku, mari bersama-sama menulis secara masif, jangan takut salah, takut tulisannya tidak menarik, tidak banyak yang membaca dan seterusnya. Yang terpenting adalah memulai dan terus tekun menulis, tidak perlu berhalaman banyak dan harus sebaik mungkin. Karena untuk mencapai keahlian tentu dimulai dari usaha dan kedisiplinan dalam menulis untuk mencapai keahlian tersebut



Media menulis penulis adalah santrimenulis.com 

Nama penulisnya Muhammad Zaironi


Label: , , , ,

Jumat, 14 Oktober 2022

Salah kritik dan kritik yang salah



Kehidupan yang dihadapkan dengan serba kemudahnnya turut serta memberikan banyak akses yang untuk semua manusia tanpa membeda-bedakan antara kaum, ras, suku dan umat manapun. Kemudahan akses ini seakan membuat belahn dunia hanya bertetangga dan berhadapan latar serta teras rumah saja.

Perkembangan prilaku sosial turut andil dalam pembentukan karakter masing-masing manusia individual, sehingga antara gaya bahasa, intonasi dan pengucapannya juga berbeda-beda. Hal semacam ini harus difahami betul oleh setiap manusia. Selain karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari genggaman kehidupan sosial yang bermacam-macam latar belakang.

Dengan semakin canggihnya teknologi, manusia kerap kali lupa pada batas-batasan pemakaiannya, seperti HP, Laptop dll. Disisi umat manusia juga dihadaptakan dengan kecanggihan media sosial yang membuat kehidupan manusia memiliki dua alam, alam nyata dna alam tidak nyata melalui media sosial tersebut.

Dengan menggunakan media sosial, manusia yang tidak punya keilmuan bertetangga yang baik dalam sosial non nyata akan dengan mudah mengekspresikan sikap dan prilakunya, pun juga dalam menyikapi konten-konten yang ada dalam media sosial tersebut. Sulitnya lagi ketika umat manusia tersebut tidak mempunyai bekal keilmuan yang baik, sehingga membuatnya dengan mudah mengkritisi, mencaci, menghujat dan mencerca orang lain lewat media sosial.

Kritik sosial seharusnya lebih mendahulukan keilmuan dan cara yang bijak, tentu dengan bahasa yang baik. Kritik yang mendahulukan ego dan emosional akan berdampak pada tidak tersampainya subtansi kritiknya. Kritik yang fokus pada subtansi pembahasan yang disertai dengan sikap yang baik akan mudah diterima dari pada kritik yang mendahulukan otot dan dengan intonasi yang meninggi, hal ini akan membuat lawan diskusi atau orang yang dikritisi tidak melihat subtansi kritiknya, tapi fokus pada sikapnya yang kurang baik dalam mengkritisi.

Dalam mengkritisi, yang baik adalah tatkala pengkritik memiliki kapasitas keilmuan pada bidang kajian yang dikritisi, sehingga subtansinya menyentuh dan imbang dalam kajiannya. Amat sangat tidak elok ketika mengkritisi tapi tidak mempunyai fan keilmuan dibidang yang dikritisi, hal yang demikian hanya akan membuat diskusi ata dabat kusir yang pada akhirnya menuju pada pribadinya, bukan esensi subtansi pembahasannya. (AdHominem)

Kritik akan mudah diterima jika yang mengkritik mempunyai keilmuan dibidangnya, dengan sikap yang baik dan santun, dan mendahulukan bahasa yang baik. Bahkan seharusnya kita tidak mengritisi orang lain sebelum kita pakar dibidang keilmuan yang hendak dikritisi.

Imam Al Zhahabi menyinggung terkait hal ini, yakni sebagai berikut:

الجَاهِلُ لا يَعلَمُ رُتْبَةَ نَفْسِه ، فَكَيْفَ يَعْرِفُ رُتْبَةَ غَيْرِهِ "

الإمام الذهبي

Orang bodoh tidak tahu level (kapasitas keilmuan) dirinya, maka bagaimana ia bisa memahami level orang lain (yang lebih pintar)? - Al Zhahabi -

Dari pendapatnya Imam Al Zhahabi di atas, dapat kita simpulkan bahwa seharusnya kita tidak mengkritisi suatu statmen atau keilmuan seseorang sebelum kita mahir dibidang tersebut, kita menguasai dan memang benar-benar keilmuan kita ada dibidang tersebut. Denga demikian tidak terkesan suul adab dan merendahkan diri sendiri. Karena megkritisi tanpa punya keilmuan pada bidang yang dikritisi itu sama halnya dengan merendahkan diri sendiri. Karena ketika diminta pendapatnya secara ilmiyah dan berdasar dia sudah pasti hanya akan diam dan ngotot tanpa menyuguhkan dalil-dalil yang mendukung terkait kritiknya. 

Jika dikatakan bahwa orang yang bermaksiat ialah hilang imannya seketika melakukan maksiat itu juga, maka orang yang mengkritisi keilmuan seseorang tapi dia tidak punya fan keilmuan atau ia tidak mengetahui sedikitpun ilmu terkait hal yang dikritisi, maka saat itulah ia dalam keadaan benar-benar bodoh dan mempertontonkan kebodohannya.

Dalam mengkritisi keilmuan atau sikap seseorang, hendaknya ia faham betul kaidah ilmu sosial, akhlak dan pengetahuan terkait yang dikritik. Jika tidak, maka dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

Salah kritik adalah ketika mengkriti orang yang lebih pintar dan dia tidak punya keilmuan terkait yang dikritik. Kritik yang salah ketika dia tidak mendahulukan akhlak dan pengetahuan dala, mengkritik, sehingga ia akan mengkritisi apapun yang ia anggap salah dan tidak sesuai dengan pemikirannya. tapi dia sendiri tidak punya keilmuan dibidangnya secara mendalam sehingga ia perpatokan pada kata POKOKNYA, INTINYA.Bukan berdasarkan menurut ini, berdasarkan keterangan dibuku ini, dikitab ini daN seterusnya. 

Lebih baik kita diam dari pada mengusik orang lain dengan kebodohan kita, lebih  baik kita diam dari pada kita merendahkan diri kita sendiri dengan kebodohan kita. dan lebih baik kita diam dari pada kita mengkritik orang lain, tapi justru kita mempertontonkan kebodohan kita. 

Dan yang lebih baik lagi adalah kita fokus belajar, belajar dan belajar. Tapi jangan lupa bekerja dan berbadah. Bagaimana bisa beribadah dengan baik jika tidak punya ilmu. Karena itulah kita diwajibkan untuk terus belajar untuk memperbaiki kehidupan kita dalam berbagai aspek secara komprehensif.


Label: , , , ,

Rabu, 21 September 2022

Cinta Itu Anugerah

Tunangan


Senin, 19 September 2022 usai melaksanakan sholat magrib, aku hanya duduk santai di depan laptop. Enggan membuka catatan tugas juga malas mengerjakannnya. Sekilas memua buku catatan mata kuliah selama perkuliahan dua pekan, membaca dan mengingat penjelasan dosen-dosen pengampu. Mereka semuanya sangat luas pengetahuannya dan telaten dalam menjelaskan materi. Menurut Prof Sutiah belajar itu memang harus lelah, Prof Djakfar dawuh tatkala kita niat untuk kuliah maka dihari kuliah yang telah ditentukan jadwalnya jangan menyediakan diri untuk melakukan aktifitas lainnya selain fokus kuliah. Menurut Prof Sani menjadi Profesor itu sangat mudah asalkan kita kompeten dan benar-benar istiqomah dalam belajar. Kendatipun demikian Prof Mujab dawuh bahwa untuk dapat banyak mengungkapkan luasnya pengetahuan tentu kita harus banyak terjun pada lautan pengetahuan itu dengan banyak membaca.

Dawuh para dosen yang mayoritas sudah menjadi guru besar atau profesor menjadi penyemangat bagi mahasiswa yang sedang menempuh perkuliahan, terlebih dosen yang sudah menjadi profesor dan senior. Mereka banyak menghabiskan waktunya untuk mengajar, membaca dan menulis. Tanpa terasa adzan Isyakpun berkumandang, laptop aku matikan dan kembali menaruh buku catatan ke tempatnya semula.

Seusai melaksanaan sholat isyak, aku kembali ke kantor untuk menelfon bapak dan emak (panggilan akrabku pada ibu), sudah dua minggu aku tidak mendengar suaranya, suara mereka menjadi penyemangat bagiku yang lebih mudah malas dan enggan mengerjakan tugas. Seperti biasa bapak yang ada di madura menyapa terlebih dahulu, membangun suasana indah dan penuh tawa, terlebih ketika bapak dan emak menanyakan tunanganku. Cong, gimana kabar tunanganmu, kamu gak whatsApp dia? gak nelfon dia? terus gimana kuliah kalian berdua, katany kuliahnya sama-sama hari kamis di kampus yang sama? Memangnya gak ketemu sama sekali ya? kalau bisa sambungin ke tunangannya cong, emak kangen. pinta emakku.

Mendengar banyak pertanyaan itu membuatku bingung yang mau menjawab, selain memang aku dan dia jarang whatsApp an juga tidak pernah telfonan. kita whatsApp an hanya antara asar dan setelah isyak, itupun kadang bisa dua hari sekali whatsApp annya. Apalagi menelfon, selama tunangan saja kita hanya dua kali telfon, pertama ketika dia di malang, mungkin karena dia lagi kangen ke aku ya, hehe. dia alasannya minta diceritain kisah-kisah nabi gitu, wkwkwk. Tentunya akupun keberatan jika menuliskan sejarah nabi, kemudian dia memilih dengan menelfon, ya meskipun sebentar rasanya cukup menyenangkan. Dalam percakapan itu seperti orang mau interview gitu, semangat tapi takut dan bingung mau ngomong apa. Namanya saja pertama telfonan sama tunangan yang dilatar belakangi tidak kenal lebih jauh, lebih tepatnya hanya tau sekilas, bertamu dan khitbah lalu lamaran. 

