Minggu, 22 Maret 2026

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal: Keutamaan, Makna Spiritual, dan Indikasi Diterimanya Amal Ramadan

 

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal: Keutamaan, Makna Spiritual, dan Indikasi Diterimanya Amal Ramadan

Puasa enam hari di bulan Syawal menjadi salah satu amalan sunnah yang banyak dikerjakan umat Islam setelah Ramadan. Amalan ini diyakini memiliki keutamaan besar, yakni pahala yang setara dengan puasa selama satu tahun penuh. Selain itu, puasa Syawal juga dipandang sebagai bentuk penyempurna ibadah Ramadan serta menjadi salah satu tanda diterimanya amal selama bulan suci. Praktik ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis, dan terus menjadi tradisi yang hidup di tengah masyarakat Muslim di berbagai wilayah.

Puasa Syawal dilaksanakan selama enam hari di bulan Syawal, bulan yang datang setelah Ramadan dalam kalender Hijriah. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara berturut-turut setelah Hari Raya Idulfitri atau secara terpisah selama bulan Syawal, sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Para ulama sepakat bahwa amalan ini bersifat sunnah, namun memiliki nilai keutamaan yang sangat tinggi.

Dasar utama anjuran puasa Syawal berasal dari hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa siapa yang berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun. Para ulama menjelaskan bahwa perhitungan tersebut merujuk pada konsep pahala berlipat dalam Islam, di mana satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Dengan demikian, puasa Ramadan selama 30 hari setara dengan 300 hari, dan tambahan enam hari di Syawal menyempurnakan menjadi 360 hari, mendekati jumlah hari dalam satu tahun.

Puasa Syawal tidak hanya bernilai kuantitatif dalam hal pahala, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Ibadah ini menjadi indikator konsistensi seorang Muslim dalam beribadah setelah Ramadan berakhir. Ramadan sering disebut sebagai “madrasah spiritual” yang melatih kesabaran, pengendalian diri, serta meningkatkan kualitas ibadah. Puasa Syawal kemudian menjadi bentuk kelanjutan dari proses pembinaan tersebut.

Selain itu, puasa enam hari di bulan Syawal juga dipahami sebagai penyempurna ibadah Ramadan. Selama Ramadan, tidak sedikit umat Islam yang mungkin mengalami kekurangan dalam ibadahnya, baik dari segi kekhusyukan, konsistensi, maupun kualitas amal. Puasa Syawal hadir sebagai kesempatan untuk menutupi kekurangan tersebut, sebagaimana konsep ibadah sunnah yang melengkapi ibadah wajib dalam ajaran Islam.

Hubungan antara puasa Ramadan dan puasa Syawal serupa dengan salat wajib dan salat sunnah. “Dalam banyak ajaran Islam, ibadah sunnah berfungsi sebagai pelengkap dari ibadah wajib. Puasa Syawal dapat dipandang sebagai bentuk penyempurnaan terhadap kemungkinan kekurangan selama Ramadan,” ujarnya.

Lebih jauh, puasa Syawal juga sering dikaitkan dengan tanda diterimanya amal Ramadan. Dalam tradisi keilmuan Islam, salah satu indikator diterimanya amal adalah adanya keberlanjutan dalam kebaikan setelah ibadah utama selesai. Artinya, seseorang yang tetap menjaga semangat ibadah pasca-Ramadan menunjukkan bahwa nilai-nilai yang diperoleh selama bulan suci benar-benar terinternalisasi.

Konsistensi ritual ibadah di atas menjadi kunci dalam kehidupan spiritual seorang Muslim. “Jika seseorang setelah Ramadan justru kembali pada kebiasaan lama yang kurang baik, maka itu menjadi bahan refleksi. Sebaliknya, jika ia melanjutkan dengan ibadah seperti puasa Syawal, itu menjadi pertanda positif bahwa Ramadan memberikan dampak nyata,” katanya.

Di sisi lain, pelaksanaan puasa Syawal juga memiliki dimensi sosial. Setelah merayakan Idulfitri yang identik dengan kebersamaan dan silaturahmi, puasa Syawal mengajak umat Islam untuk kembali pada pengendalian diri dan kesederhanaan. Hal ini menciptakan keseimbangan antara aspek sosial dan spiritual dalam kehidupan beragama.

Namun demikian, terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan puasa Syawal. Salah satunya adalah prioritas bagi mereka yang memiliki utang puasa Ramadan. Sebagian ulama berpendapat bahwa puasa wajib harus didahulukan sebelum menjalankan puasa sunnah, termasuk puasa Syawal. Meski demikian, terdapat pula pandangan yang memberikan kelonggaran selama masih dalam bulan Syawal.

Perbedaan pendapat ini merupakan hal yang wajar dalam khazanah keilmuan Islam. “Yang terpenting adalah memahami dasar hukumnya dan menyesuaikan dengan kondisi masing-masing, serta tetap menjaga niat ibadah,” ujarnya.

Selain itu, niat juga menjadi aspek penting dalam pelaksanaan puasa Syawal. Seperti halnya ibadah lainnya, puasa ini harus dilandasi dengan niat yang tulus karena Allah SWT. Niat tersebut dapat dilakukan pada malam hari sebelum berpuasa, sebagaimana praktik umum dalam ibadah puasa sunnah.

Dalam konteks masyarakat modern, puasa Syawal juga menghadapi tantangan tersendiri. Aktivitas pekerjaan, rutinitas harian, serta perubahan pola hidup setelah Ramadan seringkali menjadi alasan bagi sebagian orang untuk tidak melaksanakan puasa ini. Meski demikian, banyak pula yang berusaha menyiasati dengan memilih hari-hari tertentu yang lebih memungkinkan untuk berpuasa.

Seorang pekerja di sektor swasta mengungkapkan pengalamannya dalam menjalankan puasa Syawal. “Biasanya saya tidak langsung enam hari berturut-turut. Saya pilih hari Senin dan Kamis di bulan Syawal, jadi lebih ringan dan tetap bisa menjalankan aktivitas,” katanya.

Pendekatan fleksibel ini menunjukkan bahwa puasa Syawal dapat disesuaikan dengan kondisi individu tanpa mengurangi nilai ibadahnya. Hal ini juga sejalan dengan prinsip kemudahan dalam Islam yang tidak memberatkan umatnya.

Di tengah perkembangan zaman, pemahaman terhadap puasa Syawal juga semakin meluas melalui berbagai media, termasuk ceramah daring, artikel keagamaan, dan diskusi komunitas. Hal ini membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya amalan sunnah sebagai bagian dari kehidupan beragama yang utuh.

Secara keseluruhan, puasa enam hari di bulan Syawal bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan memiliki makna yang komprehensif. Ia mencerminkan kesinambungan ibadah, penyempurnaan amal, serta indikator spiritual yang penting bagi seorang Muslim. Dengan berbagai keutamaan yang dimilikinya, puasa Syawal menjadi salah satu amalan yang dianjurkan untuk terus dilestarikan dalam kehidupan umat Islam.

“Puasa Syawal adalah bentuk kesinambungan dari pendidikan spiritual Ramadan. Ia menunjukkan apakah nilai-nilai Ramadan benar-benar tertanam dalam diri seseorang,”

“Melanjutkan ibadah setelah Ramadan, seperti puasa Syawal, menjadi salah satu tanda bahwa amal sebelumnya diterima dan berdampak,”

“Perbedaan pendapat soal teknis pelaksanaan adalah hal biasa. Yang utama adalah menjaga niat dan memahami esensi ibadah tersebut,”


 


Label: , , , ,

Kamis, 26 Januari 2023

Merefleksi diri untuk selalu introspeksi diri

 


Pendidikan sangatlah penting untuk eksistensi manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk komunikasi dengan Tuhannya ataupun dengan sesame manusia. Diatara fungsi belajar dan pengetahuan tidak lain adalah untuk memperhalus prilaku, memperindah sikap dan mempertajam rasa kepekaan terhadap kehidupan, baik dengan manusia atau lingkungan lainnya.

Bagaimanapun derajat manusia di dunia, pengetahuan mengajarkan untuk tetap rendah hati, andab asor, tidak mengangkat kepala dan dadanya ataupun dengan nada-nada yang mengindikasikan sikap sombong. Pendidikan, pengetahuan dan sejenisnya mengecam keras sikap-sikap yang demikian, apalagi sampai merendahkan dan tidak menghargai dan menghormati orang lain. Karena sejatinya manusia yang disebut dengan makhluk sosial tidaklah bisa hidup dengan baik, harmonis dan tentram tanpa keterlibadan dan saling tolong menolong dengan manusia lainnya. Disinilah diantara maksud ayat “dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan” ataupun ayat surat Al Hujurat ayat 13 berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Orang yang terlahir biasa saja akan berkata demikian "Menjadi pribadi yang dilahirkan dipelosok desa yang jauh dari perkotaan, lebih-lebih lingkungan tempat lahirnya adalah di lereng pegunungan membuat pribadi manusia lebih sadar diri, tidak mudah tersinggung dan pekerja keras untuk mengubah kondisi ekonominya yang pas-pasan. Hal yang demikian ini membuat sadar diri bahwa aku hanyalah pemuda yang lahir di desa, fisik dan rupa biasa saja, harta juga tidak punya dan bukan orang yang berpunya, ilmu dan pengetahuan juga tidak seberapa, dengan ini mungkin memang pantas jika selalu dipandang sebelah mata, menjadi maklum jika tidak dihargai dan dihormati, lebih-lebih sulit diterima oleh orang yang secara ekonomi dst lebih dari diri ini."

Dalam pribahasa disebutkan demikian "Aku memang tidak minta dihormati dan dihargai, tapi aku tau cara menghormati dan menghargai orang lain. Sebagai orang yang biasa saja dalam aspek apapun tentu aku lebih sadar diri dan berfikir 100x untuk melangkah pada tahap apa yang lebih di atas aku. Namun demikian aku bukanlah pengecut yang mudah tumbang dan putus asa, karena aku punya komitmen dan prinsip yang tidak mudah dilantakkan oleh orang lain."

