Minggu, 22 Maret 2026

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal: Keutamaan, Makna Spiritual, dan Indikasi Diterimanya Amal Ramadan

 

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal: Keutamaan, Makna Spiritual, dan Indikasi Diterimanya Amal Ramadan

Puasa enam hari di bulan Syawal menjadi salah satu amalan sunnah yang banyak dikerjakan umat Islam setelah Ramadan. Amalan ini diyakini memiliki keutamaan besar, yakni pahala yang setara dengan puasa selama satu tahun penuh. Selain itu, puasa Syawal juga dipandang sebagai bentuk penyempurna ibadah Ramadan serta menjadi salah satu tanda diterimanya amal selama bulan suci. Praktik ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis, dan terus menjadi tradisi yang hidup di tengah masyarakat Muslim di berbagai wilayah.

Puasa Syawal dilaksanakan selama enam hari di bulan Syawal, bulan yang datang setelah Ramadan dalam kalender Hijriah. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara berturut-turut setelah Hari Raya Idulfitri atau secara terpisah selama bulan Syawal, sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Para ulama sepakat bahwa amalan ini bersifat sunnah, namun memiliki nilai keutamaan yang sangat tinggi.

Dasar utama anjuran puasa Syawal berasal dari hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa siapa yang berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun. Para ulama menjelaskan bahwa perhitungan tersebut merujuk pada konsep pahala berlipat dalam Islam, di mana satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Dengan demikian, puasa Ramadan selama 30 hari setara dengan 300 hari, dan tambahan enam hari di Syawal menyempurnakan menjadi 360 hari, mendekati jumlah hari dalam satu tahun.

Puasa Syawal tidak hanya bernilai kuantitatif dalam hal pahala, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Ibadah ini menjadi indikator konsistensi seorang Muslim dalam beribadah setelah Ramadan berakhir. Ramadan sering disebut sebagai “madrasah spiritual” yang melatih kesabaran, pengendalian diri, serta meningkatkan kualitas ibadah. Puasa Syawal kemudian menjadi bentuk kelanjutan dari proses pembinaan tersebut.

Selain itu, puasa enam hari di bulan Syawal juga dipahami sebagai penyempurna ibadah Ramadan. Selama Ramadan, tidak sedikit umat Islam yang mungkin mengalami kekurangan dalam ibadahnya, baik dari segi kekhusyukan, konsistensi, maupun kualitas amal. Puasa Syawal hadir sebagai kesempatan untuk menutupi kekurangan tersebut, sebagaimana konsep ibadah sunnah yang melengkapi ibadah wajib dalam ajaran Islam.

Hubungan antara puasa Ramadan dan puasa Syawal serupa dengan salat wajib dan salat sunnah. “Dalam banyak ajaran Islam, ibadah sunnah berfungsi sebagai pelengkap dari ibadah wajib. Puasa Syawal dapat dipandang sebagai bentuk penyempurnaan terhadap kemungkinan kekurangan selama Ramadan,” ujarnya.

Lebih jauh, puasa Syawal juga sering dikaitkan dengan tanda diterimanya amal Ramadan. Dalam tradisi keilmuan Islam, salah satu indikator diterimanya amal adalah adanya keberlanjutan dalam kebaikan setelah ibadah utama selesai. Artinya, seseorang yang tetap menjaga semangat ibadah pasca-Ramadan menunjukkan bahwa nilai-nilai yang diperoleh selama bulan suci benar-benar terinternalisasi.

Konsistensi ritual ibadah di atas menjadi kunci dalam kehidupan spiritual seorang Muslim. “Jika seseorang setelah Ramadan justru kembali pada kebiasaan lama yang kurang baik, maka itu menjadi bahan refleksi. Sebaliknya, jika ia melanjutkan dengan ibadah seperti puasa Syawal, itu menjadi pertanda positif bahwa Ramadan memberikan dampak nyata,” katanya.

Di sisi lain, pelaksanaan puasa Syawal juga memiliki dimensi sosial. Setelah merayakan Idulfitri yang identik dengan kebersamaan dan silaturahmi, puasa Syawal mengajak umat Islam untuk kembali pada pengendalian diri dan kesederhanaan. Hal ini menciptakan keseimbangan antara aspek sosial dan spiritual dalam kehidupan beragama.

