Jumat, 18 Oktober 2024

ISU-ISU DAN PROMBLEMATIKA KONTEMPORER DALAM PENDIDIKAN ISLAM

 

Isu-isu pendidikan Islam Kontemporer


ISU-ISU DAN PROMBLEMATIKA KONTEMPORER DALAM PENDIDIKAN ISLAM

 A.    Pendahuluan

Lembaga pendidikan Islam (LPI) akhir-akhir ini sudah banyak yang mulai menggalakkan diri untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan tehnologi yang kian deras arusnya. Perkembangan zaman dan tehnologi semakin menjangkau segala aspek sehingga jika abay sejenak saja dapat mempengaruhi eksistensi dan keikutsertaan dalam membentuk siswa yang berdaya saing di tingkat global.

Pendidikan islam saat ini sedang menjadi permata yang banyak dicari oleh ibu bapak dari anak-anak yang kian hari makin jauh dari ilmu agama, perilaku makin ugal-ugalan dan ucap semakin tidak berkesesuaian.

Pendidikan Islam sudah seharusnya terus berbenah dan mengambil andil untuk turut serta mencetak pesera didik yang berdaya saing, berakhlakul karimah dan kompeten dalam bidang yang diambilnya. Terdapat beberapa isu atau tatangan bagi Lembaga Pendidikan Islam agar tetap bisa terus eksis dengan mengimbangi perkembagan zaman dan memberijan jawaban atas tantangan tersebut dengan mengantarkan putra putri terbaiknya menjadi pemimpin di berbagai lembaga pendidikan dan tempat pengabdian lainnya,

B.     Pembahasan

P            Pendidikan Islam akhir-akhir ini mulai dilirik oleh banyak masyarakat yang mana diantara sebabnya adalah kekuatannya dalam tetap eksis ditegah tantangan globalisasi dan perkembangan zaman yang sangat ugal-ugalan, banyak lembaga pendidikan umum yang abai dengan penyediakan layanan ilmu agama dalam kegiatannya sehingga para ibu bapak walimurid kawatir dengan putra putrinya akan pengetahuan ilmu agama yang tidak begitu dalam. Contoh kecil banyak siswa yang tidak tau Najis dan macamnya, tidak tau cara mensucikannya, tidak bisa membaca al-Quran dengan baik dan lancer dan seterusnya. Hal ini menjadi nilai plus untuk lembaga pendidikan Islam. Namun demikian lembaga pendidikan Islam tetap harus terus berbenah untuk menghilangkan isu-isu yang erat dengannya. Berikut beberapa isu lembaga pendidikan

1.              Kualitas tenaga pendidik (SDM guru), isu yang pertama ini menjadi problem yang harus diselesaikan dengan cara terus meningkatkan kualitas SDM untuk menghasilkan SDM yang berkualitas. Hendaknya SDM di lingkungan Lembaga Pendidikan Islam meningkatkan kualitasnya dengan melanjutkan studi dari strata 1 hingga strata 3 atau doctoral untuk memperdalam pengetahuannya pada bidang yang dikehendaki. Dengan demikian akan memberikan dampak yang baik pada peserta didik untuk kemudian menjadi lulusan dengan SDM yang berkualitas dan berdaya saing

2.                  Kurikulum yang tidak transformation. Baiknya kurikulum terus berbenah dan menyesuaikan dengan kehendak zaman yang terus berkembang dengan berbagai kecanggihannya. Banyak Lembaga Pendidikan Islam yang tetap kaku dengan ke konservatif-annya sehingga cenderung abai dengan kebutuhan peserta didiknya untuk memberikan pelayanan Pendidikan yang setara dengan di luar lembaga tersebut. Pun juga banyak lembaga Pendidikan Islam yang mana visi, misi dan tujuannya saja tetap dengan narasi itu-itu saja sejak wal didirikan, tidak ada perubahan dan perbaikan visi yang menunjukkan adanya ketercapaian dari visi itu sendiri. Baiknya visi, misi dan tujuannya terdapat perubahan yang ditargetkan dengan pencapaiannya sebagaimana yang tercatat dalam renstra lembaga. Renstra setiap lembaga tentu berbeda, sehingga visi, misi dan tujuannya juga berbeda dan tahapan apa yang akan di capai setiap rencana stratejiknya juga berbeda.

3.      Metode pembelajaran yang cenderung kaku dan tidak inovatif, hal ini perlu digalakkan lagi untuk memberikan suasana dan pengalaman belajar yang berbeda dan menyenangkan untuk peserta didik. Inovasi dalam mengajar menjadi aspek penting untuk diperhatikan agar SDM atau tenaga pendidik dapat memberikan atau transfer ilmu dengan mudah difahami, diterima dan tidak membosankan. Terdapat banyak metode pembelajaran yang bisa didalami ole setiap guru yang tentunya menyesuaikan dengan tema dan materi yang akan disampaikan kepada siswa.

4.              Fasilitas atau sarana prasarana yang kurang dan belum memadai. Sarana prasarana menjadi hal penting yang dapat menunjang mudah tidaknya pembelajaran dilaksanakan, suasana kelas yang baik dan fasilitas lainnya yang lengkap. Sarana prasarana atau sarpras bahkan menjadi satu aspek penilaian dalam beberapa standar dalam program akreditasi lembaga oleh pemerintah, sehingga sudah seharusnya lembaga Pendidikan Islam selain berbenah dalam meningkatkan SDM juga meningkatkan kelengkapan fasilitas atau sarpras lembaga sehingga baik guru maupun murid dapat mudah melaksanakan pembelajaran setiap hari

5.              Lemahnya visi misi lembaga, sebagaimana yang disampaikan di atas, hendaknya setiap lembaga punya standar visi misi yang berkesesuaian dengan kehendak perkembangan zaman yang kemudian diturunkan pada kurikulum sehingga dapat menghasilkan lulusan yang berdaya saing kuat, unggul dan menjadikan sekolah dilirik oleh banyak masyarakat sehingga berdampak baik bagi lembaga. Setiap lembaga pendidikan yang banyak diminati oleh masyarakat tidak lepas dari sekolah yang punya visi misi yang berkesesuaian dengan zaman, visi misi yang kuat dan khas dengan lembaganya dan tidak meniru lembaga lain yang mana secara filosofi dan historis serta semangatnya juga berbeda.

6.              Rendahnya daya saing lulusan. Diantara penyebab lembaga pendidikan Islam tidak maju dan tidak menjadi pilihan utama masyarakat banyak adalah rendahnya daya saing lulusan, terdapat banyak penyebabnya, diantaranya disebabkan oleh visi misi yang tidak berkesesuaian dengan zaman dan tidak berkemajuan spiritnya, fasilitas yang kurang memadai, cara mengajar yang masih konservativ dan tidak inovatif, SDM yang kurang mumpuni serta kurang berkualitas, kurangnya daya control dari pimpinan dan masih banyak lagi. Beberapa hal di atas dapat menghambat kemajuan sebuah lembaga jika tidak segera di Atasi dan berbenah. Padahal setiap lulusan berhak meraih cita-citanya yang terkait dan terikat erat dengan latar belakang pendidikannya. Sudah seharunya lembaga pendidikan Islam menjadi pilihan utama masyarakat dalam menitipkan putra putrinya karena adanya value dan bukti bahwa lulusannya berkualitas dan berdaya saing tinggi.

7.              Tidak adanya rencara stratejik (renstra), hal ini menjadi pengmabta kemajuan lembaga pendidikan Islam, sehingga semua kegiatannya tidak ada target pencapaian dan berjalan begitu saja. Harusnya setiap lembaga pendidikan Islam mempunyai renstra untuk kemudian disampaikan kepada semua pimpinan dan SDM yang ada agar bersama-sama semangat untuk mencapai setiap target dari rencana yang disusun. Dengan demikian lembaga akan mendapati perubahan dan perkembangan yang baik. Renstra biasanya ada yang tahunan, lima tahunan dan bahkan bisa sepuluh hingga 30 tahun, mau dibawa kemana sebuah lembaga di situlah diuraikan dalam sebuah renstra

 

C.     Kesimpulan

        Sebuah lembaga pendidikan agar tetap bisa eksis ditengah gempuran berbagai tantangan dan permintaan masyarakat adalah dengan melakukan kesesuaian diri lembaga dengan perkembangan zaman, meningkatkan SDM, layanan sarana prasarana, pembelajaran yang inovatif, kurikulum yang transformatif, visi misi yang kuat dan punya rencana stratejik (renstra) untuk memastikan arah tujuan dan pencapaian yang akan dilakukan.

 


Label: , , , , ,

Senin, 12 Desember 2022

Model Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Karakter Siswa

 

PENDAHULUAN 

Implementasi pembelajaran di Indonesia masih jauh dari perubahan yang signifikan, sehingga pendidikan di Indonesia menjadi stagnan dan statis, hal ini berdampak cukup berat untuk melaju pada posisi sepuluh besar dari negara-negara terbaik dalam sistem pendidikannya. Pendidikan di Indonesia masih saja berada pada posisi rendah di urutan bawah. Negara Indonesia sendiri mendapatkan peringkat 54 pada tahun 2021, yang berarti negara kita telah naik satu peringkat sebelumnya yaitu peringkat 55 pada tahun 2020. Hal ini menjadi PR besar untuk pengella pendidikan di Indonesia. Pengelolaan pendidikan harus benar-benar diperhatikan sehingga hasil dan kualitasnya bisa sesuai dengan napa yang diharahpkan. Hal ini bisa dirubah melalui elastisitas pengembangan sumber belajar dan media pembejaran berbasis karakter siswa.

