Minggu, 22 Maret 2026

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal: Keutamaan, Makna Spiritual, dan Indikasi Diterimanya Amal Ramadan

 

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal: Keutamaan, Makna Spiritual, dan Indikasi Diterimanya Amal Ramadan

Puasa enam hari di bulan Syawal menjadi salah satu amalan sunnah yang banyak dikerjakan umat Islam setelah Ramadan. Amalan ini diyakini memiliki keutamaan besar, yakni pahala yang setara dengan puasa selama satu tahun penuh. Selain itu, puasa Syawal juga dipandang sebagai bentuk penyempurna ibadah Ramadan serta menjadi salah satu tanda diterimanya amal selama bulan suci. Praktik ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis, dan terus menjadi tradisi yang hidup di tengah masyarakat Muslim di berbagai wilayah.

Puasa Syawal dilaksanakan selama enam hari di bulan Syawal, bulan yang datang setelah Ramadan dalam kalender Hijriah. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara berturut-turut setelah Hari Raya Idulfitri atau secara terpisah selama bulan Syawal, sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Para ulama sepakat bahwa amalan ini bersifat sunnah, namun memiliki nilai keutamaan yang sangat tinggi.

Dasar utama anjuran puasa Syawal berasal dari hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa siapa yang berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun. Para ulama menjelaskan bahwa perhitungan tersebut merujuk pada konsep pahala berlipat dalam Islam, di mana satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Dengan demikian, puasa Ramadan selama 30 hari setara dengan 300 hari, dan tambahan enam hari di Syawal menyempurnakan menjadi 360 hari, mendekati jumlah hari dalam satu tahun.

Puasa Syawal tidak hanya bernilai kuantitatif dalam hal pahala, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Ibadah ini menjadi indikator konsistensi seorang Muslim dalam beribadah setelah Ramadan berakhir. Ramadan sering disebut sebagai “madrasah spiritual” yang melatih kesabaran, pengendalian diri, serta meningkatkan kualitas ibadah. Puasa Syawal kemudian menjadi bentuk kelanjutan dari proses pembinaan tersebut.

Selain itu, puasa enam hari di bulan Syawal juga dipahami sebagai penyempurna ibadah Ramadan. Selama Ramadan, tidak sedikit umat Islam yang mungkin mengalami kekurangan dalam ibadahnya, baik dari segi kekhusyukan, konsistensi, maupun kualitas amal. Puasa Syawal hadir sebagai kesempatan untuk menutupi kekurangan tersebut, sebagaimana konsep ibadah sunnah yang melengkapi ibadah wajib dalam ajaran Islam.

Hubungan antara puasa Ramadan dan puasa Syawal serupa dengan salat wajib dan salat sunnah. “Dalam banyak ajaran Islam, ibadah sunnah berfungsi sebagai pelengkap dari ibadah wajib. Puasa Syawal dapat dipandang sebagai bentuk penyempurnaan terhadap kemungkinan kekurangan selama Ramadan,” ujarnya.

Lebih jauh, puasa Syawal juga sering dikaitkan dengan tanda diterimanya amal Ramadan. Dalam tradisi keilmuan Islam, salah satu indikator diterimanya amal adalah adanya keberlanjutan dalam kebaikan setelah ibadah utama selesai. Artinya, seseorang yang tetap menjaga semangat ibadah pasca-Ramadan menunjukkan bahwa nilai-nilai yang diperoleh selama bulan suci benar-benar terinternalisasi.

Konsistensi ritual ibadah di atas menjadi kunci dalam kehidupan spiritual seorang Muslim. “Jika seseorang setelah Ramadan justru kembali pada kebiasaan lama yang kurang baik, maka itu menjadi bahan refleksi. Sebaliknya, jika ia melanjutkan dengan ibadah seperti puasa Syawal, itu menjadi pertanda positif bahwa Ramadan memberikan dampak nyata,” katanya.

Di sisi lain, pelaksanaan puasa Syawal juga memiliki dimensi sosial. Setelah merayakan Idulfitri yang identik dengan kebersamaan dan silaturahmi, puasa Syawal mengajak umat Islam untuk kembali pada pengendalian diri dan kesederhanaan. Hal ini menciptakan keseimbangan antara aspek sosial dan spiritual dalam kehidupan beragama.

Namun demikian, terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan puasa Syawal. Salah satunya adalah prioritas bagi mereka yang memiliki utang puasa Ramadan. Sebagian ulama berpendapat bahwa puasa wajib harus didahulukan sebelum menjalankan puasa sunnah, termasuk puasa Syawal. Meski demikian, terdapat pula pandangan yang memberikan kelonggaran selama masih dalam bulan Syawal.

Perbedaan pendapat ini merupakan hal yang wajar dalam khazanah keilmuan Islam. “Yang terpenting adalah memahami dasar hukumnya dan menyesuaikan dengan kondisi masing-masing, serta tetap menjaga niat ibadah,” ujarnya.

Selain itu, niat juga menjadi aspek penting dalam pelaksanaan puasa Syawal. Seperti halnya ibadah lainnya, puasa ini harus dilandasi dengan niat yang tulus karena Allah SWT. Niat tersebut dapat dilakukan pada malam hari sebelum berpuasa, sebagaimana praktik umum dalam ibadah puasa sunnah.

Dalam konteks masyarakat modern, puasa Syawal juga menghadapi tantangan tersendiri. Aktivitas pekerjaan, rutinitas harian, serta perubahan pola hidup setelah Ramadan seringkali menjadi alasan bagi sebagian orang untuk tidak melaksanakan puasa ini. Meski demikian, banyak pula yang berusaha menyiasati dengan memilih hari-hari tertentu yang lebih memungkinkan untuk berpuasa.

Seorang pekerja di sektor swasta mengungkapkan pengalamannya dalam menjalankan puasa Syawal. “Biasanya saya tidak langsung enam hari berturut-turut. Saya pilih hari Senin dan Kamis di bulan Syawal, jadi lebih ringan dan tetap bisa menjalankan aktivitas,” katanya.

Pendekatan fleksibel ini menunjukkan bahwa puasa Syawal dapat disesuaikan dengan kondisi individu tanpa mengurangi nilai ibadahnya. Hal ini juga sejalan dengan prinsip kemudahan dalam Islam yang tidak memberatkan umatnya.

Di tengah perkembangan zaman, pemahaman terhadap puasa Syawal juga semakin meluas melalui berbagai media, termasuk ceramah daring, artikel keagamaan, dan diskusi komunitas. Hal ini membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya amalan sunnah sebagai bagian dari kehidupan beragama yang utuh.

Secara keseluruhan, puasa enam hari di bulan Syawal bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan memiliki makna yang komprehensif. Ia mencerminkan kesinambungan ibadah, penyempurnaan amal, serta indikator spiritual yang penting bagi seorang Muslim. Dengan berbagai keutamaan yang dimilikinya, puasa Syawal menjadi salah satu amalan yang dianjurkan untuk terus dilestarikan dalam kehidupan umat Islam.

“Puasa Syawal adalah bentuk kesinambungan dari pendidikan spiritual Ramadan. Ia menunjukkan apakah nilai-nilai Ramadan benar-benar tertanam dalam diri seseorang,”

“Melanjutkan ibadah setelah Ramadan, seperti puasa Syawal, menjadi salah satu tanda bahwa amal sebelumnya diterima dan berdampak,”

“Perbedaan pendapat soal teknis pelaksanaan adalah hal biasa. Yang utama adalah menjaga niat dan memahami esensi ibadah tersebut,”


 


Label: , , , ,

Sabtu, 13 Agustus 2022

Manajemen Pendidikan Agama Pada Suami Istri

 


A. Pendahuluan 

Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari tiga hal, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keberhasilan pendidikan dalam suatu Negara atau daerah tergantung kepada tiga faktor tersebut. Ketiganya mesti bersinergi dalam mengelola dan mengembangkan pendidikan. Dan setiap faktor tersebut mempunyai fungsi dan peranan yang sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Tetapi dalam makalah ini tidak akan dibahas ketiga faktor itu, namun yang akan dibahas hanya terfokus pada salah satu faktor dari ketiga faktor tersebut, yaitu keluarga.

Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama. Sebagai pendidikan yang pertama, pendidikan dalam keluarga menempati urutan paling awal dalam perjalanan proses pendidikan yang dialami seseorang. Pendidikan dalam keluarga mendahului semua jenis pendidikan yang diterima dan dialami semua orang. Pendidikan dalam keluarga mampu mendasari dan mewarnai corak kepribadian seseorang dalam seluruh perjalanan hidupnya. Pengalaman-pengalaman yang diserap masa kecilnya sangat berpengaruh pada perilaku individual dan perilaku sosialnya dalam pergaulan hidup ditengah masyarakat. Apalagi masa kecil merupakan masa emas bagi penanaman, pembentukan, dan pengembangan intelektual, perilaku, kebiasaan, dan karakter seseorang.

Manusia adalah pelaksana dari pendidikan. Dalam al-Quran, manusia sebagai makhluk Allah yang mempunyai dua tugas utama yaitu sebagai Khalifah fi al-Ardh dan sebagai hamba (‘abid) yang diperintahkan untuk melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya dengan bekal dasar yaitu penglihatan, pendengaran, potensi akal (af-idah) dan dengan ketiga indera tersebut merupakan sarana dasar manusia dalam menerima pendidikan. walaupun pada awalnya manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apapun.

Pendidikan dalam Islam bukan sarana mencari materi saja. Russell menbedakan ujuan pendidkan: pribadi uuh atau warga yang baik, meskipun pribadi utuh menjamin warga Negara yang baik.

Dimensi pendidikan Islam dapat dilihat dari makna yang terkandung dalam istilah tarbiyah yang berarti pengasuhan, pendidikan, ta’lim pengajaran ‘ilm, atau ta’dib yang berarti penanaman ilmu dan adab. Masalahnya kini umat Islam cenderung mamahami pendidikan sekolah hanya sebatas makna ta’lim pengajaran (pengajaran ilmu). Sedangkan tarbiyah (pendidikan) dilakukan diluar sekolah. Sepertinya ta’lim dipahami sebagai pendidikan formal dan tarbiyah sebagai pendidikan non-formal atau informal dalam pengertian Barat. 

