Jumat, 23 September 2022

Relasi Cinta dan Rindu Perspektif Positivisme, Interpretivisme dan Agama Islam

 


Cinta merupakan susunan dari lima huruf yang disitu menghadirkan dua huruf vokal (hidup) dan tiga huruf konsonan (mati). Pengertian cinta terlampau banyak dan bervariasi, tentunya tergantung siapa yang berkata dan merasakan hadirnya cinta itu sendiri. Cinta sendiri melampaui ruang dan waktu, artinya kalaupun yang mencintai itu sudah tiada, benih-benih cinta itu tetap akan eksis dan bahkan menjadi pedoman bagi kalangan setelahnya untuk mengikuti cara dan ekspresi dalam memandu jalannya cinta.

Sejalan dengan uraian di atas, cinta itu tidak bisa kita cari, dan tidak bisa kita tolak. Karena memang cinta tidak pernah bisa disensor secara spesifik sejak kapan cinta itu bermuara dan kemudian mengalir dalam eksistensi kehidupan masing-masing individu yang terdiagnosa. Cinta merupakan anugerah dari Tuhan semesta alam, sehingga tatkala cinta itu hadir, maka yang perlu diperhatikan adalah kepada siapa cinta itu terpaut dan apa saja kemungkinan-kemungkinan yang terjadi setelah cinta itu hadir dan terus bermuara. 

المحبة هي العطاء، لا نستطيع أن نطلب وندفع

Cinta adalah pemberian (anugerah), kita tidak bisa mencarinya dan juga menolaknya.

Banyak macam ciri-ciri orang yang terdiagnosa gejala cinta, tergantung masing-masing individunya. Dari cinta inilah kemudian rasa rindu itu menggejolak, rasa ingin temu terus memuncak, dan keinginan untuk selalu bersama dalam bingkai bahasa yang indah ingin selalu terjadwalkan.

Memahami definisi cinta yang bervarian, tentu tidak mudah. Dikatakan bahwa tatkala orang yang jatuh cinta itu bisa dilihat ketika Sayyidina Abu bakar terkena gigitan ular, sedikitpun ia tidak bergerak karena dalam pangkuannya ada Rasulullah yang sedang tidur pulas. Dikatakan pula cinta ketika sudah mendarah daging akan mampu menghilangkan rasa sakit yang sangat amat sebagaimana rasa sakitnya anak panah ketika dicabut dari badan kita. Hal ini terjadi pada salah satu sahabat Rasulullah SAW.

Cinta menjadi variabel utama yang mempengaruhi dalam hadirnya rasa rindu, orang yang jatuh cinta atau sedang mencintai kepada siapapun itu sudah tentu akan merasakan rindu, rindu dan rindu. Bahkan ia akan berusaha dengan sebisanya atau semaksimal mungkin untuk bisa bertemu dengan yang dirindukan. Entah rindu pada sesama manusia ataupun rindu kepada yang maha segalanya. Hal ini menjadi perhatian ulamak terkemuka, yakni Syaikh Dr, Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi. Beliau berkata dalam kitabnya, fiqhus shiroh sebagai berikut:

قال الدكتور محمد سعيد رمضان البوطي: المحب يعمل ببذل المجهود شوقا إلى المحبوب

Orang yang mencintai, tatkala ia rindu maka akan berusaha keras (melakukan yang terbaik) untuk orang yang dicintai. 

Dikatakan juga bahwa cinta adalah ikatan yang sempurna, karena itulah kemudian akdun nikah menjadi awal mula untuk mengikat cinta menuju kesempurnaan cinta itu sendiri, Tidak ada masalah kalaupun sebelumnya belum pernah kenal kemudian menikah karena sama-sama tau kepribadiannya, meskipun sebelumnya belum kenal jauh dan menjadalam, hal ini menjadi pembantah bagi orang yang mengharuskan pacaran dulu untuk menikah dst. Pacaran diluar pernikahan tidak menentukan lama dan harmonisnya suatu hubungan pernikahan, karena itulah perlu dihindari hubungan ini diluar nikah.

المحبة هي رباط الكمال

Cinta itu ikatan yang sempurna

Dalam redaksi lainnya disebutkan bahwa cinta itu kumpulan yang bermacam-macam dari perasaan yang diterimanya. Artinya cinta itu tidak lapuk hanya karena kondisi-kondisi yang varian yang merongrong kekuatan cinta, semakin banyak problematika yang diterima dalam perjalanan hidup seharusnya semakin kuat rasa cintanya. Bukan justru menyerah dan minta usai, hehehe. Ada yang mengatakan bahwa pertengkaran menjadi bumbu penikmat dan penguat cinta dari dua orang yang berpasangan. Tentunya tergantung siapa yang terlibat langsung dan seperti apa kepribadiannya dalam menghadapi problematika yang ada.

الحب هو مجموعة متنوعة من المشاعر الإيجابيَّة

Cinta itu kumpulan yang bermacam-macam dari perasaan yang diterimanya.

Uniknya lagi menurut teman penulis, cinta itu sebagaimana orang yang dilarikan ke RSUD, kondisi yang mencintai sedang sakit. Ada kemungkinan cepat sembuh atau justru lama sembuhnya, ada juga kemungkinan ia tetap bertahan hidup atau justru menjadi akhir dari kehidupannya. Yang jelas ujian dalam membangun cinta yang baik itu selalu ada, peran kita bukan menyelesaikan cinta itu sendiri, tapi menyelesaikan problem yang ada untuk tetap mempertahankan eksistensi cinta yang tumbuh dan menjadi anugerah baginya. Ingat cinta itu anugerah, tidak bisa dicari dan ditolak. Tatkala kita menerimanya, jagalah dan rawatlah hingga ia benar-benar nyaman dan merasa aman dalam tatakelola dalam hidup kita dalam memperlakukannya.

Dalam lanjutan dawuhnya Syaikh Dr, Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, selain disebutkan bahwa dengan kehadiran cinta tersebut orang yang mencintai akan berusaha semaksimal mungkin untuk orang yang dicintai, dengan kehadiran rindu tersebut dapat membuat mudah perkara yang sulit dan membuat dekat orang-orang yang jauh. Sepenggal kata tersebut benar-benar mewakili ekspresi eksistensi orang yang merasakan kehadiran cinta yang kemudian menerbitkan rindu-rindu yang indah. Berikut narasi lanjutan redaksi dari dawuhnya Syaikh Dr, Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi

فيسهل عليه الصعب ويقرب عليه الأبعد

Perkara yang sulit menjadi mudah dan yang jauh menjadi dekat, ta’lilnya (alasannya) karena kehadiran rindu yang bermuara dari kehadiran cinta yang mulia tanpa unsur-unsur lain dan sikap yang nista.

Jadi usaha secara maksimal disini bukan dengan cara-cara yang keji dan hanya berporos pada hawa nafsu belaka, namun tetap dirawat dan dijaga serta diekspresikan dengan sikap dan akhlak yang santun dan mulia, bukan dengan cara yang nista. Hadirnya cinta tidak pernah meminta orang terlibat untuk bermaksiat dengan varina sikap nista dan keji ataupun tidak santun, itu justru nafsu yang berkedok cinta. Justru hadirnya cinta itu akan menghaluskan cinta, membaguskan bahasa, memperindah sikap dan tingkah dalam berinteraksi pada sesama.

Dikatakan bahwa “Rindu tidak bisa diciptakan oleh jarak, melainkan oleh perasaan, sebab orang yang rindu itu bukan karena yang dirindukan orangnya dalam posisi jauh, tetap karena dia selalu hadir dalam harimu”. Dalam hal ini penulis ingin menggaris bawahi bahwa merindukan memang tidak ada relasinya dengan jarak jika memang yang dirindukan selalu hadir dalam hatinya. Namun demikian jarak menjadi variabel pengaruh terhadap rasa rindu itu, terlebih ketika senggang waktu lama tidak ada temu dari keduanya. Jarak disini tidak diharuskan jauh, selagi ada sekat disitulah posisi jarak dan celah rindu untuk menyelinap dan tumbuh.

Jadi, yang benar itu cinta melahirkan rindu atau rindu melahirkan cinta? atau rindu muaranya dari cinta, atau bahkan cintabermuara dari adanya rasa rindu? Yang jelas cinta dan rindu selalu menjadi warna-warni indah dalam kehidupan yang singkat ini. Ini bukan pertanyaan yang sulit, masing-masing dari kita punya versi jawaban yang berbeda.

Dalam narasi lainnya disebutkan bahwa cinta itu merupakan keutamaan yang membuat hidup tenang, tentram dan rukun. Artinya kehadiran cinta benar-benar dapat melunakkan hati manusia dan membuat prilaku manusia itu lebih mudah untuk diarahkan. Sebagaimana ulamak-umalak tatkala berdakwah lebih mendahulukan sentuhan hati dari pada dengan cara yang membuat hati enggan menerima ajakannya. Karena itulah kemudian cara dakwah yang baik ialah dengan menggunakan sentuhan hati, tentu disertai dengan sikap yang santun dan mulia. Berdakwah yang baik ialah ketika pendak-i nya mempunyai kecerdasan sosial. Karena kecerdasan spiritual saja tidak cukup.