Menjadi orang penyabar memanglah sangat amat indah untuk menikmati setiap tahapan dan langkah dalam hidup, hidup lebih tentram dan tenang tatkala selalu sabar dan mengutamakan prasangka baik terkait apapun yang terjadi dalam lintas kehidupan ini. Tapi, akankah sabar yang terus dipupuk dan dipertahanan itu akan terus bertahan dan semakin membaik kualitas sabarnya, atau justru ada celah-celah yang membuat sabar itu lantak dan menghardik apa yang sedang disabari.? Sabar itu selalu dibutuhkan tapi tegas dengan santun tetap harus ditampakkan. Disinilah celah yang membedakan antara sabar dan tidak sabar, sabar tidak selalu tentang diam, menerima apapun yang terjadi tanpa usaha lebih baik dan evaluasi diri. karena sabar adalah terus memperbaiki dan berbenah diri, evalusi diri untuk meningkatkan kualitas diri dihadapan Allah melalui iman, islam dan ihsah serta amal yang tidak cacat dengan dosa.

Terkait dengan ikatan interaksi dengan sesama manusia terbagi menjadi dua hal, pertama dengan tetangga, kedua dengan keluarga.

Menjaga keharmonisan dengan tetangga tidaklah rumit dan sulit jika kita mengetahui betul kultur dan sikap manusia di tempat itu pada umumnya dan kita tau cara bersikap dengan adaptasi dan mengelastisitas diri dengan lingkungannya. Namun tidak dengan kehidupan dalam keluarga, kalaupun komunitasnya lebih sedikit jumlah individunya, namun disitulah permasalahan lebih mudah merongrong keharmonisan di dalamnya. Komunikasi, sikap pemaaf, menghargai perbedaan, mengalah dan saling berusaha menjaga ikatan sakralnya merupakan hal yang harus selalu dirawat dan dipertahankan.

Komunikasi menjadi penentu hidup tidaknya suatu hubungan, karena dengan komunikasi kualitas hubungan lebih tampak subur dan berbunga-bunga, tentu harus diimbangi dengan sikap komitmen yang tinggi, pemaaf, saling menghargai dan menyayangi dst.

Orang yang sudah terbiasa hidup dalam kondisi biasa saja, lebih mudah beradaptasi dengan orang yang lebih tinggi derajat ekonominya. Artinya dia lebih mudah tau cara bersikap dan menghormati orang lain dengan kebiasaan yang ditanamkan oleh orang tuanya sejak di desa. Melihat kehidupan di desa lebih inten dengan tetangga dalam bercakap-cakap dan interaksi lainnya yang di situ terdapat penanaman adab yang tinggi kepada anaknya. Bagaimana cara bersikap kepada yang lebih tua, cara bertetangga yang baik dan seterusnya.

Aku pernah mendengar bahwa yang biasa tidak menghormati orang lain kelak akan tidak dihormati pula orang orang lain. Begitu juga dengan sikap negatif lainnya yang seharusnya tidak dilakukan. Menyakiti manusia baik secara fisik ataupun peraaan merupakan perbuatan dzolim yang harus dimintai maaf atas sikapnya. Kita tau bahwa kesalahan kepada sesama manusia lebih berat hisabnya dari pada kesalahan dengan Allah yang mana Allah maha pengampun.

Marilah kita terus berbenah diri, tidak mengharap dihormati oleh banyak orang tapi kita harus tau cara mebghormati dan menghargai orang lain sekalipu kita tidak dihormati balik.

Marilah kita menjadi penyabar tapi tidak diam ditempat melainka terus berupaya melakukan perbaikan dan evaluasi diri untuk lebih baik lagi dalam hal apapun, entah ibadah ataupun nilai ekonomi, sikap, akhlak dan lainnya.

Marilah kita perupaya tidak bersikap yang bisa menyakiti orang lain, karena dengan kita menyakiti orang lain nilai kualitas kita sebenarnya telah turun dan akan terus terdegradasi.

Cintailah orang yang mencintai kita, cintailah orang yang kita pilih, cintailah kedua orang tua kita, guru kita. Balaslah cinta itu dengan cinta juga. Mari kita terus tingkatkan taat kita kepada Allah dan hindari sikap-sikap yang mengindikasikan pada sikap durhka kepada orang tua, lebih lebih kita yang sudah belajar tentang apa itu baktikepada orang tua yang telah merawat kita sejak kecil hingga besar demikian.

Menerima apa yang menurut kita bukan pilihan dan kemauan kita belum tentu akan memberatkan kita dan mensulitkan kita untuk bahagia sesuai persepsi dan takaran kita. Bisa jadi itulah jalan bahagia yang sesunbgguhnya untuk kehidupan selanjutnya dan berikutnya. Karena yang tidak kita sukai belum tentu tidak baik, bisa jadi itulah yang terbaik bagi kita.

Ikhlas dan ridho atas apa yang terjadi adalah sikap yang baik. Marilah kita terseyum tanpa dimintai senyum dan berpura-pura tersenyum. Sikap hipokrit tidaklah baik untuk kehidupan.


Label: , , , ,

Rabu, 21 Desember 2022

Titik-titik cahaya

 

Bunga


Secercah cahaya terjawabkan, tanya demi tanya yang tersusun rapi dan bertumpuk akhirnya menemui muara jawaban yang ditunggu. Secercah cahaya itu memberikan penerangan atas kegelapan selama satu bulan ini, mendung yang tak kunjung usai, hujan yang tak kunjung reda dan panas yang menghasilkan bayang-bayang. Butuh kesabaran untuk menemukan hasil dan jawabannya.

Tepat pekan ketika di bulan desember, akhirnya secercah cahaya bulan itu mengulurkan titik-titik cahayanya. Betapa bahagianya ranting daun itu mendapatkan cahaya tersebut, berhari-hari ia menunggunya melambai dengan penuh lesu, mendayu-dayu dengan gaya sederhananya melambai. apalah aku kata dauh, aku hanyalah selembar daun yang hina, diterpa anginpun mungkin sudah terbang dan dibuat bola tentang oleh ganasnya angin. aku memang hina, serba sederhana, kurang menarik, fisik serba pas pasan, apalah intimewanya daku ini.

tatkala daun itu mendapatlan titik-titik terang, ia sampaikan segenap apa yang mengganjal dalam hatinya, banyak hal yang membuatnya tersesak, sering kali nafasnya tersendat. Daun dengan santunnya berkata:

Aku tumpahkan semua keluh kesahku yang kutahan satu bulan ini, aku tidak pernah benar-benar bisa marah padamu atas apa yang telah kamu perbuat. Anehnya, ulu hati terus terenyuh tatkala membaca sikapmu dan narasi pesan yang kau kirimkan. kamu tidak pernah muncul selama ini, tapi aku juga yang harus tersiksa.

Daun berjanji,

Bagaimanapun kamu, aku tetap menatapmu. Kapanpun kamu, aku tetap menunggumu. Dimanapun kamu aku tetap akan mencarimu. Dan kapanpun itu, tetap aku tunggu. Sekalipun kamu tidak menatapku, tetap aku tatap dirimu. Sebagaimana aku menatap jemariku tatkala menengadah menghaturkan harap-demi harap dan pintaku pada sang maha kuasa, setiap waktu.

Aku bukan tipikal orang yang mudah menyerah, aku hanya butuh waktu menenangkan hati yang rapuh, mendinginkan kepala yang kian tumpang tindih dengan pertanyaan-pertnyaan tentangmu. Selama ini.

Kamu harus tau bahwa Ingatanku selalu basah dari namamu, hatiku selalu menarik erat cintamu. Aku cukup berdosa atas jeda-jeda temu, aku pantas dihukum seumur hidup olehmu, hidup bahagia bersamamu.

Aku sangat percaya bahwa ada cinta yang tumbuh tanpa alasan. Tapi aku juga sangat tidak percaya dengan tidak bisa mencintai tanpa alasan. Ibarat jagung tidak akan tumbuh tanpa ditanam, artinya tatkala jangung bertemu tanah, disitulah keduanya saling memupuk, saling mendukung, saling mengerti dan saling mengisi.

Sudahlah, kita hanya butuh berdiam untuk tidak saling sapa dahulu, menata jeda-jeda sapa dan menyusun jeda-jeda temu. Mungkin memang aku yang salah, kurng bisa mengerti tentang wanita, khususnya tentangmu. Mungkin memang aku yang salah, yang biasa saja tanpa bisa romantic seperti keinginanmu. Mungkin memang aku yang salah, serba biasa saja tidak seperti yang diharapkanmu. Tapi, andai kita hanya mau mencintai orang yang sesuai dengan keinginan kita, maka tentu mustahil kita akan menemukan orang yang benar-benar sesuai, se-spesifik, dan sebenar-benarnya seperti yang kamu harapkan. Karena di dunia ini yang ada hanyalah dicocokkan, saling dikenalkan, saling mengisi, saling mengerti, saling mengalah, dan saling mengistimewakan. yang tidak kalah penting adalah saling sabar, saling mensyukur dan terus bersyukur untuk bisa terus mencintai dan terus berusaha lebih mencintai.

Terimakasih Desember, tiga pekanmu membuatku rapuh tak berdaya atas cinta dan rinduku.

Tak apa aku hina dengan rasa ini, akan aku rawat dan aku istimewakan rasa ini kemudian hari, entah esok, lusa dan kapanpun itu. kita hanya butuh kesabaran untuk bertemu dengan waktu yang kita tunggu. Jangan terus lupakan doa-doa setelah shalat, sebagaimana tidak pernah lupanya kamu pada diayang selalu diingat.

Ini bukan tentang daun, mbuh tentang opo. 

 

Label: , , ,

Rabu, 14 Desember 2022

Beda Demensia dengan Apatis


Bunga berguguran

Bungan berguguran tepat sebelum matahari menyingsingkan cahayanya, sinarnya memberikan kehangatan kepada rerumputan beserta pohon yang rimbun. Huru-hara bunyi mesin transportasi berkicauan, jalanan macet memaksakan kendaran lebih berhati-hati dan pelan serta sesekali berhenti.

