Minggu, 22 Maret 2026

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal: Keutamaan, Makna Spiritual, dan Indikasi Diterimanya Amal Ramadan

 

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal: Keutamaan, Makna Spiritual, dan Indikasi Diterimanya Amal Ramadan

Puasa enam hari di bulan Syawal menjadi salah satu amalan sunnah yang banyak dikerjakan umat Islam setelah Ramadan. Amalan ini diyakini memiliki keutamaan besar, yakni pahala yang setara dengan puasa selama satu tahun penuh. Selain itu, puasa Syawal juga dipandang sebagai bentuk penyempurna ibadah Ramadan serta menjadi salah satu tanda diterimanya amal selama bulan suci. Praktik ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis, dan terus menjadi tradisi yang hidup di tengah masyarakat Muslim di berbagai wilayah.

Puasa Syawal dilaksanakan selama enam hari di bulan Syawal, bulan yang datang setelah Ramadan dalam kalender Hijriah. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara berturut-turut setelah Hari Raya Idulfitri atau secara terpisah selama bulan Syawal, sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Para ulama sepakat bahwa amalan ini bersifat sunnah, namun memiliki nilai keutamaan yang sangat tinggi.

Dasar utama anjuran puasa Syawal berasal dari hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa siapa yang berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun. Para ulama menjelaskan bahwa perhitungan tersebut merujuk pada konsep pahala berlipat dalam Islam, di mana satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Dengan demikian, puasa Ramadan selama 30 hari setara dengan 300 hari, dan tambahan enam hari di Syawal menyempurnakan menjadi 360 hari, mendekati jumlah hari dalam satu tahun.

Puasa Syawal tidak hanya bernilai kuantitatif dalam hal pahala, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Ibadah ini menjadi indikator konsistensi seorang Muslim dalam beribadah setelah Ramadan berakhir. Ramadan sering disebut sebagai “madrasah spiritual” yang melatih kesabaran, pengendalian diri, serta meningkatkan kualitas ibadah. Puasa Syawal kemudian menjadi bentuk kelanjutan dari proses pembinaan tersebut.

Selain itu, puasa enam hari di bulan Syawal juga dipahami sebagai penyempurna ibadah Ramadan. Selama Ramadan, tidak sedikit umat Islam yang mungkin mengalami kekurangan dalam ibadahnya, baik dari segi kekhusyukan, konsistensi, maupun kualitas amal. Puasa Syawal hadir sebagai kesempatan untuk menutupi kekurangan tersebut, sebagaimana konsep ibadah sunnah yang melengkapi ibadah wajib dalam ajaran Islam.

Hubungan antara puasa Ramadan dan puasa Syawal serupa dengan salat wajib dan salat sunnah. “Dalam banyak ajaran Islam, ibadah sunnah berfungsi sebagai pelengkap dari ibadah wajib. Puasa Syawal dapat dipandang sebagai bentuk penyempurnaan terhadap kemungkinan kekurangan selama Ramadan,” ujarnya.

Lebih jauh, puasa Syawal juga sering dikaitkan dengan tanda diterimanya amal Ramadan. Dalam tradisi keilmuan Islam, salah satu indikator diterimanya amal adalah adanya keberlanjutan dalam kebaikan setelah ibadah utama selesai. Artinya, seseorang yang tetap menjaga semangat ibadah pasca-Ramadan menunjukkan bahwa nilai-nilai yang diperoleh selama bulan suci benar-benar terinternalisasi.

Konsistensi ritual ibadah di atas menjadi kunci dalam kehidupan spiritual seorang Muslim. “Jika seseorang setelah Ramadan justru kembali pada kebiasaan lama yang kurang baik, maka itu menjadi bahan refleksi. Sebaliknya, jika ia melanjutkan dengan ibadah seperti puasa Syawal, itu menjadi pertanda positif bahwa Ramadan memberikan dampak nyata,” katanya.

Di sisi lain, pelaksanaan puasa Syawal juga memiliki dimensi sosial. Setelah merayakan Idulfitri yang identik dengan kebersamaan dan silaturahmi, puasa Syawal mengajak umat Islam untuk kembali pada pengendalian diri dan kesederhanaan. Hal ini menciptakan keseimbangan antara aspek sosial dan spiritual dalam kehidupan beragama.

Namun demikian, terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan puasa Syawal. Salah satunya adalah prioritas bagi mereka yang memiliki utang puasa Ramadan. Sebagian ulama berpendapat bahwa puasa wajib harus didahulukan sebelum menjalankan puasa sunnah, termasuk puasa Syawal. Meski demikian, terdapat pula pandangan yang memberikan kelonggaran selama masih dalam bulan Syawal.

Perbedaan pendapat ini merupakan hal yang wajar dalam khazanah keilmuan Islam. “Yang terpenting adalah memahami dasar hukumnya dan menyesuaikan dengan kondisi masing-masing, serta tetap menjaga niat ibadah,” ujarnya.

Selain itu, niat juga menjadi aspek penting dalam pelaksanaan puasa Syawal. Seperti halnya ibadah lainnya, puasa ini harus dilandasi dengan niat yang tulus karena Allah SWT. Niat tersebut dapat dilakukan pada malam hari sebelum berpuasa, sebagaimana praktik umum dalam ibadah puasa sunnah.

Dalam konteks masyarakat modern, puasa Syawal juga menghadapi tantangan tersendiri. Aktivitas pekerjaan, rutinitas harian, serta perubahan pola hidup setelah Ramadan seringkali menjadi alasan bagi sebagian orang untuk tidak melaksanakan puasa ini. Meski demikian, banyak pula yang berusaha menyiasati dengan memilih hari-hari tertentu yang lebih memungkinkan untuk berpuasa.

Seorang pekerja di sektor swasta mengungkapkan pengalamannya dalam menjalankan puasa Syawal. “Biasanya saya tidak langsung enam hari berturut-turut. Saya pilih hari Senin dan Kamis di bulan Syawal, jadi lebih ringan dan tetap bisa menjalankan aktivitas,” katanya.

Pendekatan fleksibel ini menunjukkan bahwa puasa Syawal dapat disesuaikan dengan kondisi individu tanpa mengurangi nilai ibadahnya. Hal ini juga sejalan dengan prinsip kemudahan dalam Islam yang tidak memberatkan umatnya.

Di tengah perkembangan zaman, pemahaman terhadap puasa Syawal juga semakin meluas melalui berbagai media, termasuk ceramah daring, artikel keagamaan, dan diskusi komunitas. Hal ini membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya amalan sunnah sebagai bagian dari kehidupan beragama yang utuh.

Secara keseluruhan, puasa enam hari di bulan Syawal bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan memiliki makna yang komprehensif. Ia mencerminkan kesinambungan ibadah, penyempurnaan amal, serta indikator spiritual yang penting bagi seorang Muslim. Dengan berbagai keutamaan yang dimilikinya, puasa Syawal menjadi salah satu amalan yang dianjurkan untuk terus dilestarikan dalam kehidupan umat Islam.

“Puasa Syawal adalah bentuk kesinambungan dari pendidikan spiritual Ramadan. Ia menunjukkan apakah nilai-nilai Ramadan benar-benar tertanam dalam diri seseorang,”

“Melanjutkan ibadah setelah Ramadan, seperti puasa Syawal, menjadi salah satu tanda bahwa amal sebelumnya diterima dan berdampak,”

“Perbedaan pendapat soal teknis pelaksanaan adalah hal biasa. Yang utama adalah menjaga niat dan memahami esensi ibadah tersebut,”


 


Label: , , , ,

Kamis, 09 Februari 2023

Faham yang salah, salah yang kaprah

Faham salah


Akhi-akhir ini banyak orang yang salah kaprah dan salah faham dalam memahami makna hidup dan pedoman hidup, sesuka mereka dan semau mereka ayat dan hadits ditafsiri. Sehingga semboyan mereka tetap tidak ubahnya, ini bid'ah, mari kembali ke jalan Allah, mari hijrah, jihad di jalan Allah, dan yang begitu itu sesat dan kafir. serasa tidak ada lagi kata dan bahasa lainnya yang lebih higinis

Diantara penyebab menjamurnya faham takfiri pada pribadi seseorang dikarenakan mereka menutup pintu-pintu rahmat dan taufik pada sisi yang selain dia fahami. Apa yang mereka ketahui maka itulah kebenaran tunggal baginya. Sehingga dengan sebab itu mereka mudah menyalahkan dan kalaupun berdiskusi dengan yang lawan pemahaman pasti mereka bersikap ad-hominem ataupun dengan bahasa “pokok e dan semacamnya”.

Panggung-panggung dakwah banyak dikuasai orang-orang yang sepemahaman dengan mereka, kursi-kursi mauidzhoh hasanah banyak diduduki oleh kelompok mereka. Brand mereka adalah Kembali ke jalan Allah, mari hijrah ke jalan yang luruh, bahasa-bahasa yang dipasarkan adalah bahasa yang menyentuh perasaan kaum pemuda, entah tentang cinta, kehidupan keluarga, dan semacamnya. Sehingga bagi yang galau bahasa mereka akan mudah diterima dan kemudian hari apapun yang disampaikan oleh ustadz itu akan tetap diterimanya mentah-mentah sekalipun itu mungkin salah.

Jihad, hijrah, kembali ke jalan Allah, mari kembali kepada al-qur’an dan sunnah dan seterusnya. Bagi mereka yang pandai tentau akan bertanya “sejak kapan saya lari dari Allah, sejak kapan saya meninggalkan al-Qur’an dan sunnah. Apakah kemudian hijrah hanya dimaknai dengan orang yang awalnya penuh maksiat, buka aurat ketika seketika taubat dan menutup sendi-sendi terhormat itu dimaknai dengan hijrah, apakah itu yang disebut dengan hijrah?

Lantas apakah dengan bunuh diri dengan dalih jihad kemudian dijamin masuk surga? apakah sikap yang demikian dibenarkan dalam islam? apakah yang dimaksud dengan jihad itu membunuh sesama islam? memerangi sesama keyakinan? mengolok-ngolok orang yang syahadatnya sama? kiblatnya sama? sholat duhurnya sama dan seterusnya? apakah itu yang disebut dengan jihad? oh, tentu tidak, terlalu hina makna jihad jika ditafsiri sedemikian rupa.

Kesalahan memaknai jihad, hijrah, kembali ke jalan Allah tidak lain diantaranya karena mereka terlalu tekstualis memahami ayat al-Qur’an dan hadits Nabi.

Perlu diketahui bahwa memperdebatkan suatu hukum yang sudah ijma' itu menyalahi aturan, tapi mencerca orang yang beda pandangan terkait hukum yang masih ikhtilaf itu bodoh yang tidak ketulungan. Kendatipun demikian sebisa mungkin mengetahui celah-celah perbedaan agar tidak mudah menyalahkan. Imam Al-Ghazali dawuh bahwa setiap ayat Al-Qur'an punya empat lapis makna: literal, esensial, had dan mathla'. Hati-hati, banyak yang bunuh diri berdalih jihad karena salah memahami ayat Al-Qur'an secara tekstual, lebih-lebih hanya modal terjemahan. Jangan-jangan mereka juga tidak tau apa itu mad thobii dan mas ashli.