Namun demikian, terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan puasa Syawal. Salah satunya adalah prioritas bagi mereka yang memiliki utang puasa Ramadan. Sebagian ulama berpendapat bahwa puasa wajib harus didahulukan sebelum menjalankan puasa sunnah, termasuk puasa Syawal. Meski demikian, terdapat pula pandangan yang memberikan kelonggaran selama masih dalam bulan Syawal.

Perbedaan pendapat ini merupakan hal yang wajar dalam khazanah keilmuan Islam. “Yang terpenting adalah memahami dasar hukumnya dan menyesuaikan dengan kondisi masing-masing, serta tetap menjaga niat ibadah,” ujarnya.

Selain itu, niat juga menjadi aspek penting dalam pelaksanaan puasa Syawal. Seperti halnya ibadah lainnya, puasa ini harus dilandasi dengan niat yang tulus karena Allah SWT. Niat tersebut dapat dilakukan pada malam hari sebelum berpuasa, sebagaimana praktik umum dalam ibadah puasa sunnah.

Dalam konteks masyarakat modern, puasa Syawal juga menghadapi tantangan tersendiri. Aktivitas pekerjaan, rutinitas harian, serta perubahan pola hidup setelah Ramadan seringkali menjadi alasan bagi sebagian orang untuk tidak melaksanakan puasa ini. Meski demikian, banyak pula yang berusaha menyiasati dengan memilih hari-hari tertentu yang lebih memungkinkan untuk berpuasa.

Seorang pekerja di sektor swasta mengungkapkan pengalamannya dalam menjalankan puasa Syawal. “Biasanya saya tidak langsung enam hari berturut-turut. Saya pilih hari Senin dan Kamis di bulan Syawal, jadi lebih ringan dan tetap bisa menjalankan aktivitas,” katanya.

Pendekatan fleksibel ini menunjukkan bahwa puasa Syawal dapat disesuaikan dengan kondisi individu tanpa mengurangi nilai ibadahnya. Hal ini juga sejalan dengan prinsip kemudahan dalam Islam yang tidak memberatkan umatnya.

Di tengah perkembangan zaman, pemahaman terhadap puasa Syawal juga semakin meluas melalui berbagai media, termasuk ceramah daring, artikel keagamaan, dan diskusi komunitas. Hal ini membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya amalan sunnah sebagai bagian dari kehidupan beragama yang utuh.

Secara keseluruhan, puasa enam hari di bulan Syawal bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan memiliki makna yang komprehensif. Ia mencerminkan kesinambungan ibadah, penyempurnaan amal, serta indikator spiritual yang penting bagi seorang Muslim. Dengan berbagai keutamaan yang dimilikinya, puasa Syawal menjadi salah satu amalan yang dianjurkan untuk terus dilestarikan dalam kehidupan umat Islam.

“Puasa Syawal adalah bentuk kesinambungan dari pendidikan spiritual Ramadan. Ia menunjukkan apakah nilai-nilai Ramadan benar-benar tertanam dalam diri seseorang,”

“Melanjutkan ibadah setelah Ramadan, seperti puasa Syawal, menjadi salah satu tanda bahwa amal sebelumnya diterima dan berdampak,”

“Perbedaan pendapat soal teknis pelaksanaan adalah hal biasa. Yang utama adalah menjaga niat dan memahami esensi ibadah tersebut,”


 


Label: , , , ,

Minggu, 01 Maret 2026

Biografi Ayatollah Ali Khamenei dan menakar kekuatan Iran vs Amerika Serikat

Biografi Ayatollah Ali Khamenei

Ayatollah Sayyid Ali Hosseini Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, Iran. Ia adalah seorang ulama Syiah dan tokoh politik penting Iran. Khamenei berperan aktif dalam Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Karena aktivitas politiknya, ia pernah dipenjara dan diasingkan sebelum revolusi berhasil.

Setelah revolusi, ia menduduki beberapa jabatan penting, termasuk sebagai Presiden Iran (1981–1989). Setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989, Khamenei dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) Republik Islam Iran, posisi tertinggi dalam struktur politik dan keagamaan Iran. Sebagai Pemimpin Tertinggi, ia memiliki kewenangan atas angkatan bersenjata, kebijakan luar negeri, sistem peradilan, media negara, dan memiliki pengaruh besar dalam struktur politik Iran.