Sesak dan sakit

Lima belas desember ini tampak beda, sesak dada masih berseri dan mengayunkan kakinya. Beda rasanya sesak karena asma dengan sesak karena kecewa. Beda juga atara sesak karena keceewa dan sesak karena tidak dipeduli oleh orang yang selalu dipeduli. Sesak nafas bisa sembuh dengan obat-obatan manjur, sekalipun mungkin dikemudian waktu ingat Kembali fenomenanya, tapi tidak dengan rasa sakitnya. Ini berbeda dengan sesak sebab keceewa dan semacamnya, ia cenderung lebih awet dan menyakitnya serta sulit untuk dilupakan. Hasilnya sudah tentu membuat sakit itu kambuh tatkala mengingat kembali.

Sakit yang demikian berdampak buruk pada Kesehatan serta membuat orang overthinking, tidak lain kondisi berikutnya hanya akan membuat kondisi semakin parah dan menyakitkan. Selalu bertanya-tanya, kenapa bisa begini, ada apa, karena apa dan seterusnya. Pertanyaan itu akan terus berdendang dalam telinga yang ditunggu-tunggu jawabannya oleh hati yang sedang sesak. Jawaban itu adalah obatnya, ya meskipun diagnose menyatakan tidak akan membuatnya sehat secara total dan berlangsubg lama. Karena tatkala ia mengingatnya aka nada ssesak-sesak berikutnya yang menyerang dan membuatnya sulit percaya pada apa dan siapa yang membuatnya kecewa.

Memang benar, berburuk sangka itu tidak akan pernah menyelesaikan persoalan, pun juga dengan menghilang dan pergi begitu saja. Persis dengan tidak peduli dan abai, dua hal ini justru berdampak pada sulitnya menyelesaikan masalah dan justru mendawamkan masalah.

Dalam hubungan, upayakanlah selalu melibatkan hati agar tidak selalu otak yang mengendalikan langkah kita. Hidup itu sebenarnya lebih banyak peran hati dari pada otak, dan yang demikian lebih dekat dengan kebijaksanaan dalam bersikap. Karena itulah hati-hati dalam bersikap pada orang lain. Karena ada hati yang mereka jaga dengan sekuat tenaga agar tidak terluka dan sakit yang berkelanjutan tatkala mengingat masa-masa yang pernah ia lalui.

Sakitnya hati yang mencekik itu nyata adanya dan fakta rasanya. Mungkin memaafkan akan terlihat mudah, tapi melupakan amat sangat tidak mudah. Sekalipun dengan memaafkan akan sedikit meredakan sakit, tapi dengan kembali ingat merupakan langkah yang amat sangat menyiksa.

Untuk kata maaf,

Untuk semua kata maaf yang kita sendiri tidak tau dimana letak kesalahankita, apakah kita harus mengemis? Apakah kita harus mengejar? Sedangkan pesan singkat kita tidak pernah  dibalas olehnya, kata maaf kita selalu dia abaikan. Dan bahkan sampai saat ini kita tidak pernah tau apa salah kita sehingga sikap dia sangat berbeda, jika orang yang tidak pernah kenal dibilang asing, ini justru lebih asing dari yang asing.

Hati yang terlukai tidak pantas ditertawakan,

Jangan pernah abai pada orang yang bersungguh-sungguh mencintaimu, peduli dan sayang kepadamu. Jangan pernah risih dengan sikap orang yang totalitas memperjuangkanmu. Karena yang demikian penghalang antara dia tetap bersungguh-sungguh dan undur diri hanya ada satu, jauhkan dia dari kata kecewa, hindarkan dia dari sikap tidak peduli, respon dia dengan sebisanya dan tentu menjaga komunikasi, menjaga komitmen harus tetap lebih utama dan dijaga.

Sakit tidak harus dihindari, tapi di kenali dengan baik sampai ia menjadi hambar dengan rasa sakit itu, sampai ia lupa dengan fenomena itu, dan sampai ia biasa dengan ingatan itu.

Jangan pernah gugur bungaku dari taman hati ini. Tetaplah segar dan harum semerbak menambahkan sari cinta kasih. Suburkan ladang cinta kasih hati ini, hari ini hingga ke surganya nanti. Bersamamu,


Label: , ,

Sabtu, 20 Agustus 2022

Pendosa

 


Di dunia ini, tidak satupun yang menginginkan hidupnya celaka, kesulitan dan jauh dari Tuhannya. Karena itulah kemudian banyak pendosa mulai yang dari dosanya kecil hingga pendosa yang kelas kakap yang bertaubat dan menjadi orang yang sangat dekat dengan Tuhannya, ia menyesali betul dosa-dosa yang telah diperbuat dan sekian lama ia lupa pada Tuhan yang selama ini telah memberinya nikmat sehat dan rezeki yang banyak. Ya Allah, jadikanlah aku seperti mereka yang gemar bertaubat, bertasbih, bertahmid, istigfar, bersholawat dan giat belajar serta bekerja untuk mendapatkan ridhoMU.

Ya Allah, aku tau betapa tidak terhingganya pemberianMu berupa nikmat hidup yang sehat ini, betapa banyak rezeki yang telah engkau beri, sedangkan dosa-dosaku kian bertambah tiada henti, kata-kataku jauh dari kalimat-kalimat indah yang tersusun rapi dalam mushaf utsmani, lidahku kering dari untaian tasbih, tahmid, dan tahlil, lisanku kurang akrab dengan istihfar dan sholawat yang sangat agung manfaat dan pahalanya.

Ya Allah, aku sadar bahwa engkau tau persis pada tiap detik dari semua langkah-langkahku, baik langkah kaki ataupun langkah fikiran dan hati. Engkau tidak pernah abai pada hambaMu yang satu ini, betapa banyaknya dosa yang aku perbuat, namun engkau tetap memberiku nikmat untuk melihat, dan berucap. betapa banyak salah yang aku lakukan, tapi engkau tetap memberiku nikmat mendengar dan melangkah. 

Ya Allah, aku mohon jangan engkau tunjukkan aibku kepada makhluk yang lainnya, jangan engkau tunjukkan keburukan-keburukanku itu pada mereka. Aku sangat ingin sama dengan kekasih-kekasihMu yang sangat engkau cintai dan engkau ridhoi. Karena itulah, berilah aku kesadaran penuh, berilah aku kekuatan yang berkelanjutan untuk tetap istiqomah dalam ketaatan, agar aku senantiasa bisa bersamaMu dalam setiap waktu, entah dengan membaca kalam muliaMu, bersholawat kepada kekasihMu, bekerja untuk mencari ridhoMu, belajar untuk mengharap kasih sayang dan ridhoMu, mengajar untuk menyalurkan sedebu ilmu yang engkau beri kepadamu untuk aku sampaikan kepada makhluk yang lainnya.

Ya Allah, aku ini pendosa, banyak salah dan kurang taat. Karena itulah, dekatkan aku dengan orang-orang baik dalam agamanya, dengan orang-orang yang selalu taat padamu dalam keadaan apapun mereka, selalu bertasbih setiap saatnya, senantiasa bertahmid dalam keadaan apapun mereka, selalu bersyukur dan bertaubat dalam hari-hari mereka.

Ya Allah, aku ini hamba yang tidak tau malu, tidak tau malu pada sesama, terlebih padaMu yang selalu memberi tanpa diminta. tidak tau malu dengan kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, kedua orang tuaku, guru-guruku, dan seluruh umat muslim yang mengimanimu. Ya Allah, kelak, satukan aku dengan kekasihMu di surgaMu, berilah aku kesempatan untuk dapat bertemu dengan kekasihMu yang mulia, Nabi Muhammad SAW yang mulia dan menjadi tauladan bagi seluruh umat. pertemukan denganya aku entah dalam keadaan sadar ataupun tidur. Sekiranya engkau sudi dan rido, maka satukanlah aku, kedua orang tuaku, keluargaku dan guru-guruku dengan Nabi Muhammad di surgaMu.  

Ya Allah, berilah kedua orang tuaku kesehatan jasmani dan rohani, jauhkanlah mereka berdua dari bahaya dan rasa sakit, sehatkanlah mereka berdua, dan berilah keistiqomahan pada mereka berdua untuk selalu taat padaMu, beribadah kepadaMu sehingga engkau ridho pada kedua orang tuaku yang kemudian kelak engkau masukkan bapak ibuku kedalam surgaMu.

Ya Allah, terimalah taubatku dan kabulkanlah doa-doaku. Aamiin...

Label: , , , , ,

Kesadaran

Sadar diri


Banyak manusia yang lupa pada eksistensi dirinya, dirinya itu siapa dan untuk apa, lantas harus bagaimana dan di mana. Manusia memang begitu, butuh waktu dan suasana untuk sadar, butuh nasehat untuk mengembalikan hati dan fikiran pada kondisi normal. Manusia memang begitu, selalu mudah lupa pada masa-masa sulit dan menyakitkan. Mudah acuh dan abai pada norma-norma etika terhadap Tuhan dan sesama. Manusia suka lupa pada siapa dia harus meminta dan bagaimana caranya berdoa, lebih suka menerima sampai lupa bagaimana agar dia juga bisa memberi tanpa dipinta. 

Manusia memang suka aneh, lebih banyak berbicara, bertanya, menjelaskan panjang lebar tanpa ditanya. Manusia memang suka acuh, malas belajar, bekerja, dan mengharap lebih pada sesama. Ini tidak baik dan tidak sehat. Seharusnya kamu itu sadar, muhasabah diri, malu dan maju untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Tidak banyak bertanya dan basa basi, tidak banyak meminta dan menerangkan banyak hal, menunggu ditanya baru berucap. Tidak banyak tingkah dan liar dalam bersikap.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Tidak banyak berbicara, mengirimkan banyak pesan dengan rentetan kata-kata yang tak berharga sama sekali, siang dan malam. Justru yang demikian menunjukkan betapa tidak berkualitasnya caramu dalam bersikap.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Lebih banyak belajar, membaca dan menulis, mempersiapkan diri dengan maksimal agar nanti tidak banyak hal yang dapat membuatmu malu di tengah-tengah masyarakat yang agamis dan idealis, cerdas, cermat dan kritis. Mereka lebih banyak pengalaman yang bisa saja melahirkan teori-teori hidup yang berharga dari pada dirimu yang masih saja terbang dengan sekian teori yang satup belum kamu buktikan dalam kehidupanmu.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Tetap menjadi orang yang asing dan tidak berusaha dekat dan akrab, kamu masih sekedar melihat dari kejauhan, belum melangkah lebih dekat kemudian dipersilahkan menetap, bersama selamanya tanpa ada kata pisah. 

