Jumat, 14 Oktober 2022

Salah kritik dan kritik yang salah



Kehidupan yang dihadapkan dengan serba kemudahnnya turut serta memberikan banyak akses yang untuk semua manusia tanpa membeda-bedakan antara kaum, ras, suku dan umat manapun. Kemudahan akses ini seakan membuat belahn dunia hanya bertetangga dan berhadapan latar serta teras rumah saja.

Perkembangan prilaku sosial turut andil dalam pembentukan karakter masing-masing manusia individual, sehingga antara gaya bahasa, intonasi dan pengucapannya juga berbeda-beda. Hal semacam ini harus difahami betul oleh setiap manusia. Selain karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari genggaman kehidupan sosial yang bermacam-macam latar belakang.

Dengan semakin canggihnya teknologi, manusia kerap kali lupa pada batas-batasan pemakaiannya, seperti HP, Laptop dll. Disisi umat manusia juga dihadaptakan dengan kecanggihan media sosial yang membuat kehidupan manusia memiliki dua alam, alam nyata dna alam tidak nyata melalui media sosial tersebut.

Dengan menggunakan media sosial, manusia yang tidak punya keilmuan bertetangga yang baik dalam sosial non nyata akan dengan mudah mengekspresikan sikap dan prilakunya, pun juga dalam menyikapi konten-konten yang ada dalam media sosial tersebut. Sulitnya lagi ketika umat manusia tersebut tidak mempunyai bekal keilmuan yang baik, sehingga membuatnya dengan mudah mengkritisi, mencaci, menghujat dan mencerca orang lain lewat media sosial.

Kritik sosial seharusnya lebih mendahulukan keilmuan dan cara yang bijak, tentu dengan bahasa yang baik. Kritik yang mendahulukan ego dan emosional akan berdampak pada tidak tersampainya subtansi kritiknya. Kritik yang fokus pada subtansi pembahasan yang disertai dengan sikap yang baik akan mudah diterima dari pada kritik yang mendahulukan otot dan dengan intonasi yang meninggi, hal ini akan membuat lawan diskusi atau orang yang dikritisi tidak melihat subtansi kritiknya, tapi fokus pada sikapnya yang kurang baik dalam mengkritisi.

Dalam mengkritisi, yang baik adalah tatkala pengkritik memiliki kapasitas keilmuan pada bidang kajian yang dikritisi, sehingga subtansinya menyentuh dan imbang dalam kajiannya. Amat sangat tidak elok ketika mengkritisi tapi tidak mempunyai fan keilmuan dibidang yang dikritisi, hal yang demikian hanya akan membuat diskusi ata dabat kusir yang pada akhirnya menuju pada pribadinya, bukan esensi subtansi pembahasannya. (AdHominem)

Kritik akan mudah diterima jika yang mengkritik mempunyai keilmuan dibidangnya, dengan sikap yang baik dan santun, dan mendahulukan bahasa yang baik. Bahkan seharusnya kita tidak mengritisi orang lain sebelum kita pakar dibidang keilmuan yang hendak dikritisi.

Imam Al Zhahabi menyinggung terkait hal ini, yakni sebagai berikut:

الجَاهِلُ لا يَعلَمُ رُتْبَةَ نَفْسِه ، فَكَيْفَ يَعْرِفُ رُتْبَةَ غَيْرِهِ "

الإمام الذهبي

Orang bodoh tidak tahu level (kapasitas keilmuan) dirinya, maka bagaimana ia bisa memahami level orang lain (yang lebih pintar)? - Al Zhahabi -

Dari pendapatnya Imam Al Zhahabi di atas, dapat kita simpulkan bahwa seharusnya kita tidak mengkritisi suatu statmen atau keilmuan seseorang sebelum kita mahir dibidang tersebut, kita menguasai dan memang benar-benar keilmuan kita ada dibidang tersebut. Denga demikian tidak terkesan suul adab dan merendahkan diri sendiri. Karena megkritisi tanpa punya keilmuan pada bidang yang dikritisi itu sama halnya dengan merendahkan diri sendiri. Karena ketika diminta pendapatnya secara ilmiyah dan berdasar dia sudah pasti hanya akan diam dan ngotot tanpa menyuguhkan dalil-dalil yang mendukung terkait kritiknya. 

Jika dikatakan bahwa orang yang bermaksiat ialah hilang imannya seketika melakukan maksiat itu juga, maka orang yang mengkritisi keilmuan seseorang tapi dia tidak punya fan keilmuan atau ia tidak mengetahui sedikitpun ilmu terkait hal yang dikritisi, maka saat itulah ia dalam keadaan benar-benar bodoh dan mempertontonkan kebodohannya.