 

Apakah Beliau Sudah Meninggal?

    Berdasarkan informasi resmi dan sumber terpercaya hingga saat ini, Ayatollah Ali Khamenei masih hidup dan tetap menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.

 

Jabatan yang Pernah Diduduki

Beberapa posisi penting yang pernah dipegangnya antara lain:

* Anggota Dewan Revolusi (pasca 1979)

* Wakil Menteri Pertahanan

* Presiden Republik Islam Iran (1981–1989)

* Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran (1989–sekarang)

 

Perbandingan Kekuatan Iran dan Amerika Serikat

🇺🇸 Amerika Serikat

* Militer terkuat di dunia

* Anggaran pertahanan terbesar secara global

* Kekuatan udara dan laut sangat dominan (kapal induk, jet tempur modern, sistem satelit)

* Teknologi militer sangat maju

🇮🇷 Iran

* Militer lebih kecil dibanding AS

* Anggaran pertahanan jauh lebih rendah

* Kekuatan utama pada rudal balistik, drone, dan strategi perang asimetris

* Memiliki pengaruh melalui kelompok sekutu di kawasan Timur Tengah

 

Secara kekuatan militer konvensional, Amerika Serikat jauh lebih unggul dibanding Iran. Namun, Iran memiliki strategi perang asimetris, termasuk penggunaan rudal jarak jauh, drone, serta jaringan sekutu regional, yang dapat memperpanjang konflik dan meningkatkan dampaknya secara regional maupun global.

Karena itu, meskipun secara militer konvensional AS lebih unggul, konflik semacam itu akan sangat kompleks, berisiko tinggi, dan berpotensi melibatkan banyak pihak serta mengganggu stabilitas global, termasuk ekonomi dan energi dunia.

 


Kamis, 01 Mei 2025

HAFLAH ATAU WISUDA?

 

HAFLAH ATAU WISUDA?

Haflah dan wisuda memiliki makna yang sama tapi beda. Adapun perbedaan utama antara haflah dan wisuda adalah terletak pada konteks dan fokus acaranya. Haflah atau haflah akhirussanah merupakan perayaan akhir tahun bagi siswa atau santri di lembaga pendidikan Islam, hal ini menandakan telah selesainya masa studi. Adapun wisuda secara umum  merupakan acara perpisahan sekolah yang dihadiri oleh siswa, guru, dan orang tua, wisuda menandakan kelulusan dari sebuah jenjang pendidikan siswa.

Seiring dengan banyaknya lembaga pendidikan dan semakin banyak cara lembaga pendidikan melaksanakan wisuda dengan iuran biaya yang tidak sedikit menguras dompet, di suatu daerah akhirnya dikeluarkan kebijakan larangan melakukan wisuda

Semisal, Di Jawa Tengah, larangan wisuda bagi SMA, SMK, dan SLB Negeri sudah ditegaskan kembali oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud). Larangan ini sejalan dengan Surat Edaran dari Kemendikbudristek Nomor 14 Tahun 2023 yang juga melarang kegiatan wisuda di satuan pendidikan anak usia dini, dasar, dan menengah. Larangan ini juga dipertegas oleh Gubernur terpilih Dedi Mulyadi. Namun demikian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed. mengatakan sebagai berikut

“Sepanjang itu tidak memberatkan dan itu juga atas persetujuan orang tua dan murid, masa tidak boleh?” hal ini Beliau samaikan usai Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah 2025 di PPSDM Kemendikdasmen, Depok, Jawa Barat, Selasa, 29 April 2025.

Pada dasarnya pelaksanaan wisuda maupun haflah harusnya lebih kepada bentur syukur atas selesainya studi dan diraihnya kelulusan. Sehingga kesederhanaan harus dikedepankan. Namun banyak praktik yang kemudian mengabaikan hal tersebut, missal iuran yang sangat mahal, dilakukan dihotel, pakaian yang tidak seharusnya dalam berpenampinan dan seterusnya. Mengingat selesai masa studi ataupun lulus dari sekolah hanya sebatas menandakan keduanya selesai, bukan menunjukkan bahwa yang selesai studi dan lulus benar-benar berkempeten, belajar dengan giat dan seterusnya.

