Kamis, 26 Januari 2023

Merefleksi diri untuk selalu introspeksi diri

 


Pendidikan sangatlah penting untuk eksistensi manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk komunikasi dengan Tuhannya ataupun dengan sesame manusia. Diatara fungsi belajar dan pengetahuan tidak lain adalah untuk memperhalus prilaku, memperindah sikap dan mempertajam rasa kepekaan terhadap kehidupan, baik dengan manusia atau lingkungan lainnya.

Bagaimanapun derajat manusia di dunia, pengetahuan mengajarkan untuk tetap rendah hati, andab asor, tidak mengangkat kepala dan dadanya ataupun dengan nada-nada yang mengindikasikan sikap sombong. Pendidikan, pengetahuan dan sejenisnya mengecam keras sikap-sikap yang demikian, apalagi sampai merendahkan dan tidak menghargai dan menghormati orang lain. Karena sejatinya manusia yang disebut dengan makhluk sosial tidaklah bisa hidup dengan baik, harmonis dan tentram tanpa keterlibadan dan saling tolong menolong dengan manusia lainnya. Disinilah diantara maksud ayat “dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan” ataupun ayat surat Al Hujurat ayat 13 berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Orang yang terlahir biasa saja akan berkata demikian "Menjadi pribadi yang dilahirkan dipelosok desa yang jauh dari perkotaan, lebih-lebih lingkungan tempat lahirnya adalah di lereng pegunungan membuat pribadi manusia lebih sadar diri, tidak mudah tersinggung dan pekerja keras untuk mengubah kondisi ekonominya yang pas-pasan. Hal yang demikian ini membuat sadar diri bahwa aku hanyalah pemuda yang lahir di desa, fisik dan rupa biasa saja, harta juga tidak punya dan bukan orang yang berpunya, ilmu dan pengetahuan juga tidak seberapa, dengan ini mungkin memang pantas jika selalu dipandang sebelah mata, menjadi maklum jika tidak dihargai dan dihormati, lebih-lebih sulit diterima oleh orang yang secara ekonomi dst lebih dari diri ini."

Dalam pribahasa disebutkan demikian "Aku memang tidak minta dihormati dan dihargai, tapi aku tau cara menghormati dan menghargai orang lain. Sebagai orang yang biasa saja dalam aspek apapun tentu aku lebih sadar diri dan berfikir 100x untuk melangkah pada tahap apa yang lebih di atas aku. Namun demikian aku bukanlah pengecut yang mudah tumbang dan putus asa, karena aku punya komitmen dan prinsip yang tidak mudah dilantakkan oleh orang lain."

Menjadi orang penyabar memanglah sangat amat indah untuk menikmati setiap tahapan dan langkah dalam hidup, hidup lebih tentram dan tenang tatkala selalu sabar dan mengutamakan prasangka baik terkait apapun yang terjadi dalam lintas kehidupan ini. Tapi, akankah sabar yang terus dipupuk dan dipertahanan itu akan terus bertahan dan semakin membaik kualitas sabarnya, atau justru ada celah-celah yang membuat sabar itu lantak dan menghardik apa yang sedang disabari.? Sabar itu selalu dibutuhkan tapi tegas dengan santun tetap harus ditampakkan. Disinilah celah yang membedakan antara sabar dan tidak sabar, sabar tidak selalu tentang diam, menerima apapun yang terjadi tanpa usaha lebih baik dan evaluasi diri. karena sabar adalah terus memperbaiki dan berbenah diri, evalusi diri untuk meningkatkan kualitas diri dihadapan Allah melalui iman, islam dan ihsah serta amal yang tidak cacat dengan dosa.

Terkait dengan ikatan interaksi dengan sesama manusia terbagi menjadi dua hal, pertama dengan tetangga, kedua dengan keluarga.

