Sabtu, 09 Mei 2026

STRATEGI PEMBELAJARAN PAI BERBASIS TEKNOLOGI

 

STRATEGI PEMBELAJARAN PAI BERBASIS TEKNOLOGI

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar terhadap sistem pendidikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kehadiran teknologi dalam pendidikan tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai kebutuhan utama dalam menciptakan pembelajaran yang efektif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), penggunaan teknologi menjadi penting karena pembelajaran agama tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga pembentukan karakter, spiritualitas, dan akhlak peserta didik. Strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi menjadi penting untuk menjawab tantangan generasi digital yang cenderung lebih tertarik pada media interaktif dibandingkan metode konvensional. Point utama penelitian ini adalah bahwa integrasi teknologi mampu meningkatkan kualitas pembelajaran PAI secara lebih kontekstual. Reason dari penelitian ini terletak pada kebutuhan pembelajaran yang mampu menjangkau karakteristik generasi digital. Evidence menunjukkan bahwa penggunaan media digital dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Conclusion-nya, strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi menjadi kebutuhan penting dalam pendidikan modern.

Masyarakat saat ini menghadapi berbagai persoalan pendidikan yang berkaitan dengan rendahnya minat belajar peserta didik terhadap mata pelajaran agama. Pembelajaran PAI sering dianggap monoton karena masih didominasi metode ceramah dan hafalan yang kurang memberikan ruang eksplorasi kreatif peserta didik. Kondisi ini berdampak pada rendahnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran serta lemahnya internalisasi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, perkembangan teknologi yang sangat cepat sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan guru dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana pembelajaran. Akibatnya, terdapat kesenjangan antara karakteristik peserta didik generasi digital dengan strategi pembelajaran yang diterapkan di sekolah. Masalah tersebut menjadi semakin kompleks ketika pembelajaran agama masih berorientasi pada transfer pengetahuan semata tanpa memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran interaktif. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi yang mampu mengintegrasikan aspek pedagogis, spiritual, dan digital agar pembelajaran lebih relevan dengan kebutuhan peserta didik masa kini.

Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa sebagian sekolah mulai menerapkan pembelajaran berbasis teknologi dalam mata pelajaran PAI melalui penggunaan aplikasi pembelajaran, video interaktif, platform digital, dan media sosial edukatif. Namun implementasi tersebut masih bersifat parsial dan belum terintegrasi secara sistematis dalam strategi pembelajaran. Beberapa guru hanya menggunakan teknologi sebagai alat presentasi tanpa mengembangkan pendekatan pembelajaran yang inovatif. Di sisi lain, peserta didik menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi ketika pembelajaran menggunakan media visual, audiovisual, dan platform digital interaktif. Fenomena lain yang muncul adalah meningkatnya penggunaan perangkat digital oleh siswa untuk mengakses informasi keagamaan secara mandiri, meskipun tidak semua informasi tersebut valid dan sesuai dengan nilai-nilai moderasi beragama. Kondisi ini menunjukkan pentingnya peran guru PAI dalam membimbing peserta didik agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan produktif. Dengan demikian, strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi tidak hanya berfungsi sebagai media pembelajaran, tetapi juga sebagai sarana pembinaan literasi digital keagamaan.

Berbagai penelitian sebelumnya telah mengkaji penggunaan teknologi dalam pembelajaran PAI. Penelitian terdahulu lebih banyak menyoroti efektivitas media pembelajaran digital terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Sebagian penelitian menjelaskan bahwa penggunaan aplikasi pembelajaran berbasis multimedia dapat meningkatkan motivasi dan pemahaman peserta didik terhadap materi keagamaan. Penelitian lain menunjukkan bahwa platform e-learning mampu mendukung fleksibilitas pembelajaran dan memperluas akses sumber belajar agama. Meskipun demikian, penelitian sebelumnya cenderung fokus pada aspek penggunaan media tanpa mengkaji secara mendalam strategi pedagogis yang digunakan guru dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran. Selain itu, sebagian besar penelitian hanya berorientasi pada hasil belajar kognitif dan belum mengaitkan penggunaan teknologi dengan pembentukan karakter religius peserta didik. Kelemahan tersebut menunjukkan adanya research gap terkait pentingnya strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi yang tidak hanya efektif secara akademik, tetapi juga mampu membentuk nilai-nilai spiritual dan etika digital siswa.

Penelitian lain juga menjelaskan bahwa integrasi teknologi dalam pembelajaran PAI menghadapi berbagai hambatan, seperti keterbatasan kompetensi digital guru, minimnya fasilitas teknologi di sekolah, dan kurangnya dukungan kebijakan pendidikan. Sebagian penelitian menekankan pentingnya pelatihan guru dalam pengembangan media digital, tetapi belum membahas secara komprehensif bagaimana strategi pembelajaran dirancang berdasarkan karakteristik peserta didik dan kebutuhan pembelajaran agama. Selain itu, penelitian terdahulu masih jarang mengaitkan strategi pembelajaran berbasis teknologi dengan pendekatan kolaboratif, interaktif, dan kontekstual dalam pendidikan Islam. Posisi penelitian ini terletak pada upaya mengintegrasikan teknologi digital dengan strategi pembelajaran PAI yang menekankan keterlibatan aktif peserta didik, penguatan karakter religius, dan pengembangan literasi digital Islami. Kontribusi penelitian ini adalah menghasilkan model strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi yang lebih aplikatif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21.

Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi yang tidak hanya memanfaatkan media digital sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi juga sebagai sarana transformasi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan peserta didik. Penelitian ini menempatkan teknologi sebagai bagian integral dari pendekatan pedagogis yang berorientasi pada penguatan spiritualitas, kreativitas, kolaborasi, dan literasi digital. State of the art penelitian ini adalah integrasi antara pendekatan pembelajaran aktif, penggunaan teknologi digital, dan internalisasi nilai-nilai Islam moderat dalam proses pembelajaran. Penelitian ini penting untuk diselesaikan karena perkembangan teknologi yang tidak terkendali dapat berdampak negatif terhadap karakter peserta didik apabila tidak diimbangi dengan pendidikan agama yang adaptif dan inovatif. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan mampu memberikan solusi strategis dalam pengembangan pembelajaran PAI yang relevan dengan tantangan era digital serta mampu membentuk peserta didik yang religius, kritis, dan bijak dalam memanfaatkan teknologi.

Berdasarkan uraian tersebut, research problem dalam penelitian ini adalah bagaimana strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi diterapkan dalam proses pembelajaran serta bagaimana kontribusinya terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan pembentukan karakter peserta didik. Penelitian ini berangkat dari argumen bahwa penggunaan teknologi dalam pembelajaran PAI akan lebih efektif apabila dirancang melalui strategi pedagogis yang sistematis, interaktif, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Strategi tersebut diyakini mampu meningkatkan motivasi belajar, memperkuat pemahaman keagamaan, serta membentuk kemampuan literasi digital Islami siswa. Selain itu, penelitian ini juga berargumen bahwa guru memiliki peran sentral dalam menentukan keberhasilan integrasi teknologi dalam pembelajaran agama. Kontribusi penelitian ini terletak pada pengembangan konsep strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi yang dapat menjadi rujukan praktis bagi guru, sekolah, dan pengambil kebijakan pendidikan dalam menghadapi tantangan pembelajaran abad digital.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian bertujuan memahami secara mendalam strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi dalam konteks alami pembelajaran di sekolah. Studi kasus digunakan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai proses implementasi strategi pembelajaran berbasis teknologi, interaksi guru dan peserta didik, serta makna yang muncul dari pengalaman para informan. Dasar pemilihan studi kasus terletak pada kemampuan pendekatan ini dalam mengeksplorasi fenomena pendidikan secara mendalam dan kontekstual. Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti menginterpretasikan data berdasarkan perspektif informan sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih utuh terhadap realitas pembelajaran PAI berbasis teknologi. Selain itu, pendekatan ini relevan untuk mengungkap dinamika penggunaan media digital, strategi pedagogis guru, dan respons peserta didik terhadap pembelajaran berbasis teknologi dalam situasi pembelajaran yang nyata.