Karena itu sebaiknya kalaupun mau mengadakan wisuda tetap dilakukan dengan sederhana, karena yang terpenting adalah bagaimana agar terus belajar dan belajar dan mengaplikasikan ilmu yang didapatkan.

Label: ,

Menulis yang penting, atau yang penting menulis.


Menulis merupakan bentuk aktifitas yang sangat keren dalam melangsungkan hidup di dunia yang sangat luas dan penuh dengan dinamika yang seksi. Menulis bisa iakukan oleh siapa saja, tapi untuk bertahan laa dan terus meingkatkan keindahan narasi dan keunikannya tentu hanya mereka yang terus tekun menulis dan membaca banyak buku. Menulis dan membaca buku memiliki hubungan yang erat dalam menumbuhkan nilai ruh tulisan yang tertata rapi, harmonis dan asyik untuk dibaca. Siapa yang banyak membaca, tentu akan lebih mudah dalam menulis dengan skop apapun itu.

Dalam Islam, perintah pertama adalah membaca, hal ini selain untuk menambah wawasan, juga untuk mempertajam kemampuan dalam menulis. Untuk mempertajam dan mendalam kjian yang ditulis, tentu harus memiliki banyak buku da artikel yang sudah dibacanya. 

Seiring dengan terus berkembangnya dunia pendidikan, menulis merupakan hal mutlak yang harus dimiliki kemampuannya. Dalam studi sarjana, menulis menjadi keahlian tersendiri untuk kemudian bisa dinyatakan lulus, tulisannya diberi nama skripsi dalam bentuk hasil penelitian yang kemudian disimpelkn lagi dalam bentuk artikel atau jurnal baik terakreditasi sinta, skopus maupun belum terakreditasi.

Dengan banyaknya media untuk menulis, harusnya masing-masing mahasiswa juga diwajibkan oleh perguruan tinggi atau mewajbkan pada dirinya sendiri untuk mempunyai blogger atau website yang menjadi wadah tulisan atau karya tulisnya sendiri sehingga bisa diakses dan dbaca oleh banyak orang di belahan dunia.

Ada banyak tips dan cara untuk menulis yang baik, tapi yang paling baik dan utama adalah memulai untuk menulis dan terus tekun menulis dan membaca sehingga pada akhirnya ketajaman dan keindahan menarasikan tulisan akan dimiliki. 

Dalam Surah Al-Alaq ayat 1-5, Lima ayat ini menekankan betapa pentingnya membaca dan menulis sebagai media atau kunci untuk memperoleh ilmu pengetahuan, sebagai sarana komunikasi dan penyebaran ilmu yang dimilikinya.

Berdasarkan perintah yang kerkandung dalam surah Al-Alaq secara eksplisit sangat jelas bahwa untuk memperoleh ilmu pengetahuan, sebagai sarana komunikasi dan penyebaran ilmu maka harus tekun membaca dan menulis. Tiada car yang paling rekomendasi selain dua hal tersebut.

Di era yang kian menurun minat membca dan keinginan membeli buku, mari bersama-sama menulis secara masif, jangan takut salah, takut tulisannya tidak menarik, tidak banyak yang membaca dan seterusnya. Yang terpenting adalah memulai dan terus tekun menulis, tidak perlu berhalaman banyak dan harus sebaik mungkin. Karena untuk mencapai keahlian tentu dimulai dari usaha dan kedisiplinan dalam menulis untuk mencapai keahlian tersebut



Media menulis penulis adalah santrimenulis.com 

Nama penulisnya Muhammad Zaironi


Label: , , , ,

Jumat, 18 Oktober 2024

ISU-ISU DAN PROMBLEMATIKA KONTEMPORER DALAM PENDIDIKAN ISLAM

 

Isu-isu pendidikan Islam Kontemporer


ISU-ISU DAN PROMBLEMATIKA KONTEMPORER DALAM PENDIDIKAN ISLAM

 A.    Pendahuluan

Lembaga pendidikan Islam (LPI) akhir-akhir ini sudah banyak yang mulai menggalakkan diri untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan tehnologi yang kian deras arusnya. Perkembangan zaman dan tehnologi semakin menjangkau segala aspek sehingga jika abay sejenak saja dapat mempengaruhi eksistensi dan keikutsertaan dalam membentuk siswa yang berdaya saing di tingkat global.