Masih dalam pembahasan sentuhan hati, penulis mau menawarkan satu pertanyaan, adakah ta’arruf ataupun apapun itu yang melibatkan orang ke dua atau orang lain dalam ranah kebaikan akan berhasil dan dengan mudah diterima jika disitu tidak dihadirkan unsur-unsur sentuhan hati.?

Mencintai tanpa hadirnya hati, tentu itu tidak mungkin. Karena ego menjadi salah satu faktor utama untuk melantakkan kehalusan hati. Berdiskusipun jika tidak disertai dengan nilai-nilai sikap hati, tentu yang bisa kita lihat hanya argumentasinya saja tanpa ada nilai yang hidden (tersembunyi). Terlebih jika dalam menyampaikan pendapatnya dengan sikap dan bahasa yang kurang baik. tentu yang diingat hanyalah sikapnya, bukan esensi dari argumentasinya. Kehalusan bahasa selain dengan intonasi yang baik juga dengan hati yang baik.  Karena bahasa itu merupakan representasi dari nilai, entah itu nilai dari cara dia berbicara ataupun pemberian nilai dari yang mendengarkan kritik dan argumentasinya. Karena itulah kemudian argumentasi atau kritikan yang tidak dengan tatakrama yang baik, maka yang diingat hanyalah sikapnya, bukan esensi argumentasinya dan subtansi kritikannya.

Dalam Ilmu psikologi disebutkan bahwa cara mendekati manusia itu diantaraya berdasarkan kecenderungan-kecenderungan, Dalam ilmu tasawuf pendekatan itu lebih mengena jika menggunakan pendekatan dengan hati, yakni dengan melihat pekerjaan hati yang sifatnya batiniyah, bagaimana cara mentarbiyah hati agar menjadi kolbun salim.

Orang yang mencintai tidak lepas dari dua sikap manusia dalam menafsiri, memaknai, dan menilai sekian hal dan perkara yang ada pada pribadi orang yang dicintai, entah itu berupa sikap, sifat dan kebiasaan serta lainnya yang sifatnya manusiawi. Dalam hal ini dalam ilmu filsafat disebut dengan positivisme dan interpretivisme. Dua aliran filsafat ini mempunyai pandangan yang bersinggungan meski keduanya berasal dari dua aliran filsafat juga, yakni filsafat aliran rasionalisme dan empirisme. Aliran rasionalisme dikembangkan oleh Socrates, plato dan descrates yang mana untuk menilai kebenaran menggunakan akal dan membutkikannnya dengan a-priori dengan standart kaidah koherensi, berbeda dengan aliran empirisme yang dikembangkan oleh Aristoteles yang menggunakan indera untuk menilai, a-posteriori untuk membuktikan kebenaran itu serta standart kaidah korespondensi.

Apriori ialah pengetahuan dianggap benar meskipun belum dibuktikan, aposteriori ialah pengetahuan dianggap benar ketika sudah dibuktikan. Sedangkan koherensi adalah pernyataan harus sesuai dengan fakta atau kenyataan, artinya bisa dianggap benar setelah dibuktikan.

Kedua aliran di atas kemudian oleh Immanuel khan digabungkan dengan sebutan aliran positivisme dan interpretivisme. Aliran positivisme berpendapat bahwa makna dan keindahan hanya ada pada yang tampak saja, beda halnya dengan pandangan aliran Interpretivisme yang berpendapat bahwa selalu ada makna dan keindahan dibalik yang tak tampak.

Menurut positivisme, tawa itu sudah tentu menunjukkan orangnya bahagia, setiap tangis menunjukkan orang itu sedih, setiap luka itu sudah tentu sakit. Positivisme tidak membuka kemungkinan lainnya dan sarat makna dibaliknya. Bedahalnya dengan pandangan Interpretivisme atau fenomenologi.

Interpretivisme atau fenomenologi justru tidak sebagaimana pandangan positivisme, menurut interpretivisme setiap tawa belum tentu menunjukkan orang itu bahagia, bisa jadi haru dan lainnya, pun juga setiap tangis tidak selalu menunjukkan orang itu sedih, bisa jadi karena bahagia, tidak lain dengan luka, bahwa tidak semua luka itu menunjukkan rasa sakit, bisa jadi justru sebaliknya serta tidak semua rindu itu memang benar karena adanya rasa rindu pada orangnya, bisa jadi rindu pada uangnya dst.

Yang jelas menurut fenomenologi, setiap tetesan air mata itu sangat berharga, tidak dengan pandangan positivisme, bahwa menangis ya hanya menangis. Entah hanya sebatas menangis atau lebih menangis lagi. Karena itulah kemudian bagaimanapun tangusannya menurut positivisme hanya menunjukkan satu nilai, yakni sedih.

Dalam hubungan simbiosis mutualisme atau relationship tidak lepas dari dua hal di atas. masing-masing individu bisa saja cara menilai pasangannya sebagaimana pandangan positivism, atau sebaliknya, yakni menganut cara pandang interpretivisme (fenomenologi). Bagi yang mengikuti cara pandang positivisme ia lebih pada yang tertangkap oleh mata dan akal, ia tidak berkenan dengan kemungkinan-kemungkinan lainnya yang ada dibalik apa yang ditangkap oleh akal dan mata. Padahal kebenaran tidak selalu yang tampak, bisa saja ada kebenaran dibalik yang tidak tampak. Misalnya jika ada dua orang bertengkar, anggap saya si cewek melakkan kesalahan tanpa disengaja, laki-laki yang tidak menggunakan interaksi dengan hati, maka ia hanya akan menilai apa yang dilihat saja tanpa melakukan pendekatan yang lebih dalam dengan menanyakan apa sebabnya kenapa bisa begini dan begitu, sehingga dengan pendekatan ini bisa muncul kebenaran yang lainnya yang bahkan bisa jadi lebih benar dari yang sebenarnya (interpretivisme).

Interpretivisme selalu menghundari justifikasi atau pemberian label hanya dengan menilai apa yang dilihat oleh mata saja, ia berupaya melampaui apa yang dilihat sehingga mencari kemungkinan kebenaran lainnya, makna lain dibalik yang tampak, keindahn lain yang dilihat oleh mata. Karena dibalik yang tampak, dibalik yang kasat mata itu ada nilai-nilai dan kebenaran lainnya, kemungkinan kemungkinan lainnya. Disinilah dibutuhkan diskusi mendalam, sapa timbal balik dan pendekatan yang baik lagi, artinya tidak mudah menyalahkan dan menilai hanya dengan sekilas pandang dan penglihatan kita.

Jika cewek-cewek menginginkan calon pasangannya yang penyabar, tidak mudah marah dan selalu membuka lebar diskusi dan masukan dari istrinya, selalu melihat kemungkinan-kemungkinan kebaikan lain selain yang dilihatnya, tentu laki-laki itu ada pada ranah interpretivisme. Kendatipun demikian bukan berarti laki-laki yang positivisme itu pemarah, tidak penyabar, selalu menilai dari apa yang dilihat begitu saja. Intinya untuk mencari dan menentukan kriteria pasangan, lebih aman jika menggunakan indikator-indikator yang sudah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, yakni wanita dinikahi dikarenakan 4 perkara, karena hartanya, nasabnya, kecantikan dan agamanya. Dalam hal ini justru Rasulullah merekomendasikan indicator yang utama dan pertama dalam mencari padangannya hendaknya karena baik agamanya. Ini berlaku untuk kaum wanita tatkala mencari calon pasangan halal. Meskipun pada akhirnya nanti ada indicator lainnya yang diinginkan, misal akhlaknya baik, tanggung jawab, tampan dll. Sebenarnya baik, sabar, tanggung jawab dan seterusnya itu menjadi sub indikator dari baiknya agama seseorang.

Pada dasarnya dikatakan baik agamanya jika orangnya menar-benar merepresentasikan ajaran dalam agama Islam, meskipun tidak secara komprehensif. Karena memang untuk menjadi manusia yang sempurna itu rasanya amat sulit. Namun demikian setidaknya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dalam membangun mahligai rumah tangga yang harmonis sudah mencukupi. Tentunya para pembaca lebih tau apa yang diinginkan dari pasangannya sehinggi setiap individu punya indikator masing-masing.

Dari premis-premis di atas, penulis mempunyai tesis dan argumentasi sebagai kesimpulan bahwa antara cinta dan rindu relasinya (kaitannya) amat sangat erat dan saling terikat. Tanpa cinta sangat sulit melahirkan rasa rindu, tanpa rindu juga terasa hambar cinta yang kita Kelola an kita rasa. Perlu diketahui bahwa cinta tidak selalu tentang kaitannya antara dua orang (suami istri), tapi bisa jadi cinta kepada keluarga, saudara, sesama manusia, dan tentu yang amat sangat penting ialah cinta kepada Allah SWT.

Hidup akan lebih terarah ketika masing-masing dari kita punya kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual dan kecerdalam dalam membina hubungan. Karena uang bukan indikator utama untuk kehidupan yang bahagia, meskipun untuk mendapatkan segalanya yang ada di dunia ini bisa dilakukan dengan uang.