Lokasi penelitian dilaksanakan di salah satu sekolah menengah yang telah menerapkan pembelajaran PAI berbasis teknologi dalam proses pembelajarannya. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada pertimbangan bahwa sekolah tersebut memiliki kebijakan pengembangan pembelajaran digital serta fasilitas teknologi yang memadai, seperti jaringan internet, perangkat multimedia, dan platform pembelajaran daring. Selain itu, sekolah tersebut aktif mendorong guru untuk mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi dalam mata pelajaran PAI. Lokasi penelitian dipilih karena dianggap representatif dalam menggambarkan implementasi strategi pembelajaran berbasis teknologi di lingkungan pendidikan modern. Peneliti juga mempertimbangkan kemudahan akses data, keterbukaan informan, dan keberagaman aktivitas pembelajaran digital yang diterapkan di sekolah tersebut. Dengan demikian, lokasi penelitian diharapkan mampu memberikan data yang kaya dan mendalam mengenai strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi serta dampaknya terhadap proses pembelajaran peserta didik.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk mengamati secara langsung proses pembelajaran PAI berbasis teknologi, interaksi guru dan peserta didik, serta penggunaan media digital dalam kegiatan pembelajaran. Wawancara mendalam dilakukan kepada kepala sekolah, guru PAI, dan peserta didik untuk memperoleh informasi mengenai strategi pembelajaran, pengalaman penggunaan teknologi, serta kendala yang dihadapi dalam implementasinya. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data penelitian berupa perangkat pembelajaran, foto kegiatan, rekaman pembelajaran, dan dokumen kebijakan sekolah terkait pembelajaran digital. Ketiga teknik tersebut digunakan secara terpadu untuk memperoleh data yang valid dan mendalam. Pengumpulan data dilakukan secara bertahap dan berulang agar peneliti mampu memahami fenomena secara komprehensif serta memperoleh data yang sesuai dengan fokus penelitian.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model interaktif yang meliputi kondensasi data, display data, dan verifikasi data. Kondensasi data dilakukan dengan memilih, menyederhanakan, dan mengelompokkan data sesuai fokus penelitian mengenai strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi. Display data dilakukan dalam bentuk narasi deskriptif dan tabel untuk memudahkan peneliti memahami pola, hubungan, dan makna data yang diperoleh. Verifikasi data dilakukan melalui penarikan kesimpulan secara bertahap berdasarkan temuan penelitian di lapangan. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu. Selain itu, peneliti juga melakukan member check kepada informan untuk memastikan kesesuaian interpretasi data dengan pengalaman informan. Pengecekan keabsahan data dilakukan secara berkelanjutan agar hasil penelitian memiliki tingkat kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas yang baik.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Strategi Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi

Strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi dalam penelitian ini didefinisikan sebagai upaya sistematis guru dalam mengintegrasikan perangkat digital, media interaktif, dan platform pembelajaran daring ke dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, keterlibatan peserta didik, serta penguatan nilai-nilai religius. Strategi ini tidak hanya berorientasi pada penggunaan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi juga sebagai sarana membangun pengalaman belajar yang kolaboratif, kreatif, dan kontekstual. Berdasarkan temuan di lapangan, guru PAI memanfaatkan berbagai media seperti video pembelajaran Islami, aplikasi kuis digital, presentasi multimedia, dan platform e-learning untuk mendukung pembelajaran. Selain itu, guru juga mengintegrasikan teknologi dengan metode diskusi, refleksi keagamaan, dan pembelajaran berbasis proyek. Strategi tersebut menunjukkan bahwa teknologi dimanfaatkan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan relevan dengan karakteristik peserta didik generasi digital.


Petikan Wawancara

Indikator

Informan

“Kami menggunakan video pembelajaran dan aplikasi kuis digital agar siswa lebih aktif dan mudah memahami materi PAI.”

Pemanfaatan media digital interaktif

Guru PAI

“Pembelajaran menjadi lebih menarik karena guru sering menggunakan presentasi multimedia dan diskusi online.”

Keterlibatan aktif peserta didik

Peserta didik

“Sekolah mendukung penggunaan teknologi dengan menyediakan fasilitas internet dan pelatihan guru.”

Dukungan kelembagaan

Kepala Sekolah

“Teknologi membantu siswa mencari referensi keagamaan secara lebih luas, tetapi tetap perlu pendampingan guru.”

Literasi digital Islami

Guru PAI

Berdasarkan tabel tersebut, terlihat bahwa strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi tidak hanya bergantung pada penggunaan media digital, tetapi juga dipengaruhi oleh dukungan kelembagaan dan kompetensi pedagogis guru. Guru PAI berupaya menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif melalui penggunaan video, aplikasi kuis, dan multimedia yang mampu meningkatkan perhatian serta partisipasi siswa dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi memiliki fungsi strategis dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan kontekstual. Temuan ini sejalan dengan teori konstruktivisme yang menekankan pentingnya keterlibatan aktif peserta didik dalam membangun pengetahuan melalui pengalaman belajar yang interaktif. Penggunaan teknologi memungkinkan peserta didik lebih aktif dalam mengeksplorasi materi keagamaan sehingga pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru.

Interpretasi lain menunjukkan bahwa strategi pembelajaran berbasis teknologi juga berkontribusi terhadap penguatan literasi digital Islami peserta didik. Guru tidak hanya mengarahkan siswa untuk menggunakan teknologi sebagai sarana mencari informasi, tetapi juga membimbing mereka agar mampu memilah sumber keagamaan yang valid dan moderat. Dalam konteks ini, guru memiliki peran penting sebagai fasilitator dan pembimbing moral di tengah derasnya arus informasi digital. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa pembelajaran PAI berbasis teknologi tidak cukup hanya mengandalkan media digital, melainkan memerlukan strategi pedagogis yang mampu mengintegrasikan aspek spiritual, etika, dan literasi digital. Penelitian terdahulu menjelaskan bahwa penggunaan teknologi dalam pendidikan agama sering kali hanya fokus pada aspek media pembelajaran, sedangkan penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran juga harus diarahkan pada pembentukan karakter religius dan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Hasil observasi menunjukkan bahwa peserta didik lebih antusias mengikuti pembelajaran ketika guru menggunakan media audiovisual dan platform digital interaktif. Siswa terlihat aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan berpartisipasi dalam kuis digital yang diberikan guru. Peneliti juga menemukan bahwa penggunaan teknologi mempermudah guru dalam menyampaikan materi abstrak menjadi lebih konkret melalui visualisasi gambar dan video Islami. Selain itu, suasana pembelajaran menjadi lebih komunikatif karena peserta didik dapat mengakses materi pembelajaran secara mandiri melalui platform daring. Observasi tersebut menunjukkan bahwa strategi pembelajaran berbasis teknologi mampu meningkatkan interaksi edukatif antara guru dan siswa. Peneliti menginterpretasikan bahwa teknologi memberikan ruang pembelajaran yang lebih fleksibel dan partisipatif sehingga pembelajaran PAI menjadi lebih relevan dengan kebutuhan peserta didik era digital.

Secara umum, data penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi diterapkan melalui integrasi media digital, metode interaktif, dan penguatan literasi digital Islami dalam proses pembelajaran. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan penggunaan teknologi agar tetap sesuai dengan nilai-nilai pendidikan Islam. Peserta didik tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga aktif mengeksplorasi, berdiskusi, dan merefleksikan materi pembelajaran melalui media digital. Dengan demikian, strategi pembelajaran berbasis teknologi dipahami sebagai pendekatan pembelajaran yang menempatkan teknologi sebagai sarana transformasi pembelajaran yang lebih aktif, kreatif, dan religius.

Deskripsi data menunjukkan pola bahwa semakin tinggi kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi, semakin tinggi pula keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran PAI. Pola lain yang muncul adalah adanya hubungan antara dukungan fasilitas sekolah dengan efektivitas implementasi strategi pembelajaran berbasis teknologi. Selain itu, penggunaan teknologi yang disertai pendampingan guru terbukti mampu membentuk literasi digital Islami peserta didik secara lebih baik. Pola tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi dipengaruhi oleh sinergi antara kompetensi guru, dukungan kelembagaan, dan partisipasi aktif peserta didik.

Tabel Pengaruh Ideal Strategi Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi

Jabatan Informan

Petikan Wawancara

Indikator

Kepala Sekolah

“Pembelajaran berbasis teknologi membuat sekolah lebih siap menghadapi tantangan pendidikan digital.”

Transformasi pendidikan digital

Guru PAI

“Teknologi membantu kami menjelaskan materi agama secara lebih menarik dan mudah dipahami siswa.”

Efektivitas pembelajaran

Peserta Didik

“Kami lebih semangat belajar karena pembelajaran menggunakan video, kuis online, dan diskusi digital.”

Motivasi belajar

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum

“Strategi pembelajaran digital mendorong guru lebih kreatif dalam merancang pembelajaran.”

Inovasi pedagogis

Interpretasi tabel tersebut menunjukkan bahwa strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi memberikan pengaruh ideal terhadap peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Kepala sekolah memandang bahwa pembelajaran digital menjadi bagian penting dalam transformasi pendidikan modern yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Guru PAI merasakan bahwa teknologi mampu meningkatkan efektivitas penyampaian materi karena pembelajaran menjadi lebih visual, interaktif, dan mudah dipahami siswa. Sementara itu, peserta didik menunjukkan motivasi belajar yang lebih tinggi ketika pembelajaran menggunakan media digital yang menarik. Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi juga sebagai faktor pendorong inovasi pendidikan.