Pendidikan islam saat ini sedang menjadi permata yang banyak dicari oleh ibu bapak dari anak-anak yang kian hari makin jauh dari ilmu agama, perilaku makin ugal-ugalan dan ucap semakin tidak berkesesuaian.

Pendidikan Islam sudah seharusnya terus berbenah dan mengambil andil untuk turut serta mencetak pesera didik yang berdaya saing, berakhlakul karimah dan kompeten dalam bidang yang diambilnya. Terdapat beberapa isu atau tatangan bagi Lembaga Pendidikan Islam agar tetap bisa terus eksis dengan mengimbangi perkembagan zaman dan memberijan jawaban atas tantangan tersebut dengan mengantarkan putra putri terbaiknya menjadi pemimpin di berbagai lembaga pendidikan dan tempat pengabdian lainnya,

B.     Pembahasan

P            Pendidikan Islam akhir-akhir ini mulai dilirik oleh banyak masyarakat yang mana diantara sebabnya adalah kekuatannya dalam tetap eksis ditegah tantangan globalisasi dan perkembangan zaman yang sangat ugal-ugalan, banyak lembaga pendidikan umum yang abai dengan penyediakan layanan ilmu agama dalam kegiatannya sehingga para ibu bapak walimurid kawatir dengan putra putrinya akan pengetahuan ilmu agama yang tidak begitu dalam. Contoh kecil banyak siswa yang tidak tau Najis dan macamnya, tidak tau cara mensucikannya, tidak bisa membaca al-Quran dengan baik dan lancer dan seterusnya. Hal ini menjadi nilai plus untuk lembaga pendidikan Islam. Namun demikian lembaga pendidikan Islam tetap harus terus berbenah untuk menghilangkan isu-isu yang erat dengannya. Berikut beberapa isu lembaga pendidikan

1.              Kualitas tenaga pendidik (SDM guru), isu yang pertama ini menjadi problem yang harus diselesaikan dengan cara terus meningkatkan kualitas SDM untuk menghasilkan SDM yang berkualitas. Hendaknya SDM di lingkungan Lembaga Pendidikan Islam meningkatkan kualitasnya dengan melanjutkan studi dari strata 1 hingga strata 3 atau doctoral untuk memperdalam pengetahuannya pada bidang yang dikehendaki. Dengan demikian akan memberikan dampak yang baik pada peserta didik untuk kemudian menjadi lulusan dengan SDM yang berkualitas dan berdaya saing

2.                  Kurikulum yang tidak transformation. Baiknya kurikulum terus berbenah dan menyesuaikan dengan kehendak zaman yang terus berkembang dengan berbagai kecanggihannya. Banyak Lembaga Pendidikan Islam yang tetap kaku dengan ke konservatif-annya sehingga cenderung abai dengan kebutuhan peserta didiknya untuk memberikan pelayanan Pendidikan yang setara dengan di luar lembaga tersebut. Pun juga banyak lembaga Pendidikan Islam yang mana visi, misi dan tujuannya saja tetap dengan narasi itu-itu saja sejak wal didirikan, tidak ada perubahan dan perbaikan visi yang menunjukkan adanya ketercapaian dari visi itu sendiri. Baiknya visi, misi dan tujuannya terdapat perubahan yang ditargetkan dengan pencapaiannya sebagaimana yang tercatat dalam renstra lembaga. Renstra setiap lembaga tentu berbeda, sehingga visi, misi dan tujuannya juga berbeda dan tahapan apa yang akan di capai setiap rencana stratejiknya juga berbeda.

3.      Metode pembelajaran yang cenderung kaku dan tidak inovatif, hal ini perlu digalakkan lagi untuk memberikan suasana dan pengalaman belajar yang berbeda dan menyenangkan untuk peserta didik. Inovasi dalam mengajar menjadi aspek penting untuk diperhatikan agar SDM atau tenaga pendidik dapat memberikan atau transfer ilmu dengan mudah difahami, diterima dan tidak membosankan. Terdapat banyak metode pembelajaran yang bisa didalami ole setiap guru yang tentunya menyesuaikan dengan tema dan materi yang akan disampaikan kepada siswa.

