Rabu, 21 Desember 2022

Titik-titik cahaya

 

Bunga


Secercah cahaya terjawabkan, tanya demi tanya yang tersusun rapi dan bertumpuk akhirnya menemui muara jawaban yang ditunggu. Secercah cahaya itu memberikan penerangan atas kegelapan selama satu bulan ini, mendung yang tak kunjung usai, hujan yang tak kunjung reda dan panas yang menghasilkan bayang-bayang. Butuh kesabaran untuk menemukan hasil dan jawabannya.

Tepat pekan ketika di bulan desember, akhirnya secercah cahaya bulan itu mengulurkan titik-titik cahayanya. Betapa bahagianya ranting daun itu mendapatkan cahaya tersebut, berhari-hari ia menunggunya melambai dengan penuh lesu, mendayu-dayu dengan gaya sederhananya melambai. apalah aku kata dauh, aku hanyalah selembar daun yang hina, diterpa anginpun mungkin sudah terbang dan dibuat bola tentang oleh ganasnya angin. aku memang hina, serba sederhana, kurang menarik, fisik serba pas pasan, apalah intimewanya daku ini.

tatkala daun itu mendapatlan titik-titik terang, ia sampaikan segenap apa yang mengganjal dalam hatinya, banyak hal yang membuatnya tersesak, sering kali nafasnya tersendat. Daun dengan santunnya berkata:

Aku tumpahkan semua keluh kesahku yang kutahan satu bulan ini, aku tidak pernah benar-benar bisa marah padamu atas apa yang telah kamu perbuat. Anehnya, ulu hati terus terenyuh tatkala membaca sikapmu dan narasi pesan yang kau kirimkan. kamu tidak pernah muncul selama ini, tapi aku juga yang harus tersiksa.

Daun berjanji,

Bagaimanapun kamu, aku tetap menatapmu. Kapanpun kamu, aku tetap menunggumu. Dimanapun kamu aku tetap akan mencarimu. Dan kapanpun itu, tetap aku tunggu. Sekalipun kamu tidak menatapku, tetap aku tatap dirimu. Sebagaimana aku menatap jemariku tatkala menengadah menghaturkan harap-demi harap dan pintaku pada sang maha kuasa, setiap waktu.

Aku bukan tipikal orang yang mudah menyerah, aku hanya butuh waktu menenangkan hati yang rapuh, mendinginkan kepala yang kian tumpang tindih dengan pertanyaan-pertnyaan tentangmu. Selama ini.

Kamu harus tau bahwa Ingatanku selalu basah dari namamu, hatiku selalu menarik erat cintamu. Aku cukup berdosa atas jeda-jeda temu, aku pantas dihukum seumur hidup olehmu, hidup bahagia bersamamu.

Aku sangat percaya bahwa ada cinta yang tumbuh tanpa alasan. Tapi aku juga sangat tidak percaya dengan tidak bisa mencintai tanpa alasan. Ibarat jagung tidak akan tumbuh tanpa ditanam, artinya tatkala jangung bertemu tanah, disitulah keduanya saling memupuk, saling mendukung, saling mengerti dan saling mengisi.

Sudahlah, kita hanya butuh berdiam untuk tidak saling sapa dahulu, menata jeda-jeda sapa dan menyusun jeda-jeda temu. Mungkin memang aku yang salah, kurng bisa mengerti tentang wanita, khususnya tentangmu. Mungkin memang aku yang salah, yang biasa saja tanpa bisa romantic seperti keinginanmu. Mungkin memang aku yang salah, serba biasa saja tidak seperti yang diharapkanmu. Tapi, andai kita hanya mau mencintai orang yang sesuai dengan keinginan kita, maka tentu mustahil kita akan menemukan orang yang benar-benar sesuai, se-spesifik, dan sebenar-benarnya seperti yang kamu harapkan. Karena di dunia ini yang ada hanyalah dicocokkan, saling dikenalkan, saling mengisi, saling mengerti, saling mengalah, dan saling mengistimewakan. yang tidak kalah penting adalah saling sabar, saling mensyukur dan terus bersyukur untuk bisa terus mencintai dan terus berusaha lebih mencintai.

Terimakasih Desember, tiga pekanmu membuatku rapuh tak berdaya atas cinta dan rinduku.