Selama proses sebelum lamaran aku memang tidak pernah mendengar suaranya kecuali ketika dia membukakan pintu rumahnya dan mempersilahkan aku, gur abdurrahman dan gus ulul untuk masuk ke ruang tamunya. waktu itu aku sedang dibawa kerumah dia oleh dua kiyai tersebut untuk diperkenalkan ke kedua orang tuanya. kurang-lebih waktu 1,5 jam aku hanya diam saja. tidak lebih dari empat kali bersuara, itupun karena ditanya oleh abahnya dia. hehehe

Sebelum aku menyambungkan VC aku, bapak dan emak. Terlebih dahulu aku menanyakan ke dia melalui pesan whatsApp apakah dibolehkan untuk menyambungkan tenfon ini, dia bertanya apakah video call mas? aku jawab iya, kebetulan aku bapak dan emak video call. Dia meminta waktu satu menit buat pasang kerudung. Tidak butuh waktu lama kemudian aku sambungkan ke nomor dia, dan ternyata dia bareng dengan ibunya. Suasana cakap-cakapan bukannya tambah kaku tapi tambah rame dan penuh canda tawa antara kedua orang tuaku dan ibunya. Apalagi ketika melihat ekspresi emakku yang malu, wkwkwk. Maklum, emak memang gitu orangnya. Padahal yang minta disambungin ke tunanganku ya emak sendiri, entah kenapa ketika sudah ditelfon malah malu yang mau bicara, kataku, ini calon menantunya loh mak. hehehe.

Kali ini aku lebih memilih diam, memperhatikan mereka berbincang-bingcang, sesekali tertawa dan senyum-senyum bersama. Melihat mereka tersenyum dan tertawa rasanya bahagia banget. Apalagi senyumnya dia, huh. khas banget, renyah kayak krupuk wkwkwk. iya, dalam perbincangan itu aku emang lebih banyak diam, yang banyak berbicara justru bapakku dan ibu mertua, saling tanya-tanya, sesekali bapak meledekin emak yang hanya diam dan malu. Tidak lupa ibunya dia mempersilahkan bapak dan emak untuk mampir kerumahnya ketika mengirim atau menjenguk adekku hilmi di pondok. Karena memang rumahnya dia dan tempat aku dan adekku nyantri sangat dekat dan dakalau dari rumah kebetlan satu arah.

Setelah perbincangan kurang lebih berjalan 20 menitan, kemudian abahnya dia tiba dari undangan, dan abahnya dialah yang kemudian berbincang-bincang dengan kami. seperti biasa perbincangan kedua orang tua selalu serius dan penuh jaga sikap. Meskipun tetap saja ada tawa yang pecah ditengah-tengah perbincangan. Aku yang ditanya sedang di mana, tentu bingung cara jawabnya, grogi gitu, ya namanya yang nanya calon mertua, hihihi. Kacong zaironi posisi sedang di mana, di pondoknnya apa di madura juga? Aku menjawab, bedeh e pondok ba (ada di pondok ba) ba di sini panggilan lain dari aba. Jadi ingat waktu mau pulang ketika lamaran, beliau berpesan, yang semangat belajarnya ya nak, hati-hati di jalan kalau berpseda motoran, apalagi kuliahnya kamu ke malang. Beliau berpesan sambil merangkulku, udah kayak ke anaknya sendiri gitu. hehehe.

Aku sebenarnya masih bingung banget, kadang bertanya-tanya. Orang sekelas beliau itu kira-kira indikator pertama dan kedua yang diutamakan dalam mencarikan pasangan buat anaknya satu-satunya itu apa ? karena aku sendiri sadar gitu, bahwa aku ini biasa saja, tidak pintar, akhlakku juga biasa banget, bahkan masih sering kurangajar, sebagai santri aku juga tidak pandai membaca dan memahami kitab, ngaji qur'anku juga biasa saja tidak seperti imam sudais dan muzammil. wajahku juga gini adanya hehe. Intinya aku jauh sekali dari kata istimewa dan menantu idaman. sangat amat jauh sekali. Apapun yang menjadi penilaian beliau kepadaku, yang jelas sebagai orang muslm kita harus terus belajar dan berbenah diri. cerdas dalm berfikir dan cerdas dalam berinteraksi sosial.

Setelah perbincangan lama antara bapakku dan beliau, akhirnya beliau menyampaikan bahwa insyaAllah bulan maulid ini mau bertamu ke rumah bersama umi. Aku yang kurang mengerti maksudnya, tentu ada hal yang mau dibahas bersama secara kekeluargaan. Bisa jadi membahas hari H aqdun nikah aku dan dia. wkwkwk. Setelah beliau menyampaikan keinginannya untuk bertamu itu, kemudian abah memberikan HP nya ke putrinya. 

Perbincangan kali ini antara aku, emak, bapak dan tunanganku. Aku tetap seperti sebelumnya, hanya banyak dia dan mengamati senyumnya tunanganku saja. lebih-lebih melihat orang tuaku yang bercanda dengan calon menantunya. wkwkw. Huh, bahagia banget melihat orang tua akrab sama calon menantunya dan, kayak ke anaknya sendiri gitu. Alhamdulillahnya lagi tunanganku juga gitu, bisa akrab sama bapak emakku. 

Alhamdulillah, malam itu bisa berbincang-bincang bersama dengan kedua keluarga, keluargaku (bapak dan emak) dan keluarganya ade, tunanganku (Abah dan umi). saling bersapa akrab, tertawa lepas dan senyum-senyum tanda suasananya asyik dan menyenangkan. Sebelum perbincangan diakhiri, tunanganku terlebih dahulu pamit undur diri, tidak lupa salamnya ditutup dengan senyum khasnya, renyah. sampai jumpa di kampus ya, mugi-mugi ketemu lagi. wkwkwk

Sampai jumpa ditulisan berikutnya, maaf tulisannya agak berantakan. Karena tiba-tiba dosen datang. hehehe


Label: , , ,

Kamis, 15 September 2022

Relasi Pendidikan dan Ekonomi


Seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan terus melakukan ambil sikap. Tidak sedikit jumlah siswa atau pelajar hingga tingkat mahasiswa yang terpanggil untuk terus sekolah dan melanjutkan kuliahnya ke jenjang tertinggi. Terlepas dari apapun tujuan awalnya mereka belajar, untuk apa mereka kuliah dan apa cita-cita mereka. Yang jelas, semuanya adalah sikap yang mulia ketika tetap mau belajar dan terus belajar.

Namun demikian, tetap saja banyak orang yang berfikiran sempit dan menceloteh mereka yang memilih lintas pendidikan dari pada bekerja sejak dini dan enggan belajar. Bagi mereka bekerja bisa kapan saja dan dengan profesi apaun itu yang penting tidak menyalahi kaidah kerja yang benar dan menghasilkan uang yang halal. Berbeda halnya bagi mereka yang memilih kerja sejak usia kecil dan enggan belajar dengan dalih ijazah tidak menjamin kekayaan dan pendapatan harta yang fantastis. Cara berfikir yang demikian sebenarnya salah dan tidak dapat terus diabaykan begitu saja, harus ada stimulus dan sikap yang dapat memberikan merekapemahaman agar orang yang belajar tidak selalu dianggap memilih jalan yang kurang tepat dengan alasan mereka sebagai berikut:

1. Ijazah tidak menjamin harta kekayaan

2. Ijazah tidak menjamin pendapatan harta yang fantastis tiap bulan

3. Lebih baik bekerja sejak kecil dan tidak perlu sekolah karena dua alasan di atas

Pada dasarnya antara pendidikan dan ekonomi itu sangat erat kaitannya, ini tidak lagi soal konsep kebarat-baratan tapi dalam islam sudah disampaikan sejak dahulu. Bagaimanapun konsep yang dibangun oleh mereka, tetap saja mereka enggan memasukkan peran agama dalam masalah ekonomi. Hal ini berbeda dengan konsep dalam islam yang selalu menghadirkan peran agama dalam konsep ekonomi. 

Islam selalu menyikapi perkembangan ekonomi, meskipun ada saja opini liar yang mengatakan bahwa agama tidak dapat menggerakan kehidupan ekonomi, lebih-lebih ekonomi kapitalis. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa agama dan ekonomi merupakan dua ranah berbeda yang memiliki titik tekan dan tujuan yang berbeda pula.

Dalam Islam selalu ada kajian terkait keduanya, seperti kajian tentang Agama dan Pendidikan: analisis relasi dan implikasinya dalam upaya pengembangan ekonomi, pengembangan ekonomi berbasis syariah di era digital, fiqh (islamic jurisprudence) dan perubahan ekonomi (economics exchange) antara idealitas dan ralitas, konsep islam tentang kepemilikan (islamic concept of ownership) dan implikasi ekonominya (its economic implications), instrumen ekonomi islam untuk kesejahteraan sosial: eksplorasi potensi zakat, infak, sadaqah dan wakaf uang, teori dan perilaku konsumsi dalam perspektif islam: memotret realitas sosial masyarakat era modern.

Dalam Islam apapun yang terkait dengan ekonomi selalu menghadirkan telaah dan konsep agama,baik mulai dari cara kerjanya dan panduan mentasorrufkan harta yang didapatkannya. Kehadiran agama dalam ekonomi bukan untuk mempersempit cara mendapatkan uang, cara kerja dan mengelola keuangan. Justru untuk kebaikan Bersama karena dalam islam selalu mendahulukan kemaslahatan umatnya.

Paparan di atas setidaknya sedikit memberikan bantahan terhadap statemen atau pandangan orangf barat yang mengatakan bahwa Islam menghambat kemajuan. Beberapa kalangan mencurigai Islam sebagai faktor penghambat pembangunan (anobstacle to economic growth). Kendatipun pandangan ini berasal dari pemikir barat namun tidak sedikit dari kalangan pemikir muslim yang mengamininya (Mohammad Thoyyib Madani, Agama Dan Pendidikan: Analisis Relasi Dan Implikasinya Dalam Upaya Pengembangan Ekonomi, Desember 2021).

Persepsi di atas jelas sangat tidak sesuai dengan realitas yang actual dan factual. Persepsi yang salah seperti ini setidaknya disebabkan adanya kesalah pahaman terhadap Islam itu sendiri. Sehingga seakan-akan menjustifikasi bawa Islam merupakan agama yang hanya berkaitan dengan masalah ritual saja, bukan hadir sebagai suatu sistem yang komprehensip dalam cakupan aspek kehidupan umat manusia, baik terkait ritual ataupun kewajiban, sosial dan juga ekonomi yang menjadi motor penggerak roda perekonomian seluruh umat semesta alam.