Dalam mengkritisi keilmuan atau sikap seseorang, hendaknya ia faham betul kaidah ilmu sosial, akhlak dan pengetahuan terkait yang dikritik. Jika tidak, maka dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

Salah kritik adalah ketika mengkriti orang yang lebih pintar dan dia tidak punya keilmuan terkait yang dikritik. Kritik yang salah ketika dia tidak mendahulukan akhlak dan pengetahuan dala, mengkritik, sehingga ia akan mengkritisi apapun yang ia anggap salah dan tidak sesuai dengan pemikirannya. tapi dia sendiri tidak punya keilmuan dibidangnya secara mendalam sehingga ia perpatokan pada kata POKOKNYA, INTINYA.Bukan berdasarkan menurut ini, berdasarkan keterangan dibuku ini, dikitab ini daN seterusnya. 

Lebih baik kita diam dari pada mengusik orang lain dengan kebodohan kita, lebih  baik kita diam dari pada kita merendahkan diri kita sendiri dengan kebodohan kita. dan lebih baik kita diam dari pada kita mengkritik orang lain, tapi justru kita mempertontonkan kebodohan kita. 

Dan yang lebih baik lagi adalah kita fokus belajar, belajar dan belajar. Tapi jangan lupa bekerja dan berbadah. Bagaimana bisa beribadah dengan baik jika tidak punya ilmu. Karena itulah kita diwajibkan untuk terus belajar untuk memperbaiki kehidupan kita dalam berbagai aspek secara komprehensif.


Label: , , , ,

Sabtu, 20 Agustus 2022

Tiga Kewajiban Orang Tua Kepada Anaknya

keluarga sakinah


Dalam Islam, terdapat tiga kewajiban bagi orang tua terhadap anak. Tiga kewajiban orang tua untuk anaknya tersebut ialah, pertama, memberikan nama yang baik dan bagus, kedua, memberikan pendidikan yang baik, dan ketiga ialah menikahkannya.

1. Pertama, kewajiban orang tua kepada anaknya ialah memberikan nama anaknya dengan nama sebaik mungkin. Nama menjadi panggilan untuk anak tersebut sehingga jia nama anaknya kurang baik maka akan berdampak kepada orang tuanya juga, karena tidak sedikit orang tuanya kemudian dipanggil dengan nama anak pertamanya dan nama untuk anaknya tidak harus berbahasa arab. 

Pemberian nama kepada anak bukan sekedar untuk nama saja, namun sebisa mungki memperhatikan maknanya dan juga diniatkan untuk tabarrukan kepada arti dari nama tersebut. Seperti contoh nama anak dengan nama Zakiya Fikrotus Su'ada, maka dengan nama itupula diharapkan anak tersebut bisa merepresentasikan dari makna namanya sendiri. yakni, orang yang suci fikirannya dan bahagia. Jadi, hendaknya orang tua jangan asal memberikan nama kepada anaknya tanpa memperhatikan makna dan kebaikan seterusnya untuk anak tersebut. Karena dengan nama itulah anak itu akan dipanggil dan dinisbatkan kepada keluarganya.

Anjuran kepada orang tua agar memberikan nama yang baik tersebut bisa di cek di kitab Al-Adzkarun Nawawi hadits riwayat Abi Darda’. Bunyi haditsnya ialah sebagai berikut:

عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال : قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : " إنكم تدعون يوم القيامة بأسمائكم وأسماء آبائكم فأحسنوا أسماءكم ".

Artinya, “Dari Abu Darda Ra berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh kalian semua akan dipanggil pada hari Kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian. Maka dari itu, perbaguslah nama-nama kalian,’ (Lihat Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkarun Nawawi". Beirut: Dar Kutub: 2004, halaman 411).

Di antara maksud dan tujuan kenapa orang tua dianjurkan agar memberikan nama yang baik kepada anaknya, ialah karena ada beberpa nama yang makruh jika dibuat nama, dan nama ini tidak disukai oleh Nabi Muhammad SAW. Seperti contoh nama Untung (Rabaḥ), Sukses (Najah), menang (Aflaḥ), Kaya (Yasar), dan raja diraja (Malikul Amlak). 

Berikut hadits yang menerangkan hal di atas:

عن سمرة بن جندب رضي الله عنه قال : قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : " لا تسمين غلامك يسارا ، ولا رباحا ، ولا نجاحا ، ولا أفلح 

Artinya, “Dari Samurah bin Jundab RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Jangan kalian memberi nama anak kalian dengan nama Yasar, Rabah, Najah, dan Aflah,’” (Lihat Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkarun Nawawi, Beirut, Dar Kutub: 2004, halaman 412). 

Namun demikian, bukan berarti nama-nama tersebut tidak boleh digunakan. hanya saja nama di atas tidak dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk digunakan sebagai nama dan jika digunakan juga tidak berdosa. Karena itulah, orang tua memberikan nama anaknya dengan bahasa apa saja diperbolehkan dengan ketentuan nama yang digunakan bermakna baik dan diusahakan tidak dengan nama-nama yang ada pada hadits di atas. 