Sekian tulisan ini penulis susun, jangan lupa menjaga cinta dan rindu kita dari orang-orang yang tidak layak kita cinta dan kita rindu. Tidak ada dikotomi (pemisah) antara cinta dan rindu, keduanya adalah satu kesatuan dan tidak ada sekat untuk menghalangi keduanya, sebagaiman eksistensi cinta yang tidak kenal ruang dan waktu. 

Sekian, Terimakasih...


Label: , , , ,

Rabu, 21 September 2022

Cinta Itu Anugerah

Tunangan


Senin, 19 September 2022 usai melaksanakan sholat magrib, aku hanya duduk santai di depan laptop. Enggan membuka catatan tugas juga malas mengerjakannnya. Sekilas memua buku catatan mata kuliah selama perkuliahan dua pekan, membaca dan mengingat penjelasan dosen-dosen pengampu. Mereka semuanya sangat luas pengetahuannya dan telaten dalam menjelaskan materi. Menurut Prof Sutiah belajar itu memang harus lelah, Prof Djakfar dawuh tatkala kita niat untuk kuliah maka dihari kuliah yang telah ditentukan jadwalnya jangan menyediakan diri untuk melakukan aktifitas lainnya selain fokus kuliah. Menurut Prof Sani menjadi Profesor itu sangat mudah asalkan kita kompeten dan benar-benar istiqomah dalam belajar. Kendatipun demikian Prof Mujab dawuh bahwa untuk dapat banyak mengungkapkan luasnya pengetahuan tentu kita harus banyak terjun pada lautan pengetahuan itu dengan banyak membaca.

Dawuh para dosen yang mayoritas sudah menjadi guru besar atau profesor menjadi penyemangat bagi mahasiswa yang sedang menempuh perkuliahan, terlebih dosen yang sudah menjadi profesor dan senior. Mereka banyak menghabiskan waktunya untuk mengajar, membaca dan menulis. Tanpa terasa adzan Isyakpun berkumandang, laptop aku matikan dan kembali menaruh buku catatan ke tempatnya semula.

Seusai melaksanaan sholat isyak, aku kembali ke kantor untuk menelfon bapak dan emak (panggilan akrabku pada ibu), sudah dua minggu aku tidak mendengar suaranya, suara mereka menjadi penyemangat bagiku yang lebih mudah malas dan enggan mengerjakan tugas. Seperti biasa bapak yang ada di madura menyapa terlebih dahulu, membangun suasana indah dan penuh tawa, terlebih ketika bapak dan emak menanyakan tunanganku. Cong, gimana kabar tunanganmu, kamu gak whatsApp dia? gak nelfon dia? terus gimana kuliah kalian berdua, katany kuliahnya sama-sama hari kamis di kampus yang sama? Memangnya gak ketemu sama sekali ya? kalau bisa sambungin ke tunangannya cong, emak kangen. pinta emakku.

Mendengar banyak pertanyaan itu membuatku bingung yang mau menjawab, selain memang aku dan dia jarang whatsApp an juga tidak pernah telfonan. kita whatsApp an hanya antara asar dan setelah isyak, itupun kadang bisa dua hari sekali whatsApp annya. Apalagi menelfon, selama tunangan saja kita hanya dua kali telfon, pertama ketika dia di malang, mungkin karena dia lagi kangen ke aku ya, hehe. dia alasannya minta diceritain kisah-kisah nabi gitu, wkwkwk. Tentunya akupun keberatan jika menuliskan sejarah nabi, kemudian dia memilih dengan menelfon, ya meskipun sebentar rasanya cukup menyenangkan. Dalam percakapan itu seperti orang mau interview gitu, semangat tapi takut dan bingung mau ngomong apa. Namanya saja pertama telfonan sama tunangan yang dilatar belakangi tidak kenal lebih jauh, lebih tepatnya hanya tau sekilas, bertamu dan khitbah lalu lamaran. 

Selama proses sebelum lamaran aku memang tidak pernah mendengar suaranya kecuali ketika dia membukakan pintu rumahnya dan mempersilahkan aku, gur abdurrahman dan gus ulul untuk masuk ke ruang tamunya. waktu itu aku sedang dibawa kerumah dia oleh dua kiyai tersebut untuk diperkenalkan ke kedua orang tuanya. kurang-lebih waktu 1,5 jam aku hanya diam saja. tidak lebih dari empat kali bersuara, itupun karena ditanya oleh abahnya dia. hehehe

Sebelum aku menyambungkan VC aku, bapak dan emak. Terlebih dahulu aku menanyakan ke dia melalui pesan whatsApp apakah dibolehkan untuk menyambungkan tenfon ini, dia bertanya apakah video call mas? aku jawab iya, kebetulan aku bapak dan emak video call. Dia meminta waktu satu menit buat pasang kerudung. Tidak butuh waktu lama kemudian aku sambungkan ke nomor dia, dan ternyata dia bareng dengan ibunya. Suasana cakap-cakapan bukannya tambah kaku tapi tambah rame dan penuh canda tawa antara kedua orang tuaku dan ibunya. Apalagi ketika melihat ekspresi emakku yang malu, wkwkwk. Maklum, emak memang gitu orangnya. Padahal yang minta disambungin ke tunanganku ya emak sendiri, entah kenapa ketika sudah ditelfon malah malu yang mau bicara, kataku, ini calon menantunya loh mak. hehehe.

Kali ini aku lebih memilih diam, memperhatikan mereka berbincang-bingcang, sesekali tertawa dan senyum-senyum bersama. Melihat mereka tersenyum dan tertawa rasanya bahagia banget. Apalagi senyumnya dia, huh. khas banget, renyah kayak krupuk wkwkwk. iya, dalam perbincangan itu aku emang lebih banyak diam, yang banyak berbicara justru bapakku dan ibu mertua, saling tanya-tanya, sesekali bapak meledekin emak yang hanya diam dan malu. Tidak lupa ibunya dia mempersilahkan bapak dan emak untuk mampir kerumahnya ketika mengirim atau menjenguk adekku hilmi di pondok. Karena memang rumahnya dia dan tempat aku dan adekku nyantri sangat dekat dan dakalau dari rumah kebetlan satu arah.

Setelah perbincangan kurang lebih berjalan 20 menitan, kemudian abahnya dia tiba dari undangan, dan abahnya dialah yang kemudian berbincang-bincang dengan kami. seperti biasa perbincangan kedua orang tua selalu serius dan penuh jaga sikap. Meskipun tetap saja ada tawa yang pecah ditengah-tengah perbincangan. Aku yang ditanya sedang di mana, tentu bingung cara jawabnya, grogi gitu, ya namanya yang nanya calon mertua, hihihi. Kacong zaironi posisi sedang di mana, di pondoknnya apa di madura juga? Aku menjawab, bedeh e pondok ba (ada di pondok ba) ba di sini panggilan lain dari aba. Jadi ingat waktu mau pulang ketika lamaran, beliau berpesan, yang semangat belajarnya ya nak, hati-hati di jalan kalau berpseda motoran, apalagi kuliahnya kamu ke malang. Beliau berpesan sambil merangkulku, udah kayak ke anaknya sendiri gitu. hehehe.

Aku sebenarnya masih bingung banget, kadang bertanya-tanya. Orang sekelas beliau itu kira-kira indikator pertama dan kedua yang diutamakan dalam mencarikan pasangan buat anaknya satu-satunya itu apa ? karena aku sendiri sadar gitu, bahwa aku ini biasa saja, tidak pintar, akhlakku juga biasa banget, bahkan masih sering kurangajar, sebagai santri aku juga tidak pandai membaca dan memahami kitab, ngaji qur'anku juga biasa saja tidak seperti imam sudais dan muzammil. wajahku juga gini adanya hehe. Intinya aku jauh sekali dari kata istimewa dan menantu idaman. sangat amat jauh sekali. Apapun yang menjadi penilaian beliau kepadaku, yang jelas sebagai orang muslm kita harus terus belajar dan berbenah diri. cerdas dalm berfikir dan cerdas dalam berinteraksi sosial.

Setelah perbincangan lama antara bapakku dan beliau, akhirnya beliau menyampaikan bahwa insyaAllah bulan maulid ini mau bertamu ke rumah bersama umi. Aku yang kurang mengerti maksudnya, tentu ada hal yang mau dibahas bersama secara kekeluargaan. Bisa jadi membahas hari H aqdun nikah aku dan dia. wkwkwk. Setelah beliau menyampaikan keinginannya untuk bertamu itu, kemudian abah memberikan HP nya ke putrinya. 

Perbincangan kali ini antara aku, emak, bapak dan tunanganku. Aku tetap seperti sebelumnya, hanya banyak dia dan mengamati senyumnya tunanganku saja. lebih-lebih melihat orang tuaku yang bercanda dengan calon menantunya. wkwkw. Huh, bahagia banget melihat orang tua akrab sama calon menantunya dan, kayak ke anaknya sendiri gitu. Alhamdulillahnya lagi tunanganku juga gitu, bisa akrab sama bapak emakku. 