Faktanya, ikhtiar pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran merupakan sebuah keniscayaan selama ini. Keniscayaan pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran ini didasarkan setidaknya pada dua realitas yang berlawanan. Pada satu satu sisi sumber belajar memiliki sifat yang statis dan kerapkali mendapati pengulangan materi dari satu jenjang ke jenjang berikutnya, namun demikian di sisi lain pelaku pendidikan dituntut untuk memiliki peran yang dinamis dan berkelanjutan. 

Sifat statis sendiri berasal dari komponen sumber belajar berupa benda yang meliputi; buku, manusia, media massa, dan media pendidikan. Sedangkan pada sisi peran, sumber belajar dituntut agar berperan sebagai sumber dari berbagai informasi dan pengetahuan yang diperlukan dalam mengembangkan kompetensi yang diinginkan pada mata pelajaran atau bidang studi, hal ini juga berlaku untuk media pembelajaran. Dengan kondisi tersebut maka sumber belajar dan media pembelajaran sangat penting untuk dikembangkan. Maka, berdasarkan deskripsi yang penulis paparkan di atas, maka penulis tertarik untuk membahas tema ini dengan sub bab sebagai berikut: Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Karakteristik Peserta Didik.


PEMBAHASAN

Urgensi Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran

Melihat perkembangan hasil belajar dan kualitas pendidikan di Indonesia yang masih jauh dari kata terbaik, maka praktisi pendidikan dan pengelola harus lebih ekstra dalam mencar terobosan dan berbagai pengembangan strategi untuk merubah kondisi pendidikan yang berada pada posisi stagnan dan sulitnya melaju pada posisi sepuluh besar pendidikan terbaik di dunia. Maka, di antara cara yang cukup mudah dan dapat diukur keberhasilannya ialah dengan merubah pola mengajar yang terkesan statis dengan melakukan pengembangan sumber dan media pembelajaran berbasiskan karakteristik siswa.

Diantara strategi pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran yang cukup prospektif adalah dengan berbasiskan karakter peserta didik. Hal ini dikarenakan keberadaan sumber belajar dan media pembelajaran selalu terdapat keterkaitan, bahkan tidak bisa dipisahkan dengan kondisi karakter peserta didik di kelas. Sehingga pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran yang baik harus terintegrasi dengan realitas peserta didik di kelas. Mengingat masing-masing karakteristik siswa berbeda-beda, dengan demikia menjadi maklum tatkala banyak sekolahan yang memberlakukan sistem seleksi kemampuan siswa dan kemudian diklasifikasikan menurut kemampuan, kecerdasan dan prilakunya. Maka, pengembangan berbasis karakter peserta didik menjadi salah satu alternatif pengembangan yang terintegrasi dan memungkinkan tercapainya tujuan pendidikan.

Pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran berbasis karakter peserta didik memungkinkan tercapainya proses pembelajaran yang optimal dan terukur. Pasalnya kualitas pembelajaran terkait erat dengan kualitas sumber belajarnya, dan materi akan tersampaikan dengan baik ketika di bingkai melalui media yang menyesuaikan dengan karakteristik siswanya. Di mana proses pembelajaran yang baik akan membutuhkan pengembangan sumber belajar yang baik. Dengan kata lain sebuah proses pembelajaran tanpa pengembangan sumber belajar yang tepat maka tidak mungkin terlaksana dengan optimal. Dengan demikian pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran berbasis karakteristik peserta didik memungkinkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil yang signifikan.

Prinsip umum dalam pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran berbasis karakter peserta didik ialah berpacu dan memperhatikan nilai efektifitas dan efesiensi. Prinsip efektifitas mengarah pada upaya pengembangan yang dapat menghasilkan penghematan waktu, sedangkan efesiensi mengarah pada kemudahan teknis yang praktis dan elastis. Maka, dengan kata lain prinsip pengembangan ini ialah mengarah kepada terciptanya sumber belajar dan media pembelajaran yang dapat mempermudah dan mempercepat proses pembelajaran dengan hasil yang terukur.


Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Karakter Peserta Didik

Memperhatikan definisi sumber belajar yang meliputi segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang. Maka, dengan demikian segala sesuatu baik yang disengaja dirancang ataupun yang telah tersedia yang dapat dimanfaatkan baik secara sendiri maupun bersama-sama untuk membuat atau membantu peserta didik belajar disebut sumber belajar. 

Sumber Belajar Berbasis Karakter Siswa

Proses komunikasi dalam praktik pendidikan tidaklah jauh berbeda dengan proses pembelajaran kecuali pada aspek konteks berlangsungnya komunikasi Proses Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM). Dari berbagai sumber belajar yang ada, diantaranya ialah manusia, bahan, lingkungan, alat dan peralatan dan aktivitas. 


Lima komponen di atas harus saling berkolaboratif dan berpacu dalam satu strategi untuk melakukan pengembangan. yang tidak kalah pentingnya ialah ada pada manusia itu sendiri, yakni guru dan murid. Guru harus lebih memahami psikologi murid, lingkungan, dan karakteristik kelas yang akan diberikan tranfer knowled. Tentu didukung dengan ketersediannya sarana yang memadai. Guru harus lebih inovatif dalam mengelola kegiatan belajar mengajar, punya teknik dan sumber belajar yang dikombinasikan untuk mempermudah murid dalam menerima ilmu yang disampaikan.

Jika ditinjau secara historis, penggunaan sumber belajar dalam dunia pendidikan sudah dikenal sejak lama. Bila menoleh sejarah pendidikan di kalangan umat Islam, maka pada zaman pertengahan Islam fasilitas sumber belajar sudah dikenal meskipun sangat amat sederhana akan tetapi sudah dilengkapi dengan adanya ruangan yang memadai untuk tempat belajar, juga ada rumah-rumah pengajar.
Pada abad ini, trend penggunaan sumber belajar tidak lagi hanya digunakan apa adanya, melainkan dikembangkan terlebih dahulu da dibingkai dengan sebaik mungkin dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Diantara cara yang bisa dilakukan dalam pengembangan sumber belajar ialah dengan merencanakan langkah-langkah secara sistematis. Langkah-langkah sistemstis dalam pengembangan sumber belajar tersebut diantaranya adalah:
1. Menganalisis Kebutuhan dan Karakteristik Belajar Siswa
Sebuah perencanaan sumber belajar didasarkan salah satu indikatornya di dalamnya terdapat kesenjangan. Kesenjangan adalah ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya atau apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi. Dalam pembelajaran yang dimaksud dengan kebutuhan adalah adanya kesenjangan antara kemampuan, keterampilan dan sikap siswa yang diinginkan dengan kemampuan, keterampilan dan sikap siswa yang mereka miliki sekarang.

2. Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata pelajaran, dan guru itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan siswa dapat ditetapkan apa yang hendak dicapai, dikembangkan dan diapresiasi. 

Berdasarkan mata ajaran yang ada dalam petunjuk kurikulum dapat ditentukan hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Suatu tujuan pembelajaran seyogianya memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Menyediakan situasi atau kondisi untuk belajar. 
b. Mendefenisikan tingkah laku siswa dalam bentuk dapat diukur dan dapat diamati.
c. Menyatakan tingkat minimal perilaku yang dikehendaki.

3. Pengembangan Materi Pembelajaran
Sebelum memasuki kelas, kita harus meracang tentang apa yang mesti disampaikan kepada siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, dan pengalaman belajar siswa nantinya mengandung muatan pelajaran, muatan pelajaran mencakup kebutuhan siswa itu sendiri. Muatan pelajaran adalah materi yang disusun oleh guru atau tenaga pengajar, yang diambil dari sumber utama dan sumber penunjang.
Materi disusun berdasarkan tujuan, kompetensi dan indikator belajar yang telah dikembangkan sebelumnya. Kesesuaian materi yang dikemas dengan tujuan, kompetensi dan indikator merupakan jaminan bagi tercapainya hasil belajar yang diharapkan, demikian juga sebaliknya, bila materi disusun tidak merujuk ketujuan, kompetensi dan indikator, maka akan menjauh kan dari capaian hasil belajar yang optimal.

4. Mengembangkan Alat Ukur Keberhasilan
Alat pengukur keberhasilan siswa perlu didirancang sebelum naskah program sumber belajar ditulis atau sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan. Alat ini dapat berupa tes, penugasan atau daftar cek perilaku. Alat pengukur keberhasilan harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan pokok-pokok materi pelajaran yang akan disajikan kepada siswa. Alat pengukur keberhasilan harus bisa digunakan secara tepat saat dibutuhkan dalam pembelajaran, dengan alat pengukur keberhasilan ini bisa dilihat keberhasilan siswa belajar dengan menggunakan sumber belajar yang ada.