Menurut Sjafruddin, dalam kehidupan ekonomi perilaku individu itu tidak lepas dari dua motif didorong, yaitu motif ekonomi dan motif agama. Motif ekonomi sendiri tidak lepas dari dorongan adanya rasa takut terhadap kekurangan dan kemelaratan hidup(miskin) sehingga membuat manusia selalu berupaya mengumpulkan harta sebanyak mungkin. Perasaan takut yang demikian dapat menjadikan gaya hidup manusia menjadi makhluk serakah dan berambisi besar tanpa memperhatikan panduan dalam kaidah dalam agama.

Sebaliknya agama menurut Sjafruddin justru mengajarkan manusia untuk senantiasa menjauhkan diri dari perasaan takut. karena memang yang wajib ditakuti hanyalah Allah SWT. 

Kendati demikian bukan berarti dalam Islam tidak menganjurkan umatnya untuk bekerja keras dalam mencari nafkan dan menjadi orang yang kaya raya. Islam tetap menginstruksikan umatnya untuk semangta bekerja, bekerja keras dan bekerja cerdas untuk menghasilkan uang yang banyak dan tentunya halal dengan kaidah-kaidah agama islam yang hadir di dalamnya. Allah berfirman dalam Surat al-Jum’ah ayat 9-10 sebagai berikut:

  يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ، فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah, ayat 9-10)

Dari penggalan di atas terdapat instruksi bahwa setelah usai mengerjakan sholat jum’at hendaknya berpencar untuk mencari karunia Allah, tentu diantara interpretasi dari penggalan ayat ini adalah untuk mencari nafkah. karena nafkah bagian dari karunia dari Allah.

Syekh Abu Manshur al-Maturidi mengatakan:   

وقوله - عز وجل -: (فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون (10) أي: رحمة الله؛ هذا خرج في الظاهر مخرج الأمر، ولكنه في حكم الإباحة عندنا؛ لأن هذا أمر خرج على أثر الحظر،    

Artinya, “Firman Allah “apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”, maksudnya beruntung mendapat rahmat Allah. Ayat ini secara lahir dibentuk dalam kata perintah, namun berada dalam hukum ibahah (memperbolehkan) menurut pendapat kami (Ahlussunnah wal Jamaah), sebab ini adalah perintah yang disebutkan setelah larangan.”

Ayat di atas setelah memerintahkan untuk sholat jumat kemudian menganjurkan atau membolehkan umatnya untuk berpencar Kembali agar menjari karunia Allah. Manusia sendiri sejatinya adalah homo economicus, meskipun juga harus disandingkan dengan pandangan yang menyatakan bahwa manusia itu adalah makhluk homo religious. Sehingga mereka akan selalu memanfaatkan alam kebendaannya ini dengan cara yang sebaik-baiknya, yang pada gilirannya adalah untuk mendatangkan kemaslahatan.

Allah swt. Berfirman dalam hadist qudsi

يا دنيا اخدمي من خدمني واستخدمي من خد مك

Artinya, “Wahai dunia, berkhitmadlah kamu kepada orang yang telah berkhitmad kepada-Ku, dan perbudaklah orang yang mengabdi kepada-mu”. 

dari paparan di atas menjelaskan bahwa agama sangat erat kaitannya dengan ekonomi, agama Islam sendiri memerintahkan agar umatnya selalu belajar dan menuntut ilmu sepanjang masa. Sehingga dnegan pengetahuannyalah kemudian ia selain bisa mempunyai keilmuan untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat islam juga kaidah-kaidah hidup bersosial yang kaitannya erat dengan ekonomi. 

Bagaimanapun merea memisahkan relasi antara ilmu dan ekonomi, tetap saja sampai kap[anpun dalih mereka tidak dapat memutus relasi keduanya. karena memang keduanya sangat erat kaitannya dalam kehidupan manusia. Allah memerintahkan umat manusia selain untuk belajar juga diperintahkan untuk mencari nafkah sehingga dapat bertahan hidup dengan baik. 

Jika ada yang mengatakan bahwa ijazah tidak ada kaitannya dengan cara mendapatkan harta, tentu bisa dibenarkan. Namun dengan mempunyai keilmuan akan menyadarkan kita bahwa dengan kita kaya bukan berarti harus lupa pada siapa yang maha pemberi dan siapa yang harus selalu disembah dan diesakan. Kendatipun mencari ilmu bukan semata-mata untuk mendapatkan harta yang banyak dst. belajarhanyalah untuk melajar, mencari ridho Allah dengan mempelajari ilmunya dan berupaya mentas dari kebodohan-kebodohan yang selalu menghantui umat manusia. 

Islam sendiri mempunyai konsep dan pandangan yang jelas mengenai perihal harta dan kegiatan ekonomi. Pandangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: Pertama: pemilik mutlak terhadap segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini, termasuk harta benda, adalah Allah SWT. Kepemilikan oleh manusia hanya bersifat relatif, sebatas untuk melaksanakan amanah mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuan-Nya. Kedua; status harta yang dimiliki manusia adalah harta sebagai amanah, sebagai perhiasan hidup yang memungkinkan manusia bisa menikmatinya dengan baik dan tidak berlebihan, sebagai ujian keimanan, sebagai bekal ibadah, yakni untuk melaksanakan muamalah di antara sesam manusia, melalui kegiatan zakat, infak dan sedekah, Ketiga: Pemilikan harta dapat dilakukan antara lain melalui usaha yang halal dan sesuai dengan aturan-Nya. Keempat: dilarang mencari harta, berusaha, atau bekerja yang dapat melupakan kematian, melupakan dzikrullah, melupakan shalat dan zakat, dan memusatkan kekayaan hanya pada sekelompok orang kaya saja. Kelima: dilarang menempuh usaha yang haram, seperti melalui kegiatan riba, perjudian, berjual beli dengan barang yang dilarang atau haram, mencuri, merampok, peggasaban, curang dalam takaran dan timbangan, melalui cara-cara yang batil dan merugikan, dan melalui suap menyuap (Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik (Jakarta: Gema Insani Press, 2001).





Label: , , , , , ,

Kamis, 18 Agustus 2022

Keutamaan Hari Jum'at dan Amalannya

amalan hari jumat


A. Amalan yang Dianjurkan Rasulullah

1. Membaca Surah Al-Kahfi

Dalam masalah ini, Imam Syafii memberikan penjelasan terkait dianjurkannya untuk memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pendapat ini berdasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW. Begitu juga sangat dianjurkan untuk membaca surat Al-Kahfi pada Kamis malam atau malam Jumat dan juga siang harinya.
Pendapat Imam Syafii tersebut terdapat dalam kitabnya, yakni kitab , Al-Umm, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1393 H, juz, 1, h. 207. 

      (قَالَ الشَّافِعِيُّ) أَخْبَرَنَا إبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنُ مَعْمَرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ( قال الشَّافِعِيُّ ) وَبَلَغَنَا أَنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ وُقِيَ فِتْنَةَ الدَّجَّالِ. ( قال الشَّافِعِيُّ ) وَأُحِبُّ كَثْرَةَ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي كُلِّ حَالٍ وَأَنَا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَتِهَا أَشَدُّ اسْتِحْبَابًا وَأُحِبُّ قِرَاءَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَهَا لِمَا جَاءَ فِيهَا 

Artinya: "Imam Syafi’i berkata, telah mengkhabarkan kepadaku Ibrahim bin Muhammad, ia berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abdurrahman bin Ma’mar bahwa Nabi saw bersabda, “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat”. Beliau juga berkata, dan telah sampai kepadaku riwayat yang mengatakan bahwa barang siapa yang membaca surat al-Kahf maka ia dilindungi dari fitnahnya Dajjal. Selanjutnya beliau mengatakan, bahwa saya menyukai banyak-banyak membaca shalawat kepada Nabi saw dalam setiap keadaan, sedang pada hari Jumat saya lebih menyukainya (dengan memperbanyak lagi membaca shalawat), begitu juga saya suka membaca surat al-Kahf pada malam Jumat dan siangnya karena adanya riwayat dalam hal ini” (Muhammad Idris asy-Syafi’i, al-Umm, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1393 H, juz, 1, halaman 207).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka hukum membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat itu memang benar sunah. Karena, didukung pula dengan riwayat yang mengatakan bahwa barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi, maka akan dilindungi dari fitnah Dajjal. 
Terlepas dari hukum membaca surah al-kahfi di atas, membaca al-Qur'an sudah jelas mebuahkan pahala. Membaca satu hurufnya diganjar atau diberi pahala 10. Sebagai orang muslim sudah sepatutnya tidak mempertanyakan lagi, apa dalilnya, siapa yang berpendapat dan seterusnya. 

Kemudian keterangan lain yang menjelaskan terkait dengan keutamaan malam jum'at dengan membaca surah al-kahfi adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُذْرِيّ قَالَ مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ 

Artinya "Diriwayatkan dari Abi Said Al-Khudri, ia berkata, Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka Allah SWT akan menyinarinya dengan cahaya antara dia dan rumah yang penuh dengan keindahan". (Sunan Ad-Darimi, 3273)

Berikut hadits yang menjelaskan tentang keutamaan membaca Al-Qur’an yang cukup familiar, yakni hadits riwayat Abdullah Ibnu Mas‘ud yang menyatakan, bahwa setiap huruf yang dibaca akan diberi balasan satu kebaikan. Setiap kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh, sebagaimana berikut ini.

   عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ 
Artinya: "Kata ‘Abdullah ibn Mas‘ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf,” (HR. At-Tirmidzi).

Hari Jumat merupakan hari yang sangat luar biasa keistimewahannya, karena terdapat banyak peristiwa yang penting terjadi pada hari Jumat. Seperti contoh diciptakannya Nabi Adam AS. dan peristiwa dimasukkan dan dikeluarkannya dari surga juga terjadi pada hari Jumat. 