Alhamdulillah, malam itu bisa berbincang-bincang bersama dengan kedua keluarga, keluargaku (bapak dan emak) dan keluarganya ade, tunanganku (Abah dan umi). saling bersapa akrab, tertawa lepas dan senyum-senyum tanda suasananya asyik dan menyenangkan. Sebelum perbincangan diakhiri, tunanganku terlebih dahulu pamit undur diri, tidak lupa salamnya ditutup dengan senyum khasnya, renyah. sampai jumpa di kampus ya, mugi-mugi ketemu lagi. wkwkwk

Sampai jumpa ditulisan berikutnya, maaf tulisannya agak berantakan. Karena tiba-tiba dosen datang. hehehe


Label: , , ,

Selasa, 20 September 2022

Tiga Amalan Rebo Wekasan

 


AMALAN REBO WEKASAN

Bulan Shoffar adalah bulan yang mulia, bulan yang sama dengan bulan-bulan yang lainnya. Bukan bulan bala’ ataupun bulan yang penuh dengan musibah dan bencana. 

Namun demikian menurut sebagian ulama ahli ma'rifat dari golongan ahli mukasyafah dalam kitab “ Kanzun Najah Wassurur ”, karya Syaikh Abdul Hamid Al Qudsy, menerangkan bahwa: Setiap tahun Allah Swt menurunkan bala’ ke dunia sebanyak 320.000 macam bala’ (berupa fitnah, musibah dan bencana), dalam satu tahun. Tepatnya bala’ itu turun pada malam Rabu terakhir di bulan Shoffar atau yang terkenal dengan sebutan “ Malam Rebo Wekasan ”, dalam satu tahun ke depan.

Terdapat tiga amalan pada Rabu Terakhir di Bulan Shoffar ini (Rebo Wekasan) sebagaimana keterangan ini: 

1. , Pertama ialah melaksanakan Sholat Sunnah Hajat, harapannya adalah untuk menolak 320.000 macam musibah dan bencana (Sholat Sunnah Hajjat Lidaf’il Bala’).  Sholat sunnah ini dilaksanakan sejumlah empat roka’at, dengan dua kali salam, berikut niatnya: 

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ لِدَفْعِ الْبَلَاءِ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

Kemudian setelah membaca Al-Fatihah, lalu membaca Surat Al-Kautsar sebanyak 17x, Surat Al-Ikhlash 5x, Surat Al-Falaq 1x dan Surat An-Naas 1x. 

Hal ini dilakukan pada tiap roka'at. Artinya tiap rokaat musholli (orang yang sholat) membaca semua surat tersebut.

Setelah selesai sholat empat rokaat dengan dua kali salam, kemudian dilanjutkan membaca Do’a berikut ini : 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اللّٰهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنَا مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللّٰهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ اِكْفِنَا شَرَّ هٰذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيْ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ هٰذَا الزَّمَانِ وَأَهْلِهِ، وَنَعُوْذُ بِجَلَالِكَ وَجَلَالِ وَجْهِكَ وَكَمَالِ جَلَالِ قُدْسِكَ أَنْ تُجِيْرَنَا وَوَالِدِيْنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَهْلَنَا وَأَحْبَابَنَا، وَمَا تُحِيْطُهُ شَفَقَةُ قُلُوْبِنَا مِنْ شَرِّ هٰذِهِ السَّنَةِ، وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ فِيْهَا، وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ شَهْرِ صَفَرَ يَا كَرِيْمَ النَّظَرِ، وَاخْتِمْ لَنَا فِيْ هٰذَا الشَّهْرِ وَالدَّهْرِ بِالسَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ وَالسَّعَادَةِ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَأَوْلَادِنَا وَأَهْلِنَا وَمَا تُحِيْطُهُ شَفَقَةُ قُلُوْبِنَا وَجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ، النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ، اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هٰذَا الشَّهْرِ، وَمِنْ كُلِّ شِدَّةٍ وَبَلَاءٍ وَبَلِيَّةٍ قَدَّرْتَهَا فِيْهِ يَا دَهْرُ، يَا مَالِكَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، يَا عَالِمًا بِمَا كَانَ وَمَا يَكُوْنُ، وَمَنْ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ، يَا أَزَلِيُّ يَا أَبَدِيُّ، يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيْدُ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا ذَا الْعَرْشِ الْمَجِيْدِ، أَنْتَ تَفْعَلُ مَا تُرِيْدُ، اللهم احْرُسْ بِعَيْنِكَ أَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَدِيْنَنَا وَدُنْيَانَا الَّتِيْ ابْتَلَيْتَنَا بِصُحْبَتِهَا بِحُرْمَةِ الْأَبْرَارِ وَالْأَخْيَارِ، بِرَحْمَتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ، يَا كَرِيْمُ يَا سَتَّارُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى، وَبِكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ، وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَحْفَظَنَا وَأَنْ تُعَافِيَنَا مِنْ بَلَائِكَ، يَا دَافِعَ الْبَلَايَا، يَا مُفَرِّجَ الْهَمِّ وَيَا كَاشِفَ الْغَمِّ، اِكْشِفْ عَنَّا مَا كُتِبَ عَلَيْنَا فِيْ هٰذِهِ السَّنَةِ مِنْ هَمٍّ أَوْ غَمٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا.


2. Amala yang kedua adalah membaca Surat Yasin sebanyak 3x, setiap sampai pada ayat “Salamun Qoulan Min Robbil Rohim ”, maka ayat tersebut dibaca sebanyak 313 x, lalu dilanjutkan ayat setelahnya sampai selesai. setelah itu dilanjutkan membaca Do'a berikut:

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَاْلآفَاتِ وَتَقْضِـيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَـى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِيْ الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اللهم اصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الْأَرْضِ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

3. Meminum Air Salamun

Adapun Air Salamun disini adalah air yang dimasuki ayat salamah untuk diminum dengan harapan agar terhindar dari bala’ yang akan turun dalam masa setahun, harapan di sini tetap ditujukan kepada Allah. Ayat-ayat tersebut ditiupkan ke air dalam gelas / botol dan diminum dengan niat TABARRUK (mengharapkan keberkahan) dan hati tetap meminta kepada Allah Swt.

Disebutkan dalam kitab Nihayatuz Zain karya Syaikh Nawawi Al Jawi Al Bantani, pada catatan kaki bab Qunut Nazilah hal 67.  yang kitab ini merupakan syarah atau penjelasan dari kitab matan Fiqih Qurrotul ‘Ain cetakan Alawiyah Semarang, bahwa barang siapa yang menulis ayat salamah tujuh yaitu tujuh ayat Al Qur’an yang diawali dengan lafadz Salaamun :

سَلاَمٌ قَوْلاً مِنْ رَبٍّ رَحِيْمٍ، سَلاَمٌ عَلَى نُوْحٍ فِي الْعَالَمِيْنَ، سَلاَمٌ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، سَلاَمٌ عَلَى مُوْسَى وَهَارُوْنَ، سَلاَمٌ عَلَى إِلْيَاسِيْنَ، سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خَالِدِيْنَ، سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Kemudian tulisan tersebut dilebur atau bisa direndam dengan air, maka barang siapa yang meminum air tersebut Allah Swt akan selamatkan dari bala’ yang akan diturunkan.

Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah dan selalu diselamatkan dari segala mara bahaya, bala', fitnah dan segala keburukan oleh Allah SWT. Aamiin...


Label: , , , , ,

Kamis, 15 September 2022

Pertemuan kita


Kamis 15 September 2022. Adzan subuh berkumandang disana sini, saling bersahut-sahutan dengan nada meleok leok dan menari nari dengan keindahannya sipemilik suara. Seluruh santri seperti kebiasaan dan rutinitas pada umumnya di mana setelah sholat subuh berjamaah kemudian dilanjutkan dengan kajian kitab yang langsung dipimpin oleh Kiyai. Kajian kitab hari kamis pagi ini dikhususkan untuk santri kelas lima diniah sampai kelas ma’had Ali. Sistemnya santri ditunjuk untuk membaca memaknai gundul kemudian diterjemahkan dan akhirnya kiyai memberikan penjelasan terkait dengan luas dan jelas. 

Rutinitasnya pengajian kitab ini maksimal jam 06.15 pengajian sudah selesai, namun demikian aku tidak mengikuti pengajian sampai selesai dikarenakan harus berangkat ke kampus yang jaraknya antara pondok dengan kampus cukup jauh, jika jalanan macet bisa memakan waktu sampai satu setengah jam. Tidak mengikutinya pengajian kitab sampai selesai pada mengajian kitab ini tidak begitu saja dilakukan dan semaunya. Namun sebelumnya sudah matur dan izin kepada kiyai dikarenakan perkuliahan sudah tatap muka termasuk untuk mahasiswa tingkat pascasarjana, khususnya program doktor PAI-BSI UIN Maliki Malang. Terlebih perkuliahan jam pertama dimulai di waktu yang cukup pagi, yakni jam 07.15-09.19. Sehingga agar tidak telat mengikuti perkuliahan diharuskan berangkat lebih awal dan pagi serta harus tahan dengan dinginnya udara di pagi hari.