Selain itu, strategi pembelajaran berbasis teknologi juga mendorong perubahan budaya belajar di sekolah. Guru dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam merancang pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik generasi digital. Peserta didik menjadi lebih aktif, kolaboratif, dan mandiri dalam mencari sumber belajar keagamaan. Dalam perspektif teori pembelajaran modern, kondisi ini menunjukkan terjadinya pergeseran paradigma pembelajaran dari teacher centered menuju student centered learning. Penelitian ini memperkuat temuan sebelumnya bahwa penggunaan teknologi dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi penelitian ini menambahkan bahwa keberhasilan strategi tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai pendidikan Islam.

Deskripsi data menunjukkan pola bahwa strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi memberikan dampak positif terhadap motivasi belajar siswa, kreativitas guru, dan transformasi budaya pembelajaran di sekolah. Semakin kuat integrasi teknologi dengan strategi pedagogis yang tepat, semakin besar peluang terciptanya pembelajaran PAI yang efektif, interaktif, dan bermakna. Pola tersebut juga menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran berbasis teknologi memerlukan dukungan kelembagaan, kompetensi guru, serta kesiapan peserta didik dalam memanfaatkan teknologi secara positif dan bertanggung jawab.

KESIMPULAN

Temuan terpenting dalam penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran, keterlibatan peserta didik, serta penguatan literasi digital Islami. Teknologi tidak hanya berfungsi sebagai media pembelajaran, tetapi juga sebagai sarana transformasi pedagogis yang mendorong pembelajaran lebih interaktif, kreatif, dan kontekstual. Hikmah yang diperoleh dari penelitian ini adalah pentingnya sinergi antara kompetensi guru, dukungan sekolah, dan penggunaan teknologi yang terarah dalam membentuk pembelajaran agama yang relevan dengan kebutuhan generasi digital.

Kekuatan tulisan ini terletak pada kontribusinya dalam pengembangan konsep strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi yang mengintegrasikan aspek pedagogis, spiritual, dan literasi digital. Penelitian ini memberikan kontribusi keilmuan berupa penguatan perspektif bahwa pembelajaran agama di era digital memerlukan strategi yang tidak hanya menekankan penggunaan media teknologi, tetapi juga pembentukan karakter religius dan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan praktis bagi guru, sekolah, dan pengambil kebijakan pendidikan dalam mengembangkan pembelajaran PAI berbasis teknologi.

Penelitian ini memiliki keterbatasan pada ruang lingkup penelitian yang hanya dilakukan pada satu lokasi sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas. Selain itu, penelitian ini lebih fokus pada strategi pembelajaran dan belum mengkaji secara mendalam pengaruh teknologi terhadap hasil belajar jangka panjang peserta didik. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya diharapkan dapat dilakukan pada berbagai jenjang pendidikan dan lokasi yang lebih luas serta mengkaji efektivitas strategi pembelajaran PAI berbasis teknologi terhadap pembentukan karakter religius dan kompetensi digital peserta didik secara lebih mendalam.

 

Label: , ,

Kamis, 01 Mei 2025

Menulis yang penting, atau yang penting menulis.


Menulis merupakan bentuk aktifitas yang sangat keren dalam melangsungkan hidup di dunia yang sangat luas dan penuh dengan dinamika yang seksi. Menulis bisa iakukan oleh siapa saja, tapi untuk bertahan laa dan terus meingkatkan keindahan narasi dan keunikannya tentu hanya mereka yang terus tekun menulis dan membaca banyak buku. Menulis dan membaca buku memiliki hubungan yang erat dalam menumbuhkan nilai ruh tulisan yang tertata rapi, harmonis dan asyik untuk dibaca. Siapa yang banyak membaca, tentu akan lebih mudah dalam menulis dengan skop apapun itu.

Dalam Islam, perintah pertama adalah membaca, hal ini selain untuk menambah wawasan, juga untuk mempertajam kemampuan dalam menulis. Untuk mempertajam dan mendalam kjian yang ditulis, tentu harus memiliki banyak buku da artikel yang sudah dibacanya. 

Seiring dengan terus berkembangnya dunia pendidikan, menulis merupakan hal mutlak yang harus dimiliki kemampuannya. Dalam studi sarjana, menulis menjadi keahlian tersendiri untuk kemudian bisa dinyatakan lulus, tulisannya diberi nama skripsi dalam bentuk hasil penelitian yang kemudian disimpelkn lagi dalam bentuk artikel atau jurnal baik terakreditasi sinta, skopus maupun belum terakreditasi.

Dengan banyaknya media untuk menulis, harusnya masing-masing mahasiswa juga diwajibkan oleh perguruan tinggi atau mewajbkan pada dirinya sendiri untuk mempunyai blogger atau website yang menjadi wadah tulisan atau karya tulisnya sendiri sehingga bisa diakses dan dbaca oleh banyak orang di belahan dunia.

Ada banyak tips dan cara untuk menulis yang baik, tapi yang paling baik dan utama adalah memulai untuk menulis dan terus tekun menulis dan membaca sehingga pada akhirnya ketajaman dan keindahan menarasikan tulisan akan dimiliki. 

Dalam Surah Al-Alaq ayat 1-5, Lima ayat ini menekankan betapa pentingnya membaca dan menulis sebagai media atau kunci untuk memperoleh ilmu pengetahuan, sebagai sarana komunikasi dan penyebaran ilmu yang dimilikinya.

Berdasarkan perintah yang kerkandung dalam surah Al-Alaq secara eksplisit sangat jelas bahwa untuk memperoleh ilmu pengetahuan, sebagai sarana komunikasi dan penyebaran ilmu maka harus tekun membaca dan menulis. Tiada car yang paling rekomendasi selain dua hal tersebut.

Di era yang kian menurun minat membca dan keinginan membeli buku, mari bersama-sama menulis secara masif, jangan takut salah, takut tulisannya tidak menarik, tidak banyak yang membaca dan seterusnya. Yang terpenting adalah memulai dan terus tekun menulis, tidak perlu berhalaman banyak dan harus sebaik mungkin. Karena untuk mencapai keahlian tentu dimulai dari usaha dan kedisiplinan dalam menulis untuk mencapai keahlian tersebut



Media menulis penulis adalah santrimenulis.com 

Nama penulisnya Muhammad Zaironi


Label: , , , ,

Senin, 12 Desember 2022

Model Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Karakter Siswa

 

PENDAHULUAN 

Implementasi pembelajaran di Indonesia masih jauh dari perubahan yang signifikan, sehingga pendidikan di Indonesia menjadi stagnan dan statis, hal ini berdampak cukup berat untuk melaju pada posisi sepuluh besar dari negara-negara terbaik dalam sistem pendidikannya. Pendidikan di Indonesia masih saja berada pada posisi rendah di urutan bawah. Negara Indonesia sendiri mendapatkan peringkat 54 pada tahun 2021, yang berarti negara kita telah naik satu peringkat sebelumnya yaitu peringkat 55 pada tahun 2020. Hal ini menjadi PR besar untuk pengella pendidikan di Indonesia. Pengelolaan pendidikan harus benar-benar diperhatikan sehingga hasil dan kualitasnya bisa sesuai dengan napa yang diharahpkan. Hal ini bisa dirubah melalui elastisitas pengembangan sumber belajar dan media pembejaran berbasis karakter siswa.

Faktanya, ikhtiar pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran merupakan sebuah keniscayaan selama ini. Keniscayaan pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran ini didasarkan setidaknya pada dua realitas yang berlawanan. Pada satu satu sisi sumber belajar memiliki sifat yang statis dan kerapkali mendapati pengulangan materi dari satu jenjang ke jenjang berikutnya, namun demikian di sisi lain pelaku pendidikan dituntut untuk memiliki peran yang dinamis dan berkelanjutan. 

Sifat statis sendiri berasal dari komponen sumber belajar berupa benda yang meliputi; buku, manusia, media massa, dan media pendidikan. Sedangkan pada sisi peran, sumber belajar dituntut agar berperan sebagai sumber dari berbagai informasi dan pengetahuan yang diperlukan dalam mengembangkan kompetensi yang diinginkan pada mata pelajaran atau bidang studi, hal ini juga berlaku untuk media pembelajaran. Dengan kondisi tersebut maka sumber belajar dan media pembelajaran sangat penting untuk dikembangkan. Maka, berdasarkan deskripsi yang penulis paparkan di atas, maka penulis tertarik untuk membahas tema ini dengan sub bab sebagai berikut: Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Karakteristik Peserta Didik.


