Minggu, 22 Maret 2026

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal: Keutamaan, Makna Spiritual, dan Indikasi Diterimanya Amal Ramadan

 

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal: Keutamaan, Makna Spiritual, dan Indikasi Diterimanya Amal Ramadan

Puasa enam hari di bulan Syawal menjadi salah satu amalan sunnah yang banyak dikerjakan umat Islam setelah Ramadan. Amalan ini diyakini memiliki keutamaan besar, yakni pahala yang setara dengan puasa selama satu tahun penuh. Selain itu, puasa Syawal juga dipandang sebagai bentuk penyempurna ibadah Ramadan serta menjadi salah satu tanda diterimanya amal selama bulan suci. Praktik ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis, dan terus menjadi tradisi yang hidup di tengah masyarakat Muslim di berbagai wilayah.

Puasa Syawal dilaksanakan selama enam hari di bulan Syawal, bulan yang datang setelah Ramadan dalam kalender Hijriah. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara berturut-turut setelah Hari Raya Idulfitri atau secara terpisah selama bulan Syawal, sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Para ulama sepakat bahwa amalan ini bersifat sunnah, namun memiliki nilai keutamaan yang sangat tinggi.

Dasar utama anjuran puasa Syawal berasal dari hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa siapa yang berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun. Para ulama menjelaskan bahwa perhitungan tersebut merujuk pada konsep pahala berlipat dalam Islam, di mana satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Dengan demikian, puasa Ramadan selama 30 hari setara dengan 300 hari, dan tambahan enam hari di Syawal menyempurnakan menjadi 360 hari, mendekati jumlah hari dalam satu tahun.

Puasa Syawal tidak hanya bernilai kuantitatif dalam hal pahala, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Ibadah ini menjadi indikator konsistensi seorang Muslim dalam beribadah setelah Ramadan berakhir. Ramadan sering disebut sebagai “madrasah spiritual” yang melatih kesabaran, pengendalian diri, serta meningkatkan kualitas ibadah. Puasa Syawal kemudian menjadi bentuk kelanjutan dari proses pembinaan tersebut.

Selain itu, puasa enam hari di bulan Syawal juga dipahami sebagai penyempurna ibadah Ramadan. Selama Ramadan, tidak sedikit umat Islam yang mungkin mengalami kekurangan dalam ibadahnya, baik dari segi kekhusyukan, konsistensi, maupun kualitas amal. Puasa Syawal hadir sebagai kesempatan untuk menutupi kekurangan tersebut, sebagaimana konsep ibadah sunnah yang melengkapi ibadah wajib dalam ajaran Islam.

Hubungan antara puasa Ramadan dan puasa Syawal serupa dengan salat wajib dan salat sunnah. “Dalam banyak ajaran Islam, ibadah sunnah berfungsi sebagai pelengkap dari ibadah wajib. Puasa Syawal dapat dipandang sebagai bentuk penyempurnaan terhadap kemungkinan kekurangan selama Ramadan,” ujarnya.

Lebih jauh, puasa Syawal juga sering dikaitkan dengan tanda diterimanya amal Ramadan. Dalam tradisi keilmuan Islam, salah satu indikator diterimanya amal adalah adanya keberlanjutan dalam kebaikan setelah ibadah utama selesai. Artinya, seseorang yang tetap menjaga semangat ibadah pasca-Ramadan menunjukkan bahwa nilai-nilai yang diperoleh selama bulan suci benar-benar terinternalisasi.

Konsistensi ritual ibadah di atas menjadi kunci dalam kehidupan spiritual seorang Muslim. “Jika seseorang setelah Ramadan justru kembali pada kebiasaan lama yang kurang baik, maka itu menjadi bahan refleksi. Sebaliknya, jika ia melanjutkan dengan ibadah seperti puasa Syawal, itu menjadi pertanda positif bahwa Ramadan memberikan dampak nyata,” katanya.

Di sisi lain, pelaksanaan puasa Syawal juga memiliki dimensi sosial. Setelah merayakan Idulfitri yang identik dengan kebersamaan dan silaturahmi, puasa Syawal mengajak umat Islam untuk kembali pada pengendalian diri dan kesederhanaan. Hal ini menciptakan keseimbangan antara aspek sosial dan spiritual dalam kehidupan beragama.

Namun demikian, terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan puasa Syawal. Salah satunya adalah prioritas bagi mereka yang memiliki utang puasa Ramadan. Sebagian ulama berpendapat bahwa puasa wajib harus didahulukan sebelum menjalankan puasa sunnah, termasuk puasa Syawal. Meski demikian, terdapat pula pandangan yang memberikan kelonggaran selama masih dalam bulan Syawal.

Perbedaan pendapat ini merupakan hal yang wajar dalam khazanah keilmuan Islam. “Yang terpenting adalah memahami dasar hukumnya dan menyesuaikan dengan kondisi masing-masing, serta tetap menjaga niat ibadah,” ujarnya.

Selain itu, niat juga menjadi aspek penting dalam pelaksanaan puasa Syawal. Seperti halnya ibadah lainnya, puasa ini harus dilandasi dengan niat yang tulus karena Allah SWT. Niat tersebut dapat dilakukan pada malam hari sebelum berpuasa, sebagaimana praktik umum dalam ibadah puasa sunnah.

Dalam konteks masyarakat modern, puasa Syawal juga menghadapi tantangan tersendiri. Aktivitas pekerjaan, rutinitas harian, serta perubahan pola hidup setelah Ramadan seringkali menjadi alasan bagi sebagian orang untuk tidak melaksanakan puasa ini. Meski demikian, banyak pula yang berusaha menyiasati dengan memilih hari-hari tertentu yang lebih memungkinkan untuk berpuasa.

Seorang pekerja di sektor swasta mengungkapkan pengalamannya dalam menjalankan puasa Syawal. “Biasanya saya tidak langsung enam hari berturut-turut. Saya pilih hari Senin dan Kamis di bulan Syawal, jadi lebih ringan dan tetap bisa menjalankan aktivitas,” katanya.

Pendekatan fleksibel ini menunjukkan bahwa puasa Syawal dapat disesuaikan dengan kondisi individu tanpa mengurangi nilai ibadahnya. Hal ini juga sejalan dengan prinsip kemudahan dalam Islam yang tidak memberatkan umatnya.

Di tengah perkembangan zaman, pemahaman terhadap puasa Syawal juga semakin meluas melalui berbagai media, termasuk ceramah daring, artikel keagamaan, dan diskusi komunitas. Hal ini membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya amalan sunnah sebagai bagian dari kehidupan beragama yang utuh.

Secara keseluruhan, puasa enam hari di bulan Syawal bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan memiliki makna yang komprehensif. Ia mencerminkan kesinambungan ibadah, penyempurnaan amal, serta indikator spiritual yang penting bagi seorang Muslim. Dengan berbagai keutamaan yang dimilikinya, puasa Syawal menjadi salah satu amalan yang dianjurkan untuk terus dilestarikan dalam kehidupan umat Islam.

“Puasa Syawal adalah bentuk kesinambungan dari pendidikan spiritual Ramadan. Ia menunjukkan apakah nilai-nilai Ramadan benar-benar tertanam dalam diri seseorang,”

“Melanjutkan ibadah setelah Ramadan, seperti puasa Syawal, menjadi salah satu tanda bahwa amal sebelumnya diterima dan berdampak,”

“Perbedaan pendapat soal teknis pelaksanaan adalah hal biasa. Yang utama adalah menjaga niat dan memahami esensi ibadah tersebut,”


 


Label: , , , ,

Jumat, 18 Oktober 2024

ISU-ISU DAN PROMBLEMATIKA KONTEMPORER DALAM PENDIDIKAN ISLAM

 

Isu-isu pendidikan Islam Kontemporer


ISU-ISU DAN PROMBLEMATIKA KONTEMPORER DALAM PENDIDIKAN ISLAM

 A.    Pendahuluan

Lembaga pendidikan Islam (LPI) akhir-akhir ini sudah banyak yang mulai menggalakkan diri untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan tehnologi yang kian deras arusnya. Perkembangan zaman dan tehnologi semakin menjangkau segala aspek sehingga jika abay sejenak saja dapat mempengaruhi eksistensi dan keikutsertaan dalam membentuk siswa yang berdaya saing di tingkat global.

Pendidikan islam saat ini sedang menjadi permata yang banyak dicari oleh ibu bapak dari anak-anak yang kian hari makin jauh dari ilmu agama, perilaku makin ugal-ugalan dan ucap semakin tidak berkesesuaian.