Akhirnya ta’lim tidak berupa pengajaran ‘ilm yang mengarah pada keimanan dan ketaqwaan dan tidak berdimensi tarbiyah. Sedangkan tarbiyah nya tidak berunsur ta’lim. Nampaknya nilai-nilai dualisme, sekularisme, dan humanisme telah masuk ke dalam konsep pendidikan kita. Dengan nilai dualisme pengajaran dipisahkan dari pendidikan, dengan sekularisme ilmu yang diajarkan dibagi menjadi ilmu dunia dan ilmu akherat. Dengan nilai humanisme pendidikan dan pengajaran diarahkan untuk kepentingan manusia yang tidak ada kaitannya dengan Tuhannya. Ilmu akhirnya tidak lagi untuk ibadah tapi untuk kemakmuran manusia

Pendidikan agama pada orang tua sangat sulit jika dilakukan oleh keluarganya, karena mungkin orang tua merasa lebih luas pengetahuanya, orang tua lebih dihargai bahkan mungkin orang tua sudah merasa sulit untuk diarahkan. Banyak kita temui orang tua yang belum bisa membimbing anaknya dengan baik. Faktor ini disebabkan karena kurangnya pengalaman dari orang tua, kurangnya pendidikan agama dari orang tua. Namun sebaliknya ada orang tua tidak mempunyai kompetensi mengajar kepada anaknya akan tetapi orang tua lebih mengikuti pengajian di lingkungan sebagai pendidikan agama. Ini yang akan tertanam dalam jiwa orang tua yang akan mencerminkan kesadaran bagi orang tua. Namun tidak semua orang tua mau seperti itu, lebih banyak orang tua dengan kesibukanya sehingga merasa belum ada waktu atau kesadaran.


B. Konsep Pendidikan Islam

Jika makna pendidikan Islam telah terdistorsi oleh konsep-konsep dari Barat, maka konsepnya sudah tentu bergeser dari konsep dasar pendidikan Islam. Konsep pendidikan Islam mestinya tidak menghasilkan SDM yang memiliki sifat zulm, jahl dan junun. Artinya produk pendidikan Islam tidak akan mengambil sesuatu yang bukan haknya, atau meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya (zalim), tidak menempuh cara yang salah dalam mencapai tujuan (jahil) dan tidak salah dalam menentukan tujuan hidup.

Oleh sebab itu pendidikan Islam harus di-reorientasikan pada konsep dasarnya, yaitu merujuk kepada pandangan hidup Islam, yang dimulai dengan konsep manusia. Karena konsep manusia adalah sentral maka harus dikembalikan kepada konsep dasar manusia yang disebut fitrah. Artinya pendidikan harus diartikan sebagai upaya mengembangkan individu sesuai dengan fitrahnya. Seperti yang tertuang dalam al-A’raf, manusia di alam ruh telah bersyahadah bahwa Allah adalah Tuhannya. Inilah sebenarnya yang dimaksud hadith Nabi bahwa “manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah.”

Fitrah tidak hanya terdapat pada diri manusia, tapi juga pada alam semesta. Pada keduanya Allah meletakkan ayat-ayat. Namun karena fitrah manusia tidak cukup untuk memahami ayat ayat kauniyyah, Allah menurunkan al-Qur’an sebagai bekal memahami ayat-ayat pada keduanya. Pada ketiga realitas tersebut (diri, alam dan kalam Allah yakni al-Qur’an) terdapat ayat-ayat yang saling berkaitan dan tidak bertentangan. Oleh sebab itu jika manusia dengan fitrahnya melihat ayat-ayat kauniyyah melalui ayat-ayat qauliyyah, maka ia akan memperoleh hikmah.

Agar konsep dan praktek pendidikan Islam tidak salah arah, perlu disusun sesuai dengan fitrah manusia, fitrah alam semesta dan fitrah munazzalah, yaitu al-Qur’an. Jika proses Pendidikan itu berjalan sesuai dengan fitrah, maka ia akan menghasilkan rasa berkeadilan dan sikap adil. Adil dalam Islam berarti meletakkan segala sesuatu pada tempat dan maqamnya. Artinya, pendidikan Islam harus mengandug unsur iman, ilmu dan amal agar anak didik dapat memilih yang baik dari yang jahat, jalan yang lurus dari yang sesat, yang benar (haqq) dari yang salah (batil).

Pendidikan Islam tidak hanya menekankan pada aspek kognitif (ta’lim) dan meninggalkan aspek afektif (amal dan akhlaq). Pendidikan yang terlalu intelektualistis juga bertentangan dengan fitrah. Al-Qur’an mensyaratkan agar fikir didahului oleh zikir. Fikir yang tidak berdasarkan pada zikir hanya akan menghasilkan cendekiawan yang luas ilmunya tapi tidak saleh amalnya. Ilmu saja tanpa amal, menurut Imam al-Ghazzali adalah gila dan amal tanpa ilmu itu sombong. Dalam pendidikan Islam keimanan harus ditanamkan dengan ilmu, ilmu harus berdimensi iman, dan amal mesti berdasarkan ilmu. Begitulah, pendidikan Islam yang sesuai dengan fitrahnya, yaitu pendidikan yang beradab.


C. Keterpaduan Program Pendidikan Keluarga

Keberadaan sebuah program yang jelas dalam menjalani kehidupan akan memberikan pengaruh yang positif terhadap perilaku seseorang. Jika kita benar-benar yakin pada nilai positif program tersebut dan menjalankannya dengan konsekuen, sebuah karakter positif dalam perilaku kita akan terbentuk. Adanya program hidup yang sama, akan menghasilkan perilaku yang sama pula. Oleh karena itu, program tunggal dapat dijadikan parameter untuk mengetahui sejauh mana tindakan dan perilaku kita sesuai dengan program itu.

Suami isteri harus bersepakat untuk menentukan satu program yang dengan jelas menerangkan hak-hak dan kewajiban masing-masing dalam keluarga. Islam dengan keterpaduan ajaran-ajarannya menawarkan sebuah konsep dalam membangun keluarga muslim. 

Konsep ini adalah konsep rabbani yang diturunkan oleh Allah, Tuhan Yang Maha mengetahui. Dialah yang menciptakan manusia dan Dia pulalah yang paling mengetahui kompleksitas kehidupan manusia. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa konsep yang ditawarkan oleh Islam adalah satu-satunya konsep dan program hidup yang sesuai dengan fitrah manusia.

Konsep Islam adalah sebuah konsep yang secara jelas dan seimbang mendistribusikan tugas-tugas kemanusiaan. Islam tidak pernah memberikan tugas yang tidak dapat dilakukan oleh seorang manusia dengan segala keterbatasannya. Konsep ini tidak akan pernah salah, tidak memiliki keterbatasan, dan tidak mungkin mengandung perintah dan tugas yang tidak dapat dilakukan. Penyebabnya tentu saja, karena konseptornya adalah Allah SWT.

Konsep keluarga Islami memberikan prinsip-prinsip dasar yang secara umum menjelaskan hubungan antaranggota keluarga dan tugas mereka masing-masing. Sementara itu, cara pengaplikasian prinsip-prinsip dasar ini bersifat kondisional. Artinya, amat bergantung pada kondisi dan situasi dalam sebuah keluarga dan dapat berubah sesuai dengan keadaan.

Oleh karena itu, kedua orang tua harus bersepakat dalam merumuskan detail pengaplikasian konsep dan program pendidikan yang ingin mereka terapkan sesuai dengan garis-garis besar konsep keluarga Islami. Kesepakatan antara kedua orang tua dalam perumusan ini akan menciptakan keselarasan dalam pola hubungan antara mereka berdua dan antara mereka dengan anak-anak.

Keselarasan ini menjadi amat penting karena akan menghindarkan ketidakjelasan arah yang mesti diikuti oleh anak dalam pendidikannya. Jika ketidakjelasan arah itu terjadi, anak akan berusaha untuk memuaskan hati ayah dengan sesuatu yang kadang bertentangan dengan kehendak ibu atau sebaliknya. Anak akan memiliki dua tindakan yang berbeda dalam satu waktu. Hal itu dapat membuahkan ketidakstabilan mental, perasaan, dan tingkah laku.

Riset para ahli membuktikan bahwa anak-anak yang dibesarkan di sebuah rumah tanpa pengawasan kedua orang tua sekaligus lebih banyak bermasalah dibandingkan dengan anak anak yang mendapatkan pengawasan bersama dari kedua orang tuanya.


D. Manajemen Pendidikan Agama Islam Dalam Keluarga (Suami Istri)

Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama.  Sebagai pendidikan yang pertama, pendidikan dalam keluarga menempati urutan paling awal dalam perjalanan proses pendidikan yang dialami seseorang. Anak pada mulanya cenderung melakukan sesuatu berdasarkan apa yang dilihat, didengar, disaksikan, dirasakan dan dialaminya sebelum mendapat pengaruh dari luar baik pergaulan maupun pendidikan. 

Peran dan pengaruh pendidikan dalam keluarga sangat besar terhadap kepribadian anak bahkan sampai dewasa sekalipun. Kondisi dalam keluarga yang berperan dan berpengaruh terhadap kehidupan seseorang itu bisa berbentuk kondisi sosial, kondisi ekonomi maupun kondisi pendidikan Agama Hal ini sesusai dengan penelitian isnawati dan dina (2017) yang menyatakan keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian seseorang.

Selanjutnya, peran dan pengaruh pendidikan Agama dalam keluarga memiliki kontribusi terhadap pendidikan yang berlangsung di sekolah. Kunci keberhasilan pendidikan Agama di sekolah bukan terletak pada penggunaan metode pendidikan dan penguasaan bahanya, melainkan pada pendidikan Agama dalam rumah tangga. Inti pendidikan agama dalam keluarga itu adalah hormat kepada Allah SWT, orang tua dan guru. Maka intensitas dan optimalisasi pendidikan Agama dalam keluarga sangat membantu guru Agama dalam mengembangakan kepribadian Muslim, terutama pada peserta didik. Guru agama kemudian melanjutkan upaya-upaya transformasi perilaku peserta didik berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam yang telah diserap dalam kehidupan keluarga. Oleh karena itu pendidikan Agama dalam keluarga perlu di manage secara maksimal.

Dari beberapa penjelasan diatas dapat di tarik suatu kesimpulan bahwasanya keluarga adalah tempat pertama untuk seorang anak memperoleh pendidikan, dan keluarga sangat berperan penting terhadap pembentukan karakter serta kepribadian seorang anak bahkan sampai seorang anak menginjak usia dewasa. Sebagai suatu analogi seorang anak yang dibesarkan dari keluarga yang kurang begitu bagus, dan ketika anak pada saat itu terbiasa mendengar keluarganya berbicara kasar maka bisa dipastikan bahwa pengalaman yang mereka terima sehari-hari dalam keluarga merupakan pengalaman yang kasar. Demikian juga sebaliknya ketika mereka cenderung mengekspresikan ucapan maupun tindakan yang santun, adalah semata-mata sebagai refleksi dari pengalaman dan kebiasaan dalam keluarganya.

Oleh karena itu pendidikan yang akan diterapkan dalam keluarga harus benar-benar dimanajemen dengan baik. Karena pendidikan dalam keluarga itulah awal dari pembentukan karakter seorang anak.

Tentang kewajiban pendidikan dalam keluarga terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al-Tahrim (66) ayat 6, Allah berfirman

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Ayat ini menggambarkan seruan Allah kepada orang-orang mukmin agar mereka menjaga diri dan keluarganya dari siksaan neraka, dimana neraka itu dijaga oleh para malaikat yang amat kasar. Dan mereka tidak pernah melanggar ketentuan Allah.