Sebagaimana keterangan hadits di bawah ini yang menjelaskan bahwa Sesungguhnya hari yang paling mulia bagi kalian adalah hari Jum’at. Pada hari itu Nabi Adam AS diciptakan, di hari itu ditiupkan ruh, dan pada hari itu dilaksanakan siksaan. Berikut bunyi haditsnya:

عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ النَّفْخَةُ، وَفِيْهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثَرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ، فّإنَّ صّلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ، قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟- أي بَلِيْتَ- قَالَ: إنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ حَرَّمَ عَلَى الْأرْضِ أنْ تَأكُلَ أجْسَادِ الْأنْبِيَاءِ—سنن ابن ماجه 

Artinya, "Diriwayatkan dari Aws bin Aws, Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya hari yang paling mulia bagi kalian adalah hari Jum’at. Pada hari itu Nabi Adam AS diciptakan, di hari itu ditiupkan ruh, dan pada hari itu dilaksanakan siksaan. Karena itu maka perbanyaklah membaca shalawat kepadaku. Sebab shalawat yang kamu baca pada hari itu akan didatangkan kepadaku. Lalu sahal seorang sahabat bertanya: Wahai Rasulullah bagaimana mungkin shalawat yang kami baca itu bisa dihadapkan kepadamu, padahal engkau telah hancur dimakan bumi? Rasulullah SAW menjawab: Sesungguhnya Allah ’Azza wa Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi-Nya". (HR Ibnu Majah, 1075)

Di atara peristiwa penting yang terjadi pada hari jumat ialah diriwayatkan bahwa kelak hari kiamat jatuh pada hari Jumat, hal ini sebagaimana riwayat yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim.

Sebagaimana riwayat yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim.

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ 
Artinya: "Sebaik-baiknya hari di mana sang surya menyinarinya adalah hari Jumat. Pada hari Jumat Nabi Adam  as dimasukkan ke dalam surga, dan dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak terjadi kecuali pada hari Jumat" (HR Muslim).  

2. Membaca Surah Yasin

Di antara sekian banyak kebiasaan yang sering dilakukan oleh masyarakat saat mengisi kegiatan keagamaan di malam Jumat adalah dengan membaca surat Yasin, bahkan sore harinya tida sedikit yang berdatangan ke kuburan untuk ziyaroh kemudian membaca yasin. Surat yasin juga dibaca dibanyak majelis. Ada yang menjadikannya sebagai rangkaian bacaan tahlil, ada juga yang biasa kita kenal dengan sebutan jamaah Yasinan, atau sebatas kegiatan masyarakat yang dikhususkan di malam jum'at dengan membaca surat yasin.
Berikut di antara dalil yang menjelaskan keutamaan membaca surah yasin di malam jumat yang disebutkan secara tegas dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud sebagai berikut: 

   من قرأ سورة يس والصافات ليلة الجمعة أعطاه الله سؤله   

Artinya: "Barang siapa membaca surat Yasin dan Al-Shaffat di malam Jumat, Allah mengabulkan permintaannya". (HR Abu Daud dari al-Habr)  

3. Membaca Sholawat

Terkait dengan keutamaan memperbanyak membaca sholawat di malam jumat ataupun hari jumat, maka sudang dijelaskan secara gamblang di banyak kitab oleh ulamak. Diantaranya sebagaimana penjelasan yang ada dalam kitab Nawadirul Hikayah karya Syaikh Syihabuddin bin Salamah al-Qulyuby, berikut bunyi haditsnya: 

 روي عن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله غليه وسلم: "من صلى عليّ في يوم الجمغة مائة مرة قضى الله له مائة حاجة, سبعين من حوائج الأخرة وثلاثين من حوائج الدنيا. ويوكل الله بصلاته على ملكا حتى يدخلها على قبري كما تدخل على أحدكم الهداية. ويخبرني بإسمه فأثبته عندي في صحيفة بيضاء وأكفئه بها يوم القيامة

Artinya: "Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu 'Anhu berkata: Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasalam bersabda: Barang siapa bershalawat kepadaku di hari Jumat 100 kali, maka Allah akan mengabulkan baginya 100 hajat (kebutuhan), yang 70 dari kebutuhan akhirat dan 30 dari kebutuhan-kebutuhan duniawi. Dan Allah membebankan shalawat tersebut kepada malaikat hingga menghaturkannya ke kuburanku, layaknya (cahaya) hidayah yang masuk kepada kamu sekalian. Dan malaikat memberi tahu akan namanya, kemudian aku menetapkannya di sampingku di dalam lembaran yang putih bersih, dan dengan shalawatnya, aku mencukupinya (memberi syafaat) kelak di hari kiamat". 

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa hendaknya manusia memperbanyak membaca sholawat. hadits tersebut diriwayatkan dari Aus bin Aus, Rasulullah SAW bersabda: 

ان من افضل ايامكم يوم الجمعة فيه خلق ادم و فيه قبض وفيه النفخة وفيه الصعقة فاكثروا من الصلاة علي فيه فان صلاتكم معروضة علي

 Artinya, "Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah Hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptaan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk.  Oleh karena itu perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat, karena shalawat kalian akan dipersembahkan kepadaku".

Dalam hadits lain, yakni hadits riwayat Abi Umamah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut:

 اكثروا من االصلاة علي فى كل يوم جمعة فمن كان اكثرهم علي صلاة كان اقربهم منزلة

Artinya, "Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku setiap hari Jumat. Barang siapa yang paling banyak membaca shalawat atasku, maka dia paling dekat kepadaku kedudukannya." 

Begitu juga dengan hadits yang bersumber dari riwayat sahabat Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut:

 من صلى علي في يوم الجمعة الف مرة لم يمت حتى يرى مقعده فى الجنة 

Artinya, "Barang siapa membaca shalawat atasku pada hari Jumat seribu kali, maka ia tidak mati kecuali akan diperlihatkan kedudukannya di surga." 

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa betapa agung dan dahsyatnya keutamaan membaca sholawat, khususnya pada malam jumat sangat di anjurkan untuk memperbanyak sholawat. Terlebih dalam banyak riwayat disebutkan bahwa dengan membaca satu sholawat maka akan diberikan 10 kali lipat pahala. Hal ini sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim berikut:

  مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Artinya, “Siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali,” (HR Muslim). 

Sebagamana penjelasan dari banyak hadits di atas bahwa shalawat nabi memiliki banyak keutamaan bagi yang umat mengamalkannya atau membacanya, lebih-lebih degan jumlah yang banyak. Selain soal pahala bagi yang membacanya, amal dari membaca shalawat kepada Rosulullah juga dapat menghapuskan dosa dan mengangkat derajat orang yang membacanya, keterangan ini sebagaimana yang ada dalam keterangan hadits riwayat An-Nasa’i berikut: 

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ 

Artinya, "Siapa saja yang membaca shalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosanya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan," (HR An Nasa’i)


B. Dalil Keutamaan Hari Jum'at

Hari Jumat merupakan hari yang agung, mulia dan disebut dengan sayyidul ayyam. Allah SWT memuliakan umat Nabi Muhammad SAW dengan hari Jumat, kemuliaan ini tidak diberikan kepada umat nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW diutus. Pada malam jum'at umat Nabi Muhammad dianjuran untuk meningkatkan amal ibadah dan memperbanyaknya, seperti yang sudah masyhur di antaranya ialah memperbanyak membaca shalawat kepada Rasulullah SAW, memperbanyak sedekah, membaca yasin, dan lai-lain.

Terkait dengan keutamaan dan kemuliaan hari jumat, maka terdapat beberapa dalil yang menunjukkan terhadap keutamaan hari Jumat. Antara lain ialah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Syafi’i dan al-Imam Ahmad yang meriwayatkan dari Sa’ad bin ‘Ubadah, berikut bunyi haditsnya:

 سَيِّدُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَهُوَ أَعْظَمُ مِنْ يَوْمِ النَّحَرِ وَيَوْمُ الْفِطْرِ وَفِيْهِ خَمْسُ خِصَالٍ فِيْهِ خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَفِيْهِ أُهْبِطَ مِنَ الْجَنَّةِ إِلَى الْأَرْضِ وَفِيْهِ تُوُفِّيَ وَفِيْهِ سَاعَةٌ لَا يَسْأَلُ الْعَبْدُ فِيْهَا اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ إِثْمًا أَوْ قَطِيْعَةَ رَحِمٍ وَفِيْهِ تَقُوْمُ السَّاعَةُ وَمَا مِنْ مَلَكٍ مُقّرَّبٍ وَلَا سَمَاءٍ وَلَا أَرْضٍ وَلَا رِيْحٍ وَلَا جَبَلٍ وَلَا حَجَرٍ إِلَّا وَهُوَ مُشْفِقٌ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ

Artinya: "Rajanya hari di sisi Allah adalah hari Jumat. Ia lebih agung daripada hari raya kurban dan hari raya fitri. Di dalam Jumat terdapat lima keutamaan. Pada hari Jumat Allah menciptakan Nabi Adam dan mengeluarkannya dari surga ke bumi. Pada hari Jumat pula Nabi Adam wafat. Di dalam hari Jumat terdapat waktu yang tiada seorang hamba meminta sesuatu di dalamnya kecuali Allah mengabulkan permintaannya, selama tidak meminta dosa atau memutus tali silaturahim. Hari kiamat juga terjadi di hari Jumat. Tiada malaikat yang didekatkan di sisi Allah, langit, bumi, angin, gunung dan batu kecuali ia khawatir terjadinya kiamat saat hari Jumat".

Dalam hadits lain disebutkan, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi dari Abdillah bin ‘Amr bin al-‘Ash berikut: 

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ 

Artinya, “Tiada seorang Muslim yang mati di hari atau malam Jumat, kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur”.

Hadits di atas menurut ulamak mencapai tingkatan hadits hasan, hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Ihsan bin Dakhlan dalam kitab Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal. 286 cetakan Pondok Pesantrena Jampes Kediri, dengan mengutip keterangan dari Imam al-‘Azizi bahwa hadits tersebut mencapai tingkatan derajat hadits Hasan.

Di antara keutamaan hari jum;at yang lain ialah dengan melaksanakan shalat Jumat, maka orang yang tidak mempu di ibaratkan dengan naik haji pada hari jumat tersebut, artinya hari jum'at merupakan hajinya orang-orang yang tidak mampu. Hal ini sebagaimana Sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam al-Qadla’i dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

 اَلْجُمُعَةُ حَجُّ الْفُقَرَاءِ
 
Artinya, “Jumat merupakan hajinya orang-orang fakir”.
 