Pendidikan Islam sudah seharusnya terus berbenah dan mengambil andil untuk turut serta mencetak pesera didik yang berdaya saing, berakhlakul karimah dan kompeten dalam bidang yang diambilnya. Terdapat beberapa isu atau tatangan bagi Lembaga Pendidikan Islam agar tetap bisa terus eksis dengan mengimbangi perkembagan zaman dan memberijan jawaban atas tantangan tersebut dengan mengantarkan putra putri terbaiknya menjadi pemimpin di berbagai lembaga pendidikan dan tempat pengabdian lainnya,

B.     Pembahasan

P            Pendidikan Islam akhir-akhir ini mulai dilirik oleh banyak masyarakat yang mana diantara sebabnya adalah kekuatannya dalam tetap eksis ditegah tantangan globalisasi dan perkembangan zaman yang sangat ugal-ugalan, banyak lembaga pendidikan umum yang abai dengan penyediakan layanan ilmu agama dalam kegiatannya sehingga para ibu bapak walimurid kawatir dengan putra putrinya akan pengetahuan ilmu agama yang tidak begitu dalam. Contoh kecil banyak siswa yang tidak tau Najis dan macamnya, tidak tau cara mensucikannya, tidak bisa membaca al-Quran dengan baik dan lancer dan seterusnya. Hal ini menjadi nilai plus untuk lembaga pendidikan Islam. Namun demikian lembaga pendidikan Islam tetap harus terus berbenah untuk menghilangkan isu-isu yang erat dengannya. Berikut beberapa isu lembaga pendidikan

1.              Kualitas tenaga pendidik (SDM guru), isu yang pertama ini menjadi problem yang harus diselesaikan dengan cara terus meningkatkan kualitas SDM untuk menghasilkan SDM yang berkualitas. Hendaknya SDM di lingkungan Lembaga Pendidikan Islam meningkatkan kualitasnya dengan melanjutkan studi dari strata 1 hingga strata 3 atau doctoral untuk memperdalam pengetahuannya pada bidang yang dikehendaki. Dengan demikian akan memberikan dampak yang baik pada peserta didik untuk kemudian menjadi lulusan dengan SDM yang berkualitas dan berdaya saing

2.                  Kurikulum yang tidak transformation. Baiknya kurikulum terus berbenah dan menyesuaikan dengan kehendak zaman yang terus berkembang dengan berbagai kecanggihannya. Banyak Lembaga Pendidikan Islam yang tetap kaku dengan ke konservatif-annya sehingga cenderung abai dengan kebutuhan peserta didiknya untuk memberikan pelayanan Pendidikan yang setara dengan di luar lembaga tersebut. Pun juga banyak lembaga Pendidikan Islam yang mana visi, misi dan tujuannya saja tetap dengan narasi itu-itu saja sejak wal didirikan, tidak ada perubahan dan perbaikan visi yang menunjukkan adanya ketercapaian dari visi itu sendiri. Baiknya visi, misi dan tujuannya terdapat perubahan yang ditargetkan dengan pencapaiannya sebagaimana yang tercatat dalam renstra lembaga. Renstra setiap lembaga tentu berbeda, sehingga visi, misi dan tujuannya juga berbeda dan tahapan apa yang akan di capai setiap rencana stratejiknya juga berbeda.

3.      Metode pembelajaran yang cenderung kaku dan tidak inovatif, hal ini perlu digalakkan lagi untuk memberikan suasana dan pengalaman belajar yang berbeda dan menyenangkan untuk peserta didik. Inovasi dalam mengajar menjadi aspek penting untuk diperhatikan agar SDM atau tenaga pendidik dapat memberikan atau transfer ilmu dengan mudah difahami, diterima dan tidak membosankan. Terdapat banyak metode pembelajaran yang bisa didalami ole setiap guru yang tentunya menyesuaikan dengan tema dan materi yang akan disampaikan kepada siswa.

4.              Fasilitas atau sarana prasarana yang kurang dan belum memadai. Sarana prasarana menjadi hal penting yang dapat menunjang mudah tidaknya pembelajaran dilaksanakan, suasana kelas yang baik dan fasilitas lainnya yang lengkap. Sarana prasarana atau sarpras bahkan menjadi satu aspek penilaian dalam beberapa standar dalam program akreditasi lembaga oleh pemerintah, sehingga sudah seharusnya lembaga Pendidikan Islam selain berbenah dalam meningkatkan SDM juga meningkatkan kelengkapan fasilitas atau sarpras lembaga sehingga baik guru maupun murid dapat mudah melaksanakan pembelajaran setiap hari

5.              Lemahnya visi misi lembaga, sebagaimana yang disampaikan di atas, hendaknya setiap lembaga punya standar visi misi yang berkesesuaian dengan kehendak perkembangan zaman yang kemudian diturunkan pada kurikulum sehingga dapat menghasilkan lulusan yang berdaya saing kuat, unggul dan menjadikan sekolah dilirik oleh banyak masyarakat sehingga berdampak baik bagi lembaga. Setiap lembaga pendidikan yang banyak diminati oleh masyarakat tidak lepas dari sekolah yang punya visi misi yang berkesesuaian dengan zaman, visi misi yang kuat dan khas dengan lembaganya dan tidak meniru lembaga lain yang mana secara filosofi dan historis serta semangatnya juga berbeda.

6.              Rendahnya daya saing lulusan. Diantara penyebab lembaga pendidikan Islam tidak maju dan tidak menjadi pilihan utama masyarakat banyak adalah rendahnya daya saing lulusan, terdapat banyak penyebabnya, diantaranya disebabkan oleh visi misi yang tidak berkesesuaian dengan zaman dan tidak berkemajuan spiritnya, fasilitas yang kurang memadai, cara mengajar yang masih konservativ dan tidak inovatif, SDM yang kurang mumpuni serta kurang berkualitas, kurangnya daya control dari pimpinan dan masih banyak lagi. Beberapa hal di atas dapat menghambat kemajuan sebuah lembaga jika tidak segera di Atasi dan berbenah. Padahal setiap lulusan berhak meraih cita-citanya yang terkait dan terikat erat dengan latar belakang pendidikannya. Sudah seharunya lembaga pendidikan Islam menjadi pilihan utama masyarakat dalam menitipkan putra putrinya karena adanya value dan bukti bahwa lulusannya berkualitas dan berdaya saing tinggi.

7.              Tidak adanya rencara stratejik (renstra), hal ini menjadi pengmabta kemajuan lembaga pendidikan Islam, sehingga semua kegiatannya tidak ada target pencapaian dan berjalan begitu saja. Harusnya setiap lembaga pendidikan Islam mempunyai renstra untuk kemudian disampaikan kepada semua pimpinan dan SDM yang ada agar bersama-sama semangat untuk mencapai setiap target dari rencana yang disusun. Dengan demikian lembaga akan mendapati perubahan dan perkembangan yang baik. Renstra biasanya ada yang tahunan, lima tahunan dan bahkan bisa sepuluh hingga 30 tahun, mau dibawa kemana sebuah lembaga di situlah diuraikan dalam sebuah renstra

 

C.     Kesimpulan

        Sebuah lembaga pendidikan agar tetap bisa eksis ditengah gempuran berbagai tantangan dan permintaan masyarakat adalah dengan melakukan kesesuaian diri lembaga dengan perkembangan zaman, meningkatkan SDM, layanan sarana prasarana, pembelajaran yang inovatif, kurikulum yang transformatif, visi misi yang kuat dan punya rencana stratejik (renstra) untuk memastikan arah tujuan dan pencapaian yang akan dilakukan.

 


Label: , , , , ,

Senin, 16 September 2024

Relasi Agama dan UUD Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Pentingnya Pendidikan

 


Pendidikan merupakan pondasi inti dalam menyongsong eksistensi kehidupan di dunia ini. Untuk terus melakukan evolusi pada diri manusia, tentu jalan terbaik melalui pendidikan, meskipun pada dasarnya perintah yang sangat esensial dalam praktik eksistensi hidup adalah menyembah sang maha agung. Namun demikian, bagaimana mungkin bisa melakukan pengabdian yang ideal jika seorang hamba tidak tau ilmunya untuk mengabdi dengan baik pada sang maha agung. Karena itulah kemudian pendidikan mengikat segala asa dan tujuan menusia terkait dengan relasi hal lainnya. Pendidikan menjadi satu tangga penentu baik buruknya dan berhasil tidaknya manusia dalam mengimplementasikan asa dan tujuannya.

Jauh-jauh hari, sekitar kurang lebih 1400 an tahun yang lalu Nabi Muhammad Saw sudah menyampaikan terkait pentinya pendidikan, yakni tentang kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan untuk menuntut ilmu (belajar), berikut teks arabnya:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ 

Dalam redaksi hadits yang lain kewajiban itu mengikat sejak lahir hingga menuju ke liang lahat. 

اطلب العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلى اللَّحْدِ

Artinya, carilah ilmu sejak buaian hingga ke liang lahat (meninggal)

Dengan demikian, maka sudah selayaknya manusia terus belajar dan belajar. Kesempatan belajar sama porsinya bagi semua manusia, keberhasilan juga sama porsinya bagi setia manusia. Karena itulah kemudian pendidikan tidak bisa ditawar oleh hal apapun, semua manusia harus merasakannya dan bahkan harusnya sampai tuntas pada jenjang tertinggi. 

Disebutkan juga dalam al-Quran surah al-taubah ayat 122 sebagai berikut:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ۝١٢٢

Artinya, Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?

Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa setiap yang pergi untuk mempelajari ilmu Allah atau menuntut ilmu, maka blasan baginya adalah surga.

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًايَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا,سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الجَنَّةِ . رَوَاهُ مُسْلِم

Artinya: "Barang siapa menempuh satu jalan (cara) untuk mendapatkan ilmu, maka Allah pasti mudahkan baginya jalan menuju surga."

Terkait dengan pesan agama tentang kewajiban belajar bagi setiap muslim dan muslimah ini kemudian oleh Negara direspon dengan baik bahwa setiap anak bangsa harus belajar sejak usia 7 tahun, bahkan sejak kecil sudah dikenalkan pada pendidikan melalui PAUD, TK dan RA. Hal ini menjadi energi positif bagi rakyat yang memang dari segi ekonomi atau finansial kurang mamp. Hal ini bisa dilihat dalam Undang-undang Republik Indonesia tentang sistem pendidikan nasional adalah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003.

Di sisi lain Negara Indonesia dengan gencarnya memberikan apresiasi kepada siapapun yang berprestasi dari segi pengetahuan, bahkan yang kurang mampu dalam hal finansial oleh negara dibantu melalui beberapa program beasiswa. Baik itu LPDP mulai S1 sampai S3, baik dalam negeri maupun luar negeri. Pun juga melalui beasiswa KIP sekolah dan kuliah bagi siswa yang kurang mampu serta melalui banyak pintu beasiswalainnya. 