Pendidikan keluarga itu dimulai dari kedua orang tua, mereka mesti saling menghormati dan melaksanakan kewajiban mereka masing-masing. Selain itu mereka juga dituntut untuk selalu berbenah diri untuk menjadi insan yang shaleh dan bertaqwa kepada Allah. Kondisi ini merupakan tonggak utama dalam pendidikan keluarga. Kebiasaan orang tua dalam keharmonisan dan ketaatan kepada Allah dapat mempengaruhi anak-anak dalam keluarga tersebut.

Secara tegas ayat 6 surah al-Tahrim di atas mengingatkan semua orang-orang mukmin agar mendidik diri dan keluarganya kejalan yang benar agar terhindar dari neraka. Ayat tersebut mengandung perintah menjaga, yaitu “qu” (jagalah). Perintah menjaga diri dan keluarga dari neraka berkonotasi terhadap perintah mendidik atau membimbing. Sebab didikan dan bimbingan yang dapat membuat diri dan keluarga konsisten dalam kebenaran itu membuat orang terhindar dari api neraka. Oleh karena itu para orang tua berkewajiban mengajarkan kebaikan dan ajaran agama kepada anak-anak, menyuruh mereka berbuat kebajikan dan menjauhkan kemungkaran dengan membiasakan mereka dalam kebenaran atau kebaikan tersebut, serta memberikan contoh teladan.

Di antara usaha pendidikan yang dapat dilakukan orang tua adalah mengajak semua anggota keluarga bertobat kepada Allah. Orang tua berkewajiban membimbing dan mendidik anaknya, serta mengajak mereka selalu memohon ampunan dari Allah, menyesali perbuatan salah yang pernah dikerjakan, jika memang benar-benar bertobat kepada-Nya dan tidak akan kembali lagi kepada perbuatan tercela yang telah dilakukan tersebut. Dan sebagai balasan bagi orang-orang yang benar- benar bertobat, maka Allah menyediakan surga baginya.

Perintah mendidik keluarga juga tergambar dalam surat Taha (20) ayat 132, yaitu:

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى

Artinya: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”.

Lebih tegas ayat ini memerintahkan setiap orang tua, terutama ayah sebagai kepala keluarga, memerintahkan anggota keluarganya mendirikan shalat. Dalam suatu riwayat ditegaskan bahwa nabi bersabda yang maksudnya; “suruhlah anakmu mengerjakan shalat ketika berumur tujuh tahun, dan apabila anak itu sudah berusia sepuluh tahun tidak mau juga mengerjakan shalat maka berikanlah hukuman keatasnya”. Riwayat ini menggambarkan, bahwa orang tua berkewajiban memerintahkan anak-anaknya menjalankan perintah agama terutama shalat.

Kewajiban memerintahkan anggota keluarga mengerjakan shalat berarti wajib pula bagi kepala keluarga mengajarkan anggota keluarganya hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan shalat. Demikian pula mendidik anggota keluarga dalam mendirikan shalat orang tua dituntut kesabaran dan keuletan dalam mendidik anggota keluarga terutama anak-anaknya.

Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwasanya Pendidikan dalam keluarga bila dipandang dari perspektif agama sangat jelas tertera dalam al-Qur’an surah al-tahrim ayat 6 serta al-Qur’an surah Taha ayat 132 tersebut, menggambarkan kewajiban suatu keluarga mendidik dan membimbing anggota keluarganya. Dari sini dapat diartikan pula, bahwa kesepakatan antara seorang laki-laki dan wanita untuk menikah mestinya dimaknai sebagai kesepakatan mereka mendirikan lembaga pendidikan keluarga, dimana suami dan istri (ayah dan ibu) sebagai murabbi atau mu’addib (pendidik) dan anggota keluarga lainya khususnya anak sebagai peserta didik. Untuk itu, menjadi seorang ayah atau ibu mestilah memenuhi persyaratan seorang pendidik, khususnya penguasaan minimal ilmu keislaman dan keteladanan. Karena pada hakikatnya proses pendidikan keluarga dimulai semenjak pemilihan atau penentuan jodoh.


E. Manajemen Pendidikan Suami Istri Menurut A. Fatih Syuhud

Menurut A. Fatih Syuhud manajemen pendidikan suami istri atau keluarga terlebih dahulu dimulai dari tahap pemilihan calon pasangan, kenapa demikian, dikarenakan calon yang akan kita pilih adalah orang yang akan hidup bersama baik dalam suka maupun duka, kaya ataupun melarat.

Berikut Manajemen Pendidikan Suami Istri Menurut A. Fatih Syuhud:

1. Menentukan Calon Pasangan, 

Bagi laki-laki sudah tentu ingin istrinya yang baik, cantik, taat, pintar dan cerdas, tentunya Wanita yang sholihah. Sebagaimana dalam kitab mausu;ah al-Fiqhiyah dikatakan bahwa Wanita shalihah adalah Wanita yang membuat suaminya senang saat melihatnya, taat pada suaminya, tidak melakukan sesuatu hal yang tidak disukai suaminya dan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

Dalam hadits Riwayat bukhari muslim disampaikan bahwa Nabi menyatakan bahwa dalam menentukan piliha calon istri, seorang laki-laki hendaknya memilih Wanita yang agamis, bukan karena harta, kecantkan fisik atau darah keturunannya. Namun demikian menurut penulis andai bisa mendapatkan keseluruhannya akan menjadi lebih sempurna lagi. Perlu diperhatikan bahwa dalam memilih calon pasangan jangan terlalu mengedepankan hal yang begini dan begitu atau harus sesuai kriteria yang diinginkannya. 

2. Tujuan Rumah Tangga Adalah Kebahagiaan Bersama.

Tolak ukur rumah tangga yang berhasil menurut Ahmad Fatih Syuhud ialah sebagai berikut: a) suami berprilaku sesuai perannya, yakni menjadi pemimpin rumah tangga denga bijaksana, pencari nafah yang ulet, suami yang dihormat dan bapak yang jadi panutan: b) istri berprilaku sesuai tugasnya yaitu sebagai istri yang sholihah, ibu yang peduli pada keseharian Pendidikan anaknya, istri yang mendukung peran suami: c) anak bertndak sesuai harapan kedua orang tua.

3. Pembagian Tugas Dan Tanggung Jawab

Dalam sebuah hadits sahih Riwayat bukholi Rasulullah bersabda: Suami bertanggug jawab pada keluarganya. Sedangkan istr memimpin di ruman suaminya dan bertanggung jawab atas tugasnya.

4. Kebersamaan Dan Komunikasi Berkualitas

Komunikasi berkualitas adalah adanya kebersamaan dan hubungan teraktif yang baik secara intensif da teratur. Kebersamaan disebut berkualitas walaupun waktunya sedikit apabila digunakan secara utuh untuk berkomunikasi baik dalam bentuk bercanda, berbagi cerita dan berdialog serius.

5. Mengelola Konflik

Dalam sitasi di mana serng terjadi konflik kecil dan ketidak cocokan antara suami dan istri maka kemamouan mengelola konflik menjadi hal yang sangat penting.

6. Minta Maaf Dan Memaafkan

Pasangan suami istri yang harmonis sekalipun tidak luput dari kesalahan. Hal ini wajar dan manusiawi. Yang terpenting adalah bagaimana merawat keharmonisan, yang bersalah merasa bersalah dan segera meminta maaf pada pasangannya. Meminta maaf sendiri kendati terasa sangat sulit bagi mereka yang tidak terbiasa dan memiliki ego tinggi.

7. Kompromi

Salah satu kunci keharmonisan rumah tangga dan cara jitu menghindari konflik adalah kedua belah pihak harus melakukan kompromi, di antara makna kompromi adalah; a) penyelesaian perbedaan dengan cara arbitasi atau konsesi Bersama; b) dua pihak saling menyesuaikan diri dengan cara saling mengalah; c) mencapai kesepakatan dengan cara salng mengalah (mutual concession)

8. Taat Syariah

Rasulullah bersabda agar seorang lelaki memilih calon istri yang agamis agar alian beruntung. Jika istri agamis dapat membawa keberuntungan dalam rumah tangga, maka begitujuga dengan suami yang agamis.

9. Berilmu Agama

Taat pada syariah dalam arti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya adalah wajib. Orang yang menjalankannya disebut sebagai orang yang shalih yang akan mendapatkan pahala surga kelak di akhirat. Kualitas kesaliha seseorang berbeda beda, ada yang tinggi dan ada yang rendah. Salah satu penyebabnya kualitas kesaliha itu adalah tingkat keilmuan.

10. Akhlak Mulia

Syarat ketiga rumah tangga disebut harmonis dan agamis adalah apabila dalam sebuah keluarga memiliki akhlak mulia atau budi pekerti yang luhur. Seorang muslim yang taat syariah dan berilmu agama belum menjamin memiliki akhlak yang baik.

11. Cinta Ibadah

Salah satu hal yang tak kalah penting adalah keluarga agamis juga harus cinta ibadah, artinya, rajin melakukan ibadah mahdah (murni) yang sunnah. Diharapkan dengan itu tidak hanya akan semakin mendekatkan dirinya dengan Allah, dan menjauhkan diri dari perilaku mungkar tapi juga untuk menguatkan hati dan mental.


 

F. Kesimpulan

Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari tiga hal, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keberhasilan pendidikan dalam suatu Negara atau daerah tergantung kepada tiga faktor tersebut.

Konsep pendidikan Islam mestinya tidak menghasilkan SDM yang memiliki sifat zulm, jahl dan junun. Artinya produk pendidikan Islam tidak akan mengambil sesuatu yang bukan haknya, atau meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya (zalim), tidak menempuh cara yang salah dalam mencapai tujuan (jahil) dan tidak salah dalam menentukan tujuan hidup. Oleh sebab itu pendidikan Islam harus di-reorientasikan pada konsep dasarnya, yaitu merujuk kepada pandangan hidup Islam, yang dimulai dengan konsep manusia. Karena konsep manusia adalah sentral maka harus dikembalikan kepada konsep dasar manusia yang disebut fitrah.

Keberadaan sebuah program yang jelas dalam menjalani kehidupan suami istri maka akan memberikan pengaruh yang positif terhadap perilaku seseorang. Adanya program hidup yang sama, akan menghasilkan perilaku yang sama pula. Oleh karena itu, program tunggal dapat dijadikan parameter untuk mengetahui sejauh mana tindakan dan perilaku kita sesuai dengan program itu.

Suami isteri harus bersepakat untuk menentukan satu program yang dengan jelas menerangkan hak-hak dan kewajiban masing-masing dalam keluarga. Islam dengan keterpaduan ajaran-ajarannya menawarkan sebuah konsep dalam membangun keluarga muslim. Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama.  Sebagai pendidikan yang pertama, pendidikan dalam keluarga menempati urutan paling awal dalam perjalanan proses pendidikan yang dialami seseorang.