5. Pemilihan Jenis Sumber Belajar
Sumber belajar dalam proses pembelajaran mempunyai arti yang cukup penting karena ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan sumber belajar sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan sumber belajar. Sumber belajar dapat mewakili apa yang kurang mampu diucapkan oleh guru dengan kata-kata atau kalimat tertentu, dan dengan demikian anak didik lebih mudah mencerna bahan yang dipelajarinya.

Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Karakter Peserta Didik

Pengembangan media pembelajaran menjadi penting berbasis karakter peserta didik menjadi sangat penting, hal ini berdasarkan kondisi dan karakteristik siswa yang hendak diberikan pengetahuan melalui kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru harus pandai-pandai dan mengetahui psikologi kondisi kelas dan siswanya, sehingga guru bisa memilih media yang elastis dengan kondisi yang ada.
Sebelum memilih media pembelajaran yang akan digunakan, ada beberapa criteria yang harus diperhatikan oleh guru. Sehingga pemilihan media pembelajaran tersebut adalah yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran dan siswa memperoleh hasil belajar yang baik.

Dalam memilih media pembelajaran ada beberapa kriteria yang digunakan yaitu: 
1. Ketepatannya dengan tujuan pengajaran: Media pengajaran yang dipilih atas dasar tujuan tujuan instruksional yang telah di tetapkan. 
2. Dukungan terhadap isi bahan pelajaran: Bahan pelajaran yang sifatnya fakta, peinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa. 
3. Kemudahan memperoleh media: Media yang digunakan mudah diperoleh, mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. 
4. Ketrampilan guru dalam menggunakannya: Diharapkan guru dapat berinteraksi dengan siswa pada waktu menggunakan media tersebut. 
5. Tersedia waktu untuk menggunakannya: Media bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung. 
6. Sesuai dengan taraf berpikir siswa, sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh siswa.

Ilustrasi Implementasi Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Berbasis Karakter Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Fiqh Bab Shalat Kelas VII Tsanawiyah
1. Pada tahap awal, guru membuka pembelajaran dengan salam. Kemudian ketua kelas diminta memimpin doa jika pelajaran yang dilaksanakan merupakan jam pelajaran pertama
2. Guru memimpin pembacaan fatihah yang dihaturkan kepada Rasulullah dan guru-guru beserta pejuang pendidikan untuk mengharap keberkahan dan manfaat dari ilmu yang akan dipelajarinya
3. Guru meminta siswa membuka sumber belajar yang tersedia, seperti buku, LKS, dll.
4. Guru menentukan metode pembelajaran yang inovatif dan elastis dengan materi yang akan disampaikan.
5. Penyajian materi dikolabotari dengan metode yang elastis dan dengan materi dan kondisi psikologi siswa. Materi disajikan dengan mudah dan menarik dan ditampilkan melalui media yang adaptif.
6. Metode yang variatif dalam mengajar akan menghndari spekulasi pada guru bahwa guru ini mengajar dengan cara yang stagnan, statis dan begitu-begitu saja sehingga membuat murid bosan.
7. Guru memilih media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa. Dalam hal ini media yang sangat mendukung untuk menampilkan materi bab shalat ialah proyektor dan juga youtube dengan catatan contoh yang ditampilkan dalam youtube tersebut sesuai dengan kaidah yang ada dalam sajian di kitab-kitab.
8. Guru menyajikan materi pelajaran sesuai dengan apa yang sudah dipaparkan dalam format rencana pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan ini disusun dengan menyesuaikan karakteristik siswa di kelas, mengingat masing-masing kelas mempunyai perbedaan karakter.
9. Guru membuka lebar pintu untuk bertanya bagi siswa, dalam hal ini metode demontrasi merupakan metode yang sesuai dan memberikan siswa untuk aktif. 
10. Selain materi disampaikan dengan sajian yang menarik melalui Media Proyektor, Guru harus memberikan contoh yang ditampilkan dalam bentuk gambar yang kemudian dicontohkan oleh gurunya dan murid diminta mengikutinya.
11. Dalam menyampaikan materi shalat, tidaklah bisa disampaikan dengan baik dan dengan hasil yang maksimal tanpa adanya contoh dan praktek yang baik.
12. Menampilkan contoh yang disambil dari youtube merupakan cara yang baik, sehingga menanamkan persepsi bahwa materi yang ditampilkan melalui proyektor terlihat berkelanjutan dengan dikembangkannya melalui contoh yang tersedia pada youtube.
Berikut Skema Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Karakter Siswa.



KESIMPULAN
Strategi pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran dengan berbasiskan karakter peserta didik cukup prospektif. Hal ini dikarenakan keberadaan sumber belajar dan media pembelajaran selalu terdapat keterkaitan, bahkan tidak bisa dipisahkan dengan kondisi karakter peserta didik di kelas. Sehingga pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran yang baik harus terintegrasi dengan realitas peserta didik di kelas.
Pengembangan media pembelajaran menjadi penting, hal ini berdasarkan kondisi dan karakteristik siswa yang hendak diberikan pengetahuan lelalui kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru harus pandai-pandai dan mengetahui psikologi kondisi kelas dan siswanya, sehingga guru bisa memilih media yang elastis dengan kondisi yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
Aswan Zain dan Bahri Syaiful Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: RinekaCipta, 1997)
Arief. S. Sadiman, Media Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005)
Hadari Nawawi, Pendidikan dalam Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993)
https://www.liputan6.com/global/read/5051493/daftar-negara-dengan-pendidikan-terbaik-tahun-2022-ini-posisi-indonesia#:~:text=Negara%20Indonesia%20sendiri%20mendapatkan%20peringkat,peringkat%2055%20pada%20tahun%202020.
M. Syahran Jailani, Abdul Hamid. Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Karakter Peserta Didik (Ikhtiar optimalisasi Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Nadwa, Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 10, Nomor 2, Oktober 2016
Mukhtar dan Iskandar, Desain Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (Sebuah Orientasi Baru),(Jakarta: Gaung PersadaPress, 2010) 
Muhammad Attiyah Al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Terj. Bustami A. Gani dan Djohar Bahry, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974)
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2011)
Teni Nurrita. Pengembangan Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Misykat, Volume 03, Nomor 01, Juni 2018


Label: , , , , ,

Minggu, 26 Juni 2022

MODERNISASI PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN DI INDONESIA



A. Modernisasi Pendidikan Pondok Pesantren

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan islam tradisional yang lahir dan bertumbuh kembang seiring dengan datangnya Islam ke tanah Jawa. Maka, dengan demikian pondok pesantren menjadi lembaga pendidikan yang tertua di masyarakat Indonesia.

Pendidikan pondok pesantren sudah berkembang jauh sejak dahulu sebelum kemerdekaan, kurang lebih sekitar tahun 1700 an, dahulu pesantren di kenal sebagai lembaga pendidikan yang hanya mengajarkan keilmuan seputar agama saja, seperti seputar Ilmu stilistika yang mencakup balaghoh, bayan dll, juga menyampakan keilmuan terkait nahwu, shorrof hingga keilmuan fiqh, tasawuf, tafsir, hadits dll. Dengan demikian menjadi maklum ketika dari pesantren lahir banyak ulamak, pendak i, ustadz dan seterusnya. Mereka dibekali banyak keilmuan ketika masih di dalam pesantren, dididik sedemikian rupa sehingga mereka selalu siap untuk enyampaikan apa yang sudah didapatkan dalam pesantren.

Orang yang menuntut ilmu dalam pesantren dikenal dengan sebuta santri, santri yang tidak pernah ada ceritanya takut untuk bekerja setelak menyatri, santri yang selalu yakin akan masa depannya meskipun berhenti mondok langsung berkeluarga, santri yang selalu menyapaikan dan menebar kebaikan di manapun tempat berjuang setelah di pesantren, santri yang selalu ta’dzim dan hormat kepada guru ngaji, kiyai dan orang tuanya, santri yang mendahulukan akhlak dari pada akal dan pengetahuannya.

Pondok Pesantren menjadi tempat terfavorit untuk orang tua menitipkan putra putrinya dalam rangka belajar pendidikan agama islam, pesantren sejak dulu dikenal dengan lembaga pendidikan yang cukup padat kegiatannya, mulai dari subuh hingga mau tidur malam dengan sekian banyak kegiatan.

Pondok pesantren tumbuh dan berkembang dan terus berkembang seiring dengan adanya banyak harapan dari masyarakat terkait pendidikan yang dibutuhkan untuk kehidupan beragama, pendidikan pondok pesantren berembang dengan dasar motivasi agama itu sendiri, sehingga di antara tujuan pendidikan pesantren ialah untuk syiar agama, yakni menyampaikan ajara agama islam dengan melakukan pembinaan pada pengetahuan, kecakapan dan sikap ataua akhlak secara luas. Sehingga pendidikan pondok pesantren bertujuan untuk mencetak santrinya menjadi manusia yang mempunyai kepribadian khusus, keilmuan khas dan kemampuan atau skill dalam berbagai hal, kususnya ahli dalam bidang keilmuan agama.