Kemudian, terkait dengan hadits tersebut, Syekh Ihsan bin Dakhlan menjelaskan sebagai berikut:

 يَعْنِيْ ذَهَابُ الْعَاجِزِيْنَ عَنِ الْحَجِّ اِلَى الْجُمُعَةِ هُوَ لَهُمْ كَالْحَجِّ فِيْ حُصُوْلِ الثَّوَابِ وَاِنْ تَفَاوَتَ وَفِيْهِ الْحَثُّ عَلَى فِعْلِهَا وَالتَّرْغِيْبُ فِيْهِ
Artinya, “Maksudnya ialah, berangkatnya orang-orang yang tidak mampu berhaji menuju shalat Jumat, seperti berangkat menuju tempat haji dalam hal mendapatkan pahala, meskipun berbeda tingkat pahalanya. Dalam hadits ini memberi dorongan untuk melakukan Jumat”. (Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal.282, cetakan Ponpes Jampes Kediri,). 

Hal serupa terkait keutamaan di hari jumat disampaikan dalam hadits lain, hadts ini menjelaskan tentang rangkaian ibadah di hari jumat yang membuahkan pahala. Berikut bunyi haditsnya: 

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا 
Artinya, “Barang siapa membasuh pakaian dan kepalanya, mandi, bergegas Jumatan, menemui awal khutbah, berjalan dan tidak menaiki kendaraan, dekat dengan Imam, mendengarkan khutbah dan tidak bermain-main, maka setiap langkahnya mendapat pahala berpuasa dan shalat selama satu tahun". (HR. Al-Tirmidzi dan al-Hakim). 

Menurut Imam al-Tirmidzi hadits di atas statusnya mencapai derajat hadits Hasan, sedangkan menurut al-Hakim hadits tersebut mencapai derajat hadits Shahih. 

Keterangan lain disampaikan dalam Hadits shohih muslim atau Imam Muslim adapun haditsnya sebagai berikut: 

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ 

Artinya, “Barang siapa berwudlu kemudian memperbaiki wudlunya, lantas berangkat Jumat, dekat dengan Imam dan mendengarkan khutbahnya, maka dosanya di antara hari tersebut dan Jumat berikutnya ditambah tiga hari diampuni”. (HR. Muslim).



REFERENSI/RUJUKAN

Muhammad Idris asy-Syafi’i, al-Umm, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1393 H, juz, 1, halaman 207

Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal.282, cetakan Ponpes Jampes Kediri,

Syekh Ihsan bin Dakhlan dalam kitab Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal. 286 cetakan Pondok Pesantrena Jampes Kediri

Kitab Nawadirul Hikayah karya Syaikh Syihabuddin bin Salamah al-Qulyuby

HR. Al-Tirmidzi dan al-Hakim

HR. Muslim dan HR An Nasa’i

https://lampung.nu.or.id/syiar/dalil-keutamaan-membaca-surat-al-kahfi-di-malam-jumat-ZN3ru

https://jatim.nu.or.id/keislaman/malam-jumat-disunahkan-membaca-surat-al-kahfi-ini-dalilnya-I2OUH

https://islam.nu.or.id/jumat/dalil-keutamaan-hari-jumat-XB4Tt

https://islam.nu.or.id/jumat/nilai-lebih-baca-sholawat-pada-hari-jumat-GVoMT

https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/perhatikan-10-keutamaan-membaca-shalawat-nabi-4ZyBE

Label: , , , , , , ,

Selasa, 16 Agustus 2022

Diktum Cinta

 


Setelah mengimami sholat isyak, berdzikir, berdoa dan membaca sholawat karangan pendiri pesantren al-khoirot bersama seluruh santri. Kemudian pemuda itu sholat sunnah dua rokaat dan turun dari masjid. Ia memasuki kantor dan membuka HP untuk melihat pesan WhatsApp. Di antara sekian pesan yang ada, pemuda itu terlebih dahulu membuka pesan dari pamannya, paman zaini. Ia menerima pesan yang berisi nomor dari gadis yang tadi sorenya dipinang atau dikhitbah untuknya.

Sore setelah asar bapak dan paman pemuda itu bersama dengan seorang Habib meminang gadis sholihah untuk anaknya. Dengan rasa syukur yang sangat amat ia panjatkan, karena khitbahnya diterima. Namun demikian, pemuda ini sampai detik itupun belum punya media untuk berkenalan dengan gadis tersebut, sehingga pamannya lah yang memintakan nomornya pada ibu dari gadis itu sendiri.

Setelah menyimpan nomornya dengan baik, kemudian pemuda itu menghubunginya dengan pesan singkat, salam dan bertanya apakah benar atau tidak nomor yang ia maksud. Setelah dijawab salamnya dan dinyatakan benar nomornya ialah nomor gadis yang tadi sore dikhitbah. Akhirnya pemuda itupun menutup HP nya dan bersiap ke masjid untuk mengaji kitab ke salah satu pengasuh pesantren.

Hari-hari berjalan dengan baik, keduanya semakin kenal dan saling bertanya-tanya seputar masa lalu dan pendidikannya. Dua hari kemudian lamaran dilangsungkan, lamaran berjalan dengan baik dan penuh haru. keduanya benar-benar resmi bertunangan, keduanya juga saling menjaga diri untuk menunggu masa di mana nantinya keduanya disatukan dalam ikatan suami istri yang sah.

Seiring berjalannya waktu, saling kirim pesan melalui WhatsApp, saling bercanda melalui kata-kata singkat. Pemuda itupun kadang heran, Gadis yang katanya orangnya cuek dan sulit bergaul, namun kenapa aku selalu bisa melihat sisi-sisi romantis dan perhatiannya yang kemudian dapat menerbitkan senyumku. wkwkwk.. Gini amat rasanya punya tunangan, lantas bagaimana kalua sudah jadi suami istri, hehehe.

Pemuda itupun membuat story WhatsApp yang menggambarkan kebahagiaannya, status itupun ditulis dengan berbahasa arab, ya biar lebih keren dikit lah. Masa iya bahasa Indonesia terus hehe

Berikut isi tulisannya:

فإذا سألتني من لحياتي كافية؟، فاعلم إنها فائزة المشرفة، هي إمرأة صالحة متدينة متعلمة و جميلة فى الأخلاق

Artinya “Jika kamu tanya siapakah orang yang cukup dalam hidupku? Maka ketahuilah sesungguhnya dia adalah Faizatul Musyarrofah, Dia gadis yang cantik, sholihah, baik agamanya, bagus pendidikannya dan cantik rupa serta akhlaknya”.

Tanpa disadari setelah sekian menit sttus itu di kirim pada stori WhatsApp, banyak banget orang-orang yang mengomentari, ada yang mendoakan, bertanya siapa Namanya, orang mana, ketemu di mana, apakah teman kuliahnya, dan kapan nikahnya. Yang sangat berbeda ialah komentar dari salah satu temannya yang sudah menikah duluan. Dia ialah ustadz Edi Purwanto, dia lebih tertuju pada susunan kata-kata yang pemuda itu tulis, menurutnya bagus sekali dan gurih dibaca dan didengar narasi bahasa abarnya.

Pemuda itu berkata:

Dari nama indahnya itu pula muncul harapanku, semoga aku dan kamu mendapati kemenangan dalam hidup, menang melawan hawa nafsu, dan menang mengendalikan amarah sehingga kehidupan kita nanti penuh dengan keharmonisan dan cinta kasih, nama depanmu, Faizah. Berharap, aku dan kamu dapat menjalani kehidupan Bersama setelah sah sebagai suami istri dengan kehidupan yang mulia, sebagaimana arti kata di akhir namamu. Musyarrofah.

Kita memang tidak pernah saling kenal sebelumnya, bahkan kita hanya berproses 15 hari dari pertama kali aku menerima foto kamu sampai akhirnya kita resmi bertunangan. Kamu sebagai anak penurut yang mengerti betul keinginan baik kedua orang tuamu, dengan ilmu yang kamu miliki dan didikan baik dari kedua orang tuamu akhirnya membuatmu mampu menerima semuanya dengan baik, ridho dengan keadaan dan bahagia dengan pertunangan ini. Aku sangat bersyukur dan bahagia dengan pertunangan ini, akupun juga bisa melihat bilik-bilik kebahagiaanmu sebagaimana bahagiaku.

Kamu, gadis yang suka dengan cerita, suka dengan buah-buahan, suka dengan segelas kopi, suka dengan pemandangan indah alam semesta dan insyaAllah aku yakin kamu juga suka ke padaku, zaironi pemuda yang sederhana yang hanya punya lembaran kitab dan ijazah kemudian berani mengkhitbah dan meminangmu untuk jadi tunanganku dan nanti akan menjadi istriku. wkwkwk.

Meskipun rupaku begini adanya, ilmuku minim banget, aku juga bagian dari sekian banyak santri yang istiqomah mempertahankan prestasi di madrasah diniyah loh, tidak pernah lepas dari urutan ke 3 terbaik, hanya dua kali saja aku gagal, itupun diurutan ke empat. Prestasi itu hanya sebatas prestasi, karena keilmuan yang aku miliki tidak seberapa dan tidak merepresentasikan keilmuanku sama sekali. Setidaknya, aku siap menjadi imam sholatmu sebagai suami istri, bukan orang asing yang menjadi imam dan makmum. Setidaknya, aku siap menjadi ayah dari anak-anak kita nanti, aku yang mengajarkan mengaji qur’an, aku fokus ke tajwidnya, kamu fokus ke makhorijul khurufnya. Aku fokus pada panjang pendek bacaannya, kamu fokus pada keindahan cara bacanya. Sebagaimana keindahan raut wajah anggunmu, manis, cantik, dan menyenangkan hati, pokok ora merengut dan marah-marah wkwkwk.