Berdasarkan ulasan di atas, maka dapat kita fahami bahwa pentingnya suatu pendidikan itu diperuntukkan kepada semua manusia atau hamba, karena dengan berpendidikan atau dengan belajar setiap manusia akan terangkat derajatnya dan melalui lintas evolusi diri menjadi lebih baik lagi. Nilai penting bahwa setiap individu harus berpendidikan direspon baik oleh negara dengan menunjukkan sikapnya melalui terobosan memberikan beasiswa kepada setiap manusia. Kesempatan belajar sama porsi untuk semua manusia, begitu juga kesempatan berhasil dalam meraih cita-cita. Kuncinya adalah terus belajar dan mengasah diri, tekun bekerja dan meningkatkan kemampuan diri, serta terus belajar dan belajar.


Selasa, 17 September 2024. 


Label: , , ,

Kamis, 09 Februari 2023

Faham yang salah, salah yang kaprah

Faham salah


Akhi-akhir ini banyak orang yang salah kaprah dan salah faham dalam memahami makna hidup dan pedoman hidup, sesuka mereka dan semau mereka ayat dan hadits ditafsiri. Sehingga semboyan mereka tetap tidak ubahnya, ini bid'ah, mari kembali ke jalan Allah, mari hijrah, jihad di jalan Allah, dan yang begitu itu sesat dan kafir. serasa tidak ada lagi kata dan bahasa lainnya yang lebih higinis

Diantara penyebab menjamurnya faham takfiri pada pribadi seseorang dikarenakan mereka menutup pintu-pintu rahmat dan taufik pada sisi yang selain dia fahami. Apa yang mereka ketahui maka itulah kebenaran tunggal baginya. Sehingga dengan sebab itu mereka mudah menyalahkan dan kalaupun berdiskusi dengan yang lawan pemahaman pasti mereka bersikap ad-hominem ataupun dengan bahasa “pokok e dan semacamnya”.

Panggung-panggung dakwah banyak dikuasai orang-orang yang sepemahaman dengan mereka, kursi-kursi mauidzhoh hasanah banyak diduduki oleh kelompok mereka. Brand mereka adalah Kembali ke jalan Allah, mari hijrah ke jalan yang luruh, bahasa-bahasa yang dipasarkan adalah bahasa yang menyentuh perasaan kaum pemuda, entah tentang cinta, kehidupan keluarga, dan semacamnya. Sehingga bagi yang galau bahasa mereka akan mudah diterima dan kemudian hari apapun yang disampaikan oleh ustadz itu akan tetap diterimanya mentah-mentah sekalipun itu mungkin salah.

Jihad, hijrah, kembali ke jalan Allah, mari kembali kepada al-qur’an dan sunnah dan seterusnya. Bagi mereka yang pandai tentau akan bertanya “sejak kapan saya lari dari Allah, sejak kapan saya meninggalkan al-Qur’an dan sunnah. Apakah kemudian hijrah hanya dimaknai dengan orang yang awalnya penuh maksiat, buka aurat ketika seketika taubat dan menutup sendi-sendi terhormat itu dimaknai dengan hijrah, apakah itu yang disebut dengan hijrah?

Lantas apakah dengan bunuh diri dengan dalih jihad kemudian dijamin masuk surga? apakah sikap yang demikian dibenarkan dalam islam? apakah yang dimaksud dengan jihad itu membunuh sesama islam? memerangi sesama keyakinan? mengolok-ngolok orang yang syahadatnya sama? kiblatnya sama? sholat duhurnya sama dan seterusnya? apakah itu yang disebut dengan jihad? oh, tentu tidak, terlalu hina makna jihad jika ditafsiri sedemikian rupa.

Kesalahan memaknai jihad, hijrah, kembali ke jalan Allah tidak lain diantaranya karena mereka terlalu tekstualis memahami ayat al-Qur’an dan hadits Nabi.

Perlu diketahui bahwa memperdebatkan suatu hukum yang sudah ijma' itu menyalahi aturan, tapi mencerca orang yang beda pandangan terkait hukum yang masih ikhtilaf itu bodoh yang tidak ketulungan. Kendatipun demikian sebisa mungkin mengetahui celah-celah perbedaan agar tidak mudah menyalahkan. Imam Al-Ghazali dawuh bahwa setiap ayat Al-Qur'an punya empat lapis makna: literal, esensial, had dan mathla'. Hati-hati, banyak yang bunuh diri berdalih jihad karena salah memahami ayat Al-Qur'an secara tekstual, lebih-lebih hanya modal terjemahan. Jangan-jangan mereka juga tidak tau apa itu mad thobii dan mas ashli.

Namun demikian kita tetap apresiasi pada mereka yang bertaubat dan menutup rapat-rapat sendi-sendi aurat, menjaga pergaulan dan tetap sopan dalam kata, bahasa, dan sikap.


Label: , , ,

Minggu, 22 Januari 2023

Hati yang tegar


Bulan Rojab menjadi bulan diantara sekian bulan yang istimewa. Malam tanggal satu Rojab disabdakan oleh Nabi sebagai malam yang mana doa-doa yang dipanjatkan pada malam tersebut akan diijabah atau tidak akan ditolak. Hal ini bisa dicek langsung dalam kitab kanzun najah wassurur.

Sebagai orang yang sedang diombang ambing dengan banyak pertanyaan yang belum juga terjawabkan, kondisi yang membuatnya tidak tenang, perasaan lelah dan ingin menyerah selalu hinggap dan mengganggunya. Ia sehari-hari jasmaninya tampak sehat, tapi jiwanya berada diambang batas kekacauan. Hatinya hancur, matanya selalu berkaca-kaca dalam sujud dan doanya, rasa kecewanya membuncah, sakit hatinya menyayat hingga akhirnya ia divonis sakit asam lambung oleh dokter.

Dalam kondisi itu, selalu ada kata yang terulang-ulang, yakni “tak mau kehilangan, tapi lelah berjuang”. Sekilah pepatah itu sama persis dengan sepenggal lirik lagu. Tapi memang itulah adanya yang dirasakan oleh pemuda itu.

Baginya, memperjuangkan dan bertahan dengan prinsip itu harus sabar dan sabar, terlebih jika mendapat dukungan dari orang sekitar. Tapi besarnya perjuangan dan kuatnya ingin bertahan mungkin bisa pudar ketika yang diperjuangkan tak kunjung mengerti dan sadar.

Sebagai orang yang sudah begitu dalam melibatkan hatinya dalam hubungan, tentu ia ingin menjadi orang yang selalu dianggap penting dalam hidupnya, ingin dispesialkan dalam hidupnya, ingin dirindukan dan dicintai olehnya, ingin selalu ditunggu dan dinanti kehadirannya oleh kekasihnya dan ingin selalu dijaga perasaannya dengan cara mencintainya balik dengan sepenuhnya tanpa dusta. Bukan menjadi orang yang selalu diabaikan, dikucilkan, tidak dianggap dan dilantarkan begitu saja kehadiran dan perjuangannya. Apakah kamu tau bahwa yang demikian itu perih dan sangat perih.

Baginya dengan kondisi tersebut adalah sakit itu ada, ingin menyerah itu ada, lelah itu ada, kecewa itu sangat ada, dan ingin pergipun juga ada. Ia selalu berusaha memposisikan peran hati lebih tinggi dari pada akal dan egonya. Tidak lain karena ia ingin bersikap tenang, damai, pelan-pelan dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan dalam hidupnya, bahkan dalam kondisi hati yang sakitnya luar biasa.

Ia berupaya tidak mengambil keputusan atas kendali ego dan keinginan sendiri serta bahagianya semata, karena menjadi bijaksana sudah tentu harus sabar dan berupaya melihat banyak kemungkinan baik dari pada keadaan yang menyakitkan sekilas saat itu juga.

Ia bertahan tidak lain karena ketulusan dalam cinta dan sayangnya pada kekasihnya, dengan besar harapan dan kepercayaannya serta hati nuraninya ia berkata dan yakin bahwa yang diperjuangkan cepat atau lambat akan sadar dan menghargai serta menerimanya dengan pasti dan hati penuh cinta.

Dibalik itu semua, banyak hati yang sebenarnya ia jaga, banyak harapan yang ia rawat, dan banyak orang yang tidak ingin ia buat sakit dan kecewa. Menurutnya, hati akan terbuka dengan seiring berjalannya waktu tatkala orang itu memang ikhlas dan ridho serta mau membuka lebar untuk orang itu saja.

Kondisi itu sangat berat ia jalani berhari-hari, ia hampir gila dengan pernyataan dan permintaan kekasihnya yang diluar dugaan dan nalar fikirannya. Ia terjatuh sakit, hilang semangat dan lepas kendali fokus dalam hal apapun kecuali hanya memikirkan kekasihnya dan dirinya.

Keadaan itu cukup menyakitkan, mengecewakan dan hampir saja membuatnya melepaskan kekasihnya. Akan tetapi ternyata kedua orang terbaik kekasihnya justru memberikan dukungan untuk bertahan dan bersabar dengan kondisi tersebut. Banyak nasehat dan pesan yang disampaikan kepadanya.

Mungkin karena begitu dalamnya cintanya, kondisi tersebut telah berhasil menjatuhkan air matanya sebanyak 3x, menangis sebanyak itu bukanlah air mata yang dusta, setetes air matanya amat sangat banyak makna, sarat maknanya jelas menunjukkan betapa dalam dan tulusnya perasaannya kepada kekasihnya.

Oleh banyak orang mungkin dia akan dikatakan bodoh, bahkan dijustifikasi sebagai orang yang sudah buta dengan cintanya dan hilang kendali pengetahuannya. Ia memang sangat malu pada orang tuanya dengan kondisi itu, juga sangat malu pada orang tua kekasihnya karena tidak berhasil membuat kekasihnya mencintai dirinya sepenuhnya.

Ia ingat dawuhnya Imam Al-Ghazali bahwa orang yang mencintai selain komitmen untuk tidak menyakiti kekasihnya juga harus siap untuk disakiti oleh kekasihnya, entah itu dengan kata-katanya atau mungkin dengan sikapnya. (Imam Al-Ghazali)

Hati sakitnya berkata bahwa untuk diterima oleh banyak kalangan, komunitas, organisasi dan individu seseorang, kamu harus siap dikucilkan, diabaikan, disakiti dan tidak diterima sepenuhnya. Karena memang begitu jalannya seseorang untuk diterima dihari kemudian. Jagalah hati dan fikiran agar tidak dengki dengan pengetahuannya dan tetap tenang serta lemah lembut dengan hatinya.