Namun demikian kita tetap apresiasi pada mereka yang bertaubat dan menutup rapat-rapat sendi-sendi aurat, menjaga pergaulan dan tetap sopan dalam kata, bahasa, dan sikap.


Label: , , ,

Kamis, 26 Januari 2023

Merefleksi diri untuk selalu introspeksi diri

 


Pendidikan sangatlah penting untuk eksistensi manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk komunikasi dengan Tuhannya ataupun dengan sesame manusia. Diatara fungsi belajar dan pengetahuan tidak lain adalah untuk memperhalus prilaku, memperindah sikap dan mempertajam rasa kepekaan terhadap kehidupan, baik dengan manusia atau lingkungan lainnya.

Bagaimanapun derajat manusia di dunia, pengetahuan mengajarkan untuk tetap rendah hati, andab asor, tidak mengangkat kepala dan dadanya ataupun dengan nada-nada yang mengindikasikan sikap sombong. Pendidikan, pengetahuan dan sejenisnya mengecam keras sikap-sikap yang demikian, apalagi sampai merendahkan dan tidak menghargai dan menghormati orang lain. Karena sejatinya manusia yang disebut dengan makhluk sosial tidaklah bisa hidup dengan baik, harmonis dan tentram tanpa keterlibadan dan saling tolong menolong dengan manusia lainnya. Disinilah diantara maksud ayat “dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan” ataupun ayat surat Al Hujurat ayat 13 berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Orang yang terlahir biasa saja akan berkata demikian "Menjadi pribadi yang dilahirkan dipelosok desa yang jauh dari perkotaan, lebih-lebih lingkungan tempat lahirnya adalah di lereng pegunungan membuat pribadi manusia lebih sadar diri, tidak mudah tersinggung dan pekerja keras untuk mengubah kondisi ekonominya yang pas-pasan. Hal yang demikian ini membuat sadar diri bahwa aku hanyalah pemuda yang lahir di desa, fisik dan rupa biasa saja, harta juga tidak punya dan bukan orang yang berpunya, ilmu dan pengetahuan juga tidak seberapa, dengan ini mungkin memang pantas jika selalu dipandang sebelah mata, menjadi maklum jika tidak dihargai dan dihormati, lebih-lebih sulit diterima oleh orang yang secara ekonomi dst lebih dari diri ini."

Dalam pribahasa disebutkan demikian "Aku memang tidak minta dihormati dan dihargai, tapi aku tau cara menghormati dan menghargai orang lain. Sebagai orang yang biasa saja dalam aspek apapun tentu aku lebih sadar diri dan berfikir 100x untuk melangkah pada tahap apa yang lebih di atas aku. Namun demikian aku bukanlah pengecut yang mudah tumbang dan putus asa, karena aku punya komitmen dan prinsip yang tidak mudah dilantakkan oleh orang lain."

Menjadi orang penyabar memanglah sangat amat indah untuk menikmati setiap tahapan dan langkah dalam hidup, hidup lebih tentram dan tenang tatkala selalu sabar dan mengutamakan prasangka baik terkait apapun yang terjadi dalam lintas kehidupan ini. Tapi, akankah sabar yang terus dipupuk dan dipertahanan itu akan terus bertahan dan semakin membaik kualitas sabarnya, atau justru ada celah-celah yang membuat sabar itu lantak dan menghardik apa yang sedang disabari.? Sabar itu selalu dibutuhkan tapi tegas dengan santun tetap harus ditampakkan. Disinilah celah yang membedakan antara sabar dan tidak sabar, sabar tidak selalu tentang diam, menerima apapun yang terjadi tanpa usaha lebih baik dan evaluasi diri. karena sabar adalah terus memperbaiki dan berbenah diri, evalusi diri untuk meningkatkan kualitas diri dihadapan Allah melalui iman, islam dan ihsah serta amal yang tidak cacat dengan dosa.

Terkait dengan ikatan interaksi dengan sesama manusia terbagi menjadi dua hal, pertama dengan tetangga, kedua dengan keluarga.

Menjaga keharmonisan dengan tetangga tidaklah rumit dan sulit jika kita mengetahui betul kultur dan sikap manusia di tempat itu pada umumnya dan kita tau cara bersikap dengan adaptasi dan mengelastisitas diri dengan lingkungannya. Namun tidak dengan kehidupan dalam keluarga, kalaupun komunitasnya lebih sedikit jumlah individunya, namun disitulah permasalahan lebih mudah merongrong keharmonisan di dalamnya. Komunikasi, sikap pemaaf, menghargai perbedaan, mengalah dan saling berusaha menjaga ikatan sakralnya merupakan hal yang harus selalu dirawat dan dipertahankan.

Komunikasi menjadi penentu hidup tidaknya suatu hubungan, karena dengan komunikasi kualitas hubungan lebih tampak subur dan berbunga-bunga, tentu harus diimbangi dengan sikap komitmen yang tinggi, pemaaf, saling menghargai dan menyayangi dst.

Orang yang sudah terbiasa hidup dalam kondisi biasa saja, lebih mudah beradaptasi dengan orang yang lebih tinggi derajat ekonominya. Artinya dia lebih mudah tau cara bersikap dan menghormati orang lain dengan kebiasaan yang ditanamkan oleh orang tuanya sejak di desa. Melihat kehidupan di desa lebih inten dengan tetangga dalam bercakap-cakap dan interaksi lainnya yang di situ terdapat penanaman adab yang tinggi kepada anaknya. Bagaimana cara bersikap kepada yang lebih tua, cara bertetangga yang baik dan seterusnya.

Aku pernah mendengar bahwa yang biasa tidak menghormati orang lain kelak akan tidak dihormati pula orang orang lain. Begitu juga dengan sikap negatif lainnya yang seharusnya tidak dilakukan. Menyakiti manusia baik secara fisik ataupun peraaan merupakan perbuatan dzolim yang harus dimintai maaf atas sikapnya. Kita tau bahwa kesalahan kepada sesama manusia lebih berat hisabnya dari pada kesalahan dengan Allah yang mana Allah maha pengampun.

Marilah kita terus berbenah diri, tidak mengharap dihormati oleh banyak orang tapi kita harus tau cara mebghormati dan menghargai orang lain sekalipu kita tidak dihormati balik.

Marilah kita menjadi penyabar tapi tidak diam ditempat melainka terus berupaya melakukan perbaikan dan evaluasi diri untuk lebih baik lagi dalam hal apapun, entah ibadah ataupun nilai ekonomi, sikap, akhlak dan lainnya.

Marilah kita perupaya tidak bersikap yang bisa menyakiti orang lain, karena dengan kita menyakiti orang lain nilai kualitas kita sebenarnya telah turun dan akan terus terdegradasi.

Cintailah orang yang mencintai kita, cintailah orang yang kita pilih, cintailah kedua orang tua kita, guru kita. Balaslah cinta itu dengan cinta juga. Mari kita terus tingkatkan taat kita kepada Allah dan hindari sikap-sikap yang mengindikasikan pada sikap durhka kepada orang tua, lebih lebih kita yang sudah belajar tentang apa itu baktikepada orang tua yang telah merawat kita sejak kecil hingga besar demikian.

Menerima apa yang menurut kita bukan pilihan dan kemauan kita belum tentu akan memberatkan kita dan mensulitkan kita untuk bahagia sesuai persepsi dan takaran kita. Bisa jadi itulah jalan bahagia yang sesunbgguhnya untuk kehidupan selanjutnya dan berikutnya. Karena yang tidak kita sukai belum tentu tidak baik, bisa jadi itulah yang terbaik bagi kita.

Ikhlas dan ridho atas apa yang terjadi adalah sikap yang baik. Marilah kita terseyum tanpa dimintai senyum dan berpura-pura tersenyum. Sikap hipokrit tidaklah baik untuk kehidupan.


Label: , , , ,

Selasa, 20 September 2022

Tiga Amalan Rebo Wekasan

 


AMALAN REBO WEKASAN

Bulan Shoffar adalah bulan yang mulia, bulan yang sama dengan bulan-bulan yang lainnya. Bukan bulan bala’ ataupun bulan yang penuh dengan musibah dan bencana. 

Namun demikian menurut sebagian ulama ahli ma'rifat dari golongan ahli mukasyafah dalam kitab “ Kanzun Najah Wassurur ”, karya Syaikh Abdul Hamid Al Qudsy, menerangkan bahwa: Setiap tahun Allah Swt menurunkan bala’ ke dunia sebanyak 320.000 macam bala’ (berupa fitnah, musibah dan bencana), dalam satu tahun. Tepatnya bala’ itu turun pada malam Rabu terakhir di bulan Shoffar atau yang terkenal dengan sebutan “ Malam Rebo Wekasan ”, dalam satu tahun ke depan.

Terdapat tiga amalan pada Rabu Terakhir di Bulan Shoffar ini (Rebo Wekasan) sebagaimana keterangan ini: 

1. , Pertama ialah melaksanakan Sholat Sunnah Hajat, harapannya adalah untuk menolak 320.000 macam musibah dan bencana (Sholat Sunnah Hajjat Lidaf’il Bala’).  Sholat sunnah ini dilaksanakan sejumlah empat roka’at, dengan dua kali salam, berikut niatnya: 

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ لِدَفْعِ الْبَلَاءِ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

Kemudian setelah membaca Al-Fatihah, lalu membaca Surat Al-Kautsar sebanyak 17x, Surat Al-Ikhlash 5x, Surat Al-Falaq 1x dan Surat An-Naas 1x. 

Hal ini dilakukan pada tiap roka'at. Artinya tiap rokaat musholli (orang yang sholat) membaca semua surat tersebut.