Menjaga keharmonisan dengan tetangga tidaklah rumit dan sulit jika kita mengetahui betul kultur dan sikap manusia di tempat itu pada umumnya dan kita tau cara bersikap dengan adaptasi dan mengelastisitas diri dengan lingkungannya. Namun tidak dengan kehidupan dalam keluarga, kalaupun komunitasnya lebih sedikit jumlah individunya, namun disitulah permasalahan lebih mudah merongrong keharmonisan di dalamnya. Komunikasi, sikap pemaaf, menghargai perbedaan, mengalah dan saling berusaha menjaga ikatan sakralnya merupakan hal yang harus selalu dirawat dan dipertahankan.

Komunikasi menjadi penentu hidup tidaknya suatu hubungan, karena dengan komunikasi kualitas hubungan lebih tampak subur dan berbunga-bunga, tentu harus diimbangi dengan sikap komitmen yang tinggi, pemaaf, saling menghargai dan menyayangi dst.

Orang yang sudah terbiasa hidup dalam kondisi biasa saja, lebih mudah beradaptasi dengan orang yang lebih tinggi derajat ekonominya. Artinya dia lebih mudah tau cara bersikap dan menghormati orang lain dengan kebiasaan yang ditanamkan oleh orang tuanya sejak di desa. Melihat kehidupan di desa lebih inten dengan tetangga dalam bercakap-cakap dan interaksi lainnya yang di situ terdapat penanaman adab yang tinggi kepada anaknya. Bagaimana cara bersikap kepada yang lebih tua, cara bertetangga yang baik dan seterusnya.

Aku pernah mendengar bahwa yang biasa tidak menghormati orang lain kelak akan tidak dihormati pula orang orang lain. Begitu juga dengan sikap negatif lainnya yang seharusnya tidak dilakukan. Menyakiti manusia baik secara fisik ataupun peraaan merupakan perbuatan dzolim yang harus dimintai maaf atas sikapnya. Kita tau bahwa kesalahan kepada sesama manusia lebih berat hisabnya dari pada kesalahan dengan Allah yang mana Allah maha pengampun.

Marilah kita terus berbenah diri, tidak mengharap dihormati oleh banyak orang tapi kita harus tau cara mebghormati dan menghargai orang lain sekalipu kita tidak dihormati balik.

Marilah kita menjadi penyabar tapi tidak diam ditempat melainka terus berupaya melakukan perbaikan dan evaluasi diri untuk lebih baik lagi dalam hal apapun, entah ibadah ataupun nilai ekonomi, sikap, akhlak dan lainnya.

Marilah kita perupaya tidak bersikap yang bisa menyakiti orang lain, karena dengan kita menyakiti orang lain nilai kualitas kita sebenarnya telah turun dan akan terus terdegradasi.

Cintailah orang yang mencintai kita, cintailah orang yang kita pilih, cintailah kedua orang tua kita, guru kita. Balaslah cinta itu dengan cinta juga. Mari kita terus tingkatkan taat kita kepada Allah dan hindari sikap-sikap yang mengindikasikan pada sikap durhka kepada orang tua, lebih lebih kita yang sudah belajar tentang apa itu baktikepada orang tua yang telah merawat kita sejak kecil hingga besar demikian.

Menerima apa yang menurut kita bukan pilihan dan kemauan kita belum tentu akan memberatkan kita dan mensulitkan kita untuk bahagia sesuai persepsi dan takaran kita. Bisa jadi itulah jalan bahagia yang sesunbgguhnya untuk kehidupan selanjutnya dan berikutnya. Karena yang tidak kita sukai belum tentu tidak baik, bisa jadi itulah yang terbaik bagi kita.

Ikhlas dan ridho atas apa yang terjadi adalah sikap yang baik. Marilah kita terseyum tanpa dimintai senyum dan berpura-pura tersenyum. Sikap hipokrit tidaklah baik untuk kehidupan.


Label: , , , ,

Minggu, 22 Januari 2023

Hati yang tegar


Bulan Rojab menjadi bulan diantara sekian bulan yang istimewa. Malam tanggal satu Rojab disabdakan oleh Nabi sebagai malam yang mana doa-doa yang dipanjatkan pada malam tersebut akan diijabah atau tidak akan ditolak. Hal ini bisa dicek langsung dalam kitab kanzun najah wassurur.