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Sadar diri dengan hamparan ketidak tahuan alias bodoh, perbanyaklah muhasabah dan berdzikir agar dirimu semakin sadar pada tujuan hidup yang sebenarnya itu apa dan hatimu lebih mudah menerima nasehat dari banyak lisan dan keadaan, baik kondisi yang terkesan baik atau sebaliknya. Karena itu, tetaplah mensyukuri apapun itu keadaannya dan terus berbenah diri bagaimanapun kondisinya.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Lebih giat lagi bekerjanya, belajarnya, dan menabung untuk masa berikutnya, karena hidup tidak selalu tentang diberi dan meminta. Tapi berusaha mendapatkan sendiri, kemudian memberi tanpa mereka minta. Kepada siapapun itu tanpa membeda, memberi dan berbaik pekerti.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Banyak-banyak bersyukur dan lebih bersyukur lagi karena telah diberikan kesempatan belajar dengan baik, dikelilingi oleh orang-orang baik dan dikehendaki satu langkah maju untuk hidup dengan orang yang sangat baik. Baik agamanya, baik akhlaknya, baik nasabnya, banyak ilmunya dan cantik rupanya. 

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Jaga jarak, jaga sikap, jaga ucap, dan jaga pesan WhatsApp hingga nanti tibalah waktunya bai'at. Setelah itu, kamu berhak berbicara lebih dari yang semula hanya sepatah kata, berhak mengangkat kepala dan memandangnya dari yang semula hanya berani menunduk dan diam tanpa kata.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Sadar diri dan banyak bersyukur. Ingat, kamu dulu pernah berada di posisi paling dwon dan sangat menyakitkan. Malas makan, malas belajar, dan malas dengan segala apapun yang sebelumnya mengasikkan.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Perbanyaklah bersyukur, perbanyaklah bertaubat dan perbanyaklah berbuat baik. Ingat, umur tidak ada yang tau kapan masa aktifnya berakhir. Karena itu, gunakanlah waktumu dengan semaksimal mungkin, seakan-akan esok kamu telah tiada dari muka bumi ini. Masih banyak tempat yang harus kamu singgahi, baik buruknya nanti dimulai dan ditentukan dari kehidupanmu yang sekarang ini.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Jangan meminta dan mengharap kepada selain Allah, jangan meminta lebih dari apa yang mereka bisa beri. Tetaplah meminta dan mengharuskan banyak harap kepada Allah yang maha kaya, maka memberi, dan maha tau apa yang kita butuhkan. Tetaplah berdoa, bertaubat, beribadah dan belajar. 

Sebenarnya kamu memang harus begitu. Kamu harus sadar bahwa dirimu tak lebih dari seorang pendosa, pemalas dan tak banyak bertaubat atas sekian banyak dosa-dosa yang telah kau lakukan, dimana-mana, entah berupa kata, ucap dan sikap.

Ya Allah, beri aku kemudahan untuk terus mensyukuri nikmatmu, menyadari sekian banyak kesalahanku, selalu bertaubat atas dosa-dosaku, senantiasa semangat bekerja dan semangat belajar. jauhkan aku dari sifat dan sikap meminta, banyak bertaya hal yang tidak penting, mengunjing, menggosip, menyakiti orang lain dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Ya Allah berilah aku kekuatan untuk selalu taat padamu, melaksanakan kewajiban-kewajibanku sebagai orang muslim dan menjauhi semua larangan yang ada. Ya Allah, jadikan aku orang yang dapat memberikan banyak manfaat untuk sesama, entah melalui pengetahuan yang telah engkau beri, ataupun melalui harta yang telah dan akan engkau beri setelah ini. Berilah aku umur yang seperti itu, umur yang barokah dan bermanfaat.

Sebenarnya kamu memang harus begitu. 


Sabtu, 20 Agustus 2022.

Muhammad Zaironi

Label: , , , , , ,

Tiga Kewajiban Orang Tua Kepada Anaknya

keluarga sakinah


Dalam Islam, terdapat tiga kewajiban bagi orang tua terhadap anak. Tiga kewajiban orang tua untuk anaknya tersebut ialah, pertama, memberikan nama yang baik dan bagus, kedua, memberikan pendidikan yang baik, dan ketiga ialah menikahkannya.

1. Pertama, kewajiban orang tua kepada anaknya ialah memberikan nama anaknya dengan nama sebaik mungkin. Nama menjadi panggilan untuk anak tersebut sehingga jia nama anaknya kurang baik maka akan berdampak kepada orang tuanya juga, karena tidak sedikit orang tuanya kemudian dipanggil dengan nama anak pertamanya dan nama untuk anaknya tidak harus berbahasa arab. 

Pemberian nama kepada anak bukan sekedar untuk nama saja, namun sebisa mungki memperhatikan maknanya dan juga diniatkan untuk tabarrukan kepada arti dari nama tersebut. Seperti contoh nama anak dengan nama Zakiya Fikrotus Su'ada, maka dengan nama itupula diharapkan anak tersebut bisa merepresentasikan dari makna namanya sendiri. yakni, orang yang suci fikirannya dan bahagia. Jadi, hendaknya orang tua jangan asal memberikan nama kepada anaknya tanpa memperhatikan makna dan kebaikan seterusnya untuk anak tersebut. Karena dengan nama itulah anak itu akan dipanggil dan dinisbatkan kepada keluarganya.

Anjuran kepada orang tua agar memberikan nama yang baik tersebut bisa di cek di kitab Al-Adzkarun Nawawi hadits riwayat Abi Darda’. Bunyi haditsnya ialah sebagai berikut:

عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال : قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : " إنكم تدعون يوم القيامة بأسمائكم وأسماء آبائكم فأحسنوا أسماءكم ".

Artinya, “Dari Abu Darda Ra berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh kalian semua akan dipanggil pada hari Kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian. Maka dari itu, perbaguslah nama-nama kalian,’ (Lihat Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkarun Nawawi". Beirut: Dar Kutub: 2004, halaman 411).

Di antara maksud dan tujuan kenapa orang tua dianjurkan agar memberikan nama yang baik kepada anaknya, ialah karena ada beberpa nama yang makruh jika dibuat nama, dan nama ini tidak disukai oleh Nabi Muhammad SAW. Seperti contoh nama Untung (Rabaḥ), Sukses (Najah), menang (Aflaḥ), Kaya (Yasar), dan raja diraja (Malikul Amlak). 

Berikut hadits yang menerangkan hal di atas:

عن سمرة بن جندب رضي الله عنه قال : قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : " لا تسمين غلامك يسارا ، ولا رباحا ، ولا نجاحا ، ولا أفلح 

Artinya, “Dari Samurah bin Jundab RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Jangan kalian memberi nama anak kalian dengan nama Yasar, Rabah, Najah, dan Aflah,’” (Lihat Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkarun Nawawi, Beirut, Dar Kutub: 2004, halaman 412). 

Namun demikian, bukan berarti nama-nama tersebut tidak boleh digunakan. hanya saja nama di atas tidak dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk digunakan sebagai nama dan jika digunakan juga tidak berdosa. Karena itulah, orang tua memberikan nama anaknya dengan bahasa apa saja diperbolehkan dengan ketentuan nama yang digunakan bermakna baik dan diusahakan tidak dengan nama-nama yang ada pada hadits di atas. 

Dalam keterangan yang lain Nabi Muhammad SAW justru menganjurkan agar orang tua dalam memberikan nama kepada anaknya ialah menggunakan nama yang disukai oleh Allah SWT, yaitu seperti nama Abdullah, Abdurrahman, nama-nama para nabi. Keterangan ini terdapat dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud dari sahabat Abu Wahb Al-Jusyami sebagai berikut:

 عن أبي وهب الجشمي الصحابي رضي الله عنه قال : قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : " تسموا بأسماء الأنبياء ، وأحب الأسماء إلى الله تعالى : عبد الله وعبد الرحمن ، وأصدقها : حارث وهمام ، وأقبحها : حرب ومرة 

Artinya, “Dari Abi Wahb Al-Jusyami RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Berilah nama (kepada anak-anakmu) dengan nama-nama para nabi, dan nama-nama yang paling disukai oleh Allah SWT adalah Abdullah dan Abdurrahman. Sedangkan yang pertengahannya adalah Haris dan Hammam. Adapun nama yang paling jelek adalah Harb dan Murrah,” (Lihat Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz IV, halaman 474). 

Kemudian, dalam tradisi yang berlaku di khalayak masyarakat, ketika terdapat bayi yang baru lahir maka biasanya bayi tersebut akan diberi nama pada hari ke tujuh ada juga pada hari ke empat puluh dari kelahirannya, hal semacam ini biasa disebut dengan istilah tradisi molang are. 

Pada hari ke empat puluh dari kelahiran bayi tersebut biasanya sekaligus dengan dilakukan penyembelihan dua ekor kambing bagi anak laki-laki dan satu kambing bagi anak perempuan. Acara yang sudah mendarah daging di masyarakat ini biasanya tidak hanya diisi dengan makan-makan saja, namun diisi dengan pembacaan khatmil qur’an, kadang hanya baca Yasin saja dan biasanya akan ditutup dengan pembacaan shalawatan bersama, seperti maulid diba'. 

Berikut haditsyang menerangkan tentang perintah untuk memberikan nama kepada anaknya yang baru lahir

أن النبي صل الله عليه و سلم أمر بتسمية المولود يوم سابعه، و وضع الاذى عنه، و العقّ. 