Setelah selesai sholat empat rokaat dengan dua kali salam, kemudian dilanjutkan membaca Do’a berikut ini : 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اللّٰهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنَا مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللّٰهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ اِكْفِنَا شَرَّ هٰذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيْ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ هٰذَا الزَّمَانِ وَأَهْلِهِ، وَنَعُوْذُ بِجَلَالِكَ وَجَلَالِ وَجْهِكَ وَكَمَالِ جَلَالِ قُدْسِكَ أَنْ تُجِيْرَنَا وَوَالِدِيْنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَهْلَنَا وَأَحْبَابَنَا، وَمَا تُحِيْطُهُ شَفَقَةُ قُلُوْبِنَا مِنْ شَرِّ هٰذِهِ السَّنَةِ، وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ فِيْهَا، وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ شَهْرِ صَفَرَ يَا كَرِيْمَ النَّظَرِ، وَاخْتِمْ لَنَا فِيْ هٰذَا الشَّهْرِ وَالدَّهْرِ بِالسَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ وَالسَّعَادَةِ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَأَوْلَادِنَا وَأَهْلِنَا وَمَا تُحِيْطُهُ شَفَقَةُ قُلُوْبِنَا وَجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ، النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ، اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هٰذَا الشَّهْرِ، وَمِنْ كُلِّ شِدَّةٍ وَبَلَاءٍ وَبَلِيَّةٍ قَدَّرْتَهَا فِيْهِ يَا دَهْرُ، يَا مَالِكَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، يَا عَالِمًا بِمَا كَانَ وَمَا يَكُوْنُ، وَمَنْ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ، يَا أَزَلِيُّ يَا أَبَدِيُّ، يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيْدُ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا ذَا الْعَرْشِ الْمَجِيْدِ، أَنْتَ تَفْعَلُ مَا تُرِيْدُ، اللهم احْرُسْ بِعَيْنِكَ أَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَدِيْنَنَا وَدُنْيَانَا الَّتِيْ ابْتَلَيْتَنَا بِصُحْبَتِهَا بِحُرْمَةِ الْأَبْرَارِ وَالْأَخْيَارِ، بِرَحْمَتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ، يَا كَرِيْمُ يَا سَتَّارُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى، وَبِكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ، وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَحْفَظَنَا وَأَنْ تُعَافِيَنَا مِنْ بَلَائِكَ، يَا دَافِعَ الْبَلَايَا، يَا مُفَرِّجَ الْهَمِّ وَيَا كَاشِفَ الْغَمِّ، اِكْشِفْ عَنَّا مَا كُتِبَ عَلَيْنَا فِيْ هٰذِهِ السَّنَةِ مِنْ هَمٍّ أَوْ غَمٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا.


2. Amala yang kedua adalah membaca Surat Yasin sebanyak 3x, setiap sampai pada ayat “Salamun Qoulan Min Robbil Rohim ”, maka ayat tersebut dibaca sebanyak 313 x, lalu dilanjutkan ayat setelahnya sampai selesai. setelah itu dilanjutkan membaca Do'a berikut:

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَاْلآفَاتِ وَتَقْضِـيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَـى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِيْ الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اللهم اصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الْأَرْضِ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

3. Meminum Air Salamun

Adapun Air Salamun disini adalah air yang dimasuki ayat salamah untuk diminum dengan harapan agar terhindar dari bala’ yang akan turun dalam masa setahun, harapan di sini tetap ditujukan kepada Allah. Ayat-ayat tersebut ditiupkan ke air dalam gelas / botol dan diminum dengan niat TABARRUK (mengharapkan keberkahan) dan hati tetap meminta kepada Allah Swt.

Disebutkan dalam kitab Nihayatuz Zain karya Syaikh Nawawi Al Jawi Al Bantani, pada catatan kaki bab Qunut Nazilah hal 67.  yang kitab ini merupakan syarah atau penjelasan dari kitab matan Fiqih Qurrotul ‘Ain cetakan Alawiyah Semarang, bahwa barang siapa yang menulis ayat salamah tujuh yaitu tujuh ayat Al Qur’an yang diawali dengan lafadz Salaamun :

سَلاَمٌ قَوْلاً مِنْ رَبٍّ رَحِيْمٍ، سَلاَمٌ عَلَى نُوْحٍ فِي الْعَالَمِيْنَ، سَلاَمٌ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، سَلاَمٌ عَلَى مُوْسَى وَهَارُوْنَ، سَلاَمٌ عَلَى إِلْيَاسِيْنَ، سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خَالِدِيْنَ، سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Kemudian tulisan tersebut dilebur atau bisa direndam dengan air, maka barang siapa yang meminum air tersebut Allah Swt akan selamatkan dari bala’ yang akan diturunkan.

Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah dan selalu diselamatkan dari segala mara bahaya, bala', fitnah dan segala keburukan oleh Allah SWT. Aamiin...


Label: , , , , ,

Kamis, 15 September 2022

Relasi Pendidikan dan Ekonomi


Seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan terus melakukan ambil sikap. Tidak sedikit jumlah siswa atau pelajar hingga tingkat mahasiswa yang terpanggil untuk terus sekolah dan melanjutkan kuliahnya ke jenjang tertinggi. Terlepas dari apapun tujuan awalnya mereka belajar, untuk apa mereka kuliah dan apa cita-cita mereka. Yang jelas, semuanya adalah sikap yang mulia ketika tetap mau belajar dan terus belajar.

Namun demikian, tetap saja banyak orang yang berfikiran sempit dan menceloteh mereka yang memilih lintas pendidikan dari pada bekerja sejak dini dan enggan belajar. Bagi mereka bekerja bisa kapan saja dan dengan profesi apaun itu yang penting tidak menyalahi kaidah kerja yang benar dan menghasilkan uang yang halal. Berbeda halnya bagi mereka yang memilih kerja sejak usia kecil dan enggan belajar dengan dalih ijazah tidak menjamin kekayaan dan pendapatan harta yang fantastis. Cara berfikir yang demikian sebenarnya salah dan tidak dapat terus diabaykan begitu saja, harus ada stimulus dan sikap yang dapat memberikan merekapemahaman agar orang yang belajar tidak selalu dianggap memilih jalan yang kurang tepat dengan alasan mereka sebagai berikut:

1. Ijazah tidak menjamin harta kekayaan

2. Ijazah tidak menjamin pendapatan harta yang fantastis tiap bulan

3. Lebih baik bekerja sejak kecil dan tidak perlu sekolah karena dua alasan di atas

Pada dasarnya antara pendidikan dan ekonomi itu sangat erat kaitannya, ini tidak lagi soal konsep kebarat-baratan tapi dalam islam sudah disampaikan sejak dahulu. Bagaimanapun konsep yang dibangun oleh mereka, tetap saja mereka enggan memasukkan peran agama dalam masalah ekonomi. Hal ini berbeda dengan konsep dalam islam yang selalu menghadirkan peran agama dalam konsep ekonomi. 

Islam selalu menyikapi perkembangan ekonomi, meskipun ada saja opini liar yang mengatakan bahwa agama tidak dapat menggerakan kehidupan ekonomi, lebih-lebih ekonomi kapitalis. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa agama dan ekonomi merupakan dua ranah berbeda yang memiliki titik tekan dan tujuan yang berbeda pula.

Dalam Islam selalu ada kajian terkait keduanya, seperti kajian tentang Agama dan Pendidikan: analisis relasi dan implikasinya dalam upaya pengembangan ekonomi, pengembangan ekonomi berbasis syariah di era digital, fiqh (islamic jurisprudence) dan perubahan ekonomi (economics exchange) antara idealitas dan ralitas, konsep islam tentang kepemilikan (islamic concept of ownership) dan implikasi ekonominya (its economic implications), instrumen ekonomi islam untuk kesejahteraan sosial: eksplorasi potensi zakat, infak, sadaqah dan wakaf uang, teori dan perilaku konsumsi dalam perspektif islam: memotret realitas sosial masyarakat era modern.

Dalam Islam apapun yang terkait dengan ekonomi selalu menghadirkan telaah dan konsep agama,baik mulai dari cara kerjanya dan panduan mentasorrufkan harta yang didapatkannya. Kehadiran agama dalam ekonomi bukan untuk mempersempit cara mendapatkan uang, cara kerja dan mengelola keuangan. Justru untuk kebaikan Bersama karena dalam islam selalu mendahulukan kemaslahatan umatnya.

Paparan di atas setidaknya sedikit memberikan bantahan terhadap statemen atau pandangan orangf barat yang mengatakan bahwa Islam menghambat kemajuan. Beberapa kalangan mencurigai Islam sebagai faktor penghambat pembangunan (anobstacle to economic growth). Kendatipun pandangan ini berasal dari pemikir barat namun tidak sedikit dari kalangan pemikir muslim yang mengamininya (Mohammad Thoyyib Madani, Agama Dan Pendidikan: Analisis Relasi Dan Implikasinya Dalam Upaya Pengembangan Ekonomi, Desember 2021).

Persepsi di atas jelas sangat tidak sesuai dengan realitas yang actual dan factual. Persepsi yang salah seperti ini setidaknya disebabkan adanya kesalah pahaman terhadap Islam itu sendiri. Sehingga seakan-akan menjustifikasi bawa Islam merupakan agama yang hanya berkaitan dengan masalah ritual saja, bukan hadir sebagai suatu sistem yang komprehensip dalam cakupan aspek kehidupan umat manusia, baik terkait ritual ataupun kewajiban, sosial dan juga ekonomi yang menjadi motor penggerak roda perekonomian seluruh umat semesta alam.

Menurut Sjafruddin, dalam kehidupan ekonomi perilaku individu itu tidak lepas dari dua motif didorong, yaitu motif ekonomi dan motif agama. Motif ekonomi sendiri tidak lepas dari dorongan adanya rasa takut terhadap kekurangan dan kemelaratan hidup(miskin) sehingga membuat manusia selalu berupaya mengumpulkan harta sebanyak mungkin. Perasaan takut yang demikian dapat menjadikan gaya hidup manusia menjadi makhluk serakah dan berambisi besar tanpa memperhatikan panduan dalam kaidah dalam agama.

Sebaliknya agama menurut Sjafruddin justru mengajarkan manusia untuk senantiasa menjauhkan diri dari perasaan takut. karena memang yang wajib ditakuti hanyalah Allah SWT. 

Kendati demikian bukan berarti dalam Islam tidak menganjurkan umatnya untuk bekerja keras dalam mencari nafkan dan menjadi orang yang kaya raya. Islam tetap menginstruksikan umatnya untuk semangta bekerja, bekerja keras dan bekerja cerdas untuk menghasilkan uang yang banyak dan tentunya halal dengan kaidah-kaidah agama islam yang hadir di dalamnya. Allah berfirman dalam Surat al-Jum’ah ayat 9-10 sebagai berikut:

  يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ، فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah, ayat 9-10)

Dari penggalan di atas terdapat instruksi bahwa setelah usai mengerjakan sholat jum’at hendaknya berpencar untuk mencari karunia Allah, tentu diantara interpretasi dari penggalan ayat ini adalah untuk mencari nafkah. karena nafkah bagian dari karunia dari Allah.

Syekh Abu Manshur al-Maturidi mengatakan:   

وقوله - عز وجل -: (فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون (10) أي: رحمة الله؛ هذا خرج في الظاهر مخرج الأمر، ولكنه في حكم الإباحة عندنا؛ لأن هذا أمر خرج على أثر الحظر،    

Artinya, “Firman Allah “apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”, maksudnya beruntung mendapat rahmat Allah. Ayat ini secara lahir dibentuk dalam kata perintah, namun berada dalam hukum ibahah (memperbolehkan) menurut pendapat kami (Ahlussunnah wal Jamaah), sebab ini adalah perintah yang disebutkan setelah larangan.”

Ayat di atas setelah memerintahkan untuk sholat jumat kemudian menganjurkan atau membolehkan umatnya untuk berpencar Kembali agar menjari karunia Allah. Manusia sendiri sejatinya adalah homo economicus, meskipun juga harus disandingkan dengan pandangan yang menyatakan bahwa manusia itu adalah makhluk homo religious. Sehingga mereka akan selalu memanfaatkan alam kebendaannya ini dengan cara yang sebaik-baiknya, yang pada gilirannya adalah untuk mendatangkan kemaslahatan.