Sebagai orang yang sedang diombang ambing dengan banyak pertanyaan yang belum juga terjawabkan, kondisi yang membuatnya tidak tenang, perasaan lelah dan ingin menyerah selalu hinggap dan mengganggunya. Ia sehari-hari jasmaninya tampak sehat, tapi jiwanya berada diambang batas kekacauan. Hatinya hancur, matanya selalu berkaca-kaca dalam sujud dan doanya, rasa kecewanya membuncah, sakit hatinya menyayat hingga akhirnya ia divonis sakit asam lambung oleh dokter.

Dalam kondisi itu, selalu ada kata yang terulang-ulang, yakni “tak mau kehilangan, tapi lelah berjuang”. Sekilah pepatah itu sama persis dengan sepenggal lirik lagu. Tapi memang itulah adanya yang dirasakan oleh pemuda itu.

Baginya, memperjuangkan dan bertahan dengan prinsip itu harus sabar dan sabar, terlebih jika mendapat dukungan dari orang sekitar. Tapi besarnya perjuangan dan kuatnya ingin bertahan mungkin bisa pudar ketika yang diperjuangkan tak kunjung mengerti dan sadar.

Sebagai orang yang sudah begitu dalam melibatkan hatinya dalam hubungan, tentu ia ingin menjadi orang yang selalu dianggap penting dalam hidupnya, ingin dispesialkan dalam hidupnya, ingin dirindukan dan dicintai olehnya, ingin selalu ditunggu dan dinanti kehadirannya oleh kekasihnya dan ingin selalu dijaga perasaannya dengan cara mencintainya balik dengan sepenuhnya tanpa dusta. Bukan menjadi orang yang selalu diabaikan, dikucilkan, tidak dianggap dan dilantarkan begitu saja kehadiran dan perjuangannya. Apakah kamu tau bahwa yang demikian itu perih dan sangat perih.

Baginya dengan kondisi tersebut adalah sakit itu ada, ingin menyerah itu ada, lelah itu ada, kecewa itu sangat ada, dan ingin pergipun juga ada. Ia selalu berusaha memposisikan peran hati lebih tinggi dari pada akal dan egonya. Tidak lain karena ia ingin bersikap tenang, damai, pelan-pelan dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan dalam hidupnya, bahkan dalam kondisi hati yang sakitnya luar biasa.

Ia berupaya tidak mengambil keputusan atas kendali ego dan keinginan sendiri serta bahagianya semata, karena menjadi bijaksana sudah tentu harus sabar dan berupaya melihat banyak kemungkinan baik dari pada keadaan yang menyakitkan sekilas saat itu juga.

Ia bertahan tidak lain karena ketulusan dalam cinta dan sayangnya pada kekasihnya, dengan besar harapan dan kepercayaannya serta hati nuraninya ia berkata dan yakin bahwa yang diperjuangkan cepat atau lambat akan sadar dan menghargai serta menerimanya dengan pasti dan hati penuh cinta.

Dibalik itu semua, banyak hati yang sebenarnya ia jaga, banyak harapan yang ia rawat, dan banyak orang yang tidak ingin ia buat sakit dan kecewa. Menurutnya, hati akan terbuka dengan seiring berjalannya waktu tatkala orang itu memang ikhlas dan ridho serta mau membuka lebar untuk orang itu saja.

Kondisi itu sangat berat ia jalani berhari-hari, ia hampir gila dengan pernyataan dan permintaan kekasihnya yang diluar dugaan dan nalar fikirannya. Ia terjatuh sakit, hilang semangat dan lepas kendali fokus dalam hal apapun kecuali hanya memikirkan kekasihnya dan dirinya.