Artinya: "Bahwa sesungguhnya Nabi memerintahkan untuk memberikan nama pada hari ketujuh, menghilangkan kesengsaraan dari padanya dan aqiqah". (Muhyiddin Dhib, Lawami’ al-Anwar; Syarh Kitab al-Adzkar, Bairut, Dar Ibn Kathir, 2014, juz 2, halaman: 143)

Namun demikian, hadits di atas tidak memutlakkan harus memberi nama anak pada hari ke tujuh pada hari kelahiran. Sehingga andai saja ada orang tua yang memberikan nama pada hari pertama kelahiran, maka tidak apa-apa

2. Kedua, memberikan pendidikan yang baik. Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang baik, hal ini untuk kebaikan masa depannya, kebaikan dalam melaksanakan eksistensi sebagai umat beragama Islam dan sebagai makhluk sosial yang membutuhkan banyak ilmu untuk menjalani kehidupannya dengan baik.

Dalam Islam setiap manusia muslim laki-laki dan perempuan diwajibkan untuk belajar, bahkan sejk dari buaian hingga ke liang lahat. Hal ini mempertegas betapa pentingnya sebuah pengetahuan dan pendidikan. Dengan pendidikan yang baik tentu akan membuat hidup manusia itu berjalan dengan baik, mengerti cara bersosial dengan baik, dan mengerti cara melaksanakan kewajiban sebagai orang islam dengan benar. 

Nabi Muhammad SAW bersabda sebagai berikut:

اطلبوا العلم ولو بالصين

Artinya, “Tuntutlah ilmu, walau ke negeri Cina” (Diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman, No. 1612)

Dalam keterangan yang lain disebutkan sebagai berikut:

اطلب العلم من  المهد إلى اللحد

Artinya : “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat” 

Ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, dalam syair disebutkan sebagai berikut:

  وفضل وعنوان لكلّ المحامد v تعلّم فانّ العلم زين لأهله

من العلم واسبح في بحور الفواءد v وكن مستفيدان كل يوم زيادة

Artinya, “Belajarlah, karena ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, dan keutamaan baginya serta tanda setiap hal yang terpuji. Jadilah kamu orang yang mencari faedah, setiap harinya bertambah ilmu dan berenang di atas lautan faedah.”

Dari keterangan di atas dapat difahami bahwa betapa pentingnya ilmu atau pengetahuan untuk keberlangsungan menjalani hidup di muka bumi, selain banyak yang harus diketahui oleh setiap muslim yang berhubungan dengan kewajibannya sebagai orang Islam, juga pengetahuan dibutuhkan untuk dapat melangsungkan eksistensi hidupnya dengan baik dan mengantarkannya kepada kebahagiaan. 

Imam syafii berkata bahwa orang yang tidak betah dengan pahitnya menuntut ilmu, maka dia akan menanggung pahitnya kebodohannya kelak.

Tatkala orang tua memberikan pendidikan yang baik, maka orang tua tersebut akan mendapatkan aliran pahala. Sebagaimana keterangan hadits dibawah ini:

 عن جابر بن سمرة رضي الله عنه قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم  لأنْ يُؤَدِّبَ الرجلُ وَلَدَه خيرٌ من أن يتصدق بصاع أخرجه الترمذي

Artinya, “Dari sahabat Jabir bin Samurah ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Pengajaran seseorang pada anaknya lebih baik dari (ibadah/pahala) sedekah satu sha,” (HR At-Tirmidzi).

Pendidikan yang diajarkan sejak kecil hendaknya pada hal-hal yang berkaitan dengan akhlak atau adab, sebagaimana sabda Nabi Muhammad berikut:

عن أَيُّوبَ بْنِ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا خَيْرًا لَهُ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ   

Artinya, “Dari Ayyub bin Musa, dari bapaknya, dari kakeknya, Rasulullah saw bersabda, ‘Tiada pemberian orang tua terhadap anaknya yang lebih baik dari adab yang baik," (HR At-Tirmidzi). 

Dalam riwayat lain Rasulullah juga menyampaikan agar para orang tua menanamkan etika dan norma-norma moral kepada anak-anaknya. Sebagaimana penjelasan hadits di bawah ini:

 عن ابن عباس عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أَكْرِمُوْا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوْا آدَابَهُمْ رواه ابن ماجه 

Artinya, “Dari sahabat Abdullah bin Abbas ra, dari Rasulullah saw bersabda, ‘Muliakanlah anak-anakmu, perbaikilah adab mereka," (HR Ibnu Majah)

Madrasah pertama bagi anak-anak adalah keluarga, khususnya ibu yang mengandungnya. Sehingga dengan demikian hendaknya ibu mempunyai pengetahuan yang cukup untuk diajarkan kepada anaknya sejak dini. Seperti ilmu tentang cara makan yang benar, cara membaca yang baik, cara berbicara yang santun dan seterusnya. Lebih-lebih jia orang tua mencontohkannya terlebih dahulu sehingga anak bisa mencontoh secara langsung perbuatan yang baik itu bagaimana. Sebagaimana yang ada dalam pepatah berikut:

 لِسَانُ الْحَالِ أَفْصَحُ مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ 

Artinya: “Contoh perbuatan lebih efektif (lebih berpengaruh) daripada perkataan”

Mengajarkan suatu hal memang akan lebih mudah difahami dan dicontoh langsung tatkala anak itu diberikan contoh oleh orang tuanya, sehingga anak bisa denga mudah mengerti apa maksud dari apa yang di ajarkan oleh orang tua. Terlebih orang tua mendidik anaknya dengan menggunakan metode pembiasaan. 

Kenapa demikian? karena lebih tepatnya, untuk anak-anak hanya butuh pada pembiasaan saja, misalnya jika anak tersebut sejak kecil biasa dibawa kemusholla atau biasa diajak sholat ketika waktunya sholat. Maka kemudian hari pasti anak itu tanpa diminta sudah sadar dengan sendirinya bahwa pada waktu yang sama ia harus mengerjakan sholat, begitu juga dengan hallainnya. karena anak kecil hanya butuh contoh bukan materi yang banyak.

Di antara pendidikan yang pertama harus diberikan ialah pendidikan yang berhubungan dengan kewajibannya sebagai umat Islam, yakni pendidikan tentang bersuci, sholat, zakat, puasa dan haji. Pendidikan tentag tauhid dan akhlak. Setelah itu kemudian baru pendidikan yang lainnya

Dalam hal ini sudah dijelaskan dalam surat Luqman ayat 17 berikut:

 يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ 

Artinya, "Wahai anakku, dirikanlah shalat dan ajaklah manusia berbuat baik dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara penting".

Kemudian dalam hadits juga disampaikan sebagai berikut:

 عن عمرو بن شعيب، عن أبيه، عن جده -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: مُرُوا أولادَكم بالصلاةِ وهم أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، واضْرِبُوهُمْ عليها، وهم أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في المَضَاجِعِ

 Artinya, "Dari Amr Bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: Rasulullah bersabda: “Perintahkan anak-anakmu melaksanakan sholat saat mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka sebab meninggalkan sholat saat mereka berusia 10 tahun dan pisahkan tempat tidur mereka". (H.R Abu Daud)

3. Ketiga, Hal anak pada orang tua yang ketiga ialah dinikahkan. Orang tua punya tanggung jawab untuk menikahkan anaknya tatkala anak tersebut sudah siap, siap secara materi, siap secara pengetahuan dan mental. Karena memang pernikahan bukanlah suatu hal yang biasa saja. Pernikahan ialah suatu perjanjian sakral, perjanjian yang disaksikan banyak malaikan dan manusia. Sehinga tatkala sudah melangsungkan akad nikah jauh-jauhkan fikiran tentang keinginan talak dan semacamnya. 

Dalam Al-Qur'an disebutkan sebagai berikut

وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

Artinya, "Dan mereka (istri-istrimu) telah megambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu." (QS. An-Nisa’: 20-21)

Pernikahan menjadi sarana untuk menjadikan setengah ibadahnya sempurna, dalam sebagian pendapat disampaikan bahwa dengan menikah setegah dari imannya telah sempurna. Yang jelas, sebagai orang tua yang baik, setelah memberikan nama yang baik untuk anaknya, kemudian memberikan pendidikan sebaik mungkin, dan yang terakhir punya tanggung jawab untuk menikahkan anaknya. 

 

REFERENSI/RUJUKAN

Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkarun Nawawi". Beirut: Dar Kutub: 2004, halaman 411 dan 412

Muhyiddin Dhib, Lawami’ al-Anwar; Syarh Kitab al-Adzkar, Bairut, Dar Ibn Kathir, 2014, juz 2, halaman: 143

Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun, juz IV, halaman 474


 

Label: , , , , ,

Kamis, 18 Agustus 2022

Menjaga Harga Diri (Dignity atau self respect)



Harga diri (Dignity atau self respect) itu melekat sepenuhnya pada setiap manusia seumur hidupnya. Mungkin saja kekuasaan atau kesenjangan ekonomi dapat mendegradasi dignity seseorang, tapi sebenarnya sedikitpun self respect itu tidak akan bisa hilang dari pribadinya. Karena ia melekat sepenuhnya hingga penghujung nafas setiap manusia.

Di dalam Islam, terdapat tiga kata yang secara makna saling melengkapi dalam mewujudkan kemuliaan, kehormatan dan menjaga diri. Hal ini disebut dengan izzah (kemuliaan diri), muru’ah (menjaga kehormatan diri), dan iffah (menahan diri). 

Tiga kata di atas saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Kata Izzah juga bermakna kehormatan, keagungan, dan kekuatan. Izzah harus dimiliki dan harus ada dalam hati setiap manusia, Izzah bisa didapatkan dengan cara mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan muru’ah memiliki makna menjaga tingkah laku hingga tetap berada pada keadaan yang paling utama. Menurut Syekh Imam Mawardi dalam Adab ad-dunya waddin, muru’ah memiliki pengertian sebagai berikut:

المروءَة مراعاة الأحوال إلى أن تكون على أفضلها، حتَّى لا يظهر منها قبيحٌ عن قصد، ولا يتوجَّه إليها ذمٌّ باستحقاق  

Artinya, “Muru’ah adalah menjaga tingkah laku hingga tetap berada pada keadaan yang paling utama, supaya tidak melahirkan keburukan secara sengaja dan tidak berhak mendapat cacian.