Menurut A. Fatih Syuhud manajemen pendidikan suami istri atau keluarga adalah sebagai berikut, yakni dimuai dari menentukan calon pasangan, tujuan rumah tangga adalah kebahagiaan bersama, pembagian tugas dan tanggung jawab, kebersamaan dan komunikasi berkualitas, mengelola konflik, minta maaf dan memaafkan, kompromi, taat syariah, berilmu agama, akhlak mulia, cinta ibadah


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Fatih Syuhud, Jihad Keluarga: Membina rumah tangga sukses dunia akhirat, (Pustaka Al-Khoirot 2021) Hal. 301

Bahrun Ali Murtopo. Manajemen Pendidikan Islam Dalam Keluarga. Wahana Akademika Volume 3 Nomor 2, Oktober 2016

Dr Fakhir Aqil, ‘Ilm Al-Nafs Al-Tarbawi : 111

Hari Soetjiningsih, Christina, 2018. Psikologi Perkembangan, Perkembangan Anak. (Depok: Prenada Group). Hal. 218

Mujamil Qomar. 2015. Dimensi Managemen Pendidikan Islam, (Jakarta: Erlangga) hal. 1

Sulitiyo Rini M.Pd. Manajemen Pendidikan Islam Konsep Srategi dan aplikasi

Surah al-A’raf, 172

Surah Ali Imran 191

Surah Al-Tahrim, ayat 6

surat taha, ayat 132












Label: , , , , ,

Selasa, 09 Agustus 2022

JODOH ITU TELAH TIBA. Part I


Tepat pada hari senin, 25 Juli 2022 agus memulai aktifitas paginya dengan mengajar, sebagaimana hari senin biasanya ia mempunyai jadwal yang padat untuk mengajar di kelas. Setelah mengajar di dua kelas yang berurutan, tibalah watu istirahat. Sebagaimana biasanya agus dan guru-guru berkumpul di kantor (ruang guru) untuk berdiskusi dan bersenda gurau bersama. Setelah dua jam sejak jam 7:15 s/d jam 9:15 tidak membuka whatsApp, kemudian agus membukanya, dan dia sambil menerbitkan senyumnya saat membuka salah-satu isi pesan dari salah satu teman kuliahnya. Beliau ialah Gus Ulul Bashoir, orang yang sangat sabar, mengayomi dan cerdas. Kecerdasannya terbukti ketika diskusi di kelas saat kuliah.

Gus Ulul sendiri adalah temannya agus di perkuliahan program magister (S2) di salah satu kampus yeng terletak di kabupaten malang. Gus ulul dan agus juga kebetulan berteman baik dan juga ada disatu kepengurusan organisasi pesantren center nusantara, sehingga dengan seringnya bertemu keduanya menjadi semakin dekat dan akrab namun tidak lupa dengan nilai-nilai etika santri pada umumnya. 

Gus ulul selain mahasiswa S2, beliau juga menjadi guru di salah satu SMK di kab. Malang yang juga sekaligus menjadi pengasuh salah satu pesatren di kab. Malang yang didirikan oleh beliau sendiri, artinya beliau benar-benar merintis dan membangun wadah untuk  dakwah. beliau adalah satri lirboyo.

Isi pesan tersebut sangat memaksakan agus untuk tersenyum, menggeliti untuk membalas pesannya Gus Ulul, bagaimana tidak demikian, isi dari pesan itu ialah bentuk dorongan dan dukungan untuk agus agar segera menyempurnakan hidupnya dengan berkeluarga (menikah), tentu tidak hanya dengan memberikan nasehat, tapi sekaligus memberikan dua pilihan wanita cantik, muta'allimah, sholihah dan agamis. Keduanya (dua gadis) itu sama-sama santri, mahasiswa S2 tapi beda kampus, sama-sama masih semester 3, teduh dan menyejukkan mata saat dilihatnya dan tentunya sholihah dan taat agama.

Bagi agus, ini bukan kali pertamanya diberikan pilihan untuk dijodohkan semacam ini, sebelumnya sudah sering ditawari untuk dijodohkn baik oleh kerabatnya ataupun teman dan gurunya. Bukannya agus bersikap pemilih yang teralu, namun baginya wanita yang hendak dijodohkan dengan dirinya tidak ditemukan rasa srek dan mantabnya. Baginya yang penting santri, bisa mengaji dan mengerti hukum islam dasar untuk kehidupan sehari-hari, ya menjadi keberuntungan jika mendapatkan yang muta'allimah, artiya certas, pintar dan bisa saja dimaknai lulusan kuliah hehe.

Setelah berfikir sejenak, akhirnya agus memberanikan diri untuk membalas pesan whatsApp dari gus ulul tersebut. ia ketik dengan teliti dan membacanya dengan seksama, selain menghindari kesalah fahaman juga menghindari bacaan yang salah. lebih-lebih sebagai mahasiswa sudah bukan zamannya mengetik pesan dengan sesuka hatinya, apalagi ini pesannya dari seorang kiyai muda yang pakar dan macannya dalam bahsul masail, yakni yang akrab dipanggil dengan Gus Ulul.

Akhirnya agus memblas pesan tersebut dengan menjawab salamnya dan menanyakan salah satu dari dua wanita yang fotonya dikirim tersebut. "maaf Gus, yang ini anak mana nggih dan mondok di mana"?. Gus Ulul menjawab, "Gadis yang ini anak penjalinan gus, anaknya juga santri, juga satu almamater dengan panjenengan di S3 nya, sia mahasiswa S2 di sana". 

Gus Ulul kemudian menyambung pertanyaan berikutnya, "Kalau panjenengan oke saya beri nomornya Gus Abdurrahman nggih, beliau yang mendapatkan mandat dari abahnya untuk mencarikan calon, saya hanya membantu Gus Abdur rahman saja, biar lebih luas informasinya". Agus menjawab "Inggih"

Gus Abdur Rahman sendiri adalah seorang santri, dosen dan juga tokoh masyarakat yang juga aktif mengikuti kajian kitab Ihyak karya Imam al-Ghozali. Gus Abdur rahman adalah sepupu dengan Gus Ulul. Gus Abdur Rahman kebetulan satu majlis dalam forum kajian tersebut dengan abahnya gadis yang ditanyakan oleh agus.

Setelah Agus menyimpan nomornya Gus Abdur Rahman yang diberikan oleh Gus Ulul, agus memulai pesannya dengan salam, 

Agus: Assalamualaimum kiyai, ini saya agus temannya Gus Ulul, saya oleh beliau diminta menghubungi panjenengan.

Gus Rahman: Waalaikumussalam, Inggih, bagaimana mas, apa sekilas dari foto itu kamu mendapati kecocokan?

Agus: Agus menjawab, inggih kiyai, mohon maaf, izin bertanya, gadis ini asalnya mana nggih, dan apakah pernah nyantri atau tidak?

Gus Rahman: Inggih mas, dia pernah nyantri sampai lulusan S1 kemarin, dia kebetulan masih studi S2 di UIN Maliki, sekarang masih semester 3, dia anaknya abah ... InsyaAllah anaknya baik. kalau oke bisa mas kirim CV nya saja nggih, nanti kita lihat respon dari keluarganya si cewek bagaimana dan perkembangannya nanti saya kabari panjenengan mas.

Setelah agus mendapati kemantaban, kemudian agus menelfon ibu dan bapaknya, ia menceritakan panjang lebar informasi yang didapatkan, setelah lama menelfon. Kemudian restu ia dapatkan dan akhirnya diapun maju ke langkah yang lebih lagi.

Dengan santai Agus menuliskan CV nya dengan singkat, ia hanya mencantumkan latar belakang keluarga, tahun lahir dan latar bekalang pendidikan sejak MI sampai dengan S3, Sejak nyantri hingga lulus Madin, dan mengajar atau pengabdiannya. Agus kemudian mengirim pesan ke Gus Rahman, Ini Gus CV saya.

Sebenarnya awalnya ia tidak ingin mencantumkan dimana ia kuliah, namun dikarenakan gadis tersebut anak kuliahan dan juga sedang studi S2 di kampus bergengsi di malang. maka aguspun menyertakan latar pendidikannya sejak S1, S2 pertama, S2 kedua, dan S3 nya. Dalam pesan ia tidak lupa menyampaikan lagi bahwa dirinya hanya seorang santri dan dari keluarga biasa saja.

Setelah satu hari berlalu, akhirnya agus mendapati tanda-tanda baik, kemudian agus matur ke Gus Rahman "kiranya apakah bisa Gus kita dimediasi untuk dipertemukan, kita tahu zaman sekarang bagaimana, takutnya yang di sana nanti kecewa dengan keberadaan sayayang sebenarnya".

Gus Rahman menjawab, "kita ke rumahnya saja nggih, ini sama abahnya diminta kesana saja, lebih baik juga bukan? untuk hari dan waktunya nanti saya tanyakan lagi ke abahnya kira-kira kapan"

Agus: Inggih Gus

Setelah dua hari menunggu akhirnya Agus menerima pesan bahwa pada hari selasa sore bakda asar pertemuan itu akan dilaksanakan, hari selasa itu tepat satu minggu dari awal prosel.

Tibalah hari selasa sore, setelah sholat asar agus ditemani dua orang hebat bertamu ke rumahnya gadis tersebut, agus ditemani oleh Gus Ulul dan Gus Abdur Rahman. Setelah tiba di rumahnya gadis itu, Gus Rahman selaku teman karibnya gadis tersebut ia mengawali salamnya. Setelah mengucapkan salam kemudian terdengar jawaban dari dalam dengan suara yang lembut, dari suaranya sudah jelas ini pasti suara gadis yang hendak diperkenalkan denganku, gumam agus dalam hatinya. Gadis itu membukakan pintu dan mempersilahkan tamunya masuk, namun sebelum tamu masuk, agus sebagai orang yang ingin memastikan dan ingin tahu orang yang sedang proses ta'arruf dengannya, maka iapun berusaha sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat sekilas gadis yang hendak dijodohkan denganya. 

Ah, sekilas sesuai denga difoto, berarti sudah benar dan sesuai, gumam agus dalam hatinya. Maklum, santri mana berani memandang gadis lama-lama, apalagi di depan agus ada dua Kiyai yang menemaninya. hehe

Setelah masuk, kemudian keluarlah Abahnya gadis tersebut, mengucapkan salam dan mempersilahkan duduk kembali kepada tamunya. Dari suaranya orang ini sepertinya madura, berarti tidak mempersulit saya untuk menjawab pertanyaan apa saja yang nanti bisa saja ditayakan, gumam agus. Maklum, agus tidak begitu bisa bahasa jawa kromo hehe.