Keadaan itu cukup menyakitkan, mengecewakan dan hampir saja membuatnya melepaskan kekasihnya. Akan tetapi ternyata kedua orang terbaik kekasihnya justru memberikan dukungan untuk bertahan dan bersabar dengan kondisi tersebut. Banyak nasehat dan pesan yang disampaikan kepadanya.

Mungkin karena begitu dalamnya cintanya, kondisi tersebut telah berhasil menjatuhkan air matanya sebanyak 3x, menangis sebanyak itu bukanlah air mata yang dusta, setetes air matanya amat sangat banyak makna, sarat maknanya jelas menunjukkan betapa dalam dan tulusnya perasaannya kepada kekasihnya.

Oleh banyak orang mungkin dia akan dikatakan bodoh, bahkan dijustifikasi sebagai orang yang sudah buta dengan cintanya dan hilang kendali pengetahuannya. Ia memang sangat malu pada orang tuanya dengan kondisi itu, juga sangat malu pada orang tua kekasihnya karena tidak berhasil membuat kekasihnya mencintai dirinya sepenuhnya.

Ia ingat dawuhnya Imam Al-Ghazali bahwa orang yang mencintai selain komitmen untuk tidak menyakiti kekasihnya juga harus siap untuk disakiti oleh kekasihnya, entah itu dengan kata-katanya atau mungkin dengan sikapnya. (Imam Al-Ghazali)

Hati sakitnya berkata bahwa untuk diterima oleh banyak kalangan, komunitas, organisasi dan individu seseorang, kamu harus siap dikucilkan, diabaikan, disakiti dan tidak diterima sepenuhnya. Karena memang begitu jalannya seseorang untuk diterima dihari kemudian. Jagalah hati dan fikiran agar tidak dengki dengan pengetahuannya dan tetap tenang serta lemah lembut dengan hatinya.

Kita hanya butuh hati yang tegar dan nurani yang selalu ingin menolong dan tidak ingin menyakiti siapapun. Sebaik-baik kendaraan adalah sabar, tetap berjalan di jalan iman dan Islam dengan terus menyusuri rentetan ibadah kewajiban.

Kamu tidak akan pernah tau besar dan tulusnya cinta dan kasih sayang seseorang ketika kamu tidak berusaha melihatnya dengan hati. Acuh, abai dan sikap tidak mau tau selalu memprovokasi keindahan sikap hati.

Ditengah lelahnya ia berjuang, ingin rasanya melepas harapan demi harapan yang dibangun, ia berkata bahwa sejak saat ini apapun yang terjadi terjadilah, karena masa depan tidak bisa kita lihat hari ini. Dalam sisi dan aspek apapun itu, sedikitpun kita tidak tau, yang kita mampu hanya berusaha hari ini untuk lebih baik lagi dihari esok.

Doa menjadi senjata, bersimpuh penuh harap dan menumpahkan semua keluh kesahnya pada Allah menjadi waktu yang sangat amat berharga. Doa-doa tidak ada yang tidak diijabah, hanya butuh waktu dan kesungguhan kita dalam melambungkan tinggi doa itu setiap waktu.

Jika api saja luluh pada tubuh nabi Ibrahim, lantas bagaimana dengan hati. Jika lautan saja luluh pada Nabi Musa, lantas bagaimana dengan hati, Jika besi saja luluh dan takluk pada Nabi Dawud, lantas bagaimana dengan hati. Karena itulah tetaplah berdoa, Allah maha segalanya.

Ia berkata, Di sini aku selalu menunggu senyum terbaikmu, semoga sikap acuh dan abai itu hilang ditelan bumi dan digantikan dengan sikap kasih, sayang dan cinta yang tulus untuk hubungan kita.  Pada malam satu Rojab ini doa dan harapanku semoga kita menjadi dua manusia yang saling mencintai, menyayangi dan dijadikan pasangan yang halal serta bisa membangun keluarga yang harmonis, sakinah, mawaddah wa rohmah dan diberikan putra-putri yang sholih dan sholihah.


Nona, aku selalu padamu, semoga sampai ajal menjemputku.


 


Label: , , ,