Jadi, Muru'ah itu tatkala manusia menjaga sikap dan tingkah lakunya agar senantiasa berada dalam keadaan yang baik dan tidak melanggar aturan-aturan dalam islam. Sehingga dengan perbuatan di atas orang itu bisa menjga diri dari perbuatan yang kapan saja bisa membuahkan keburukan.

Sedangkan menurut Mausu’ah Fiqh al-Qulub, muru’ah adalah: “Mengerjakan segenap akhlak baik dan menjauhi segenap akhlak buruk; menerapkan semua hal yang akan menghiasi dan memperindah kepribadian, serta meninggalkan semua yang akan mengotori dan menodainya.”

Adapun makna 'iffah ialah sebuah kemampuan atau sikap manusia dalam menjaga dan menahan diri dari hawa nafsu. Menurut Ibnu Maskawaih dalam kitabnya Tahdzibul Akhlak, 'Iffah adalah suatu kemampuan yang dimiliki manusia untuk menahan diri dari dorongan hawa nafsunya. 'Iffah merupakan sebuah keutamaan yang dimiliki manusia ketika dirinya mampu mengendalikan syahwat dengan akal sehatnya. Dari sifat 'iffah inilah kemudian lahir akhlak yang mulia seperti sabar, qana'ah, jujur, adil, santun, dermawan, dan perilaku terpuji yang lain. 

Sifat 'iffah inilah yang kemudian membuat manusia menjadi mulia (izzah). Sifat Iffah seperti batas pembeda antara prilaku manusia dengan hewan, bagaimana tidak, andaikata manusia sudah tidak lagi memiliki sifat 'iffah, maka dia tidak ada bedanya dengan sifat-sifat hewan. Karena itulah, tatkala seseorang mampu memfungsikan sifat 'iffah-nya, dalam kehidupannya, maka berarti akal sehatnya masih bekerja dengan baik. 

Dengan tiga sifat di atas manusia bisa menjalani kehidupannya dengan penuh arti. Tidak asal bersikap, bertindak dan berbicara ataupun berkomentar. Dengan sifat di atas pula manusia akan bisa menjaga eksistensi sebagai manusia yang sebenarnya melalui ke iffahannya, yakni menjaga dirinya dari dorongan hawa nafsunya. Dan dengan sifat Izzahnya manusia akan terhormat.

Dengan demikian, maka orang yang memiliki harga diri adalah orang yang mampu menampilkan kemuliaan dirinya, yakni 'izzah, menjaga kehormatannya, yakni disebut dengan muru’ah, dan menahan diri dari dorongan hawa nafsu yang disebut dengan 'iffah. Iffah juga bermakna menahan diri dari setiap perbuatan maksiat dan segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT.

Dalam prakteknya, atau pengamalan 'iffah, maka 'iffah terbagi menjadi dua, yakni menjaga dan menahan diri dari syahwat syahwat perut, dan menahan diri dari syahwat kemaluan. Yang dimaksud dengan menahan diri dari syahwat perut ialah menahan diri agar tidak meminta-meminta kepada selain Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah QS Al-Baqarah: 273 berikut:

لِلۡفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحۡصِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ ضَرۡبٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِيمَٰهُمۡ لَا يَسۡ‍َٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ 

Artinya, “(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui" (QS Al-Baqarah: 273)

Sedangkan dalil yang menerangkan tentang menjaga diri dari syahwat kemaluan di antaranya ialah firman Allah pada surah an-Nur: 33 berikut:

وَلۡيَسۡتَعۡفِفِ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغۡنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ  

Artinya, “Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya” (QS an-Nur: 33). 

Hendaklah kita menjadi manusia yang hanya memusatkan permintaan kita kepada Allah melalu doa dan membuktikan keseriusan kita dalam mintanya dengan bekerja keras dan sekuat tenaga, sabar dalam menjalani kehidupan tamun tetap berusaha untuk bangkit dan menjadi lebih baik lagi baik dalahm hal ibadah kita ataupun baik dalam ekonimi. Sehingga keduanya ketka berjalan seiringan, maka hidup kita akan menjadi lebih baik lagi dalam menjalaninya sehari-hari. Rasulullah bersabda sebagai berikut:

مَا يَكُوْنُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ لاَ أَدَّخِرُهُ عَنْكُمْ، وَإِنَّهُ مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبّرِهُ اللهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ 

Artinya, “Kebaikan (harta) yang ada padaku tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta, Allah akan memelihara dan menjaganya. Siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta, Allah akan menjadikannya sabar. Siapa yang merasa cukup dengan Allah dari meminta kepada selain-Nya, Allah akan memberikan kecukupan kepadanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. al-Bukhari). 

Sifat Iffah sendiri menjadi sifat yang sangat potensial pada diri setiap manusia, karena itulah menusia harus mendapatkan pendidikan yang baik sehingga ia dapat membentengi dirinya dari perbuatan yang tidak baik dan terus bisa menjaga eksistensinya sebagai manusia dengan menjaga kemuliaan dan berbuat mulia. 'Iffah tidak bisa diraih hanya dengan mempelajari teori. 

Sifat 'Iffah bisa dimiliki oleh setia manusia dengan syarat orang tersebut mau dan berusaha untuk terus melatih diri dan juga melalui pendidikan jiwa, yakni dengan memperbanyak mengerjakan amalan yang baik.

Sifat Iffah adalah bagian dari tingkat tertinggi dari akhlak manusia, dan juga menjadi perantara manusia tersebut dicintai oleh Allah SWT. Kenapa sdemikian?, dikarenakan denga sifat Iffah inilah kemudian melahirkan banyak sifat mulia dan terpuji sebagaimaa yang disampaikan di atas. Sehingga jika sifat 'iffah dari manusia sudah hilang, maka akan memberikan banyak pengaruh yang negatif dalam dirinya. Diantara dampat terburuknya ialah dapat membawanya pada perbuatan maksiat yang kemudian ia tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan salah, baik dan buruk, dan mana yang halal dan haram dikarenakan akal sehatnya sudah tertutup oleh syahwat semata.

Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah untuk memiliki sifat 'iffah terdapat dalam kitab al-adzkar an-Nawawi, berikut bunyi doanya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ اْلهُدَى وَالتُّقَى وَاْلعَفَافَ وَاْلغِنَى 

Artinya, "Ya Allah aku mohon kepadamu petunjuk, takwa, iffah (pengendalian diri), dan kecukupan" (HR Muslim).

Dalam kitab al-adzkar an-Nawawi tersebut dijelaskan bahwa doa di atas hendaknya dibaca pada pagi hari. Di antara tujuannya ialah agar sejak pagi kita sudah bisa terjaga dari perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan kita kepada perbuatan maksiat yang menghasilkan dosa.

Sudah menjadi maklum dan masyhur bahwa semua manusia akan berusaha untuk mempertahankan harga dirinya, setiap manusa akan merasa menjadi wajib baginya untuk terus menjaga dan mempertahankan harga diri dengan harapan esistensi dalam hidupnya bisa berjalan dengan baik tanpa adanya tekanan dan kecanggungan dalam hidup bersosial. 

Di antara upaya untuk menjaga harga dirinya biasanya banyak orang bersikap dengan berupaya sekuat tenaga dan bekerja sekeras mungkin untuk mendapatkan banyak harta, dan mendapatkan pangkat jabatan. Semua ini dimaksudkan untuk menjaga harga dirinya dari kemiskinan dan meminta-minta. Hal ini menjadi baik tatkala niatnya semata-mata tetal Lillahi Ta’ala, karena memang dikehidupan sekarang yang serba instan, serba ber-uang, dan maka di atara cara untuk menghindarkan diri dari meminta-minta ialah dengan bekerja dengan semangat, dan mencari uang sebanyak mungkin. Allah SWT juga memerintahkan hambanya selain berdoa juga agar bekerja dengan baik, Allah tidak menyukai sikap hambanya yang pemalas dan putus asa.

Seperti yang kita tau seringkali kesenjangan sosial atau ekonomi menjadi pemicu manusia merasa rendah harga dirinya bagi yang miskin ekonomi dan mudah merendahkan karena merasa banyak harta. Hal yang demikian tidak dibenarkan dalam Islam, karena selain hidup ini memang tentag penghambaan kepada Allah dengan sepenuhnya dan setulusnya. Juga harta hanyalah sebatas harta jika tidak digunakan dengan baik dan dibuat untuk membantu sesame yang kemudian berbuah kebaikan bagi dirinya sendiri. 

Harta tetap harus dicari, bahkan islam tida pernah melarang hambanya untuk kaya raya, hal itu juga untuk menghindarkan dirinya dari meminta-minta dan agar hidupnya lebih khusuk dalam beribadah kepad Allah SWT. Bahkan kaum shufipun banyak yang kaya raya, karena yang dimaksud dengan shufi bukanlah orang yang tidak mau dengan harta sama sekali. Tetap mencari tapi merasa tidak memiliki tatkala sudah dimiliki sehingga adanya dunia tidak membuatnya menjauh dari Allah, dan tidak mengurangi ibadahnya. Justru sebaliknya.

Maka, dengan bermodalkan kekayaan harta yang dimilikinya, seseorang akan merasa bahwa harga dirinya semakin baik dan terjaga dari hinaan dengan dalih ekonomi dan terjaga martabatnya sehingga dirinya bisa dengan mudah bergaul dengan banyak manusia. Dalam hal ini hendaknya tetap harus diiringi dengan sikap tidak sombong dan tetap sadar bahwa harta yang dimilikinya semata-mata hanyalah titipan dari Allah SWT yang kapan saja bisa Allah ambil Kembali. Dengan demikian setiap nikmat sudah seharusnya selalu disyukuri, syukur dalam bentuk ucap dan perbuatan denga memperbanyak berbuat baik melalui harta yang dimilikinya, yakni dengan banyak membantu orang lain. 