Dalam keterangan yang lain Nabi Muhammad SAW justru menganjurkan agar orang tua dalam memberikan nama kepada anaknya ialah menggunakan nama yang disukai oleh Allah SWT, yaitu seperti nama Abdullah, Abdurrahman, nama-nama para nabi. Keterangan ini terdapat dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud dari sahabat Abu Wahb Al-Jusyami sebagai berikut:

 عن أبي وهب الجشمي الصحابي رضي الله عنه قال : قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : " تسموا بأسماء الأنبياء ، وأحب الأسماء إلى الله تعالى : عبد الله وعبد الرحمن ، وأصدقها : حارث وهمام ، وأقبحها : حرب ومرة 

Artinya, “Dari Abi Wahb Al-Jusyami RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Berilah nama (kepada anak-anakmu) dengan nama-nama para nabi, dan nama-nama yang paling disukai oleh Allah SWT adalah Abdullah dan Abdurrahman. Sedangkan yang pertengahannya adalah Haris dan Hammam. Adapun nama yang paling jelek adalah Harb dan Murrah,” (Lihat Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz IV, halaman 474). 

Kemudian, dalam tradisi yang berlaku di khalayak masyarakat, ketika terdapat bayi yang baru lahir maka biasanya bayi tersebut akan diberi nama pada hari ke tujuh ada juga pada hari ke empat puluh dari kelahirannya, hal semacam ini biasa disebut dengan istilah tradisi molang are. 

Pada hari ke empat puluh dari kelahiran bayi tersebut biasanya sekaligus dengan dilakukan penyembelihan dua ekor kambing bagi anak laki-laki dan satu kambing bagi anak perempuan. Acara yang sudah mendarah daging di masyarakat ini biasanya tidak hanya diisi dengan makan-makan saja, namun diisi dengan pembacaan khatmil qur’an, kadang hanya baca Yasin saja dan biasanya akan ditutup dengan pembacaan shalawatan bersama, seperti maulid diba'. 

Berikut haditsyang menerangkan tentang perintah untuk memberikan nama kepada anaknya yang baru lahir

أن النبي صل الله عليه و سلم أمر بتسمية المولود يوم سابعه، و وضع الاذى عنه، و العقّ. 

Artinya: "Bahwa sesungguhnya Nabi memerintahkan untuk memberikan nama pada hari ketujuh, menghilangkan kesengsaraan dari padanya dan aqiqah". (Muhyiddin Dhib, Lawami’ al-Anwar; Syarh Kitab al-Adzkar, Bairut, Dar Ibn Kathir, 2014, juz 2, halaman: 143)

Namun demikian, hadits di atas tidak memutlakkan harus memberi nama anak pada hari ke tujuh pada hari kelahiran. Sehingga andai saja ada orang tua yang memberikan nama pada hari pertama kelahiran, maka tidak apa-apa

2. Kedua, memberikan pendidikan yang baik. Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang baik, hal ini untuk kebaikan masa depannya, kebaikan dalam melaksanakan eksistensi sebagai umat beragama Islam dan sebagai makhluk sosial yang membutuhkan banyak ilmu untuk menjalani kehidupannya dengan baik.

Dalam Islam setiap manusia muslim laki-laki dan perempuan diwajibkan untuk belajar, bahkan sejk dari buaian hingga ke liang lahat. Hal ini mempertegas betapa pentingnya sebuah pengetahuan dan pendidikan. Dengan pendidikan yang baik tentu akan membuat hidup manusia itu berjalan dengan baik, mengerti cara bersosial dengan baik, dan mengerti cara melaksanakan kewajiban sebagai orang islam dengan benar. 

Nabi Muhammad SAW bersabda sebagai berikut:

اطلبوا العلم ولو بالصين

Artinya, “Tuntutlah ilmu, walau ke negeri Cina” (Diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman, No. 1612)

Dalam keterangan yang lain disebutkan sebagai berikut:

اطلب العلم من  المهد إلى اللحد

Artinya : “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat” 

Ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, dalam syair disebutkan sebagai berikut:

  وفضل وعنوان لكلّ المحامد v تعلّم فانّ العلم زين لأهله

من العلم واسبح في بحور الفواءد v وكن مستفيدان كل يوم زيادة

Artinya, “Belajarlah, karena ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, dan keutamaan baginya serta tanda setiap hal yang terpuji. Jadilah kamu orang yang mencari faedah, setiap harinya bertambah ilmu dan berenang di atas lautan faedah.”