PEMBAHASAN

Urgensi Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran

Melihat perkembangan hasil belajar dan kualitas pendidikan di Indonesia yang masih jauh dari kata terbaik, maka praktisi pendidikan dan pengelola harus lebih ekstra dalam mencar terobosan dan berbagai pengembangan strategi untuk merubah kondisi pendidikan yang berada pada posisi stagnan dan sulitnya melaju pada posisi sepuluh besar pendidikan terbaik di dunia. Maka, di antara cara yang cukup mudah dan dapat diukur keberhasilannya ialah dengan merubah pola mengajar yang terkesan statis dengan melakukan pengembangan sumber dan media pembelajaran berbasiskan karakteristik siswa.

Diantara strategi pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran yang cukup prospektif adalah dengan berbasiskan karakter peserta didik. Hal ini dikarenakan keberadaan sumber belajar dan media pembelajaran selalu terdapat keterkaitan, bahkan tidak bisa dipisahkan dengan kondisi karakter peserta didik di kelas. Sehingga pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran yang baik harus terintegrasi dengan realitas peserta didik di kelas. Mengingat masing-masing karakteristik siswa berbeda-beda, dengan demikia menjadi maklum tatkala banyak sekolahan yang memberlakukan sistem seleksi kemampuan siswa dan kemudian diklasifikasikan menurut kemampuan, kecerdasan dan prilakunya. Maka, pengembangan berbasis karakter peserta didik menjadi salah satu alternatif pengembangan yang terintegrasi dan memungkinkan tercapainya tujuan pendidikan.

Pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran berbasis karakter peserta didik memungkinkan tercapainya proses pembelajaran yang optimal dan terukur. Pasalnya kualitas pembelajaran terkait erat dengan kualitas sumber belajarnya, dan materi akan tersampaikan dengan baik ketika di bingkai melalui media yang menyesuaikan dengan karakteristik siswanya. Di mana proses pembelajaran yang baik akan membutuhkan pengembangan sumber belajar yang baik. Dengan kata lain sebuah proses pembelajaran tanpa pengembangan sumber belajar yang tepat maka tidak mungkin terlaksana dengan optimal. Dengan demikian pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran berbasis karakteristik peserta didik memungkinkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil yang signifikan.

Prinsip umum dalam pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran berbasis karakter peserta didik ialah berpacu dan memperhatikan nilai efektifitas dan efesiensi. Prinsip efektifitas mengarah pada upaya pengembangan yang dapat menghasilkan penghematan waktu, sedangkan efesiensi mengarah pada kemudahan teknis yang praktis dan elastis. Maka, dengan kata lain prinsip pengembangan ini ialah mengarah kepada terciptanya sumber belajar dan media pembelajaran yang dapat mempermudah dan mempercepat proses pembelajaran dengan hasil yang terukur.


Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Karakter Peserta Didik

Memperhatikan definisi sumber belajar yang meliputi segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang. Maka, dengan demikian segala sesuatu baik yang disengaja dirancang ataupun yang telah tersedia yang dapat dimanfaatkan baik secara sendiri maupun bersama-sama untuk membuat atau membantu peserta didik belajar disebut sumber belajar. 

Sumber Belajar Berbasis Karakter Siswa

Proses komunikasi dalam praktik pendidikan tidaklah jauh berbeda dengan proses pembelajaran kecuali pada aspek konteks berlangsungnya komunikasi Proses Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM). Dari berbagai sumber belajar yang ada, diantaranya ialah manusia, bahan, lingkungan, alat dan peralatan dan aktivitas. 


Lima komponen di atas harus saling berkolaboratif dan berpacu dalam satu strategi untuk melakukan pengembangan. yang tidak kalah pentingnya ialah ada pada manusia itu sendiri, yakni guru dan murid. Guru harus lebih memahami psikologi murid, lingkungan, dan karakteristik kelas yang akan diberikan tranfer knowled. Tentu didukung dengan ketersediannya sarana yang memadai. Guru harus lebih inovatif dalam mengelola kegiatan belajar mengajar, punya teknik dan sumber belajar yang dikombinasikan untuk mempermudah murid dalam menerima ilmu yang disampaikan.

Jika ditinjau secara historis, penggunaan sumber belajar dalam dunia pendidikan sudah dikenal sejak lama. Bila menoleh sejarah pendidikan di kalangan umat Islam, maka pada zaman pertengahan Islam fasilitas sumber belajar sudah dikenal meskipun sangat amat sederhana akan tetapi sudah dilengkapi dengan adanya ruangan yang memadai untuk tempat belajar, juga ada rumah-rumah pengajar.
Pada abad ini, trend penggunaan sumber belajar tidak lagi hanya digunakan apa adanya, melainkan dikembangkan terlebih dahulu da dibingkai dengan sebaik mungkin dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Diantara cara yang bisa dilakukan dalam pengembangan sumber belajar ialah dengan merencanakan langkah-langkah secara sistematis. Langkah-langkah sistemstis dalam pengembangan sumber belajar tersebut diantaranya adalah:
1. Menganalisis Kebutuhan dan Karakteristik Belajar Siswa
Sebuah perencanaan sumber belajar didasarkan salah satu indikatornya di dalamnya terdapat kesenjangan. Kesenjangan adalah ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya atau apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi. Dalam pembelajaran yang dimaksud dengan kebutuhan adalah adanya kesenjangan antara kemampuan, keterampilan dan sikap siswa yang diinginkan dengan kemampuan, keterampilan dan sikap siswa yang mereka miliki sekarang.

2. Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata pelajaran, dan guru itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan siswa dapat ditetapkan apa yang hendak dicapai, dikembangkan dan diapresiasi. 

Berdasarkan mata ajaran yang ada dalam petunjuk kurikulum dapat ditentukan hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Suatu tujuan pembelajaran seyogianya memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Menyediakan situasi atau kondisi untuk belajar. 
b. Mendefenisikan tingkah laku siswa dalam bentuk dapat diukur dan dapat diamati.
c. Menyatakan tingkat minimal perilaku yang dikehendaki.

3. Pengembangan Materi Pembelajaran
Sebelum memasuki kelas, kita harus meracang tentang apa yang mesti disampaikan kepada siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, dan pengalaman belajar siswa nantinya mengandung muatan pelajaran, muatan pelajaran mencakup kebutuhan siswa itu sendiri. Muatan pelajaran adalah materi yang disusun oleh guru atau tenaga pengajar, yang diambil dari sumber utama dan sumber penunjang.
Materi disusun berdasarkan tujuan, kompetensi dan indikator belajar yang telah dikembangkan sebelumnya. Kesesuaian materi yang dikemas dengan tujuan, kompetensi dan indikator merupakan jaminan bagi tercapainya hasil belajar yang diharapkan, demikian juga sebaliknya, bila materi disusun tidak merujuk ketujuan, kompetensi dan indikator, maka akan menjauh kan dari capaian hasil belajar yang optimal.

4. Mengembangkan Alat Ukur Keberhasilan
Alat pengukur keberhasilan siswa perlu didirancang sebelum naskah program sumber belajar ditulis atau sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan. Alat ini dapat berupa tes, penugasan atau daftar cek perilaku. Alat pengukur keberhasilan harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan pokok-pokok materi pelajaran yang akan disajikan kepada siswa. Alat pengukur keberhasilan harus bisa digunakan secara tepat saat dibutuhkan dalam pembelajaran, dengan alat pengukur keberhasilan ini bisa dilihat keberhasilan siswa belajar dengan menggunakan sumber belajar yang ada.

5. Pemilihan Jenis Sumber Belajar
Sumber belajar dalam proses pembelajaran mempunyai arti yang cukup penting karena ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan sumber belajar sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan sumber belajar. Sumber belajar dapat mewakili apa yang kurang mampu diucapkan oleh guru dengan kata-kata atau kalimat tertentu, dan dengan demikian anak didik lebih mudah mencerna bahan yang dipelajarinya.

Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Karakter Peserta Didik

Pengembangan media pembelajaran menjadi penting berbasis karakter peserta didik menjadi sangat penting, hal ini berdasarkan kondisi dan karakteristik siswa yang hendak diberikan pengetahuan melalui kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru harus pandai-pandai dan mengetahui psikologi kondisi kelas dan siswanya, sehingga guru bisa memilih media yang elastis dengan kondisi yang ada.
Sebelum memilih media pembelajaran yang akan digunakan, ada beberapa criteria yang harus diperhatikan oleh guru. Sehingga pemilihan media pembelajaran tersebut adalah yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran dan siswa memperoleh hasil belajar yang baik.

Dalam memilih media pembelajaran ada beberapa kriteria yang digunakan yaitu: 
1. Ketepatannya dengan tujuan pengajaran: Media pengajaran yang dipilih atas dasar tujuan tujuan instruksional yang telah di tetapkan. 
2. Dukungan terhadap isi bahan pelajaran: Bahan pelajaran yang sifatnya fakta, peinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa. 
3. Kemudahan memperoleh media: Media yang digunakan mudah diperoleh, mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. 
4. Ketrampilan guru dalam menggunakannya: Diharapkan guru dapat berinteraksi dengan siswa pada waktu menggunakan media tersebut. 
5. Tersedia waktu untuk menggunakannya: Media bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung. 
6. Sesuai dengan taraf berpikir siswa, sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh siswa.