Sehubungan semakin bervariasinya problematika yang ada dengan diiringi berkembangan zaman yang semakin meningkat dan tuntutan zaman yang terus mendesak, sehingga pendidikan dalam pesatren tidak dapat terus menerus bertahan dengan ciri khasnya sejak dahulu, yakni pendidikan dalam pesantren yang tidak mengajarkan keilmuan yang ada dalam pendidkan formal. Tuntutan masyarakat yang semakin mendesak, membuat pendidika dalam pesantren sedikit mengalami transformasi atau perubahan untuk mengimbangi perkembangan zaman, modernisasi terus diupayakan guna menyiapkan santri yang unggul dan tidak tertinggal dengan pendidikan luar. Dengan demikian santri juga bisa berdaya saing dengan siswa pada umumnya, justru santri memiliki nilai plus dalam keilmuan agama.

Dengan terus berkembangnya keadaan dan meningkatnya kemajuan teknologi, modernisasi keadaan terus meningkat. Lambat laun banyak pesantren yang melakukan modernisasi dengan melakukan memasukkan pendidikan formal di dalamnya, baik itu pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK, MA. Semuanya diadopsi untuk memberikan keilmuan lebih pada santrinya dan juga menjawab harapan masyarakat yang menginginkan putra putrinya untuk nyantri namun di sisi lain juga mendapatkan pendidikan formal, sehingga dengan demikian mereka juga bisa berdaya saing dalam skala global di lintas dunia.

Pendidikan pesantren terus mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat luas, pertumbuhan pesatrenpun juga semakin meningkat dan berlomba-lomba dalam mencetak generasi yang unggul dan berkualitas, hal ini terbukti dengan banyaknya lulusan pesantren yang menduduki kursi-kursi penting di pemerintahan. Baik dari menjadikepala desa, camat, bupati, wali kota, gubernur, anggota DPR hingga menjadi presiden dan wakil presiden. Santri yang dahulunya dikenal dengan kolot dan sering kali dipandang sebelah mata dikarenakan tidak mempunyaiijazah akhirnya terjawabkan, meskipun ijazah tida menentukan kualitas keilmuan seseorang, namun dengan mempunyai ijazah kemudian keilmuan yang sudah berkualitas sdari sananya menjadi lebih dan keilmuannya diakui oleh masyarakat luas.

Banyak santri yang keilmuannya sangat-sangat berkualitas dan baik, namuan dikarenakan tidak mempunyai ijazah yang di akui oleh negara mereka sering dinomor duakan, begitulah fakta yang ada. Dengan adanya pendidikan formal pendidikan santri menjadi semakin mantap dan menjadi jurus jitu untuk santri dalam keikutsertaannya untuk andil dalam perubahan, perkembangan dan kemajuan Indonesia.

B. Desain Sistem Pendidikan dalam Pesantren

Dengan terus perkembangan pendidikan pesantren, ada pula pesantren yang tetap mempertahankan kesalafannya tanpa memasukkan pendidikan formal di dalamnya, ada pula yang mengkombinasikan dengan sistem salaf dan modern, ada pula yang langsung mengatas namakan dirinya sebagai lembaga pendidikan pondok pesatren modern dan seterusnya. Yang jelas dibalik perbedaan tersebut ada banyak kemaslahatan dan mempunyai vsi isi yang berbeda namun tetap denfan tujuan yang sam, yakni menyiarkan agama islam, menyampaikan keilmuan kepada masyarakat luas dan membentuk santri yang berilmu, beriman, berakhlak dan unggul. Tentunya menjadi umat kebanggaan Nabi Muhammad.

Jika kita melihat fakta yang ada, sebagaimana yang penulis sampakan di atas bahwa pendidkan pesantren sejak dahulu sudah menyumbangkan banyak hal untuk Indonesia raya. Dahulu, bisa kita lacak bagamana satri dan kiyai ikut andil dan berada di garda terdepan untuk ikut serta memperjuangkan kemerdekaan, pendidikan pesantren banyak mencerdaskan masyarakat, pendidikan pesantren banyak mencetak santri yang mampu memimpin baik itu dari tingkat desa hingga memimpin negara yang besar, yakni Indonesia raya.

Dengan demikian, maka pendidikan pesantren tidak diragukan lagi keilmuan yang disampaikan kepada santri dalam sehari-hari. Dalam pesatren sudah dipraktekkan pedidikan full day, bahkan sampai malam hari. Sehingga dalam pesantren dikatakan apapun yang didengar, dilihat dan dirasakan merupakan pendidikan untuk santri. Bagaimana satri dididik untuk mandiri dalam hal apapun, dilatih untuk tidak cengeng dan siap dengan kondisi apapun. Dari sinilah kemudian lahir anak bangsa yang tangguh, berakhlak, beriman, dan berpegang teguh pada ajara islam.

 

Modernisasi pendidikan pondok pesantren adalah jawaban dari pondok pesantren terhadap perubahan zaman, perkembangan yang terus menerus meningkat, dan kebutuhan atau harapan dari masyarakat. Maka dalam hal ini pendidikan pondok pesantren telah ikut andil dalam hal melakukan perubahan besar dalam lingkup keilmuan untuk menjamin keberlangsungan dan ketahanan pendidikan yang diselenggarakannya. Meski pondok pesantren melalukan modernisasi pendidikan namun tetap mempertahankan tradisi pesantren itu sendiri dengan tetap mengajarkan kitab-kitab salaf dan keilmuan lainnya. Modernisasi yang dilakukan dalam pesantren mencakup perubahan dalam lingkup aspek-aspek kurikulum (materi pembelajaran), metode, dan sistem evaluasi dengan menghadirkannnya pendidikan formal di dalamnya.

Pesantren menjadi lembaga pendidikan yang secara istiqamah menjaga nilai-nilai dan ajaran Islam, pondok pesantren tetap mempertahankan sistem pendidikan tradisionalnnya yang menekankan pada penguasaan kitab-kitab klasik, namun pada sisi lain tetap melakukan inovasi pendidikan yang dilaksanakan sehingga pesantren tetap dapat eksis di zaman yang terus berlangsung dan komplek  perubahan dan tuntutan zamannya. 





Label: , , , ,

Rabu, 02 Maret 2022

Tantangan dunia pendidikan dan implikasinya pada pengembangan inovasi pendidikan dan pembelajaran

TANTANGAN PENDIDIKAN

TANTANGAN DUNIA PENDIDIKAN
DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENGEMBANGAN
 INOVASI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN PAI


 BAB I 

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seorang ilmuwan yang cukup terkenal yang dikutip oleh Nurani Siomukti dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Perspektif Globalisasi yang bernama Alvin Tovler menggunakan istilah ‘kejutan masa depan’ (future shock) untuk menggambarkan situasi sekarang yang membuat kita terlempar pada suatu kondisi dimana kita mengalami tekanan yang mengguncangkan dan hilangnya orientasi individu yang disebabkan kita dihadapkan dengan terlalu banyak perubahan dalam waktu yang terlalu singkat.

Disamping itu dalam bukunya Rekonstruksi Pendidikan Islam, Muhaimin menyatakan bahwa tantangan dunia pendidikan di Indonesia hingga saat ini dihadapkan dengan persoalan-persoalan yang berat seperti perkembangan globalisasi dibidang budaya, etika, moral sebagai akibat dari kemajuan tehnologi dibidang transportasi dan informasi. Lebih lanjut Muhaimin menyatakan bahwa para siswa / peserta didik saat ini telah mengenal berbagai sumber pesan pembelajaran, baik yang bersifat pedagogis, terkontrol maupun non pedagogis yang sulit terkontrol.

Sumber-sumber pesan pembelajar yang sulit terkontrol akan dapat mempengaruhi perubahan budaya,etika, dan moral para siswa atau masyarakat. Masyarakat yang semula merasa asing dan bahkan tabu terhadap model-model pakaian ( fashion ) yang terbuka dan hiburan- hiburan (fun) bahkan film-film yangtidak pantas untuk ditonton oleh anak usia sekolah.

Selain itu perkembangan dunia yang tadinya untuk membangun basis ekonomi masyarakat yang kuat sangat mengandalkan pada money capital ( modal uang ), selanjutnya berefolusi pada human capital (SDM) namun pada pada perkembangannya kedua capital tersebut (money capital dan human capital) kini masih dianggap kurang memadai justru masyarakat mau membangun basis ekonomi yang kuat sangat membutuhkan sosial-capital yang kokoh. Inti dari sosial caital adalah sikap amanah atau masyarakat yang dipercaya. Namun dalam prakteknya Indonesai dalam survey the Political and

Economic Risk Consultancy (PERC) menyatakan bahwa Indonesia adalah negara terkorup pertama di Asia. Dari ungkapan itu bagaimana kita bisa membangun kepercayaan Internasional guna membangun kerjasama danmembangun capital social untuk lebih mengembangkan perekonomian Indonesia.

Dari melihat fenomena seperti itu merupakan tantangan yang perlu segera dijawab oleh lembaga pendidikan Islam, dalam arti apa kontribusinya dalam membangun masyarakat yang memiliki sikap amamah atau sosial-capital yang tinggi tersebut dimasa depan.[4]Bagaimana arah perkembangan inovasi pembelajaran agar membentuk pribadi-pribadi yang cerdas dan berahlak mulia yang dapat berdiri sendiri dan bekerjasama dengan orang lain untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik dan tentunya berkualitas.