Dari keterangan di atas dapat difahami bahwa betapa pentingnya ilmu atau pengetahuan untuk keberlangsungan menjalani hidup di muka bumi, selain banyak yang harus diketahui oleh setiap muslim yang berhubungan dengan kewajibannya sebagai orang Islam, juga pengetahuan dibutuhkan untuk dapat melangsungkan eksistensi hidupnya dengan baik dan mengantarkannya kepada kebahagiaan. 

Imam syafii berkata bahwa orang yang tidak betah dengan pahitnya menuntut ilmu, maka dia akan menanggung pahitnya kebodohannya kelak.

Tatkala orang tua memberikan pendidikan yang baik, maka orang tua tersebut akan mendapatkan aliran pahala. Sebagaimana keterangan hadits dibawah ini:

 عن جابر بن سمرة رضي الله عنه قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم  لأنْ يُؤَدِّبَ الرجلُ وَلَدَه خيرٌ من أن يتصدق بصاع أخرجه الترمذي

Artinya, “Dari sahabat Jabir bin Samurah ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Pengajaran seseorang pada anaknya lebih baik dari (ibadah/pahala) sedekah satu sha,” (HR At-Tirmidzi).

Pendidikan yang diajarkan sejak kecil hendaknya pada hal-hal yang berkaitan dengan akhlak atau adab, sebagaimana sabda Nabi Muhammad berikut:

عن أَيُّوبَ بْنِ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا خَيْرًا لَهُ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ   

Artinya, “Dari Ayyub bin Musa, dari bapaknya, dari kakeknya, Rasulullah saw bersabda, ‘Tiada pemberian orang tua terhadap anaknya yang lebih baik dari adab yang baik," (HR At-Tirmidzi). 

Dalam riwayat lain Rasulullah juga menyampaikan agar para orang tua menanamkan etika dan norma-norma moral kepada anak-anaknya. Sebagaimana penjelasan hadits di bawah ini:

 عن ابن عباس عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أَكْرِمُوْا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوْا آدَابَهُمْ رواه ابن ماجه 

Artinya, “Dari sahabat Abdullah bin Abbas ra, dari Rasulullah saw bersabda, ‘Muliakanlah anak-anakmu, perbaikilah adab mereka," (HR Ibnu Majah)

Madrasah pertama bagi anak-anak adalah keluarga, khususnya ibu yang mengandungnya. Sehingga dengan demikian hendaknya ibu mempunyai pengetahuan yang cukup untuk diajarkan kepada anaknya sejak dini. Seperti ilmu tentang cara makan yang benar, cara membaca yang baik, cara berbicara yang santun dan seterusnya. Lebih-lebih jia orang tua mencontohkannya terlebih dahulu sehingga anak bisa mencontoh secara langsung perbuatan yang baik itu bagaimana. Sebagaimana yang ada dalam pepatah berikut:

 لِسَانُ الْحَالِ أَفْصَحُ مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ 

Artinya: “Contoh perbuatan lebih efektif (lebih berpengaruh) daripada perkataan”

Mengajarkan suatu hal memang akan lebih mudah difahami dan dicontoh langsung tatkala anak itu diberikan contoh oleh orang tuanya, sehingga anak bisa denga mudah mengerti apa maksud dari apa yang di ajarkan oleh orang tua. Terlebih orang tua mendidik anaknya dengan menggunakan metode pembiasaan. 

Kenapa demikian? karena lebih tepatnya, untuk anak-anak hanya butuh pada pembiasaan saja, misalnya jika anak tersebut sejak kecil biasa dibawa kemusholla atau biasa diajak sholat ketika waktunya sholat. Maka kemudian hari pasti anak itu tanpa diminta sudah sadar dengan sendirinya bahwa pada waktu yang sama ia harus mengerjakan sholat, begitu juga dengan hallainnya. karena anak kecil hanya butuh contoh bukan materi yang banyak.

Di antara pendidikan yang pertama harus diberikan ialah pendidikan yang berhubungan dengan kewajibannya sebagai umat Islam, yakni pendidikan tentang bersuci, sholat, zakat, puasa dan haji. Pendidikan tentag tauhid dan akhlak. Setelah itu kemudian baru pendidikan yang lainnya

Dalam hal ini sudah dijelaskan dalam surat Luqman ayat 17 berikut:

 يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ 

Artinya, "Wahai anakku, dirikanlah shalat dan ajaklah manusia berbuat baik dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara penting".