Kita hanya butuh hati yang tegar dan nurani yang selalu ingin menolong dan tidak ingin menyakiti siapapun. Sebaik-baik kendaraan adalah sabar, tetap berjalan di jalan iman dan Islam dengan terus menyusuri rentetan ibadah kewajiban.

Kamu tidak akan pernah tau besar dan tulusnya cinta dan kasih sayang seseorang ketika kamu tidak berusaha melihatnya dengan hati. Acuh, abai dan sikap tidak mau tau selalu memprovokasi keindahan sikap hati.

Ditengah lelahnya ia berjuang, ingin rasanya melepas harapan demi harapan yang dibangun, ia berkata bahwa sejak saat ini apapun yang terjadi terjadilah, karena masa depan tidak bisa kita lihat hari ini. Dalam sisi dan aspek apapun itu, sedikitpun kita tidak tau, yang kita mampu hanya berusaha hari ini untuk lebih baik lagi dihari esok.

Doa menjadi senjata, bersimpuh penuh harap dan menumpahkan semua keluh kesahnya pada Allah menjadi waktu yang sangat amat berharga. Doa-doa tidak ada yang tidak diijabah, hanya butuh waktu dan kesungguhan kita dalam melambungkan tinggi doa itu setiap waktu.

Jika api saja luluh pada tubuh nabi Ibrahim, lantas bagaimana dengan hati. Jika lautan saja luluh pada Nabi Musa, lantas bagaimana dengan hati, Jika besi saja luluh dan takluk pada Nabi Dawud, lantas bagaimana dengan hati. Karena itulah tetaplah berdoa, Allah maha segalanya.

Ia berkata, Di sini aku selalu menunggu senyum terbaikmu, semoga sikap acuh dan abai itu hilang ditelan bumi dan digantikan dengan sikap kasih, sayang dan cinta yang tulus untuk hubungan kita.  Pada malam satu Rojab ini doa dan harapanku semoga kita menjadi dua manusia yang saling mencintai, menyayangi dan dijadikan pasangan yang halal serta bisa membangun keluarga yang harmonis, sakinah, mawaddah wa rohmah dan diberikan putra-putri yang sholih dan sholihah.


Nona, aku selalu padamu, semoga sampai ajal menjemputku.


 


Label: , , ,

Rabu, 14 Desember 2022

Beda Demensia dengan Apatis


Bunga berguguran

Bungan berguguran tepat sebelum matahari menyingsingkan cahayanya, sinarnya memberikan kehangatan kepada rerumputan beserta pohon yang rimbun. Huru-hara bunyi mesin transportasi berkicauan, jalanan macet memaksakan kendaran lebih berhati-hati dan pelan serta sesekali berhenti.

Sesak dan sakit

Lima belas desember ini tampak beda, sesak dada masih berseri dan mengayunkan kakinya. Beda rasanya sesak karena asma dengan sesak karena kecewa. Beda juga atara sesak karena keceewa dan sesak karena tidak dipeduli oleh orang yang selalu dipeduli. Sesak nafas bisa sembuh dengan obat-obatan manjur, sekalipun mungkin dikemudian waktu ingat Kembali fenomenanya, tapi tidak dengan rasa sakitnya. Ini berbeda dengan sesak sebab keceewa dan semacamnya, ia cenderung lebih awet dan menyakitnya serta sulit untuk dilupakan. Hasilnya sudah tentu membuat sakit itu kambuh tatkala mengingat kembali.

Sakit yang demikian berdampak buruk pada Kesehatan serta membuat orang overthinking, tidak lain kondisi berikutnya hanya akan membuat kondisi semakin parah dan menyakitkan. Selalu bertanya-tanya, kenapa bisa begini, ada apa, karena apa dan seterusnya. Pertanyaan itu akan terus berdendang dalam telinga yang ditunggu-tunggu jawabannya oleh hati yang sedang sesak. Jawaban itu adalah obatnya, ya meskipun diagnose menyatakan tidak akan membuatnya sehat secara total dan berlangsubg lama. Karena tatkala ia mengingatnya aka nada ssesak-sesak berikutnya yang menyerang dan membuatnya sulit percaya pada apa dan siapa yang membuatnya kecewa.

Memang benar, berburuk sangka itu tidak akan pernah menyelesaikan persoalan, pun juga dengan menghilang dan pergi begitu saja. Persis dengan tidak peduli dan abai, dua hal ini justru berdampak pada sulitnya menyelesaikan masalah dan justru mendawamkan masalah.

Dalam hubungan, upayakanlah selalu melibatkan hati agar tidak selalu otak yang mengendalikan langkah kita. Hidup itu sebenarnya lebih banyak peran hati dari pada otak, dan yang demikian lebih dekat dengan kebijaksanaan dalam bersikap. Karena itulah hati-hati dalam bersikap pada orang lain. Karena ada hati yang mereka jaga dengan sekuat tenaga agar tidak terluka dan sakit yang berkelanjutan tatkala mengingat masa-masa yang pernah ia lalui.

Sakitnya hati yang mencekik itu nyata adanya dan fakta rasanya. Mungkin memaafkan akan terlihat mudah, tapi melupakan amat sangat tidak mudah. Sekalipun dengan memaafkan akan sedikit meredakan sakit, tapi dengan kembali ingat merupakan langkah yang amat sangat menyiksa.

Untuk kata maaf,

Untuk semua kata maaf yang kita sendiri tidak tau dimana letak kesalahankita, apakah kita harus mengemis? Apakah kita harus mengejar? Sedangkan pesan singkat kita tidak pernah  dibalas olehnya, kata maaf kita selalu dia abaikan. Dan bahkan sampai saat ini kita tidak pernah tau apa salah kita sehingga sikap dia sangat berbeda, jika orang yang tidak pernah kenal dibilang asing, ini justru lebih asing dari yang asing.

Hati yang terlukai tidak pantas ditertawakan,

Jangan pernah abai pada orang yang bersungguh-sungguh mencintaimu, peduli dan sayang kepadamu. Jangan pernah risih dengan sikap orang yang totalitas memperjuangkanmu. Karena yang demikian penghalang antara dia tetap bersungguh-sungguh dan undur diri hanya ada satu, jauhkan dia dari kata kecewa, hindarkan dia dari sikap tidak peduli, respon dia dengan sebisanya dan tentu menjaga komunikasi, menjaga komitmen harus tetap lebih utama dan dijaga.

Sakit tidak harus dihindari, tapi di kenali dengan baik sampai ia menjadi hambar dengan rasa sakit itu, sampai ia lupa dengan fenomena itu, dan sampai ia biasa dengan ingatan itu.

Jangan pernah gugur bungaku dari taman hati ini. Tetaplah segar dan harum semerbak menambahkan sari cinta kasih. Suburkan ladang cinta kasih hati ini, hari ini hingga ke surganya nanti. Bersamamu,


Label: , ,

Jumat, 14 Oktober 2022

Salah kritik dan kritik yang salah



Kehidupan yang dihadapkan dengan serba kemudahnnya turut serta memberikan banyak akses yang untuk semua manusia tanpa membeda-bedakan antara kaum, ras, suku dan umat manapun. Kemudahan akses ini seakan membuat belahn dunia hanya bertetangga dan berhadapan latar serta teras rumah saja.

Perkembangan prilaku sosial turut andil dalam pembentukan karakter masing-masing manusia individual, sehingga antara gaya bahasa, intonasi dan pengucapannya juga berbeda-beda. Hal semacam ini harus difahami betul oleh setiap manusia. Selain karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari genggaman kehidupan sosial yang bermacam-macam latar belakang.

Dengan semakin canggihnya teknologi, manusia kerap kali lupa pada batas-batasan pemakaiannya, seperti HP, Laptop dll. Disisi umat manusia juga dihadaptakan dengan kecanggihan media sosial yang membuat kehidupan manusia memiliki dua alam, alam nyata dna alam tidak nyata melalui media sosial tersebut.

Dengan menggunakan media sosial, manusia yang tidak punya keilmuan bertetangga yang baik dalam sosial non nyata akan dengan mudah mengekspresikan sikap dan prilakunya, pun juga dalam menyikapi konten-konten yang ada dalam media sosial tersebut. Sulitnya lagi ketika umat manusia tersebut tidak mempunyai bekal keilmuan yang baik, sehingga membuatnya dengan mudah mengkritisi, mencaci, menghujat dan mencerca orang lain lewat media sosial.

Kritik sosial seharusnya lebih mendahulukan keilmuan dan cara yang bijak, tentu dengan bahasa yang baik. Kritik yang mendahulukan ego dan emosional akan berdampak pada tidak tersampainya subtansi kritiknya. Kritik yang fokus pada subtansi pembahasan yang disertai dengan sikap yang baik akan mudah diterima dari pada kritik yang mendahulukan otot dan dengan intonasi yang meninggi, hal ini akan membuat lawan diskusi atau orang yang dikritisi tidak melihat subtansi kritiknya, tapi fokus pada sikapnya yang kurang baik dalam mengkritisi.

Dalam mengkritisi, yang baik adalah tatkala pengkritik memiliki kapasitas keilmuan pada bidang kajian yang dikritisi, sehingga subtansinya menyentuh dan imbang dalam kajiannya. Amat sangat tidak elok ketika mengkritisi tapi tidak mempunyai fan keilmuan dibidang yang dikritisi, hal yang demikian hanya akan membuat diskusi ata dabat kusir yang pada akhirnya menuju pada pribadinya, bukan esensi subtansi pembahasannya. (AdHominem)

Kritik akan mudah diterima jika yang mengkritik mempunyai keilmuan dibidangnya, dengan sikap yang baik dan santun, dan mendahulukan bahasa yang baik. Bahkan seharusnya kita tidak mengritisi orang lain sebelum kita pakar dibidang keilmuan yang hendak dikritisi.