Dalam Islam juga disampaikan agar umat manusia hendaknya menjaga harga diri dan rasa malu. Islam mempunyai lima perkara yang harus tetap dipertahankan oleh setiap manusia atau pemeluknya, yaitu: agama, jiwa, harta, keturunan, dan akal, Lima hal ini disebut dengan Maqhoshid Asy-Syari’ah yang harus selalu dijaga.

Islam sebagaimana yang disampaikan di atas, bahwa islam mengajarkan kepada umatnya agar di dalam menjalani kehidupannya hendaknya berlomba-lomba untuk mendapatkan derajat atau martabat yang tinggi, khususnya di hadapan Allah. Banyak konsep tentang derajat yang tinggi dalam Islam, misalnya dengan konsep menjadi orang yang beriman, menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah (muttaqien), dan menjadi orang yang sabar serta dan menjadi orang yang berilmu. Jika diperhatikan lebih mendalam lagi, kunci utamanya ialah dengan berilmu sebaik dan setinggi mungkin sehingga bisa menjalani kehidupannnya dengan baik sesuai dengan ketentuan dan asas-asal dalam kehidupan. Baik kehidupan dalam konteks hablun minAllah ataupun hablum minannas. 

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam A-Qur,an Surat Al Mujadalah ayat 11 berikut:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya, "Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadalah: 11)

Jagalah harga diri kita dengan tetap mempertahanan keimanan kita dan menjaga perbuatan kita dari hal-hal yang berakibat pada perbuatan buruk dan maksiat, baik maksiat kepada sesame manusia ataupun kepada Allah dengan meninggalkan kewajiban dan melanggar larangannya. Jadilah manusia yang dapat mempertahankan lima perkara di atas, yakni agama, jiwa, harta, keturunan, dan akal. Tetaplah menjaga eksistensi hidup kita dengan terus menjalankan kehidupan dengan memperhatikan tiga sifat ataupun sikap di atas, yakni izzah (kemuliaan diri), muru’ah (menjaga kehormatan diri), dan iffah (menahan diri).



REFERENSI/RUJUKAN

https://islam.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-pentingnya-menjaga-harga-diri-7mqZ1

Label: , , , , , , , ,

Keutamaan Hari Jum'at dan Amalannya

amalan hari jumat


A. Amalan yang Dianjurkan Rasulullah

1. Membaca Surah Al-Kahfi

Dalam masalah ini, Imam Syafii memberikan penjelasan terkait dianjurkannya untuk memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pendapat ini berdasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW. Begitu juga sangat dianjurkan untuk membaca surat Al-Kahfi pada Kamis malam atau malam Jumat dan juga siang harinya.
Pendapat Imam Syafii tersebut terdapat dalam kitabnya, yakni kitab , Al-Umm, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1393 H, juz, 1, h. 207. 

      (قَالَ الشَّافِعِيُّ) أَخْبَرَنَا إبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنُ مَعْمَرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ( قال الشَّافِعِيُّ ) وَبَلَغَنَا أَنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ وُقِيَ فِتْنَةَ الدَّجَّالِ. ( قال الشَّافِعِيُّ ) وَأُحِبُّ كَثْرَةَ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي كُلِّ حَالٍ وَأَنَا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَتِهَا أَشَدُّ اسْتِحْبَابًا وَأُحِبُّ قِرَاءَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَهَا لِمَا جَاءَ فِيهَا 

Artinya: "Imam Syafi’i berkata, telah mengkhabarkan kepadaku Ibrahim bin Muhammad, ia berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abdurrahman bin Ma’mar bahwa Nabi saw bersabda, “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat”. Beliau juga berkata, dan telah sampai kepadaku riwayat yang mengatakan bahwa barang siapa yang membaca surat al-Kahf maka ia dilindungi dari fitnahnya Dajjal. Selanjutnya beliau mengatakan, bahwa saya menyukai banyak-banyak membaca shalawat kepada Nabi saw dalam setiap keadaan, sedang pada hari Jumat saya lebih menyukainya (dengan memperbanyak lagi membaca shalawat), begitu juga saya suka membaca surat al-Kahf pada malam Jumat dan siangnya karena adanya riwayat dalam hal ini” (Muhammad Idris asy-Syafi’i, al-Umm, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1393 H, juz, 1, halaman 207).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka hukum membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat itu memang benar sunah. Karena, didukung pula dengan riwayat yang mengatakan bahwa barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi, maka akan dilindungi dari fitnah Dajjal. 
Terlepas dari hukum membaca surah al-kahfi di atas, membaca al-Qur'an sudah jelas mebuahkan pahala. Membaca satu hurufnya diganjar atau diberi pahala 10. Sebagai orang muslim sudah sepatutnya tidak mempertanyakan lagi, apa dalilnya, siapa yang berpendapat dan seterusnya. 

Kemudian keterangan lain yang menjelaskan terkait dengan keutamaan malam jum'at dengan membaca surah al-kahfi adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُذْرِيّ قَالَ مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ 

Artinya "Diriwayatkan dari Abi Said Al-Khudri, ia berkata, Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka Allah SWT akan menyinarinya dengan cahaya antara dia dan rumah yang penuh dengan keindahan". (Sunan Ad-Darimi, 3273)

Berikut hadits yang menjelaskan tentang keutamaan membaca Al-Qur’an yang cukup familiar, yakni hadits riwayat Abdullah Ibnu Mas‘ud yang menyatakan, bahwa setiap huruf yang dibaca akan diberi balasan satu kebaikan. Setiap kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh, sebagaimana berikut ini.

   عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ 
Artinya: "Kata ‘Abdullah ibn Mas‘ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf,” (HR. At-Tirmidzi).

Hari Jumat merupakan hari yang sangat luar biasa keistimewahannya, karena terdapat banyak peristiwa yang penting terjadi pada hari Jumat. Seperti contoh diciptakannya Nabi Adam AS. dan peristiwa dimasukkan dan dikeluarkannya dari surga juga terjadi pada hari Jumat. 

Sebagaimana keterangan hadits di bawah ini yang menjelaskan bahwa Sesungguhnya hari yang paling mulia bagi kalian adalah hari Jum’at. Pada hari itu Nabi Adam AS diciptakan, di hari itu ditiupkan ruh, dan pada hari itu dilaksanakan siksaan. Berikut bunyi haditsnya:

عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ النَّفْخَةُ، وَفِيْهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثَرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ، فّإنَّ صّلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ، قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟- أي بَلِيْتَ- قَالَ: إنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ حَرَّمَ عَلَى الْأرْضِ أنْ تَأكُلَ أجْسَادِ الْأنْبِيَاءِ—سنن ابن ماجه 

Artinya, "Diriwayatkan dari Aws bin Aws, Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya hari yang paling mulia bagi kalian adalah hari Jum’at. Pada hari itu Nabi Adam AS diciptakan, di hari itu ditiupkan ruh, dan pada hari itu dilaksanakan siksaan. Karena itu maka perbanyaklah membaca shalawat kepadaku. Sebab shalawat yang kamu baca pada hari itu akan didatangkan kepadaku. Lalu sahal seorang sahabat bertanya: Wahai Rasulullah bagaimana mungkin shalawat yang kami baca itu bisa dihadapkan kepadamu, padahal engkau telah hancur dimakan bumi? Rasulullah SAW menjawab: Sesungguhnya Allah ’Azza wa Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi-Nya". (HR Ibnu Majah, 1075)

Di atara peristiwa penting yang terjadi pada hari jumat ialah diriwayatkan bahwa kelak hari kiamat jatuh pada hari Jumat, hal ini sebagaimana riwayat yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim.

Sebagaimana riwayat yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim.

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ 
Artinya: "Sebaik-baiknya hari di mana sang surya menyinarinya adalah hari Jumat. Pada hari Jumat Nabi Adam  as dimasukkan ke dalam surga, dan dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak terjadi kecuali pada hari Jumat" (HR Muslim).  

2. Membaca Surah Yasin

Di antara sekian banyak kebiasaan yang sering dilakukan oleh masyarakat saat mengisi kegiatan keagamaan di malam Jumat adalah dengan membaca surat Yasin, bahkan sore harinya tida sedikit yang berdatangan ke kuburan untuk ziyaroh kemudian membaca yasin. Surat yasin juga dibaca dibanyak majelis. Ada yang menjadikannya sebagai rangkaian bacaan tahlil, ada juga yang biasa kita kenal dengan sebutan jamaah Yasinan, atau sebatas kegiatan masyarakat yang dikhususkan di malam jum'at dengan membaca surat yasin.
Berikut di antara dalil yang menjelaskan keutamaan membaca surah yasin di malam jumat yang disebutkan secara tegas dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud sebagai berikut: 

   من قرأ سورة يس والصافات ليلة الجمعة أعطاه الله سؤله   

Artinya: "Barang siapa membaca surat Yasin dan Al-Shaffat di malam Jumat, Allah mengabulkan permintaannya". (HR Abu Daud dari al-Habr)  

3. Membaca Sholawat

Terkait dengan keutamaan memperbanyak membaca sholawat di malam jumat ataupun hari jumat, maka sudang dijelaskan secara gamblang di banyak kitab oleh ulamak. Diantaranya sebagaimana penjelasan yang ada dalam kitab Nawadirul Hikayah karya Syaikh Syihabuddin bin Salamah al-Qulyuby, berikut bunyi haditsnya: 

 روي عن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله غليه وسلم: "من صلى عليّ في يوم الجمغة مائة مرة قضى الله له مائة حاجة, سبعين من حوائج الأخرة وثلاثين من حوائج الدنيا. ويوكل الله بصلاته على ملكا حتى يدخلها على قبري كما تدخل على أحدكم الهداية. ويخبرني بإسمه فأثبته عندي في صحيفة بيضاء وأكفئه بها يوم القيامة

Artinya: "Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu 'Anhu berkata: Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasalam bersabda: Barang siapa bershalawat kepadaku di hari Jumat 100 kali, maka Allah akan mengabulkan baginya 100 hajat (kebutuhan), yang 70 dari kebutuhan akhirat dan 30 dari kebutuhan-kebutuhan duniawi. Dan Allah membebankan shalawat tersebut kepada malaikat hingga menghaturkannya ke kuburanku, layaknya (cahaya) hidayah yang masuk kepada kamu sekalian. Dan malaikat memberi tahu akan namanya, kemudian aku menetapkannya di sampingku di dalam lembaran yang putih bersih, dan dengan shalawatnya, aku mencukupinya (memberi syafaat) kelak di hari kiamat". 