Allah swt. Berfirman dalam hadist qudsi

يا دنيا اخدمي من خدمني واستخدمي من خد مك

Artinya, “Wahai dunia, berkhitmadlah kamu kepada orang yang telah berkhitmad kepada-Ku, dan perbudaklah orang yang mengabdi kepada-mu”. 

dari paparan di atas menjelaskan bahwa agama sangat erat kaitannya dengan ekonomi, agama Islam sendiri memerintahkan agar umatnya selalu belajar dan menuntut ilmu sepanjang masa. Sehingga dnegan pengetahuannyalah kemudian ia selain bisa mempunyai keilmuan untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat islam juga kaidah-kaidah hidup bersosial yang kaitannya erat dengan ekonomi. 

Bagaimanapun merea memisahkan relasi antara ilmu dan ekonomi, tetap saja sampai kap[anpun dalih mereka tidak dapat memutus relasi keduanya. karena memang keduanya sangat erat kaitannya dalam kehidupan manusia. Allah memerintahkan umat manusia selain untuk belajar juga diperintahkan untuk mencari nafkah sehingga dapat bertahan hidup dengan baik. 

Jika ada yang mengatakan bahwa ijazah tidak ada kaitannya dengan cara mendapatkan harta, tentu bisa dibenarkan. Namun dengan mempunyai keilmuan akan menyadarkan kita bahwa dengan kita kaya bukan berarti harus lupa pada siapa yang maha pemberi dan siapa yang harus selalu disembah dan diesakan. Kendatipun mencari ilmu bukan semata-mata untuk mendapatkan harta yang banyak dst. belajarhanyalah untuk melajar, mencari ridho Allah dengan mempelajari ilmunya dan berupaya mentas dari kebodohan-kebodohan yang selalu menghantui umat manusia. 

Islam sendiri mempunyai konsep dan pandangan yang jelas mengenai perihal harta dan kegiatan ekonomi. Pandangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: Pertama: pemilik mutlak terhadap segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini, termasuk harta benda, adalah Allah SWT. Kepemilikan oleh manusia hanya bersifat relatif, sebatas untuk melaksanakan amanah mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuan-Nya. Kedua; status harta yang dimiliki manusia adalah harta sebagai amanah, sebagai perhiasan hidup yang memungkinkan manusia bisa menikmatinya dengan baik dan tidak berlebihan, sebagai ujian keimanan, sebagai bekal ibadah, yakni untuk melaksanakan muamalah di antara sesam manusia, melalui kegiatan zakat, infak dan sedekah, Ketiga: Pemilikan harta dapat dilakukan antara lain melalui usaha yang halal dan sesuai dengan aturan-Nya. Keempat: dilarang mencari harta, berusaha, atau bekerja yang dapat melupakan kematian, melupakan dzikrullah, melupakan shalat dan zakat, dan memusatkan kekayaan hanya pada sekelompok orang kaya saja. Kelima: dilarang menempuh usaha yang haram, seperti melalui kegiatan riba, perjudian, berjual beli dengan barang yang dilarang atau haram, mencuri, merampok, peggasaban, curang dalam takaran dan timbangan, melalui cara-cara yang batil dan merugikan, dan melalui suap menyuap (Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik (Jakarta: Gema Insani Press, 2001).





Label: , , , , , ,

Sabtu, 20 Agustus 2022

Kesadaran

Sadar diri


Banyak manusia yang lupa pada eksistensi dirinya, dirinya itu siapa dan untuk apa, lantas harus bagaimana dan di mana. Manusia memang begitu, butuh waktu dan suasana untuk sadar, butuh nasehat untuk mengembalikan hati dan fikiran pada kondisi normal. Manusia memang begitu, selalu mudah lupa pada masa-masa sulit dan menyakitkan. Mudah acuh dan abai pada norma-norma etika terhadap Tuhan dan sesama. Manusia suka lupa pada siapa dia harus meminta dan bagaimana caranya berdoa, lebih suka menerima sampai lupa bagaimana agar dia juga bisa memberi tanpa dipinta. 

Manusia memang suka aneh, lebih banyak berbicara, bertanya, menjelaskan panjang lebar tanpa ditanya. Manusia memang suka acuh, malas belajar, bekerja, dan mengharap lebih pada sesama. Ini tidak baik dan tidak sehat. Seharusnya kamu itu sadar, muhasabah diri, malu dan maju untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Tidak banyak bertanya dan basa basi, tidak banyak meminta dan menerangkan banyak hal, menunggu ditanya baru berucap. Tidak banyak tingkah dan liar dalam bersikap.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Tidak banyak berbicara, mengirimkan banyak pesan dengan rentetan kata-kata yang tak berharga sama sekali, siang dan malam. Justru yang demikian menunjukkan betapa tidak berkualitasnya caramu dalam bersikap.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Lebih banyak belajar, membaca dan menulis, mempersiapkan diri dengan maksimal agar nanti tidak banyak hal yang dapat membuatmu malu di tengah-tengah masyarakat yang agamis dan idealis, cerdas, cermat dan kritis. Mereka lebih banyak pengalaman yang bisa saja melahirkan teori-teori hidup yang berharga dari pada dirimu yang masih saja terbang dengan sekian teori yang satup belum kamu buktikan dalam kehidupanmu.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Tetap menjadi orang yang asing dan tidak berusaha dekat dan akrab, kamu masih sekedar melihat dari kejauhan, belum melangkah lebih dekat kemudian dipersilahkan menetap, bersama selamanya tanpa ada kata pisah. 

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Sadar diri dengan hamparan ketidak tahuan alias bodoh, perbanyaklah muhasabah dan berdzikir agar dirimu semakin sadar pada tujuan hidup yang sebenarnya itu apa dan hatimu lebih mudah menerima nasehat dari banyak lisan dan keadaan, baik kondisi yang terkesan baik atau sebaliknya. Karena itu, tetaplah mensyukuri apapun itu keadaannya dan terus berbenah diri bagaimanapun kondisinya.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Lebih giat lagi bekerjanya, belajarnya, dan menabung untuk masa berikutnya, karena hidup tidak selalu tentang diberi dan meminta. Tapi berusaha mendapatkan sendiri, kemudian memberi tanpa mereka minta. Kepada siapapun itu tanpa membeda, memberi dan berbaik pekerti.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Banyak-banyak bersyukur dan lebih bersyukur lagi karena telah diberikan kesempatan belajar dengan baik, dikelilingi oleh orang-orang baik dan dikehendaki satu langkah maju untuk hidup dengan orang yang sangat baik. Baik agamanya, baik akhlaknya, baik nasabnya, banyak ilmunya dan cantik rupanya. 

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Jaga jarak, jaga sikap, jaga ucap, dan jaga pesan WhatsApp hingga nanti tibalah waktunya bai'at. Setelah itu, kamu berhak berbicara lebih dari yang semula hanya sepatah kata, berhak mengangkat kepala dan memandangnya dari yang semula hanya berani menunduk dan diam tanpa kata.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Sadar diri dan banyak bersyukur. Ingat, kamu dulu pernah berada di posisi paling dwon dan sangat menyakitkan. Malas makan, malas belajar, dan malas dengan segala apapun yang sebelumnya mengasikkan.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Perbanyaklah bersyukur, perbanyaklah bertaubat dan perbanyaklah berbuat baik. Ingat, umur tidak ada yang tau kapan masa aktifnya berakhir. Karena itu, gunakanlah waktumu dengan semaksimal mungkin, seakan-akan esok kamu telah tiada dari muka bumi ini. Masih banyak tempat yang harus kamu singgahi, baik buruknya nanti dimulai dan ditentukan dari kehidupanmu yang sekarang ini.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Jangan meminta dan mengharap kepada selain Allah, jangan meminta lebih dari apa yang mereka bisa beri. Tetaplah meminta dan mengharuskan banyak harap kepada Allah yang maha kaya, maka memberi, dan maha tau apa yang kita butuhkan. Tetaplah berdoa, bertaubat, beribadah dan belajar. 

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Kamu harus sadar bahwa dirimu tak lebih dari seorang pendosa, pemalas dan tak banyak bertaubat atas sekian banyak dosa-dosa yang telah kau lakukan, dimana-mana, entah berupa kata, ucap dan sikap.

Ya Allah, beri aku kemudahan untuk terus mensyukuri nikmatmu, menyadari sekian banyak kesalahanku, selalu bertaubat atas dosa-dosaku, senantiasa semangat bekerja dan semangat belajar. jauhkan aku dari sifat dan sikap meminta, banyak bertaya hal yang tidak penting, mengunjing, menggosip, menyakiti orang lain dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Ya Allah berilah aku kekuatan untuk selalu taat padamu, melaksanakan kewajiban-kewajibanku sebagai orang muslim dan menjauhi semua larangan yang ada. Ya Allah, jadikan aku orang yang dapat memberikan banyak manfaat untuk sesama, entah melalui pengetahuan yang telah engkau beri, ataupun melalui harta yang telah dan akan engkau beri setelah ini. Berilah aku umur yang seperti itu, umur yang barokah dan bermanfaat.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. 


Sabtu, 20 Agustus 2022.

Muhammad Zaironi

Label: , , , , , ,

Tiga Kewajiban Orang Tua Kepada Anaknya

keluarga sakinah


Dalam Islam, terdapat tiga kewajiban bagi orang tua terhadap anak. Tiga kewajiban orang tua untuk anaknya tersebut ialah, pertama, memberikan nama yang baik dan bagus, kedua, memberikan pendidikan yang baik, dan ketiga ialah menikahkannya.

1. Pertama, kewajiban orang tua kepada anaknya ialah memberikan nama anaknya dengan nama sebaik mungkin. Nama menjadi panggilan untuk anak tersebut sehingga jia nama anaknya kurang baik maka akan berdampak kepada orang tuanya juga, karena tidak sedikit orang tuanya kemudian dipanggil dengan nama anak pertamanya dan nama untuk anaknya tidak harus berbahasa arab. 

Pemberian nama kepada anak bukan sekedar untuk nama saja, namun sebisa mungki memperhatikan maknanya dan juga diniatkan untuk tabarrukan kepada arti dari nama tersebut. Seperti contoh nama anak dengan nama Zakiya Fikrotus Su'ada, maka dengan nama itupula diharapkan anak tersebut bisa merepresentasikan dari makna namanya sendiri. yakni, orang yang suci fikirannya dan bahagia. Jadi, hendaknya orang tua jangan asal memberikan nama kepada anaknya tanpa memperhatikan makna dan kebaikan seterusnya untuk anak tersebut. Karena dengan nama itulah anak itu akan dipanggil dan dinisbatkan kepada keluarganya.