Ilustrasi Implementasi Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Berbasis Karakter Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Fiqh Bab Shalat Kelas VII Tsanawiyah
1. Pada tahap awal, guru membuka pembelajaran dengan salam. Kemudian ketua kelas diminta memimpin doa jika pelajaran yang dilaksanakan merupakan jam pelajaran pertama
2. Guru memimpin pembacaan fatihah yang dihaturkan kepada Rasulullah dan guru-guru beserta pejuang pendidikan untuk mengharap keberkahan dan manfaat dari ilmu yang akan dipelajarinya
3. Guru meminta siswa membuka sumber belajar yang tersedia, seperti buku, LKS, dll.
4. Guru menentukan metode pembelajaran yang inovatif dan elastis dengan materi yang akan disampaikan.
5. Penyajian materi dikolabotari dengan metode yang elastis dan dengan materi dan kondisi psikologi siswa. Materi disajikan dengan mudah dan menarik dan ditampilkan melalui media yang adaptif.
6. Metode yang variatif dalam mengajar akan menghndari spekulasi pada guru bahwa guru ini mengajar dengan cara yang stagnan, statis dan begitu-begitu saja sehingga membuat murid bosan.
7. Guru memilih media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa. Dalam hal ini media yang sangat mendukung untuk menampilkan materi bab shalat ialah proyektor dan juga youtube dengan catatan contoh yang ditampilkan dalam youtube tersebut sesuai dengan kaidah yang ada dalam sajian di kitab-kitab.
8. Guru menyajikan materi pelajaran sesuai dengan apa yang sudah dipaparkan dalam format rencana pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan ini disusun dengan menyesuaikan karakteristik siswa di kelas, mengingat masing-masing kelas mempunyai perbedaan karakter.
9. Guru membuka lebar pintu untuk bertanya bagi siswa, dalam hal ini metode demontrasi merupakan metode yang sesuai dan memberikan siswa untuk aktif. 
10. Selain materi disampaikan dengan sajian yang menarik melalui Media Proyektor, Guru harus memberikan contoh yang ditampilkan dalam bentuk gambar yang kemudian dicontohkan oleh gurunya dan murid diminta mengikutinya.
11. Dalam menyampaikan materi shalat, tidaklah bisa disampaikan dengan baik dan dengan hasil yang maksimal tanpa adanya contoh dan praktek yang baik.
12. Menampilkan contoh yang disambil dari youtube merupakan cara yang baik, sehingga menanamkan persepsi bahwa materi yang ditampilkan melalui proyektor terlihat berkelanjutan dengan dikembangkannya melalui contoh yang tersedia pada youtube.
Berikut Skema Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Karakter Siswa.



KESIMPULAN
Strategi pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran dengan berbasiskan karakter peserta didik cukup prospektif. Hal ini dikarenakan keberadaan sumber belajar dan media pembelajaran selalu terdapat keterkaitan, bahkan tidak bisa dipisahkan dengan kondisi karakter peserta didik di kelas. Sehingga pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran yang baik harus terintegrasi dengan realitas peserta didik di kelas.
Pengembangan media pembelajaran menjadi penting, hal ini berdasarkan kondisi dan karakteristik siswa yang hendak diberikan pengetahuan lelalui kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru harus pandai-pandai dan mengetahui psikologi kondisi kelas dan siswanya, sehingga guru bisa memilih media yang elastis dengan kondisi yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
Aswan Zain dan Bahri Syaiful Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: RinekaCipta, 1997)
Arief. S. Sadiman, Media Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005)
Hadari Nawawi, Pendidikan dalam Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993)
https://www.liputan6.com/global/read/5051493/daftar-negara-dengan-pendidikan-terbaik-tahun-2022-ini-posisi-indonesia#:~:text=Negara%20Indonesia%20sendiri%20mendapatkan%20peringkat,peringkat%2055%20pada%20tahun%202020.
M. Syahran Jailani, Abdul Hamid. Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Karakter Peserta Didik (Ikhtiar optimalisasi Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Nadwa, Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 10, Nomor 2, Oktober 2016
Mukhtar dan Iskandar, Desain Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (Sebuah Orientasi Baru),(Jakarta: Gaung PersadaPress, 2010) 
Muhammad Attiyah Al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Terj. Bustami A. Gani dan Djohar Bahry, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974)
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2011)
Teni Nurrita. Pengembangan Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Misykat, Volume 03, Nomor 01, Juni 2018


Label: , , , , ,

Jumat, 14 Oktober 2022

Salah kritik dan kritik yang salah



Kehidupan yang dihadapkan dengan serba kemudahnnya turut serta memberikan banyak akses yang untuk semua manusia tanpa membeda-bedakan antara kaum, ras, suku dan umat manapun. Kemudahan akses ini seakan membuat belahn dunia hanya bertetangga dan berhadapan latar serta teras rumah saja.

Perkembangan prilaku sosial turut andil dalam pembentukan karakter masing-masing manusia individual, sehingga antara gaya bahasa, intonasi dan pengucapannya juga berbeda-beda. Hal semacam ini harus difahami betul oleh setiap manusia. Selain karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari genggaman kehidupan sosial yang bermacam-macam latar belakang.

Dengan semakin canggihnya teknologi, manusia kerap kali lupa pada batas-batasan pemakaiannya, seperti HP, Laptop dll. Disisi umat manusia juga dihadaptakan dengan kecanggihan media sosial yang membuat kehidupan manusia memiliki dua alam, alam nyata dna alam tidak nyata melalui media sosial tersebut.

Dengan menggunakan media sosial, manusia yang tidak punya keilmuan bertetangga yang baik dalam sosial non nyata akan dengan mudah mengekspresikan sikap dan prilakunya, pun juga dalam menyikapi konten-konten yang ada dalam media sosial tersebut. Sulitnya lagi ketika umat manusia tersebut tidak mempunyai bekal keilmuan yang baik, sehingga membuatnya dengan mudah mengkritisi, mencaci, menghujat dan mencerca orang lain lewat media sosial.

Kritik sosial seharusnya lebih mendahulukan keilmuan dan cara yang bijak, tentu dengan bahasa yang baik. Kritik yang mendahulukan ego dan emosional akan berdampak pada tidak tersampainya subtansi kritiknya. Kritik yang fokus pada subtansi pembahasan yang disertai dengan sikap yang baik akan mudah diterima dari pada kritik yang mendahulukan otot dan dengan intonasi yang meninggi, hal ini akan membuat lawan diskusi atau orang yang dikritisi tidak melihat subtansi kritiknya, tapi fokus pada sikapnya yang kurang baik dalam mengkritisi.

Dalam mengkritisi, yang baik adalah tatkala pengkritik memiliki kapasitas keilmuan pada bidang kajian yang dikritisi, sehingga subtansinya menyentuh dan imbang dalam kajiannya. Amat sangat tidak elok ketika mengkritisi tapi tidak mempunyai fan keilmuan dibidang yang dikritisi, hal yang demikian hanya akan membuat diskusi ata dabat kusir yang pada akhirnya menuju pada pribadinya, bukan esensi subtansi pembahasannya. (AdHominem)

Kritik akan mudah diterima jika yang mengkritik mempunyai keilmuan dibidangnya, dengan sikap yang baik dan santun, dan mendahulukan bahasa yang baik. Bahkan seharusnya kita tidak mengritisi orang lain sebelum kita pakar dibidang keilmuan yang hendak dikritisi.

Imam Al Zhahabi menyinggung terkait hal ini, yakni sebagai berikut:

الجَاهِلُ لا يَعلَمُ رُتْبَةَ نَفْسِه ، فَكَيْفَ يَعْرِفُ رُتْبَةَ غَيْرِهِ "

الإمام الذهبي

Orang bodoh tidak tahu level (kapasitas keilmuan) dirinya, maka bagaimana ia bisa memahami level orang lain (yang lebih pintar)? - Al Zhahabi -

Dari pendapatnya Imam Al Zhahabi di atas, dapat kita simpulkan bahwa seharusnya kita tidak mengkritisi suatu statmen atau keilmuan seseorang sebelum kita mahir dibidang tersebut, kita menguasai dan memang benar-benar keilmuan kita ada dibidang tersebut. Denga demikian tidak terkesan suul adab dan merendahkan diri sendiri. Karena megkritisi tanpa punya keilmuan pada bidang yang dikritisi itu sama halnya dengan merendahkan diri sendiri. Karena ketika diminta pendapatnya secara ilmiyah dan berdasar dia sudah pasti hanya akan diam dan ngotot tanpa menyuguhkan dalil-dalil yang mendukung terkait kritiknya. 