Tak apa aku hina dengan rasa ini, akan aku rawat dan aku istimewakan rasa ini kemudian hari, entah esok, lusa dan kapanpun itu. kita hanya butuh kesabaran untuk bertemu dengan waktu yang kita tunggu. Jangan terus lupakan doa-doa setelah shalat, sebagaimana tidak pernah lupanya kamu pada diayang selalu diingat.

Ini bukan tentang daun, mbuh tentang opo. 

 

Label: , , ,

Rabu, 14 Desember 2022

Beda Demensia dengan Apatis


Bunga berguguran

Bungan berguguran tepat sebelum matahari menyingsingkan cahayanya, sinarnya memberikan kehangatan kepada rerumputan beserta pohon yang rimbun. Huru-hara bunyi mesin transportasi berkicauan, jalanan macet memaksakan kendaran lebih berhati-hati dan pelan serta sesekali berhenti.

Sesak dan sakit

Lima belas desember ini tampak beda, sesak dada masih berseri dan mengayunkan kakinya. Beda rasanya sesak karena asma dengan sesak karena kecewa. Beda juga atara sesak karena keceewa dan sesak karena tidak dipeduli oleh orang yang selalu dipeduli. Sesak nafas bisa sembuh dengan obat-obatan manjur, sekalipun mungkin dikemudian waktu ingat Kembali fenomenanya, tapi tidak dengan rasa sakitnya. Ini berbeda dengan sesak sebab keceewa dan semacamnya, ia cenderung lebih awet dan menyakitnya serta sulit untuk dilupakan. Hasilnya sudah tentu membuat sakit itu kambuh tatkala mengingat kembali.

Sakit yang demikian berdampak buruk pada Kesehatan serta membuat orang overthinking, tidak lain kondisi berikutnya hanya akan membuat kondisi semakin parah dan menyakitkan. Selalu bertanya-tanya, kenapa bisa begini, ada apa, karena apa dan seterusnya. Pertanyaan itu akan terus berdendang dalam telinga yang ditunggu-tunggu jawabannya oleh hati yang sedang sesak. Jawaban itu adalah obatnya, ya meskipun diagnose menyatakan tidak akan membuatnya sehat secara total dan berlangsubg lama. Karena tatkala ia mengingatnya aka nada ssesak-sesak berikutnya yang menyerang dan membuatnya sulit percaya pada apa dan siapa yang membuatnya kecewa.

Memang benar, berburuk sangka itu tidak akan pernah menyelesaikan persoalan, pun juga dengan menghilang dan pergi begitu saja. Persis dengan tidak peduli dan abai, dua hal ini justru berdampak pada sulitnya menyelesaikan masalah dan justru mendawamkan masalah.

Dalam hubungan, upayakanlah selalu melibatkan hati agar tidak selalu otak yang mengendalikan langkah kita. Hidup itu sebenarnya lebih banyak peran hati dari pada otak, dan yang demikian lebih dekat dengan kebijaksanaan dalam bersikap. Karena itulah hati-hati dalam bersikap pada orang lain. Karena ada hati yang mereka jaga dengan sekuat tenaga agar tidak terluka dan sakit yang berkelanjutan tatkala mengingat masa-masa yang pernah ia lalui.

Sakitnya hati yang mencekik itu nyata adanya dan fakta rasanya. Mungkin memaafkan akan terlihat mudah, tapi melupakan amat sangat tidak mudah. Sekalipun dengan memaafkan akan sedikit meredakan sakit, tapi dengan kembali ingat merupakan langkah yang amat sangat menyiksa.

Untuk kata maaf,

Untuk semua kata maaf yang kita sendiri tidak tau dimana letak kesalahankita, apakah kita harus mengemis? Apakah kita harus mengejar? Sedangkan pesan singkat kita tidak pernah  dibalas olehnya, kata maaf kita selalu dia abaikan. Dan bahkan sampai saat ini kita tidak pernah tau apa salah kita sehingga sikap dia sangat berbeda, jika orang yang tidak pernah kenal dibilang asing, ini justru lebih asing dari yang asing.