B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada penulisan makalah ini tidak lepas dari kajian yang penulis tulis, yaitu;

1. Bagaimana tantangan dunia pendidikan saat ini ?

2. Bagaimana responisasi pendidikan dalam menghadapi tantangan dunia ?

3. Bagaimana inovasi pendidikan dan pembelajaran PAI terhadap tantangan dunia pendidikan ?


C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah menjelaskan dan memaparkan tantangan dunia pendidikan dan implikasinya terhadap pengembangan inovasi pendidikan dan pembelajaran PAI sebagaimana runtutan dalam rumusan masalah.


BAB II 
PEMBAHASAN

A. Tantangan Dunia Pendidikan

Perkembangan dunia di era globalisasi saat ini menjadi tantangan atau peluang dunia pendidikan untuk mampu menyesuaikan diri dan menjawab problematika yang semakin kompleks. Tekanan ekonomi dalam kehidupan, tuntutan masyarakat untuk mendapatkan keadilan dan demokratis, serta kuatnya nilai buudaya yang tergerus arus hedonistic, prakmatis, materialistic dan sekularistik menjadi tanda kecenderungan keberadaan pendidikan di era globlalisasi saat ini. Dewasa ini, kemunculan virus Covid-19 yang telah menyebar ke seluruh penjuru dunia juga memberikan dampak kepada berbagai sector kehidupan, termasuk sektor pendidikan.

Dampak perkembangan globalisasi kepada para pelajar yang menjadi sebuah tantangan dunia pendidikan adalah seperti mudahnya para pelajar menerima informasi yang datang dari berbagai belahan dunia tanpa adanya pengawasan dari orang tua, apalagi pengawasan dari guru di sekolah. Pendidikan di masa pandemi seperti sekarang ini menjadi sebuah tuntutan kepada para pelajar untuk bisa belajar mandiri. Selain itu, rendahnya tingkat social-capital bangsa Indonesia hampir mencapai titik “zero trust society” yaitu masyarakat yang sulit dipercaya. Disamping itu hasil survei internasional menunjukan bahwa mutu pendidikan di Indonesai masih rendah jika dibanding dengan negara tetangga.

Fenomena yang terjadi akibat dampak negatif globalisasi ini menjadi racun dalam dunia pendidikan pada umumnya dan pendidian Islam pada khususnya. Oleh karena itu Pendidikan Agama Islam harus memberikan kontribusi terhadap tantangan pendidika tersebut dengan membangan masyarakat yang memiliki sikap social capital (amanah) yang tinggi di masa mendatang. Para pelajar yang menjadi generasi penerus bangsa juga masih belum sepenuhnya memenuhi harapan pendidikan Indonesia, yang juga sebagaimana menjadi harapan bersama yakni agar generasi kita dapat menjadi pribadi-pribadi yang cerdas dan berahlak mulia, yang dapat berdiri sendiri dan bekerja sama dengan orang lain untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera dan penuh sikap amamah.

Tantangan dunia pendidikan di era globalisasi ini dapat dirumuskan dalam beberapa tantangan, diantaranya; Tantangan untuk meningkatkan nilai tambah, produktifitas kerja nasional serta pertumbuhan dan pemerataan ekonomi; Tantangan untuk melakukan riset secara komprehensif terhadap terjadinya era reformasi dan transformasi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern; Tantangan dalam persaingan global yang semakin ketat, meningkatkan daya saing bangsa dalam menghasilkan karya-karya kreatif yang berkualitas sebagai hasil pemikiran; dan tantangan terhadap munculnya inovasi dan kolonialisme di bidang IPTEK.

Meningkatnya globalisasi yang ada tentu berpengaruh terhadap peningkatan teknologi dan informasi, sehingga dunia di era digital juga memberikan tantangan baru terhadap dunia pendidikan, diantaranya; Tantangan dunia pendidikan di era digital mencakup keseimbangan, keselamatan dan keamanan, hak cipta plagiarisme; Setiap individu harus memenuhi kemampuan literasi digital dasar dan kompetensi untuk memecahkan masalah komplek dengan kemampuan berfikir kritis, kreatifitas, komunikatif dan kolaboratif; dan di era digital, seseorang dengan mudah mengakses dan memperoleh informasi, sehingga hal tersebut juga dapat mempengaruhi moral dan etika peserta didik

Sebagaimana tantangan pendidikan di masa pandemi ini, meskipun masih bisa terbantu melalui teknologi, namun tetap tidak dapat menggantikan peran guru (pengajar) dan interaksi belajar antara pelajar dan pengajar, karena pendidikan tidak hanya sekedar transformasi ilmu pengetahuan tetapi juga berkaitan dengan nilai, kerja sama dan kompetensi. Dalam hal seperti ini pendidikan memiliki tugas besar dalam segi etika dan moral.3 Karena mudahnya akses informasi dari berbagai sumber, maka para pelajar juga harus bisa memilah sumber pesan pembelajaran, terdapat sumber pembelajaran yang bersifat pedagogis dan mudah di kontrol dan banyak pula yang sulit di control.4 Adapun sumber pembelajaran yang mudah dikontrol seperti buku pelajaran dan buku bacaan umum, sedangkan yang sulit dikontrol adalah film, televisi komputer dengan internetnya dan handphone dengan berbagai kecanggihannya. Dampak dari akses yang sulit terkontrol tadi mengakibatkan bermunculnya sikap sadisme, kekerasan dan masih banyak lagi yang terjadi.5

Seperti yang terjadi di Indonesia saat ini, penyebaran virus Covid-19 menjadikan masyarakat untuk menjaga jarak sehingga juga berimbas pada pelaksanaan pendidikan di sekolah, sehingga pemerintah juga meniadakan pembelajaran tatap muka secara langsung. Selain itu, tantangan pendidikan di masa pandemi saat ini adalah tidak semua orang bisa menggunakan teknologi yang digunakan dalam pembelajaran, masih terdapat guru atau orang tua yang gagap teknologi, kesulitan akses internet dan terbatasnya media belajar; dan dengan pembelajaran menggunakan media teknologi, maka guru kurang mampu menginternalisasikan nilai-nilai pendidikan kepada peserta didik untuk menciptakan karakter yang diharapkan.

Beragam tantangan di atas dapat dinyatakan sebagai tantangan kontemporer yang perlu pemecahan multidimensi. Beragam elemen pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam memecahkan problematika yang ada, terutama Pendidikan Agama Islam. Model-model Pendidikan harus relefan dengan perkembangan zaman serta sistem pendidikan yang ada juga harus lebih terarah. Berdasarkan dari fenomena yang ada, pokok dari tantangan pendidikan saat ini adalah terletak pada sistem pendidikan mulai tingkat nasional hingga tingkat sekolah yang diselenggarakan. Sehingga dapat menghasilkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan tersebut.


B. Responisasi Pendidikan dalam Menghadapi Tantangan Dunia

Selama ini, pendidikan di Indonesia dianggap kurang mampu mencapai keberhasilan sebagai mana yang diharapkan, khususnya Pendidikan Agama Islam yang memiliki andil besar dalam membangun sikap dan perilaku keberagamaan generasi mudah serta sikap moral dan etika bangsa. Beberapa kelemahan-kelemahan dari pendidikan Agama di sekolah yang dapat dilihat secara kasat mata antara lain kurang bisa mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi “makna” dan “nilai” atau kurang mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai keagamaan yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik.

Selain itu Pendidikan Agama Islam kurang dapat berjalan bersama dan bekerja sama dengan program-program pendidikan non agama serta kurang mempunyai relefansi terhadap perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Problematika yang terjadi di dunia Pendidikan sebenarnya bersifat klasik, namun hingga saat ini belum mampu terselesaikan dengan baik, sehingga menjadi problematika yang berkesinambungan dari satu period eke periode berikutnya. Sebuah tantangan dan problematika dalam dunia Pendidikan mungkin

tidak akan pernah usai untuk dibahas dan diperbincangkan, hal tersebut didasarkan beberapa alas an yang mendasar, yakni diantaranya pertama, setiap manusia menginginkan pendidikan yang terbaik, sekalipun terkdang setiap orang mengartikan dalam bentuk yang berbeda-beda. Kedua, Teori Pendidikan yang bersifat dinamis, dimana teori ini terus berkembang dan dibuat sesui dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat. Karena perubahan yang ada inilah masyarakat tidak akan pernah puas dengan teori Pendidikan yang ada. Ketiga, perubahan sudut pandang seseorang juga mempengaruhi ketidak puasan seseorang terhadap sistem Pendidikan yang ada, sehingga pada suatu saat seseorang akan merasa puas karena sesuai dengan pandangan hidupnya, dan pada saat yang lain seseorang bisa terpengaruh oleh pandangan hidup lainnya yang pada gilirannya berubah pula pendapatnya tentang pendidikan yang semula dianggap memuaskannya tersebut.

Pendidikan di Indonesia, khususnya Pendidikan agama Islam dijadikan sebagai Core pengembangan pendidikan di Sekolah yang diharapkan pendidikan Islam memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan mata pelajaran lainnya. Diantara karakteristik yang diharapkan pada Pendidikan agama Islam seperti berusaha untuk menjaga akidah peserta didik agar tetap kokoh dalam situasi dan kondisi apapun, berusaha menjaga dan memelihara ajaran dan nilai-nilai yang tertuang dan terkandung dalam al-Qur’an dan Hadits secara otentitas keduanya sebagai sumber utama ajaran Islam dan dapat menonjolkan kesatuan iman, ilmu dan amal dalam kehidupan keseharian.