Aku masih heran, karena aku kuliah di UIN Maliki Malang sudah tiga tahun, dua tahun di Pascasarjana program magister manajemen pendidikan islam (MPI) dan satu tahun berikutnya di pascasarjana program doktor pendidikan agama Islam (PAI). Semuanya aku tempuh di UIN Maliki Malang, tapi selama itupun kita tidak pernah bertemu, namun Allah mempertemukan kita pada waktu yang sangat tepat dan baik. Aku yang sedang menjalani dua perkuliahan, rasanya tidak ada waktu selain untuk belajar, mengerjakan tugas, mengaji, mengajar dan kuliah. Kuliah S2 di IAI Al_Qolam program beasiswa S2 PAI dan Kuliah S3 di UIN Maliki Malang Jurusan PAI yang bersamaan, makan sempat mikir cari jodoh, ternyata tanpa susah payah menjari ada saja jalan terbaik dari-Nya untuk mempertemukan kita. Padahal aku hampir dua hari sekali melewati jalan di depan rumahmu, tapi mau bagaimana lagi, namanya saja dulu Allah belum menghendaki kita berdua untuk bertemu.

Aku saja heran dengan pertemuan ini, apalagi dengan mereka. pantes saja mereka selalu bertanya-tanya, kapan ketemunya, kenal di mana, bagaimana prosesnya dan seterusnya. Yang jelas kehendak dan kuasa Allah itu sangat indah dan tidak bisa sedikitpun di kejar oleh nalar akal.

Suatu ketika kamu mengirimkan pesan bahwa kamu tidak bisa masak, seketika itu aku tertawa. Mana mungkin cewek gak bisa masak, yang ada belum mahir dengan sekian racikan bumbu untuk memasak, toh nanti juga pasti bisa memasak dengan baik. Bahkan mampu membuat suami dan anak-anaknya ketagihan masakanmu. hehe.

Hari terus berjalan, detik demi detik tak henti berputar. Ternyata kita sudah satu minggu resmi bertunangan. Ternyata kamu tidak sesuai prediksiku, aku sebelumnya mengira bahwa kita akan kaku dalam menjalani hubungan ini, saling cuek dan tidak mau saling sapa melalui pesan. Aku kira kamu tidak akan bisa romantis dan tidak akan bisa membuat senyum dan tawaku pesah. Ternyata aku salah, kamu tidak seperti itu. Justru kamu orangnya sangat legowo, baik, penurut, romantis dikit-dikit wkwkwk, perharian juga dikit-dikit hehe. Maklaumlah, kita juga baru saling kirim pesan hanya dalam waktu satu minggu alias 7 hari ini. Itupun kita saling mengerti kesibukan kita, pagi hari kita sama-sama mengajar, juga sama-sama kuliah. Jadi, maklumlah dengan perkembangan perkenalan yang baik ini, nanti pasti akan lebih baik dan terus membaik.

"Happy one week of our engagement anniversary, I love you very much, very lucky to have a fiancé like you, may we be partners in the world and the hereafter, mate forever and continue to spread kindness together, build a loving family and a harmonious family. sakinah mawaddah wa rohmah family".


Rabu 10 Agustus 2022 -  Rabu 17 Agustus 2022.

"Hari ini di Malang tanggal 17 Agustus 2022, Zaironi dan faizah dengan penuh perasaan bahagia telah resmi satu minggu bertunangan. Atas nama Zaironi dan Faizah, Hal-hal yang mengenai penyempurnaan dalam hidup dan kebahagiaan sepanjang hidup, saling mencintai, merawat hubungan sampai detik terakhir kehidupan, bersama-sama menebar kebaikan dan membahagian kedua orang tua dan semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah dan mengikuti sunnah Rosul-Nya, akan diselenggarakan dalam tempo yang selama-lamanya.”

Merdeka, merdeka dan merdeka. Semoga kita bisa terus merawat kemerdekaan ini, sebagaimana tekat kita berdua untuk saling merawat cinta, kasih sayang dan ridho kedua orang tua sepanjang hidup kita. Sekarang, nanti dan seterusnya. selalu bersama-sama.

Terimakasih untuk semuanya, tunanganku..

To be with you, That's all i want


 

Label: , , , , , , ,

Sabtu, 13 Agustus 2022

Manajemen Pendidikan Agama Pada Suami Istri

 


A. Pendahuluan 

Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari tiga hal, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keberhasilan pendidikan dalam suatu Negara atau daerah tergantung kepada tiga faktor tersebut. Ketiganya mesti bersinergi dalam mengelola dan mengembangkan pendidikan. Dan setiap faktor tersebut mempunyai fungsi dan peranan yang sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Tetapi dalam makalah ini tidak akan dibahas ketiga faktor itu, namun yang akan dibahas hanya terfokus pada salah satu faktor dari ketiga faktor tersebut, yaitu keluarga.

Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama. Sebagai pendidikan yang pertama, pendidikan dalam keluarga menempati urutan paling awal dalam perjalanan proses pendidikan yang dialami seseorang. Pendidikan dalam keluarga mendahului semua jenis pendidikan yang diterima dan dialami semua orang. Pendidikan dalam keluarga mampu mendasari dan mewarnai corak kepribadian seseorang dalam seluruh perjalanan hidupnya. Pengalaman-pengalaman yang diserap masa kecilnya sangat berpengaruh pada perilaku individual dan perilaku sosialnya dalam pergaulan hidup ditengah masyarakat. Apalagi masa kecil merupakan masa emas bagi penanaman, pembentukan, dan pengembangan intelektual, perilaku, kebiasaan, dan karakter seseorang.

Manusia adalah pelaksana dari pendidikan. Dalam al-Quran, manusia sebagai makhluk Allah yang mempunyai dua tugas utama yaitu sebagai Khalifah fi al-Ardh dan sebagai hamba (‘abid) yang diperintahkan untuk melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya dengan bekal dasar yaitu penglihatan, pendengaran, potensi akal (af-idah) dan dengan ketiga indera tersebut merupakan sarana dasar manusia dalam menerima pendidikan. walaupun pada awalnya manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apapun.

Pendidikan dalam Islam bukan sarana mencari materi saja. Russell menbedakan ujuan pendidkan: pribadi uuh atau warga yang baik, meskipun pribadi utuh menjamin warga Negara yang baik.

Dimensi pendidikan Islam dapat dilihat dari makna yang terkandung dalam istilah tarbiyah yang berarti pengasuhan, pendidikan, ta’lim pengajaran ‘ilm, atau ta’dib yang berarti penanaman ilmu dan adab. Masalahnya kini umat Islam cenderung mamahami pendidikan sekolah hanya sebatas makna ta’lim pengajaran (pengajaran ilmu). Sedangkan tarbiyah (pendidikan) dilakukan diluar sekolah. Sepertinya ta’lim dipahami sebagai pendidikan formal dan tarbiyah sebagai pendidikan non-formal atau informal dalam pengertian Barat. 

Akhirnya ta’lim tidak berupa pengajaran ‘ilm yang mengarah pada keimanan dan ketaqwaan dan tidak berdimensi tarbiyah. Sedangkan tarbiyah nya tidak berunsur ta’lim. Nampaknya nilai-nilai dualisme, sekularisme, dan humanisme telah masuk ke dalam konsep pendidikan kita. Dengan nilai dualisme pengajaran dipisahkan dari pendidikan, dengan sekularisme ilmu yang diajarkan dibagi menjadi ilmu dunia dan ilmu akherat. Dengan nilai humanisme pendidikan dan pengajaran diarahkan untuk kepentingan manusia yang tidak ada kaitannya dengan Tuhannya. Ilmu akhirnya tidak lagi untuk ibadah tapi untuk kemakmuran manusia

Pendidikan agama pada orang tua sangat sulit jika dilakukan oleh keluarganya, karena mungkin orang tua merasa lebih luas pengetahuanya, orang tua lebih dihargai bahkan mungkin orang tua sudah merasa sulit untuk diarahkan. Banyak kita temui orang tua yang belum bisa membimbing anaknya dengan baik. Faktor ini disebabkan karena kurangnya pengalaman dari orang tua, kurangnya pendidikan agama dari orang tua. Namun sebaliknya ada orang tua tidak mempunyai kompetensi mengajar kepada anaknya akan tetapi orang tua lebih mengikuti pengajian di lingkungan sebagai pendidikan agama. Ini yang akan tertanam dalam jiwa orang tua yang akan mencerminkan kesadaran bagi orang tua. Namun tidak semua orang tua mau seperti itu, lebih banyak orang tua dengan kesibukanya sehingga merasa belum ada waktu atau kesadaran.


B. Konsep Pendidikan Islam

Jika makna pendidikan Islam telah terdistorsi oleh konsep-konsep dari Barat, maka konsepnya sudah tentu bergeser dari konsep dasar pendidikan Islam. Konsep pendidikan Islam mestinya tidak menghasilkan SDM yang memiliki sifat zulm, jahl dan junun. Artinya produk pendidikan Islam tidak akan mengambil sesuatu yang bukan haknya, atau meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya (zalim), tidak menempuh cara yang salah dalam mencapai tujuan (jahil) dan tidak salah dalam menentukan tujuan hidup.

Oleh sebab itu pendidikan Islam harus di-reorientasikan pada konsep dasarnya, yaitu merujuk kepada pandangan hidup Islam, yang dimulai dengan konsep manusia. Karena konsep manusia adalah sentral maka harus dikembalikan kepada konsep dasar manusia yang disebut fitrah. Artinya pendidikan harus diartikan sebagai upaya mengembangkan individu sesuai dengan fitrahnya. Seperti yang tertuang dalam al-A’raf, manusia di alam ruh telah bersyahadah bahwa Allah adalah Tuhannya. Inilah sebenarnya yang dimaksud hadith Nabi bahwa “manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah.”

Fitrah tidak hanya terdapat pada diri manusia, tapi juga pada alam semesta. Pada keduanya Allah meletakkan ayat-ayat. Namun karena fitrah manusia tidak cukup untuk memahami ayat ayat kauniyyah, Allah menurunkan al-Qur’an sebagai bekal memahami ayat-ayat pada keduanya. Pada ketiga realitas tersebut (diri, alam dan kalam Allah yakni al-Qur’an) terdapat ayat-ayat yang saling berkaitan dan tidak bertentangan. Oleh sebab itu jika manusia dengan fitrahnya melihat ayat-ayat kauniyyah melalui ayat-ayat qauliyyah, maka ia akan memperoleh hikmah.