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa hendaknya manusia memperbanyak membaca sholawat. hadits tersebut diriwayatkan dari Aus bin Aus, Rasulullah SAW bersabda: 

ان من افضل ايامكم يوم الجمعة فيه خلق ادم و فيه قبض وفيه النفخة وفيه الصعقة فاكثروا من الصلاة علي فيه فان صلاتكم معروضة علي

 Artinya, "Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah Hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptaan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk.  Oleh karena itu perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat, karena shalawat kalian akan dipersembahkan kepadaku".

Dalam hadits lain, yakni hadits riwayat Abi Umamah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut:

 اكثروا من االصلاة علي فى كل يوم جمعة فمن كان اكثرهم علي صلاة كان اقربهم منزلة

Artinya, "Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku setiap hari Jumat. Barang siapa yang paling banyak membaca shalawat atasku, maka dia paling dekat kepadaku kedudukannya." 

Begitu juga dengan hadits yang bersumber dari riwayat sahabat Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut:

 من صلى علي في يوم الجمعة الف مرة لم يمت حتى يرى مقعده فى الجنة 

Artinya, "Barang siapa membaca shalawat atasku pada hari Jumat seribu kali, maka ia tidak mati kecuali akan diperlihatkan kedudukannya di surga." 

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa betapa agung dan dahsyatnya keutamaan membaca sholawat, khususnya pada malam jumat sangat di anjurkan untuk memperbanyak sholawat. Terlebih dalam banyak riwayat disebutkan bahwa dengan membaca satu sholawat maka akan diberikan 10 kali lipat pahala. Hal ini sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim berikut:

  مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Artinya, “Siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali,” (HR Muslim). 

Sebagamana penjelasan dari banyak hadits di atas bahwa shalawat nabi memiliki banyak keutamaan bagi yang umat mengamalkannya atau membacanya, lebih-lebih degan jumlah yang banyak. Selain soal pahala bagi yang membacanya, amal dari membaca shalawat kepada Rosulullah juga dapat menghapuskan dosa dan mengangkat derajat orang yang membacanya, keterangan ini sebagaimana yang ada dalam keterangan hadits riwayat An-Nasa’i berikut: 

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ 

Artinya, "Siapa saja yang membaca shalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosanya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan," (HR An Nasa’i)


B. Dalil Keutamaan Hari Jum'at

Hari Jumat merupakan hari yang agung, mulia dan disebut dengan sayyidul ayyam. Allah SWT memuliakan umat Nabi Muhammad SAW dengan hari Jumat, kemuliaan ini tidak diberikan kepada umat nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW diutus. Pada malam jum'at umat Nabi Muhammad dianjuran untuk meningkatkan amal ibadah dan memperbanyaknya, seperti yang sudah masyhur di antaranya ialah memperbanyak membaca shalawat kepada Rasulullah SAW, memperbanyak sedekah, membaca yasin, dan lai-lain.

Terkait dengan keutamaan dan kemuliaan hari jumat, maka terdapat beberapa dalil yang menunjukkan terhadap keutamaan hari Jumat. Antara lain ialah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Syafi’i dan al-Imam Ahmad yang meriwayatkan dari Sa’ad bin ‘Ubadah, berikut bunyi haditsnya:

 سَيِّدُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَهُوَ أَعْظَمُ مِنْ يَوْمِ النَّحَرِ وَيَوْمُ الْفِطْرِ وَفِيْهِ خَمْسُ خِصَالٍ فِيْهِ خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَفِيْهِ أُهْبِطَ مِنَ الْجَنَّةِ إِلَى الْأَرْضِ وَفِيْهِ تُوُفِّيَ وَفِيْهِ سَاعَةٌ لَا يَسْأَلُ الْعَبْدُ فِيْهَا اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ إِثْمًا أَوْ قَطِيْعَةَ رَحِمٍ وَفِيْهِ تَقُوْمُ السَّاعَةُ وَمَا مِنْ مَلَكٍ مُقّرَّبٍ وَلَا سَمَاءٍ وَلَا أَرْضٍ وَلَا رِيْحٍ وَلَا جَبَلٍ وَلَا حَجَرٍ إِلَّا وَهُوَ مُشْفِقٌ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ

Artinya: "Rajanya hari di sisi Allah adalah hari Jumat. Ia lebih agung daripada hari raya kurban dan hari raya fitri. Di dalam Jumat terdapat lima keutamaan. Pada hari Jumat Allah menciptakan Nabi Adam dan mengeluarkannya dari surga ke bumi. Pada hari Jumat pula Nabi Adam wafat. Di dalam hari Jumat terdapat waktu yang tiada seorang hamba meminta sesuatu di dalamnya kecuali Allah mengabulkan permintaannya, selama tidak meminta dosa atau memutus tali silaturahim. Hari kiamat juga terjadi di hari Jumat. Tiada malaikat yang didekatkan di sisi Allah, langit, bumi, angin, gunung dan batu kecuali ia khawatir terjadinya kiamat saat hari Jumat".

Dalam hadits lain disebutkan, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi dari Abdillah bin ‘Amr bin al-‘Ash berikut: 

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ 

Artinya, “Tiada seorang Muslim yang mati di hari atau malam Jumat, kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur”.

Hadits di atas menurut ulamak mencapai tingkatan hadits hasan, hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Ihsan bin Dakhlan dalam kitab Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal. 286 cetakan Pondok Pesantrena Jampes Kediri, dengan mengutip keterangan dari Imam al-‘Azizi bahwa hadits tersebut mencapai tingkatan derajat hadits Hasan.

Di antara keutamaan hari jum;at yang lain ialah dengan melaksanakan shalat Jumat, maka orang yang tidak mempu di ibaratkan dengan naik haji pada hari jumat tersebut, artinya hari jum'at merupakan hajinya orang-orang yang tidak mampu. Hal ini sebagaimana Sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam al-Qadla’i dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

 اَلْجُمُعَةُ حَجُّ الْفُقَرَاءِ
 
Artinya, “Jumat merupakan hajinya orang-orang fakir”.
 
Kemudian, terkait dengan hadits tersebut, Syekh Ihsan bin Dakhlan menjelaskan sebagai berikut:

 يَعْنِيْ ذَهَابُ الْعَاجِزِيْنَ عَنِ الْحَجِّ اِلَى الْجُمُعَةِ هُوَ لَهُمْ كَالْحَجِّ فِيْ حُصُوْلِ الثَّوَابِ وَاِنْ تَفَاوَتَ وَفِيْهِ الْحَثُّ عَلَى فِعْلِهَا وَالتَّرْغِيْبُ فِيْهِ
Artinya, “Maksudnya ialah, berangkatnya orang-orang yang tidak mampu berhaji menuju shalat Jumat, seperti berangkat menuju tempat haji dalam hal mendapatkan pahala, meskipun berbeda tingkat pahalanya. Dalam hadits ini memberi dorongan untuk melakukan Jumat”. (Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal.282, cetakan Ponpes Jampes Kediri,). 

Hal serupa terkait keutamaan di hari jumat disampaikan dalam hadits lain, hadts ini menjelaskan tentang rangkaian ibadah di hari jumat yang membuahkan pahala. Berikut bunyi haditsnya: 

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا 
Artinya, “Barang siapa membasuh pakaian dan kepalanya, mandi, bergegas Jumatan, menemui awal khutbah, berjalan dan tidak menaiki kendaraan, dekat dengan Imam, mendengarkan khutbah dan tidak bermain-main, maka setiap langkahnya mendapat pahala berpuasa dan shalat selama satu tahun". (HR. Al-Tirmidzi dan al-Hakim). 

Menurut Imam al-Tirmidzi hadits di atas statusnya mencapai derajat hadits Hasan, sedangkan menurut al-Hakim hadits tersebut mencapai derajat hadits Shahih. 

Keterangan lain disampaikan dalam Hadits shohih muslim atau Imam Muslim adapun haditsnya sebagai berikut: 

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ 

Artinya, “Barang siapa berwudlu kemudian memperbaiki wudlunya, lantas berangkat Jumat, dekat dengan Imam dan mendengarkan khutbahnya, maka dosanya di antara hari tersebut dan Jumat berikutnya ditambah tiga hari diampuni”. (HR. Muslim).



REFERENSI/RUJUKAN

Muhammad Idris asy-Syafi’i, al-Umm, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1393 H, juz, 1, halaman 207

Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal.282, cetakan Ponpes Jampes Kediri,

Syekh Ihsan bin Dakhlan dalam kitab Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal. 286 cetakan Pondok Pesantrena Jampes Kediri

Kitab Nawadirul Hikayah karya Syaikh Syihabuddin bin Salamah al-Qulyuby

HR. Al-Tirmidzi dan al-Hakim

HR. Muslim dan HR An Nasa’i

https://lampung.nu.or.id/syiar/dalil-keutamaan-membaca-surat-al-kahfi-di-malam-jumat-ZN3ru

https://jatim.nu.or.id/keislaman/malam-jumat-disunahkan-membaca-surat-al-kahfi-ini-dalilnya-I2OUH

https://islam.nu.or.id/jumat/dalil-keutamaan-hari-jumat-XB4Tt

https://islam.nu.or.id/jumat/nilai-lebih-baca-sholawat-pada-hari-jumat-GVoMT

https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/perhatikan-10-keutamaan-membaca-shalawat-nabi-4ZyBE

Label: , , , , , , ,