Anjuran kepada orang tua agar memberikan nama yang baik tersebut bisa di cek di kitab Al-Adzkarun Nawawi hadits riwayat Abi Darda’. Bunyi haditsnya ialah sebagai berikut:

عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال : قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : " إنكم تدعون يوم القيامة بأسمائكم وأسماء آبائكم فأحسنوا أسماءكم ".

Artinya, “Dari Abu Darda Ra berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh kalian semua akan dipanggil pada hari Kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian. Maka dari itu, perbaguslah nama-nama kalian,’ (Lihat Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkarun Nawawi". Beirut: Dar Kutub: 2004, halaman 411).

Di antara maksud dan tujuan kenapa orang tua dianjurkan agar memberikan nama yang baik kepada anaknya, ialah karena ada beberpa nama yang makruh jika dibuat nama, dan nama ini tidak disukai oleh Nabi Muhammad SAW. Seperti contoh nama Untung (Rabaḥ), Sukses (Najah), menang (Aflaḥ), Kaya (Yasar), dan raja diraja (Malikul Amlak). 

Berikut hadits yang menerangkan hal di atas:

عن سمرة بن جندب رضي الله عنه قال : قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : " لا تسمين غلامك يسارا ، ولا رباحا ، ولا نجاحا ، ولا أفلح 

Artinya, “Dari Samurah bin Jundab RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Jangan kalian memberi nama anak kalian dengan nama Yasar, Rabah, Najah, dan Aflah,’” (Lihat Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkarun Nawawi, Beirut, Dar Kutub: 2004, halaman 412). 

Namun demikian, bukan berarti nama-nama tersebut tidak boleh digunakan. hanya saja nama di atas tidak dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk digunakan sebagai nama dan jika digunakan juga tidak berdosa. Karena itulah, orang tua memberikan nama anaknya dengan bahasa apa saja diperbolehkan dengan ketentuan nama yang digunakan bermakna baik dan diusahakan tidak dengan nama-nama yang ada pada hadits di atas. 

Dalam keterangan yang lain Nabi Muhammad SAW justru menganjurkan agar orang tua dalam memberikan nama kepada anaknya ialah menggunakan nama yang disukai oleh Allah SWT, yaitu seperti nama Abdullah, Abdurrahman, nama-nama para nabi. Keterangan ini terdapat dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud dari sahabat Abu Wahb Al-Jusyami sebagai berikut:

 عن أبي وهب الجشمي الصحابي رضي الله عنه قال : قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : " تسموا بأسماء الأنبياء ، وأحب الأسماء إلى الله تعالى : عبد الله وعبد الرحمن ، وأصدقها : حارث وهمام ، وأقبحها : حرب ومرة 

Artinya, “Dari Abi Wahb Al-Jusyami RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Berilah nama (kepada anak-anakmu) dengan nama-nama para nabi, dan nama-nama yang paling disukai oleh Allah SWT adalah Abdullah dan Abdurrahman. Sedangkan yang pertengahannya adalah Haris dan Hammam. Adapun nama yang paling jelek adalah Harb dan Murrah,” (Lihat Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz IV, halaman 474). 

Kemudian, dalam tradisi yang berlaku di khalayak masyarakat, ketika terdapat bayi yang baru lahir maka biasanya bayi tersebut akan diberi nama pada hari ke tujuh ada juga pada hari ke empat puluh dari kelahirannya, hal semacam ini biasa disebut dengan istilah tradisi molang are. 

Pada hari ke empat puluh dari kelahiran bayi tersebut biasanya sekaligus dengan dilakukan penyembelihan dua ekor kambing bagi anak laki-laki dan satu kambing bagi anak perempuan. Acara yang sudah mendarah daging di masyarakat ini biasanya tidak hanya diisi dengan makan-makan saja, namun diisi dengan pembacaan khatmil qur’an, kadang hanya baca Yasin saja dan biasanya akan ditutup dengan pembacaan shalawatan bersama, seperti maulid diba'. 

Berikut haditsyang menerangkan tentang perintah untuk memberikan nama kepada anaknya yang baru lahir

أن النبي صل الله عليه و سلم أمر بتسمية المولود يوم سابعه، و وضع الاذى عنه، و العقّ. 

Artinya: "Bahwa sesungguhnya Nabi memerintahkan untuk memberikan nama pada hari ketujuh, menghilangkan kesengsaraan dari padanya dan aqiqah". (Muhyiddin Dhib, Lawami’ al-Anwar; Syarh Kitab al-Adzkar, Bairut, Dar Ibn Kathir, 2014, juz 2, halaman: 143)

Namun demikian, hadits di atas tidak memutlakkan harus memberi nama anak pada hari ke tujuh pada hari kelahiran. Sehingga andai saja ada orang tua yang memberikan nama pada hari pertama kelahiran, maka tidak apa-apa

2. Kedua, memberikan pendidikan yang baik. Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang baik, hal ini untuk kebaikan masa depannya, kebaikan dalam melaksanakan eksistensi sebagai umat beragama Islam dan sebagai makhluk sosial yang membutuhkan banyak ilmu untuk menjalani kehidupannya dengan baik.

Dalam Islam setiap manusia muslim laki-laki dan perempuan diwajibkan untuk belajar, bahkan sejk dari buaian hingga ke liang lahat. Hal ini mempertegas betapa pentingnya sebuah pengetahuan dan pendidikan. Dengan pendidikan yang baik tentu akan membuat hidup manusia itu berjalan dengan baik, mengerti cara bersosial dengan baik, dan mengerti cara melaksanakan kewajiban sebagai orang islam dengan benar. 

Nabi Muhammad SAW bersabda sebagai berikut:

اطلبوا العلم ولو بالصين

Artinya, “Tuntutlah ilmu, walau ke negeri Cina” (Diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman, No. 1612)

Dalam keterangan yang lain disebutkan sebagai berikut:

اطلب العلم من  المهد إلى اللحد

Artinya : “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat” 

Ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, dalam syair disebutkan sebagai berikut:

  وفضل وعنوان لكلّ المحامد v تعلّم فانّ العلم زين لأهله

من العلم واسبح في بحور الفواءد v وكن مستفيدان كل يوم زيادة

Artinya, “Belajarlah, karena ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, dan keutamaan baginya serta tanda setiap hal yang terpuji. Jadilah kamu orang yang mencari faedah, setiap harinya bertambah ilmu dan berenang di atas lautan faedah.”

Dari keterangan di atas dapat difahami bahwa betapa pentingnya ilmu atau pengetahuan untuk keberlangsungan menjalani hidup di muka bumi, selain banyak yang harus diketahui oleh setiap muslim yang berhubungan dengan kewajibannya sebagai orang Islam, juga pengetahuan dibutuhkan untuk dapat melangsungkan eksistensi hidupnya dengan baik dan mengantarkannya kepada kebahagiaan. 

Imam syafii berkata bahwa orang yang tidak betah dengan pahitnya menuntut ilmu, maka dia akan menanggung pahitnya kebodohannya kelak.

Tatkala orang tua memberikan pendidikan yang baik, maka orang tua tersebut akan mendapatkan aliran pahala. Sebagaimana keterangan hadits dibawah ini:

 عن جابر بن سمرة رضي الله عنه قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم  لأنْ يُؤَدِّبَ الرجلُ وَلَدَه خيرٌ من أن يتصدق بصاع أخرجه الترمذي

Artinya, “Dari sahabat Jabir bin Samurah ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Pengajaran seseorang pada anaknya lebih baik dari (ibadah/pahala) sedekah satu sha,” (HR At-Tirmidzi).

Pendidikan yang diajarkan sejak kecil hendaknya pada hal-hal yang berkaitan dengan akhlak atau adab, sebagaimana sabda Nabi Muhammad berikut:

عن أَيُّوبَ بْنِ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا خَيْرًا لَهُ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ   

Artinya, “Dari Ayyub bin Musa, dari bapaknya, dari kakeknya, Rasulullah saw bersabda, ‘Tiada pemberian orang tua terhadap anaknya yang lebih baik dari adab yang baik," (HR At-Tirmidzi). 

Dalam riwayat lain Rasulullah juga menyampaikan agar para orang tua menanamkan etika dan norma-norma moral kepada anak-anaknya. Sebagaimana penjelasan hadits di bawah ini:

 عن ابن عباس عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أَكْرِمُوْا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوْا آدَابَهُمْ رواه ابن ماجه 

Artinya, “Dari sahabat Abdullah bin Abbas ra, dari Rasulullah saw bersabda, ‘Muliakanlah anak-anakmu, perbaikilah adab mereka," (HR Ibnu Majah)

Madrasah pertama bagi anak-anak adalah keluarga, khususnya ibu yang mengandungnya. Sehingga dengan demikian hendaknya ibu mempunyai pengetahuan yang cukup untuk diajarkan kepada anaknya sejak dini. Seperti ilmu tentang cara makan yang benar, cara membaca yang baik, cara berbicara yang santun dan seterusnya. Lebih-lebih jia orang tua mencontohkannya terlebih dahulu sehingga anak bisa mencontoh secara langsung perbuatan yang baik itu bagaimana. Sebagaimana yang ada dalam pepatah berikut:

 لِسَانُ الْحَالِ أَفْصَحُ مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ 

Artinya: “Contoh perbuatan lebih efektif (lebih berpengaruh) daripada perkataan”

Mengajarkan suatu hal memang akan lebih mudah difahami dan dicontoh langsung tatkala anak itu diberikan contoh oleh orang tuanya, sehingga anak bisa denga mudah mengerti apa maksud dari apa yang di ajarkan oleh orang tua. Terlebih orang tua mendidik anaknya dengan menggunakan metode pembiasaan. 

Kenapa demikian? karena lebih tepatnya, untuk anak-anak hanya butuh pada pembiasaan saja, misalnya jika anak tersebut sejak kecil biasa dibawa kemusholla atau biasa diajak sholat ketika waktunya sholat. Maka kemudian hari pasti anak itu tanpa diminta sudah sadar dengan sendirinya bahwa pada waktu yang sama ia harus mengerjakan sholat, begitu juga dengan hallainnya. karena anak kecil hanya butuh contoh bukan materi yang banyak.

Di antara pendidikan yang pertama harus diberikan ialah pendidikan yang berhubungan dengan kewajibannya sebagai umat Islam, yakni pendidikan tentang bersuci, sholat, zakat, puasa dan haji. Pendidikan tentag tauhid dan akhlak. Setelah itu kemudian baru pendidikan yang lainnya

Dalam hal ini sudah dijelaskan dalam surat Luqman ayat 17 berikut:

 يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ 

Artinya, "Wahai anakku, dirikanlah shalat dan ajaklah manusia berbuat baik dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara penting".