Disela-sela perbincangan, agus ditaya dari mana asalnya, mondok di mana dan apakah sudah mengajar atau belum. Perbincangan itu lama sekali, sekitar satu jam setengah, isinya seputar agama, hukum ini dan itu, keterangan di kitab ini dan kitab itu. Ya maklumlah, Gus ulul, Gus Rahman dan Abahnya gadis ini orang-orang yang ahli mutolaah kitab dan sering diskusi atau musyawaroh kitab. Apalagi mereka semuanya menjadi guru, jadi alur pemikirannya luar biasa. Agus bergumam, saya mondok hampir 11 tahun, tapi masih sulit mengimbangi isi pembicaraan mereka yang serba hukum, dalil, kitab dan menyikapi keadaan di zaman sekarang. Pemirikan mereka luar biasa mendalam. Malu rasaya dan sangat menyesal lama dipondok kenapa tidak sungguh-sungguh belajarnya, Ingat guys, menyesal itu di belakang, bukan di awal. hehe

Setelah berbincag-bincang panjang lebar, tibalah di mana Gus Abdur Rahman menyampaikan maksud kedatangannya. yakni menindak lanjuti ta'arruf yang sudah berjalan dan sebagainya, akhirnya abahnya gadis itu memberikan jawaban bahwa InsyaAllah tidak sampai 5 hari akan ada jawaban. Mohon ditunggu dengan sabar, karena kami juga harus bermusyawarah dengan keluarga dan khususnya anak saya yang terlibat utama dalam hal ini. Begitulah jawaban abahnya gadis tersebut.

Setelah bincang-bincang, dikarenakan maghrib sudah hampir tiba, kemudian Gus Abdur Rahman menutup pertemuan itu dengan pamit. Kita bertiga bersalaman dengan abahnya gadis itu, dengan gemetar agus bersalaman dan mencium tangan mulia tersebut. ya maksudnya semua tangan ayah itu mulia, mereka sebagai penopang keluarga, mencari nafkah dan menghidupi keluarga.

Tepat hari kamis, jeda dua hari dari pertemuan itu kemudian setelah agus turun dari masjid setelah mengikuti kajian kitab rutinan dengan kiyainya di pesantren. Agus membukan HP dan mendapati pesan dari Gus Abdur rahman, isinya adalah kabar baik dan gembira. Yakni pihak keluarga gadis dan gadis itu menerima khitbah atau ajakan untuk menjalin kehidupan yang labih serius lagi. keluarga gadis itu sudah membuka pintu secara terbuka dan menunggu kira-kira kapan keluarganya Agus datang untuk mengkhitbah gadis cantik itu secara resmi sebagaimana adat yang sudah ada.

Setelah itu Agus menelfon bapak dan ibunya menyampaikan kabar baik tersebut, bapak dan ibunya mengucapkan hamdalah dan tersenyum mendengar kabar itu. yang lebih takjub lagi, mungkin ini bagian dari jawaban Allah atas doa-doa bapak dan ibu, karena mereka menginginkan anaknya tetap mengabdikan dirinya dengan mengajar di pesantren tempat dia nyantri, dan juga tidak jauh dari rumahnya. 

Akhirnya, karena bapaknya agus bekerja di luar kabupaten, yakni di madura. Maka khitbah itu dilaksanakan pada hari seninnya, yakni 4 hari setelah kamis. Pesan itu agus sampaikan kepada Gus Abdur Rahman sebagai penyambung komunikasi dari kedua belah pihak.

Tibalah hari seni, 08 Agustus 2022 (08-08-2022), lumayan, tanggal cantik, hehe. Senin bakda asar bapaknya Agus dan pamannya Agus beserta Habib Ubaidillah tiba di pesantren untuk diskusi alur penyampaian maksud kedatangannya nanti, pertemuan itu benar-benar diseting dengan baik agar tertata dan berjalan dengan baik.

Sebelum bapaknya agus, Pamannya Agus, dan Habib Ubaidillah berangkat ke rumahnya gadis tersebut untuk mengkhitbah, Agus dan Bapanya terlebih dahulu sowan minta doa restu kepada kiyainya agus di pesantrennya. Sebagai santri yang sudah lama mondok, yakni sekita 11 tahunan. Menjadi penting juga meminta doa dan restu kepada gurunya, apalagi agus masih mukim di dalam pesantren dan juga mengajar di Madin dan MTs di dalam yayasan pesantrennya.

Setelah sowan dan menyampaikan maksud bertamunya, akhirnya kiyai memberikan doa dan restunya kepada agus dan bapaknya. Senang juga saya mendengarnya, semoga menjadi jodoh dunia akhirat yang sakinah mawaddah warohmah nanti. begitulah kira-kira isi doa kiyai.

Akhirnya mereka bertiga berangkat ke rumahnya gadis tersebut, jika ada yang bertanya kenapa Habib ubaidillah diajak untuk ikut mengkhitbah, dikarenakan bapaknya agus sudah memasrahkan agus juga ke Habib Ubaidillah, terlebih Habib Ubaidillah juga menjadi kepala madrasah MTs di Al-Khoirot yang mana bendaharanya Agus itu sendiri.

Setelah menunggu satu jam lebih, akhirnya mereka tiba di pesantren dan mendapatkan hasil yang baik dan membahagiakan. bahkan lamarannyapun dilaksanakan hanya jeda dua hari dari khitbah itu, yakni hari Rabu tanggal 10 Agustus 2022. singkat bukan proses ini? benar-benar ta'arruf yang islami, tidak ada kata pacaran, apalagi harus kenal lebih lama lagi tanpa status yang jelas. Keduanya lebih pada ta'dziman dan hurmatan wa to'atan kepada kedua orang tuanya. karena kita tahu tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya mendapatkan pendamping yang tidak baik. 

Setelah isyak, dikarenakan kiyai yang biasa mengimami sholat isyak sedang mios (keluar), maka dialah yang diminta untuk mengimaminya oleh ubudiyah (bagian peribadatan) di pesantren. Kemudian setelah sholat berjamaah selesai, agus ke kantor dan membuka HP, lalu membuka isi pesan di whatsApp, diantara pesan itu adalah pesan dari Pamannya agus yang tadi ikut mengkhitbah. dia mengirimkan nomor whatsApp nya gadis itu. ternyata Ibunya gadis itu adalah guru ngajinya istrinya pamannya agus waktu dulu nyantri.

Setelah di save nomornya, Agus masih bingung mau chat apa tidak, akhirnya agus mengirim pesan singkat, hanya salam saja, menanyakan kebenaran apakah nomor ini memang nomornya gadis itu atau bukan. Setelah itu dia menutup whatsAppnya dan membuka youtube untuk mendengarkan kajiannya Gus baha sebelum dia mengaji kitab Ibanatul Ahkan ke kiyai jam 9 Malam.

Selanjutnya,,, kita tunggu hari rabu saja yah. sekarang masih hari rabu.. hehe

Label: , , , , ,

SHALAT YANG IDEAL BAGI IMAM


Sholat merupakan rukun islam yang ke dua dalam Islam, setiap orang islam laki-laki dan perempuan diwajiban untuk sholat lima waktu dalam sehari semalam. Dalam hadits disebutkan bahwa sholat merupakan tiang agama, dan barang siapa meninggalkannya sungguh ia telah merusak agamanya. Sebagaimana bunyi hadits di bawah ini
الصلاة عماد الدين فمن اقامها فقد اقام الدين ومن هدمها فقد هدم الدين 
Artinya: "Sholat itu adalah tiang agama (Islam), maka barangsiapa mendirikan sholat, sungguh ia telah menegakkan agama (Islam) dan barang siapa merobohkannya, sungguh ia telah merobohkan agama (Islam)" (HR al-Baihaqi). 

Sholat menjadi sedemikian penting dalam menegakkan agama dan juga bagi muslim itu sendiri, sehingga menjadi maklum ketika sebagian orang mengatakan jika ingin melihat baik tidaknya orang tersebut maka lihatlah dari cara dia melaksanakan kewajiban sehari-hari sebagai orang islam, yakni dari cara sholatnya. Lantas bagaimana jika orang tersebut tidak sholat, bisa saja dia orangnya baik hanya saja dalam menunaikan kewajiban sebagai orang islam dia lalai. Dalam Islam kita hanya diminta untuk menyampaikan dan menasehati atau mendakwahkan islam dengan cara yang baik dan luhur kepada muslim lainnya.

Sholat selain menjadi tiang agama sebagaimana penjelasan hadits di atas, sholat juga menjadi amal perbuatan manusia yang kelak aan dihisab pertama kali di akhirat. sebagaimana keterangan dalam hadits di bawah ini

عن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :  إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ : انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

Artinya, "Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Amalan hamba yang pertama kali dihisab kelak di hari kiamat adalah sholat, jika sholatnya itu bagus, maka dia beruntung dan berhasil, namun jika cacat dia akan menyesal dan merugi. Apabila sholat wajibnya tidak sempurna, Allah SWT berkata, ”Lihatlah apakah hamba-Ku punya amalan sunnah sehingga bisa menutupi amalan wajibnya, dengan demikian tertutup segala amalnya.” 

Menjadi penting bagi setiap umat islam untuk benar-benaar mempelajari ilmu yang berhubungan dengan kawajiban sehari-hari. Bahan Ulamak mewajibkan ilmu yang pertama harus dipelajari adalah ilmu yang berkaitan dengan kewajibannya dalam sehari-hari sebagai umat islam, yani ilmu seputar wudhu, sholat, zakat, haji, dan seputar thoharoh atau bersuci dan mensucikan.
 
Dalam islam ada ilmu yang hukum mempelajarinya fardhu kifayah dan ada yang fardhu ain, sedangkan ilmu yang hukum mempelajarinya adalah fardlu ‘ain maka ilmu ini harus dipelajari dan dipahami oleh setiap individu umat Islam. Tak ada celah bagi seorang Islam untuk tidak mempelajari ilmu pada kategori ini. 

Menurut Syekh Zainudin Al-Malibari dalam kitab Mandhumatu Hidayatil Adzkiya’ ila Thariqil Auliya’, dalam kitab ini diberi penjelasan oleh Sayid Bakri Al-Makki dalam kitab Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Awliya’, bahwa aterdapat 3 ilmu yang wajib dipelajari bagi setiap orang Islam dengan kategori wajib fardlu ‘ain. Ketiga ilmu itu adalah ilmu yang menjadikan ibadahnya menjadi sah, ilmu yang mengesahkan aqidahnya, dan ilmu yang menjadikan hatinya bersih. Al-Malibari menuturkan:

وتعلمن علما يصحح طاعــة وعقيدة ومزكي القلب اصقلا هذا الثلاثة فرض عين فاعرفن واعمل بها تحصل نجاة واعتلا 

Artinya "Pelajarilah ilmu yang mengesahkan ketaatan mengesahkan aqidah serta mensucikan hati Ketiganya ini fardlu ain hukumnya, ketahuilah amalkanlah, maka terwujud keselamatan dan kehormatan"

Sholat selain hukumnya wajib bagi setiap muslim yang baligh dan berakal. Dalam sholat juga ada tatacara yang menjadikan sholatya bagus dan khusuk, terlebih bagi Imam yang mengimami sholat. Imam sholat harus mengetahui betul siapa makmumnya dan bagaimana cara menjadi Imam yang baik.
Dalam sholat terdapat syarat wajib sholat, syarat sah sholat, rukun sholat, sunnah dalam sholat da batal-batalnya sholat. Setipa muslim yang mukallaf harus mengetahui betul perkara di atas, sehingga sholatnya menhadi sah dan sempurna.