Imam Al Zhahabi menyinggung terkait hal ini, yakni sebagai berikut:

الجَاهِلُ لا يَعلَمُ رُتْبَةَ نَفْسِه ، فَكَيْفَ يَعْرِفُ رُتْبَةَ غَيْرِهِ "

الإمام الذهبي

Orang bodoh tidak tahu level (kapasitas keilmuan) dirinya, maka bagaimana ia bisa memahami level orang lain (yang lebih pintar)? - Al Zhahabi -

Dari pendapatnya Imam Al Zhahabi di atas, dapat kita simpulkan bahwa seharusnya kita tidak mengkritisi suatu statmen atau keilmuan seseorang sebelum kita mahir dibidang tersebut, kita menguasai dan memang benar-benar keilmuan kita ada dibidang tersebut. Denga demikian tidak terkesan suul adab dan merendahkan diri sendiri. Karena megkritisi tanpa punya keilmuan pada bidang yang dikritisi itu sama halnya dengan merendahkan diri sendiri. Karena ketika diminta pendapatnya secara ilmiyah dan berdasar dia sudah pasti hanya akan diam dan ngotot tanpa menyuguhkan dalil-dalil yang mendukung terkait kritiknya. 

Jika dikatakan bahwa orang yang bermaksiat ialah hilang imannya seketika melakukan maksiat itu juga, maka orang yang mengkritisi keilmuan seseorang tapi dia tidak punya fan keilmuan atau ia tidak mengetahui sedikitpun ilmu terkait hal yang dikritisi, maka saat itulah ia dalam keadaan benar-benar bodoh dan mempertontonkan kebodohannya.

Dalam mengkritisi keilmuan atau sikap seseorang, hendaknya ia faham betul kaidah ilmu sosial, akhlak dan pengetahuan terkait yang dikritik. Jika tidak, maka dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

Salah kritik adalah ketika mengkriti orang yang lebih pintar dan dia tidak punya keilmuan terkait yang dikritik. Kritik yang salah ketika dia tidak mendahulukan akhlak dan pengetahuan dala, mengkritik, sehingga ia akan mengkritisi apapun yang ia anggap salah dan tidak sesuai dengan pemikirannya. tapi dia sendiri tidak punya keilmuan dibidangnya secara mendalam sehingga ia perpatokan pada kata POKOKNYA, INTINYA.Bukan berdasarkan menurut ini, berdasarkan keterangan dibuku ini, dikitab ini daN seterusnya. 

Lebih baik kita diam dari pada mengusik orang lain dengan kebodohan kita, lebih  baik kita diam dari pada kita merendahkan diri kita sendiri dengan kebodohan kita. dan lebih baik kita diam dari pada kita mengkritik orang lain, tapi justru kita mempertontonkan kebodohan kita. 

Dan yang lebih baik lagi adalah kita fokus belajar, belajar dan belajar. Tapi jangan lupa bekerja dan berbadah. Bagaimana bisa beribadah dengan baik jika tidak punya ilmu. Karena itulah kita diwajibkan untuk terus belajar untuk memperbaiki kehidupan kita dalam berbagai aspek secara komprehensif.


Label: , , , ,

Jumat, 23 September 2022

Relasi Cinta dan Rindu Perspektif Positivisme, Interpretivisme dan Agama Islam

 


Cinta merupakan susunan dari lima huruf yang disitu menghadirkan dua huruf vokal (hidup) dan tiga huruf konsonan (mati). Pengertian cinta terlampau banyak dan bervariasi, tentunya tergantung siapa yang berkata dan merasakan hadirnya cinta itu sendiri. Cinta sendiri melampaui ruang dan waktu, artinya kalaupun yang mencintai itu sudah tiada, benih-benih cinta itu tetap akan eksis dan bahkan menjadi pedoman bagi kalangan setelahnya untuk mengikuti cara dan ekspresi dalam memandu jalannya cinta.

Sejalan dengan uraian di atas, cinta itu tidak bisa kita cari, dan tidak bisa kita tolak. Karena memang cinta tidak pernah bisa disensor secara spesifik sejak kapan cinta itu bermuara dan kemudian mengalir dalam eksistensi kehidupan masing-masing individu yang terdiagnosa. Cinta merupakan anugerah dari Tuhan semesta alam, sehingga tatkala cinta itu hadir, maka yang perlu diperhatikan adalah kepada siapa cinta itu terpaut dan apa saja kemungkinan-kemungkinan yang terjadi setelah cinta itu hadir dan terus bermuara. 

المحبة هي العطاء، لا نستطيع أن نطلب وندفع

Cinta adalah pemberian (anugerah), kita tidak bisa mencarinya dan juga menolaknya.

Banyak macam ciri-ciri orang yang terdiagnosa gejala cinta, tergantung masing-masing individunya. Dari cinta inilah kemudian rasa rindu itu menggejolak, rasa ingin temu terus memuncak, dan keinginan untuk selalu bersama dalam bingkai bahasa yang indah ingin selalu terjadwalkan.

Memahami definisi cinta yang bervarian, tentu tidak mudah. Dikatakan bahwa tatkala orang yang jatuh cinta itu bisa dilihat ketika Sayyidina Abu bakar terkena gigitan ular, sedikitpun ia tidak bergerak karena dalam pangkuannya ada Rasulullah yang sedang tidur pulas. Dikatakan pula cinta ketika sudah mendarah daging akan mampu menghilangkan rasa sakit yang sangat amat sebagaimana rasa sakitnya anak panah ketika dicabut dari badan kita. Hal ini terjadi pada salah satu sahabat Rasulullah SAW.

Cinta menjadi variabel utama yang mempengaruhi dalam hadirnya rasa rindu, orang yang jatuh cinta atau sedang mencintai kepada siapapun itu sudah tentu akan merasakan rindu, rindu dan rindu. Bahkan ia akan berusaha dengan sebisanya atau semaksimal mungkin untuk bisa bertemu dengan yang dirindukan. Entah rindu pada sesama manusia ataupun rindu kepada yang maha segalanya. Hal ini menjadi perhatian ulamak terkemuka, yakni Syaikh Dr, Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi. Beliau berkata dalam kitabnya, fiqhus shiroh sebagai berikut:

قال الدكتور محمد سعيد رمضان البوطي: المحب يعمل ببذل المجهود شوقا إلى المحبوب

Orang yang mencintai, tatkala ia rindu maka akan berusaha keras (melakukan yang terbaik) untuk orang yang dicintai. 

Dikatakan juga bahwa cinta adalah ikatan yang sempurna, karena itulah kemudian akdun nikah menjadi awal mula untuk mengikat cinta menuju kesempurnaan cinta itu sendiri, Tidak ada masalah kalaupun sebelumnya belum pernah kenal kemudian menikah karena sama-sama tau kepribadiannya, meskipun sebelumnya belum kenal jauh dan menjadalam, hal ini menjadi pembantah bagi orang yang mengharuskan pacaran dulu untuk menikah dst. Pacaran diluar pernikahan tidak menentukan lama dan harmonisnya suatu hubungan pernikahan, karena itulah perlu dihindari hubungan ini diluar nikah.

المحبة هي رباط الكمال

Cinta itu ikatan yang sempurna

Dalam redaksi lainnya disebutkan bahwa cinta itu kumpulan yang bermacam-macam dari perasaan yang diterimanya. Artinya cinta itu tidak lapuk hanya karena kondisi-kondisi yang varian yang merongrong kekuatan cinta, semakin banyak problematika yang diterima dalam perjalanan hidup seharusnya semakin kuat rasa cintanya. Bukan justru menyerah dan minta usai, hehehe. Ada yang mengatakan bahwa pertengkaran menjadi bumbu penikmat dan penguat cinta dari dua orang yang berpasangan. Tentunya tergantung siapa yang terlibat langsung dan seperti apa kepribadiannya dalam menghadapi problematika yang ada.

الحب هو مجموعة متنوعة من المشاعر الإيجابيَّة

Cinta itu kumpulan yang bermacam-macam dari perasaan yang diterimanya.

Uniknya lagi menurut teman penulis, cinta itu sebagaimana orang yang dilarikan ke RSUD, kondisi yang mencintai sedang sakit. Ada kemungkinan cepat sembuh atau justru lama sembuhnya, ada juga kemungkinan ia tetap bertahan hidup atau justru menjadi akhir dari kehidupannya. Yang jelas ujian dalam membangun cinta yang baik itu selalu ada, peran kita bukan menyelesaikan cinta itu sendiri, tapi menyelesaikan problem yang ada untuk tetap mempertahankan eksistensi cinta yang tumbuh dan menjadi anugerah baginya. Ingat cinta itu anugerah, tidak bisa dicari dan ditolak. Tatkala kita menerimanya, jagalah dan rawatlah hingga ia benar-benar nyaman dan merasa aman dalam tatakelola dalam hidup kita dalam memperlakukannya.

Dalam lanjutan dawuhnya Syaikh Dr, Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, selain disebutkan bahwa dengan kehadiran cinta tersebut orang yang mencintai akan berusaha semaksimal mungkin untuk orang yang dicintai, dengan kehadiran rindu tersebut dapat membuat mudah perkara yang sulit dan membuat dekat orang-orang yang jauh. Sepenggal kata tersebut benar-benar mewakili ekspresi eksistensi orang yang merasakan kehadiran cinta yang kemudian menerbitkan rindu-rindu yang indah. Berikut narasi lanjutan redaksi dari dawuhnya Syaikh Dr, Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi

فيسهل عليه الصعب ويقرب عليه الأبعد

Perkara yang sulit menjadi mudah dan yang jauh menjadi dekat, ta’lilnya (alasannya) karena kehadiran rindu yang bermuara dari kehadiran cinta yang mulia tanpa unsur-unsur lain dan sikap yang nista.