Kemudian dalam hadits juga disampaikan sebagai berikut:

 عن عمرو بن شعيب، عن أبيه، عن جده -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: مُرُوا أولادَكم بالصلاةِ وهم أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، واضْرِبُوهُمْ عليها، وهم أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في المَضَاجِعِ

 Artinya, "Dari Amr Bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: Rasulullah bersabda: “Perintahkan anak-anakmu melaksanakan sholat saat mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka sebab meninggalkan sholat saat mereka berusia 10 tahun dan pisahkan tempat tidur mereka". (H.R Abu Daud)

3. Ketiga, Hal anak pada orang tua yang ketiga ialah dinikahkan. Orang tua punya tanggung jawab untuk menikahkan anaknya tatkala anak tersebut sudah siap, siap secara materi, siap secara pengetahuan dan mental. Karena memang pernikahan bukanlah suatu hal yang biasa saja. Pernikahan ialah suatu perjanjian sakral, perjanjian yang disaksikan banyak malaikan dan manusia. Sehinga tatkala sudah melangsungkan akad nikah jauh-jauhkan fikiran tentang keinginan talak dan semacamnya. 

Dalam Al-Qur'an disebutkan sebagai berikut

وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

Artinya, "Dan mereka (istri-istrimu) telah megambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu." (QS. An-Nisa’: 20-21)

Pernikahan menjadi sarana untuk menjadikan setengah ibadahnya sempurna, dalam sebagian pendapat disampaikan bahwa dengan menikah setegah dari imannya telah sempurna. Yang jelas, sebagai orang tua yang baik, setelah memberikan nama yang baik untuk anaknya, kemudian memberikan pendidikan sebaik mungkin, dan yang terakhir punya tanggung jawab untuk menikahkan anaknya. 

 

REFERENSI/RUJUKAN

Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkarun Nawawi". Beirut: Dar Kutub: 2004, halaman 411 dan 412

Muhyiddin Dhib, Lawami’ al-Anwar; Syarh Kitab al-Adzkar, Bairut, Dar Ibn Kathir, 2014, juz 2, halaman: 143

Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun, juz IV, halaman 474


 

Label: , , , , ,

Kamis, 18 Agustus 2022

Menjaga Harga Diri (Dignity atau self respect)



Harga diri (Dignity atau self respect) itu melekat sepenuhnya pada setiap manusia seumur hidupnya. Mungkin saja kekuasaan atau kesenjangan ekonomi dapat mendegradasi dignity seseorang, tapi sebenarnya sedikitpun self respect itu tidak akan bisa hilang dari pribadinya. Karena ia melekat sepenuhnya hingga penghujung nafas setiap manusia.

Di dalam Islam, terdapat tiga kata yang secara makna saling melengkapi dalam mewujudkan kemuliaan, kehormatan dan menjaga diri. Hal ini disebut dengan izzah (kemuliaan diri), muru’ah (menjaga kehormatan diri), dan iffah (menahan diri). 

Tiga kata di atas saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Kata Izzah juga bermakna kehormatan, keagungan, dan kekuatan. Izzah harus dimiliki dan harus ada dalam hati setiap manusia, Izzah bisa didapatkan dengan cara mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan muru’ah memiliki makna menjaga tingkah laku hingga tetap berada pada keadaan yang paling utama. Menurut Syekh Imam Mawardi dalam Adab ad-dunya waddin, muru’ah memiliki pengertian sebagai berikut:

المروءَة مراعاة الأحوال إلى أن تكون على أفضلها، حتَّى لا يظهر منها قبيحٌ عن قصد، ولا يتوجَّه إليها ذمٌّ باستحقاق  

Artinya, “Muru’ah adalah menjaga tingkah laku hingga tetap berada pada keadaan yang paling utama, supaya tidak melahirkan keburukan secara sengaja dan tidak berhak mendapat cacian.

Jadi, Muru'ah itu tatkala manusia menjaga sikap dan tingkah lakunya agar senantiasa berada dalam keadaan yang baik dan tidak melanggar aturan-aturan dalam islam. Sehingga dengan perbuatan di atas orang itu bisa menjga diri dari perbuatan yang kapan saja bisa membuahkan keburukan.

Sedangkan menurut Mausu’ah Fiqh al-Qulub, muru’ah adalah: “Mengerjakan segenap akhlak baik dan menjauhi segenap akhlak buruk; menerapkan semua hal yang akan menghiasi dan memperindah kepribadian, serta meninggalkan semua yang akan mengotori dan menodainya.”

Adapun makna 'iffah ialah sebuah kemampuan atau sikap manusia dalam menjaga dan menahan diri dari hawa nafsu. Menurut Ibnu Maskawaih dalam kitabnya Tahdzibul Akhlak, 'Iffah adalah suatu kemampuan yang dimiliki manusia untuk menahan diri dari dorongan hawa nafsunya. 'Iffah merupakan sebuah keutamaan yang dimiliki manusia ketika dirinya mampu mengendalikan syahwat dengan akal sehatnya. Dari sifat 'iffah inilah kemudian lahir akhlak yang mulia seperti sabar, qana'ah, jujur, adil, santun, dermawan, dan perilaku terpuji yang lain. 

Sifat 'iffah inilah yang kemudian membuat manusia menjadi mulia (izzah). Sifat Iffah seperti batas pembeda antara prilaku manusia dengan hewan, bagaimana tidak, andaikata manusia sudah tidak lagi memiliki sifat 'iffah, maka dia tidak ada bedanya dengan sifat-sifat hewan. Karena itulah, tatkala seseorang mampu memfungsikan sifat 'iffah-nya, dalam kehidupannya, maka berarti akal sehatnya masih bekerja dengan baik. 

Dengan tiga sifat di atas manusia bisa menjalani kehidupannya dengan penuh arti. Tidak asal bersikap, bertindak dan berbicara ataupun berkomentar. Dengan sifat di atas pula manusia akan bisa menjaga eksistensi sebagai manusia yang sebenarnya melalui ke iffahannya, yakni menjaga dirinya dari dorongan hawa nafsunya. Dan dengan sifat Izzahnya manusia akan terhormat.

Dengan demikian, maka orang yang memiliki harga diri adalah orang yang mampu menampilkan kemuliaan dirinya, yakni 'izzah, menjaga kehormatannya, yakni disebut dengan muru’ah, dan menahan diri dari dorongan hawa nafsu yang disebut dengan 'iffah. Iffah juga bermakna menahan diri dari setiap perbuatan maksiat dan segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT.

Dalam prakteknya, atau pengamalan 'iffah, maka 'iffah terbagi menjadi dua, yakni menjaga dan menahan diri dari syahwat syahwat perut, dan menahan diri dari syahwat kemaluan. Yang dimaksud dengan menahan diri dari syahwat perut ialah menahan diri agar tidak meminta-meminta kepada selain Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah QS Al-Baqarah: 273 berikut:

لِلۡفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحۡصِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ ضَرۡبٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِيمَٰهُمۡ لَا يَسۡ‍َٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ 

Artinya, “(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui" (QS Al-Baqarah: 273)

Sedangkan dalil yang menerangkan tentang menjaga diri dari syahwat kemaluan di antaranya ialah firman Allah pada surah an-Nur: 33 berikut:

وَلۡيَسۡتَعۡفِفِ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغۡنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ  

Artinya, “Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya” (QS an-Nur: 33). 

Hendaklah kita menjadi manusia yang hanya memusatkan permintaan kita kepada Allah melalu doa dan membuktikan keseriusan kita dalam mintanya dengan bekerja keras dan sekuat tenaga, sabar dalam menjalani kehidupan tamun tetap berusaha untuk bangkit dan menjadi lebih baik lagi baik dalahm hal ibadah kita ataupun baik dalam ekonimi. Sehingga keduanya ketka berjalan seiringan, maka hidup kita akan menjadi lebih baik lagi dalam menjalaninya sehari-hari. Rasulullah bersabda sebagai berikut:

مَا يَكُوْنُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ لاَ أَدَّخِرُهُ عَنْكُمْ، وَإِنَّهُ مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبّرِهُ اللهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ 

Artinya, “Kebaikan (harta) yang ada padaku tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta, Allah akan memelihara dan menjaganya. Siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta, Allah akan menjadikannya sabar. Siapa yang merasa cukup dengan Allah dari meminta kepada selain-Nya, Allah akan memberikan kecukupan kepadanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. al-Bukhari). 

Sifat Iffah sendiri menjadi sifat yang sangat potensial pada diri setiap manusia, karena itulah menusia harus mendapatkan pendidikan yang baik sehingga ia dapat membentengi dirinya dari perbuatan yang tidak baik dan terus bisa menjaga eksistensinya sebagai manusia dengan menjaga kemuliaan dan berbuat mulia. 'Iffah tidak bisa diraih hanya dengan mempelajari teori. 

Sifat 'Iffah bisa dimiliki oleh setia manusia dengan syarat orang tersebut mau dan berusaha untuk terus melatih diri dan juga melalui pendidikan jiwa, yakni dengan memperbanyak mengerjakan amalan yang baik.

Sifat Iffah adalah bagian dari tingkat tertinggi dari akhlak manusia, dan juga menjadi perantara manusia tersebut dicintai oleh Allah SWT. Kenapa sdemikian?, dikarenakan denga sifat Iffah inilah kemudian melahirkan banyak sifat mulia dan terpuji sebagaimaa yang disampaikan di atas. Sehingga jika sifat 'iffah dari manusia sudah hilang, maka akan memberikan banyak pengaruh yang negatif dalam dirinya. Diantara dampat terburuknya ialah dapat membawanya pada perbuatan maksiat yang kemudian ia tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan salah, baik dan buruk, dan mana yang halal dan haram dikarenakan akal sehatnya sudah tertutup oleh syahwat semata.

Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah untuk memiliki sifat 'iffah terdapat dalam kitab al-adzkar an-Nawawi, berikut bunyi doanya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ اْلهُدَى وَالتُّقَى وَاْلعَفَافَ وَاْلغِنَى 

Artinya, "Ya Allah aku mohon kepadamu petunjuk, takwa, iffah (pengendalian diri), dan kecukupan" (HR Muslim).

Dalam kitab al-adzkar an-Nawawi tersebut dijelaskan bahwa doa di atas hendaknya dibaca pada pagi hari. Di antara tujuannya ialah agar sejak pagi kita sudah bisa terjaga dari perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan kita kepada perbuatan maksiat yang menghasilkan dosa.

Sudah menjadi maklum dan masyhur bahwa semua manusia akan berusaha untuk mempertahankan harga dirinya, setiap manusa akan merasa menjadi wajib baginya untuk terus menjaga dan mempertahankan harga diri dengan harapan esistensi dalam hidupnya bisa berjalan dengan baik tanpa adanya tekanan dan kecanggungan dalam hidup bersosial. 

Di antara upaya untuk menjaga harga dirinya biasanya banyak orang bersikap dengan berupaya sekuat tenaga dan bekerja sekeras mungkin untuk mendapatkan banyak harta, dan mendapatkan pangkat jabatan. Semua ini dimaksudkan untuk menjaga harga dirinya dari kemiskinan dan meminta-minta. Hal ini menjadi baik tatkala niatnya semata-mata tetal Lillahi Ta’ala, karena memang dikehidupan sekarang yang serba instan, serba ber-uang, dan maka di atara cara untuk menghindarkan diri dari meminta-minta ialah dengan bekerja dengan semangat, dan mencari uang sebanyak mungkin. Allah SWT juga memerintahkan hambanya selain berdoa juga agar bekerja dengan baik, Allah tidak menyukai sikap hambanya yang pemalas dan putus asa.