Setelah sampai di kampus 2 UIN Maliki Malang yang dikhususkan untuk perkuliahan mahasiswa pascasarjana tingkat magister dan doktoral. Aku kemudian menuju ruang lobi, menuju ke lantai tiga dengan menaiki lif. Memasuki lif kemudian menekan angka tiga yang menunjukkan menuju lantai tiga Gedung B, di mana ruangan di lantai tiga rata-rata diperuntukkan untuk mahasiswa magister dan doktor PAI dan MPI. Gedung B tentu berbeda dengan Gedung A yang mana di Gedung A biasanya dikhususkan untuk mahasiswa PBA dan PGMI. Sehingga tidak ada alasan bagiku untuk bertemu dengan si dia. wkwkw..

Perkuliahan berjalan seperti biasanya, di minggu ke dua perkuliahan ini Sebagian dosen baru memulai pertama perkuliahan tatap muka dikarenakan sebelumnya ada beberapa dosen yang belum bisa masuk kelas mengajar, sebab jadwal beliau mengajar ada yang kres atau tabrakan dengan jadwal mengajar di kelas yang lainnya. Terlebih bagi ketua kelas yang menjadi penanggung jawab untuk berkomunikasi dengan dosen harus ekstra dan santun dalam mengubungi dosen untuk memberi tahu jadwal mengajarnya dan menyesuaikan juga dengan jadwal mengajarnya teman-teman kelas di masing-masing kampus tempat mengabdinya. Karena sudah tidak asing lagi bahwa mahasiswa S3 mayoritas sudah banyak yang bekerja baik mengabdikan diriy sebagai dosen ataupun pekerjaan lainnya.

Tepat jam pertama usai, 10 menit kemudian dilanjutkan dengan perkuliahan mata kuliah ke dua yang dibimbing langsung oleh Prof Dr. Hj. Sutiah, M,Pd. Beliau cukup menyenangkan dalam mengajar, penjelasannya bagus dan luas menunjukkan wawasannya sangat luas dan keilmuannya cukup tinggi dan kompeten. dua jam perkuliahan dengan beliau pada mata kuliah Studi Mandiri, kemudian mahasiswa istirahat kurang lebih satu jam yang diperuntukkan sholat dan makan sebelum melanjutkan perkuliahan ke tiga dan seterusnya bagi mahasiswa yang masih ada jadwal kuliah setelah dzuhur.

Namun demikian, teman-teman kelas PAI-BSI semester dua justru memilih makan dulu kemudian sholat, bukan niat menomor duakan sholat dan lain-lain. Namun memang pada dasarnya kita belum makan pagi, terlebih yang belum menikah dan berangkat dari pesantren, siapa yang mau memasak untuk kalangan yang seperti ini? wkwkwk. Istri saja belum punya hehe. Bahkan mereka yang sudah berkeluargapun rata-rata juga belum sarapa dikarenakan memang berangkat kuliah cukup pagi.

Setelah makan selesai, tiba-tiba akupun dikagetkan dengan wajah cewek yang sekilas mirip dengan dia, dia yang istimewa, dia yang selalu ingin dilihat, dia yang selalu disebut dalam doa, dia yang mau menjadi bagian dalam hidup ini nantinya. iya, dia tunanganku, dia mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang prodi PGMI yang masih menjalani perkuliahan semester tiga. Meskipun dia S1 dan S2 nya di UIN Maliki, begitupun denganku S2 nya di UIN Maliki dan kemudian dilanjutkan studi doktor di UIN Maliki juga. Namun kita sebelumnya tidak pernah bertemu dan dipertemukan. Bahkan ketika kita sudah bertunanganpun ketika kuliah juga tidak pernah bertemu, selain karena Gedung perkuliahan kita beda, aku di Gedung B lantai tiga dan dia di Gedung A lantai tiga juga. Meskipun kemungkinan untuk bertemu sangat besar, karena antara lantai tiga Gedung A dan B itu ada jalan penyambung, juga hari perkuliahan kita sama, yakni hari kamis dari pagi sampai sore. Bisa saja kita janjian, Namun kita tidak menghendaki yang demikian.

Ketika perkuliahan terakhir sudah usai, kemudian aku dan teman-teman pulang. Dan tanpa disengaja kitapun bertemu dan ini merupakan pertemuan kali pertama kita, pertemuan ini tanpa kita sengaja, tidak ada janji dan semacamnya. Tepatnya ketika aku mengendarai motor untuk keluar dari kampus bersama teman untuk beli makan, dan dia ternyata baru usai melaksanakan sholat asar bersama dengan teman-teman kelasnya. 

Pada awalnya aku lebih dahulu melihat dia sedang memasang sepatu uniknya, aku lebih memilih pura-pura tidak tau wkwkwk. Meski pada akhirnya dia lebih dahulu menyapa dan memanggilku dengan panggilan yang menurutnya keras tapi sedikitpun aku tidak mendengarnya, yakni dengan panggilan PAK USTAADD..  entah apa yang membuat aku tidak bisa mendengar panggilannya ini, mungkin karena waktu itu aku sedang fokus mendengarkan teman yang bertanya-tanya soal tugas yang kebetulan ikut motorku, dia dosen di UNZAH Genggong. Atau mungkin memang begitulah dahsyatnya pertemuan sehingga telingapun bisa tuli, mata bisa pura-pura tidak mengetahui dan mulut berat untuk angkat suara. wkwkwk.

Iya, memang kita tidak ada panggilan istimewa, mungkin memang begitu. Berbeda dengan orang-orang di luar sana yang masih pacaran saja panggilannya sudah satu digit lebih menggelitik di atas panggilan suami istri yang sah, ada yang memanggil sayang, bebeb, hubbi, papi mami, Abi umi dan seterusnya. Kita lebih menghindari panggilan-panggilan semacam itu atau panggilan yang lainnya. kita lebih berusaha menggunakan aku dan kamu sehingga meminimalisir adanya panggilan yang lainnya. Paling mentok ya panggilan MAS dan ADEK, hehehe.. Itupun sudah membuatku berasa dibacakan syair-syair yang cukup dalam maknanya. Kata ustadzku dulu, panggilan MAS dari pasangan itu membuat telinga gerimingan dan jantung berdebar. wkwkwk

Dalam pertemuan itu kita hanya bertukar sapa dan saling menundukkan kepala tanda sapa telah usai. Namun demikian dia masih memberiku bonus dari pertemuan yang melahirkan sapa, yakni bonus senyumnya yang khas, manis, unik dan indah. hehe.. Senyum yang ingin selalu aku lihat terbitnya, keindahannya dan kerenyahannya. loh kok renyah, memangnya ada senyum yang mlempem? ya ada dong, senyumnya depkolektor wkwkwk.

Meski panggilan dia “PAK USTAADD” tidak aku dengar, namun dia tetap sumringah menyapaku, ya seperti orang yang baru kenal, malu-malu tapi mau disapa. hehehe. tapi kita memang baru kenal loh ya. singkat dan Alhamdulillah mendapatkan jalan yang baik. Doakan kita ya, semoga seterusnya baik dan hidup bersama dalam ikatan halal sampai ke surganya. Intinya yang terbaik.

Huh, jadi semakin mengerti makna dari jawaban Qais ketika ditanya perihal pilihan antara dunia seisinya dan laila. Qais berkata bahwa antara dunia dan seisinya lebih aku cinta sebutir debu yang pernah hinggap pada sandalnya laila. Wkwkwk. 

Begitu dahsyatnya goncangan cinta, bahkan pernah diceritakan tatkala salah satu sahabat terkena panah saat peperangan. Untuk mencabutnya justru ketika ia melaksanakan sholat. Sholatnya kita tentu berbeda dengan kualitas sholatnya para sahabat tersebut. Sahabat nabi sholat sedangkan panah yang menancap dicabut oleh sahabat yang lain, tapi justru tidak ada rasa sakit yang sahabat rasanya. Yang demikian sholat yang benar-benar khudur, khusu' dan ada cinta didalamnya.

Diantara dahsyatnya pengaruh cinta ialah ketika sayyidina abu bakar terkena gigitan ular dan dia sedikitpun tidak menggerakkan kakinya, semua itu ia lakukan karena Baginda Rasulullah sedang tertidur dipangkuannya. Dahsyat bukan pengaruhnya cinta? Cinta akan menjadi baik jika dikendalikan dengan asas-asas yang baik, benar dan mulia. Punjuga sebaliknya, cinta akan membawa pada kemaksiatan dan kemungkaran jika tidak dapat mengendalikan ego dan nafsunya.

Seketika itu, aku yang awalnya sangat lapar, ketika sampai di warung bukannya langsung memesan makanan tapi memastikan senyumnya yang tadi sama persis dengan senyumnya dia ketika foto sama bibik memakai HP ku, wkwkw. Jadi pas dia ke rumah dengan keluarganya, bibik foto sama dia dan menggunakan HP aku, jadi untuk dapat foto dia tidak perlu repot-repot hehehe.