Jadi usaha secara maksimal disini bukan dengan cara-cara yang keji dan hanya berporos pada hawa nafsu belaka, namun tetap dirawat dan dijaga serta diekspresikan dengan sikap dan akhlak yang santun dan mulia, bukan dengan cara yang nista. Hadirnya cinta tidak pernah meminta orang terlibat untuk bermaksiat dengan varina sikap nista dan keji ataupun tidak santun, itu justru nafsu yang berkedok cinta. Justru hadirnya cinta itu akan menghaluskan cinta, membaguskan bahasa, memperindah sikap dan tingkah dalam berinteraksi pada sesama.

Dikatakan bahwa “Rindu tidak bisa diciptakan oleh jarak, melainkan oleh perasaan, sebab orang yang rindu itu bukan karena yang dirindukan orangnya dalam posisi jauh, tetap karena dia selalu hadir dalam harimu”. Dalam hal ini penulis ingin menggaris bawahi bahwa merindukan memang tidak ada relasinya dengan jarak jika memang yang dirindukan selalu hadir dalam hatinya. Namun demikian jarak menjadi variabel pengaruh terhadap rasa rindu itu, terlebih ketika senggang waktu lama tidak ada temu dari keduanya. Jarak disini tidak diharuskan jauh, selagi ada sekat disitulah posisi jarak dan celah rindu untuk menyelinap dan tumbuh.

Jadi, yang benar itu cinta melahirkan rindu atau rindu melahirkan cinta? atau rindu muaranya dari cinta, atau bahkan cintabermuara dari adanya rasa rindu? Yang jelas cinta dan rindu selalu menjadi warna-warni indah dalam kehidupan yang singkat ini. Ini bukan pertanyaan yang sulit, masing-masing dari kita punya versi jawaban yang berbeda.

Dalam narasi lainnya disebutkan bahwa cinta itu merupakan keutamaan yang membuat hidup tenang, tentram dan rukun. Artinya kehadiran cinta benar-benar dapat melunakkan hati manusia dan membuat prilaku manusia itu lebih mudah untuk diarahkan. Sebagaimana ulamak-umalak tatkala berdakwah lebih mendahulukan sentuhan hati dari pada dengan cara yang membuat hati enggan menerima ajakannya. Karena itulah kemudian cara dakwah yang baik ialah dengan menggunakan sentuhan hati, tentu disertai dengan sikap yang santun dan mulia. Berdakwah yang baik ialah ketika pendak-i nya mempunyai kecerdasan sosial. Karena kecerdasan spiritual saja tidak cukup.

Masih dalam pembahasan sentuhan hati, penulis mau menawarkan satu pertanyaan, adakah ta’arruf ataupun apapun itu yang melibatkan orang ke dua atau orang lain dalam ranah kebaikan akan berhasil dan dengan mudah diterima jika disitu tidak dihadirkan unsur-unsur sentuhan hati.?

Mencintai tanpa hadirnya hati, tentu itu tidak mungkin. Karena ego menjadi salah satu faktor utama untuk melantakkan kehalusan hati. Berdiskusipun jika tidak disertai dengan nilai-nilai sikap hati, tentu yang bisa kita lihat hanya argumentasinya saja tanpa ada nilai yang hidden (tersembunyi). Terlebih jika dalam menyampaikan pendapatnya dengan sikap dan bahasa yang kurang baik. tentu yang diingat hanyalah sikapnya, bukan esensi dari argumentasinya. Kehalusan bahasa selain dengan intonasi yang baik juga dengan hati yang baik.  Karena bahasa itu merupakan representasi dari nilai, entah itu nilai dari cara dia berbicara ataupun pemberian nilai dari yang mendengarkan kritik dan argumentasinya. Karena itulah kemudian argumentasi atau kritikan yang tidak dengan tatakrama yang baik, maka yang diingat hanyalah sikapnya, bukan esensi argumentasinya dan subtansi kritikannya.

Dalam Ilmu psikologi disebutkan bahwa cara mendekati manusia itu diantaraya berdasarkan kecenderungan-kecenderungan, Dalam ilmu tasawuf pendekatan itu lebih mengena jika menggunakan pendekatan dengan hati, yakni dengan melihat pekerjaan hati yang sifatnya batiniyah, bagaimana cara mentarbiyah hati agar menjadi kolbun salim.

Orang yang mencintai tidak lepas dari dua sikap manusia dalam menafsiri, memaknai, dan menilai sekian hal dan perkara yang ada pada pribadi orang yang dicintai, entah itu berupa sikap, sifat dan kebiasaan serta lainnya yang sifatnya manusiawi. Dalam hal ini dalam ilmu filsafat disebut dengan positivisme dan interpretivisme. Dua aliran filsafat ini mempunyai pandangan yang bersinggungan meski keduanya berasal dari dua aliran filsafat juga, yakni filsafat aliran rasionalisme dan empirisme. Aliran rasionalisme dikembangkan oleh Socrates, plato dan descrates yang mana untuk menilai kebenaran menggunakan akal dan membutkikannnya dengan a-priori dengan standart kaidah koherensi, berbeda dengan aliran empirisme yang dikembangkan oleh Aristoteles yang menggunakan indera untuk menilai, a-posteriori untuk membuktikan kebenaran itu serta standart kaidah korespondensi.

Apriori ialah pengetahuan dianggap benar meskipun belum dibuktikan, aposteriori ialah pengetahuan dianggap benar ketika sudah dibuktikan. Sedangkan koherensi adalah pernyataan harus sesuai dengan fakta atau kenyataan, artinya bisa dianggap benar setelah dibuktikan.

Kedua aliran di atas kemudian oleh Immanuel khan digabungkan dengan sebutan aliran positivisme dan interpretivisme. Aliran positivisme berpendapat bahwa makna dan keindahan hanya ada pada yang tampak saja, beda halnya dengan pandangan aliran Interpretivisme yang berpendapat bahwa selalu ada makna dan keindahan dibalik yang tak tampak.

Menurut positivisme, tawa itu sudah tentu menunjukkan orangnya bahagia, setiap tangis menunjukkan orang itu sedih, setiap luka itu sudah tentu sakit. Positivisme tidak membuka kemungkinan lainnya dan sarat makna dibaliknya. Bedahalnya dengan pandangan Interpretivisme atau fenomenologi.

Interpretivisme atau fenomenologi justru tidak sebagaimana pandangan positivisme, menurut interpretivisme setiap tawa belum tentu menunjukkan orang itu bahagia, bisa jadi haru dan lainnya, pun juga setiap tangis tidak selalu menunjukkan orang itu sedih, bisa jadi karena bahagia, tidak lain dengan luka, bahwa tidak semua luka itu menunjukkan rasa sakit, bisa jadi justru sebaliknya serta tidak semua rindu itu memang benar karena adanya rasa rindu pada orangnya, bisa jadi rindu pada uangnya dst.

Yang jelas menurut fenomenologi, setiap tetesan air mata itu sangat berharga, tidak dengan pandangan positivisme, bahwa menangis ya hanya menangis. Entah hanya sebatas menangis atau lebih menangis lagi. Karena itulah kemudian bagaimanapun tangusannya menurut positivisme hanya menunjukkan satu nilai, yakni sedih.

Dalam hubungan simbiosis mutualisme atau relationship tidak lepas dari dua hal di atas. masing-masing individu bisa saja cara menilai pasangannya sebagaimana pandangan positivism, atau sebaliknya, yakni menganut cara pandang interpretivisme (fenomenologi). Bagi yang mengikuti cara pandang positivisme ia lebih pada yang tertangkap oleh mata dan akal, ia tidak berkenan dengan kemungkinan-kemungkinan lainnya yang ada dibalik apa yang ditangkap oleh akal dan mata. Padahal kebenaran tidak selalu yang tampak, bisa saja ada kebenaran dibalik yang tidak tampak. Misalnya jika ada dua orang bertengkar, anggap saya si cewek melakkan kesalahan tanpa disengaja, laki-laki yang tidak menggunakan interaksi dengan hati, maka ia hanya akan menilai apa yang dilihat saja tanpa melakukan pendekatan yang lebih dalam dengan menanyakan apa sebabnya kenapa bisa begini dan begitu, sehingga dengan pendekatan ini bisa muncul kebenaran yang lainnya yang bahkan bisa jadi lebih benar dari yang sebenarnya (interpretivisme).

Interpretivisme selalu menghundari justifikasi atau pemberian label hanya dengan menilai apa yang dilihat oleh mata saja, ia berupaya melampaui apa yang dilihat sehingga mencari kemungkinan kebenaran lainnya, makna lain dibalik yang tampak, keindahn lain yang dilihat oleh mata. Karena dibalik yang tampak, dibalik yang kasat mata itu ada nilai-nilai dan kebenaran lainnya, kemungkinan kemungkinan lainnya. Disinilah dibutuhkan diskusi mendalam, sapa timbal balik dan pendekatan yang baik lagi, artinya tidak mudah menyalahkan dan menilai hanya dengan sekilas pandang dan penglihatan kita.

Jika cewek-cewek menginginkan calon pasangannya yang penyabar, tidak mudah marah dan selalu membuka lebar diskusi dan masukan dari istrinya, selalu melihat kemungkinan-kemungkinan kebaikan lain selain yang dilihatnya, tentu laki-laki itu ada pada ranah interpretivisme. Kendatipun demikian bukan berarti laki-laki yang positivisme itu pemarah, tidak penyabar, selalu menilai dari apa yang dilihat begitu saja. Intinya untuk mencari dan menentukan kriteria pasangan, lebih aman jika menggunakan indikator-indikator yang sudah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, yakni wanita dinikahi dikarenakan 4 perkara, karena hartanya, nasabnya, kecantikan dan agamanya. Dalam hal ini justru Rasulullah merekomendasikan indicator yang utama dan pertama dalam mencari padangannya hendaknya karena baik agamanya. Ini berlaku untuk kaum wanita tatkala mencari calon pasangan halal. Meskipun pada akhirnya nanti ada indicator lainnya yang diinginkan, misal akhlaknya baik, tanggung jawab, tampan dll. Sebenarnya baik, sabar, tanggung jawab dan seterusnya itu menjadi sub indikator dari baiknya agama seseorang.