Kemudian dalam hadits juga disampaikan sebagai berikut:

 عن عمرو بن شعيب، عن أبيه، عن جده -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: مُرُوا أولادَكم بالصلاةِ وهم أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، واضْرِبُوهُمْ عليها، وهم أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في المَضَاجِعِ

 Artinya, "Dari Amr Bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: Rasulullah bersabda: “Perintahkan anak-anakmu melaksanakan sholat saat mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka sebab meninggalkan sholat saat mereka berusia 10 tahun dan pisahkan tempat tidur mereka". (H.R Abu Daud)

3. Ketiga, Hal anak pada orang tua yang ketiga ialah dinikahkan. Orang tua punya tanggung jawab untuk menikahkan anaknya tatkala anak tersebut sudah siap, siap secara materi, siap secara pengetahuan dan mental. Karena memang pernikahan bukanlah suatu hal yang biasa saja. Pernikahan ialah suatu perjanjian sakral, perjanjian yang disaksikan banyak malaikan dan manusia. Sehinga tatkala sudah melangsungkan akad nikah jauh-jauhkan fikiran tentang keinginan talak dan semacamnya. 

Dalam Al-Qur'an disebutkan sebagai berikut

وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

Artinya, "Dan mereka (istri-istrimu) telah megambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu." (QS. An-Nisa’: 20-21)

Pernikahan menjadi sarana untuk menjadikan setengah ibadahnya sempurna, dalam sebagian pendapat disampaikan bahwa dengan menikah setegah dari imannya telah sempurna. Yang jelas, sebagai orang tua yang baik, setelah memberikan nama yang baik untuk anaknya, kemudian memberikan pendidikan sebaik mungkin, dan yang terakhir punya tanggung jawab untuk menikahkan anaknya. 

 

REFERENSI/RUJUKAN

Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkarun Nawawi". Beirut: Dar Kutub: 2004, halaman 411 dan 412

Muhyiddin Dhib, Lawami’ al-Anwar; Syarh Kitab al-Adzkar, Bairut, Dar Ibn Kathir, 2014, juz 2, halaman: 143

Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun, juz IV, halaman 474


 

Label: , , , , ,

Senin, 28 Februari 2022

Seperangkat cinta

CINTA

Cinta, berbicara perihal cinta adalah materi yang tiada batas, luas cakupannya dan panjang pembahasannya. Rasanya tanpa rasa cinta kehidupan kurang nikmat dengan segala aspek dan efeknya, karena kita tahu ruang lingkup cinta itu sangat luas. cinta pada sesama, pada pasangan, pada barang dan yang harus tetap ada dan hidup rasa cinta itu ialah cinta kepa Allah yang Nabiyullah Muhammad. 

Pertama adalah cinta kepada Allah SWT, ialah rasa yang harus terus dipuuk dan dirawat. rasa yang harus terus digenggam sampai kelak menghadapnya. diantara cara kita membuktikan bahwa kita cinta kepada Allah adalah dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban bagi setiap umat muslim, baik itu laki-laki ataupun perempuan. Dengan melaksanakan sholat kita sudah membuktikan cinta kita kepadanya, ditambah dengan puasa dan zakat maka cinta itu semakin subur. Kemudian melaksanakan haji maka mulai sempurnalah rasa cinta itu pada Allah, karena rukun islam merupakan satu paket yang harus dilaksanakan bagi setiap muslim. Dan puncak kesempurnaannya adalah ketika kita benar-benar taat pada perintah dan laarangan yang ada, terlebih ditambah dengan amalan-amalan sunnah lainnya.

Kedua ialah cinta kepada Rasulullah Muhammad SAW. Cinta kepada beliau ialah cinta yang satu paket dengan mencintai Allah, dengan mencintai Rasulullah maka kita juga akan dicintai oleh Allah pula. Sebagaimana yang telah Allah jelaskan dalam al-Qur'an bahwa jika kalian cinta kepada Allah, maka ikutilah rasulullah Muhammad niscaya Allah akan cinta pada kalian. Dengan demikian maka jalan dan tangga satu-satunya untuk dicintai Allah ialah dengan mencintai Rasulullah Muhammad. Berikut firman Allah dalam al-Qur'an:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya "Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang".


Bagaimana caranya mencintai Allah melalui Nabi Muhammad, yakni dengan mengikuti ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Mengikuti ajaran yang ada dalam al-Qur'an, hadits atau sunnah dan juga mengikuti ijmak ulamak atau ijtihad ulamak. Pertama ialah kita mengikuti ajaran yang disampaikan Allah melalui Rasulullah Muhammad melalui al-Qur'an, Alqur'an ialah pedoman pertama bagi umat islam. 

Dalam Al-Qur'an dijelaskan berbagai hukum figh, tauhid, tasawwuh dan lainnya. sehingga dengan mengamalkan isi al-Qur'an yang sudah di matangkan oleh ulamak maka bagian dari mencintai Allah dan rasulnya. Kedua melalui sunnah atau hadits, tidak semua hukum yang ada dalam al-Qur'an itu disampaikan secara jelas, tapi al-Qur'an dan sunnah atau hadits merupakan dua hal yang saling melengkapi. Mencintai Rasulullah dengan cara mengikuti sunnahnya, bagaimana cara nabi makan, munum, wudluk, berjalan, bersosial, memperbanyak membaca sholawat dan seterusnya. Dengan demikian kita sudah membuktikan cinta kita dalam bentuk prilaku bukan sekedar kata-kata saja.