Sejujurnya, aku sendiri takut untuk menyapanya, gugup untuk berucap dan angkat suara. Mungkin karena banyak kata yang pernah menyakiti diriku sendiri, banyak fenomena yang menyakitkan pada perjalanan hidup sebelum kenal dengan dia, sehingga benar-benar bingung mau menyapanya dengan cara bagaimana dan seperti apa, bagiku satu kata yang membuatku takut untuk mengulang merangkai kata itu akan selalu aku ingat, bahkan ketika aku bertemupun akan berfikir lama untuk menyapanya hanya karena bingung untuk memilih kata, kata yang simple dan cukup santun sebagai sapaan. Padahal ini ke tunaganku sendiri, tapi ya begitulah. jenenge ae isin.. Selain karena dia sedang bersama dengan temannya, sekilas pertemuan itu saja sudah membuat Sebagian temannya bertanya-tanya. siapa tadi yang dipanggilnya dengan panggilan PAK USTAADD, kenapa kamu tiba-tiba senyum-senyum juga, hehehe.. Mungkin dia sudah cerita panjang lebar tentang kita, khususnya tentangku wkwkwk.

Kamis, terimakasih untuk hari ini, hari dimana aku mencari dan mempelajari ilmu, hari dimana aku bertemu dengan kekasihku, eh tunanganku maksudnya. Dipojok masjid yang tiba-tiba mempertemukanku dengan dia tiba-tiba tanpa disangka dan tanpa ada janji di antara kita. Kita yang kemudian saling sapa, menundukkan kepala tanpa akhir dari sapa. Disitulah aku melihat senyuman mahasiswi berkarakter Ulul Albab, hihihi. Duh Gustii,, bahagiane aku dino iki, meski tugas kuliah tambah dikerjakne ora tambah mari, tapi tambah dikek i lan diimbui. Maturnuwun Gusti, matur nuwun sanget. Aku memang pernah gagal merawat cinta dan merawat restu orang tua melalui dia yang berlalu. Tapi tolong, untuk aku dengan dia yang sekarang, jadikan kita yang sudah terikat tunangan ini terus menjadi yang lebih baik, giat belajar, hingga pada waktunya nanti kita disatukan dalam ikatan yang sah. ikatan yang membolehkan aku memetik senyumnya, ikatan yang membolehkan aku memandangnya lebih lama dan berlama-lama dalam memandangnya. Ikatan yang membolehkan aku duduk berdua dan membahas visi misi dan tujuan rumah tangga yang agamis, dan harmonis sesuai kaidah-kaidah dalam Islam.

Gusti, maturnuwun sanget sampun maringi dek e seng gemati, sholihah semangat belajar lan pinter ngaji. Maturnuwun sanget Gusti..


Caffe Jemblung, Malang, 15 September 2022


Aku, seng bok celok MAS dek. wkwkwk

Label: , , , ,

Relasi Pendidikan dan Ekonomi


Seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan terus melakukan ambil sikap. Tidak sedikit jumlah siswa atau pelajar hingga tingkat mahasiswa yang terpanggil untuk terus sekolah dan melanjutkan kuliahnya ke jenjang tertinggi. Terlepas dari apapun tujuan awalnya mereka belajar, untuk apa mereka kuliah dan apa cita-cita mereka. Yang jelas, semuanya adalah sikap yang mulia ketika tetap mau belajar dan terus belajar.

Namun demikian, tetap saja banyak orang yang berfikiran sempit dan menceloteh mereka yang memilih lintas pendidikan dari pada bekerja sejak dini dan enggan belajar. Bagi mereka bekerja bisa kapan saja dan dengan profesi apaun itu yang penting tidak menyalahi kaidah kerja yang benar dan menghasilkan uang yang halal. Berbeda halnya bagi mereka yang memilih kerja sejak usia kecil dan enggan belajar dengan dalih ijazah tidak menjamin kekayaan dan pendapatan harta yang fantastis. Cara berfikir yang demikian sebenarnya salah dan tidak dapat terus diabaykan begitu saja, harus ada stimulus dan sikap yang dapat memberikan merekapemahaman agar orang yang belajar tidak selalu dianggap memilih jalan yang kurang tepat dengan alasan mereka sebagai berikut:

1. Ijazah tidak menjamin harta kekayaan

2. Ijazah tidak menjamin pendapatan harta yang fantastis tiap bulan

3. Lebih baik bekerja sejak kecil dan tidak perlu sekolah karena dua alasan di atas

Pada dasarnya antara pendidikan dan ekonomi itu sangat erat kaitannya, ini tidak lagi soal konsep kebarat-baratan tapi dalam islam sudah disampaikan sejak dahulu. Bagaimanapun konsep yang dibangun oleh mereka, tetap saja mereka enggan memasukkan peran agama dalam masalah ekonomi. Hal ini berbeda dengan konsep dalam islam yang selalu menghadirkan peran agama dalam konsep ekonomi. 

Islam selalu menyikapi perkembangan ekonomi, meskipun ada saja opini liar yang mengatakan bahwa agama tidak dapat menggerakan kehidupan ekonomi, lebih-lebih ekonomi kapitalis. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa agama dan ekonomi merupakan dua ranah berbeda yang memiliki titik tekan dan tujuan yang berbeda pula.

Dalam Islam selalu ada kajian terkait keduanya, seperti kajian tentang Agama dan Pendidikan: analisis relasi dan implikasinya dalam upaya pengembangan ekonomi, pengembangan ekonomi berbasis syariah di era digital, fiqh (islamic jurisprudence) dan perubahan ekonomi (economics exchange) antara idealitas dan ralitas, konsep islam tentang kepemilikan (islamic concept of ownership) dan implikasi ekonominya (its economic implications), instrumen ekonomi islam untuk kesejahteraan sosial: eksplorasi potensi zakat, infak, sadaqah dan wakaf uang, teori dan perilaku konsumsi dalam perspektif islam: memotret realitas sosial masyarakat era modern.

Dalam Islam apapun yang terkait dengan ekonomi selalu menghadirkan telaah dan konsep agama,baik mulai dari cara kerjanya dan panduan mentasorrufkan harta yang didapatkannya. Kehadiran agama dalam ekonomi bukan untuk mempersempit cara mendapatkan uang, cara kerja dan mengelola keuangan. Justru untuk kebaikan Bersama karena dalam islam selalu mendahulukan kemaslahatan umatnya.

Paparan di atas setidaknya sedikit memberikan bantahan terhadap statemen atau pandangan orangf barat yang mengatakan bahwa Islam menghambat kemajuan. Beberapa kalangan mencurigai Islam sebagai faktor penghambat pembangunan (anobstacle to economic growth). Kendatipun pandangan ini berasal dari pemikir barat namun tidak sedikit dari kalangan pemikir muslim yang mengamininya (Mohammad Thoyyib Madani, Agama Dan Pendidikan: Analisis Relasi Dan Implikasinya Dalam Upaya Pengembangan Ekonomi, Desember 2021).

Persepsi di atas jelas sangat tidak sesuai dengan realitas yang actual dan factual. Persepsi yang salah seperti ini setidaknya disebabkan adanya kesalah pahaman terhadap Islam itu sendiri. Sehingga seakan-akan menjustifikasi bawa Islam merupakan agama yang hanya berkaitan dengan masalah ritual saja, bukan hadir sebagai suatu sistem yang komprehensip dalam cakupan aspek kehidupan umat manusia, baik terkait ritual ataupun kewajiban, sosial dan juga ekonomi yang menjadi motor penggerak roda perekonomian seluruh umat semesta alam.

Menurut Sjafruddin, dalam kehidupan ekonomi perilaku individu itu tidak lepas dari dua motif didorong, yaitu motif ekonomi dan motif agama. Motif ekonomi sendiri tidak lepas dari dorongan adanya rasa takut terhadap kekurangan dan kemelaratan hidup(miskin) sehingga membuat manusia selalu berupaya mengumpulkan harta sebanyak mungkin. Perasaan takut yang demikian dapat menjadikan gaya hidup manusia menjadi makhluk serakah dan berambisi besar tanpa memperhatikan panduan dalam kaidah dalam agama.

Sebaliknya agama menurut Sjafruddin justru mengajarkan manusia untuk senantiasa menjauhkan diri dari perasaan takut. karena memang yang wajib ditakuti hanyalah Allah SWT. 

Kendati demikian bukan berarti dalam Islam tidak menganjurkan umatnya untuk bekerja keras dalam mencari nafkan dan menjadi orang yang kaya raya. Islam tetap menginstruksikan umatnya untuk semangta bekerja, bekerja keras dan bekerja cerdas untuk menghasilkan uang yang banyak dan tentunya halal dengan kaidah-kaidah agama islam yang hadir di dalamnya. Allah berfirman dalam Surat al-Jum’ah ayat 9-10 sebagai berikut:

  يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ، فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah, ayat 9-10)

Dari penggalan di atas terdapat instruksi bahwa setelah usai mengerjakan sholat jum’at hendaknya berpencar untuk mencari karunia Allah, tentu diantara interpretasi dari penggalan ayat ini adalah untuk mencari nafkah. karena nafkah bagian dari karunia dari Allah.