Jika dikatakan bahwa orang yang bermaksiat ialah hilang imannya seketika melakukan maksiat itu juga, maka orang yang mengkritisi keilmuan seseorang tapi dia tidak punya fan keilmuan atau ia tidak mengetahui sedikitpun ilmu terkait hal yang dikritisi, maka saat itulah ia dalam keadaan benar-benar bodoh dan mempertontonkan kebodohannya.

Dalam mengkritisi keilmuan atau sikap seseorang, hendaknya ia faham betul kaidah ilmu sosial, akhlak dan pengetahuan terkait yang dikritik. Jika tidak, maka dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

Salah kritik adalah ketika mengkriti orang yang lebih pintar dan dia tidak punya keilmuan terkait yang dikritik. Kritik yang salah ketika dia tidak mendahulukan akhlak dan pengetahuan dala, mengkritik, sehingga ia akan mengkritisi apapun yang ia anggap salah dan tidak sesuai dengan pemikirannya. tapi dia sendiri tidak punya keilmuan dibidangnya secara mendalam sehingga ia perpatokan pada kata POKOKNYA, INTINYA.Bukan berdasarkan menurut ini, berdasarkan keterangan dibuku ini, dikitab ini daN seterusnya. 

Lebih baik kita diam dari pada mengusik orang lain dengan kebodohan kita, lebih  baik kita diam dari pada kita merendahkan diri kita sendiri dengan kebodohan kita. dan lebih baik kita diam dari pada kita mengkritik orang lain, tapi justru kita mempertontonkan kebodohan kita. 

Dan yang lebih baik lagi adalah kita fokus belajar, belajar dan belajar. Tapi jangan lupa bekerja dan berbadah. Bagaimana bisa beribadah dengan baik jika tidak punya ilmu. Karena itulah kita diwajibkan untuk terus belajar untuk memperbaiki kehidupan kita dalam berbagai aspek secara komprehensif.


Label: , , , ,

Kamis, 15 September 2022

Pertemuan kita


Kamis 15 September 2022. Adzan subuh berkumandang disana sini, saling bersahut-sahutan dengan nada meleok leok dan menari nari dengan keindahannya sipemilik suara. Seluruh santri seperti kebiasaan dan rutinitas pada umumnya di mana setelah sholat subuh berjamaah kemudian dilanjutkan dengan kajian kitab yang langsung dipimpin oleh Kiyai. Kajian kitab hari kamis pagi ini dikhususkan untuk santri kelas lima diniah sampai kelas ma’had Ali. Sistemnya santri ditunjuk untuk membaca memaknai gundul kemudian diterjemahkan dan akhirnya kiyai memberikan penjelasan terkait dengan luas dan jelas. 

Rutinitasnya pengajian kitab ini maksimal jam 06.15 pengajian sudah selesai, namun demikian aku tidak mengikuti pengajian sampai selesai dikarenakan harus berangkat ke kampus yang jaraknya antara pondok dengan kampus cukup jauh, jika jalanan macet bisa memakan waktu sampai satu setengah jam. Tidak mengikutinya pengajian kitab sampai selesai pada mengajian kitab ini tidak begitu saja dilakukan dan semaunya. Namun sebelumnya sudah matur dan izin kepada kiyai dikarenakan perkuliahan sudah tatap muka termasuk untuk mahasiswa tingkat pascasarjana, khususnya program doktor PAI-BSI UIN Maliki Malang. Terlebih perkuliahan jam pertama dimulai di waktu yang cukup pagi, yakni jam 07.15-09.19. Sehingga agar tidak telat mengikuti perkuliahan diharuskan berangkat lebih awal dan pagi serta harus tahan dengan dinginnya udara di pagi hari.

Setelah sampai di kampus 2 UIN Maliki Malang yang dikhususkan untuk perkuliahan mahasiswa pascasarjana tingkat magister dan doktoral. Aku kemudian menuju ruang lobi, menuju ke lantai tiga dengan menaiki lif. Memasuki lif kemudian menekan angka tiga yang menunjukkan menuju lantai tiga Gedung B, di mana ruangan di lantai tiga rata-rata diperuntukkan untuk mahasiswa magister dan doktor PAI dan MPI. Gedung B tentu berbeda dengan Gedung A yang mana di Gedung A biasanya dikhususkan untuk mahasiswa PBA dan PGMI. Sehingga tidak ada alasan bagiku untuk bertemu dengan si dia. wkwkw..

Perkuliahan berjalan seperti biasanya, di minggu ke dua perkuliahan ini Sebagian dosen baru memulai pertama perkuliahan tatap muka dikarenakan sebelumnya ada beberapa dosen yang belum bisa masuk kelas mengajar, sebab jadwal beliau mengajar ada yang kres atau tabrakan dengan jadwal mengajar di kelas yang lainnya. Terlebih bagi ketua kelas yang menjadi penanggung jawab untuk berkomunikasi dengan dosen harus ekstra dan santun dalam mengubungi dosen untuk memberi tahu jadwal mengajarnya dan menyesuaikan juga dengan jadwal mengajarnya teman-teman kelas di masing-masing kampus tempat mengabdinya. Karena sudah tidak asing lagi bahwa mahasiswa S3 mayoritas sudah banyak yang bekerja baik mengabdikan diriy sebagai dosen ataupun pekerjaan lainnya.

Tepat jam pertama usai, 10 menit kemudian dilanjutkan dengan perkuliahan mata kuliah ke dua yang dibimbing langsung oleh Prof Dr. Hj. Sutiah, M,Pd. Beliau cukup menyenangkan dalam mengajar, penjelasannya bagus dan luas menunjukkan wawasannya sangat luas dan keilmuannya cukup tinggi dan kompeten. dua jam perkuliahan dengan beliau pada mata kuliah Studi Mandiri, kemudian mahasiswa istirahat kurang lebih satu jam yang diperuntukkan sholat dan makan sebelum melanjutkan perkuliahan ke tiga dan seterusnya bagi mahasiswa yang masih ada jadwal kuliah setelah dzuhur.

Namun demikian, teman-teman kelas PAI-BSI semester dua justru memilih makan dulu kemudian sholat, bukan niat menomor duakan sholat dan lain-lain. Namun memang pada dasarnya kita belum makan pagi, terlebih yang belum menikah dan berangkat dari pesantren, siapa yang mau memasak untuk kalangan yang seperti ini? wkwkwk. Istri saja belum punya hehe. Bahkan mereka yang sudah berkeluargapun rata-rata juga belum sarapa dikarenakan memang berangkat kuliah cukup pagi.

Setelah makan selesai, tiba-tiba akupun dikagetkan dengan wajah cewek yang sekilas mirip dengan dia, dia yang istimewa, dia yang selalu ingin dilihat, dia yang selalu disebut dalam doa, dia yang mau menjadi bagian dalam hidup ini nantinya. iya, dia tunanganku, dia mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang prodi PGMI yang masih menjalani perkuliahan semester tiga. Meskipun dia S1 dan S2 nya di UIN Maliki, begitupun denganku S2 nya di UIN Maliki dan kemudian dilanjutkan studi doktor di UIN Maliki juga. Namun kita sebelumnya tidak pernah bertemu dan dipertemukan. Bahkan ketika kita sudah bertunanganpun ketika kuliah juga tidak pernah bertemu, selain karena Gedung perkuliahan kita beda, aku di Gedung B lantai tiga dan dia di Gedung A lantai tiga juga. Meskipun kemungkinan untuk bertemu sangat besar, karena antara lantai tiga Gedung A dan B itu ada jalan penyambung, juga hari perkuliahan kita sama, yakni hari kamis dari pagi sampai sore. Bisa saja kita janjian, Namun kita tidak menghendaki yang demikian.

Ketika perkuliahan terakhir sudah usai, kemudian aku dan teman-teman pulang. Dan tanpa disengaja kitapun bertemu dan ini merupakan pertemuan kali pertama kita, pertemuan ini tanpa kita sengaja, tidak ada janji dan semacamnya. Tepatnya ketika aku mengendarai motor untuk keluar dari kampus bersama teman untuk beli makan, dan dia ternyata baru usai melaksanakan sholat asar bersama dengan teman-teman kelasnya. 

Pada awalnya aku lebih dahulu melihat dia sedang memasang sepatu uniknya, aku lebih memilih pura-pura tidak tau wkwkwk. Meski pada akhirnya dia lebih dahulu menyapa dan memanggilku dengan panggilan yang menurutnya keras tapi sedikitpun aku tidak mendengarnya, yakni dengan panggilan PAK USTAADD..  entah apa yang membuat aku tidak bisa mendengar panggilannya ini, mungkin karena waktu itu aku sedang fokus mendengarkan teman yang bertanya-tanya soal tugas yang kebetulan ikut motorku, dia dosen di UNZAH Genggong. Atau mungkin memang begitulah dahsyatnya pertemuan sehingga telingapun bisa tuli, mata bisa pura-pura tidak mengetahui dan mulut berat untuk angkat suara. wkwkwk.