Seperti yang kita tau seringkali kesenjangan sosial atau ekonomi menjadi pemicu manusia merasa rendah harga dirinya bagi yang miskin ekonomi dan mudah merendahkan karena merasa banyak harta. Hal yang demikian tidak dibenarkan dalam Islam, karena selain hidup ini memang tentag penghambaan kepada Allah dengan sepenuhnya dan setulusnya. Juga harta hanyalah sebatas harta jika tidak digunakan dengan baik dan dibuat untuk membantu sesame yang kemudian berbuah kebaikan bagi dirinya sendiri. 

Harta tetap harus dicari, bahkan islam tida pernah melarang hambanya untuk kaya raya, hal itu juga untuk menghindarkan dirinya dari meminta-minta dan agar hidupnya lebih khusuk dalam beribadah kepad Allah SWT. Bahkan kaum shufipun banyak yang kaya raya, karena yang dimaksud dengan shufi bukanlah orang yang tidak mau dengan harta sama sekali. Tetap mencari tapi merasa tidak memiliki tatkala sudah dimiliki sehingga adanya dunia tidak membuatnya menjauh dari Allah, dan tidak mengurangi ibadahnya. Justru sebaliknya.

Maka, dengan bermodalkan kekayaan harta yang dimilikinya, seseorang akan merasa bahwa harga dirinya semakin baik dan terjaga dari hinaan dengan dalih ekonomi dan terjaga martabatnya sehingga dirinya bisa dengan mudah bergaul dengan banyak manusia. Dalam hal ini hendaknya tetap harus diiringi dengan sikap tidak sombong dan tetap sadar bahwa harta yang dimilikinya semata-mata hanyalah titipan dari Allah SWT yang kapan saja bisa Allah ambil Kembali. Dengan demikian setiap nikmat sudah seharusnya selalu disyukuri, syukur dalam bentuk ucap dan perbuatan denga memperbanyak berbuat baik melalui harta yang dimilikinya, yakni dengan banyak membantu orang lain. 

Dalam Islam juga disampaikan agar umat manusia hendaknya menjaga harga diri dan rasa malu. Islam mempunyai lima perkara yang harus tetap dipertahankan oleh setiap manusia atau pemeluknya, yaitu: agama, jiwa, harta, keturunan, dan akal, Lima hal ini disebut dengan Maqhoshid Asy-Syari’ah yang harus selalu dijaga.

Islam sebagaimana yang disampaikan di atas, bahwa islam mengajarkan kepada umatnya agar di dalam menjalani kehidupannya hendaknya berlomba-lomba untuk mendapatkan derajat atau martabat yang tinggi, khususnya di hadapan Allah. Banyak konsep tentang derajat yang tinggi dalam Islam, misalnya dengan konsep menjadi orang yang beriman, menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah (muttaqien), dan menjadi orang yang sabar serta dan menjadi orang yang berilmu. Jika diperhatikan lebih mendalam lagi, kunci utamanya ialah dengan berilmu sebaik dan setinggi mungkin sehingga bisa menjalani kehidupannnya dengan baik sesuai dengan ketentuan dan asas-asal dalam kehidupan. Baik kehidupan dalam konteks hablun minAllah ataupun hablum minannas. 

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam A-Qur,an Surat Al Mujadalah ayat 11 berikut:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya, "Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadalah: 11)

Jagalah harga diri kita dengan tetap mempertahanan keimanan kita dan menjaga perbuatan kita dari hal-hal yang berakibat pada perbuatan buruk dan maksiat, baik maksiat kepada sesame manusia ataupun kepada Allah dengan meninggalkan kewajiban dan melanggar larangannya. Jadilah manusia yang dapat mempertahankan lima perkara di atas, yakni agama, jiwa, harta, keturunan, dan akal. Tetaplah menjaga eksistensi hidup kita dengan terus menjalankan kehidupan dengan memperhatikan tiga sifat ataupun sikap di atas, yakni izzah (kemuliaan diri), muru’ah (menjaga kehormatan diri), dan iffah (menahan diri).



REFERENSI/RUJUKAN

https://islam.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-pentingnya-menjaga-harga-diri-7mqZ1

Label: , , , , , , , ,

Keutamaan Hari Jum'at dan Amalannya

amalan hari jumat


A. Amalan yang Dianjurkan Rasulullah

1. Membaca Surah Al-Kahfi

Dalam masalah ini, Imam Syafii memberikan penjelasan terkait dianjurkannya untuk memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pendapat ini berdasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW. Begitu juga sangat dianjurkan untuk membaca surat Al-Kahfi pada Kamis malam atau malam Jumat dan juga siang harinya.
Pendapat Imam Syafii tersebut terdapat dalam kitabnya, yakni kitab , Al-Umm, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1393 H, juz, 1, h. 207. 

      (قَالَ الشَّافِعِيُّ) أَخْبَرَنَا إبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنُ مَعْمَرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ( قال الشَّافِعِيُّ ) وَبَلَغَنَا أَنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ وُقِيَ فِتْنَةَ الدَّجَّالِ. ( قال الشَّافِعِيُّ ) وَأُحِبُّ كَثْرَةَ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي كُلِّ حَالٍ وَأَنَا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَتِهَا أَشَدُّ اسْتِحْبَابًا وَأُحِبُّ قِرَاءَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَهَا لِمَا جَاءَ فِيهَا 

Artinya: "Imam Syafi’i berkata, telah mengkhabarkan kepadaku Ibrahim bin Muhammad, ia berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abdurrahman bin Ma’mar bahwa Nabi saw bersabda, “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat”. Beliau juga berkata, dan telah sampai kepadaku riwayat yang mengatakan bahwa barang siapa yang membaca surat al-Kahf maka ia dilindungi dari fitnahnya Dajjal. Selanjutnya beliau mengatakan, bahwa saya menyukai banyak-banyak membaca shalawat kepada Nabi saw dalam setiap keadaan, sedang pada hari Jumat saya lebih menyukainya (dengan memperbanyak lagi membaca shalawat), begitu juga saya suka membaca surat al-Kahf pada malam Jumat dan siangnya karena adanya riwayat dalam hal ini” (Muhammad Idris asy-Syafi’i, al-Umm, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1393 H, juz, 1, halaman 207).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka hukum membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat itu memang benar sunah. Karena, didukung pula dengan riwayat yang mengatakan bahwa barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi, maka akan dilindungi dari fitnah Dajjal. 
Terlepas dari hukum membaca surah al-kahfi di atas, membaca al-Qur'an sudah jelas mebuahkan pahala. Membaca satu hurufnya diganjar atau diberi pahala 10. Sebagai orang muslim sudah sepatutnya tidak mempertanyakan lagi, apa dalilnya, siapa yang berpendapat dan seterusnya. 

Kemudian keterangan lain yang menjelaskan terkait dengan keutamaan malam jum'at dengan membaca surah al-kahfi adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُذْرِيّ قَالَ مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ 

Artinya "Diriwayatkan dari Abi Said Al-Khudri, ia berkata, Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka Allah SWT akan menyinarinya dengan cahaya antara dia dan rumah yang penuh dengan keindahan". (Sunan Ad-Darimi, 3273)

Berikut hadits yang menjelaskan tentang keutamaan membaca Al-Qur’an yang cukup familiar, yakni hadits riwayat Abdullah Ibnu Mas‘ud yang menyatakan, bahwa setiap huruf yang dibaca akan diberi balasan satu kebaikan. Setiap kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh, sebagaimana berikut ini.

   عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ 
Artinya: "Kata ‘Abdullah ibn Mas‘ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf,” (HR. At-Tirmidzi).

Hari Jumat merupakan hari yang sangat luar biasa keistimewahannya, karena terdapat banyak peristiwa yang penting terjadi pada hari Jumat. Seperti contoh diciptakannya Nabi Adam AS. dan peristiwa dimasukkan dan dikeluarkannya dari surga juga terjadi pada hari Jumat. 

Sebagaimana keterangan hadits di bawah ini yang menjelaskan bahwa Sesungguhnya hari yang paling mulia bagi kalian adalah hari Jum’at. Pada hari itu Nabi Adam AS diciptakan, di hari itu ditiupkan ruh, dan pada hari itu dilaksanakan siksaan. Berikut bunyi haditsnya:

عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ النَّفْخَةُ، وَفِيْهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثَرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ، فّإنَّ صّلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ، قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟- أي بَلِيْتَ- قَالَ: إنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ حَرَّمَ عَلَى الْأرْضِ أنْ تَأكُلَ أجْسَادِ الْأنْبِيَاءِ—سنن ابن ماجه 

Artinya, "Diriwayatkan dari Aws bin Aws, Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya hari yang paling mulia bagi kalian adalah hari Jum’at. Pada hari itu Nabi Adam AS diciptakan, di hari itu ditiupkan ruh, dan pada hari itu dilaksanakan siksaan. Karena itu maka perbanyaklah membaca shalawat kepadaku. Sebab shalawat yang kamu baca pada hari itu akan didatangkan kepadaku. Lalu sahal seorang sahabat bertanya: Wahai Rasulullah bagaimana mungkin shalawat yang kami baca itu bisa dihadapkan kepadamu, padahal engkau telah hancur dimakan bumi? Rasulullah SAW menjawab: Sesungguhnya Allah ’Azza wa Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi-Nya". (HR Ibnu Majah, 1075)

Di atara peristiwa penting yang terjadi pada hari jumat ialah diriwayatkan bahwa kelak hari kiamat jatuh pada hari Jumat, hal ini sebagaimana riwayat yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim.

Sebagaimana riwayat yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim.

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ 
Artinya: "Sebaik-baiknya hari di mana sang surya menyinarinya adalah hari Jumat. Pada hari Jumat Nabi Adam  as dimasukkan ke dalam surga, dan dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak terjadi kecuali pada hari Jumat" (HR Muslim).  