Ketika Imam mengimami sholat, hendaknya memperhatikan bacaan-bacaan dalam sholat dan tumakninahnya, sehingga makmum bisa dengan baik pula dalam mengikuti sholatnya Imam. Dalam kitab Ibanah Al-Ahkam syarah kitab bulugul marom karya Syaikh Alawi Abbas Al-Maliki. Dalam kitab tersebut pada hadits ke 228 dijelaskan sebagai berikut:

عن أبي قتادةَ رضي الله عنه قال : كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلم ، يصلِّي بنا ، فيقرأ في الظهرِ والعصرِ في الركعتينِ الأوليَينِ ، بفاتحةِ الكتابِ وسورتَين ، ويُسمعُنا الآيةَ أحيانًا ، وكان يطوِّلُ في الركعةَ الأولَى، ويقرأ في الأخريين بفاتعة الكتاب 

Artinya: "Dari sahabat Qotadah Rodiyallahu 'anhu, beliau berkata bahwa nabi pernah sholat bersama kami, kemudian Nabi membaca fatihah dan dua surat pada sholat duhur dan asar di dua rokaat pertama, dan terkadang memperdengarkan bacaan ayatnya kepada kami di sebagian waktu saat sholat berjamah duhur dan asar dengan bacaan jahr. Pada rokaat pertama Nabi membaca surat yang lebih panjang dari pada rokaat kedua dengan tujuan agar makmumnya bisa mendapati beliau pada rokaat pertama, dan pada dua rokaat kedua Nabi membaca surah fatihah". (Mutafaq Alaih)

Dari keteragan hadits di atas dapat kita fahami bahwa nabi Muhammad SAW ketika mengimami sholat, beliau tidak serta merta dan sesuka hatinya dalam memimpin sholat, beliau memperhatikan betul kondisi makmumnya. Seperti contoh pada rokaat pertama Nabi membaca dua surat yang lebih panjang dari rokaat kedua dengan tujuan makmum baik yang sudah hadir sejak Nabi memulai sholat ataupun yang telah tidak mendapatik takbirnya Nabi juga bisa mengikuti berjamah bersama-sama tanpa menjadi makmum masbuk. Ini menjadi penting untuk diperhatikan oleh Imam. 

Adapun makna atau penjelasan secara umum dari hadits di atas ialah bahwa Nabi memanjangkan bacaannya pada dua rokaat pertama, maksud dari lebih memanjangkan bacaan surat pada rokaat pertama tersebut dengan tujuan agar makmum bisa mendapati rokaat pertama Nabi dikarenakan semangat pada rokaat pertama lebih banyak dan begitu juga dengan khusuk dan khudur. Nabi meringankan bacaan pada dua rokaat terakhir dengan tujuan ditakutkan adanya kebosanan bagi makmumnya.
Adapun isi kandungan hukum fiqih dari hadits di atas ialah sebagai berikut:
1. Diwajibkannya membaca surah alfatihah dalam sholat, yang kemudian menjadi rukun solat
2. Disunnahkan membaca surat selain fatihah setelah membaca fatihah pada dua rokaat pertama
3. Disunnahkan memanjangkan (membaca surat yang panjang) pada rokaat pertama dari pada rokaat kedua
4. Disyariatkannya membaca alfathah pada dua rokaat terakhir 
5. Diperbolehkan membaca dengan suara jahr (keras) pada sebagian ayat di solat yang seharusnya dibaca denga sirriyyah (pelan) seperti sholat duhur dan asar.

Dari paparan penjelasan di atas maka, 
1. Hendaknya Imam ketika mengimami sholat setelah takbirotul ihrom imam membaca doa iftitah, kemudian membaca surah alfatihah dengan baik dan juga membaca surat al-Qur'an yang panjang dengan tujuan agar makmum bisa mendapati rokaat pertama imam dan membangun suasana hati agar bisa khusuk dan khudur. Meskipun dalam kitab fathul muin disebutkan bahwa membaca surat yang pendek juga baik. Namun demikian sebagai Imam tetap harus memperhatikan kondisi makmumnya.

2. Ketika rukuk, hendaknya Imam benar-benar membaca bacan tasbih, yakni Subhana Robbiyal Adzimi Wabihamdihi dengan 3x bacaan yang baik dan juga memperatikan tumakninahnya, baik tumakninahnya Imam sendiri ataupun makmumnya, agar makmum yang hanya mendapati rukuknya imam juga bisa mengikuti rokaat pertamanya imam sehingga makmum tersebut tidak menjadi makmum masbuk.

3. Hendaknya Imam memperhatikan tumakninah pada setiap gerakan dalam sholat agar selain membangun sholat yang khusuk, memperhatikan kondisi makmum yang mungkin saja ada yang sudah tua renta dan sebagainya, juga untuk menjaga keabsahan sholat. Karena dalam sholat tmakninah menjadi rukun sholat

4. Ketika tahiyat akhir, hendaknya Imam tidak terlalu cepat membaca bacaan tahiyatnya, dengan tujuan ketika Imam salam, makmum juga bisa mengikuti salmny imam, yakni bukan Imam sudah salah tapi makmum baru baca sholawat yang berart imamnya dalam membaca tahiyat terlalu cepat

5. Ketika membaca tahiyat akhir, hendaknya imam juga menambah bacaan doa-doa sebagaimana yang dianjurkan dalam kitab al a-dzkar an-Nawawi.  Selain membaca doa itu baik, juga untuk memperhatikan makmum masbuk yang hanya mendapati tahiyatnya Imam saja.

6. Sholat yang baik adalah sholat yang dilakukan pada waktunya, memenuhi rukun dan sunnah-sunnahnya, bagus bacaannya, dan bijak dalam menjadi Imam sholat berjamaah

7. Memperhatikan bacaan, tumakninah dan seterunya termasuk rukun dan sunnah-sunnahnya sholat tidakhanya bagi Imam, Namun bagi setiap muslim ketika sholat, baik sendiri ataupun berjamaah


REFERENSI:
Syekh Zainudin Al-Malibari dalam kitab Mandhumatu Hidayatil Adzkiya’ ila Thariqil Auliya’,
Kitab Ibanatul Ahkam syarat kitab bulughul marom, Karya Syaikh Alawi Abbas Al-Maliki

Label: , , , , , ,

Minggu, 06 Maret 2022

Keutamaan berpuasa Sya'ban

Sya'ban

Bulan Sya’ban adalah bulan yang terletak di antara bulan rojab dan ramadhan, pada bulan sya’ban biasanya umat Islam khususnya di Indonesia menyambutnya dengan mempererat silaturrahim melalui kirim-kiriman oleh-oleh yang berupa makanan kepada para kerabat, tetangga dll. Dengan cara tersebut kemudian terciptalah tradisi saling mengirim makanan di antara umat muslim, biasanya orang Indonesia menebut bulan sya’ban dengan istilah bulan ruwah.

A. Nishfu Sya’ban 

Bulan sya’ban merupakan bulan yang kedelapan dalam penanggalan hijriyah, bulan sya’ban berada setelah bulan rojab dan sebelum bulan ramadhan. Di antara keistimewaan bulan sya’ban ialah terletak pada pertengahan bulan sya’ban yang biasanya kita sebut dengan nishfu sya'ban. 

Pada pertengahan bulan sya’ban (Nish’su sya’ban) Umat Islam meyakini bahwa pada malam tersebut dua malaikat pencatat amal sehari-hari manusia dalam satu tahun menyerahkan catatan amalan manusia kepada Allah SWT, kemudian pada malam nishfu sya’ban itu juga buku catatan amal yang digunakan setiap tahun diganti dengan yang buku catatan yang baru. Dua malaikat pencatat amalan manusia tersebut ialah malaikat Raqib dan Atid,  

Menurut Ulamak Nisfu Sya'ban juga disebut dengan malam ampunan, sebab pada malam nishfu sya’ban itu Allah SWT menurunkan pengampunannya kepada semua penduduk bumi, terutama kepada hamba-hambaNya yang taat dan salih. 

Maka, kita sebagai umat Islam seharusnya tidak melupakan bulan nishfu sya’ban begitu saja, khususnya pada keutamaan dan amalan-amalan yang ada di dalamnya, karena bulan sya’ban adalah bulan yang mulia. Bulan sya'ban adalah bulan mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan memperkuat keimanan.


Puasa sya’ban hukumnya sunnah, hal ini berdasarkan hadits dari Nabi Muhammad SAW, yang di antaranya adalah hadits dari sayyidah ‘Aisyah ra, yakni sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ؛ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُ. وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ)   

Artinya, “Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra, ia berkata: ‘Rasulullah saw sering berpuasa sehingga kami katakan: ‘Beliau tidak berbuka’; beliau juga sering tidak berpuasa sehingga kami katakan: ‘Beliau tidak berpuasa’; aku tidak pernah melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadlan; dan aku tidak pernah melihat beliau dalam sebulan (selain Ramadhan) berpuasa yang lebih banyak daripada puasa beliau di bulan Sya’ban’.” (Muttafaqun ‘Alaih. Adapun redaksi haditsnya adalah riwayat Imam Muslim).

Selain berdasarkan hadits di atas, dalam hadits yang lain juga disebutkan sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ، كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً. (رواه مسلم)   

Artinya, “Diriwayat dari ‘Aisyah ra, ia berkata: ‘… Rasulullah saw sering berpuasa Sya’ban seluruhnya; beliau sering berpuasa Sya’ban kecuali sedikit saja’.” (HR Muslim).  

Berdasarkan hadits di atas, Imam an-Nawawi menjelaskan dalam kitab al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab, bahwa ulama menjelaskan bahwa redaksi kedua (كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً), yang artinya: “Nabi Muhammad SAW sering berpuasa Sya’ban kecuali sedikit saja”, adalah penjelas bagi redaksi yang pertama (كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ), yang artinya: “Rasulullah SAW sering berpuasa Sya’ban seluruhnya”. 

Maksudnya adalah, redaksi hadits yang kedua itu menjelaskan bahwa Rasulullah Muhammad SAW sering berpuasa Sya’ban seluruhnya ialah Rasulullah Muhammad berpuasa pada sebagian besarnya saja. 