Pendidikan agama Islam juga berusaha membentuk dan mengembangkan sikap keagamaan individu maupun social yang akan menjadi landasan etikda dan moral dalam mengembangkan IPTEK dan budaya serta berbagai aspek kehidupan lainnya. Secara subtansi, Pendidikan agama Islam mengandung entitasentitas yang bersifat rasional dan supra rasional yang berusaha menggali, mengambangkan sejarah dan kebudayaan Islam dan pada akhirnya pendidikan Agama Islam akan mengandung pemahaman dan penafsiran yang beragam, sehingga memerlukan sikap terbuka dan toleran atau semangat ukhuwa Islamiyah.

Perbaikan-perbaikan yang terus dikembangkan oleh pendidikan ini tidaklah bisa berjalan tanpa adalanya kerjasama yang baik antar elemen Pendidikan, karena pendidikan agama bukan hanya menjadi tugas guru agama saja, tetapi merupakan tugas bersama antara kepala sekolah, guru Agama, guru umum, seluruh aparat sekolah dan orang tua.


C. Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran PAI

Setelah menelaah berbagai macam tantangan dan problematika dunia pendidikan, maka perlu adanya solusi dalam memperbaiki dan meningkatkankualitas pendidikan. Salah satu cara untuk mengembangkan Pendidikan di Indonesia adalah dengan menghadirkan inovasi-inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan beberapa sistem pendidikan yang lebih menyenangkan dan berkualitas. Menilik dari negara tetangga, keberhasilan pendidikan yang ada dikarenakan beberapa hal, diantaranya karena tingginya perhatian pada profesionalisme guru serta fariabel-fariabel yang lain seperti kurikulum, sarana, fasilitas dan lain-lain. Namun pengembangan Pendidikan tersebut tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah pusat atau daerah, tetapi diperlukan kerjasama antar elemen Pendidikan. Untuk melakukan perubahan tersebut maka kita harus bertitik pada visi yang jelas sebab inovasi bukanlah tujuan akhir namun adalah sebuah sistem yang harus dijalankan untuk mencapai apa yang diharapkan.

Segala tantangan dan problematika pendidikan dapat diminimalisir dengan menciptakan inovasi pendidikan, baik secara top down innovation atau bottom up. Sistem Pendidikan dan proses pembelajaran merupakan satu kesatuan yang utuh, komperensif dan terpadu, sehingga proses pembelajaran itu tergantung dari berbagai elemen yang saling berkaitan, jika salah satu elemen terganggu atau rusak maka akan mengganggu keberhasilan proses pembelajaran. Dengan demikian guru harus mampu memberdayakan seluruh elemen yang ada dalam pembelajaran. Selain itu, sifat dan sikap keterbukaan yang dimiliki guru dan pelajar, yaitu adanya kesediaan untuk menerima kritik atau informasi dari luar, serta tidak selalu merasa benar dan orang lain salah. Jika tidak demikian, maka sistem pendidikan tidak akan bisa diterapkan dalam proses pembelajaran dengan baik. Dengan demikian, implimentasi inovasi pendidikan juga harus mampu dilaksanakan oleh seluruh elemen Pendidikan, terlebih seorang guru yang menjadi pemeran utama dalam sebuah sistem pendidikan agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan inovatif dan efektif.

Pemerintah telah melakukan beragam upaya untuk meningkatkan kualitas guru sebagai sosok penting dalam dunia Pendidikan, seperti pemberantasan buta huruf, pendidikan masyarakat, pendidikan luar sekolah, Pendidikan pramuka untuk transmigrasi, pusat kegiatan belajar, kuliah kerja nyata, pembangunan sistem informasi pendidikan, orang tua asuh bagi anak yang kurang mampu dan sebagainya. Diantara arah kebijakan pemerintah pada bidang Pendidikan menuju perluasan dan pemerataan kesempatan pendidikan yang bermutu adalah pengembangan kemampuan akademik dan professional tenaga kependidikan, pembaharuan kurikulum, pembaharuan dan penetapan sistem Pendidikan, peningkatan kualitas Lembaga Pendidikan, pengembangan SDM sedini mungkin, penguasaan-pengembangan dan pemanfaatan teknologi, organi sekolah yang demokratis, transparan efisien dan accountable.

Dari berbagai tantangan yang terjadi saat ini, baik problematika, globalisasi hingga masa pandemi saat ini maka yang menjadi sorotan sasaran inovasi atas beragam hal, diantaranya pendidikan dituntut untuk Mampu mewujudkan sekolah menjadi subjek daya saing yang berkualitas. Hal ini terwujud dengan hadirnya pengembangan inovasi perkembangan inofasi dan komunikasi (TIK); Memanfaatkan media yang sedang berkembang pesat sebagai sumber bahan ajar pembelajaran., pesan-pesan yang disampaikan dalam pembelajaran dapat menggunakkan media baik visual, audio maupu audio visual; Mampu menyelaraskan kecanggihan teknologi dengan nilai-nilai budi pekerti, memperkuat karakter budaya bangsa, meningkatkan kreativitas individu untuk menggunakan kecakapan digital; Memberikan penjelasan secara detail tentang penggunaan teknologi yang benar agar tidak menyalahgunakannya serta bekerja sama dengan orang tua dalam memonitoring anak saat menggunakan teknologi digital.

Sedangkan inovasi yang telah diberikan pemerintah di masa pandemi yang masyarakat tidak bisa secara langsung tatap muka adalah melaksanakan proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau remote learning, seperti pembelajaran daring yang merupakan pembelajaran yang dilakukan tatap muka dengan melalui platform yang tersedia, sehingga orang tua juga turut dalam memonitoring pembelajaran anak; dan memberikan kebijakan penggunaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), penggunaan program belajar di rumah seperti yang disampaikan di TVRI bagi guru-murid.

Sistem pendidikan tidaklah cukup hanya difahami dan didiskusikan, tetapi harus diaplikasikan kedalam proses pembelajaran agar pembelajaran tersebut menghasilkan hasil yang optimal yaitu mampu memperdayakan seluruh potensi yang ada dalam diri  pelajar, yang terdiri dari potensi kognitif, afektif dan psikomotorik.13 Dari beragam tantangan dan problematika pendidikan serta inovasi yang menjadi salah satu solusi pemecahannya, terdapat pokok terpenting dalam inovasi pendidikan, diantaranya;

1. Penguatan Profesionalisme Guru

Substansi dari kata profesionalisme ini bermuara pada pemahaman akan adanya suatu pekerjaan yang dilaksanakan berdasarkan keahlian. Oleh karena itu, profesionalisme merupakan suatu pekerjaan yang harus dipelajari melaluui proses secara serius. Profesionalisme juga menjadi perhatian khusus oleh banyak orang karena hal tersebut akan berimbas pada keberhasilan sebuah pekerjaan yang dilakukan. Nabi Muhammad SAW pernah bersabdah yang artinya “Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tungguhlah kehancurannya”. Hal tersebut memberikan arti bahawa Nabi Muhammad SAW memberikan perhatian yang besar terhadap profesionalisme. Melalui redaksi ini diharapkan umat Islam memperhatikan aspek profesionalisme dalam bekerja dan beraktifitas, khususnya dalam pekerjaan yang melibatkan orang lain secara langsung, seperti guru atau pendidik.

Menurut Buchari, bahwa kegiatan mengajar (teaching) merupakan kegiatan dari suatu pekerjaan professional, sehingga dalam melakukannya dibutuhkan landasan keilmuan dan latihan-latihan. Edi Mulyasa mengatakan bahwa pendidikan harus mampu menyiapkan guru professional, karena kemampuan professional guru dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas sangat menentukan keberhasilan pendidikan secara menyeluruh di masa datang.

Menurut Mukhtar Luthfi, sebagaimaa yang dikutip Nurdin, terdapat delapan kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu pekerjakan agar dapat disebut sebagai profesi, yaitu; 

a) Panggilan hidup yang sepenuh waktu, 

b) Pengetahuan dan kecakapan atau keahlian, 

c) kebakuan yang universal, 

d) Pengabdian, 

e) Kecakapan diagnostic dan kompetensi aplikatif, 

f) Otonomi,

g) Kode etik, dan 

h) Klien. 

Kriteria tersebut berlaku untuk berbagai profesi pekerjaan, termsuk guru pendidikan agama Islam (PAI). Namun guru PAI ini memiliki sedikit perbedaan karakteristik dengan guru lainnya, sebagaimana yang disampaikan Muhaimin; “Pendidikan agama memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan mata pelajaran lainnya. Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki karakteristik sebagai berikut; 

a) PAI berusaha untuk menjaga akidah peserta didik agar tetap kokoh dalam situasi dan kondisi apapun; 

b) PAI berusaha menjaga dan memelihara ajaran dan nilai-nilaiyang tertuang dan terkandung dalam al-Qur’an dan Hadits serta otentitas keduanya sebagai sumber utama ajaran Islam; 

c) PAI menonjolkan kesatuan iman, ilmu dan amal dalam kehidupan keseharian; 

d) PAI berusaha membentuk dan mengembangkan kesalehan individu dan sekaligus kesalehan sosial. 

e) PAI menjadi landasan moral dan etika dalam pengembangan IMPEK dan budaya serta aspek-aspek kehidupan lainnya; 

f) Suptansi PAI mengandung entitas-entitas yang bersifat rasional dan supra-rasional; 

g) PAI berusaha menggali, mengembangkan dan mengambil ibrah dari sejarah dan kebudayaan (peradaban) Islam, dan 

h) dalam beberapa hal, PAI mengandung pemahaman dan penafsiran yang beragam, sehingga memerlukan sikap terbuka dan toleran atau semangat ukhuwah Islamiyah.