Pada dasarnya dikatakan baik agamanya jika orangnya menar-benar merepresentasikan ajaran dalam agama Islam, meskipun tidak secara komprehensif. Karena memang untuk menjadi manusia yang sempurna itu rasanya amat sulit. Namun demikian setidaknya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dalam membangun mahligai rumah tangga yang harmonis sudah mencukupi. Tentunya para pembaca lebih tau apa yang diinginkan dari pasangannya sehinggi setiap individu punya indikator masing-masing.

Dari premis-premis di atas, penulis mempunyai tesis dan argumentasi sebagai kesimpulan bahwa antara cinta dan rindu relasinya (kaitannya) amat sangat erat dan saling terikat. Tanpa cinta sangat sulit melahirkan rasa rindu, tanpa rindu juga terasa hambar cinta yang kita Kelola an kita rasa. Perlu diketahui bahwa cinta tidak selalu tentang kaitannya antara dua orang (suami istri), tapi bisa jadi cinta kepada keluarga, saudara, sesama manusia, dan tentu yang amat sangat penting ialah cinta kepada Allah SWT.

Hidup akan lebih terarah ketika masing-masing dari kita punya kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual dan kecerdalam dalam membina hubungan. Karena uang bukan indikator utama untuk kehidupan yang bahagia, meskipun untuk mendapatkan segalanya yang ada di dunia ini bisa dilakukan dengan uang.

Sekian tulisan ini penulis susun, jangan lupa menjaga cinta dan rindu kita dari orang-orang yang tidak layak kita cinta dan kita rindu. Tidak ada dikotomi (pemisah) antara cinta dan rindu, keduanya adalah satu kesatuan dan tidak ada sekat untuk menghalangi keduanya, sebagaiman eksistensi cinta yang tidak kenal ruang dan waktu. 

Sekian, Terimakasih...


Label: , , , ,

Selasa, 20 September 2022

Tiga Amalan Rebo Wekasan

 


AMALAN REBO WEKASAN

Bulan Shoffar adalah bulan yang mulia, bulan yang sama dengan bulan-bulan yang lainnya. Bukan bulan bala’ ataupun bulan yang penuh dengan musibah dan bencana. 

Namun demikian menurut sebagian ulama ahli ma'rifat dari golongan ahli mukasyafah dalam kitab “ Kanzun Najah Wassurur ”, karya Syaikh Abdul Hamid Al Qudsy, menerangkan bahwa: Setiap tahun Allah Swt menurunkan bala’ ke dunia sebanyak 320.000 macam bala’ (berupa fitnah, musibah dan bencana), dalam satu tahun. Tepatnya bala’ itu turun pada malam Rabu terakhir di bulan Shoffar atau yang terkenal dengan sebutan “ Malam Rebo Wekasan ”, dalam satu tahun ke depan.

Terdapat tiga amalan pada Rabu Terakhir di Bulan Shoffar ini (Rebo Wekasan) sebagaimana keterangan ini: 

1. , Pertama ialah melaksanakan Sholat Sunnah Hajat, harapannya adalah untuk menolak 320.000 macam musibah dan bencana (Sholat Sunnah Hajjat Lidaf’il Bala’).  Sholat sunnah ini dilaksanakan sejumlah empat roka’at, dengan dua kali salam, berikut niatnya: 

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ لِدَفْعِ الْبَلَاءِ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

Kemudian setelah membaca Al-Fatihah, lalu membaca Surat Al-Kautsar sebanyak 17x, Surat Al-Ikhlash 5x, Surat Al-Falaq 1x dan Surat An-Naas 1x. 

Hal ini dilakukan pada tiap roka'at. Artinya tiap rokaat musholli (orang yang sholat) membaca semua surat tersebut.

Setelah selesai sholat empat rokaat dengan dua kali salam, kemudian dilanjutkan membaca Do’a berikut ini : 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اللّٰهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنَا مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللّٰهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ اِكْفِنَا شَرَّ هٰذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيْ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ هٰذَا الزَّمَانِ وَأَهْلِهِ، وَنَعُوْذُ بِجَلَالِكَ وَجَلَالِ وَجْهِكَ وَكَمَالِ جَلَالِ قُدْسِكَ أَنْ تُجِيْرَنَا وَوَالِدِيْنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَهْلَنَا وَأَحْبَابَنَا، وَمَا تُحِيْطُهُ شَفَقَةُ قُلُوْبِنَا مِنْ شَرِّ هٰذِهِ السَّنَةِ، وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ فِيْهَا، وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ شَهْرِ صَفَرَ يَا كَرِيْمَ النَّظَرِ، وَاخْتِمْ لَنَا فِيْ هٰذَا الشَّهْرِ وَالدَّهْرِ بِالسَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ وَالسَّعَادَةِ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَأَوْلَادِنَا وَأَهْلِنَا وَمَا تُحِيْطُهُ شَفَقَةُ قُلُوْبِنَا وَجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ، النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ، اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هٰذَا الشَّهْرِ، وَمِنْ كُلِّ شِدَّةٍ وَبَلَاءٍ وَبَلِيَّةٍ قَدَّرْتَهَا فِيْهِ يَا دَهْرُ، يَا مَالِكَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، يَا عَالِمًا بِمَا كَانَ وَمَا يَكُوْنُ، وَمَنْ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ، يَا أَزَلِيُّ يَا أَبَدِيُّ، يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيْدُ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا ذَا الْعَرْشِ الْمَجِيْدِ، أَنْتَ تَفْعَلُ مَا تُرِيْدُ، اللهم احْرُسْ بِعَيْنِكَ أَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَدِيْنَنَا وَدُنْيَانَا الَّتِيْ ابْتَلَيْتَنَا بِصُحْبَتِهَا بِحُرْمَةِ الْأَبْرَارِ وَالْأَخْيَارِ، بِرَحْمَتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ، يَا كَرِيْمُ يَا سَتَّارُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى، وَبِكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ، وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَحْفَظَنَا وَأَنْ تُعَافِيَنَا مِنْ بَلَائِكَ، يَا دَافِعَ الْبَلَايَا، يَا مُفَرِّجَ الْهَمِّ وَيَا كَاشِفَ الْغَمِّ، اِكْشِفْ عَنَّا مَا كُتِبَ عَلَيْنَا فِيْ هٰذِهِ السَّنَةِ مِنْ هَمٍّ أَوْ غَمٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا.


2. Amala yang kedua adalah membaca Surat Yasin sebanyak 3x, setiap sampai pada ayat “Salamun Qoulan Min Robbil Rohim ”, maka ayat tersebut dibaca sebanyak 313 x, lalu dilanjutkan ayat setelahnya sampai selesai. setelah itu dilanjutkan membaca Do'a berikut:

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَاْلآفَاتِ وَتَقْضِـيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَـى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِيْ الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اللهم اصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الْأَرْضِ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

3. Meminum Air Salamun

Adapun Air Salamun disini adalah air yang dimasuki ayat salamah untuk diminum dengan harapan agar terhindar dari bala’ yang akan turun dalam masa setahun, harapan di sini tetap ditujukan kepada Allah. Ayat-ayat tersebut ditiupkan ke air dalam gelas / botol dan diminum dengan niat TABARRUK (mengharapkan keberkahan) dan hati tetap meminta kepada Allah Swt.

Disebutkan dalam kitab Nihayatuz Zain karya Syaikh Nawawi Al Jawi Al Bantani, pada catatan kaki bab Qunut Nazilah hal 67.  yang kitab ini merupakan syarah atau penjelasan dari kitab matan Fiqih Qurrotul ‘Ain cetakan Alawiyah Semarang, bahwa barang siapa yang menulis ayat salamah tujuh yaitu tujuh ayat Al Qur’an yang diawali dengan lafadz Salaamun :

سَلاَمٌ قَوْلاً مِنْ رَبٍّ رَحِيْمٍ، سَلاَمٌ عَلَى نُوْحٍ فِي الْعَالَمِيْنَ، سَلاَمٌ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، سَلاَمٌ عَلَى مُوْسَى وَهَارُوْنَ، سَلاَمٌ عَلَى إِلْيَاسِيْنَ، سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خَالِدِيْنَ، سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Kemudian tulisan tersebut dilebur atau bisa direndam dengan air, maka barang siapa yang meminum air tersebut Allah Swt akan selamatkan dari bala’ yang akan diturunkan.

Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah dan selalu diselamatkan dari segala mara bahaya, bala', fitnah dan segala keburukan oleh Allah SWT. Aamiin...


Label: , , , , ,

Kamis, 15 September 2022

Relasi Pendidikan dan Ekonomi


Seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan terus melakukan ambil sikap. Tidak sedikit jumlah siswa atau pelajar hingga tingkat mahasiswa yang terpanggil untuk terus sekolah dan melanjutkan kuliahnya ke jenjang tertinggi. Terlepas dari apapun tujuan awalnya mereka belajar, untuk apa mereka kuliah dan apa cita-cita mereka. Yang jelas, semuanya adalah sikap yang mulia ketika tetap mau belajar dan terus belajar.