B. Keutamaan Puasa Sya’ban 

Puanya sya’ban mempunyai banyak keutamaan, diantara Keutamaannya berpuasa Sya’ban di antaranya adalah mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW pada hari kiamat. Dalam kitab Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi-in Syekh Imam Nawawi al-Bantani berkata sebagai berikut:   

وَالثَّانِي عَشَرَ صَوْمُ شَعْبَانَ، لِحُبِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِيَامَهُ. فَمَنْ صَامَهُ نَالَ شَفَاعَتَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ 

Yang artinya, “Adapun puasa sunnah yang kedua belas ialah Puasa Sya’ban, Hal ini karena kecintaan Rasulullah SAW terhadapnya. Maka, barang siapa yang berpuasa sya’ban, maka ia akan mendapatkan syafaat Rasulullah SAW di hari kiamat.” 


C. Tata Cara Puasa Sya’ban 

Adapun tata cara berpuasa sunnah Sya’ban dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:   

Pertama, terlebih dahulu berniat di hati. Adapun niat puasanya adalah sebagai berikut: 

نَوَيْتُ صَوْمَ شَعْبَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى 

Nawaitu shauma sya’bana lilahi ta’ala. Yang artinya, “Saya niat puasa Sya’ban karena Allah ta’ala. Kemudian selain niat di dalam hati, juga disunnahkan melafalkan niat dengan lisan. Hal ini sebagaimana puasa sunnah yang lainnya.

Niat puasa sunnah Sya’ban dapat dilaksanakan sejak malam hari sampai siang hari sebelum masuk waktu zawal atau sebelum matahari tergelincir ke barat, dengan syarat orang tersebut belum melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa sejak terbit fajar (sejak masuk waktu subuh). 

Kedua, Adapun tata cara yang kedua ialah makan sahur, makan sahur lebih utama dilakukan menjelang masuk waktu subuh dan sebelum imsak. 

Ketiga, tata cara yang ketiga ialah melaksanakan puasa dengan menahan diri dari segala hal yang bisa membatalkannya, seperti makan dan minum.   

Adapun yang keempat ialah orang yang berpuasa hendaknya lebih menjaga diri dari perkara yang dapat membatalkan pahala puasa, seperti menggunjing orang lain, berkata kotor, menggibah dan juga segala hal perbuatan dosa. 

Kenapa orang yang berpuasa harus menahan diri dari hal-hal seperti di atas, karena Rasulullah SAW bersabda:   

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعِ وَالْعَطَشِ (رواه النسائي وابن ماجه من حديث أبي هريرة)   

Yang artinya, “Banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan kehausan.” (HR an-Nasa’i dan Ibnu Majah dari riwayat hadits Abu Hurairah ra).


Referensi:

Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Kitab al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab, juz VI, hal. 386.   

Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi, Kitab Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi-in, Bairut, Darul Fikr, hal. 197.   

Syekh Zainuddin Bin Abdul Aziz Al-Malibari, Kitab Fathul Mu’in, juz II, hal. 223


Label: , , , , , , ,

Minggu, 27 Februari 2022

Tiga hal yang harus dimiliki santri atau penuntut ilmu

Santri

Pada pembahasan sebelumnya penulis uraikan tiga sifat mulia yang harus dimiliki oleh guru, sehingga kenikmatan murid akan sempurna jika guru memiliki tiga sufat tersebut, tiga sifat tersebut ialah guru hatus memiliki sifat sabar, sifat tawadhu' dan Akhlaq yang terpuji. 

Pada kesempatan kali ini penulis akan uraikan tiga hal yang harus dimiliki setiap murid, santri atau pelajar, atau julukan lainnya bagi penuntut ilmu. tiga hal tersebut ialah Akal, Adab atau akhlak,  dan Pemahaman yang bagus.  Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Alghozali dalam kitab Ihya' Ulumiddin. yakni sebagai berikut:

وإذا جمع المتعلم ثلاثا، تمت النعمة بها على المعلم : العقل والأدب وحسن الفهم

Artinya "Dan apabila terkumpul pada diri seorang pelajar tiga hal, maka menjadi sempurna kenikmatan yang dirasakan oleh seorang guru, yakni akal, adab, dan pemahaman yang bagus."

1. Akal 

Setiap [pelajar hendaknya memiliki akal yang sehat, yakni yang bisa membedakan antara yang baik untuk diamalkan dan yang buruk untuk ditinggalkannya, dan juga bisa membedakan antara urusan duniawi yang tidak berharga dengan urusan akhirat yang sifatnya selamanya. Dengan akal yang sehat pelajar bisa menyerap ilmu dengan baik dan lancar. terlebih jika dia bagian dari orang-orang yang cerdas, orang yang cerdas dalam memahami ilmu punya kecepatan yang berbeda daripada yang biasa-biasa saja. bahkan cerdas menjadi  bagian dari enam syarat bagi pelajar, sebagaimana makolahnya sayyidina Ali bin Abi Thalib. 

Adapun kecerdasan sendiri bisa digolongkan menjadi dua bagian: 

Pertama Kecerdasan yang diberi oleh Allah SWT dengan berupa kemudahan dalam memahami pelajaran dan sangat mudah dalam menghafal apa yang diberikan oleh guru atau orang lain, dan dia juga mempunyai hafalan yang kuat, 

Kedua Kecerdasan yang dia dapat dengan usaha yang keras, yakni dengan rajin belajar dan giat menghafal serta tekun dalam disiplin ilmu.


2. Adab atau akhlak 

Adab atau akhlak disini ialah budi pekerti serta penghormatan seorang murid kepada gurunya, baik secara dhohir maupun bathin. Diantara akhlak seorang murid atau santri selain bersikap baik dengan bentuk penghormatan kepada gurunya seperti melaksanakan apa yang diperintahkan oleh gurunya dst, ialah menjaga prasangka buruk pada gurunya, atau menjaga gertakan atau bisikan hatinya pada gurunya. Hal ini untuk menjaga kemantaban hatinya pada sang guru. Dalam melaksanakan atau mentaati segala hal yang diminta dan  diperihtah oleh guru di sini selagi tidak menyalahi aturan dalam prinsip agama Islam. Jika misal guru memerintahkan untuk tidak solat atau mungkin mencuri, makal dalam hal ini murid atau santri harus menolaknya dengan tegas namun tetap dengan cara yang baik dan santun.

Adab atau akhlak adalah perilaku yang ideal yang hendaknya diaplikasikan setiap orang Islam, terlebih bagi kaum santri. Baik itu ketika berinteraksi dengan Allah (Taat pada perintah dan larangannya, seperti sholat lima waktu, puasa, zakat , haji daj juga meninggalkan segala bentu pekerjaan yang dilarang dst) dan juga bersosialisasi dengan sesama manusia. Adapun akhlak terbagi menjadi tiga, yaitu akhlak syariah, universal, dan akhlak lokal sebagaimana yang sudah disampaikan pada pembahasan tiga sifat mulia yang harus dimiliki guru.


3. Pemahaman yang bagus 

Pemahaman yang bagus memang harus dimiliki oleh setiap pelajar, meskipun tingkat pemahaman masing-masing orang jelas berbeda-beda setidaknya sedikit banyak pelajar bisa memahami apa yang sudah disampaikan oleh gurunya. Dengan mempunyai pemahaman yang bagus, maka pelajar akan lebih mudah dalam menerima ilmu, mudah dalam menyerap dan mengembangkan ilmu. dalam hal ini tentu tidak mudah dan intsan, diantara caranya yakni dengan cara bersemangat belajar, menghafal, dan mengajarkan ilmunya pada orang lain sebagai bentu menyebarkan ilmu Allah dan juga mengingat kembali ilmu yang didapatkan.

Label: , , , , , , , , , ,

Kamis, 24 Februari 2022

Cinta Tapi Tak Jodoh #1

Malam yang indah, rembulan menyapa bumi dengan penuh kasih dan cahaya. Terang, cerah, dan memberikan kesan tersendiri untuk setiap rembulan. Malam ini, bagi sesosok hanafi yang baru saja menyelesaikan ujian Nasional di bangku MTs jelas cahaya rembulan seakan menyambutnya untuk terus bangkit dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. 

Hanafi yang pada saat itu mendapati kebingungan pada dirinya sendiri terkait sekolahnya. Apakah dia bisa lanjut sekolah atau tidak, kemudian jika memang masih ada kesempatan untuk lanjut sekolah apakah dibolehkan sekolah SMA di luar. yang artinya hanafi sekolah tanpa masuk pesantren mengingat semua keluarga hanafi baik bibik atau pamannya menjadi suatu keharusan dalam keluarganya untuk menyantri atau masuk pendidikan pondok pesantren.

Akhirnya esok harinya hanafi dipanggil oleh kakeknya, kakeknya menasehati dan memintanya untuk masuk pendidikan pondok pesantren yang di dalamnya ada pendidikan formalnya, yakni pendidikan SMA/MA. Dengan demikian selain hanafi masih bisa sekolah SMA/MA, hanafi juga bisa mendapatkan ilmu agama dari pesantren. Sejak hanafi kecil dan hidup bersama kakek dan neneknya sejak duduk di bangku kelas tiga Madrasah Ibtidaiyyah (MI) dikarenakan bapak dan ibunya yang harus merantau ke negeri tetangga untuk mencari nafkah guna untuk menghidupi keluarga dan juga mencari biaya untuk pendidikan anaknya, yakni hanafi kecil yang saat itu belum mempunyai adik.

Setelah perbincangan panjang lebar, akhirnya hanafi mengiyakan keinginkan kakek, nenek dan tentu atas permintaan bapak dan ibunya hanafi untuk ikut membantu membujuk hanafi agar mau untuk masuk pendidikan pesantren. Hari dan tanggalnya sudah ditentukan, termasuk perlengkapannya juga sudah siap. Akhirnya, pada hari minggu pada bulan juni 2012 hanafi berangkat dan mendaftarkan diri untuk menjadi salah satu santri di pondok pesantren yang berada di kabupaten Malang. Pondok Pesantren yang memadukan sistem salaf dan modern, pondok pesantren yang melaksanakan pendidikan dengan segregasi total baik guru, siswa dan gedung serta tempat asrama santrinya. Yakni Pondok Pesantren Al-Khoirot Karangsuko Pagelaran Malang.

Pondok Pesantren Al-Khoirot didirikan oleh seorang ulamak dari madura yang menikah dengan gadis kabupaten malang, tepatnya desa gondanglegi Malang.  PP Al-Khoirot didirikan oleh K.H. Syuhud Zayyadi dan Nyai, Hj Masluhah Muzakki pada tahun 1963, PPA Malang menjadi salah satu pesantren tertua di Malang Raya bahkan di Jawa Timur. PPA Malang adalah pesantren yang secara kultural berafiliasi ke NU (Nahdlatul Ulama), sedang secara politis bebas aktif dan nonpartisan. Ponpes Al-Khoirot Malang juga tidak ada hubungan dan kaitan organisasi dengan Pondok Pesantren Al-Khairaat Palu, Sulawesi atau pesantren lainnya dengan nama yang serupa. Alamat lengkapnya PPA adalah  Jl. KH. Syuhud Zayyadi 01 Karangsuko Pagelaran (Gondanglegi), Malang 65174 Jawa Timur.