Ketiga cinta kepada kedua orang tua: diantara mencintai Allah dan Rasulnya ialah dengan melalui taat kepada kedua orang tua, kita tahu bahwa dalam hadits disebutkan diantara penyebab Allah murka dan ridho ialah memalui sebab orang tua murka dan ridho. Jika orang tua murka maka llah juga murka dan orang bagian dari ridho dan murkanya Allah ialah sebagai berikut:

رضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ, وَسخطُ اللَّهِ فِي سخطِ الْوَالِدَيْنِ

Dalam kata cinta harus ada ikhlas keridhoan, mustahil bisa dikatakan cinta jika tidak ada ikhlas dan ridho dalam dirinya. Karena ketika orang sudah mebgatakan cinta dan siap ada dalam dunia cinta, aka dia juga harus siap dengan segala konsekuensinya. Dengan mencintai berarti sudah siap menjadi budak. 

Kita sebagai anak harus selalu hormat dan taat pada perinta orang tua selagi tidak menyalahi aturan pokok dalam Islam, membahagian kedua orang tua bagian dari jalan mendapatkan ridhonya, dengan orang tua ridho maka Allah juga ridho dan berarti Allah juga cinta pada kita. Anak yang baik dan sholih atau sholihah ialah yang tidak durhaka kepada orang dua, durhaka bisa melalui banyak hal, setidaknya jangan pernah membantah apalagi membentak kedua orang tua. Hal ini sebagaimana yang telah disampaikan dalam al-Qur'an, yakni sebagai berikut:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (٢٣)

Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. al-Israa’: 23)

Dalam Hadits yang lain disebabkan bahwa doa kedua orang tua itu mustajab, sehingga sebagi anak sering-seringlah minta didoakan meskipun orang tua sudah pasti selalu mendoakan putra-putranya:

" ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ، لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ "

Artinya: "Ada tiga doa yang mustajab, tidak ada keraguan akan hal itu; doa orang yang terdzalimi, doa musafir, dan doa orang tua untuk (kebaikan) anaknya,

Maka sebagai seorang anak, menjadi keberuntungan tersendiri ketia kita selalu berada dalam doa-doa orang tua,karena itu bersyukurlah bagi yang kedua orang tuanya masih hidup.

Kemudian yang keempat ialah cinta pada sesama: yakni dengan menjaga kerukunan dan perdamaian bersama, saling menolong, saling mejaga dan saling menasehati. saling mencintai sesama agama, sesama satu bangsa dan sesama umat manusia, dalam hal ini ada kotak-kotaknya tersendiri. Umat muslim sudah seharusnya tau dan mempraktekkan cinta pada kehidupan bermasyarakat, dalam masyarakat tentu akan berinteraksi dengan orang banyak sehingga harus saling menjaga kerukunan dan perdamaian serta keharmonisan dalam kehidupan sosial.

Dalam Aswaja annahdliyah hal ini disebut dengan trilogi ukhuwah: ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah/ukhuwah insaniyah. 

Ukhuwah islamiyah adalah hubungan antara sesama manusia yang berkaitan dengan keagamaan Islam. Ukhuwah islamiyah ini ialah persaudaraan sesama muslim, yang mana tumbuh dan berkembangnya karenasma dalam hal akidah, baik ditingkat lokal, regional, nasional dan juga internasional. Hubungan Ukhuwah islamiyah meliputisemua aspek kehidupan beragama dalam islam, yakni ibadah, munakahat, muamalah, mu‘asyarah, dan juga interaksi keseharian atau sosial yang akan membentuk dan menumbuhkan tali persaudaraan baik.

Adapun ukhuwah wathaniyah adalah cara hubungan antar sesama manusia yang berkaitan dengan ikatan kebangsaan atau kenegaraan. Ukhuwah wathaniyah atau hubungan ini melingkupi aspek yang bsifatnya muamalat, yakni kemasyarakatan dan kebangsaan serta kenegaraan.

Ukhuwah basyariyah merupakan hubungan antara manusia yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat atas dasar rasa kemanusiaan yangada keterkaitannya dengan kesamaan dalam hal martabat kemanusiaan untuk kehidupan yang sejahtera, adil dan damai, tentram dan harmonis.


Kelima adalah cinta pada lawan jenis: yakni pada pasangan halal: Diantara poin penting yang harus ada dalam membina hubungan rumah tangga ialah dengan cinta. Cinta mempunyai kekuatan tersendiri dan beras perannya dalam tumbuh kembangnya bagunan rumah tangga, cinta yang memegang peran awet tidaknya, harmonis atau tidak suatu hubungan dalam berkeluarga sehingga diantara keduanya harus saling mencintai. Dalam membina keluarga keduanya harus saling percaya, saling mendukung, saling ikhlas, ridho, dan punya visi misi yang dibangun bersama untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah serta mubarokah. kehidupan keluarga yang penuh dengan nilai-nilai kehidupan surga. 