Usaha peningkatan kualitas profesionalisme guru didasari satu kebenaran yang fundamental, memiliki komitmen dan tanggung jawab yang tidak lain adalah bersumber dari diri guru itu sendiri. Untuk itu diperlukan adanya kesadaran diri untuk terus menerus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan agar menjadi pendidik yang professional.

Untuk menyiapkan tenaga pendidik yang professional, Abuddin Nata memberikan pernyataan, bahwa;

a) Seorang tenaga professional itu adalah seseorang yang terpecaya, dapat menjaga amanah dan mampu merawat sesuatu dengan baik dan kesungguhan.

b) Seorang tenaga pendidik professional adalah orang yang memiliki keahlian di bidang pendidikan dan pengajaran.

c) Seorang pendidik professional adalah seorang yang bertindak adil, yaitu memberikan hak kepada yang memilikinya dengan cara paling efektif dan efisien.


2. Pembentukan Pembelajaran yang Inovatif dan Efektif

Tantangan dan problematika dunia pendidikan menjadikan para pakar pendidik berusaha mencari solusi yang tepat sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sehingga setiap individu dituntut untuk bisa berinovasi dalam mengambangkan ide kreatif dan menghasilkan karya baru. Dalam kamus bahasa Indonesia kata “inovasi” adalah pengenalan hal-hal yang baru atau pembaharuan.20 Sedangkan menurut UU No.18 tahun 2002 inovasi adalah kegiatan penelitian, pengembangan, dan/ atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan peraktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi.

Pembelajaran yang efektif adalah proses pembelajaran yang mampu memberikan nilai tambah atau informasi baru kepada pelajar dengan melakukan proses pembelajaran yang sesuai dengan tatanan sistem pembelajaran yang ada secara menyenangkan dan bisa dengan mudah pesan tersampaikan kepada para pelajar.

Menurut S. Nasution, pembelajaran yang efektif tidak cukup hanya ditentukan oleh materi pembelajaran dan kemampuan guru dalam menguasai materi. Namun juga ditentukan oleh berbagai elemen atau faktor secara simultan.21 Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kemampuan dalam melakukan proses pembelajaran yang didasarkan atas potensi dan kondisi pelajar, mulai dari persiapan pembelajaran, proses saat pembelajaran berlangsung hingga evaluasi pembelajaran. Lebih lanjut efektivitas dan efisiensi mengajar ditentukan oleh kemampuan guru dalam melakukan inovasi atau improvisasi dalam proses pembelajaran, dalam hal ini inovasi yang diperlukan baik dalam strategi pembelajaran, model dan pendekatan yang dilakukan, metode pembelajaran, serta media yang digunakan. Artinya seorang guru harus memiliki keterampilan dan kemampuan membantu para pelajar agar bisa belajar dengan baik serta dapat menghadirkan suasana belajar yang menyenangkang.

Inovasi dapat dilakukan pada pemilihan metode dan teknik mengajar. Di tengah keragaman metode dan teknik itu, maka beberapa hal yang mendasar adalah sedapat mungkin materi pokok bahasan dapat dijelaskan dengan tuntas dan lengkap. Berbagai pertanyaan mendasar sedapat mungkin dapat dijawab. Penjelasan itu diharapkan tertanam di dalam diri siswa. Di dalam dirinya tumbuh penghayatan tentang nilai dan norma agama yang harus diikuti. Kisah dalam kitab suci, sebagai misal, itu mengandung pesan moral yang kuat.

Metode dan teknik mengajar diarahkan pada pemahaman yang dapat ditunjukkan oleh murid secara lisan atau tertulis. Metode tanya jawab bisa sangat efektif untuk menyampaikan dan mengevaluasi pemahaman itu. Metode dan teknik diarahkan agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan yang diperolehnya. Pengembangan itu, sebagai misal, dapat dilakukan siswa dengan memperbanyak contoh yang sudah diberikan. Intinya adalah agar siswa mengembangkan kreativitas. Metode dan teknik diarahkan agar siswa mampu mendemonstrasikan skill yang dimiliki. 

Dalam konteks pendidikan agama, maka kemampuan membaca Al-Qur’an dengan benar itu sangat penting. Memeragakan tata cara salat lengkap dengan doanya itu penting. Praktik memberi tausiyah itu penting. Berlatih mengemas pesan moral dan spiritual dalam sebuah tulisan pendek itu sangat penting. Penggunaan lagu-lagu, role play, game, short story, dan sebagainya membuahkan hasil yang cukup efektif.

Perkembangan teknologi juga sangat memudahkan bagi guru dan siswa dalam proses belajar dan mengajar. Sebagai misal, dewasa ini pelajaran tajwid didukung dengan ketersediaan mushaf Al-Qur’an yang sudah diberi warna sesuai dengan hukum tajwid. Pengajian Al-Qur’an dapat dengan mudah diperdengarkan melalui rekaman yang tersimpan di CD. Terjemah dan tafsir Al-Qur’an dengan mudah dapat dibuka dengan menggunakan komputer. Kamus bahasa asing (misalnya Arab) bisa dibuka di hand phone dan cara mengucapkan kata asing yang benar dapat diperdengarkan.



BAB III 
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Adapun tantangan dunia pendidikan diantaranya;

Tantangan untuk meningkatkan nilai tambah, produktifitas kerja nasional serta pertumbuhan dan pemerataan ekonomi. Tantangan untuk melakukan riset secara komprehensif terhadap terjadinya era reformasi dan transformasi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern

Setiap individu harus memenuhi kemampuan literasi digital dasar dan kompetensi untuk memecahkan masalah komplek dengan kemampuan berfikir kritis, kreatifitas, komunikatif dan kolaboratif.

Di era digital, seseorang dengan mudah mengakses dan memperoleh informasi, sehingga hal tersebut juga dapat mempengaruhi moral dan etika peserta didik

Penyebaran virus Covid-19 yang menyebabkan tidak diperkenankannya masyarakat untuk tatap muka secara langsung sehinggga hal tersebut juga berimbas pada proses belajar mengajar di sekolah.

Tidak semua orang bisa menggunakan teknologi yang digunakan dalam pembelajaran, masih terdapat guru atau orang tua yang gagap teknologi, kesulitan akses internet dan terbatasnya media belajar. Dengan pembelajaran menggunakan media teknologi, maka guru kurang mampu menginternalisasikan nilai-nilai pendidikan kepada peserta didik untuk menciptakan karakter yang diharapkan

2. Pendidikan agama Islam juga berusaha membentuk dan mengembangkan sikap keagamaan individu maupun social yang akan menjadi landasan etikda dan moral dalam mengembangkan IPTEK dan budaya serta berbagai aspek kehidupan lainnya. Secara subtansi, Pendidikan agama Islam mengandung entitas0entitas yang bersifat rasional dan supra rasional yang berusaha menggali, mengambangkan sejarah dan kebudayaan Islam dan pada akhirnya Pendidikan Agama Islam akan mengandung


pemahaman dan penafsiran yang beragam, sehingga memerlukan sikap terbuka dan toleran atau semangat ukhuwa Islamiyah.

3. Inovasi pendidikan saat masyarakat tidak bisa secara langsung tatap muka adalah melaksanakan proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau remote learning, seperti pembelajaran daring yang merupakan pembelajaran yang dilakukan tatap muka dengan melalui platform yang tersedia, sehingga orang tua juga turut dalam memonitoring pembelajaran anak; dan memberikan kebijakan penggunaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), penggunaan program belajar di rumah seperti yang disampaikan di TVRI bagi guru-murid



DAFTAR PUSTAKA


Alma, Buchari. 2009. Guru Profesional Menguasai Metode dan Terampil Mengajar. Bandung: Alfabeta.

Djohar. “Tantangan Kontemporer Bangsa Indonesia: Respon Dunia Pendidikan” dalam Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik. Vol. 5, Nomor 1, Mei 2001 tentang Pemerintahan Daerah dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. Jurnal Ekonomi dan Pendidikan.Volume 4 Nomor 2, November 2007.

Muchith, Saekhan. 2008. Pembelajaran Kontekstual. Semarang: Rasail Media Group.

Muhaimin. 2006, Nuansa Baru Pendidikan Islam; Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

2009. Rekonstruksi pendidikan Islam; Dari Paradigma Pengembangan Manajemen Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Mulyasa, Edy. 2013. Menjadi Guru Profesional; Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nata, Abuddin. 2012. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Nurdin, Syarifuddin. 2002. Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum,

Jakarta: Ciputat Press.

Nurdyansyah. N. dan Andiek Widodo. 2015. Inovasi Teknologi Pembelajaran.

Sidoarjo: Nizamia Learning Center.