Agar konsep dan praktek pendidikan Islam tidak salah arah, perlu disusun sesuai dengan fitrah manusia, fitrah alam semesta dan fitrah munazzalah, yaitu al-Qur’an. Jika proses Pendidikan itu berjalan sesuai dengan fitrah, maka ia akan menghasilkan rasa berkeadilan dan sikap adil. Adil dalam Islam berarti meletakkan segala sesuatu pada tempat dan maqamnya. Artinya, pendidikan Islam harus mengandug unsur iman, ilmu dan amal agar anak didik dapat memilih yang baik dari yang jahat, jalan yang lurus dari yang sesat, yang benar (haqq) dari yang salah (batil).

Pendidikan Islam tidak hanya menekankan pada aspek kognitif (ta’lim) dan meninggalkan aspek afektif (amal dan akhlaq). Pendidikan yang terlalu intelektualistis juga bertentangan dengan fitrah. Al-Qur’an mensyaratkan agar fikir didahului oleh zikir. Fikir yang tidak berdasarkan pada zikir hanya akan menghasilkan cendekiawan yang luas ilmunya tapi tidak saleh amalnya. Ilmu saja tanpa amal, menurut Imam al-Ghazzali adalah gila dan amal tanpa ilmu itu sombong. Dalam pendidikan Islam keimanan harus ditanamkan dengan ilmu, ilmu harus berdimensi iman, dan amal mesti berdasarkan ilmu. Begitulah, pendidikan Islam yang sesuai dengan fitrahnya, yaitu pendidikan yang beradab.


C. Keterpaduan Program Pendidikan Keluarga

Keberadaan sebuah program yang jelas dalam menjalani kehidupan akan memberikan pengaruh yang positif terhadap perilaku seseorang. Jika kita benar-benar yakin pada nilai positif program tersebut dan menjalankannya dengan konsekuen, sebuah karakter positif dalam perilaku kita akan terbentuk. Adanya program hidup yang sama, akan menghasilkan perilaku yang sama pula. Oleh karena itu, program tunggal dapat dijadikan parameter untuk mengetahui sejauh mana tindakan dan perilaku kita sesuai dengan program itu.

Suami isteri harus bersepakat untuk menentukan satu program yang dengan jelas menerangkan hak-hak dan kewajiban masing-masing dalam keluarga. Islam dengan keterpaduan ajaran-ajarannya menawarkan sebuah konsep dalam membangun keluarga muslim. 

Konsep ini adalah konsep rabbani yang diturunkan oleh Allah, Tuhan Yang Maha mengetahui. Dialah yang menciptakan manusia dan Dia pulalah yang paling mengetahui kompleksitas kehidupan manusia. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa konsep yang ditawarkan oleh Islam adalah satu-satunya konsep dan program hidup yang sesuai dengan fitrah manusia.

Konsep Islam adalah sebuah konsep yang secara jelas dan seimbang mendistribusikan tugas-tugas kemanusiaan. Islam tidak pernah memberikan tugas yang tidak dapat dilakukan oleh seorang manusia dengan segala keterbatasannya. Konsep ini tidak akan pernah salah, tidak memiliki keterbatasan, dan tidak mungkin mengandung perintah dan tugas yang tidak dapat dilakukan. Penyebabnya tentu saja, karena konseptornya adalah Allah SWT.

Konsep keluarga Islami memberikan prinsip-prinsip dasar yang secara umum menjelaskan hubungan antaranggota keluarga dan tugas mereka masing-masing. Sementara itu, cara pengaplikasian prinsip-prinsip dasar ini bersifat kondisional. Artinya, amat bergantung pada kondisi dan situasi dalam sebuah keluarga dan dapat berubah sesuai dengan keadaan.

Oleh karena itu, kedua orang tua harus bersepakat dalam merumuskan detail pengaplikasian konsep dan program pendidikan yang ingin mereka terapkan sesuai dengan garis-garis besar konsep keluarga Islami. Kesepakatan antara kedua orang tua dalam perumusan ini akan menciptakan keselarasan dalam pola hubungan antara mereka berdua dan antara mereka dengan anak-anak.

Keselarasan ini menjadi amat penting karena akan menghindarkan ketidakjelasan arah yang mesti diikuti oleh anak dalam pendidikannya. Jika ketidakjelasan arah itu terjadi, anak akan berusaha untuk memuaskan hati ayah dengan sesuatu yang kadang bertentangan dengan kehendak ibu atau sebaliknya. Anak akan memiliki dua tindakan yang berbeda dalam satu waktu. Hal itu dapat membuahkan ketidakstabilan mental, perasaan, dan tingkah laku.

Riset para ahli membuktikan bahwa anak-anak yang dibesarkan di sebuah rumah tanpa pengawasan kedua orang tua sekaligus lebih banyak bermasalah dibandingkan dengan anak anak yang mendapatkan pengawasan bersama dari kedua orang tuanya.


D. Manajemen Pendidikan Agama Islam Dalam Keluarga (Suami Istri)

Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama.  Sebagai pendidikan yang pertama, pendidikan dalam keluarga menempati urutan paling awal dalam perjalanan proses pendidikan yang dialami seseorang. Anak pada mulanya cenderung melakukan sesuatu berdasarkan apa yang dilihat, didengar, disaksikan, dirasakan dan dialaminya sebelum mendapat pengaruh dari luar baik pergaulan maupun pendidikan. 

Peran dan pengaruh pendidikan dalam keluarga sangat besar terhadap kepribadian anak bahkan sampai dewasa sekalipun. Kondisi dalam keluarga yang berperan dan berpengaruh terhadap kehidupan seseorang itu bisa berbentuk kondisi sosial, kondisi ekonomi maupun kondisi pendidikan Agama Hal ini sesusai dengan penelitian isnawati dan dina (2017) yang menyatakan keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian seseorang.

Selanjutnya, peran dan pengaruh pendidikan Agama dalam keluarga memiliki kontribusi terhadap pendidikan yang berlangsung di sekolah. Kunci keberhasilan pendidikan Agama di sekolah bukan terletak pada penggunaan metode pendidikan dan penguasaan bahanya, melainkan pada pendidikan Agama dalam rumah tangga. Inti pendidikan agama dalam keluarga itu adalah hormat kepada Allah SWT, orang tua dan guru. Maka intensitas dan optimalisasi pendidikan Agama dalam keluarga sangat membantu guru Agama dalam mengembangakan kepribadian Muslim, terutama pada peserta didik. Guru agama kemudian melanjutkan upaya-upaya transformasi perilaku peserta didik berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam yang telah diserap dalam kehidupan keluarga. Oleh karena itu pendidikan Agama dalam keluarga perlu di manage secara maksimal.

Dari beberapa penjelasan diatas dapat di tarik suatu kesimpulan bahwasanya keluarga adalah tempat pertama untuk seorang anak memperoleh pendidikan, dan keluarga sangat berperan penting terhadap pembentukan karakter serta kepribadian seorang anak bahkan sampai seorang anak menginjak usia dewasa. Sebagai suatu analogi seorang anak yang dibesarkan dari keluarga yang kurang begitu bagus, dan ketika anak pada saat itu terbiasa mendengar keluarganya berbicara kasar maka bisa dipastikan bahwa pengalaman yang mereka terima sehari-hari dalam keluarga merupakan pengalaman yang kasar. Demikian juga sebaliknya ketika mereka cenderung mengekspresikan ucapan maupun tindakan yang santun, adalah semata-mata sebagai refleksi dari pengalaman dan kebiasaan dalam keluarganya.

Oleh karena itu pendidikan yang akan diterapkan dalam keluarga harus benar-benar dimanajemen dengan baik. Karena pendidikan dalam keluarga itulah awal dari pembentukan karakter seorang anak.

Tentang kewajiban pendidikan dalam keluarga terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al-Tahrim (66) ayat 6, Allah berfirman

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Ayat ini menggambarkan seruan Allah kepada orang-orang mukmin agar mereka menjaga diri dan keluarganya dari siksaan neraka, dimana neraka itu dijaga oleh para malaikat yang amat kasar. Dan mereka tidak pernah melanggar ketentuan Allah.

Pendidikan keluarga itu dimulai dari kedua orang tua, mereka mesti saling menghormati dan melaksanakan kewajiban mereka masing-masing. Selain itu mereka juga dituntut untuk selalu berbenah diri untuk menjadi insan yang shaleh dan bertaqwa kepada Allah. Kondisi ini merupakan tonggak utama dalam pendidikan keluarga. Kebiasaan orang tua dalam keharmonisan dan ketaatan kepada Allah dapat mempengaruhi anak-anak dalam keluarga tersebut.

Secara tegas ayat 6 surah al-Tahrim di atas mengingatkan semua orang-orang mukmin agar mendidik diri dan keluarganya kejalan yang benar agar terhindar dari neraka. Ayat tersebut mengandung perintah menjaga, yaitu “qu” (jagalah). Perintah menjaga diri dan keluarga dari neraka berkonotasi terhadap perintah mendidik atau membimbing. Sebab didikan dan bimbingan yang dapat membuat diri dan keluarga konsisten dalam kebenaran itu membuat orang terhindar dari api neraka. Oleh karena itu para orang tua berkewajiban mengajarkan kebaikan dan ajaran agama kepada anak-anak, menyuruh mereka berbuat kebajikan dan menjauhkan kemungkaran dengan membiasakan mereka dalam kebenaran atau kebaikan tersebut, serta memberikan contoh teladan.

Di antara usaha pendidikan yang dapat dilakukan orang tua adalah mengajak semua anggota keluarga bertobat kepada Allah. Orang tua berkewajiban membimbing dan mendidik anaknya, serta mengajak mereka selalu memohon ampunan dari Allah, menyesali perbuatan salah yang pernah dikerjakan, jika memang benar-benar bertobat kepada-Nya dan tidak akan kembali lagi kepada perbuatan tercela yang telah dilakukan tersebut. Dan sebagai balasan bagi orang-orang yang benar- benar bertobat, maka Allah menyediakan surga baginya.

Perintah mendidik keluarga juga tergambar dalam surat Taha (20) ayat 132, yaitu:

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى

Artinya: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”.