Seringkali orang mengatakan cinta itu begini dan begitu, itu perspektif yang sifatnya masih hidden dan implisit sedangkan aksi dari rasa yang dia rasakan itu bersifat core, atau eksplisit. Rasa yang lebih memungkinkan kebenarannya adalah ketika sudah berupa tindakan, bukan sekedar rasa yang terpendam dan ditimbun atau sekedar kata-kata belaka dan itu tidak baik, setidaknya harus diungkapkan dan dibuktikan dalam bentuk aksi, apapun hasilnya. Pilihannya hanya dua, siap dengan jawaban yang tidak diinginkan dan berbahagia dengan respon lawannya yang sesuai harapan.

Maka dapat dikatakan bahwa cinta yang nyata ialah ketika sudah berupa aksi dari orang itu sendiri, yakni pembuktian dalam bentuk tingkah laku. Karena cinta itu sendiri sifatnya abstrak, hidden dan implisit, sehingga sulit dijangkau oleh akal dan mata penglihatan. 

Setiap orang punya perspektif sendiri terkait cinta, mereka juga punya definisi tersendiri dan bahkan aksi yang ditampakkan juga punya caranya sendiri. Sehingga definisi cinta tidak hanya satu, tergantung sudut pandang manusia yang merasakan dan melaksanakan atau hadir dalam lautan cinta itu sendiri. Maka, jangan pernah nodai bahasa cinta, kata-kata cinta dan kata cinta itu sendiri dengan prilaku dan upacan kita yang kurang baik dan kurang mencerminkan keindahan cinta itu sendiri.


Label: , , , ,

Minggu, 27 Februari 2022

Bersikap seperti ahli hadits dalam menerima berita

Menyikapi berita bohong

Setiap murid atau santri (Pelajar), sudah seharusnya mempunyai sifat dan sikap yang baik dalam bersosial sehari-hari. Pelajar yang baik ialah mereka yang mampu menjaga prilaku dan perkataannya serta hatinya dari perkara-perkara yang tidak baik, seperti halnya memukul, menendang, mencuri, melanggar perintah agama atau bahkan suka menyebarkan berita-berita palsu dan juga suka merasani atau menggosipi orang lain. Hal yang demikian ini sungguh amat tercela. 

Dengan perkembangan zaman yang begitu pesat, teknologi serba ada untuk kehidupan manusia, rasanya apapun bisa dilakukan dengan kecanggihan teknologi tersebut. Akhir-akhir ini sedang semaraknya dan gencar-gencarnya orang-orang yang berlomba-lomba membuat berita bohong dan juga ada yang dengan senang hati mengkonsumsinya bahkan disebar luaskan tanpa mencaari tahu terlebih dahulu kevalidtan dan kebenaran suatu berita yang diterimanya serta disebar luaskan olehnya. Terlebih apapun yang berbau agama, ataupun politik maka keduanya akan sangat mudah menjadi topik utama di sosial media, sehingga siapapun bisa membacanya dan dengan kemudahan untuk percaya tanpa mencoba mencari kebenaran suatu berita tersebut oang-orang langsung menyebar luakan tanpa berfikir dua kali. 

Anehnya, tidak sedikit yang menjadi korban orang-orang yang tertipu dengan suatu berita dan juga menjadi pengonsumi berita bohong ialah kaum santri, bahkan mereka juga yang ikut andil menyebar luaskan berita tersebut. Mereka menjadi lebih mudah percaya pada berita yang menurut mereka berita tersebut harus disebarkan agar teman-temannya juga menyetahui. Seharusnya sebagai kaum yang berilmu dan mengetahui dosa bagi orang yang membuat suatu kabar bohong atau menyebarkan kabar atau berita bohong, seharusnya lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi bacaan, berita dan semacamnya, termasuk juga harus lebih berhati-hati dalam menyebarluaskan berita tersebut.

Seorang pelajar, khususnya santri seharusnya dalam mensikapi suatu berita mencontoh bagaimana ulamak ahli hadits. Ulamak ahli hadits tidak mudah menerima dan percaya pada orang yang menyampaikan suatu hadits yang sampai padanya sehingga terbukti kebenarannya, mereka sangat hati-hati dalam menerima hadits, bahkan jika orang yang menyampaikan hadits itu pernah berbohong satu kali saja maka berita yang dibawanya termasuk hadits yang disampaikannya oleh ahli hadits kurang dipercaya dan itu menjadi kelemahan bagi hadits. karena sifat dan sikap orang yang membaca berita atau hadits, maka berpengaruh pada kualitas dan kebanaran beritanya tersebut.