2. Membaca Surah Yasin

Di antara sekian banyak kebiasaan yang sering dilakukan oleh masyarakat saat mengisi kegiatan keagamaan di malam Jumat adalah dengan membaca surat Yasin, bahkan sore harinya tida sedikit yang berdatangan ke kuburan untuk ziyaroh kemudian membaca yasin. Surat yasin juga dibaca dibanyak majelis. Ada yang menjadikannya sebagai rangkaian bacaan tahlil, ada juga yang biasa kita kenal dengan sebutan jamaah Yasinan, atau sebatas kegiatan masyarakat yang dikhususkan di malam jum'at dengan membaca surat yasin.
Berikut di antara dalil yang menjelaskan keutamaan membaca surah yasin di malam jumat yang disebutkan secara tegas dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud sebagai berikut: 

   من قرأ سورة يس والصافات ليلة الجمعة أعطاه الله سؤله   

Artinya: "Barang siapa membaca surat Yasin dan Al-Shaffat di malam Jumat, Allah mengabulkan permintaannya". (HR Abu Daud dari al-Habr)  

3. Membaca Sholawat

Terkait dengan keutamaan memperbanyak membaca sholawat di malam jumat ataupun hari jumat, maka sudang dijelaskan secara gamblang di banyak kitab oleh ulamak. Diantaranya sebagaimana penjelasan yang ada dalam kitab Nawadirul Hikayah karya Syaikh Syihabuddin bin Salamah al-Qulyuby, berikut bunyi haditsnya: 

 روي عن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله غليه وسلم: "من صلى عليّ في يوم الجمغة مائة مرة قضى الله له مائة حاجة, سبعين من حوائج الأخرة وثلاثين من حوائج الدنيا. ويوكل الله بصلاته على ملكا حتى يدخلها على قبري كما تدخل على أحدكم الهداية. ويخبرني بإسمه فأثبته عندي في صحيفة بيضاء وأكفئه بها يوم القيامة

Artinya: "Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu 'Anhu berkata: Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasalam bersabda: Barang siapa bershalawat kepadaku di hari Jumat 100 kali, maka Allah akan mengabulkan baginya 100 hajat (kebutuhan), yang 70 dari kebutuhan akhirat dan 30 dari kebutuhan-kebutuhan duniawi. Dan Allah membebankan shalawat tersebut kepada malaikat hingga menghaturkannya ke kuburanku, layaknya (cahaya) hidayah yang masuk kepada kamu sekalian. Dan malaikat memberi tahu akan namanya, kemudian aku menetapkannya di sampingku di dalam lembaran yang putih bersih, dan dengan shalawatnya, aku mencukupinya (memberi syafaat) kelak di hari kiamat". 

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa hendaknya manusia memperbanyak membaca sholawat. hadits tersebut diriwayatkan dari Aus bin Aus, Rasulullah SAW bersabda: 

ان من افضل ايامكم يوم الجمعة فيه خلق ادم و فيه قبض وفيه النفخة وفيه الصعقة فاكثروا من الصلاة علي فيه فان صلاتكم معروضة علي

 Artinya, "Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah Hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptaan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk.  Oleh karena itu perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat, karena shalawat kalian akan dipersembahkan kepadaku".

Dalam hadits lain, yakni hadits riwayat Abi Umamah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut:

 اكثروا من االصلاة علي فى كل يوم جمعة فمن كان اكثرهم علي صلاة كان اقربهم منزلة

Artinya, "Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku setiap hari Jumat. Barang siapa yang paling banyak membaca shalawat atasku, maka dia paling dekat kepadaku kedudukannya." 

Begitu juga dengan hadits yang bersumber dari riwayat sahabat Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut:

 من صلى علي في يوم الجمعة الف مرة لم يمت حتى يرى مقعده فى الجنة 

Artinya, "Barang siapa membaca shalawat atasku pada hari Jumat seribu kali, maka ia tidak mati kecuali akan diperlihatkan kedudukannya di surga." 

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa betapa agung dan dahsyatnya keutamaan membaca sholawat, khususnya pada malam jumat sangat di anjurkan untuk memperbanyak sholawat. Terlebih dalam banyak riwayat disebutkan bahwa dengan membaca satu sholawat maka akan diberikan 10 kali lipat pahala. Hal ini sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim berikut:

  مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Artinya, “Siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali,” (HR Muslim). 

Sebagamana penjelasan dari banyak hadits di atas bahwa shalawat nabi memiliki banyak keutamaan bagi yang umat mengamalkannya atau membacanya, lebih-lebih degan jumlah yang banyak. Selain soal pahala bagi yang membacanya, amal dari membaca shalawat kepada Rosulullah juga dapat menghapuskan dosa dan mengangkat derajat orang yang membacanya, keterangan ini sebagaimana yang ada dalam keterangan hadits riwayat An-Nasa’i berikut: 

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ 

Artinya, "Siapa saja yang membaca shalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosanya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan," (HR An Nasa’i)


B. Dalil Keutamaan Hari Jum'at

Hari Jumat merupakan hari yang agung, mulia dan disebut dengan sayyidul ayyam. Allah SWT memuliakan umat Nabi Muhammad SAW dengan hari Jumat, kemuliaan ini tidak diberikan kepada umat nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW diutus. Pada malam jum'at umat Nabi Muhammad dianjuran untuk meningkatkan amal ibadah dan memperbanyaknya, seperti yang sudah masyhur di antaranya ialah memperbanyak membaca shalawat kepada Rasulullah SAW, memperbanyak sedekah, membaca yasin, dan lai-lain.

Terkait dengan keutamaan dan kemuliaan hari jumat, maka terdapat beberapa dalil yang menunjukkan terhadap keutamaan hari Jumat. Antara lain ialah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Syafi’i dan al-Imam Ahmad yang meriwayatkan dari Sa’ad bin ‘Ubadah, berikut bunyi haditsnya:

 سَيِّدُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَهُوَ أَعْظَمُ مِنْ يَوْمِ النَّحَرِ وَيَوْمُ الْفِطْرِ وَفِيْهِ خَمْسُ خِصَالٍ فِيْهِ خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَفِيْهِ أُهْبِطَ مِنَ الْجَنَّةِ إِلَى الْأَرْضِ وَفِيْهِ تُوُفِّيَ وَفِيْهِ سَاعَةٌ لَا يَسْأَلُ الْعَبْدُ فِيْهَا اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ إِثْمًا أَوْ قَطِيْعَةَ رَحِمٍ وَفِيْهِ تَقُوْمُ السَّاعَةُ وَمَا مِنْ مَلَكٍ مُقّرَّبٍ وَلَا سَمَاءٍ وَلَا أَرْضٍ وَلَا رِيْحٍ وَلَا جَبَلٍ وَلَا حَجَرٍ إِلَّا وَهُوَ مُشْفِقٌ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ

Artinya: "Rajanya hari di sisi Allah adalah hari Jumat. Ia lebih agung daripada hari raya kurban dan hari raya fitri. Di dalam Jumat terdapat lima keutamaan. Pada hari Jumat Allah menciptakan Nabi Adam dan mengeluarkannya dari surga ke bumi. Pada hari Jumat pula Nabi Adam wafat. Di dalam hari Jumat terdapat waktu yang tiada seorang hamba meminta sesuatu di dalamnya kecuali Allah mengabulkan permintaannya, selama tidak meminta dosa atau memutus tali silaturahim. Hari kiamat juga terjadi di hari Jumat. Tiada malaikat yang didekatkan di sisi Allah, langit, bumi, angin, gunung dan batu kecuali ia khawatir terjadinya kiamat saat hari Jumat".

Dalam hadits lain disebutkan, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi dari Abdillah bin ‘Amr bin al-‘Ash berikut: 

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ 

Artinya, “Tiada seorang Muslim yang mati di hari atau malam Jumat, kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur”.

Hadits di atas menurut ulamak mencapai tingkatan hadits hasan, hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Ihsan bin Dakhlan dalam kitab Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal. 286 cetakan Pondok Pesantrena Jampes Kediri, dengan mengutip keterangan dari Imam al-‘Azizi bahwa hadits tersebut mencapai tingkatan derajat hadits Hasan.

Di antara keutamaan hari jum;at yang lain ialah dengan melaksanakan shalat Jumat, maka orang yang tidak mempu di ibaratkan dengan naik haji pada hari jumat tersebut, artinya hari jum'at merupakan hajinya orang-orang yang tidak mampu. Hal ini sebagaimana Sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam al-Qadla’i dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

 اَلْجُمُعَةُ حَجُّ الْفُقَرَاءِ
 
Artinya, “Jumat merupakan hajinya orang-orang fakir”.
 
Kemudian, terkait dengan hadits tersebut, Syekh Ihsan bin Dakhlan menjelaskan sebagai berikut:

 يَعْنِيْ ذَهَابُ الْعَاجِزِيْنَ عَنِ الْحَجِّ اِلَى الْجُمُعَةِ هُوَ لَهُمْ كَالْحَجِّ فِيْ حُصُوْلِ الثَّوَابِ وَاِنْ تَفَاوَتَ وَفِيْهِ الْحَثُّ عَلَى فِعْلِهَا وَالتَّرْغِيْبُ فِيْهِ
Artinya, “Maksudnya ialah, berangkatnya orang-orang yang tidak mampu berhaji menuju shalat Jumat, seperti berangkat menuju tempat haji dalam hal mendapatkan pahala, meskipun berbeda tingkat pahalanya. Dalam hadits ini memberi dorongan untuk melakukan Jumat”. (Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal.282, cetakan Ponpes Jampes Kediri,). 

Hal serupa terkait keutamaan di hari jumat disampaikan dalam hadits lain, hadts ini menjelaskan tentang rangkaian ibadah di hari jumat yang membuahkan pahala. Berikut bunyi haditsnya: 

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا 
Artinya, “Barang siapa membasuh pakaian dan kepalanya, mandi, bergegas Jumatan, menemui awal khutbah, berjalan dan tidak menaiki kendaraan, dekat dengan Imam, mendengarkan khutbah dan tidak bermain-main, maka setiap langkahnya mendapat pahala berpuasa dan shalat selama satu tahun". (HR. Al-Tirmidzi dan al-Hakim). 

Menurut Imam al-Tirmidzi hadits di atas statusnya mencapai derajat hadits Hasan, sedangkan menurut al-Hakim hadits tersebut mencapai derajat hadits Shahih. 

Keterangan lain disampaikan dalam Hadits shohih muslim atau Imam Muslim adapun haditsnya sebagai berikut: 

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ 

Artinya, “Barang siapa berwudlu kemudian memperbaiki wudlunya, lantas berangkat Jumat, dekat dengan Imam dan mendengarkan khutbahnya, maka dosanya di antara hari tersebut dan Jumat berikutnya ditambah tiga hari diampuni”. (HR. Muslim).



REFERENSI/RUJUKAN

Muhammad Idris asy-Syafi’i, al-Umm, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1393 H, juz, 1, halaman 207

Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal.282, cetakan Ponpes Jampes Kediri,

Syekh Ihsan bin Dakhlan dalam kitab Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal. 286 cetakan Pondok Pesantrena Jampes Kediri

Kitab Nawadirul Hikayah karya Syaikh Syihabuddin bin Salamah al-Qulyuby

HR. Al-Tirmidzi dan al-Hakim

HR. Muslim dan HR An Nasa’i

https://lampung.nu.or.id/syiar/dalil-keutamaan-membaca-surat-al-kahfi-di-malam-jumat-ZN3ru

https://jatim.nu.or.id/keislaman/malam-jumat-disunahkan-membaca-surat-al-kahfi-ini-dalilnya-I2OUH

https://islam.nu.or.id/jumat/dalil-keutamaan-hari-jumat-XB4Tt

https://islam.nu.or.id/jumat/nilai-lebih-baca-sholawat-pada-hari-jumat-GVoMT

https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/perhatikan-10-keutamaan-membaca-shalawat-nabi-4ZyBE

Label: , , , , , , ,