Namun demikian, tetap saja banyak orang yang berfikiran sempit dan menceloteh mereka yang memilih lintas pendidikan dari pada bekerja sejak dini dan enggan belajar. Bagi mereka bekerja bisa kapan saja dan dengan profesi apaun itu yang penting tidak menyalahi kaidah kerja yang benar dan menghasilkan uang yang halal. Berbeda halnya bagi mereka yang memilih kerja sejak usia kecil dan enggan belajar dengan dalih ijazah tidak menjamin kekayaan dan pendapatan harta yang fantastis. Cara berfikir yang demikian sebenarnya salah dan tidak dapat terus diabaykan begitu saja, harus ada stimulus dan sikap yang dapat memberikan merekapemahaman agar orang yang belajar tidak selalu dianggap memilih jalan yang kurang tepat dengan alasan mereka sebagai berikut:

1. Ijazah tidak menjamin harta kekayaan

2. Ijazah tidak menjamin pendapatan harta yang fantastis tiap bulan

3. Lebih baik bekerja sejak kecil dan tidak perlu sekolah karena dua alasan di atas

Pada dasarnya antara pendidikan dan ekonomi itu sangat erat kaitannya, ini tidak lagi soal konsep kebarat-baratan tapi dalam islam sudah disampaikan sejak dahulu. Bagaimanapun konsep yang dibangun oleh mereka, tetap saja mereka enggan memasukkan peran agama dalam masalah ekonomi. Hal ini berbeda dengan konsep dalam islam yang selalu menghadirkan peran agama dalam konsep ekonomi. 

Islam selalu menyikapi perkembangan ekonomi, meskipun ada saja opini liar yang mengatakan bahwa agama tidak dapat menggerakan kehidupan ekonomi, lebih-lebih ekonomi kapitalis. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa agama dan ekonomi merupakan dua ranah berbeda yang memiliki titik tekan dan tujuan yang berbeda pula.

Dalam Islam selalu ada kajian terkait keduanya, seperti kajian tentang Agama dan Pendidikan: analisis relasi dan implikasinya dalam upaya pengembangan ekonomi, pengembangan ekonomi berbasis syariah di era digital, fiqh (islamic jurisprudence) dan perubahan ekonomi (economics exchange) antara idealitas dan ralitas, konsep islam tentang kepemilikan (islamic concept of ownership) dan implikasi ekonominya (its economic implications), instrumen ekonomi islam untuk kesejahteraan sosial: eksplorasi potensi zakat, infak, sadaqah dan wakaf uang, teori dan perilaku konsumsi dalam perspektif islam: memotret realitas sosial masyarakat era modern.

Dalam Islam apapun yang terkait dengan ekonomi selalu menghadirkan telaah dan konsep agama,baik mulai dari cara kerjanya dan panduan mentasorrufkan harta yang didapatkannya. Kehadiran agama dalam ekonomi bukan untuk mempersempit cara mendapatkan uang, cara kerja dan mengelola keuangan. Justru untuk kebaikan Bersama karena dalam islam selalu mendahulukan kemaslahatan umatnya.

Paparan di atas setidaknya sedikit memberikan bantahan terhadap statemen atau pandangan orangf barat yang mengatakan bahwa Islam menghambat kemajuan. Beberapa kalangan mencurigai Islam sebagai faktor penghambat pembangunan (anobstacle to economic growth). Kendatipun pandangan ini berasal dari pemikir barat namun tidak sedikit dari kalangan pemikir muslim yang mengamininya (Mohammad Thoyyib Madani, Agama Dan Pendidikan: Analisis Relasi Dan Implikasinya Dalam Upaya Pengembangan Ekonomi, Desember 2021).

Persepsi di atas jelas sangat tidak sesuai dengan realitas yang actual dan factual. Persepsi yang salah seperti ini setidaknya disebabkan adanya kesalah pahaman terhadap Islam itu sendiri. Sehingga seakan-akan menjustifikasi bawa Islam merupakan agama yang hanya berkaitan dengan masalah ritual saja, bukan hadir sebagai suatu sistem yang komprehensip dalam cakupan aspek kehidupan umat manusia, baik terkait ritual ataupun kewajiban, sosial dan juga ekonomi yang menjadi motor penggerak roda perekonomian seluruh umat semesta alam.

Menurut Sjafruddin, dalam kehidupan ekonomi perilaku individu itu tidak lepas dari dua motif didorong, yaitu motif ekonomi dan motif agama. Motif ekonomi sendiri tidak lepas dari dorongan adanya rasa takut terhadap kekurangan dan kemelaratan hidup(miskin) sehingga membuat manusia selalu berupaya mengumpulkan harta sebanyak mungkin. Perasaan takut yang demikian dapat menjadikan gaya hidup manusia menjadi makhluk serakah dan berambisi besar tanpa memperhatikan panduan dalam kaidah dalam agama.

Sebaliknya agama menurut Sjafruddin justru mengajarkan manusia untuk senantiasa menjauhkan diri dari perasaan takut. karena memang yang wajib ditakuti hanyalah Allah SWT. 

Kendati demikian bukan berarti dalam Islam tidak menganjurkan umatnya untuk bekerja keras dalam mencari nafkan dan menjadi orang yang kaya raya. Islam tetap menginstruksikan umatnya untuk semangta bekerja, bekerja keras dan bekerja cerdas untuk menghasilkan uang yang banyak dan tentunya halal dengan kaidah-kaidah agama islam yang hadir di dalamnya. Allah berfirman dalam Surat al-Jum’ah ayat 9-10 sebagai berikut:

  يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ، فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah, ayat 9-10)

Dari penggalan di atas terdapat instruksi bahwa setelah usai mengerjakan sholat jum’at hendaknya berpencar untuk mencari karunia Allah, tentu diantara interpretasi dari penggalan ayat ini adalah untuk mencari nafkah. karena nafkah bagian dari karunia dari Allah.

Syekh Abu Manshur al-Maturidi mengatakan:   

وقوله - عز وجل -: (فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون (10) أي: رحمة الله؛ هذا خرج في الظاهر مخرج الأمر، ولكنه في حكم الإباحة عندنا؛ لأن هذا أمر خرج على أثر الحظر،    

Artinya, “Firman Allah “apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”, maksudnya beruntung mendapat rahmat Allah. Ayat ini secara lahir dibentuk dalam kata perintah, namun berada dalam hukum ibahah (memperbolehkan) menurut pendapat kami (Ahlussunnah wal Jamaah), sebab ini adalah perintah yang disebutkan setelah larangan.”

Ayat di atas setelah memerintahkan untuk sholat jumat kemudian menganjurkan atau membolehkan umatnya untuk berpencar Kembali agar menjari karunia Allah. Manusia sendiri sejatinya adalah homo economicus, meskipun juga harus disandingkan dengan pandangan yang menyatakan bahwa manusia itu adalah makhluk homo religious. Sehingga mereka akan selalu memanfaatkan alam kebendaannya ini dengan cara yang sebaik-baiknya, yang pada gilirannya adalah untuk mendatangkan kemaslahatan.

Allah swt. Berfirman dalam hadist qudsi

يا دنيا اخدمي من خدمني واستخدمي من خد مك

Artinya, “Wahai dunia, berkhitmadlah kamu kepada orang yang telah berkhitmad kepada-Ku, dan perbudaklah orang yang mengabdi kepada-mu”. 

dari paparan di atas menjelaskan bahwa agama sangat erat kaitannya dengan ekonomi, agama Islam sendiri memerintahkan agar umatnya selalu belajar dan menuntut ilmu sepanjang masa. Sehingga dnegan pengetahuannyalah kemudian ia selain bisa mempunyai keilmuan untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat islam juga kaidah-kaidah hidup bersosial yang kaitannya erat dengan ekonomi. 

Bagaimanapun merea memisahkan relasi antara ilmu dan ekonomi, tetap saja sampai kap[anpun dalih mereka tidak dapat memutus relasi keduanya. karena memang keduanya sangat erat kaitannya dalam kehidupan manusia. Allah memerintahkan umat manusia selain untuk belajar juga diperintahkan untuk mencari nafkah sehingga dapat bertahan hidup dengan baik. 

Jika ada yang mengatakan bahwa ijazah tidak ada kaitannya dengan cara mendapatkan harta, tentu bisa dibenarkan. Namun dengan mempunyai keilmuan akan menyadarkan kita bahwa dengan kita kaya bukan berarti harus lupa pada siapa yang maha pemberi dan siapa yang harus selalu disembah dan diesakan. Kendatipun mencari ilmu bukan semata-mata untuk mendapatkan harta yang banyak dst. belajarhanyalah untuk melajar, mencari ridho Allah dengan mempelajari ilmunya dan berupaya mentas dari kebodohan-kebodohan yang selalu menghantui umat manusia. 

Islam sendiri mempunyai konsep dan pandangan yang jelas mengenai perihal harta dan kegiatan ekonomi. Pandangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: Pertama: pemilik mutlak terhadap segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini, termasuk harta benda, adalah Allah SWT. Kepemilikan oleh manusia hanya bersifat relatif, sebatas untuk melaksanakan amanah mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuan-Nya. Kedua; status harta yang dimiliki manusia adalah harta sebagai amanah, sebagai perhiasan hidup yang memungkinkan manusia bisa menikmatinya dengan baik dan tidak berlebihan, sebagai ujian keimanan, sebagai bekal ibadah, yakni untuk melaksanakan muamalah di antara sesam manusia, melalui kegiatan zakat, infak dan sedekah, Ketiga: Pemilikan harta dapat dilakukan antara lain melalui usaha yang halal dan sesuai dengan aturan-Nya. Keempat: dilarang mencari harta, berusaha, atau bekerja yang dapat melupakan kematian, melupakan dzikrullah, melupakan shalat dan zakat, dan memusatkan kekayaan hanya pada sekelompok orang kaya saja. Kelima: dilarang menempuh usaha yang haram, seperti melalui kegiatan riba, perjudian, berjual beli dengan barang yang dilarang atau haram, mencuri, merampok, peggasaban, curang dalam takaran dan timbangan, melalui cara-cara yang batil dan merugikan, dan melalui suap menyuap (Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik (Jakarta: Gema Insani Press, 2001).





Label: , , , , , ,