Lebih tegas ayat ini memerintahkan setiap orang tua, terutama ayah sebagai kepala keluarga, memerintahkan anggota keluarganya mendirikan shalat. Dalam suatu riwayat ditegaskan bahwa nabi bersabda yang maksudnya; “suruhlah anakmu mengerjakan shalat ketika berumur tujuh tahun, dan apabila anak itu sudah berusia sepuluh tahun tidak mau juga mengerjakan shalat maka berikanlah hukuman keatasnya”. Riwayat ini menggambarkan, bahwa orang tua berkewajiban memerintahkan anak-anaknya menjalankan perintah agama terutama shalat.

Kewajiban memerintahkan anggota keluarga mengerjakan shalat berarti wajib pula bagi kepala keluarga mengajarkan anggota keluarganya hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan shalat. Demikian pula mendidik anggota keluarga dalam mendirikan shalat orang tua dituntut kesabaran dan keuletan dalam mendidik anggota keluarga terutama anak-anaknya.

Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwasanya Pendidikan dalam keluarga bila dipandang dari perspektif agama sangat jelas tertera dalam al-Qur’an surah al-tahrim ayat 6 serta al-Qur’an surah Taha ayat 132 tersebut, menggambarkan kewajiban suatu keluarga mendidik dan membimbing anggota keluarganya. Dari sini dapat diartikan pula, bahwa kesepakatan antara seorang laki-laki dan wanita untuk menikah mestinya dimaknai sebagai kesepakatan mereka mendirikan lembaga pendidikan keluarga, dimana suami dan istri (ayah dan ibu) sebagai murabbi atau mu’addib (pendidik) dan anggota keluarga lainya khususnya anak sebagai peserta didik. Untuk itu, menjadi seorang ayah atau ibu mestilah memenuhi persyaratan seorang pendidik, khususnya penguasaan minimal ilmu keislaman dan keteladanan. Karena pada hakikatnya proses pendidikan keluarga dimulai semenjak pemilihan atau penentuan jodoh.


E. Manajemen Pendidikan Suami Istri Menurut A. Fatih Syuhud

Menurut A. Fatih Syuhud manajemen pendidikan suami istri atau keluarga terlebih dahulu dimulai dari tahap pemilihan calon pasangan, kenapa demikian, dikarenakan calon yang akan kita pilih adalah orang yang akan hidup bersama baik dalam suka maupun duka, kaya ataupun melarat.

Berikut Manajemen Pendidikan Suami Istri Menurut A. Fatih Syuhud:

1. Menentukan Calon Pasangan, 

Bagi laki-laki sudah tentu ingin istrinya yang baik, cantik, taat, pintar dan cerdas, tentunya Wanita yang sholihah. Sebagaimana dalam kitab mausu;ah al-Fiqhiyah dikatakan bahwa Wanita shalihah adalah Wanita yang membuat suaminya senang saat melihatnya, taat pada suaminya, tidak melakukan sesuatu hal yang tidak disukai suaminya dan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

Dalam hadits Riwayat bukhari muslim disampaikan bahwa Nabi menyatakan bahwa dalam menentukan piliha calon istri, seorang laki-laki hendaknya memilih Wanita yang agamis, bukan karena harta, kecantkan fisik atau darah keturunannya. Namun demikian menurut penulis andai bisa mendapatkan keseluruhannya akan menjadi lebih sempurna lagi. Perlu diperhatikan bahwa dalam memilih calon pasangan jangan terlalu mengedepankan hal yang begini dan begitu atau harus sesuai kriteria yang diinginkannya. 

2. Tujuan Rumah Tangga Adalah Kebahagiaan Bersama.

Tolak ukur rumah tangga yang berhasil menurut Ahmad Fatih Syuhud ialah sebagai berikut: a) suami berprilaku sesuai perannya, yakni menjadi pemimpin rumah tangga denga bijaksana, pencari nafah yang ulet, suami yang dihormat dan bapak yang jadi panutan: b) istri berprilaku sesuai tugasnya yaitu sebagai istri yang sholihah, ibu yang peduli pada keseharian Pendidikan anaknya, istri yang mendukung peran suami: c) anak bertndak sesuai harapan kedua orang tua.

3. Pembagian Tugas Dan Tanggung Jawab

Dalam sebuah hadits sahih Riwayat bukholi Rasulullah bersabda: Suami bertanggug jawab pada keluarganya. Sedangkan istr memimpin di ruman suaminya dan bertanggung jawab atas tugasnya.

4. Kebersamaan Dan Komunikasi Berkualitas

Komunikasi berkualitas adalah adanya kebersamaan dan hubungan teraktif yang baik secara intensif da teratur. Kebersamaan disebut berkualitas walaupun waktunya sedikit apabila digunakan secara utuh untuk berkomunikasi baik dalam bentuk bercanda, berbagi cerita dan berdialog serius.

5. Mengelola Konflik

Dalam sitasi di mana serng terjadi konflik kecil dan ketidak cocokan antara suami dan istri maka kemamouan mengelola konflik menjadi hal yang sangat penting.

6. Minta Maaf Dan Memaafkan

Pasangan suami istri yang harmonis sekalipun tidak luput dari kesalahan. Hal ini wajar dan manusiawi. Yang terpenting adalah bagaimana merawat keharmonisan, yang bersalah merasa bersalah dan segera meminta maaf pada pasangannya. Meminta maaf sendiri kendati terasa sangat sulit bagi mereka yang tidak terbiasa dan memiliki ego tinggi.

7. Kompromi

Salah satu kunci keharmonisan rumah tangga dan cara jitu menghindari konflik adalah kedua belah pihak harus melakukan kompromi, di antara makna kompromi adalah; a) penyelesaian perbedaan dengan cara arbitasi atau konsesi Bersama; b) dua pihak saling menyesuaikan diri dengan cara saling mengalah; c) mencapai kesepakatan dengan cara salng mengalah (mutual concession)

8. Taat Syariah

Rasulullah bersabda agar seorang lelaki memilih calon istri yang agamis agar alian beruntung. Jika istri agamis dapat membawa keberuntungan dalam rumah tangga, maka begitujuga dengan suami yang agamis.

9. Berilmu Agama

Taat pada syariah dalam arti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya adalah wajib. Orang yang menjalankannya disebut sebagai orang yang shalih yang akan mendapatkan pahala surga kelak di akhirat. Kualitas kesaliha seseorang berbeda beda, ada yang tinggi dan ada yang rendah. Salah satu penyebabnya kualitas kesaliha itu adalah tingkat keilmuan.

10. Akhlak Mulia

Syarat ketiga rumah tangga disebut harmonis dan agamis adalah apabila dalam sebuah keluarga memiliki akhlak mulia atau budi pekerti yang luhur. Seorang muslim yang taat syariah dan berilmu agama belum menjamin memiliki akhlak yang baik.

11. Cinta Ibadah

Salah satu hal yang tak kalah penting adalah keluarga agamis juga harus cinta ibadah, artinya, rajin melakukan ibadah mahdah (murni) yang sunnah. Diharapkan dengan itu tidak hanya akan semakin mendekatkan dirinya dengan Allah, dan menjauhkan diri dari perilaku mungkar tapi juga untuk menguatkan hati dan mental.


 

F. Kesimpulan

Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari tiga hal, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keberhasilan pendidikan dalam suatu Negara atau daerah tergantung kepada tiga faktor tersebut.

Konsep pendidikan Islam mestinya tidak menghasilkan SDM yang memiliki sifat zulm, jahl dan junun. Artinya produk pendidikan Islam tidak akan mengambil sesuatu yang bukan haknya, atau meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya (zalim), tidak menempuh cara yang salah dalam mencapai tujuan (jahil) dan tidak salah dalam menentukan tujuan hidup. Oleh sebab itu pendidikan Islam harus di-reorientasikan pada konsep dasarnya, yaitu merujuk kepada pandangan hidup Islam, yang dimulai dengan konsep manusia. Karena konsep manusia adalah sentral maka harus dikembalikan kepada konsep dasar manusia yang disebut fitrah.

Keberadaan sebuah program yang jelas dalam menjalani kehidupan suami istri maka akan memberikan pengaruh yang positif terhadap perilaku seseorang. Adanya program hidup yang sama, akan menghasilkan perilaku yang sama pula. Oleh karena itu, program tunggal dapat dijadikan parameter untuk mengetahui sejauh mana tindakan dan perilaku kita sesuai dengan program itu.

Suami isteri harus bersepakat untuk menentukan satu program yang dengan jelas menerangkan hak-hak dan kewajiban masing-masing dalam keluarga. Islam dengan keterpaduan ajaran-ajarannya menawarkan sebuah konsep dalam membangun keluarga muslim. Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama.  Sebagai pendidikan yang pertama, pendidikan dalam keluarga menempati urutan paling awal dalam perjalanan proses pendidikan yang dialami seseorang.

Menurut A. Fatih Syuhud manajemen pendidikan suami istri atau keluarga adalah sebagai berikut, yakni dimuai dari menentukan calon pasangan, tujuan rumah tangga adalah kebahagiaan bersama, pembagian tugas dan tanggung jawab, kebersamaan dan komunikasi berkualitas, mengelola konflik, minta maaf dan memaafkan, kompromi, taat syariah, berilmu agama, akhlak mulia, cinta ibadah


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Fatih Syuhud, Jihad Keluarga: Membina rumah tangga sukses dunia akhirat, (Pustaka Al-Khoirot 2021) Hal. 301

Bahrun Ali Murtopo. Manajemen Pendidikan Islam Dalam Keluarga. Wahana Akademika Volume 3 Nomor 2, Oktober 2016

Dr Fakhir Aqil, ‘Ilm Al-Nafs Al-Tarbawi : 111

Hari Soetjiningsih, Christina, 2018. Psikologi Perkembangan, Perkembangan Anak. (Depok: Prenada Group). Hal. 218

Mujamil Qomar. 2015. Dimensi Managemen Pendidikan Islam, (Jakarta: Erlangga) hal. 1

Sulitiyo Rini M.Pd. Manajemen Pendidikan Islam Konsep Srategi dan aplikasi

Surah al-A’raf, 172

Surah Ali Imran 191

Surah Al-Tahrim, ayat 6

surat taha, ayat 132












Label: , , , , ,