Label: , , , , , ,

Rabu, 23 Februari 2022

Prof. Dr. H. M. Zainuddin, MA. Rektor UIN Maliki Malang

Prof. Dr. H.M. Zainuddin, MA.
Hari kamis bakda duhur, kali ini adalah perkuliahan dengan Rektor UIN Maliki Malang, Yakni Prof. Dr. H.M. Zainuddin, MA. adalah dosen Filsafat dan  Sosiologi Agama pada Jurusan Pengetahuan Ilmu Sosial (IPS) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maliki Malang. 

Pada perkuliahan kali ini, Prof. Dr. H.M. Zainuddin, MA. menjadi dosen pengampu mata kuliah Kajian Pemikiran Islam dan Inovasi Kurikulum di kelas A pada Program Doktor PAI-BSI.

Prof. Zainuddin lahir di Bojonegoro pada tanggal 7 Mei 1962. Beliau memperoleh gelar Doktorandusnya (Drs.) dari Fakultas Adab pada jurusan Sejarah Kebudayaan Islam di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta pada tahun 1986. Kemudian Prof. Zainuddin meraih masternya, yakni Master of Art (M.A) dari perguruan tinggi yang sama pada bisang Ilmu Pendidikan Islam di tahun 1992.

Prof Zainuddin meraih gelar guru besarnya pada 8 Januari 2020. Seorang sarjana yang pernah nyantri di Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas jombang. Prof Zainuddin memulai kariernya dengan menjadi dosen pada Fakultas Syari’ah di Universitas Islam Malang pada tahun 1988.

Kemudian pada tahun 1996-1997 Prof Zainuddin menjadi dosen di IAIN Raden Fatah Palembang. Di samping mengajar beliau juga aktif dalam berbagai kegiatan, baik diskusi, seminar dan juga penelitian.

Prof. Dr. H.M. Zainuddin, MA. resmi terpilih menjadi Rektor di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang baru untuk periode 2021 – 2025, pada  hari Rabu 28 Juli 2021. Prof. Zainuddin yang sebelumnya jadi Wakil Rektor I UIN Malang itu menggantikan rektor UIN Malang sebelumnya, yakni Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag.

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki Malang) berdiri pada  tanggal 21 Juni 2004. Berdirinya UIN Maliki malang bermula dari gagasan para tokoh Jawa Timur untuk mendirikan lembaga pendidikan tinggi Islam di bawah Departemen Agama yang kemudian dibentuklah Panitia Pendirian IAIN Cabang Surabaya melalui Surat Keputusan Menag No. 17 Tahun 1961 yang di dalamnya berisi tugas untuk mendirikan Fakultas Syari’ah yang berkedudukan di Surabaya dan Fakultas Tarbiyah yang berkedudukan di Malang.

Kemudian pada pertengahan 1997, melalui Keputusan Presiden No. 11 Tahun 1997, Fakultas Tarbiyah Malang IAIN Sunan Ampel beralih status menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malang bersamaan dengan perubahan status kelembagaan semua fakultas cabang di lingkungan IAIN se-Indonesia yang berjumlah 33 buah. Dengan demikian, sejak saat itu pula STAIN Malang merupakan lembaga pendidikan tinggi Islam otonom yang lepas dari IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Dengan melalui upaya yang sungguh-sungguh, akhirnya UIN Maliki Malang pada 8 Oktober 2004 Menko Kesra Prof. H. A. Malik Fadjar, M.Sc atas nama Presiden disetujui pengalihan namanya menjadi Univesitas dengan nama Universitas Islam Negeri (UIN) Malang dengan tugas utamanya adalah menyelenggarakan program pendidikan tinggi bidang ilmu agama Islam dan bidang ilmu umum.

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim malang juga sempat bernama Universitas Islam Indonesia-Sudan (UIIS) sebagai implementasi kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Sudan dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI, Dr. (Hc) H. Hamzah Haz pada tanggal 21 Juli 2002 yang juga dihadiri oleh para pejabat tinggi pemerintah dari Sudan. Secara spesifik akademik, Universitas ini mengembangkan ilmu pengetahuan tidak saja bersumber dari metode-metode ilmiah melalui penalaran logis seperti observasi dan eksperimentasi, serta survei, wawancara, dan sebagainya. Tetapi, juga dari al-Qur’an dan Hadits yang kemudian disebut dengan paradigma integrasi. Karena itu posisi mata kuliah studi keislaman yaitu: al-Qur’an, Hadits, dan Fiqih menjadi sangat sentral dalam kerangka integrasi keilmuannya.

Pada perkuliahan dengan Prof. Zainuddin cukup banyak ilmu yang di dapat pada hari ini, selain karena beliau sudah berpengalaman dalam banyak hal lintas keilmuan, beliau yang juga sebagai santri yang akhirnya menjalani perkuliahan sampai sekarang menjadi dosen dan bahkan rektor UIN Maliki Malang.

Seperti perkuliahan dengan dosen yang lain, pada awal pertemuan selain membicarakan kontrak kuliah, baik tugas dan lainnya. Prof Zainuddin juga meminta teman-teman mahasiswa untuk memperkenalkan diri, di akhir perkenalan mahasiwa yang jumlahnya delapan orang beliau kemudian mendoakan teman-teman mahasiswa semoga nanti setelah lulus S3 PAI-BSI dari UIN Maliki Malang yang belum menjadi dosen bisa segera menjadi dosen, atau bahkan sebelum lulus juga sudah menjadi dosen. kenapa demikian, karena dengan menjadi dosen kita sudah ikut andil dalam memperjuangkan, memajukan pendidikan di Indonesia, dan memberikan sumbangsih untuk Indonesia. tentu menjadi guru di tingkat sekolah atau madrasah juga bagian dari hal tersebut,, namun masa iya sudah S3 tapi tidak berminat menjadi dosen yang lingkupnya lebih besar dan luas.

Menurutnya, mahasiswa itu khususnya yang sudah S3 harus siap lahir batin. siap dengan tugas-tugas untuk peningkatan kompetensi, mahasiswa itu seperti manusia yang berjalan sendiri setelah dosen memberikan alamat-alamatnya. materi yang diberikan dosen harus dikerjakan dengan baik, sebisa mungkin harus banyak membaca buku-buku dan jurnal. Makalah yang ditulis harus lebih bagus dari Makalah tingkat S1 dan S3, karena nantinya diharuskan menulis tugas akhir berupa disertasi. 

Makalah mahasiswa, nanti harus berupa atau menjadi jurnal sebagai tugas akhir, hal ini sudah menjadi kewajiban bagi mahasiswa, apalagi tingkat program doktoral. khususnya di UIN Maliki mahasiswa diharuskan membuat jurnal sebagai bentuk karya mahasiswa program Doktor, jurnal adalah hasil dari makalah yang dipresentasikan. Penulisan jurnal ini selain menuntungkan dan membiasakan mahasiswa untuk menulis dan berkarya, di antaranya adalah untuk proses memberikan sumbangsih untuk UIN Maliki yang menuju World Class University. Dengan demikian setiap mata kuliah mahasiswa bisa membuat dua karya ilmiah berupa jurnal, mengingat satu mata kuliah diampu oleh dua dosen yang rata-rata sudah bergelar Profesor atau Guru besar pada bidang tertentu. 

Bagi Muhammad Zaironi, merupakan kebanggaan bisa kuliah di UIN Maliki Malang. Zaironi sebelumnya sudah menjalani perkuliahan di UIN Malang untuk jenjang Magisternya, yakni pada jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Sedikit banyak zaironi sudah mengetahui kondisi UIN Maliki Malang karena sebelumnya ketika S2 pernah menjalani perkuliahan offline sebelum adanya pandemi. 

Setelah perkuliahan berjalan sekita 70 an menit, akhirnya beliau mengakhiri perkuliahan hari ini dikarenakan beliau setelah itu akan langsung menuju ke jombang untuk takziyah ke ke Pondok Pesantren bumi damai al-muhibbin tambak beras Jombang. hari ini KH. Moch. Djamaluddin Ahmad Meninggal dunia. Semoga kiyai dimaafkan segala salahnya dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah. Akhirnya Prof Zainuddin menutup pertemuan perkuliahn siang hari ini dengan salam..

Semoga Ilmu yang didapatkan hari ini bisa menjadi Ilmu yang barikah dan bermanfaat untuk banyak orang, dan juga memberikan efek bentuk perubahan bagi pribadi menuju pribadi yang lebih baik. karena diantara tujuan belajar setinggi mungkin ialah untuk menghilangkan kebodohan, meningkatkan Iman, yang akhirnya diaksikan dalam bentu luhurnya akhlak. baik akhlak syariah, alkhlak lokal dan akhlak universal.  

Sekian catatan hari ini,, penulis ucapkan terimakasih tiada hingga dan batas. akhirnya penulis ucapkan wassala.. sampai jumpa di catatan verikutnya, baik terkait perkuliahan, seputar agama, cerita, dll.


By: Muhammad Zaironi, Santri Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang, Mahasiswa S3 UIN Maliki Malang

FB: Muhammad Zaironi. https://www.facebook.com/profile.php?id=100008292301957

Fanspage FB: Muhammad Zaironi

IG: Muhammad Zaironi. www.instagram.com/muhammadzaironi

Blogger: santrimenulis.com

Label: , , , ,