Syekh Abu Manshur al-Maturidi mengatakan:   

وقوله - عز وجل -: (فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون (10) أي: رحمة الله؛ هذا خرج في الظاهر مخرج الأمر، ولكنه في حكم الإباحة عندنا؛ لأن هذا أمر خرج على أثر الحظر،    

Artinya, “Firman Allah “apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”, maksudnya beruntung mendapat rahmat Allah. Ayat ini secara lahir dibentuk dalam kata perintah, namun berada dalam hukum ibahah (memperbolehkan) menurut pendapat kami (Ahlussunnah wal Jamaah), sebab ini adalah perintah yang disebutkan setelah larangan.”

Ayat di atas setelah memerintahkan untuk sholat jumat kemudian menganjurkan atau membolehkan umatnya untuk berpencar Kembali agar menjari karunia Allah. Manusia sendiri sejatinya adalah homo economicus, meskipun juga harus disandingkan dengan pandangan yang menyatakan bahwa manusia itu adalah makhluk homo religious. Sehingga mereka akan selalu memanfaatkan alam kebendaannya ini dengan cara yang sebaik-baiknya, yang pada gilirannya adalah untuk mendatangkan kemaslahatan.

Allah swt. Berfirman dalam hadist qudsi

يا دنيا اخدمي من خدمني واستخدمي من خد مك

Artinya, “Wahai dunia, berkhitmadlah kamu kepada orang yang telah berkhitmad kepada-Ku, dan perbudaklah orang yang mengabdi kepada-mu”. 

dari paparan di atas menjelaskan bahwa agama sangat erat kaitannya dengan ekonomi, agama Islam sendiri memerintahkan agar umatnya selalu belajar dan menuntut ilmu sepanjang masa. Sehingga dnegan pengetahuannyalah kemudian ia selain bisa mempunyai keilmuan untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat islam juga kaidah-kaidah hidup bersosial yang kaitannya erat dengan ekonomi. 

Bagaimanapun merea memisahkan relasi antara ilmu dan ekonomi, tetap saja sampai kap[anpun dalih mereka tidak dapat memutus relasi keduanya. karena memang keduanya sangat erat kaitannya dalam kehidupan manusia. Allah memerintahkan umat manusia selain untuk belajar juga diperintahkan untuk mencari nafkah sehingga dapat bertahan hidup dengan baik. 

Jika ada yang mengatakan bahwa ijazah tidak ada kaitannya dengan cara mendapatkan harta, tentu bisa dibenarkan. Namun dengan mempunyai keilmuan akan menyadarkan kita bahwa dengan kita kaya bukan berarti harus lupa pada siapa yang maha pemberi dan siapa yang harus selalu disembah dan diesakan. Kendatipun mencari ilmu bukan semata-mata untuk mendapatkan harta yang banyak dst. belajarhanyalah untuk melajar, mencari ridho Allah dengan mempelajari ilmunya dan berupaya mentas dari kebodohan-kebodohan yang selalu menghantui umat manusia. 

Islam sendiri mempunyai konsep dan pandangan yang jelas mengenai perihal harta dan kegiatan ekonomi. Pandangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: Pertama: pemilik mutlak terhadap segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini, termasuk harta benda, adalah Allah SWT. Kepemilikan oleh manusia hanya bersifat relatif, sebatas untuk melaksanakan amanah mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuan-Nya. Kedua; status harta yang dimiliki manusia adalah harta sebagai amanah, sebagai perhiasan hidup yang memungkinkan manusia bisa menikmatinya dengan baik dan tidak berlebihan, sebagai ujian keimanan, sebagai bekal ibadah, yakni untuk melaksanakan muamalah di antara sesam manusia, melalui kegiatan zakat, infak dan sedekah, Ketiga: Pemilikan harta dapat dilakukan antara lain melalui usaha yang halal dan sesuai dengan aturan-Nya. Keempat: dilarang mencari harta, berusaha, atau bekerja yang dapat melupakan kematian, melupakan dzikrullah, melupakan shalat dan zakat, dan memusatkan kekayaan hanya pada sekelompok orang kaya saja. Kelima: dilarang menempuh usaha yang haram, seperti melalui kegiatan riba, perjudian, berjual beli dengan barang yang dilarang atau haram, mencuri, merampok, peggasaban, curang dalam takaran dan timbangan, melalui cara-cara yang batil dan merugikan, dan melalui suap menyuap (Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik (Jakarta: Gema Insani Press, 2001).





Label: , , , , , ,

Minggu, 11 September 2022

Pentingnya Pendidikan




Manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan belum tau banyak hal soal kehidupan di dunia setelahnya. Bahkan dirinyapun belum tau hendak menjalani kehidupannya bagaimana dan akan bersama siapa dia hidup seterusnya. Seiring dengan tumbuh besarnya, sedikit demi sedikit pengetahuan mulai dia serap, entah mulai diajari untuk mengetahui nama bapaknya, nama ibunya, kakek, nenek dan nama-nama sesuatu yang setiap hari ia lihat. Dari sinilah kemudian menjadi salah-satu dalih bahwa pendidikan itu sangatlah penting. Bahkan disebutkan bahwa kewajiban menuntut ilmu itu sejak dalam buaian sampai ke liang lahat. Artinya, menuntut ilmu kewajibannya sepanjang hayat.
Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan. Artinya porsi keharusan untuk belajar dan porsi untuk sama-sama sukses dalam pendidikan itu sama baik laki-laki maupun perepuan. Laki-laki berhak belajar setinggi mungkin dan sampai jenjang pendidikan tertinggi, begitu jujga dengan perempuan. Bahkan akhir-akhir ini banyak dosen, profesor atau guru besar yang diraih oleh perempuan. Tidak sedikit juga mereka menduduki posisi strategis dalam keorganisasian.
Terlepas dari ilmu apa saja yang wajib dipelajari terlebih dahulu, yang jelas belajar ,enjadi keharusan bagi seluruh umat untuk membangun kehidupan yang baik dan cerdas. Hidup tanpa adanya pengetahuan merupakan kepahitan yang tiada akhirnya. terlebih dengan diddesaknya oleh perkembangan zaman yang terus berlangsung. Bahkan tidak jarang dan menjadi maklum ketika kurikulum pendidikan seringkali dievaluasi dan kemudian dilakukan sedikit perombakan menuju lebih baik untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Dikatakan bahwa diantara cara untuk mencerdaskan anak bangsa ialah dengan mendukung penuh kaum wanita untuk belajar dengan setinggi mungkin, sebaik mungkin dan dengan dukungan penuh dari keluarga dan kawan serta gurunya. Kenapa harus memberikan dukungan penuh dan wanita harus belajar dengan baik dan setinggi mungkin atau sampai ke jenjang pentitikan tertinggi? Di antara alasannya adalah dikarenakan kaum wanita akan menjadi ibu, dan ibu menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dengan inilah kemudian jika keilmuan ibu tersebut berkualitas, baik ilmu agama ataupun umumnya. Maka tentu pendidikan anaknya sejak kecil akan terjaga dan terarah. Seorang ibu menjadi orang yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan anak-anaknya. Karena itulah kemudian memberikan efek besar terhadap kehidupan anaknya selanjutnya. 
Terlepas dari alasan di atas, yang jelas belajar bagi umat manusia merupakan suatu kewajiban. Tentunya kewajiban ini tidak lain untuk kemaslahatan bersama dalam hidupnya. 

Label: , , ,

Mahasiswa, organisasi dan ngopi.

 

Mahasiswa


Menjadi pelajar adalah suatu anugrah besar yang patut untuk senantiasa disyukuri, gelar pelajar harus terus dirawat dan dihiasi dengan keilmuan yang amat sangat luas. Pelajar identik dengan orang yang selalu menikmati tahap demi tahapnya dengan belajar.

Seiring dengan bergesernya kehidupan, semakin canggihnya dunia dan serba adanya alat-alat yang membantu sehingga banyak merubah gaya hidup mahasiswa pada umumnya. Dahulu mungkin mahasiswa tatkala diberi tugas yang ada difikirannya ialah kemana harus mencari buku-buku untuk refrensi, namun sekarang buku-buku itu sudah dapat diakses dimanapun adanya.

Diantara yang menjadi gaya nyentriknya mahasiswa akhir-akhir ini ialah kebiasaannya yang mandarah daging bahkan bagi mahasiswa barupun sudah dapat mengikutinya dengan mudah, yakni ngopi, entah itu ngopi sebagai ritual minum kopi bersama ataupun dijadikan sebagai singkatan dari ritual ngolah pikir alias diskusi keilmuan bersama-sama.

Ngopi memang baik untuk kebersamaan dengan teman, dan lebih baik lagi jika diisi dengan diskusi santai terkait keilmuan yang dipelajari di kampus. Namun demikian terlalu serius juga dapat membuat teman terkadang malas ngopi, sehingga dengan inilah kemudian banyak teman-teman yang hanya sededar ngopi, ngobrol A sampai Z, main domino, nyanyi dan makan santai. 