Iya, memang kita tidak ada panggilan istimewa, mungkin memang begitu. Berbeda dengan orang-orang di luar sana yang masih pacaran saja panggilannya sudah satu digit lebih menggelitik di atas panggilan suami istri yang sah, ada yang memanggil sayang, bebeb, hubbi, papi mami, Abi umi dan seterusnya. Kita lebih menghindari panggilan-panggilan semacam itu atau panggilan yang lainnya. kita lebih berusaha menggunakan aku dan kamu sehingga meminimalisir adanya panggilan yang lainnya. Paling mentok ya panggilan MAS dan ADEK, hehehe.. Itupun sudah membuatku berasa dibacakan syair-syair yang cukup dalam maknanya. Kata ustadzku dulu, panggilan MAS dari pasangan itu membuat telinga gerimingan dan jantung berdebar. wkwkwk

Dalam pertemuan itu kita hanya bertukar sapa dan saling menundukkan kepala tanda sapa telah usai. Namun demikian dia masih memberiku bonus dari pertemuan yang melahirkan sapa, yakni bonus senyumnya yang khas, manis, unik dan indah. hehe.. Senyum yang ingin selalu aku lihat terbitnya, keindahannya dan kerenyahannya. loh kok renyah, memangnya ada senyum yang mlempem? ya ada dong, senyumnya depkolektor wkwkwk.

Meski panggilan dia “PAK USTAADD” tidak aku dengar, namun dia tetap sumringah menyapaku, ya seperti orang yang baru kenal, malu-malu tapi mau disapa. hehehe. tapi kita memang baru kenal loh ya. singkat dan Alhamdulillah mendapatkan jalan yang baik. Doakan kita ya, semoga seterusnya baik dan hidup bersama dalam ikatan halal sampai ke surganya. Intinya yang terbaik.

Huh, jadi semakin mengerti makna dari jawaban Qais ketika ditanya perihal pilihan antara dunia seisinya dan laila. Qais berkata bahwa antara dunia dan seisinya lebih aku cinta sebutir debu yang pernah hinggap pada sandalnya laila. Wkwkwk. 

Begitu dahsyatnya goncangan cinta, bahkan pernah diceritakan tatkala salah satu sahabat terkena panah saat peperangan. Untuk mencabutnya justru ketika ia melaksanakan sholat. Sholatnya kita tentu berbeda dengan kualitas sholatnya para sahabat tersebut. Sahabat nabi sholat sedangkan panah yang menancap dicabut oleh sahabat yang lain, tapi justru tidak ada rasa sakit yang sahabat rasanya. Yang demikian sholat yang benar-benar khudur, khusu' dan ada cinta didalamnya.

Diantara dahsyatnya pengaruh cinta ialah ketika sayyidina abu bakar terkena gigitan ular dan dia sedikitpun tidak menggerakkan kakinya, semua itu ia lakukan karena Baginda Rasulullah sedang tertidur dipangkuannya. Dahsyat bukan pengaruhnya cinta? Cinta akan menjadi baik jika dikendalikan dengan asas-asas yang baik, benar dan mulia. Punjuga sebaliknya, cinta akan membawa pada kemaksiatan dan kemungkaran jika tidak dapat mengendalikan ego dan nafsunya.

Seketika itu, aku yang awalnya sangat lapar, ketika sampai di warung bukannya langsung memesan makanan tapi memastikan senyumnya yang tadi sama persis dengan senyumnya dia ketika foto sama bibik memakai HP ku, wkwkw. Jadi pas dia ke rumah dengan keluarganya, bibik foto sama dia dan menggunakan HP aku, jadi untuk dapat foto dia tidak perlu repot-repot hehehe.

Sejujurnya, aku sendiri takut untuk menyapanya, gugup untuk berucap dan angkat suara. Mungkin karena banyak kata yang pernah menyakiti diriku sendiri, banyak fenomena yang menyakitkan pada perjalanan hidup sebelum kenal dengan dia, sehingga benar-benar bingung mau menyapanya dengan cara bagaimana dan seperti apa, bagiku satu kata yang membuatku takut untuk mengulang merangkai kata itu akan selalu aku ingat, bahkan ketika aku bertemupun akan berfikir lama untuk menyapanya hanya karena bingung untuk memilih kata, kata yang simple dan cukup santun sebagai sapaan. Padahal ini ke tunaganku sendiri, tapi ya begitulah. jenenge ae isin.. Selain karena dia sedang bersama dengan temannya, sekilas pertemuan itu saja sudah membuat Sebagian temannya bertanya-tanya. siapa tadi yang dipanggilnya dengan panggilan PAK USTAADD, kenapa kamu tiba-tiba senyum-senyum juga, hehehe.. Mungkin dia sudah cerita panjang lebar tentang kita, khususnya tentangku wkwkwk.

Kamis, terimakasih untuk hari ini, hari dimana aku mencari dan mempelajari ilmu, hari dimana aku bertemu dengan kekasihku, eh tunanganku maksudnya. Dipojok masjid yang tiba-tiba mempertemukanku dengan dia tiba-tiba tanpa disangka dan tanpa ada janji di antara kita. Kita yang kemudian saling sapa, menundukkan kepala tanpa akhir dari sapa. Disitulah aku melihat senyuman mahasiswi berkarakter Ulul Albab, hihihi. Duh Gustii,, bahagiane aku dino iki, meski tugas kuliah tambah dikerjakne ora tambah mari, tapi tambah dikek i lan diimbui. Maturnuwun Gusti, matur nuwun sanget. Aku memang pernah gagal merawat cinta dan merawat restu orang tua melalui dia yang berlalu. Tapi tolong, untuk aku dengan dia yang sekarang, jadikan kita yang sudah terikat tunangan ini terus menjadi yang lebih baik, giat belajar, hingga pada waktunya nanti kita disatukan dalam ikatan yang sah. ikatan yang membolehkan aku memetik senyumnya, ikatan yang membolehkan aku memandangnya lebih lama dan berlama-lama dalam memandangnya. Ikatan yang membolehkan aku duduk berdua dan membahas visi misi dan tujuan rumah tangga yang agamis, dan harmonis sesuai kaidah-kaidah dalam Islam.

Gusti, maturnuwun sanget sampun maringi dek e seng gemati, sholihah semangat belajar lan pinter ngaji. Maturnuwun sanget Gusti..


Caffe Jemblung, Malang, 15 September 2022


Aku, seng bok celok MAS dek. wkwkwk

Label: , , , ,

Relasi Pendidikan dan Ekonomi


Seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan terus melakukan ambil sikap. Tidak sedikit jumlah siswa atau pelajar hingga tingkat mahasiswa yang terpanggil untuk terus sekolah dan melanjutkan kuliahnya ke jenjang tertinggi. Terlepas dari apapun tujuan awalnya mereka belajar, untuk apa mereka kuliah dan apa cita-cita mereka. Yang jelas, semuanya adalah sikap yang mulia ketika tetap mau belajar dan terus belajar.

Namun demikian, tetap saja banyak orang yang berfikiran sempit dan menceloteh mereka yang memilih lintas pendidikan dari pada bekerja sejak dini dan enggan belajar. Bagi mereka bekerja bisa kapan saja dan dengan profesi apaun itu yang penting tidak menyalahi kaidah kerja yang benar dan menghasilkan uang yang halal. Berbeda halnya bagi mereka yang memilih kerja sejak usia kecil dan enggan belajar dengan dalih ijazah tidak menjamin kekayaan dan pendapatan harta yang fantastis. Cara berfikir yang demikian sebenarnya salah dan tidak dapat terus diabaykan begitu saja, harus ada stimulus dan sikap yang dapat memberikan merekapemahaman agar orang yang belajar tidak selalu dianggap memilih jalan yang kurang tepat dengan alasan mereka sebagai berikut:

1. Ijazah tidak menjamin harta kekayaan

2. Ijazah tidak menjamin pendapatan harta yang fantastis tiap bulan

3. Lebih baik bekerja sejak kecil dan tidak perlu sekolah karena dua alasan di atas

Pada dasarnya antara pendidikan dan ekonomi itu sangat erat kaitannya, ini tidak lagi soal konsep kebarat-baratan tapi dalam islam sudah disampaikan sejak dahulu. Bagaimanapun konsep yang dibangun oleh mereka, tetap saja mereka enggan memasukkan peran agama dalam masalah ekonomi. Hal ini berbeda dengan konsep dalam islam yang selalu menghadirkan peran agama dalam konsep ekonomi. 