Pada hari minggu hanafi diantar oleh pamam, bibik, guru ngaji di mushollahnya, kakek, nenek dan ibunya. Bapaknya hanafi tidak bisa ikut mengantarkan putranya untuk berangkan mondok dikarenakan masih ada dalam perantauan, yakni di Malaysia. Pondok pesantren Al-Khoirot sudah dikenal oleh hanafi sebab paman dan bibiknya semuanya menyantri di sini, kecuali ibu dan bapaknya saja yang menyantri di pondoknya sepupu kakeknya hanafi di Madura, yaitu Pondok Pesantren Al-Azhary Sokobanah Sampang Madura. Pondok Pesantren Al-Azhari didirikan oleh Alm. KH. Nashiruddin Ilyas, Sepupu dari Kakeknya hanafi.

Rasanya menjadi catatan sejarah baru bagi hanafi pada hari ini, dia harus tinggal di pesantren tanpa ada ibu, bapak, kakek, nenek dan teman-teman sekampungnya. Tujuan dari belajar ya santri memang harus mandiri, tidak boleh cengeng dan harus belajar yang tekun serta taat pada peraturan yang ada. 

Setelah pendaftaran selesai, kemudian diantarlah kepada kamar yang akan ditempati oleh hanafi, kamar yang tidak besar juga tidak kecil yang berpenghunikan 13 santri, berarti menjadi 14 santri yang menghuni di kamar tersebut. yaitu kamar 4C yang penghuninya dari beragai daerah.

Keluarga hanafi menitipkan anaknya, hanafi kepada ustadz dan juga santri yang ada di kamar tersebut untuk membantu membimbing dan menjadi teman baik bagi hanafi, dari suaranya nenek zaironi mulai menunjukkan sedikit kesedihannya dalam bentuk akan berpisah tempat dengan cucu yang biasa membantu sang nenek mengambil pakan kambing, membawakan kayu dari kebun, dan membantu nenek untuk membersihkan kebun. Ya malklum, namanya juga anak petani yang hiduonya di lereng gunung semeru. Pembaca tau kan di mana gunung semeru itu. hehe..

Setelah semuanya selesai akhirnya keluarga pamit pulang, hanafi mulai menunjukkan kesedihannya karena akan ditinggal oleh keluarga tercintanya, siapa sih yang gak pengen  nangis saat ditinggal di pesantren sendirian tanpa ada keluarga yang mendampinginya. rasanya menjadi asing di tempat yang baru menjadi suatu keharusan untuk waktu yang tidak sebentar. Nenek kemudian mencium pipi hanafi yang saat itu juga sang nenek tidak bisa membendung air matanya. suatu yang maklum bagi sang nenek menangis ketika berpisah dengan sang cucuk, apalagi yang sudah biasa hidup bersama sehari-hari dan hanafi ialah cucu pertamanya.

Tanpa disangka ibu hanafi juga ikut menangis, meninggalkan anak sulungnya sendirian di pesantren untuk menempuh pendidikan, mencium anaknya dan memberikan banyak pesan serta nasehat. Ibu zaironi dan keluarga yang semuanya pernah menyantri sudah mengerti suasana dan keadaan kehidupan di dalam pesantren. Karena itu kemudian mereka memberikan banyak nasehat agar terus semangat belajar, tekun dan istikomah. Taat pada aturan dan jangan sampai meninggalkan sholat berjamaah serta tidak meninggalkan untuk membaca dan menghatamkan al-Qur'an. Pesan sang kakek jangan sampai ketinggalan takbir pertama Imam dan jangan sampai tidak membaca al-quran satu jus dalam sehari. Taati aturan yang ada, kemudian hari kamu pasti bisa untuk beradaptasi dan menjadi santri yang mengerti ilmu agama untuk menjadi bekal hidup kamu kelak di masyarakat. Semoga kakek tenang dan ditempatkan ditempat terbaik Oleh Allah, kakek orang yang sangat baik, ahli ibadah dan suka membantu orang lain. saya bersaksi atas itu semua untuk kakek.

Akhirnya keluarga pulang, hanafi yang belum punya teman akrab akhirnya dia hanya diam di teras masjid untuk melihat santri lainnya bermain. satu dua minggu dijalani, satu dua bulan dilewati. kegiatan demi kegiatan hanafi ikuti dengan baik, baik itu di Madrasah diniyah, pesantren maupun di Madrasah Aliyahnya. teman semakin bertambah, rasa tidak betah sudah mulai menghilang dengan sendirinya. Sehingga hanafi sudah seperti santri lainnya yang bisa disebut betah dan tidak lagi diam sendirian di teras-teras masjid. 

Tanpa terasa ternyata hanafi sudah masuk bulan ke enam di pesantren, hal ini menunjukkan hari libur pesantren sudah akan tiba, yakni liburan Maulid. Dimana sudah menjadi suatu yang pasti adanya liburan santri untuk pulang kampung bertemu keluarga, meski tetap ada saja santri yang tidak pulang dikarenakan masa liburan yang hanya sepuluh hari dan jarak antara rumah dengan pesantren yang jauh sehingga membutuhkan biaya yang besar. Mereka adalah santri yang berasal dari luar provinsi jawa timur, seprti jakarta, papua, pontianak, medan dan banten serta lainnya.

Liburan sudah tiba, semua santri bersenang hati karena akan bertemu dengan sanak keluarga di rumahnya, sepuluh hari liburan adalah masa yang sangat berharga dan singkat bagi santri. hanafi dan teman-temannya satu persatu pulang dengan dijemput oleh keluarganya. kali ini hanafi dijemput oleh pamannya (Paman Rohmatullah) yang juga alumni PP Al-Khoirot. Paman hanafi menyantri sekitar dua belas tahun di Al-Khoiot sehingga banyak pengurus yang dikenalnya. Semoga paman oleh Allah diampuni segala bentuk salah dan dosanya, Allah tenpatkan paman di tempat terbaik di sisi Allah. dipertemukan dengan kakek dan kelak disatukan disurganya. Paman Orang baik, sabar, dan juga sosok pelayan masyarakat, aktif di sholawatan dan juga mengisi kajian di perkumpulan ibu-ibu muslimat.

Sesampai dirumah hanafi langsung mengucapkan salahm mencium tangan ibu, kakek, nenek dan bibiknya. Dirangkulnya hanafi oleh ibu dan neneknya yang menunjukkan kerinduannya pada hanafi seorang karena selama enam bulan tidak bertemu dengan hanafi. Maklum, karena yang biasa menjenguk hanya pamannya. Ibu, bapak, kakek dan nenek serta bibiknya hanya bisa menelfon tiap satu bulan satu kali untuk menanyakan kabar dan sedikit mengurangi rasa rindunya.

Liburan kali ini oleh hanafi hanya dibuat untuk membantu pekerjaan keluarga, seperti biasa kehidupan petani pagi hari ke kebun, menjelang duhur pulang, dan begitu juga pekerjaan yang lainnya. Hanafi kembali melakukan aktivitas sebagaimana sebelum dia mondok, mengingatkan dia pada kehidupan dahulunya. kehidupan yang sehari hari hanya sekolah, membantu keluarga di kebun, bermain dengan teman dan mengaji di mushollah dekat rumahnya.

Hari demi hari berjalan dengan penuh makna dan mahal untuk santri yang liburan pesantren. Akhirnya kembalian santri ke pondok pesantren al-khoirot sudah tiba, hanafi diantar oleh pamannya untuk balik ke pondok. Rasanya masih ada sikap berat untuk balik pondok, selain mungkin karena liburan yang hanya sepuluh hari juga kangennya belum juga terobati sepenuhnya pada keluarga.

Semua santri berdatangan, pengurus mulai mendata santri yang kembali untuk mengetahui siapa saja yang sudah kembali tepat waktu dan yang belum kembali ke pesantren. Kegiatan pesantren kembali berjalan seperti biasanya. Seperti dahulu awal masuk pesantren, niat harus ditata ulang, belajar harus ditingkatkan dan prestasi harus terus dikejar. Bulan demi bulan hari-harinya berjalan dengan baik, liburan demi liburan dijalani dengan sebaik mungkin. akhirnya setelah sekian lama menjalani pendidikan formal di Madrasah Aliyah Al-Khoirot yang mana Madrasah Aliyah Al-Khoirot berada dalam lingkungan Pondok Pesantren AL-Khoirot. Maka tibalah ujian Nasional untuk kelulusan siswa. Hal ini menunjukkan hanafi sudah tiga tahun menjdi santri di PPA. 

Ujian Nasional berjalan dengan baik, semua siswa diumumkan lulus, wisuda kelulusan juga terlaksana dengan penuh haru semuanya terjadi pada tahun 2015. Tibalah waktu untuk menentukan kehidupan masing-masing siswa yang sekaligus santri selanjutnya. Apakah cukup melanjutkan nyantrinya tanpa kuliah, atau kuliah sekaligus sambil mondok. atau kuliah saya dengan pilihan keluar dari pondok. atau berhenti mondok dan tidak melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan.

Hal ini menjadi pilihan bagi masing-masing siswa/santri, pun juga bagi hanafi yang saat itu juga masih tidak tau selanjutkan bagaimana. Malam hari, yakni malam jumat. malam liburan kegiatan pesantren bagi santri. Hanafi menelfon Ibu dan bapaknya dirumah untuk menanyakan langkah berikutnya, hanafi yang sudah ada minat untuk kuliah akhirnya menyampaikan keinginannya. Hanafi berusaha menjelaskan kuliah itu apa dan bagaimana prosesnya kepada kedua orang tuanya yang nota bene hanya lulusan sekolah dasar. Perbincangan berjalan dengan baik, akhirnya orang tua menyetujui dan sangat mendukung putranya untuk kuliah dengan syarat harus tetap menyantri di PPA. Hanafi langsung mengiyakan karena memang kampus yang ditujunya tempatnya tidak terlalu jauh dari Pondok Pesantren Al-Khoirot. 

Di manakan hanafi akan kuliah? Jawabannya ada di catatan berikutnya, tetap pantau terus perkembangan tulisan ini sehingga pembaca tidak ketinggalan untuk membaca catatan-catatan berikutnya sampai pada sesi puncak, yakni Cinta Tapi Tak Jodoh. hehe..(Hanafi di sini adalah nama samaran)

Sekian dari penulis, Wassalam


By: Muhammad Zaironi, Santri Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang, Mahasiswa S3 UIN Maliki Malang

FB: Muhammad Zaironi. https://www.facebook.com/profile.php?id=100008292301957

Fanspage FB: Muhammad Zaironi

IG: Muhammad Zaironi. www.instagram.com/muhammadzaironi

Blogger: santrimenulis.com 

Label: , , , ,