Uniknya ada juga yang menggunakan istilah ngopi bukan sekedar minim kopi saja, namun dijadikan istilah untuk kumpulan mahasiswa yang suka berdiskusi santai (ngolah pikir). Hal yang seperti ini lebih baik, selain tetap melakukan kegiatan kebersamaan juga di isi dengan diskusi yang pastinya sedikit banyak akan bertukar pengetahuan dengan teman diskusi.

Mahasiswa juga menjadi tertantang untu mengikuti organisasi tatkala sudah diterima di perguruan tinggi, apapun itu organisasinya yang jelas mereka punya gairah tersendiri. Mengikuti organisasi itu baik dan bagus untuk menambah relasi, wawasan dll jika memang dalam keorganisasiannya terprogram yang demikian. Menjadi baik berorganisasi jika tidak menomor duakan tujuan utama kuliah, tetap aktif masuk kelas, mengerjakan tugas dan belajar mandiri untuk menambah wawasan melalui buku-buku atau jurnal yang tersedia.

Alih-alih ngopi bareng, atau ikut organisasi dengan dalih agar begini sampai begitu. Bahkan saking begitu asyiknya ngobrol hingga mereka lupa pada esensi dari ngopi itu sendiri, kopi-kopi yang telah diaduk dengan tangan-tangan yang mumpuni itu kemudian lupa tidak diseduh hingga tetesan terakhir, diabaikan begitu saja. Apakah ngobrol dengan bingkai ngopi bareng, atau ngolah pikir itu kemudian benar-benar membahas perihal yang konseptual, teoritis dan membangun paradigma yang baru? Tentu tidak, sebagian dari mereka justru hanya sekedar ngobrol santai dan tidak terpetakan apa yang sedang dibahas sehingga intisari dari pembahasannya pun juga tidak jelas. Namun demikian semua itu tidak salah, yang salah justru yang tidak mau ngopi dan berkumpul dengan teman. Lebih salah lagi jika mengutamakan ngopi bareng temen sampai lupa mengerjakan kewajiban, tugas dll yang lebih urgent.

Lantas seberapa pentingkah ikut organisasi bagi mahasiswa baru? Apapun itu jenis dan latar belakang organisasinya. Apakah dengan mengikuti organisasi kemudian menjadi mahasiswa yang intelektual dan cerdas, menjadi kutu buku dan suka menuangkan gagasan dan pemikirannya dalam bentuk tulisan, baik itu tulisan yang menjadi buku atau sekedar mengisi website yang dia punya.

Banyak jawaban ketika penulis bertanya langsung kepada pelaku yang mengikuti organisasi terkait seberapa pentingkah bagi mahasiswa mengikuti organisasi kemahasiswaan dll. Paling tidak rata-rata mereka menjawab ada dua hal penting yang diuntungkan, 1) menambah dan membangun relasi, 2) menambah wawasan melalui diskusi. Pertanyaannya, apakah diluar organisasi keduanya tidak bisa didapatkan? Jawabannya tentu bisa, namun demikian mungkin dengan berorganisasi keduanya lebih mudah di dapatkan. Terlebih ketika dilakukan bersama-sama, semangatnya bisa bertambah dan bertahan lama. Namun demikian berorganisasi ataupun tidak keduanya tidak ada yang salah juga tidak ada yang sangat diunggulkan. 

Untuk menjadi pintar tentu kita harus sering-sering membaca buku dan menulis dengan keilmuan yang dimiliki. Sebagai makhluk sosial sudah tentu harus berinteraksi secara aktif dan baik dengan sesama untuk membangun jiwa kekeluargaan, entah dengan latar belakang agama yang sama, atau berbeda, ras yang berbeda ataupun sama dan seterusnya. Relasi dan menambah wawasan tidak harus dengan orang yang sama persis dengan kita, harus sama agamanya, alirannya, organisasinya, ras, suku dll, tentu tidak. Karena keduanya bisa didapatkan dengan banyak orang yang tidak harus seperti di atas.

Intinya, pandai-pandailah bagi mahasiswa memanaj waktu sehingga tujuan utama kuliah tidak ternomor duakan dengan dalil organisasi, teman, relasi dll. Kuliah harus tetap dilaksanakan dengan maksimal, baik keaktifan mengikuti perkuliahan di kelas, mengerjakan tugas dll yang sifatnya konseptual dalam perkuliahan. Mahasiswa juga harus punya banyak teman, dan juga sebisa mungkin berkumpul dengan teman-teman untuk membangun rasa kekeluargaan, entah perkumpulan itu di isi dengan kajian atau sebatas ngopi saja. Karena hal yang demikian itu mempunyai makna tersendiri.

Yang paling terpenting jangan jadikan alasan masih suka dengan kampusnya sehingga membuat kamu molor untuk lulus kuliah, setidaknya tanam dalam-dalam dalam dirimu bahwa haram menambah semester dari waktu normal perkuliahan. Lebih baik uang itu untuk biaya kuliah di jenjang berikutnya. Ingatlah kerja keras orang tuamu agar kamu bisa terus semangat belajar dan mengerjakan tugas akhir, karna memang mahasiswa tatkala sudah menginjak semester lima ke atas sudah mulai rasa bosen, bingung dan bertanya-tanya nanti lulus mau jadi apa, kerja apa dst. Bahkan banyak yang mengatakan sepertinya aku salah jurusan. dan ini pernyataan yang aneh tapi nyata adanya.

Salah satu profesor yang kebetulan menjadi pembimbing penulisan tugas akhir penulis berpesan kepada sekian banyak mahasiswa bimbingannya bahwa, di antara cara berbaktinya mahasiswa kepada orang tua ialah dengan lulus tepat waktu tanpa menambah semester.


Label: , , , ,

Selasa, 06 September 2022

Untuk apa aku jatuh cinta lagi?

jatuh cinta lagi


Menjadi orang yang tegar, kuat dan tetap semangat itu pilihan, tergantung bagaimana cara kita bersikap dan menentukan cara kita untuk bertahap hidup dengan segala macam keadaan. Termasuk tentang bagaimana kita dalam memilih untuk terus terpuruk, terluka, dan berdarah-darah dengan luka lama, atau justru kembali merawat harap demi harap yang telah lama terurai dalam lembaran kumuh dan kusut, asa demi asa yang sejak dulu terpatri di atas kertas dengan saksi tinta-tinta pengikat. 

Namun demikian, tidak semua orang bisa dengan mudah untuk kembali bangkit, luka yang mengakibatkan darah menetes dan mengalir mungkin saja lebih mudah untuk disembuhkan, tapi tidak dengan luka yang tak berdarah. Memaafkan yang melukai mungkin saja bisa, tapi melupakan apa dan siapa yang pernah melukai, itu tidak gampang. Betapa banyak orang-orang yang tatkala sembuh dari lukanya, ketika ia bertemu dengan orang yang dahulu pernah melukainya sepatah katapun tidak keluar untuk menyapanya, bahkan tiga puluh derajat menolehpun tidak sanggup. Bukan tidak mampu untuk berucap dan menolehnya, tapi tidak sanggup membiarkan pintu maaf yang sudah terbingkai bagus dan rapi itu kemudian kembali menguraikan serentetan luka dan kemudian dipaksanya untuk mengingatnya. Karena luka yang demikian sampaikapanpun sakitnya tetap melekat dan mudah diingat.

Untuk menyembuhkannya, butuh waktu yang baik, butuh orang yang diangagapnya mampu menutupi sekian luka, sedemikian rasa sakit, dan semudah mungkin membantu menguatkan pintu maaf kepada siapapun yang pernah melukainya.

Sekarang, untuk apa aku jatuh cinta lagi? Kamu harus menjawabnya. Dan jika suatu saat nanti aku patah dan luka lagi, maka kamulah yang harus tanggung jawab atas apapun yang mungkin terjadi. Jika niat baik cukup kuat untuk bersama-sama, maka perlu ada waktu sebentar untuk duduk bersama, bersama membahas bagaimana visi misi ke depannya agar bisa menyatukan langkah dan tujuan kita berdua.

Perlu kamu tau, bahwa sejak saat itu  aku seringkali lari dari sekian luka, aku lari dengan sekuat tenaga dari semua duka, aku lari dengan sekencang-kencangnya dari semua lara. Jika kamu berani ambil hati yang pernah gagal, maka berarti kamu juga harus berani menepati janji untuk selamanya tinggal. 

Jadi begini, jauh sebelum aku mengenalmu aku pernah dengan berat menerima perpisahan, dengan susah payah melepaskan yang pernah tergenggam, dengan sulit membiarkannya pergi dari hati yang pernah ia singgahi, hingga akupun berdarah-darah dan menjahit luka dengan ketakutan. Mungkin memang aku hanyalah sebatas sampah, tidak sebagaimana mereka yang pandai mengukir sejarah yang indah, mereka yang bisa mendapatkan apapun dengan mudah, termasuk menemukan cinta, merawat cinta dan mengikatnya hingga akhir hayatnya. Tapi mereka tidak pernah tau bagaimana rasanya susah payah membuang rasa takut, menutupi luka dengan baik dan rapat dan bangkit lagi bersama dengan yang siap tinggal, selamanya. Tanpa ada kata pisah, dan menyesal telah memilih tinggal dengan diri yang serba biasa dan sederhana.


Label: , ,