Hati yang terlukai tidak pantas ditertawakan,

Jangan pernah abai pada orang yang bersungguh-sungguh mencintaimu, peduli dan sayang kepadamu. Jangan pernah risih dengan sikap orang yang totalitas memperjuangkanmu. Karena yang demikian penghalang antara dia tetap bersungguh-sungguh dan undur diri hanya ada satu, jauhkan dia dari kata kecewa, hindarkan dia dari sikap tidak peduli, respon dia dengan sebisanya dan tentu menjaga komunikasi, menjaga komitmen harus tetap lebih utama dan dijaga.

Sakit tidak harus dihindari, tapi di kenali dengan baik sampai ia menjadi hambar dengan rasa sakit itu, sampai ia lupa dengan fenomena itu, dan sampai ia biasa dengan ingatan itu.

Jangan pernah gugur bungaku dari taman hati ini. Tetaplah segar dan harum semerbak menambahkan sari cinta kasih. Suburkan ladang cinta kasih hati ini, hari ini hingga ke surganya nanti. Bersamamu,


Label: , ,

Senin, 12 Desember 2022

Model Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Karakter Siswa

 

PENDAHULUAN 

Implementasi pembelajaran di Indonesia masih jauh dari perubahan yang signifikan, sehingga pendidikan di Indonesia menjadi stagnan dan statis, hal ini berdampak cukup berat untuk melaju pada posisi sepuluh besar dari negara-negara terbaik dalam sistem pendidikannya. Pendidikan di Indonesia masih saja berada pada posisi rendah di urutan bawah. Negara Indonesia sendiri mendapatkan peringkat 54 pada tahun 2021, yang berarti negara kita telah naik satu peringkat sebelumnya yaitu peringkat 55 pada tahun 2020. Hal ini menjadi PR besar untuk pengella pendidikan di Indonesia. Pengelolaan pendidikan harus benar-benar diperhatikan sehingga hasil dan kualitasnya bisa sesuai dengan napa yang diharahpkan. Hal ini bisa dirubah melalui elastisitas pengembangan sumber belajar dan media pembejaran berbasis karakter siswa.

Faktanya, ikhtiar pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran merupakan sebuah keniscayaan selama ini. Keniscayaan pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran ini didasarkan setidaknya pada dua realitas yang berlawanan. Pada satu satu sisi sumber belajar memiliki sifat yang statis dan kerapkali mendapati pengulangan materi dari satu jenjang ke jenjang berikutnya, namun demikian di sisi lain pelaku pendidikan dituntut untuk memiliki peran yang dinamis dan berkelanjutan. 

Sifat statis sendiri berasal dari komponen sumber belajar berupa benda yang meliputi; buku, manusia, media massa, dan media pendidikan. Sedangkan pada sisi peran, sumber belajar dituntut agar berperan sebagai sumber dari berbagai informasi dan pengetahuan yang diperlukan dalam mengembangkan kompetensi yang diinginkan pada mata pelajaran atau bidang studi, hal ini juga berlaku untuk media pembelajaran. Dengan kondisi tersebut maka sumber belajar dan media pembelajaran sangat penting untuk dikembangkan. Maka, berdasarkan deskripsi yang penulis paparkan di atas, maka penulis tertarik untuk membahas tema ini dengan sub bab sebagai berikut: Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Karakteristik Peserta Didik.


PEMBAHASAN

Urgensi Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran

Melihat perkembangan hasil belajar dan kualitas pendidikan di Indonesia yang masih jauh dari kata terbaik, maka praktisi pendidikan dan pengelola harus lebih ekstra dalam mencar terobosan dan berbagai pengembangan strategi untuk merubah kondisi pendidikan yang berada pada posisi stagnan dan sulitnya melaju pada posisi sepuluh besar pendidikan terbaik di dunia. Maka, di antara cara yang cukup mudah dan dapat diukur keberhasilannya ialah dengan merubah pola mengajar yang terkesan statis dengan melakukan pengembangan sumber dan media pembelajaran berbasiskan karakteristik siswa.

Diantara strategi pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran yang cukup prospektif adalah dengan berbasiskan karakter peserta didik. Hal ini dikarenakan keberadaan sumber belajar dan media pembelajaran selalu terdapat keterkaitan, bahkan tidak bisa dipisahkan dengan kondisi karakter peserta didik di kelas. Sehingga pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran yang baik harus terintegrasi dengan realitas peserta didik di kelas. Mengingat masing-masing karakteristik siswa berbeda-beda, dengan demikia menjadi maklum tatkala banyak sekolahan yang memberlakukan sistem seleksi kemampuan siswa dan kemudian diklasifikasikan menurut kemampuan, kecerdasan dan prilakunya. Maka, pengembangan berbasis karakter peserta didik menjadi salah satu alternatif pengembangan yang terintegrasi dan memungkinkan tercapainya tujuan pendidikan.

Pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran berbasis karakter peserta didik memungkinkan tercapainya proses pembelajaran yang optimal dan terukur. Pasalnya kualitas pembelajaran terkait erat dengan kualitas sumber belajarnya, dan materi akan tersampaikan dengan baik ketika di bingkai melalui media yang menyesuaikan dengan karakteristik siswanya. Di mana proses pembelajaran yang baik akan membutuhkan pengembangan sumber belajar yang baik. Dengan kata lain sebuah proses pembelajaran tanpa pengembangan sumber belajar yang tepat maka tidak mungkin terlaksana dengan optimal. Dengan demikian pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran berbasis karakteristik peserta didik memungkinkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil yang signifikan.

Prinsip umum dalam pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran berbasis karakter peserta didik ialah berpacu dan memperhatikan nilai efektifitas dan efesiensi. Prinsip efektifitas mengarah pada upaya pengembangan yang dapat menghasilkan penghematan waktu, sedangkan efesiensi mengarah pada kemudahan teknis yang praktis dan elastis. Maka, dengan kata lain prinsip pengembangan ini ialah mengarah kepada terciptanya sumber belajar dan media pembelajaran yang dapat mempermudah dan mempercepat proses pembelajaran dengan hasil yang terukur.


Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Karakter Peserta Didik

Memperhatikan definisi sumber belajar yang meliputi segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang. Maka, dengan demikian segala sesuatu baik yang disengaja dirancang ataupun yang telah tersedia yang dapat dimanfaatkan baik secara sendiri maupun bersama-sama untuk membuat atau membantu peserta didik belajar disebut sumber belajar. 

Sumber Belajar Berbasis Karakter Siswa

Proses komunikasi dalam praktik pendidikan tidaklah jauh berbeda dengan proses pembelajaran kecuali pada aspek konteks berlangsungnya komunikasi Proses Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM). Dari berbagai sumber belajar yang ada, diantaranya ialah manusia, bahan, lingkungan, alat dan peralatan dan aktivitas. 


Lima komponen di atas harus saling berkolaboratif dan berpacu dalam satu strategi untuk melakukan pengembangan. yang tidak kalah pentingnya ialah ada pada manusia itu sendiri, yakni guru dan murid. Guru harus lebih memahami psikologi murid, lingkungan, dan karakteristik kelas yang akan diberikan tranfer knowled. Tentu didukung dengan ketersediannya sarana yang memadai. Guru harus lebih inovatif dalam mengelola kegiatan belajar mengajar, punya teknik dan sumber belajar yang dikombinasikan untuk mempermudah murid dalam menerima ilmu yang disampaikan.

Jika ditinjau secara historis, penggunaan sumber belajar dalam dunia pendidikan sudah dikenal sejak lama. Bila menoleh sejarah pendidikan di kalangan umat Islam, maka pada zaman pertengahan Islam fasilitas sumber belajar sudah dikenal meskipun sangat amat sederhana akan tetapi sudah dilengkapi dengan adanya ruangan yang memadai untuk tempat belajar, juga ada rumah-rumah pengajar.
Pada abad ini, trend penggunaan sumber belajar tidak lagi hanya digunakan apa adanya, melainkan dikembangkan terlebih dahulu da dibingkai dengan sebaik mungkin dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Diantara cara yang bisa dilakukan dalam pengembangan sumber belajar ialah dengan merencanakan langkah-langkah secara sistematis. Langkah-langkah sistemstis dalam pengembangan sumber belajar tersebut diantaranya adalah:
1. Menganalisis Kebutuhan dan Karakteristik Belajar Siswa
Sebuah perencanaan sumber belajar didasarkan salah satu indikatornya di dalamnya terdapat kesenjangan. Kesenjangan adalah ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya atau apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi. Dalam pembelajaran yang dimaksud dengan kebutuhan adalah adanya kesenjangan antara kemampuan, keterampilan dan sikap siswa yang diinginkan dengan kemampuan, keterampilan dan sikap siswa yang mereka miliki sekarang.

2. Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata pelajaran, dan guru itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan siswa dapat ditetapkan apa yang hendak dicapai, dikembangkan dan diapresiasi. 

Berdasarkan mata ajaran yang ada dalam petunjuk kurikulum dapat ditentukan hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Suatu tujuan pembelajaran seyogianya memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Menyediakan situasi atau kondisi untuk belajar. 
b. Mendefenisikan tingkah laku siswa dalam bentuk dapat diukur dan dapat diamati.
c. Menyatakan tingkat minimal perilaku yang dikehendaki.

3. Pengembangan Materi Pembelajaran
Sebelum memasuki kelas, kita harus meracang tentang apa yang mesti disampaikan kepada siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, dan pengalaman belajar siswa nantinya mengandung muatan pelajaran, muatan pelajaran mencakup kebutuhan siswa itu sendiri. Muatan pelajaran adalah materi yang disusun oleh guru atau tenaga pengajar, yang diambil dari sumber utama dan sumber penunjang.
Materi disusun berdasarkan tujuan, kompetensi dan indikator belajar yang telah dikembangkan sebelumnya. Kesesuaian materi yang dikemas dengan tujuan, kompetensi dan indikator merupakan jaminan bagi tercapainya hasil belajar yang diharapkan, demikian juga sebaliknya, bila materi disusun tidak merujuk ketujuan, kompetensi dan indikator, maka akan menjauh kan dari capaian hasil belajar yang optimal.

4. Mengembangkan Alat Ukur Keberhasilan
Alat pengukur keberhasilan siswa perlu didirancang sebelum naskah program sumber belajar ditulis atau sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan. Alat ini dapat berupa tes, penugasan atau daftar cek perilaku. Alat pengukur keberhasilan harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan pokok-pokok materi pelajaran yang akan disajikan kepada siswa. Alat pengukur keberhasilan harus bisa digunakan secara tepat saat dibutuhkan dalam pembelajaran, dengan alat pengukur keberhasilan ini bisa dilihat keberhasilan siswa belajar dengan menggunakan sumber belajar yang ada.

5. Pemilihan Jenis Sumber Belajar
Sumber belajar dalam proses pembelajaran mempunyai arti yang cukup penting karena ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan sumber belajar sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan sumber belajar. Sumber belajar dapat mewakili apa yang kurang mampu diucapkan oleh guru dengan kata-kata atau kalimat tertentu, dan dengan demikian anak didik lebih mudah mencerna bahan yang dipelajarinya.

Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Karakter Peserta Didik

Pengembangan media pembelajaran menjadi penting berbasis karakter peserta didik menjadi sangat penting, hal ini berdasarkan kondisi dan karakteristik siswa yang hendak diberikan pengetahuan melalui kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru harus pandai-pandai dan mengetahui psikologi kondisi kelas dan siswanya, sehingga guru bisa memilih media yang elastis dengan kondisi yang ada.
Sebelum memilih media pembelajaran yang akan digunakan, ada beberapa criteria yang harus diperhatikan oleh guru. Sehingga pemilihan media pembelajaran tersebut adalah yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran dan siswa memperoleh hasil belajar yang baik.

Dalam memilih media pembelajaran ada beberapa kriteria yang digunakan yaitu: 
1. Ketepatannya dengan tujuan pengajaran: Media pengajaran yang dipilih atas dasar tujuan tujuan instruksional yang telah di tetapkan. 
2. Dukungan terhadap isi bahan pelajaran: Bahan pelajaran yang sifatnya fakta, peinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa. 
3. Kemudahan memperoleh media: Media yang digunakan mudah diperoleh, mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. 
4. Ketrampilan guru dalam menggunakannya: Diharapkan guru dapat berinteraksi dengan siswa pada waktu menggunakan media tersebut. 
5. Tersedia waktu untuk menggunakannya: Media bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung. 
6. Sesuai dengan taraf berpikir siswa, sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh siswa.