Santri seharusnya juga bersikap demikian, bersikap layaknya cara ahli hadits dalam menerima hadits dari seseorang. Tidak akan percaya pada berita apapun dan ulamak siapapun yang menyampaikannya sampai terbukti kebenarannya. Dengan demikian santri sudah ikut andil dalam menepis berita bohong dan juga ikut andil dalam mengurangi skala besar tersebarnya berita bohong tersebut.

Hal-hal yang seperti ini menjadi harus lebih dihindari dan berhati-hati bagi santri dalam menerima suatu berita untuk dibacanya, apalagi sampai disebar luaskan. 

Berita bohong atau hoax biasanya dibuat dan disebar luaskan oleh akun atau situs-situs yang kurang kredibel dan tidak bertanggung jawab, dengan demikian diantara cara selain cara di atas untuk menghindari berita bohong atau hoax, maka bisa dengan cara berikut:

Pertama: Pembaca harus mencermati alamat situsnya terlebih dahulu, jika yang menyebarkan tersebut adalah situs-situs yang tidak bertanggung jawab dan validitas serta kredibilitasannya kurang, maka lebih baik hindari dan menghapus berita yang sampai pada dirinya baik di Wa, facebook, instagram dan media sosial lainnya. 

Kedua: Pembaca lebih-berhati-hati dengan bacaan yang sifatnya memprovokasi atau menyudutkan suatu kelompok, ormas atau menjelekkan individu orang lain. Media sosial menjadi senjata tajam dan cepat untuk menyebarakan berita bohong bagi orang lain, mengingat betapa banyaknya orang yang mudah menshare sebelum mensaring berita terlebih dahulu, seakan menjadi menyesal jika tidak ikut membagikan. padahal dengan ikut membagikan berita bohong itu dia sendiri juga termasuk orang yang menyebarkan berita bohong tanpa dia sadari, dan menyebarkan berita bohong itu doa besar.

Ketiga: Periksa fatka, yakni dengan memeriksa fakta yang aktual terkait suatu berita yang dibacanya. maka pembaca harus memperhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti Polri atau KPK? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat.

Keempat: Pembaca harus melihat siapa orang yang menyampaikan beritanya, karena kualitas berita yang dibawanya akan mempengaruhi pada kualitas berita yang dibawa itu sendiri. Baik dari segi kebenarannya serta yang lainnya.

Berita bohong atau hoax sangat berpotensi memecah belah antar saudara, kelompok atau ormas dan bahkan bisa mengakibatkan pertumbahan darah. Dengan demikian marilah kita bersama-sama menjauhkan diri dari golongan yang suka membuat dan menyebarkan berita bohong atau hoax, sehingga dengan kita tidak ikut andil dalam dua kegiatan tersebut (membuat dan menyebarkan berita bohong), maka sejatinya kita sudah ikut menghentikan menyebarnya berita bohong itu. Minimal mengurangi menyebarnya berita bohong itu pada orang-orang yang kita kenal. Sehingga kehidupan lebih damai dan tentram.


Label: , , , , , ,

Selasa, 22 Februari 2022

Bersosial dengan Cinta.

Bersosial dengan Cinta

Manusia sebagai makhluk sosial, yang mana tidak bisa lepas dari tegur sapa, tolong menolong dst. Bahkan dalam bersosial kita dituntut untuk saling menjaga sikap diri sendiri agar tidak menyakiti orang lain dan menjaga perasaannya orang lain agar tidak tersinggung dengan sikap kita. Dalam perihal ini disinggung Juga dalam hadits terkait keimanan seseorang sebagai berikut:

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه 

Bahwa tidaklah sempurna iman seseorang sehingga dia bisa mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. 

Jika kita ingin semakin meningkatkan dan menyempurnakan keimanan kita, maka sudah seharusnya kita tidak menyakiti orang lain dengan berbagai hal yang mungkin terjadi sebagaimana kita mencintai dan menjaga diri kita agar tidak tersakiti oleh apapun dan siapapun. Sehingga puncak dari iman seseorang dalam bersosial ialah dengan menjaga kedamaian, ketentraman dan kerukunan bersama, bersikap pemaaf dan tolong menolong, bukan mengunjing, hasud dan iri serta dengki. Karena eksistensi dari cinta dan mencintai itu sendiri ialah merawat dan menjaga. Maksudnya adalah merawat dan menjaga perdamaian, ketentraman dan kerukunan bersama, baik sifatnya konteks perasaan atau sikap.


By: Muhammad Zaironi, Santri Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang.

FB: Muhammad Zaironi. https://www.facebook.com/profile.php?id=100008292301957

Fanspage FB: Muhammad Zaironi

IG: Muhammad Zaironi. www.instagram.com/muhammadzaironi

Blogger: santrimenulis.com

Label: , , , ,