4.              Fasilitas atau sarana prasarana yang kurang dan belum memadai. Sarana prasarana menjadi hal penting yang dapat menunjang mudah tidaknya pembelajaran dilaksanakan, suasana kelas yang baik dan fasilitas lainnya yang lengkap. Sarana prasarana atau sarpras bahkan menjadi satu aspek penilaian dalam beberapa standar dalam program akreditasi lembaga oleh pemerintah, sehingga sudah seharusnya lembaga Pendidikan Islam selain berbenah dalam meningkatkan SDM juga meningkatkan kelengkapan fasilitas atau sarpras lembaga sehingga baik guru maupun murid dapat mudah melaksanakan pembelajaran setiap hari

5.              Lemahnya visi misi lembaga, sebagaimana yang disampaikan di atas, hendaknya setiap lembaga punya standar visi misi yang berkesesuaian dengan kehendak perkembangan zaman yang kemudian diturunkan pada kurikulum sehingga dapat menghasilkan lulusan yang berdaya saing kuat, unggul dan menjadikan sekolah dilirik oleh banyak masyarakat sehingga berdampak baik bagi lembaga. Setiap lembaga pendidikan yang banyak diminati oleh masyarakat tidak lepas dari sekolah yang punya visi misi yang berkesesuaian dengan zaman, visi misi yang kuat dan khas dengan lembaganya dan tidak meniru lembaga lain yang mana secara filosofi dan historis serta semangatnya juga berbeda.

6.              Rendahnya daya saing lulusan. Diantara penyebab lembaga pendidikan Islam tidak maju dan tidak menjadi pilihan utama masyarakat banyak adalah rendahnya daya saing lulusan, terdapat banyak penyebabnya, diantaranya disebabkan oleh visi misi yang tidak berkesesuaian dengan zaman dan tidak berkemajuan spiritnya, fasilitas yang kurang memadai, cara mengajar yang masih konservativ dan tidak inovatif, SDM yang kurang mumpuni serta kurang berkualitas, kurangnya daya control dari pimpinan dan masih banyak lagi. Beberapa hal di atas dapat menghambat kemajuan sebuah lembaga jika tidak segera di Atasi dan berbenah. Padahal setiap lulusan berhak meraih cita-citanya yang terkait dan terikat erat dengan latar belakang pendidikannya. Sudah seharunya lembaga pendidikan Islam menjadi pilihan utama masyarakat dalam menitipkan putra putrinya karena adanya value dan bukti bahwa lulusannya berkualitas dan berdaya saing tinggi.

7.              Tidak adanya rencara stratejik (renstra), hal ini menjadi pengmabta kemajuan lembaga pendidikan Islam, sehingga semua kegiatannya tidak ada target pencapaian dan berjalan begitu saja. Harusnya setiap lembaga pendidikan Islam mempunyai renstra untuk kemudian disampaikan kepada semua pimpinan dan SDM yang ada agar bersama-sama semangat untuk mencapai setiap target dari rencana yang disusun. Dengan demikian lembaga akan mendapati perubahan dan perkembangan yang baik. Renstra biasanya ada yang tahunan, lima tahunan dan bahkan bisa sepuluh hingga 30 tahun, mau dibawa kemana sebuah lembaga di situlah diuraikan dalam sebuah renstra

 

C.     Kesimpulan

        Sebuah lembaga pendidikan agar tetap bisa eksis ditengah gempuran berbagai tantangan dan permintaan masyarakat adalah dengan melakukan kesesuaian diri lembaga dengan perkembangan zaman, meningkatkan SDM, layanan sarana prasarana, pembelajaran yang inovatif, kurikulum yang transformatif, visi misi yang kuat dan punya rencana stratejik (renstra) untuk memastikan arah tujuan dan pencapaian yang akan dilakukan.

 


Label: , , , , ,

Senin, 16 September 2024

Relasi Agama dan UUD Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Pentingnya Pendidikan

 


Pendidikan merupakan pondasi inti dalam menyongsong eksistensi kehidupan di dunia ini. Untuk terus melakukan evolusi pada diri manusia, tentu jalan terbaik melalui pendidikan, meskipun pada dasarnya perintah yang sangat esensial dalam praktik eksistensi hidup adalah menyembah sang maha agung. Namun demikian, bagaimana mungkin bisa melakukan pengabdian yang ideal jika seorang hamba tidak tau ilmunya untuk mengabdi dengan baik pada sang maha agung. Karena itulah kemudian pendidikan mengikat segala asa dan tujuan menusia terkait dengan relasi hal lainnya. Pendidikan menjadi satu tangga penentu baik buruknya dan berhasil tidaknya manusia dalam mengimplementasikan asa dan tujuannya.