Islam selalu menyikapi perkembangan ekonomi, meskipun ada saja opini liar yang mengatakan bahwa agama tidak dapat menggerakan kehidupan ekonomi, lebih-lebih ekonomi kapitalis. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa agama dan ekonomi merupakan dua ranah berbeda yang memiliki titik tekan dan tujuan yang berbeda pula.

Dalam Islam selalu ada kajian terkait keduanya, seperti kajian tentang Agama dan Pendidikan: analisis relasi dan implikasinya dalam upaya pengembangan ekonomi, pengembangan ekonomi berbasis syariah di era digital, fiqh (islamic jurisprudence) dan perubahan ekonomi (economics exchange) antara idealitas dan ralitas, konsep islam tentang kepemilikan (islamic concept of ownership) dan implikasi ekonominya (its economic implications), instrumen ekonomi islam untuk kesejahteraan sosial: eksplorasi potensi zakat, infak, sadaqah dan wakaf uang, teori dan perilaku konsumsi dalam perspektif islam: memotret realitas sosial masyarakat era modern.

Dalam Islam apapun yang terkait dengan ekonomi selalu menghadirkan telaah dan konsep agama,baik mulai dari cara kerjanya dan panduan mentasorrufkan harta yang didapatkannya. Kehadiran agama dalam ekonomi bukan untuk mempersempit cara mendapatkan uang, cara kerja dan mengelola keuangan. Justru untuk kebaikan Bersama karena dalam islam selalu mendahulukan kemaslahatan umatnya.

Paparan di atas setidaknya sedikit memberikan bantahan terhadap statemen atau pandangan orangf barat yang mengatakan bahwa Islam menghambat kemajuan. Beberapa kalangan mencurigai Islam sebagai faktor penghambat pembangunan (anobstacle to economic growth). Kendatipun pandangan ini berasal dari pemikir barat namun tidak sedikit dari kalangan pemikir muslim yang mengamininya (Mohammad Thoyyib Madani, Agama Dan Pendidikan: Analisis Relasi Dan Implikasinya Dalam Upaya Pengembangan Ekonomi, Desember 2021).

Persepsi di atas jelas sangat tidak sesuai dengan realitas yang actual dan factual. Persepsi yang salah seperti ini setidaknya disebabkan adanya kesalah pahaman terhadap Islam itu sendiri. Sehingga seakan-akan menjustifikasi bawa Islam merupakan agama yang hanya berkaitan dengan masalah ritual saja, bukan hadir sebagai suatu sistem yang komprehensip dalam cakupan aspek kehidupan umat manusia, baik terkait ritual ataupun kewajiban, sosial dan juga ekonomi yang menjadi motor penggerak roda perekonomian seluruh umat semesta alam.

Menurut Sjafruddin, dalam kehidupan ekonomi perilaku individu itu tidak lepas dari dua motif didorong, yaitu motif ekonomi dan motif agama. Motif ekonomi sendiri tidak lepas dari dorongan adanya rasa takut terhadap kekurangan dan kemelaratan hidup(miskin) sehingga membuat manusia selalu berupaya mengumpulkan harta sebanyak mungkin. Perasaan takut yang demikian dapat menjadikan gaya hidup manusia menjadi makhluk serakah dan berambisi besar tanpa memperhatikan panduan dalam kaidah dalam agama.

Sebaliknya agama menurut Sjafruddin justru mengajarkan manusia untuk senantiasa menjauhkan diri dari perasaan takut. karena memang yang wajib ditakuti hanyalah Allah SWT. 

Kendati demikian bukan berarti dalam Islam tidak menganjurkan umatnya untuk bekerja keras dalam mencari nafkan dan menjadi orang yang kaya raya. Islam tetap menginstruksikan umatnya untuk semangta bekerja, bekerja keras dan bekerja cerdas untuk menghasilkan uang yang banyak dan tentunya halal dengan kaidah-kaidah agama islam yang hadir di dalamnya. Allah berfirman dalam Surat al-Jum’ah ayat 9-10 sebagai berikut:

  يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ، فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah, ayat 9-10)

Dari penggalan di atas terdapat instruksi bahwa setelah usai mengerjakan sholat jum’at hendaknya berpencar untuk mencari karunia Allah, tentu diantara interpretasi dari penggalan ayat ini adalah untuk mencari nafkah. karena nafkah bagian dari karunia dari Allah.

Syekh Abu Manshur al-Maturidi mengatakan:   

وقوله - عز وجل -: (فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون (10) أي: رحمة الله؛ هذا خرج في الظاهر مخرج الأمر، ولكنه في حكم الإباحة عندنا؛ لأن هذا أمر خرج على أثر الحظر،    

Artinya, “Firman Allah “apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”, maksudnya beruntung mendapat rahmat Allah. Ayat ini secara lahir dibentuk dalam kata perintah, namun berada dalam hukum ibahah (memperbolehkan) menurut pendapat kami (Ahlussunnah wal Jamaah), sebab ini adalah perintah yang disebutkan setelah larangan.”

Ayat di atas setelah memerintahkan untuk sholat jumat kemudian menganjurkan atau membolehkan umatnya untuk berpencar Kembali agar menjari karunia Allah. Manusia sendiri sejatinya adalah homo economicus, meskipun juga harus disandingkan dengan pandangan yang menyatakan bahwa manusia itu adalah makhluk homo religious. Sehingga mereka akan selalu memanfaatkan alam kebendaannya ini dengan cara yang sebaik-baiknya, yang pada gilirannya adalah untuk mendatangkan kemaslahatan.

Allah swt. Berfirman dalam hadist qudsi

يا دنيا اخدمي من خدمني واستخدمي من خد مك

Artinya, “Wahai dunia, berkhitmadlah kamu kepada orang yang telah berkhitmad kepada-Ku, dan perbudaklah orang yang mengabdi kepada-mu”. 

dari paparan di atas menjelaskan bahwa agama sangat erat kaitannya dengan ekonomi, agama Islam sendiri memerintahkan agar umatnya selalu belajar dan menuntut ilmu sepanjang masa. Sehingga dnegan pengetahuannyalah kemudian ia selain bisa mempunyai keilmuan untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat islam juga kaidah-kaidah hidup bersosial yang kaitannya erat dengan ekonomi. 

Bagaimanapun merea memisahkan relasi antara ilmu dan ekonomi, tetap saja sampai kap[anpun dalih mereka tidak dapat memutus relasi keduanya. karena memang keduanya sangat erat kaitannya dalam kehidupan manusia. Allah memerintahkan umat manusia selain untuk belajar juga diperintahkan untuk mencari nafkah sehingga dapat bertahan hidup dengan baik. 

Jika ada yang mengatakan bahwa ijazah tidak ada kaitannya dengan cara mendapatkan harta, tentu bisa dibenarkan. Namun dengan mempunyai keilmuan akan menyadarkan kita bahwa dengan kita kaya bukan berarti harus lupa pada siapa yang maha pemberi dan siapa yang harus selalu disembah dan diesakan. Kendatipun mencari ilmu bukan semata-mata untuk mendapatkan harta yang banyak dst. belajarhanyalah untuk melajar, mencari ridho Allah dengan mempelajari ilmunya dan berupaya mentas dari kebodohan-kebodohan yang selalu menghantui umat manusia. 

Islam sendiri mempunyai konsep dan pandangan yang jelas mengenai perihal harta dan kegiatan ekonomi. Pandangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: Pertama: pemilik mutlak terhadap segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini, termasuk harta benda, adalah Allah SWT. Kepemilikan oleh manusia hanya bersifat relatif, sebatas untuk melaksanakan amanah mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuan-Nya. Kedua; status harta yang dimiliki manusia adalah harta sebagai amanah, sebagai perhiasan hidup yang memungkinkan manusia bisa menikmatinya dengan baik dan tidak berlebihan, sebagai ujian keimanan, sebagai bekal ibadah, yakni untuk melaksanakan muamalah di antara sesam manusia, melalui kegiatan zakat, infak dan sedekah, Ketiga: Pemilikan harta dapat dilakukan antara lain melalui usaha yang halal dan sesuai dengan aturan-Nya. Keempat: dilarang mencari harta, berusaha, atau bekerja yang dapat melupakan kematian, melupakan dzikrullah, melupakan shalat dan zakat, dan memusatkan kekayaan hanya pada sekelompok orang kaya saja. Kelima: dilarang menempuh usaha yang haram, seperti melalui kegiatan riba, perjudian, berjual beli dengan barang yang dilarang atau haram, mencuri, merampok, peggasaban, curang dalam takaran dan timbangan, melalui cara-cara yang batil dan merugikan, dan melalui suap menyuap (Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik (Jakarta: Gema Insani Press, 2001).





Label: , , , , , ,