Ilustrasi Implementasi Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Berbasis Karakter Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Fiqh Bab Shalat Kelas VII Tsanawiyah
1. Pada tahap awal, guru membuka pembelajaran dengan salam. Kemudian ketua kelas diminta memimpin doa jika pelajaran yang dilaksanakan merupakan jam pelajaran pertama
2. Guru memimpin pembacaan fatihah yang dihaturkan kepada Rasulullah dan guru-guru beserta pejuang pendidikan untuk mengharap keberkahan dan manfaat dari ilmu yang akan dipelajarinya
3. Guru meminta siswa membuka sumber belajar yang tersedia, seperti buku, LKS, dll.
4. Guru menentukan metode pembelajaran yang inovatif dan elastis dengan materi yang akan disampaikan.
5. Penyajian materi dikolabotari dengan metode yang elastis dan dengan materi dan kondisi psikologi siswa. Materi disajikan dengan mudah dan menarik dan ditampilkan melalui media yang adaptif.
6. Metode yang variatif dalam mengajar akan menghndari spekulasi pada guru bahwa guru ini mengajar dengan cara yang stagnan, statis dan begitu-begitu saja sehingga membuat murid bosan.
7. Guru memilih media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa. Dalam hal ini media yang sangat mendukung untuk menampilkan materi bab shalat ialah proyektor dan juga youtube dengan catatan contoh yang ditampilkan dalam youtube tersebut sesuai dengan kaidah yang ada dalam sajian di kitab-kitab.
8. Guru menyajikan materi pelajaran sesuai dengan apa yang sudah dipaparkan dalam format rencana pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan ini disusun dengan menyesuaikan karakteristik siswa di kelas, mengingat masing-masing kelas mempunyai perbedaan karakter.
9. Guru membuka lebar pintu untuk bertanya bagi siswa, dalam hal ini metode demontrasi merupakan metode yang sesuai dan memberikan siswa untuk aktif. 
10. Selain materi disampaikan dengan sajian yang menarik melalui Media Proyektor, Guru harus memberikan contoh yang ditampilkan dalam bentuk gambar yang kemudian dicontohkan oleh gurunya dan murid diminta mengikutinya.
11. Dalam menyampaikan materi shalat, tidaklah bisa disampaikan dengan baik dan dengan hasil yang maksimal tanpa adanya contoh dan praktek yang baik.
12. Menampilkan contoh yang disambil dari youtube merupakan cara yang baik, sehingga menanamkan persepsi bahwa materi yang ditampilkan melalui proyektor terlihat berkelanjutan dengan dikembangkannya melalui contoh yang tersedia pada youtube.
Berikut Skema Pengembangan Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Karakter Siswa.



KESIMPULAN
Strategi pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran dengan berbasiskan karakter peserta didik cukup prospektif. Hal ini dikarenakan keberadaan sumber belajar dan media pembelajaran selalu terdapat keterkaitan, bahkan tidak bisa dipisahkan dengan kondisi karakter peserta didik di kelas. Sehingga pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran yang baik harus terintegrasi dengan realitas peserta didik di kelas.
Pengembangan media pembelajaran menjadi penting, hal ini berdasarkan kondisi dan karakteristik siswa yang hendak diberikan pengetahuan lelalui kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru harus pandai-pandai dan mengetahui psikologi kondisi kelas dan siswanya, sehingga guru bisa memilih media yang elastis dengan kondisi yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
Aswan Zain dan Bahri Syaiful Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: RinekaCipta, 1997)
Arief. S. Sadiman, Media Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005)
Hadari Nawawi, Pendidikan dalam Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993)
https://www.liputan6.com/global/read/5051493/daftar-negara-dengan-pendidikan-terbaik-tahun-2022-ini-posisi-indonesia#:~:text=Negara%20Indonesia%20sendiri%20mendapatkan%20peringkat,peringkat%2055%20pada%20tahun%202020.
M. Syahran Jailani, Abdul Hamid. Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Karakter Peserta Didik (Ikhtiar optimalisasi Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Nadwa, Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 10, Nomor 2, Oktober 2016
Mukhtar dan Iskandar, Desain Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (Sebuah Orientasi Baru),(Jakarta: Gaung PersadaPress, 2010) 
Muhammad Attiyah Al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Terj. Bustami A. Gani dan Djohar Bahry, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974)
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2011)
Teni Nurrita. Pengembangan Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Misykat, Volume 03, Nomor 01, Juni 2018


Label: , , , , ,