Jauh-jauh hari, sekitar kurang lebih 1400 an tahun yang lalu Nabi Muhammad Saw sudah menyampaikan terkait pentinya pendidikan, yakni tentang kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan untuk menuntut ilmu (belajar), berikut teks arabnya:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ 

Dalam redaksi hadits yang lain kewajiban itu mengikat sejak lahir hingga menuju ke liang lahat. 

اطلب العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلى اللَّحْدِ

Artinya, carilah ilmu sejak buaian hingga ke liang lahat (meninggal)

Dengan demikian, maka sudah selayaknya manusia terus belajar dan belajar. Kesempatan belajar sama porsinya bagi semua manusia, keberhasilan juga sama porsinya bagi setia manusia. Karena itulah kemudian pendidikan tidak bisa ditawar oleh hal apapun, semua manusia harus merasakannya dan bahkan harusnya sampai tuntas pada jenjang tertinggi. 

Disebutkan juga dalam al-Quran surah al-taubah ayat 122 sebagai berikut:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ۝١٢٢

Artinya, Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?

Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa setiap yang pergi untuk mempelajari ilmu Allah atau menuntut ilmu, maka blasan baginya adalah surga.

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًايَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا,سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الجَنَّةِ . رَوَاهُ مُسْلِم

Artinya: "Barang siapa menempuh satu jalan (cara) untuk mendapatkan ilmu, maka Allah pasti mudahkan baginya jalan menuju surga."

Terkait dengan pesan agama tentang kewajiban belajar bagi setiap muslim dan muslimah ini kemudian oleh Negara direspon dengan baik bahwa setiap anak bangsa harus belajar sejak usia 7 tahun, bahkan sejak kecil sudah dikenalkan pada pendidikan melalui PAUD, TK dan RA. Hal ini menjadi energi positif bagi rakyat yang memang dari segi ekonomi atau finansial kurang mamp. Hal ini bisa dilihat dalam Undang-undang Republik Indonesia tentang sistem pendidikan nasional adalah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003.

Di sisi lain Negara Indonesia dengan gencarnya memberikan apresiasi kepada siapapun yang berprestasi dari segi pengetahuan, bahkan yang kurang mampu dalam hal finansial oleh negara dibantu melalui beberapa program beasiswa. Baik itu LPDP mulai S1 sampai S3, baik dalam negeri maupun luar negeri. Pun juga melalui beasiswa KIP sekolah dan kuliah bagi siswa yang kurang mampu serta melalui banyak pintu beasiswalainnya. 

Berdasarkan ulasan di atas, maka dapat kita fahami bahwa pentingnya suatu pendidikan itu diperuntukkan kepada semua manusia atau hamba, karena dengan berpendidikan atau dengan belajar setiap manusia akan terangkat derajatnya dan melalui lintas evolusi diri menjadi lebih baik lagi. Nilai penting bahwa setiap individu harus berpendidikan direspon baik oleh negara dengan menunjukkan sikapnya melalui terobosan memberikan beasiswa kepada setiap manusia. Kesempatan belajar sama porsi untuk semua manusia, begitu juga kesempatan berhasil dalam meraih cita-cita. Kuncinya adalah terus belajar dan mengasah diri, tekun bekerja dan meningkatkan kemampuan diri, serta terus belajar dan belajar.


Selasa, 17 September 2024. 


Label: , , ,

Kamis, 04 Mei 2023

Ta'lim dan Tarbiyah


Pada Hari Kamis, 4 Mei 2023. Yayasan Pondok Pesantren Al-Khoirot mengadakan acara halal bihalal dengan dewan guru MTs, MA, Madin dan Pengurus Pesantren. Acara yang langsung dipimpin oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot itu berjalan dengan baik dan penuh hikmat.

Pengasuh PPA dalam kesempatan atau acara HBH ini menyampaikan beberapa hal terkait sinergi dan motivasi dalam mengajar kepada peserta didik. KH. Ahmad Fatih Syuhud menyampaikan bahwa tugas kita bukan hanya ta'lim, tapi juga tarbiyah. Bukan hanya memintarkan, tapi mendidik karakter murid. Tugas yang berat itu adalah bagaimana guru bisa merubah karakter muridnya menjadi lebih baik, evolusi itulah yang harus terus diupayakan.

Beliau melanjutkan bahwa guru jangan hanya bertujuan memintarkan murid, kalaupun demikian hal itu merupakan kesuksesan yang tetap harus disyukuri, tapi belum maksimal. Karena kehidupan ini lebih pada karakter, oleh sebab itu kita harus membangun generasi yang baik dan menanamkan karakter baik itu kepada siswa, seperti akhlak yang baik, rajin dan semangat belajar dst.

Beliau menuturkan bahwa parameter suksesnya guru adalah mendidik karakter murid atau santri sebagaimana harapan Al-Khoirot. Jadi selain ta'lim (memintarkan santri) juga harus tarbiyah (mendidik akhlak dst)

Saya sangat senang jika santri itu yang berubah bukan hanya dari segi kepintarannya, tapi juga akhlaknya. Apalagi para santri punya cita-cita besar untuk terus kuliah sampai jenjang tertinggi, imbuhnya beliau.

Lalu apa harapan Al-khoirot? Al-Khoirot itu ingin mencetak ulamak yang ilmuwan dan ilmuwan yang ulamak. Kalau dipemerintahan itu kan wajib belajar 12 tahun, itulah sebabnya kemudian ada program bantuan BOS untuk sekolah. Nah kita di PPA mengharapkan jauh dari itu. Jika di pemerintahan wajib belajar 12 tahun. di Al-Khoirot dihimbau agar setelah 12 tahun itu ditambah 9 tahun di bangku perkuliahan agar mereka bisa benar-benar menjadi ulamak yang ilmuwan dan ilmuwan yang ulamak. Visi Al-Khoirot yang seperti ini, dan ini juga harus bergaung dikalangan para pendidik, tanamkan semangat belajar kepada mereka agar mereka punya mimpi besar.

Beliau menambahkan bahwa biasanya orang yang memiliki pencapaian yang besar itu berawal dari mimpi yang besar pula. agar santri punya mimpi besar itu maka kita sampaikan melalui para pendidik ini.

Poin ke dua, Karena pemerintah mewajibkan wajib belajar 12 tahun maka kita di PPA terus melakukan perubahan-perubahan untuk terus memperbaiki sistim pendidikan di PPA. karena itulah kemudian kita memberikan progam wajib bahasa Inggris di formal (MTs dan MA), ada juga asrama bahasa Arab, dll.

Jika lulusan MA (Madrasah Aliyah) Al-Khoirot bahasa Inggrisnya bagus, maka mereka bisa lolos ke perguruan tinggi di tingkat internasional, semisal Oxford university. Alhamdulillah sekarang sudah ada Santri PPA yang lolos ke universitas Islam seperti Al Azhar kairo sekitar 10 santri. ada juga yang di Yaman, di As-Syafiiyah dst. Hal ini berkaitan dengan tandanya kurikulum bahasa Arab di PPA sudah memenuhi standard internasional. Saya harap program bahasa Inggris lebih dari itu sehingga lulusan MA bisa masuk ke universitas bergengsi di tingkat internasional.

Untuk mendukung program bahasa Inggris ini, maka nanti di Madin (Madrasah Diniyah) akan kita tambah juga dengan bahasa Inggris, semisal mengajar takrib atau Fathul qorib yang awalnya berbahasa Arab, kita ganti dengan bahasa Inggris dalam mengajarnya sehingga bisa lebih terbiasa dengan bahasa Inggris dan bahasa Arab. 

Sebelum sambutan ditutup beliau menyampaikan bahwa yang dimaksud penguasaan bahasa Arab dan Inggris di PPA itu adalah kemampuan membaca literasi (buku dll), hal ini bisa diupayakan dengan cara banyak membaca literatur berbahasa Arab dan Inggris.

Semoga pada tahun ajaran baru ini PPA semakin baik lagi, terus berbenah dan mencetak generasi yang memberikan andil dalam pembangunan bangsa, baik di dunia pendidikan ataupun lainnya. lebih-lebih mereka menjadi pakar dalam keilmuan yang bermanfaat untuk umat luas.